index

Kau tahu, jantungku seperti terhenti kala jemarimu terus saja menarikku melewati tangga nan tinggi sore itu. Tubuhku terus bergetar sementara keringat dingin mulai membasahi kening dan telapak tanganku.

“Ayolah, tak apa, ini hanya lantai sembilan. Tak ada yang perlu kau risaukan.”

Berulang kali kau ucapkan kalimat tersebut. Seperti sedang menyemangati anak-anak yang tengah bertanding balap karung.

“Tapi aku phobia ketinggian,”desisku pelan dengan bibir bergetar.

“Ah, phobia itu omong kosong. Ayolah. Aku yakin kau akan menyukainya kalau sampai diatas nanti,”tambahmu meyakinkan. Sementara kaki-kakimu terus saja lincah menapaki rentetan anak tangga yang seakan tiada ujung.
Kau tentu tahu, sebenarnya aku enggan. Namun rasanya, menolak permintaanmu itu sama saja dengan membengkokkan besi. Mustahil.

***

Dan Kau tahu, jantungku seperti terhenti kala kita akhirnya menginjakkan kaki pada hamparan luas lantai semen di puncak pusat perbelanjaan itu. Tawamu meledak dengan girang, sementara aku terdiam seperti tiang listrik.

Bukannya aku penakut. Tapi rasanya, bumi seperti berbalik ketika aku mencoba memajukan langkah. Aku hanya khawatir aku akan terjungkal jika bergerak sedikit saja.

“Indah bukan? Aku selalu suka pemandangan Jakarta yang seperti ini,”desismu pelan sembari melangkahkan kaki menuju pembatas. “Yah, meskipun kini langitnya sudah tak terlalu biru lagi.”

Aku melihat senyummu kala kau berceloteh. Senyum yang membuat rasa takutku sedikit terhapuskan. Senyum yang membuat degup jantungku kian membahana.

Aku selalu suka dengan senyummu. Senyum yang sama seperti kala kita di Metromini menyebalkan itu.

Tapi kini kita bukan di Metromini. Kita di puncak gedung yang rasanya hanya berbatas beberapa jengkal dari langit.

Gedung yang seperti membuat kita sebagai mahluk tertinggi di dunia.

Aku seperti terbang.

“Kemarilah, ada yang ingin kutunjukkan.”

Kau mendekatiku. Menggenggam tanganku untuk kesekian kalinya menuju pembatas yang bisa saja menggelincirkan kita dari lantai sembilan. Namun aku tak takut. Sebab ketakutan terbesarku hanyalah kehilanganmu. Itu saja.

“Kau lihat itu?”Ujarmu seraya menunjuk hamparan langit yang kebiruan diatas sana. Aku kontan saja memalingkan wajah kearah yang kau tunjuk.

“Ya, aku melihatnya,”desisku tertahan.”Kenapa memang?”

“Aku selalu suka warna langit. Namun akhir- akhir ini aku jadi membencinya. Kau tahu? Asap kendaraan dan pabrik membuatnya tak biru lagi,”tukasmu seraya menghempas napas.

“Yah, aku tau, setidaknya, belum terlalu buruk kan?”cetusku sok tegar. Padahal kakiku gemetar tiada ampun.

Sebentar kau tertawa. Aku pun ikut terhanyut. Tapi lebih tepatnya, aku memang sedang mentertawai degup jantungku.

“Kapan ya, aku bisa menaiki tangga buat menuju kesana?”

Sekali lagi kau tersenyum. Jantungku kian menggelepar.

“Hei, bukankah orang-orang jepang tengah merencanakan sebuah lift menuju bulan bukan? Kau bisa menumpangnya lain kali.”

“Itu kan buat ke bulan. Aku kan pengennya ke langit,”sanggahmu.

“Sama saja. Bulan itu kan adanya di langit.”

“Bodoh. Bulan itu diatasnya langit. Hahaha!” Pekikmu lantang. Aku hanya terdiam.

Sebab kau tahu? Sama seperti katamu, aku memang bodoh. Karena kebodohan yang pernah kulakukan adalah kala aku mulai menyadari, bahwa aku mulai mencintaimu.