A/N : FanFic ini terinspirasi dari Pairing Hanazono Riku (Tani Kazunori) X Ichiyo Mizuki (Yuuki Kawakubo), pasti sudah lihat Yaoi Live Action Boys Love 2/Boys Love 2007 kan??!  Yuuki suka pair Riku X Ichiyo meskipun –lagi-lagi– berakhir tragis T___T *BT Mode On* Yuuki sempat Kaget *DEG!* waktu ada adegan ‘Ehemm’… antara Riku X Ichiyo di Movie Boys Love ntu (WARNING!!! ANAK DIBAWAH UMUR DILARANG LIHAT!!!!! #PLAK!!!)

Nonton aja sendiri Movie nya ya dan jangan heran kalau di FanFic Yuuki tokoh-tokoh nya pada OOC (Out Of Character) semua, Mwaaahahahahahaw XDD

Ini Imajiku… mana Imajimu… LOL XDD

Pairing : Riku X Ichiyo

Rating  : Yang ‘aman’ aja ya?! #MaksudLoe?!

Genre : Friendship and Romance XP

Disclaimer : Boys Love Movie Directed by Kotaro Terauchi

Sa~ Dozo Yoroshiku Onegaishimasu…

~.~ .~.~ ~.~ .~.~ ~.~ .~.~ ~.~ .~.~

Yuuki’s Present

a Boys Love 2 Movie FanFiction

boys love 2

“ Lebih dari Sekedar Kata “

~.~ .~.~ ~.~ .~.~ ~.~ .~.~ ~.~ .~.~

Teman

Sebuah kata sederhana yang selalu ingin aku dengar

Tapi kini hal itu seperti mimpi yang selalu mengusik disetiap malam-malamku.

Kau bukan orang itu.

Bukan orang yang dulu berikrar bahwa kau adalah temanku.

Teman.

Sungguh, aku ingin sekali kembali mendengar kata itu darimu.

.

.

.

Ichiyo  POV

Semester akhir telah dimulai, hari-hari yang super sibuk telah menanti. Jadwal les yang padat, tugas-tugas sekolah yang menumpuk dan segudang kegiatan lainnya mulai mewarnai hari-hari siswa kelas 3 di sekolah khusus laki-laki ini.

Pagi ini adalah hari pertama dimulainya les pagi. Suasana sekolah mulai ramai bersamaan dengan berdatangannya murid-murid yang lain. Dengan langkah tergesa-gesa aku berjalan menerobos kerumunan di koridor.

Setengah berlari aku menaiki tangga menuju kelasku, ada yang harus segera ku kerjakan sebelum les dimulai. Sampai di anak tangga paling atas langkahku langsung terhenti. Di hadapanku berdiri tiga sosok siswa menghadang jalanku. Ah, Riku dan gengnya. Riku memberikan tatapan tajam khas miliknya, sementara itu kedua pengikut setianya ikut memandang sinis kearahku. Ck, kenapa sih aku harus bertemu dengan mereka di sini? Merepotkan.

Tanpa sadar aku mendesah dan memasang wajah cemberut.

“Kau mau apa, Riku?” tanyaku pelan.

Dengan tatapan tajam, perlahan Riku berjalan mendekatiku.

“Mau apa? Mau apa katamu? Aku mau ini!!!”

Dengan tiba-tiba Riku merebut tasku lalu melemparnya ke lantai dasar. Mulutku ternganga memandang ke bawah dari lantai tiga gedung sekolah ini, seluruh isi tasku berhamburan keluar. Beberapa bukuku sempat terinjak murid-murid yang berlarian dan berlalu lalang tanpa  peduli.

Dengan pandangan tak percaya aku menatapnya.

“Kenapa kau lakukan itu, Riku?!” ujarku kesal.

Sambil tersenyum sinis, Riku berkata,

“Karena aku suka melakukannya padamu, Idiot!” maki Riku yang langsung mendapat sambutan tawa sinis dari kedua pengikutnya itu.

Tidak mau mencari ribut. Aku hanya menghela napas panjang, berusaha meredam emosiku. Tanpa kata-kata aku meninggalkan mereka dan segera berlari menuruni anak tangga.

Dengan hati-hati kupunguti barang-barangku yang berceceran. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Riku tengah mengawasiku dari atas.

Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa salahku, sampai Riku begitu membenciku?.

Kenapa dia selalu saja menggangguku? Mengusiliku? Padahal sudah hampir 3 tahun kami berteman.

Ya, teman. Dulu sekali kata itu pernah dia ucapkan untukku. Ketika pertama kali kami bertemu dan kujabat erat tangannya.

Namun semua itu berubah saat semester awal kelas dua, ketika dia mengenal teman selain aku.

Teman? Ah, apa iya dia menganggapku teman? Apa ada teman yang tega menyakiti temannya?

Apakah aku tak pantas untuk menjadi temannya?

Aku masih terlarut dalam mimpi siang bolongku hingga tak menyadari ada sosok lain yang tiba-tiba ikut membungkuk dan membantuku memunguti barang-barangku yang berserakan.

“Ini milikmu?” sebuah suara terdengar mengiringi buku-buku yang terulur di depan wajahku. Terkejut, aku mendongakkan kepalaku. Tepat dihadapanku, kulihat seseorang tengah tersenyum ramah padaku.

Kubetulkan letak kacamataku sembari mengamati penolongku itu.

Pemuda itu berkulit putih bersih, rambutnya panjang sebahu, padahal siswa laki-laki disekolah ini tidak diperbolehkan memiliki rambut panjang. Senyum masih saja mengembang menghiasi wajahnya yang pucat. Sepertinya aku belum pernah melihat dia sebelum ini…

Sambil mengucap terimakasih, kuambil buku-buku milikku itu dari tangannya.

“Namaku Sora, aku murid pindahan. Ck, padahal sudah tahun terakhir, tapi apa boleh buat ya? Hahahaha…” pemuda penolongku itu memperkenalkan dirinya.

Hmm, pantas saja aku belum pernah melihat dia sebelumya.

“Aku sedikit tersesat di sekolah baruku ini, bisa kau membantuku… ummm… Gomen, Anata no namae wa?” tanyanya.

“I-Ichiyo,  Ichiyo Mizuki desu, ” jawabku.

Sora kembali tersenyum, diulurkan tangannya kearahku.

“Un, yoroshiku ne… Ore no tomo yo!” ujarnya ramah.

Aku tertegun mendengar kata-katanya barusan. Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana bisa dia yang notabene baru saja mengenalku langsung menganggapku sebagai temannya. Hatiku tiba-tiba menjadi hangat. Dengan senyum tulus, kusambut uluran tangannya. Menjabatnya erat.

END ICHIYO POV

Sementara itu, tanpa mereka berdua sadari. Raut wajah Riku yang melihat kejadian itu berubah geram. Ada kilat amarah yang terlihat di mata hitam miliknya. Tangannya mengepal erat menahan kesal.

Tidak terasa sudah hampir 2 bulan sejak Sora pindah ke sekolah mereka. Selama itu pula persahabatan antara Ichiyo dan Sora terjalin lebih erat.

Sora sepertinya tak peduli dengan omongan murid-murid lain yang selalu menjelek-jelekan Ichiyo. Dia bahkan menolak ajakan Riku dan gengnya yang memintainya untuk menjauhi pemuda yang selalu mereka ganggu itu.

Semua murid di kelas tahu. Dimana ada Sora, disitu pasti ada Ichiyo, demikian juga sebaliknya.

Ichiyo merasa sangat senang. Karena akhirnya, ia mempunyai seseorang yang disebutnya teman. Sora begitu baik padanya, menjaga dan melindunginya. sehingga Ichiyo pun selalu berada didekat Sora. Menemaninya bila pemuda itu memerlukannya, meminjami Sora catatannya bahkan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya bila pemuda itu terlupa.

Dan Rikupun menghilang begitu saja. Entah kenapa Riku dan kedua anak buahnya itu tak lagi mengerjai Ichiyo. Bila Sora terlihat bersama Ichiyo, Riku sepertinya lebih memilih menghindar. Memandangi mereka dari jauh dengan tatapan kesal.

Namun kali ini, Riku sepertinya sudah kehilangan kesabarannya.

Sepulang sekolah itu Ichiyo terlihat tergesa-gesa menuruni anak tangga. Sendirian. Dan kondisi itu menjadi kesempatan baik bagi Riku untuk menyeretnya kesalah satu sudut koridor yang sepi.

“Riku?! Mau apa kau?!” teriak Ichiyo sambil menyentakkan tangannya yang dicekal Riku.

Tapi usahanya sia-sia, tangan Riku semakin mencengkeram erat lengannya.

“Ouch!” Ichiyo meringis merasakan sakit pada lengannya. Namun Riku seakan tidak peduli. Ditariknya Ichiyo mendekat padanya, sehingga jarak mereka hanya tinggal beberapa centimeter saja.

Dada Ichiyo berdebar kencang. Dengan sorot mata tajam Riku menatap mata hitam milik Ichiyo yang terhalangi lensa kacamata minusnya, membuat Ichiyo semakin salah tingkah saja.

Saat Riku mendekatkan wajahnya, Refleks Ichiyo memejamkan mata. Secepat kilat, Riku menarik lepas kacamata minus yang selalu bertengger manis di hidung Ichiyo.

Cengkeraman Riku mengendur dan perlahan ia mundur. Meninggalkan Ichiyo yang mengerjap-ngerjap menyesuaikan pandangannya yang kabur saat menyadari kacamatanya telah raib dari tempatnya.

“Riku, kembalikan kacamataku!” pinta Ichiyo seraya menghampiri Riku. Saat sampai di depan Riku, secara tiba-tiba Riku menjatuhkan kacamata itu dan menginjaknya dengan sebelah kakinya.

Ichiyo terhenyak. Napasnya tecekat melihat kejadian itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ditatapnya nanar kacamata miliknya yang telah hancur itu.

“Ke-kenapa kau lakukan itu, Riku?” lagi-lagi pertanyaan itu ia lontarkan. Pertanyaan yang sama setiap kali Riku mengganggunya.

“Oops! Maaf… aku tak sengaja, Idiot!” jawab Riku santai sambil berlalu meninggalkan Ichiyo yang masih berdiri terpaku menatap serpihan kacamatanya.

Sesaat dialihkannya pandangannya pada punggung Riku yang semakin menjauh. Ada rasa nyeri yang berdenyut di dadanya.

Setetes air mata terlihat menyusuri pipi pemuda penyendiri itu.

Kejadian kemarin masih hangat diingatan Ichiyo. Dia belum bisa membeli kacamata minus yang baru. Pelajaran pagi itu dia agak susah mengikuti karena pandangannya sedikit kabur. Hari inipun sebisa mungkin dia menghindari Riku dan gengnya, karena itu Ichiyo memilih keluar dari kelas dan menghilang begitu bel istirahat berbunyi. Ichiyo tengah di sudut taman sekolah samar-samar dia melihat Sora berjalan menuju halaman belakang sekolah. Ichiyo melambaikan tangannya mencoba memanggilnya, Tapi sepertinya Sora tidak mendengarnya.

Ichiyo yang ingin membicarakan sesuatu dengan Sora segera beranjak untuk mengikutinya.

Dilihatnya Sora sedang duduk di pinggir kolam bersama dengan Aoi-sensei. Guru mereka.

Ichiyo tersenyum dan berjalan menghampiri mereka. Tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar percakapan mereka berdua

“Kenapa kau tidak bersama Ichiyo?” tanya  Aoi-sensei sambil melirik Sora yang tengah meneguk minuman bersoda di sampingnya.

“Untuk apa aku bersama si culun kutu buku itu, hah? Membosankan!” jawab Sora memainkan kaleng minuman ditangannya.

Deg!!!

Ichiyo tercekat mendengar kata-kata Sora barusan.

‘Itu tidak mungkin, Sora… Sora tidak mungkin berkata seperti itukan?’ bantahnya dalam hati.

“Hm… Bukannya kau bersahabat dengannya?” tanya Aoi-sensei mengernyit heran.

“Sahabat? Huh! Aku cuma memanfaatkannya saja tahu?!” dengus Sora meneguk sisa minumannya sampai habis. Dilemparkanya kaleng kosong itu ke keranjang sampah di dekatnya.

Kata-kata Sora sukses membuat Ichiyo terdiam membeku. Matanya terasa panas, tubuhnya bergetar. Dikepalkan tangannya erat menahan tangis.

‘Jadi… selama ini, orang yang aku anggap sebagai sahabat, hanya memanfaatkanku saja?’ tanya Ichiyo pada dirinya sendiri

‘Lalu apa arti persahabatan kami selama ini? Senyum, tawa, tangis yang kami bagi, apa itu semua juga palsu?’

Ichiyo menekan dadanya yang berdenyut nyeri. Sakit sekali rasanya.

“Jadi kau hanya memanfaatkannya, heh?” tanya Aoi-sensei sedikit tak percaya.

Sora mengangguk.

“Yupz! Aku cuma butuh dia sebagai pesuruhku saja, Yaaah…dia sendiri juga tak keberatan mengerjakan tugas-tugas sekolahku itu.”

“Hah! Kau licik juga ya?” komentar Aoi-sensei datar.

“Aku heran, Ichiyo itu sebenarnya bodoh atau idiot sih? Hahahahaha…”

Kali ini Sora tertawa terbahak-bahak sementara itu Aoi-sensei hanya menggelengkan kepalanya pelan.

Perlahan, Ichiyo melangkah mundur, ia benar-benar tidak bisa mempercayai ini. Ternyata selama ini, dia juga salah menilai Sora.

Mungkin benar apa yang selalu dibilang Riku. Bahwa dia orang yang bodoh. Idiot!

Mungkinkah orang seperti dia tak pantas mendapatkan sahabat sejati?

Tidak kuat lagi melihat Sora menertawakannya, Ichiyo berlari meninggalkan tempat itu. Tidak peduli berapa banyak orang yang sudah ditabraknya, ia terus berlari. Mengikuti kemana arah kaki membawanya. Dan tanpa Ichiyo sadari, dia telah berada di atap sekolah.

Tubuhnya lemas, seketika itu juga badannya jatuh berlutut. Kepalanya menunduk. Tubuhnya bergetar.

“Tidak boleh, aku tidak boleh menangis, aku tidak boleh cengeng… aku harus kuat,” bisiknya lemah pada dirinya sendiri.

Bel tanda masuk telah berbunyi, tapi Ichiyo masih belum juga beranjak.

Dia tak ada niat untuk kembali kelas dengan keadaannya yang seperti sekarang. Dia berharap tak pernah ditemukan. Berharap menguap dan menghilang.

Ichiyo mendongak ke atas, ditatapnya awan mendung yang tampak berarak diatas sana. Sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya.

“Moo… daijobu desu yo…” lirihnya pelan.

Sementara itu di kelas, jam pelajaran terakhir telah dimulai. Tapi Riku sama sekali tak berkonsentrasi pada penjelasan Senseinya. Matanya berkali-kali menatap bangku kosong di sudut ruangan itu. Bangku yang biasa di duduki Ichiyo.

‘Bukan kebiasaan si bodoh itu membolos pelajaran seperti ini, apa dia kena masalah lagi?’ ujar Riku dalam hati.

Pandangannya beralih ke luar jendela. Mendung terlihat menggantung di angkasa.

‘Ck, kemana si idiot itu?! Lagipula kenapa aku harus memikirkannya sih? Ck, menyebalkan!’ batin Riku kesal.

Hujan mengguyur deras tepat saat jam sekolah berakhir. Kebanyakan siswa nekad menerobos hujan, sebagian lagi terlihat menunggu jemputan di halaman depan ataupun menumpang teman yang kebetulan membawa payung.

Teman satu geng Riku sudah berusaha mengajak Riku pulang bersama, namun pemuda keras kepala itu menolak tawaran mereka. Mereka berduapun tak lagi memaksanya dan memilih meninggalkan ‘pimpinan’ mereka sendiri.

Riku masih belum juga beranjak dari bangkunya. Dia masih duduk sembari menatap hujan yang turun dari jendela kelas.

Entah apa alasannya, Riku tahu Ichiyo belum pulang. Bisa dia lihat tasnya masih berada di. mejanya.

‘Ck, dimana dia?!!!’

Riku menggebrak meja dengan kasar. Berdiri dan berjalan keluar kelas. Kedua tangannya dimasukan kesaku celana, menghindari dingin yang mulai terasa. Kali ini dia berjalan menyusuri Koridor yang sepi, sesekali dia menengok ke ruangan kelas yang dilewatinya. Seakan mencari seseorang. Namun hanya kekecewaan yang dia dapat. Orang yang ingin ditemuinya seakan menghilang begitu saja.

Ichiyo.

Pemuda berkacamata itu masih meringkuk di atap sekolah yang basah, menekuk kedua lututnya di dadanya. Rambut hitamnya telah basah kuyup menutupi sebagian wajahnya. Seragam sekolah miliknya hampir menyatu dengan kulit tubuhnya yang kurus.

Entah berapa lama Ichiyo terdiam disana, tapi ia tahu sekarang sudah lewat jam pulang sekolah. Dengan sedikit susah payah dia bangkit. Kepalanya terasa berat ketika dia memaksakan kakinya untuk berjalan menuju ruangan kelas.

Kosong.

Semuanya teman-temannya telah pulang. Sepertinya memang tak ada satupun yang peduli kalau dia menghilang.

Ichiyo mengepalkan tangannya. Dengan sisa tenaga yang dia punya dia berlari keluar kelas setelah terlebih dahulu menyambar tas miliknya.

Ichiyo berlari keluar gedung. Halaman sekolah ini sudah sepi. Dia berhenti dan mencoba mengatur nafasnya. Dadanya berdenyut nyeri saat kata-kata Sora terngiang kembali.

Tak dipedulikannya tubuhnya yang basah kuyup dan menggigil kedinginan. Kali ini Ichiyo tidak lagi menahan diri, ditengah derai hujan ia menangis. Tetes air hujan menyamarkan tangisnya. Membuatnya merasa tak perlu lagi menutupi perasannya yang sedih dan kecewa.

Riku yang sedari tadi berada di perpustakaan melihat sosok yang begitu familiar di halaman depan gedung utama. Tanpa pikir panjang, dia berlari menerobos hujan.

Riku tertegun menatapnya. Ichiyo tampaknya belum menyadari kehadiran Riku. Sosok pemuda yang dicarinya itu tengah menengadah kearah langit yang hitam pekat. Membiarkan hujan menerpa wajahnya. Serupa air mata yang menyusuri pipinya.

Entah kenapa Riku malah tambah kesal ketika melihat Ichiyo seperti itu. Dengan langkah cepat dia menghampiri Ichiyo tanpa mempedulikan hujan yang  masih mengguyurnya.

 

RIKU POV

Akhirnya aku menemukan si bodoh itu. Entah kenapa emosiku langsung meluap begitu melihatnya. Tanpa banyak berkata aku menghampirinya, menarik kerah baju Ichiyo. Mencengkeramnya kuat. Menarik dengan kasar pemuda itu kearahku. Mata hitam miliknya melebar menatapku. Kulayangkan tinjuku hendak memukulnya. Kukira dia akan takut namun dia malah tersenyum.

Ya, senyum.

Senyum palsu yang seolah berkata ‘aku baik-baik saja’, senyum yang kubenci yang ingin sekali ku enyahkan dari wajahnya. Mata itu menyendu, melukiskan dengan jelas kesedihan yang selama ini berusaha disembunyikannya. Mata hitam yang indah itu kini tak lagi bersinar, seolah kehilangan cahayanya.

Perlahan kulepaskan cengkeramanku, mundur menjauhinya.

“… ku…Riku…Riku…Riku…”

Mataku melebar. Kuyakini pendengaranku tak salah. Bibir mungil itu bergetar menyebut namaku. Dan tanpa peringatan sebelumnya, tiba-tiba saja Ichiyo menghambur kearahku. Membuatku hanya bisa terpaku ketika dia memelukku erat.

Kurasakan tubuhnya bergetar, samar-samar kudengar isak tangis darinya. Tubuhku masih membeku. Entah kenapa aku sama sekali tidak ada keinginan untuk melepaskan pelukannya. Aku tahu dia membutuhkan ini sekarang dan reflek aku balas memeluknya. Mengusap pelan punggungnya berusaha memberikan sedikit ketenangan untuknya.

END RIKU POV

Riku tidak peduli bahwa saat ini mereka berada di bawah guyuran hujan, di tengah halaman sekolah yang sepi. Yang ia pikirkan hanya ingin menemani Ichiyo.

Entah berapa lama mereka berada di posisi seperti itu, sebelum akhirnya Riku memutuskan mengakhiri hal bodoh itu. Mereka bisa sakit kalau terus-terusan seperti ini.

“Ichiyo… ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu,” bisik Riku di telinga Ichiyo yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan kecil.

Berdua mereka berjalan menuju ke halte. Sesekali Riku melirik Ichiyo yang berjalan menunduk di sampingnya.

Ichiyo terlihat sangat rapuh dan entah kenapa hal itu membuat dada Riku berdenyut nyeri. Tanpa pikir panjang lagi, Riku meraih tangan Ichiyo lalu menautkan jemari mereka.

Ichiyo yang terkejut menatap Riku yang telah memalingkan muka. Mungkin berusaha menyembunyikan semburat merah dipipinya. Seketika itu juga hati Ichiyo terasa hangat. Dengan sebuah senyuman ia mengeratkan genggaman tangannya diantara jemari Riku.

Tidak perlu lama-lama menunggu, bus yang mereka tunggu datang.

Saat akan menaiki bus, Riku berniat melepas genggaman tangan mereka, tapi Ichiyo tidak mau melepaskan tangan Riku. Ia malah makin mempererat genggamannya, seolah takut Riku pergi. Entah kenapa, Riku tidak menolak.

Dengan bergandengan tangan mereka naik ke dalam bus. Tidak dipedulikannya tatapan aneh dari beberapa penumpang bus itu. Bus yang mereka tumpangi lumayan sepi, jadi mereka berdua bebas memilih tempat duduk. Riku menarik tangan Ichiyo untuk duduk disebelahnya.

Mereka berdua duduk diam di bangku paling belakang, jendela bus tampak berembun. Gerimis masih saja turun di luar sana.  Tangan mereka masih bertautan. Ichiyo yang merasa nyaman, menyandarkan kepalanya di bahu Riku yang berada begitu dekat dengannya.

Tak perlu ada kata.

Tak perlu banyak bicara.

Mereka memiliki ikatan yang tak terlihat.

Entah selama ini mereka sebagai teman ataupun musuh sekalipun.

Ya, Teman.

Mereka tahu ikatan mereka lebih dari sekedar kata sederhana itu.

Riku menoleh kearah Ichiyo yang bersandar nyaman dibahunya, menyingkirkan helaian rambut hitam yang masih basah dari keningnya. Meraih dagu Ichiyo dan membawanya mendekat. Mata sendu itu menatapnya.

“Hei, jangan menangis lagi…” bisik Riku sebelum meniadakan jarak diantara mereka.

Menyentuh bibir Ichiyo lembut.

Riku kembali mendekap Ichiyo mengantarkan pemuda itu dalam kehangatan di dadanya, Ichiyo tersenyum, mempererat genggaman tangannya pada Riku.

Nanti. Ya… mungkin nanti mereka akan bicara lebih banyak lagi. Namun saat ini, biarkanlah mereka seperti ini.

Entah sebagai teman, musuh atau apapun hubungan mereka berdua. Ichiyo yakin dia akan baik-baik saja selama Riku ada di sampingnya.

Gerimis mulai mereda, tinggal rinai kecil yang membasahi kaca jendela bus yang mereka naiki. Awan mendungpun mulai berarak pulang. Memberikan ruang bagi setitik cahaya matahari untuk kembali bersinar.

Ya, semuanya akan baik-baik saja.

OWARI

NOTES :

Gomen, Anata no namae wa? = Maaf, siapa namamu?

Yoroshiku ne… Ore no tomo yo! = Senang berkenalan denganmu, Temanku.

Moo… daijobu desu yo = Semuanya akan baik-baik saja

Yosh! Minna-san, Read and Review ya  Domo~ ^^ v