Orlandoss cover 2

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

Salam…

Aku tak yakin kali ini Orlando menulis baik seperti yang kalian harapkan, aku sampai garuk-garuk kepala tak mengerti ketika membacanya secara sembunyi-sembunyi di bawah kolong tempat tidurnya (takut ketahuan trus dipecat, bo… yang parahnya lagi : dipecat tanpa dapat uang pesangon, alamat menggelandang di perempatan lagi deh aye kayak dulu (?))

Ehem… ayo kita jernihkan!

Pertama-tama dan yang paling utama (berasa ceramah maulid ya???), aku ingin berterima kasih kepada para sahabat yang sudah meluangkan waktu membaca Orlando’s Diaries post pertama Jumat lalu dan meramaikan kolom komentar, sungguh aku senang, rasanya lelahku terangkat seketika. Jujur, jika bagi kalian tulisanku adalah hiburan, maka bagiku komen kalian adalah film kartun Shaun the Sheep, jangan salah pengertian ya, aku tidak mengatakan kalian sheep-nya, aku mengibaratkan komentar kalian saja sebagai film kartun Shaun the Sheep yang artinya ‘hiburan buatku.’ Apakah status ‘Shaun the Sheep’ hanya untuk komen yang bilang tulisanku positif? Bagaimana dengan komentar negatif, apakah aku akan mengibaratkannya sebagai Suster Ngesot, Lawang Sewu, Kuntilanak 1 2 3, Pocong 1 2 3, Hantu Jeruk Purut, Nenek gayung atau Kakek Cangkul? TIDAK, komentar negatif tetaplah Shaun the Sheep bagiku, kenapa? Karena mereka juga sama-sama menghiburku, sama-sama peduli dengan tulisanku, sama-sama mau membaca coretanku (meski kadang tak habis hingga end). Jadi, jika kalian sayang Nayaka, ayo!!! Kasih aku Shaun the Sheep banyak-banyak…!!! Kekekekekeee…

Perdua-dua, ooohhh… tak ada kelegaan yang lebih melegakan saat ini selain dari bahwa aku bisa menyelesaikan Orlando’s post ke-2 ini, aku sangat lega. Tulisan ini mulai kuketik sore tadi pukul 03.00 WIB dan selesai tepat pukul 21. 45 WIB, alhamdulilah selesai dan bisa kupost hari ini juga. Aku sempat pesimis bisa menjaga jeda post seminggu dari post pertama Jumat lalu. Tapi ternyata aku bisa, thank God…

Pertiga-tiga, ada yang punya saran untuk post ke-3 minggu depan??? Aku krisis ide. Bila ada, sila tambahkan di akhir cuap-cuap kalian di kolom komen, aku akan dengan senang hati menilai peluang saran kalian untuk kupakai sebagai bahan baku pembuatan Orlando’s post ke-3 nantinya. Thank you…

Perempat-empat, trims buat Toshi-kun-ku yang hingga hari ini masih sehat-sehat saja, aku khawatir dia akan sakit lagi yang artinya sama dengan ‘kompor meledak’ bagiku, bila kompor meledak, maka aku tak akan bisa memasak.

Perlima-lima, semoga kalian menikmati membaca ORLANDO’S DIARIES : My Aidil, My Love Actually seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

Nayaka

##################################################

*Dari jurnal Orlando Ariansyah*

Lagi-lagi aku harus bertanya, apa sih hakikat dari mencintai? Alangkah baiknya jika kita punya satu buku seperti halnya KBBI yang di dalamnya khusus memuat segala tetek-bengek yang berhubungan dengan ranah cinta-cintaan. Dimana buku itu akan merunutkan segala macam istilah dalam dunia asmara beserta maknanya yang luar biasa. Kesamaan persepsi, tentu itu yang akan terjadi. Dan aku (juga mereka yang ingin tahu) akan dengan mudah menemukan defenisi dari ‘mencintai’ itu, cukup dengan membuka buku -yang belum ada- tersebut dan mempentangkan mata lebar-lebar membaca tiap katanya.

Karena buku itu belum ada, maka aku akan mencoba semampuku menelaah seperti apa hakikat dari mencintai orang yang mencintai kita.

Bagiku, mencintai itu adalah saat aku bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan orang yang mencintaiku, baik ketika aku berdiri di depannya atau saat aku berada di belakangnya. Jika aku mencintai dua hal itu di depannya sementara ketika berada di belakangnya aku asik mengeluh pada diriku sendiri, pada tembok kamarku, pada ikan lohan dalam akuariumku, pada sepatu sportku yang harganya lebih mahal dari peciku, atau yang lebih parah pada kertas dan pena dengan judul ‘Daftar Ketidaksenanganku Pada Pacarku.” Misalnya, aku menuliskan (baca : mengeluhkan) : pacarku tidak bisa main basket; pacarku tidak bisa manjat pohon; pacarku tidak bisa bikin gado-gado yang sangat aku suka bila sedang lapar berat; pacarku tidak suka jika rambutku gondrong; pacarku tidak suka jika aku tak pakai deodorant; atau pacarku tidak suka bila aku membanding-bandingkan diriku dengan mantan pacarnya dan bla bla bla. Jika itu yang aku keluhkan, menurutku, aku belum mencintai pacarku, aku hanya menyukai yang bagus-bagus saja darinya, menyukai sifat-sifat bagusnya yang menyenangiku. Itu saja, menyukai, bukan mencintai.

Aku mencintai Aidil, lebih dan kurangnya. Aku mencintainya meski ada beberapa sifatnya yang kerap memusingkanku, aku mencintainya walau ada beberapa sifatku yang dianggapnya menjengkelkan. Aku jujur mengakui, aku memang sering membuatnya jengkel. Aidil akan kesal bila aku menyebut diriku tak bisa seperti Zayed, dia akan langsung mendiamkanku. Bila sudah begitu, aku akan membiarkannya bisu selama yang dia mau, biar dia menurutkan kesal dan jengkelnya padaku dalam hatinya sendiri. Bila sudah dirasa cukup dia akan menggamitku dan bilang, ‘Kamu terbaik yang kumiliki sekarang.’

Aku ingat satu sore ketika dia berkata persis seperti itu…

***

“Dil, mau aku ajarin basket?”

Aidil berhenti dari mengutak-atik hape, abangnya di kampung baru saja mengirimi pesan. “Ingat ketika aku merusak latihan basketmu dulu? Aku payah. Jangan buang-buang waktu dan energimu, Orly…” lalu dia kembali mengetik di layar hapenya.

“Waktu itu memang gak ada yang serius, semua pada ngasal kan mainnya. Kali ini cuma kita berdua saja, kita belajar yang dasar-dasar dulu…”

“Aku buta basket,” tukasnya tanpa berhenti dari layar hape.

“Kalau begitu, kita gak usah belajar, have fun aja. Okey? Main rebut-rebutan bola pun jadi laaah…”

Dia menolehku dan tersenyum, “Gak ada lapangan basket kan dekat-dekat sini?”

Aku diam sebentar lalu menggeleng, “Komplek kita gak asik, sarana olah raganya minim banget. Tapi masih sempat kok kalau kita ke tempat timku biasa latihan.”

“Kalau nyatanya nanti ada yang sedang main, rugi kan udah jauh-jauh datang.”

Sepertinya dia memang tak mau aku ajak.

Aku mendesah dan menyandarkan punggungku di pilar balai-balai tempat kami bersantai sejak beberapa menit lalu, kubawa mataku memandang sekeliling pekarangan rumah Saif. Kami terdiam, aku larut dengan pikiranku dan Aidil sibuk berbalas SMS dengan Bang Anjas, sesekali dia tersenyum sendiri.

“Apa Zayed pernah mengajarimu sesuatu?”

Dia berhenti dari keasyikannya dan memandangku, “Apa yang ingin kamu cari di sini, Orly?”

Hhh… topik Zayed masih saja terlalu sensitif bagi pacarku ini. “Tak ada, aku hanya ingin tahu, mungkin ada hal yang kamu tak bisa lalu dia mengajarkanmu, misalnya kamu tak bisa silat lalu dia mengajarimu beberapa jurus… barangkali…”

Aidil mengggeleng, “Bukan itu kan yang ingin kamu gali…” Dia menatapku, mengacuhkan dering hape yang mengabarkan ada pesan baru. “Kamu sedang membanding-bandingkan dirimu sendiri dengannya…”

Aku diam, Aidil masih menatapku.

“’Apa Zayed pernah mengajarimu sesuatu?’” dia mengutip kalimat tanyaku, “Jelas kamu sedang melakukannya.”

“Tidak, bukan itu…”

“Tentu itu… selalu itu.”

Aku benci mengakui kalau yang disimpulkannya adalah benar. Aku hanya ingin menjadi pacar yang baik buatnya. Aku sadar tak mungkin bisa melebihi Zayed, tapi setidaknya, aku bisa melakukan apa yang pernah dilakukannya buat Aidil.

“Dia pernah mengajariku mengendarai motor kopling…”

Aku menatap Aidil, menunggu apa yang bakal dikatakan selanjutnya, menunggunya bercerita.

“Itu yang mau kamu ketahui, kan?”

Alih-alih bercerita, dia malah membuatku terpojok, tatapannya sungguh tak nyaman.

Dia mendesah, “Jangan begini lagi… aku tak mau kamu terobsesi untuk menjadi sepertinya…”

“Ya, karena aku tak akan mampu. Begitu kan lanjutan kalimatmu?” aku menukasnya.

Bisa kulihat kalau dia mengatupkan gerahamnya kuat-kuat.

Motor Saif memasuki pekarangan, pasti dia baru saja pulang jalan-jalan sore dengan Ruthiya. Setelah membunyikan horn dua kali sambil tersenyum padaku dan Aidil, dia melaju ke garasi dan tidak terlihat lagi. Apa dia pernah membanding-bandingkan dirinya dengan mantan pacar Ruthiya ya? Atau mungkin Saif lebih beruntung, Ruthiya tak punya mantan pacar.

Sore semakin temaram, Aidil sudah berhenti dari layar hape, sekarang dia menatap lurus pada tembok tinggi pagar rumah Saif, entah apa yang menarik di sana. Bukan mustahil, dia sedang mengeluh pada tembok itu bahwa pacarnya sering membuatnya jengkel.

“Orly, kamu terbaik yang kumiliki sekarang.” Dia memeluk lenganku. “Kamu pernah bilang kan, bahwa kamu punya caramu sendiri untuk mencintaiku?”

Ya, aku pernah mengatakan demikian di awal masa pacaran kami. Aku mengangguk pelan sambil mencondongkan badanku lebih rapat padanya.

“Maka cintai aku dengan caramu itu, berhenti membanding-bandingkan dirimu sendiri dengannya. Itu akan lebih mudah bagi kita berdua.” Dia menepuk pahaku lalu turun dari balai-balai. “Kalau bukan sedang dekat dengan rumah, aku pasti akan menciummu saking kesalnya…” dia tersenyum lalu bergerak menuju beranda.

Aku melongo, ada yang menggelikan di sini. Katanya, dia akan menciumku kalau kesal? Hmmm… aku akan sering-sering membuatnya kesal ketika jauh dari rumah.

***

Bila pacarku sering jengkel denganku, itu karena aku memang sedang bersikap menyebalkan.  Begitu juga jika aku sedang jengkel dengannya, itu karena dia juga sedang bersikap menyebalkan, aku memandang kondisi ini sebagai ujian, dia sedang mengujiku, apakah aku bisa mencintai sifatnya yang tidak menyenangkanku itu atau tidak. Dan bila aku yang bersikap menyebalkan, aku percaya dia akan menganggap itu ujian baginya.

Sudah kukatakan, aku mencintai lebih dan kurang yang ada pada Aidil. Dia juga sudah menegaskan demikian dalam kalimatnya. ‘Aku akan menciummu saking kesalnya…’ begitu dia menegaskan. Ciuman, itu dilakukan orang-orang karena cinta, kan? Dia akan menciumku padahal aku sedang membuatnya kesal yang artinya aku sedang menunjukkan sifat jelekku (kekuranganku). Bila Aidil tidak mencintai kekuranganku, tentu dia akan berucap begini : Aku akan menyumpal mulutmu dengan bakpao basi saking kesalnya. Jika kalimat itu yang keluar, jelas dia tidak mencintai kekuranganku. Hmmm… aku dan Aidil sudah lulus ujian.

Banyak orang mengatakan, perbedaan akan membuat hubungan percintaan akan lebih mengasyikkan, lebih kaya, lebih menantang, lebih seru. Perbedaan memberi warna, semakin banyak perbedaan maka semakin berwarna sebuah hubungan percintaan. Apakah benar?

Misalkan, aku dan Aidil hanya punya satu perbedaan, artinya hubungan kami cuma satu warna, begitu? Aku pilih warna ijo deh jika begitu. Kalau ada tujuh perbedaan berarti warnanya kayak warna pelangi. Baiklah, aku setuju perbedaan memang memberi warna, itu benar. Namun jangan menutup mata dan cinta buta dengan yang namanya perbedaan, pernah dengar kalimat begini?

‘Kita tak dapat menyatukan perbedaan yang ada di antara kita, terlalu banyak yang harus dikorbankan jika kita nekat meneruskan…’

Nah lo… banyak sekali kasus orang pacaran yang akhirnya bubaran karena berbagai alasan yang mengatasnamakan perbedaan. Beda hobi, beda kasta, beda keyakinan, beda selera, beda pandangan, beda persepsi, dan segala macam beda-beda lainnya (Apakah termasuk beda jenis kelamin? Jika iya, aku patut mengucap syukur karena aku dan Aidil terhindar dari beda yang satu itu, he he he… tahu kan, kami sama-sama dilarang pakai rok mini).

Lalu bagaimana dengan persamaan? Aku lebih suka jika aku dan Aidil memiliki sedikit perbedaan dan punya banyak persamaan.

Bagiku, persamaan adalah perekat, lem yang melengketkan banyak benda, begitu banyak benda yang bisa direkatkan dengan lem. Persamaan itu juga seperti seutas tali yang digunakan untuk mengikat, banyak benda yang bisa disatukan dengan tali, diikat lalu dibuat simpul. Biarlah warnaku dan Aidil sedikit asalkan kami punya banyak persamaan yang bisa menyatukan dan merekatkan.

Persamaan kami yang paling utama adalah seperti yang sudah kusinggung, kami punya alat bercinta yang sama meski ukurannya mungkin berbeda (aku yakin punyaku lebih gede sedikit, he he he… aku belum pernah membandingkan langsung sih, tapi jika kenyataannya nanti punya Aidil yang lebih ehem cetar membahana, aku siap datang ke gubuk Mak Erot dimanapun Si Mamak beroperasi).

Karena kami sepasang kekasih yang punya ‘perkakas bercinta’ yang sama pula, maka aku dan Aidil punya persamaan utama lainnya, apa itu? Kami memiliki tipe rasa cinta yang sama, cinta tak biasa dalam sebuah relationship yang unik. Tak perlu kujabarkan seperti apa uniknya rasa cinta seperti yang aku dan Aidil miliki, aku hanya akan memberitahu beberapa identifikasi keunikannya.

Satu pagi, aku terlibat percakapan luar binasa dengan Aidil dan sialnya ada pengganggu usil yang sok-sokan mau melibatkan diri dalam hal mendidihkan ubun-ubunku…

***

“Ai Ai… cakepku, manisku, cintaku, sayangku, buah hatiku, satu-satunya yang berhak menurunkan resletingku…. Aa’ Lando mau… AOOOWWW…!!!”

“MAU AKU TANDUK???” Aidil membelalak lebar dan besar.

Aku masih meringis sambil mengelus-ngelus cambang kananku yang baru saja ditariknya dengan kekuatan penuh. Apa yang mau aku sampaikan tertelan kembali bersama pekik kesakitanku. Menahan sakit, aku masih ingin membuat level marahnya meroket. “Kalau yang kamu maksud adalah tanduk yang bawah, aku ikhlas-ikhlas aja deh ditanduk kamu…”

“Ya Tuhan, Orly… kamu sadar kita dimana?”

“Di jalan komplek…”

“Jangan ngomong yang aneh-aneh, bisa kedengaran…” Aidil melirik sekeliling penuh khawatir, bisa kulihat itu di matanya.

“Gak apa, palingan yang dengar cuma aku. Santai aja, Dil… aku udah terbiasa.”

“Tuh, kan… yang dengar cuma monyet ini, dan dia sudah terbiasa, gak perlu khawatir.” Aku menjawab santai.

“Mau aku jitak? Yang kamu sebut monyet itu adalah kakakku.”

“Gak perlu, Dil… aku bisa jitakin sendiri…”

Dan

KLETUUKKK

“AAOOOWWW…!!! Sakit, kebooo…” kali ini aku mengelus-ngelus puncak kepalaku yang baru saja dirajam tangan Saif, dia tertawa senang melihatku bersungut-sungut.

“Masih ngatain juga…???”

Aku langsung membentengi cambangku kiri kanan sekaligus, sedetik tadi Aidil sudah siap melancarkan serangan susulan. “Kan aku gak ngatain kamu, Beib…”

“Aduh, kok tiba-tiba aku mual ya?” Saif mulai kurang ajar. Tak kupedulikan dia yang sedang mengolok-olokku dengan mengelus-ngelus perutnya yang tentu baik-baik saja, kecuali dia lupa minum obat mencret sebelum memakai sepatu joggingnya selepas subuh tadi.

“Jelas kamu ngatain aku, aku adiknya monyet, aku adiknya kebo…”

“Hah? Kok bisa gitu?” aku berhenti berjalan, mereka ikut diam tak bergerak.

“Jelas bisa, bodoh… kan dia adikku!” jawab Saif sambil merangkulkan sebelah tangannya ke bahu Aidil. Yang bikin aku panas dan tumbuh cula, dia malah –dengan ekspresi mesra berlebihan- mencium dahi Aidil. “Adikku satu-satunya…” ucapnya setelah sukses meng-oven-kan hatiku.

“Adik sih adik, tapi jangan pake cium-cium di depan pacarnya dong! Emosi tau…!” Aku menarik lengan Aidil dan membawanya berjalan denganku. Di belakang, Saif mengikuti dengan tawa menyebalkan. Aku mendekatkan diri pada Aidil lalu berbisik, “Kapanpun, dimanapun, jangan biarkan kakakmu yang kegatelan itu menciummu lagi, tidak di dahimu, di punggung tanganmu, apalagi di…”

“Jangan gila!” Aidil memotong kalimatku, “Kak Saif gak mungkin mencium mulutku…”

“Asal tau aja, Do… lebih duluan aku yang nyium mulut Aidil ketimbang lu…”

Geledek dimana-mana, tapi lebih dari setengahnya menyambar kuping dan puncak kepalaku, sisanya kulihat menyambar ke arah Aidil, dia kikuk di tempatnya berdiri. “Is it true?” aku memandang Aidil yang semakin salah tingkah.

“Of course it’s true…” Saif semakin menyebalkan.

“Kak Saif diam ahh…”

“Gak, gak, gak… aku pengen dengar bekicot ini bicara…” sekarang aku berdiri di tengah-tengah mereka, “Ayo ngomong lu, kambing…”

“Dil, sekarang kamu adiknya bekicot dan juga adiknya kambing…” Saif menyuntikkan racunnya.

“Berani narik cambangku lagi, aku haramkan zipperku kamu buka!” Aidil langsung mengkeret begitu aku mendesis tepat di depan hidungnya, dia tak berkutik. Terbukti, apapun yang ada di balik resletingku sangat berarti buatnya.

“Oopps… ini mulai terdengar buruk…” Saif bersuara.

“Kalau lu gak mau cerita gimana kronologinya, jangan panggil aku Orlando jika tak bisa balas dendam mencium Yayang Ruthiya-mu itu…” Aku mengancam lelaki sok kecakepan di depanku dengan mata melotot besar, kuharap dia bisa melihat api yang berkobar di mataku sekarang.

“Balas dendamnya kok gitu, gak boleh…” Aidil tercekat.

“Berarti benar kalau biri-biri ini pernah menciummu?” Aidil menunduk menghindari tatapanku.

“Gak ada yang boleh ngapa-ngapain Yayang Ruthiya-ku…”

“Lu benar-benar buaya ya, Sef…” aku menyemprot Saif, “Jawab, berapa kali lu pernah nyium pacarku?”

“Dil, sepertinya bodyguard-mu ini ngajak duel.”

“Kak Saif jangan bikin tambah runyam dong, diam aja…” Aidil menarik lenganku, “Ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Orly…”

“Aku ingin badak ini yang bicara…” kuhentakkan lenganku yang dipegang Aidil.

“Bisa gak, Do, manggil aku dengan satu spesies saja? Aku bingung, dari tadi panggilanku berbeda terus…”

“Lu gak berhak protes, onta! Posisi lu tidak sedang dalam keadaan bebas menyuarakan keberatan…”

“Okey, ini semakin tidak jelas.” Aidil menengahi, “Kak Saif pernah mencium Aidil, hanya satu kali dulu dan itu tak berarti apa-apa…”

Hening. Aidil memerhatikan keadaan sekitar, memastikan pagar-pagar tembok di kiri kanan kami tak sedang menguping.

“Kapan…”

“Sebelum kita pacaran…”

“Ketika kamu masih sama Zayed?”

“Setelah lu ngebeberin sama adikku kalau aku gak mau pacaran sebab takut perhatianku padanya berkurang, setelah lu dengan begitu naifnya tidak mau memperjuangkan cintamu sendiri dan malah membuat adikku bingung mencari jawaban teka-teki hatinya, setelah lu banyak gaya sok bijak bilang adikku akan lebih bahagia dengan orang selainmu, monyet, kebo, bekicot, kambing, biri-biri, buaya, badak, onta!” Saif menjawab panjang lebar untukku, plus bonus mengembalikan panggilan ‘sayang’ untuknya secara berurutan. “Udah jelas, kuda nil???”

Sukses meng-KO-kanku dalam hal mengurutkan nama-nama warga Ragunan, Saif bergerak mendahului meninggalkanku dan Aidil yang masih diam tak bergerak tak bersuara.

“Oh ya, aku lupa, ternyata aku menciumnya dua kali… sebelum itu kami pernah berciuman di dalam lumpur sawah!” Saif berseru lalu tersenyum penuh kemenangan sebelum meneruskan jalannya.

“Dasar musang berbulu ayam lu, Sef…!!!” aku balas berseru, Saif mengacungkan jari tengahnya padaku tanpa menoleh, membuatku kesal setengah mampus.

Aidil mulai melangkah.

“Dil, tunggu…” aku menangkap pergelangan tangannya, Aidil berbalik menatapku. “Apa semua yang dibilang Saif benar?”

“Itu yang mau Kak Lando tahu, kan?”

Oh shit, Kak Lando… dia sedang kesal. Tidakkah sepatutnya aku yang lebih berhak untuk kesal right here, right now?

“Ciuman itu tak berarti apa-apa sekarang, okey? Tak memberi pengaruh apapun. Aku denganmu sekarang, hanya denganmu. Anggap persetan ciumanku dengan siapapun sebelum kita berdua, aku juga tak mau peduli terhadap ciumanmu dengan siapapun sebelum kamu menjadi milikku, sebelum ciumanmu menjadi hak patenku…” Aidil membebaskan tangannya lalu meneruskan langkah.

“Tapi dia menciummu hingga dua kali, Beib…” aku menjajari langkahnya.

“Satu kali, okey! Hanya satu kali.”

“Yang katanya di sawah itu?”

“Itu gak dihitung, kami jatuh bertindihan gara-gara pematang yang licin dan secara kebetulan mulut kami berhadapan, tak ada kulum-kuluman, apalagi kunyah-kunyahan lidah.”

“Tapi katanya itu adalah ciuman…”

“Baiklah jika kamu juga sependapat percaya kalau itu juga ciuman, okey… itu ciuman… dan itu adalah ciuman pertamaku.”

What??? Ciuman pertamamu dengan kuda nil itu?”

“Tepat sekali, dengan kuda nil cakep itu…” jawab Aidil enteng.

Suhuku naik sudah, rasanya bagai berada dalam belanga gede yang di bawahnya di kobari api menyala. Aku menggaruk-garuk kepalaku, sekarang aku baru sadar kalau ada hal yang lebih penting dari sekedar mengusut ciuman mereka, seharusnya aku mempertanyakan status Saif. “Apa Saif suka pisang dan duren sekaligus?”

Aidil kontan mendelik, “Jangan ngaco!”

“Gak, ini penting, Dil… aku gak mau dia ambil kesempatan lagi padamu kalau ternyata dia juga suka pisang…”

“Itu gak akan terjadi…”

“Dil, sadar gak… kamu sangat gampang bikin lelaki sepertiku jatuh cinta dan bersedia mengincarmu mati-matian kalau sudah terlanjur cinta…”

“Hanya lelaki sepertimu, Orly… gak akan berlaku pada Kak Saif, lupakan pemikiran itu.” Aidil mempercepat langkah.

Aku membuang udara dari mulutku, gusar. Pemikiran kalau sewaktu-waktu Saif akan mencium pacarku lagi sungguh membuatku uring-uringan. “Dil…” kembali aku menangkap pergelangan Aidil, langkahnya terhenti. “Promise… kamu gak akan membiarkan Saif mengambil kesempatan darimu lagi?”

“Ya Tuhan, Kak… itu gak akan terjadi!” lagi-lagi dia kesal.

Just promise me…” aku mengangkat kelingkingku padanya.

Aidil mendesah lalu menautkan kelingkingnya pada kelingkingku.

“Ikrar janjinya?”

Aidil memutar bola mata, aku tersenyum. “Aku janji gak akan membiarkan Kak Saif atau siapapun manusianya mengubek-ngubek bibirku…”

“Dan bila dia nyari-nyari kesempatan maka kamu akan menendangnya…”

Lagi-lagi Aidil memutar bola mata, “Bila dia nyari-nyari kesempatan maka aku akan menendangnya…”

“Dan membogemnya…”

“Ya, dan aku akan membogemnya.”

“Dan melinggis gigi-giginya hingga tak bersisa…”

“Kak Lando, apa sih ini…”

“Ucapin aja!” Aku mempererat kuncian kelingkingku.

“Dan melinggis giginya hingga tak bersisa.”

“Dan lalu lari ke pelukanku minta perlindungan.”

Aidil melongo.

Aku nyengir kuda.

“Kan dia udah keok, udah kena tendang, kena bogem, giginya juga udah gak bersisa lagi, ngapain harus cari perlindungan segala?”

“Untuk jaga-jaga aja kalau dia masih ngotot pengen nyosor, ayo ucapin!”

“Hhhh… lalu aku akan lari ke pelukan KAK LANDO untuk dilindungi biarpun itu gak perlu lagi dan gak masuk akal sama sekali,” ucapnya dengan menekankan panggilan untukku bila dia sedang kesal.

Aku tersenyum, “That’s my boy… I love you so much!” secepat kilat aku menyambar bibir Aidil lalu berlari mengejar Saif, manusia sok kecakepan itu berhak mendapatkan jitakan balasan dariku.

***

Terlihatkah letak keunikannya?

Yang sangat terlihat adalah cara kami saling mengekspresikan rasa cinta yang kami miliki. Bagiku itu sangat unik, sekaligus menantang, memacu adrenalin. Aku dan Aidil harus memastikan dulu bahwa tak ada yang melihat atau mendengar saat kami sedang mengekspresikan cinta kami satu sama lain, aku harus mengumpulkan keberaniaan penuh ketika hendak melakukan hal yang selayaknya dilakukan oleh orang yang sedang pacaran pada Aidil jika sedang tidak berada di ruang privacy kami, itu mendebarkan dan memacu adrenalin, percayalah. Cara mengungkapkan cinta seperti yang kami miliki sangatlah berbeda dengan cinta yang dimiki orang pada umumnya. Jika mereka bebas memilih cara maka kami tak punya banyak cara bebas. Jika mereka punya banyak pilihan situasi dan kondisi maka pada kasus kami situasi dan kondisilah yang memilih. Yang lelaki, mereka bisa memberikan buket bunga, kalung hati, boneka pink, cincin bermata biru atau mata apa saja buat gadis mereka sebagai ungkapan cinta. Tapi aku, tak mungkin memberikan benda-benda seperti itu buat Aidil, tak mungkin memberikan buket bunga, kalung hati, boneka pink, tidak juga cincin bermata meski matanya adalah mata pisau sekalipun. Jika pun ada cincin di jari Aidil, itu adalah cincin buta, tak bermata.

Unik bukan? Bagaimana aku yang adalah seorang lelaki dan Aidil yang juga seorang lelaki bisa saling mencintai, itu sangat extraordinary. Begitu extraordinary-nya sehingga aku yakin bahwa aku tak akan bisa mencintai orang lain lagi, aku tak bisa.

Aidil adalah sebenarnya cinta bagiku, tak kutemukan pada yang lain, hanya pada Aidil-ku…

Unik, artinya tak biasa, tidak umum, bisa dibilang satu dalam sejuta, tidak universal. Orang bilang, segala sesuatu yang punya keunikan itu adalah indah, elok dan menarik, something new yang mencuri atensi. Sesuatu menjadi unik jika dia tak dipandang sebagai kebiasaan, kelaziman, dipandang lumrah. Seorang cowok mencintai seorang cewek, itu lumrah, berarti bukan unik. Seorang lelaki memberikan kalung hati sebagai kado ultah gadisnya, itu biasa, berarti tidak unik. Seorang pria mencium seorang wanita di pusat perbelanjaan, itu lazim terjadi, berarti tidak unik.

Unik, ketika aku mencintai Aidil dan Aidil mencintaiku. Unik, Ketika aku mencemburui lelaki yang mendekatinya dikuti amarah meledak-ledak untuk memasang bom rakitan ke badan si lelaki tersebut dimana remot pemicunya aku yang pegang, atau ketika aku seperti kebakaran jengkotku atas bawah saat tau kalau Saif pernah mencuri ciuman dari Aidil. That’s called unique.

Ya, begitulah aku menjabarkan bagaimana caraku mencintai.

Aku pernah membaca begini : ketika disentuh cinta, semua orang menjadi penyair. He he he… ada yang langsung bet filing??? Jangan khawatir, aku tak akan mempermalukan diriku lagi dengan kembali menuliskan kalimat-kalimat konyol dalam jurnalku, itu sudah lewat. Yang ingin aku telaah adalah kalimat hebat di atas, benarkah semua orang akan jadi penyair ketika tersentuh cinta? Jelas aku sedang di sentuh cinta, tapi mengapa aku tak lantas jadi penyair? Hmmm… kalimat hebat itu sangat patut dipertanyakan. Tapi tunggu, dari mana aku bisa yakin kalau diriku tak berubah jadi penyair? Dari mana aku bisa berkesimpulan kalau aku tak mampu

Kau akan tahu apa yang kau bisa setelah mencoba. Kebanyakan orang terlanjur mengira bahwa diri mereka tidak sanggup, bahwa mereka tidak bisa, padahal mereka belum pernah mencoba. Itulah orang-orang yang bodoh.

Stop!!! Apa aku bodoh? Tidak, aku tidak bodoh, aku sudah pernah mencoba di halaman jurnalku sebelumnya, dan tepat sekali… aku gagal jadi penyair.

Kebanyakan mereka yang sukses adalah mereka yang pernah mencoba berkali-kali namun berkali-kali juga berhadapan dengan kegagalan.

Sangat pantang bagiku untuk dipanas-panasi. Baiklah jika itu yang diinginkan dariku, buka mata lebar-lebar!!! (Aidil, maaf… pacarmu ini lagi-lagi harus menunjukkan betapa payahnya dia ketika berpujangga)

Bismillah…

Sedalam-dalamnya Samudra Atlantik

Lebih dalam lagi cintaku padamu

Setinggi-tingginya puncak Merbabu

Lebih tinggi lagi sayangku padamu

 

Seluas-luasnya gurun sahara

Tidaklah seluas cintaku buatmu

Selebar-lebarnya kuali ceper

Pasti kalah lebar dengan sayangku untukmu

 

Oh Aidil…

Hatiku bergoncang sepuluh skala richter tiap kali melihat senyummu

Jantungku mencelos jatuh ribuan feet tiap kali menyentuhmu

Thermometer kehabisan angka untuk mengukur suhuku ketika menciummu

Stopwatch meledak berpacu dengan debar dadaku saat kamu dipelukku

 

Oh Aidil…

Puting beliung boleh saja meniupku hingga jauh darimu

Banjir bandang boleh saja menghanyutkanku hingga pisah darimu

Namun demi cintaku padamu,

Beliung segede Krakatau akan kutahan

Bandang sekencang motor cross akan kubendung

 

Oh Aidil…

Cinta kita seperti lagu dangdut

Tak asik bila tak ada goyangan

Boleh aku menggoyangmu kapan-kapan?

 

Oh Aidil…

Kita bagaikan blender ketika sedang bermesraan

Makin kencang putaran blender makin panas mesinnya

Makin sering kita bermesraan makin panas mesinku

Bolehkah aku mem-blender-mu kapan-kapan?

 

Oh Aidil…

Banci salon boleh bangga punya blush on

Banci perempatan boleh bangga punya tutup limun

Banci gang boleh bangga punya pelanggan

(Actually, ada berapa ya spesies banci di Indonesia?)

Namun itu tak sebanding dengan banggaku karena memilikimu

 

Aidil…

Namamu terukir indah di tapak sandal jepitku

(kapan-kapan nanti aku kasih lihat, ya…)

I love you se-cetar membahana wat eper…

Muachhh…

 

Fiuuhhh… leganyaaa… Aidil, intinya pacarmu yang cakepnya membutakan mata tante-tante girang dan om-om mata keranjang ini pengen bilang, kalau kamu adalah cinta sejatiku, my love actually. Semoga kita bisa bersama untuk batas waktu yang tak bisa ditentukan siapapun, semoga kita bisa terus berpegangan tangan hingga zaman-zaman terlampaui. Semoga sejak kini hanya aku yang memiliki ciumanmu selamanya… dan… semoga kapan-kapan aku benar-benar bisa menggoyang dan mem-blender-mu… cihuyyy…!!!

 

Kutulis dengan cinta

Orlando Ariansyah

________________________________________________________________

 

Mid January 2013

Dariku yang (memang) ada apa-apanya

Nayaka Al Gibran

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

adakah yang TIDAK mau membaca seri ketiga dari Orlando’s Diaries ini?