Orlando cover 1

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

Salam…

Ini bukan cerbung. Lantas apa, cerpen? Bukan juga, ini hanyalah coretan Orlando dalam catatannya yang kebetulan ditemukan Nayaka ketika ber-bersih-bersih dalam kamar cowoknya Aidil itu (Nayaka babu ya? Yah, itu salah satu profesi sampingannya selain jadi tukang tadah).

Ehem… mari kita luruskan.

Aku berusaha menunaikan janjiku. Beberapa waktu lalu, aku pernah menjanjikan bakal membuat versi diary dari karakter Orlando. Aku tak tahu apakah tulisan ini sudah bisa disebut sebagai diary version atau belum, tapi yang pasti dengan ini aku menyatakan bahwa janjiku sudah mulai kutunaikan.

Ini bukan spin off, bukan penuturan cerbung Love Actually dari sudut pandang berbeda, ini sama sekali jauh dari itu. Orlando’s Diaries, line yang aku pakai. Aku memaksudkan tulisan ini adalah penuturan Orlando sendiri yang boleh dikatakan terjadi setelah LA selesai, bukan kumaksudkan sebagai POV Orlando dalam LA. Kalian akan menemukan yang aku maksudkan itu ketika membacanya. Bila ada yang bilang kalau ini adalah lanjutan LA, silahkan, tapi aku tidak membenarkan bahwa ini adalah lanjutan LA. Mungkin ini adalah fragmen lepas, berdiri sendiri, tidak terkait selagi kisah LA terjadi dan tidak pula mengambil tempat sebagai kelanjutan cerbung itu. Orlando’s Diaries, hanya menjadi catatan lain LA yang dituturkan Orlando. Ada yang setuju? Semoga ada. Selesai.

Ehem, curcol yak! Aku sadar, vakumku terlalu lama dan keterlaluan. Tapi aku bukan tidak punya alasan kuat untuk itu. Laptopku masuk bengkel, sungguh, aku bukan cari-cari alasan. Sebulan lebih aku cerai dengan toshi-kun ku itu, hardisknya mengulah, untung masih ada garansi jadi aku tak perlu nguras kocek, sialnya, klaim garansi berlangsung lebih sebulan. Kemudian, aku juga disibukkan dengan menulis laporan akhir tahun (hingga saat ini aku masih berkutat dengan laporan itu, keriting jariku dibuatnya, tulis tangan, bo…), tapi Alhamdulillah aku bisa mencuri waktu untuk menulis tulisan ini. Parahnya, karena gak punya sarana untuk ngetik cerita, seluruh minatku di dunia maya ikut berkurang. Aku gak minat ngecek blog, gak minat ngecek akun jejaring sosialku dan yang lebih parah gak minat buat baca, aku cerai juga dengan inet, opera mini ponselku ikut-ikutan vakum (bahkan aku malas isi pulsa, see?). Jadi, aku bertapa sambil ngerjain laporanku dan sesekali merebonding jari-jariku di kamar mandi (ahahahaaakkk… teuteup yak!)

Begitulah sodara sodara.

Sedikit lagi, aku berencana membuat Orlando’s Diaries dalam 3 post, tergantung respon yang baca. Jika responnya tak baik/minim, maka aku cukupkan satu saja. Maaf, kembali aku katakan… saat ini lagi-lagi aku benci silent reader, kumohon, isilah kolom komen agar aku bisa mengambil langkah pasti, menyelesaikan 2 seri lagi atau memadainya dengan satu seri ini saja.

Last, semoga kalian menikmati membaca ORLANDO’S DIARIES : Love is Fitra Aidil Ad-dausi, seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

Nayaka

##################################################

*Dari jurnal Orlando Ariansyah*

Pertanyaanku, adakah di dunia ini manusia yang begitu bodoh dan idiot hingga selama hidupnya tak pernah tahu bahwa peradaban mempunyai satu kata keramat yang dikenal dengan sebutan cinta (di negara kita), love (dalam kamus bahasa inggrisku), pyar (yang bertebaran dalam lagu-lagu soundtrack film Bollywood yang baru kutonton jika diupahin), alhubb (seperti yang kuketahui dari temanku yang jebolan pondok pesantren), ai (yang pasti bakal diteriakkan orang Jepang bila sedang jatuh perasaan) atau sarang (yang selalu dijerit-jeritkan boyband atau girlband Korea), adakah manusia yang seprimitif –bahkan kehidupan primitif manusia purba pun mengenal cinta- itu? Jika ada, hemm… semoga ada orang baik yang menjeritkan kata keramat ini di kupingnya dengan toa paling gede di jagat raya. Amin.

Lalu bagaimana jika ada orang yang bertanya : apa itu cinta? Ada jawaban yang mengindikasikan bahwa cinta tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Mari kita lihat…

Jika pertanyaan itu diajukan pada tukang sayur, jawabannya pastilah bayam, kangkung, tauge, sawi, selada, kol, brokoli atau buncis atau kacang panjang atau petei.

Penjual buah akan menjawab durian, durian, durian, durian dan durian. Kenapa? ‘Kalau sudah cinta ya pasti belah duren, Mas…’ (huh, kenapa harus belah dureeeennn? Tak adakah istilah yang sedikit mendukung kaum minoritas sepertiku? Misalnya : kalau sudah cinta pasti maenan pisang. Pisang kan buah juga?

Romeo akan menjawab pertanyaan itu dengan menyebut nama kekasihnya : Juliette. Rama pasti menunjuk Shinta, Majnun sudah tentu menyerukan Laila, Edward Cullen akan menjawab cinta adalah Isabella Swan, Jack Dawson akan mengajukan nama Rose Dewitt Bukater sebagai jawabannya, temanku yang sok kecakepan –Ananda Saif Al-Fata- akan bilang cinta itu tak lain dan tak bukan adalah Yayang Ruthiya-ku seorang, musuh bebuyutanku yang selalu menaikkan tensiku –Erlangga Afghanessa- dengan bangga pasti menyebut nama pacarnya, Rani Tayang, sementara pria macho bernama Azhar Sadam Az Zulhan sudah barang tentu akan menuliskan nama istrinya –Chuzaira Balqis Aritago- di lembar jawaban miliknya.

See, bukankah cinta itu terungkapkan? Aku tak setuju dengan orang-orang yang bilang kalau cinta itu tak dapat dideskripsikan dengan kata-kata, cinta itu tak pasti dan sebagainya. Mereka yang disentuh cinta tentu tahu dengan pasti, tepat sasaran, akurat, tak terbantahkan dan mutlak benar tentang bagaimana yang disebut cinta.

Mau bukti? AKU BUKTINYA. Ya, aku… Orlando Ariansyah. Silakan tanya padaku : apa itu cinta?

Of course… seperti mereka yang sudah kusebutkan di atas, tak terbantahkan dan mutlak benar, bagiku cinta itu adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Siapapun orangnya yang bertanya, aku akan menjawab demikian. Tukang sayur yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tukang ledeng yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tukang jagal yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tukang tambal ban yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tukang ojek yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tukang jahit yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tukang kayu yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tukang kredit panci yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tukang gali kubur yang bertanya, jawabanku adalah Fitra Aidil Ad-dausi. Tuh, liat kan, semua tukang yang ada di Indonesia aku kasih jawaban bagus semua, jawaban bagus dan sama agar mereka tidak berdebat ketika mendiskusikan cinta menurut Orlando Ariansyah pada pertemuan tukang-tukang se-Indonesia dimana dan kapanpun pertemuan itu berlangsung. Perfect sudah.

Namun aku tak akan memberikan jawaban sebagus itu bila yang bertanya adalah musuh bebuyutanku, atau pria macho yang sudah punya istri, atau ustadz ngajiku, apalagi bila pertanyaan itu berasal dari mama papaku. (Saif said : cemen lu Do, beraninya sama tukang-tukangan saja. Aku : Emang kenapa kalau aku cuma berani sama mereka? Masalah buat luhh???)

Mari kita prediksi apa yang akan terjadi bila mereka yang bertanya…

What the hell, kamu mencintai Aidil? Dia kan tidak berdada seperti Rani Tayang, bagaimana kamu bisa bilang cinta adalah Fitra Aidil Ad-dausi? Dasar sarap…!!!’ Erlangga –musuh bebuyutanku- pasti bakalan berteriak demikian. Akibatnya, hanya satu… aku bisa masuk rumah sakit jiwa karena didiagnosa SARAP.

‘Bangsat, kamu mau menjerumuskan adikku, hah!!!’ Pria Macho Beristri tentu naik berang dan langsung membogemku. Sukur bila bogemnya cuma satu kali, bagaimana bila berkali-kali? Gigiku akan bertaburan di udara, semuanya; hidungku patah; bibirku sobek atau dower sekalian; wajahku bengkak dan biru-biru; tulang igaku patah-patah; hasil akhir, aku pasti keok. Akibatnya, ada dua kemungkinan… aku akan makan pake selang di ruang rawat khusus di rumah sakit selama berminggu-minggu atau aku akan di-fardu-kifayah-kan.

‘Astaghfirullah… ingatlah azab yang telah diturunkan pada kaum Nabi Luth…’ Duh, aku no comment deh kalau ustadz sudah angkat bicara, hatiku keburu sejuk merinding. Meski yang terlontar adalah sumpah serapah, selama yang mengucapkan adalah ustadz, hatiku pasti sejuk. Akibatnya, tiada lain… majlis ta’lim seumur hidup.

Mama papa??? Maafkan… aku tak sanggup membayangkan seperti apa reaksi mama dan papaku bila aku menegaskan di depan mereka bahwa cintaku adalah Fitra Aidil Ad-dausi, aku tak sanggup membayangkannya. Anak adalah permata… selama aku sanggup, aku akan melakukan apa saja agar selalu menjadi permata buat mereka… I love you Mom, Dad…

Intinya, meski aku tak dapat mendeklarasikan cintaku dan Aidil dengan bebas kepada dunia, itu tak mengapa. Cintaku tidak butuh pengakuan mata dunia, tak perlu dilegalkan Negara, tak perlu diklaim benar oleh lingkunganku. Cukup aku dan Aidil saja yang sama-sama tahu, sama-sama yakin… bahwa cinta kami ada. Yah, walaupun kakaknya yang sok kecakepan itu juga tahu kalau cinta kami ada, aku anggap itu bonus… emm… mungkin restu. He he he… setidaknya cintaku dan Aidil dapat satu restu. Trims, Sef…

Kenapa harus Fitra Aidil Ad-dausi? Kenapa bukan Vino Bastian atau Reza Rahardian? Kenapa engga sama Zac Efron atau Robert Pattinson saja, kenapa harus sama anak kampung kayak Aidil???? Awas ya, bila ada yang nyebut Aidil anak kampung, yang cowok aku sumpahin tititnya kecil, yang cewek aku doain dapat pacar bertitit kecil. So, kenapa Aidil?

Dia punya segalanya yang bisa membuat lelaki sepertiku jatuh cinta, punya semua hal yang ingin dicintai dan dimiliki oleh lelaki sepertiku, juga lelaki seperti Zayed, kekasihnya sebelumku… ya Tuhan, hingga sekarang aku belum bisa mengukur sedalam mana sejatinya cinta mereka. Dulu aku sempat mengira bahwa mereka akan terus bersama, hingga sama-sama tua mungkin, atau hingga hubungan mereka diketahui lalu dipisah paksa (yang aku harap tak terjadi padaku dan Aidil, aku tak mau dipisah paksa). Ternyata aku salah mengira, takdir adalah penguasa tunggal, kematian adalah pemisah paling kejam. Antara bersedih untuk Aidil dan gembira untuk diriku sendiri, jujur… aku seakan ikut terluka melihat Aidil terpuruk saat itu. Lucu, di saat peluang untukku ada, aku malah menyuruhnya mencari cinta pada sosok kakak angkatnya, namun itu bukan tanpa alasan, aku yakin Aidil akan lebih bahagia bila bersama Saif. Andai mereka bukan saudara angkat, aku yakin Saif tak akan menahan diri untuk menarik Aidil dalam peluknya. Ah, sepatutnya sekarang aku berbangga diri, tentu aku berbangga diri, sangat bangga malah. Akulah kini yang memiliki Aidil, meski tak bisa sehebat Zayed, walau tak sanggup berlaku seperti Saif, aku punya caraku sendiri untuk mencintai Aidil.

Sudahkah terjawab mengapa harus Aidil? Jika belum, biar kutambahkan. Dia begitu lembut hati, begitu penyayang, begitu tulus. Aku tak mau membicarakan fisik, karena bagiku fisiknya sudah bernilai sembilan. Ya, aku tahu, tak ada manusia yang sempurna. Aidil memang bukan manusia sempurna meski dengan nilai fisik yang sudah bernilai sembilan dan semua sifat baik yang menjadi cirinya, Aidil bukan manusia sempurna… tapi dia adalah kekasih yang sempurna, bagi Zayed dulu dan sekarang bagiku. Vino Bastian, Reza Rahardian, Zac Efron atau Si Vampir Gak Doyan Darah Manusia itu tak akan bisa menandingi betapa baiknya Aidil. Selain mereka tak kenal Orlando Ariansyah, mereka juga tidak menempati kamar yang jendelanya berhadap-hadapan dengan jendela kamarku, he he he… dan pastinya, bukan mereka yang pertama kali kulihat sedang memegang sapu lidi di halaman rumah Saif dan langsung membuatku jatuh cinta, yang kulihat adalah Fitra Aidil Ad-dausi, dia yang membuatku langsung jatuh cinta.

Masih ingin tahu kenapa harus Aidil? Aku tak pernah melihat lelaki lain yang memiliki senyum yang begitu manis dan tulus di saat bersamaan, senyum berlesung di kedua sisi wajah seperti yang dimiliki Aidil. Tidak pada sosok saif yang sempat kutaksir ketika masih ingusan, tidak juga pada kekasih pertamaku yang dulu memutuskanku dengan omong kosong tak sanggup LDR, bullshit, tak ada jarak yang tak bisa dilampaui cinta. Bersama Aidil, LDR pangkat berpangkat tak akan meleraiku darinya, tak akan mencerainya dariku.

Masih ingin tahu lagi? Dia begitu pas dalam pelukanku, sangat pas. Aku mulai percaya kalau Tuhan telah mengukurku sebelum menciptakan Aidil agar dia pas denganku, he he he… berlebihan sekali. Yah, tapi begitulah yang kurasa, dia sangat pas ketika kupeluk.

Masih juga ingin tahu mengapa aku bisa begitu mencintai seorang Fitra Aidil Ad-dausi? Ayo duduk manis, dan ikutilah diary-ku…

###

Inilah yang terjadi sekarang…

“KAK LAN LAN CURAAANG…!!!”

Lili meronta-ronta, berusaha melepaskan lengan kecilnya dalam cekalanku. “Eh, apanya yang curang. Kan Kak Lan Lan berhasil nangkap kamu, Li…”

“Pokoknya curang, pasti tadi Kak Lan Lan ngintip dikit dari balik kain.” Lili menunjuk kain penutup mataku yang sudah kulepas sejak berhasil menangkapnya dan kini kupegang di tangan kiri. “Kalau tidak ngintip, bagaimana Kak Lan Lan tahu kalau yang ketangkap adalah Lili Manis???” Lili  mulai berkacak pinggang, “Betul kan, Lala???” gadis cilik di depanku meminta pembenaran dari sekutunya.

“Iya, Lala Cantik juga yakin, Kak Lanlan pasti ngintip.” Oh, kembar tak se-ibu tak se-ayah ini sungguh solid.

Aku ingin terbahak besar sebenarnya, bagaimana aku tidak bisa menebak dengan benar jika yang kutangkap adalah Lili? Kami main tutup mata cuma berempat, aku, pacarku –yang dari tadi hanya duduk diam memandang sambil sesekali mengedip- dan dua bocah yang dari gelagatnya memang tak mau jadi pihak yang dirugikan, mereka tidak mau jadi penjaga yang harus ditutup matanya. Sangat mudah bukan, yang berhasil kutangkap adalah sosok mungil, kalau bukan Lala ya pasti Lili, dan aku menebak tepat. Lain jika yang berhasil kutangkap adalah sosok jangkung sepertiku, pasti aku akan langsung menebak Kak Ai Ai, dan tentu juga bakal tepat.

“Pokoknya Kak Lan Lan gak ngintip, giliran Lili yang jaga!!!” aku tak mau dirugikan anak kecil. Sakit tau, tulang keringku sempat membentur kaki meja, aku sempat menabrak dinding dan nyaris tersandung kesek kaki ketika mengejar mereka, mana mau aku dirugikan mereka?

“Pokoknya Lili Manis gak mau jaga! Kak Lan Lan curang, permainan harus diulang!”

“Lah, mana bisa gitu? Kan Lili sudah ketangkap…”

“Itu karena Kak Lan Lan ngintip, main curang.” Lala ikut-ikutan menyerangku.

Aku menengok Aidil yang sekarang sedang memuntir-muntir kancing kemejanya sambil meniup-niup. Apa yang sedang dipikirkannya? Apakah dia sedang membayangkan kalau yang dipuntir-puntirnya itu adalah ‘kancingku’? tiba-tiba saja aku merinding, sekarang malah aku yang membayangkan kalau ‘kancingku’ benar-benar sedang dipuntir Aidil dengan seksama dan penuh perasaan.

“Dil…”

Dia mendongak menatapku, kegiatan puntir-memuntirnya terhenti. “Hah?”

“Kamu gak berniat membelaku?”

“Ngapain dibela, jelas-jelas Kak Lan Lan main curang…” Lili angkat suara lagi.

Aku tak pernah segeram sekarang selama meladeni dua gadis ini, rasanya lebih geram daripada ketika lubang hidungku dihajar Daman Huri saat pesta Kak Adam dan Mbak Balqis bulan lalu.

Aidil tersenyum, “Dua orang menyatakan kamu curang, bagaimana caranya aku yang sendiri bisa membelamu? Dua suara sudah tentu yang benar.” Enteng sungguh jawabannya.

“Tapi kan…”

“Pokoknya Kak Lan Lan harus jaga lagi!!!” Lala Lili memutus kalimatku dengan koor yang melengking-lengking.

“Lili yang harus jaga!” aku balas membentak.

Aidil tertawa, “Hey, dewasalah…”

Aku memberengut, dia selalu seperti itu. Tapi aku juga selalu suka tiap kali mendengarnya berkata demikian. Aidil bangun dari duduknya, melangkah mendekati kami.

“Kak Lan Lan kan udah jaga tadi, pasti dia capek. Meskipun Kak Lan Lan ketahuan curang, tapi karena Kak Lan Lan udah dapat giliran jaga, gak apa ya kalau sekarang Kak Ai Ai saja yang matanya ditutup?” Aidil menarik kain dari tanganku, lalu merunduk memandang pada Lala Lili. “Boleh???”

“Horeee… Lili manis gak jadi jaga…!!!”

Sudah kuduga, mereka memang tak mau jadi pihak yang susah.

“Tuh, Kak Ai Ai saja ngaku kalau Kak Lan Lan main curang!”

Aku melotot pada Lala.

“Sudah, ayo siap-siap!” Aidil menyudahi debat ala taman kanak-kanak antara kami. Lala Lili langsung siaga dan berdiri menjauh.

“Sini kubantu…” Aku mengambil kembali kain dari tangan Aidil.

Dia tersenyum, “Aku tahu kamu gak curang…” dia berbisik begitu aku berdiri di belakangnya untuk membantunya menyimpul kain.

“Trims… tapi seharusnya tadi kamu membelaku.” Aku balas berbisik.

“Orly, mereka anak-anak…”

“Bukan, mereka adik pacarmu sebelumku, tentu kamu akan lebih memihak mereka…”

“Kak Lando…” nadanya sedikit tajam, dan dia akan selalu menuakanku bila sedang kesal. Sejak resmi pacaran, dia selalu memanggilku Orly bila sedang bicara berdua.

Aku selesai menyimpul ujung kain di belakang kepalanya, “Anak-anak juga harus diajari tanggung jawab, diajari untuk jujur, tidak selalu dituruti…” desisku lalu mundur satu langkah ke belakangnya. Sedikit, aku juga sedang kesal.

Aidil berdiri diam, mungkin sedang mencerna kalimatku, atau mungkin masih tercekat dengan kalimatku sebelum itu. Dia masih diam hingga beberapa lama, lalu berdehem.  “Okeh, siap ya…”

Lala Lili mulai berdendang, aku masih kesal untuk membuka permainan, aku diam saja hingga lagu pembuka yang dinyanyikan Lala Lili sambil berputar-putar itu usai.

Lalu Aidil mulai meraba-raba seperti orang buta, hilang pegangan, persis seperti ketika dia kehilangan Zayed. Hilang pegangan…

***

Aku mengemudikan motor dengan sangat perlahan, di belakangku Aidil masih diam sejak kami melewati gerbang rumah Lala, bahkan dia tidak berpegangan padaku sama sekali. Apakah dia benar-benar marah padaku? Rasanya usulku untuk menghabiskan sore minggu dengan mengunjungi Lala Lili tidak berefek baik kali ini. Ah, seharusnya aku tidak mengucapkan kalimat seperti tadi pada Aidil.

Ada tiga kemungkinan yang sedang terjadi saat ini. Pertama Aidil diam karena marah padaku. Kedua, dia diam karena kembali bersedih sebab teringat lagi pada Zayed dan itu karena ucapanku yang sedikit menyinggung. Ketiga dan juga yang paling parah, dia marah padaku karena ucapanku sekaligus kembali teringat Zayed dan itu membuatnya sedih. Dilihat dari gelagat, sepertinya poin ketiga yang lebih besar kemungkinan sedang terjadi.

Sorry…” ya, sebaiknya aku meminta maaf.

Aidil masih diam, aku yakin dia bisa mendengar suaraku, jalanan terbilang cukup sepi, terlebih lagi aku sedikit menoleh ketika mengucapkannya. Aku berdehem, “Tak seharusnya aku mengucapkan kalimat kayak tadi… aku salah dan aku minta maaf…”

Masih diam.

Aku mendongak sekilas pada langit sore, mendung. “Apa aku dimaafkan?” Tak ada jawaban. Oh, jawabannya ada, aku tak dimaafkan.

Laju motor masih perlahan, naga-naganya kami akan disiram hujan, jarak rumah masih terlalu jauh. Petir menggelegar, sesaat aku sempat mengharapkan Aidil akan memeluk pinggangku dengan reflek karena kaget, ternyata tidak. Begini, rasanya bagai kembali ke saat ketika Aidil mendiamkanku gara-gara memintanya menjadikan Saif sebagai pengganti sosok Zayed dulu, ketika kami bermain layang-layang di kampungnya. Rasanya sungguh tak enak.

Petir kembali menggelegar.

“Baik, aku tahu kamu marah padaku dan permintaan maafku belum diterima sehingga kamu tidak mau duduk mepet dan memelukku. Namun bisakah itu kita tunda dulu? Bisakah kamu memeluk pinggangku sekarang, karena aku akan mengebut. Kita harus berlomba dengan hujan, aku tak mau kamu jatuh. Kamu bisa lanjutkan marahmu setelah kita sampai di rumah dalam keadaan kering…”

Hening sejenak, aku sudah siap untuk mengebut, tidak mau menunggunya berpegangan padaku, nanti kalau motor sudah melaju kencang pasti dia akan memelukku dengan sendirinya.

“Aku gak nyangka kamu bisa berkata kayak tadi…” dia berbisik di kuping kananku, bersamaan dengan itu kedua lengannya melingkari pinggangku, dadanya merapat ke punggungku, dagunya bertumpu di bahu kananku, rasanya aku sudah mendapatkan Aidilku lagi.

Aku tak mau merespon, kutakutkan dia semakin marah. Kupandang jari-jarinya yang saling bertaut di bawah sabukku, aku tersenyum lalu menggas motorku sekencang yang kubisa.

Aidil semakin merapat padaku, aku yakin bukan karena laju motorku yang semakin menggila tapi karena rintik hujan mulai jatuh satu-satu, udara kian dingin. Tidak hanya aku, Aidil di belakangku yang sedikit terhalang dari terpaan udara dan rintik hujan pun pasti kedinginan. Dia memelukku kian erat untuk mengurangi dingin itu.

“Omong-omong… aku tidak marah, tidak mungkin marah pada kekasih sebaikmu, Orly…” untuk kedua kalinya, dia berbisik di kuping kananku.

Aku terkekeh pelan, “Aku tahu…” teriakku diantara rintik hujan, aku gembira mendengarnya menyebutku sebagai ‘kekasih baik.’

“Tapi tetap, aku masih kesal dengan ucapanmu tadi…”

Kekehanku langsung terhenti.

Dan hujan benar-benar menang. Tidak lama bagi rintik-rintik kecil dan jarang itu untuk berubah besar dan rapat, hujan mengguyur lebat dengan serta merta.

“Sial…” aku mengumpat, laju motor perlahan-lahan berkurang, aku tak mau membuat diri dan kekasihku tergelincir di jalanan.

Aidil tertawa besar di belakangku, “Jangan mengatai hujan…”

Aku menggembungkan pipiku, sesaat kemudian menolehkan kepalaku ke belakang sambil tersenyum. Aidil baru saja mencium pipi kananku. “Aku suka kamu melakukannya sekarang…”

“Pandang depan, nanti nabrak becak!”

Aku kembali fokus ke jalan, “Apa kita harus berteduh?”

“Lalu kamu akan memberikan jaketmu untukku?” Aidil mendecak, “Trik basi…”

Aku menyeringai sendiri, Aidil sudah memberikan jawabannya, kami tidak akan berteduh.

“Jarang-jarang kan kita berada di bawah hujan kayak gini? Aku pasti akan mengingat ini sebagai salah satu momen terbaik kita…”

“Ya, momen manis ketika tanganmu nyaris masuk ke kolorku ketika hujan sedang mengguyur dengan gilanya…” aku kembali tertawa setelah berkata demikian.

“Aku tak peduli kemana tanganku menelusup selama itu masih berada di sekitar selangkangan kekasihku, bukan di sekitar selangkangan preman pasar atau suami orang.”

Aku tertawa, “Inilah salah satu sifatmu yang membuatku kian mencintaimu, Dil… kamu menggemaskan…”

“Apakah dirimu tidak?”

Aku tertawa, “Boleh cium aku lagi?”

Sure…”

Lalu dia mengecup pipi kiriku, seimbang sudah.

***

Yap, itulah salah satu diary-ku. Masih ada yang belum menemukan mengapa aku bisa begitu mencintai seorang Fitra Aidil Ad-dausi setelah membaca diary-ku ini? Bila ada yang mengangguk, hemmm… lu buta apa gak bisa baca sih sebenarnya??? Diary-ku sudah menyebutkan dengan begitu jelas kalau Aidil itu menggemaskan. Dan aku suka tipe-tipe menggemaskan kayak dia, bisa mengimbangi kekonyolan dan keusilanku sedikit banyak, bisa membalas candaan jorokku juga, he he he… dan yang lebih penting, jarinya tak akan nyasar ke selangkangan orang lain selama dia masih berstatus kekasihku, aku yakin itu.

I love you big, my beloved. Sebenarnya aku ingin menuliskan satu atau dua bait kata indah dalam jurnalku ini untuknya, tapi aku tak pandai merangkai kata manis. Eh??? Okey… okey… okey… kalau kalian memaksa apa boleh buat, aku akan berusaha menuliskannya, jangan ada yang berkedip..!!! Perhatikan!

Ehemmm…

Aidil…

Andai dirimu adalah seekor ayam

Maka aku adalah kandangnya

Kamu bisa berkokok di mana saja saat pagi

Kamu bisa mengais kesana-kemari selama siang

Tapi ketika menjelang sore, kamu tentu akan kembali padaku, ke kandangmu

 

Aidil…

Jika kamu adalah kamar mandi

Maka aku adalah sikat ubinnya

Kita saling membutuhkan

Kita saling memerlukan

Kita pasangan tak tergantikan sepanjang zaman

Ubin kamar mandi tak mungkin berpasangan dengan sikat gigi

Dan orang-orang tak akan memakai sikat ubin untuk menyikat gigi mereka

 

Aidil…

Bila kamu adalah lubang idung

Maka aku adalah upilnya

Aku akan selalu berada di sisimu

Aku akan selalu melekat padamu

Seperti upil yang selalu melekat pada lubang idung

Aku tak mungkin dempet dengan supir truk, dengan supir mikrolet atau supir bajaj

Sama seperti upil yang tak mungkin melekat pada kipas angin, tiang telkom atau tiang listrik

 

Aidil…

Umpama kamu adalah perigi

Maka aku adalah timbanya

Kita adalah simbiosis yang ideal

Kita adalah aturan alam yang tak bisa ditukar ganti

Posisiku di hatimu tak mungkin digantikan Oemar Bakri

Begitupun kamu di hatiku tak mungkin digantikan Oemar-Oemar yang lain

Seperti perigi kepada timba, tak mungkin digantikan gayung, centong atau termos es

Seperti timba kepada perigi, tak mungkin dipakai pada selokan, got apalagi gorong-gorong

 

Aidil…

Oh Aidil…

Oh oh Aidil…

Oh oh oh Aidil…

Oh oh oh oh aidil… (apa sih ini, oh-nya banyak bener, kayak sedang mimpi basah aja)

Aidil, Ai loph yu poulll deh pokoknya…!

Ada yang berkedip? Terserahlah…

Begitulah, meski orang-orang kadang berbeda dalam menyikapi cinta, namun siapapun mereka adanya, dimanapun mereka berada, perasaan mereka ketika tersentuh cinta adalah serupa. Yang berbeda hanyalah cara mereka mengaplikasikan cinta itu, mereka punya metode sendiri-sendiri. Namun meski berbeda, intinya tetap sama, mereka bertindak karena cinta. Bila ada orang yang datang bertanya, mereka tak akan kebingungan menjawab, karena tahu… seperti apa cinta itu.

Sama sepertiku, aku tahu seperti apa cinta itu… Bagiku, cinta itu seperti Fitra Aidil Ad-dausi.

Aidil, untukmu, aku rela menghabiskan seribu malam dalam gulita. Untukmu, aku rela menghabiskan seribu siang dalam gerhana. Aidil, untukmu, aku rela menghadang badai. Untukmu, aku rela menerjang petaka. Aku rela, demi melihat bahwa apa yang aku yakini tentang cinta adalah benar, padamu…

Ahh… sepertinya paragrafku di atas jelek amat. Apakah Aidil akan menyukainya bila suatu saat berkesempatan membaca jurnalku ini? Tidak tidak tidak… aku bisa mati karena malu bila Aidil sampai membacanya. Sorry, my love… tidak semua rahasiaku bisa kubagi padamu, biarlah jurnal jelek ini menjadi rahasia kecilku. Dan cinta kita, menjadi rahasia terbesar kita dari dunia…

Kutulis dengan cinta

Orlando Ariansyah

________________________________________________________________

 

Januari 2013

Dariku yang tak ada apa-apanya

Nayaka Al Gibran

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

adakah yang mau membaca seri kedua dari Orlando Diaries ini?