Apa yang tersisa tadi malam.
Dari percakapan dengan bulan.
Yang berhari-hari nyaris ditelan awan.

Apa yang tertinggal dari mendung.
Yang entah tak sabar atau tak kuat.
Menahan gerimis lalu merubahnya jadi hujan.

Suara-suara tersekat dan dada terhimpit.
Tak satupun imaji dirubah janji.
Hanya secangkir kopi jadi penawar hati.

Malam semakin naik dan hujan menderas.
Nyatanya kadar panas kopi tak bisa jadi penghangat sesak.
Malahan uapnya penuhi wajah hingga mata berembun.

Lalu, perlahan kuruntut semua kisah.
Paragraf dari tiap bab buku cerita kisah sudra.
Menjadi kenang yang tak kan terulang.
Di penanggalan depan.

Tiba-tiba aku teringat masa remaja dulu.
Sensasi rollercoster atau tanjakan jalanan yang membuat dada mencelos.
Sama, ketika tiap kali otakku mencetak namamu, dulu.
Setidaknya hingga kemarin berlalu.

Sepertinya aku terlalu menikmati mimpi.
Hingga kopi kuteguk tak bersisa lagi.
Hujan telah berhenti menyisakan gigil dihati.
Dan pahit dari ampas kopi kini yang sedang kunikmati.

Kulihat jarum jam.
Dan kusadari jedaku berhenti terlalu lama, semakin dalam.
Aku menarik nafas dan menghiaskan senyum.
Setidaknya pagi memberi harapan dan kehidupan baru nantinya.

Smg, 110113