132468_286x286oi… oi… Tito is back! Asal kalian tahu, ketika aku menulis postingan kali ini, aku sedang harap-harap cemas pada batas posting terakhirku yang biasanya diingatkan oleh sang empunya blog, Kanjeng Nayaka Al Gibran. Tapi sampai posting ini aku munculkan, rupanya akubelum juga menerima teguran batas posting. Itu berarti, aku masih cukup punya waktu senggang sebelum membuat posting selanjutnya.

Kali ini aku menulis cerita oneshoot alias cerita satu alur yang belum bisa disebut sebagai cerpen utuh. Kalian tahu? Sebab yang kutulis kali ini adalah spin-off alias side story sdari cerbung “Me, Him And Lady Gaga” yang dulu pernah kutulis. Cerita ini adalah cerita tentang masa lalu Tito sebelum ia mengenal Juna. Buat kalian yang sudah baca cerbung itu, pasti kalaian tahu siapa karakter Josh yang kumaksudkan. Tapi buat kalian yang belum membaca cerbung ngacoku itu, aku mengundang kalian untuk mampir dan membacanya di http://www.catatankeciltito.wordpress.com.

Oke, tanpa memperpanjang mukadimah alias pidato, aku harap kalian bisa menikmati karya ku kali ini. Dengan lubuk hati penuh pengharapan, akun selaku author mengucapkan selamat membaca cakar kuda ku kali ini.

__________________________________________________________________________________

…when we met

Pernahkah kau merasa dunia ini terhenti?
Setidaknya, itu yang saat ini kualami.

Nafasku seperti terhenti kala retinaku bertumbuk pada sosok jangkungnya yang terus berlari sembari men-dribble bola. Entah kenapa sosoknya yang basah oleh keringat begitu menggetarkan jiwa.
Joshua Abighelle Sinathra. Cowok kelas tiga berambut cepak tipis itu seperti kloningan Samuel Rizal di mataku. Tubuhnya yang gempal tinggi selalu menjadi fantasiku. Dada bidang dan bahu lebarnya juga selalu menjadi destinasi impianku jika suatu saat nanti aku harus menyandarkan kepala. Kau tahu? Jika fantasi remajamu adalah bintang bokep sekelas Maria Ozawa atau Masaki KOH. Maka fantasi terbesar masa remajaku adalah dia. Kak Joshua seorang.
“Sampai kapan sih lo ngeliatin itu cowok dengan tatapan mupeng gitu? Dilihatin sampai toketnya Julia Perez kempes juga nggak bakal jadi milik lo!”
Bimo. Cowok berambut keriting dengan kacamata bertengger diatas hidung itu kembali mengoceh. Rasanya, tiada hari baginya mengomentari segala apa yang kulakukan. Kami baru saja selesai melakukan praktikum olah raga. Dan sekarang, kami duduk di pinggir lapangan yang berhadapan langsung dengan lokasi dimana Kak Joshua dan kawan-kawannya latihan basket.
“Biarin aja kenapa sih! Toh juga nggak ngerepotin elo!”dengusku sebelum menenggak botol air mineral dingin yang dibelikan Bimo buatku.
Namun Bimo yang selalu menyebalkan jika bersamaku hanya terkekeh pelan.
“Memangnya apa istimewanya itu anak kelas tiga sih, Tit, sampai lo nggak kedip gitu ngelihatnya? Perasaan dia nggak cakep-cakep amat deh!”celos Bimo ngasal.
Mendengar itu, aku sontak mendelik. Apa yang dikatakan Bimo barusan benar-benar mengusik gendang telingaku.
“Heh! Suka-suka gue dong kalau gue naksir atau mupeng sama dia, lagipula selera gue sama selera lo kan beda, jadi nggak usah banyak komentar deh. Lagipula Kak Joshua itu keren bangetttt tau! Body-nya! Wajahnya! Uggghhh! Bikin gue nggak tahan pengen lari ke kamar mandi deh! Hahahahah!”ujarku ngasal yang membuat Bimo seketika mendengus sebal.
“Iye… iyee. Lo kan emang selalu hiperbola kalo ngomongin Joshua! Sama kayak lo hiperbola kalo ngomongin Lady Gaga.”
“Nah itu lo ta……!!!!!”
Brugggghhh!
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, aku merasakan sesuatu menghentak bagian belakang kepalaku dengan kencang. Seketika saja, tatapanku memudar dan kepalaku pusing mendadak. Dan detik berikutnya, aku sudah tak bisa melihat apa-apa lagi.

***

Mataku mengerjap perlahan bersamaan dengan aroma minyak kayu putih yang menusuk-nusuk lunbang hidungku. Perlahan-lahan, mataku membuka dan siluet cahaya sedikit demi sedikit menyapa retinaku. Aku menemukan tubuhku yang terbaring diatas ranjang UKS yang beku. Disampingku, Bimo nampak memasang tampang khawatir ala artis sinetron sementara tangan kanannya memegang botol minyak kayu putih.
“Lo nggak papa, Tit?”semburnya tanpa memberi kesempatan padaku untuk menghela napas.
Aku hanya memegang kepalaku. Menahan sisa-sisa sakit pada belakang kepala yang masih cukup terasa.
“Tit, lo nggak papa kan?”sambung Bimo lagi karena aku sama sekali tak menjawab pertanyaannya.
Sontak aku membeliak kejam padanya. “Nggak papa perut lo buncit? Pala gue sakit tau!! Duuhhhh!”cerocosku sembari terus memegangi kepalaku yang masih nyut-nyutan tingkat RT.
Sebentar, Bimo tersenyum tipis. Ada binar kelegaan yang memancar di wajah opalnya.”Nah, kalau lo ngomel-ngomel gini gue baru yakin kalo lo nggak kenapa-kenapa, heheheh!”
“Emang gue tadi kenapa sih, Bim?”tanyaku lagi sembari mendudukkan tubuh disisi kepala ranjang.
“Lo tadi pingsan gegara kena lemparan bola basket.”
Seketika aku terkesiap. Bola basket? Jadi tadi aku pingsan gara-gara ketiban bola basket yang lagi dimainin sama anak-anak kelas tiga itu?
“Iya, dan dia nih tersangkanya!”sambung Bimo seraya menunjuk sosok lelaki dalam balutan seragam olah raga yang berdiri disampingnya.
Sekilas, mataku terarah pada sosok jangkung yang kini tengah menatapku dengan raut penuh kekhawatiran. Kak Joshua. Aku benar-benar melihatnya berdiri hanya lima senti dari hadapanku. Jadi…
“Apa kau baik-baik saja? Aku benar-benar minta maaf atas ketidaksengajaan yang aku lakuin tadi. Aku benar-benar merasa bersalah,”tukas Kak Joshua yang kini memajukan langkah kearahku. Membuat jantungku mendadak seperti dipompa.
Sebentar, aku bisa mencium aroma parfum bercampur keringat yang menyeruak dari tubuhnya. Perpaduan unik yang menimbulkan esensi aroma yang luar biasa. Apalagi sosok sempurnanya yang aku yakin takkan membuat satu cewekpun berpaling. Aku jadi seperti ikan yang dibiarkan terdampar di daratan. Menggelepar tiada berdaya.
“A…Aku nggak papa kok, terima kasih,”ujarku seraya menahan degup yang kian mengencang.
Mendengar jawabanku, Joshua hanya tersenyum. Membuat wajah tampannya kian mempesona oleh lesung yang tercipta di kedua pipinya.
“Syukurlah, kalau kau tak apa-apa. Maafkan kecerobohanku ya?”sambungnya lagi.
Aku hanya mengangguk malu-malu. Menyadari kalau sosok sempurna di hadapanku ini bukan hanya tampan, namun juga baik hati. Ingin rasanya aku menjerit kegirangan. Sedetik mendengar ucapannya nyaris sama seperti mendengarkan satu album full milik Lady Gaga.
“Oh, ya? Aku belum tahu siapa namamu,”tandas Kak Joshua memecah keheningan.
“Eh, a…aku Tito,’jawabku gelagapan. “Ryanindra Ardhika Bagustito. 2IPA 2.”
Kak Joshua –untuk kesekian kalinya- tersenyum. Memamerkan deretan gigi putih yangcetar membahana badai sebelum mengangsurkan jemari kepadaku.
“Aku Joshua. Kelas 3IPS 1. Salam kenal ya?”jelasnya sebelum pergi meninggalkan aku dan Bimo yang masih terpaku di ruang UKS yang sepi siang itu.

***

Dan semenjak saat itu, rasanya tiada hari tanpa keakraban diantara aku dan Kak Joshua. Entah kenapa, semenjak kejadian naas hari itu, perhatian Kak Josh seperti hanya tertuju padaku. Sering dia mengirimiku pesan untuk sekedar bertanya apakah aku sudah makan ataukah belum. Sering juga dia menemuiku di kelas untuk sekedar mengantarkan makan jika kau sedang tak berminat dengan menu di kantin sekolah. Semenjak hari itu, aku seperti merasakan cintaku yang telah lama kupendam pada sosok tampan itu sedikit terbalas. Aku belum terlalu yakin kalau Kak Josh benar-benar membuat perasaanku seratus persen terbalas karena Bimo tak henti merecokiku dengan ocehan-ocehan pedas yang memekakkan telinga.
“Hei! Joshua itu cuma ngerasa bersalah karena udah pernah bikin lo pingsan! Masa secepat iru lo bisa menyimpulkan kalau dia juga nyimpen rasa yang sama ke elo?” itu yang diutarakan Bimo saat kami berada di kantin Mbok Nah siang itu. Aku yang masih berkonsentrasi dengan semangkuk mie kocokku sontak mengalihkan pandangan kearah Bimo yang sedang menyedot es jeruknya.
“Tapi perhatian dia itu lebih dari sekedar membalaskan rasa bersalah! Nggak mungkin kan dia terus-terusan mengkhawatirkan gue kalau cuma merasa bersalah? Ini udah nyaris minggu kedua dia mencurahkan perhatian manisnya ke gue. Apa itu masih wajar disebut ‘sekedar menebus rasa bersalah’?”balasku yang sudah bosan diolok-olok oleh mahluk menyebalkan bernama Ardhiyan Ario Bimo itu.
Bimo malah menghempaskan napas. “Oke, dia memang masih mencurahkan perhatian manis ke elo. Tapi coba lo pikirin deh kemungkinan apakah dia punya orientasi seks yang sama kayak kita?”
Seketika aku mendelik begitu Bimo mengucapkan ‘orientasi seks yang sama kayak kita’.
“Maksud lo?”
Bimo memngangkat bahu.”Yah, apa menurut lo Joshua itu juga gay kayak kita?”bisik Bimo seraya menoleh kekanan dan kiri-memastikan kalau tak ada seorangpun yang menguping pembicaraan kami. “Rasanya dia tak punya sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan kalau dia juga sama kayak kita deh.”
Betul juga kata Bimo. Aku melupakan kemungkinan besar itu. Memang sih, Kak Joshua sering banget memberiku perhatian selayak seorang lelaki kepada perempuan yang disukainya. Tapi apa mungkin, Kak Joshua yang notabene macho dan cowok banget itu adalah gay sepertiku? Setahuku, dia memang tak pernah terlibat issue yang menunjukkan dia adalah lelaki abnormal. Tapi, aku juga tak pernah melihatnya menggandeng seorang cewekpun di sekolah ini. Memang sih, aku pernah melihat ia beberapa kali nampak ke kantin atau perpustakaan bareng Olivia. Tapi aku betul kalau gadis cantik itu adalah teman sekelasnya. Jadi aku tak pernah punya negatif thinking soal hubungan mereka. Aku yakin, itu hanyalah keakraban seorang kepada teman sekelasnya. Lagipula, mungkin saja mereka akrab karena tergabung dalam kelompok tugas yang sama. Kemungkinan itu bisa saja terjadi.
“Tapi gue juga nggak pernah melihat dia menggandeng cewek!”ujarku menepiskan keraguan yang seketika mencuat dari dalam hatiku.
Bimo mendesah lagi.
“Yah… memang susah sih menebak karakter orang. Tapi, kalau saja perasaan Joshua ke elo itu emang bener-bener karena dia suka sama elo, gue dukung deh. Tapi lo juga harus siap-siap menghadapi resiko patah hati karena si Joshua itu juga punya kemungkinan kalau dia seoarang straight.”
Aku hanya mengangguk mendengarkan titah Bimo yang bijaksana itu. Jarang-jarang sahabatku yang menyebalkan itu mengeluarkan ucapan yang cukup ngena di hatiku.
Belum selesai aku menyelesaikan porsi terakhir mieku, handphone-ku berdering, sebuah pesan masuk. Maka segera kurogoh hape itu dari sakku kemejaku dan membuka SMS.

From: Kak Joshua
Time: 11:12
Kamu dimana? Aku tunggu di belakang perpustakaan ya? Ada yang ingin aku bicaraakan.

Aku menelan ludah begitu selesai membaca pesan singkat tersebut. Kak Joshua? Ingin bertemu denganku? Ada apa gerangan?
“Dari siapa?”tandas Bimo yang menyadari perubahan ekspresiku.
“Kak Joshua, dia ngajakin ketemuan di belakang perpus,”jawabku singkat yang dijawab dengan kerutan di dahinya.
“Mau ngapain dia?”Bimo menyedot es jeruknya lagi.
Aku mengangkat bahu seraya menggeleng lembut. “Mana gue tahu?”
“Yaudah sana temuin dulu. Kali aja dia mau nembak lo atau minta lo buat jadi calon istrinya, wakakakak!”ledek Bimo seraya mendorong lembut tubuhku agar bangkit dari kursi.
“Tapi makanan gue kan belom dibayar?”
Bimo mengerling penuh konspirasi. “Biar gue aja yang bayar.”
Alisku bertaut begitu mendengar Bimo mengucapkan kalimat yang demikian. Ada angin apa sampai-sampai Bimo ngomong kalau mau membayar makananku. Padahal biasanya, dia yang paling bawel minta ditraktir kalau akau mengajaknya ke kantin sekolah. Tapi sudahlah, tak perlu mengurusi tingkah Bimo yang memang selalu aneh itu. Aku harus bergegas menemui Kak Joshua yang aku yakin sudah menungguku di belakang perpustakaan sekolah.
Maka begitu usai berbasa-basi dan pamitan kepada Bimo, aku bergegas melangkahkan kaki melewati lapangan utama sekolah dan menuju ke belakang gedung perpustakaan yang berada di area belakang sekolah. Begitu aku sampai dibelakangnya, aku menemukan Kak Joshua tengah duduk diantara kursi yang memang disediakan sebagai tempat refreshing. Ia nampak memandang entah kemana.
“Hei, Kak,”sapaku yang langsung membuyarkan lamunannya.
Sontak saja ia menolehkan wajahnya kearahku. Aku tersenyum kala mataku dan matanya bersitatap.
“Sudah lama?”sambungku lagi sembari menggeser tubuhku untuk duduk pada kursi yang berada di samping Kak Joshua.
Lelaki itu menggeleng seraya mengulum senyum.
“Baru sepuluh menit yang lalu kok,”jawabnya lembut. “Aku senang kau mau datang kesini dan menemuiku, Tit.”
Aku kembali tersenyum mendengar ucapan Kak Joshua yang terdengar lembut dan manis. Aku baru sadar, kalau nada bicaranya kali ini sungguh berbeda dengan yang biasa diucapkannya padaku. Seperti ada sesuatu yang terpendam yang membuat suaranya tertahan.
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Tit,”sambungnya seraya melemparkan tatapan entah kemana.
Aku hanya diam. Aku kikuk. Sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi.
“A..Apa itu, Kak?”desisku susah payah.
Kak Joshua menghela napas. Seakan memantapkan diri dan menyusun kata-kata yang hendak diutarakannya.
“Jika aku boleh jujur,”Kak Joshua menjeda ucapannya sembari kembali menghempas napas. Sepertinya ia kesusahan mengatur debur jantungnya yang kini aku yakin tengah berdentum tiada kira. “Kau mirip dengan seseorang.”
Aku mengernyit, “Mirip dengan seseorang? Ma.. Maksud Kakak?”
Kak Joshua tersenyum tipis. “Iya…. kau mirip dengan adikku.”
Aku mengangguk paham. “Oh, ya?”
“Iya. Tapi dia sudah meninggal setahun yang lalu. Kecelakaan.”
Mendengar yang barusan, aku terenyak. “Ma… Maafkan aku, Kak,”ucapku tak enak.
Namun Kak Joshua kembali tersenyum pias. Seakan tak mau jika aku turut terbebani dengan memori tentang adiknya itu. “Sudahlah, lupakan saja. Bukan itu yang ingin kukatakan padamu sekarang. Aku memanggilmu kemari, karena aku punya sesuatu yang ingin kuberikan padamu.”
Untuk kesekian kalinya alisku bertaut. Tak memahami arah pembicaraan Kak Joshua.
“Se… Sesuatu?”
Sejenak, Kak Joshua nampak merogoh sesuatu dari saku celana abu-abunya. Aku yang masih duduk di sampingnya masih menatapnya saat ia mengeluarkkan dua buah liontin perak dan menunjukkannya padaku.
“Aku menemukan ini di toko aksesori langgananku kemarin sore,”jelas Kak Joshua seraya menunjukkan liontin berbandul huruf ‘T’ dan ‘J’ di genggamannya. Liontin itu nampak mengkilat oleh terpaan cahaya matahari yang menyusup diantara atap gedung perpustakaan. Membuatnya nampak berkilau indah. “Ketika melihatnya, aku jadi kepikiran kamu.”
Aku tersipu mendengar apa yang baru saja diucapkannya. Bisa kurasakan pipiku merona merah sekarang.
“Dan akhirnya aku memutuskan untuk membelinya, itung-itung hadiah perkenalan antara aku dan kamu,”sambung Kak Joshua lagi. “Kuharap kau akan selalu mengingatku jika kau memilikinya satu. Pun begitu aku, semoga saja tetap mengingatmu jika aku memilikinya satu.”

Jantungku tak henti kembang-kempis mendengar apa-apa saja yang diutarakan bibir tipis Kak Joshua. Apakah kata-katanya barusan adalah isyarat tak langsung kalau perasaanku selama ini padanya akan segera terbalaskan?
“A… Aku..” Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirku. Rasanya semua anggota badanku sudah terlalu kelu oleh pesona dan kalimat-kalimat magis lelaki tampan itu.
“Ini buatmu,”ujar Kak Joshua lagi seraya memberikan liontin berbandul huruf ‘J’ padaku. “Itu inisial namaku, jadi kuharap kau memakainya dan akan selalu mengingatku dimanapun kau berada.”
Aku mengangsurkan tanganku unuk menerima liontin yang diberikan Kak Josh padaku.
“Dan ini adalah inisial namamu. Semoga saja aku bisa selalu mengingatmu dimanapun aku berada,”sambung Kak Joshua sembari memakai liontin berbandul ‘T’ di lehernya. Aku yang masih kikuk hanya mengikuti apa yang dilakukannya. Aku juga memasang liontin pemberiannya di leherku.
“A… Aku…”
“Apa?”
Tepat ketika Kak Joshua hendak mengucapkan kalimat itu, bel masuk mendadak saja berdentang. Menandakan kalau aku dan Kak Joshua harus segera kembali ke kelas masing-masing sebelum guru pelahjaran terakhir datang.
“Ah…. Bel sudah berbunyi. Sebaiknya, kita bergegas kembali ke kelas kita masing-masing. Soal apa yang akan kukatakan tadi, lupakan saja. Kurasa memang belum saatnya,”tandas Kak Joshua seraya berdiri dari jkursi dan bersiap-siap kembali ke kelasnya yang berada di dekat laboratorium Fisika.
“Ba.. Baiklah, aku juga harus buru-buru ke kelas sebelum Bu Syahrini yang bawel itu mengamuk lagi, hehe. Malang sekali aku harus punya Fisika di jam pelajaran terakhir,”sungutku yang membuat Kak Joshua ikut tertawa tipis.
“Jika tak keberatan, bolehkah aku mengantarmu pulang setelah pelajaran usai nanti?”
Aku mendongak. Tak mempercayai apa yang baru saja dikatakan Kak Joshua.
“Kalau tak keberatan sih…”
“Tentu saja tidak,”potongku dengan sigap. “Baiklah, aku akan menunggu kakak di gerbang sekolah setelah pelajaran usai nanti. Aku menunggu,”pungkasku kemudian sebelum meninggalkan Kak Joshua yang melambaikan tangan padaku. Dengan hati berbunga, aku bergegas memacu langkah kembali ke kelasku sebelum akau mendapat pidato mahamenyebalkan dari guru Fisika yang ditakuti maha-maha itu.

***

Tepat seperti janjinya, Kak Joshua menemuiku di gerbang sekolah sore itu. Aku yang sudah limabelas menit menunggu kemunculannya hanya tersenyum begitu menatap sosoknya menghampiriku dengan motor ninja berwarna hijaunya. Tanpa memperlambat waktu, segera aku naik ke jok motornya yang empuk. Aku sudah ijin pulang sendirian sama Bimo. Jadi aku tak perlu takut resiko cerocosan pedas dari coeok keriting itu jika aku tak pulang bersamanya.
Maka begitu aku sudah pada posisiku, Kak Joshua segera menyetar motornya meninggalkan gerbang sekolah yang masih nampak dipenuhi siswa-siswi yang menunggu jemputan.
Sepanjang perjalanan, aku hanya diam saat jemari Kak Josh mengarahkan tanganku untuk memeluk perutnya. Kali ini, aku benar-benar yakin kalau sebentar lagi perasaanku benar-benar mendekati kata’terbalaskan’.
Tak sampai tigapuluh menit, kami sampai di depan rumahku yang dicat biru muda. Setelah menyerahkan helm yang tadi kupakai pada Kak Josh, aku bergegas turun dari jok motornya.
“Mau mampir kedalam dulu, mungkin? Bunda pasti lagi masak makanan yang enak hari ini,”tawarku sembari berdiri dihadapan Kak Josh yang masih mengenakan helm dengan kaca dibuka.
“Next time aja kayaknya. Habis ini aku ada latihan basket sama temen-temen. Nggak apa-apa kan?”tolak Kak Joshua dengan nada kecewa. “Yang penting kamu jaga dirimu baik-baik ya, itu sudah cukup buatku.”
Aku hanya meringis kegirangan mendengarnya. “Baiklah kalau begitu. Aku juga nggak maksa. Hati-hati ya?”ujarku.
“Iya. Semoga kita masih bisa bertemu lagi ya, Tit,”pungkas Kak Josh sebelum menyetar motornya dan kembali dan meninggalkanku dalam keadaan tercekat oleh ucapan terakhirnya tadi.
Semoga kita masih bisa bertemu lagi?

***

Hingga keesokan paginya aku mendapat kabar kalau Kak Joshua sudah meninggalkanku untuk selamanya. Kata orang yang melihat, motor yang dikendarainya pecah ban dan dia ditabrak oleh motor yang tanpa sengaja melintas dibelakangnya. Jantungnya remuk. Dan Kak Joshua sudah tak tertolong lagi.
Secepat itukah? Padahal baru kemarin sore dia mengantarku pulang dan berharap bisa berjumpa lagi denganku. Dan padahal aku baru saja berharap kalau dia akan mengutarakan rasa padaku. Namun rupanya takdir punyan jalan lain.(FIN)

Catatan:
Masaki KOH: Bintang bokep gay terkenal asal jepang. Kalau Maria Ozawa kalian pasti sudah tahu kan😛 wkwk.