Aku menatap wajah gadis itu yang terlihat begitu antusias memasukkan sesendok demi sesendok Gado-gado dengan Kerupuk Daun Bayam ke dalam mulutnya yang mungil. Ekspresi wajahnya dengan kedua belah pipi menggelembung membuatku hampir tertawa. Diam-diam aku merekam cetakan wajahnya ke dalam pikiranku, sambil menikmati angin petang yang berhembus perlahan memainkan rambut hitamnya yang lurus sepundak. Bibirku menarik sebuah garis membentuk senyuman ketika angin petang itu dengan nakal menyibak poninya, hingga sebutir jerawat malu-malu menyembul di antara helaian rambutnya itu.

 

Gadis itu seolah tak merasakan kehadiranku, padahal jarak antara aku dan dia hanya dipisahkan sebuah meja kecil berisi beberapa menu makanan dan dua buah gelas berisi Ginger Salsa. Tapi entah, ia malah membentuk dunianya sendiri untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia mengangkat wajah, menatapku.

 

“Kenapa memandangiku begitu?” tegurnya sambil meletakkan sendok ke tepi piringnya yang hanya menyisakan remah-remah sisa  makanan yang telah berpindah ke perutnya. Aku tersenyum.

 

“Memandangimu jauh lebih mengasyikkan daripada mengisi perutku. Setidaknya untuk saat ini. Aku bisa makan kapan saja, tapi menikmati saat-saat bersamamu adalah hal yang langka. Bukan begitu?” aku balik bertanya dan tak mampu berpaling ketika semburat merah menjalar di kedua pipinya.

 

“Terlalu lama bergaul denganku membuatmu ketularan jadi tukang gombal, “ balasnya. Aku tergelak. Gadis itu, dia selalu memiliki cara sendiri untuk membuatku tertawa, dan terkadang, ia kelewat sering memberi jawaban yang tak disangka untuk pertanyaan-pertanyaanku.

 

“Kupikir kau akan bilang bahwa terlalu lama bergaul denganmu membuatku ketularan jadi romantis,” aku tak mau kalah. Dan gadis itu kali ini tertawa, memamerkan deretan giginya yang putih.

 

“Bukankah kita sudah pernah membahas bahwa romantis dan gombal itu hanya beda tipis?” kali ini aku dan dia tertawa berbarengan, mengingat kembali pembicaraan kami beberapa waktu dahulu via inbox facebook.

 

Untuk beberapa waktu, tak ada pembicaraan di antara kami. Gadis itu memilih untuk menikmati Ginger Salsa di depannya, sementara aku kembali menikmati keindahan parasnya.

 

Kuputar kembali memoriku yang memunculkan potongan-potongan adegan ketika aku mengenal gadis itu. Gadis yang sering kupanggil Aya. Gadis yang kehadirannya serupa  gerimis. Pelan namun pasti kehadirannya mampu meruntuhkan tembok tebal yang memagari hatiku. Tembok yang kubangun sebagai antisipasi rasa sakit hati yang kesekian kali. Aya, dengan caranya sendiri menemukan jalan untuk menempati tahta tertinggi di hatiku. Padahal perkenalan kami hanya sebatas maya, disebabkan kesukaan akan sebuah drama seri yang sama. Namun, bukankah cinta selalu disatukan dengan cara-cara yang unik dan tak terduga?

 

“Aya…,” panggilku. Ah, bukankah hubungan kami begitu unik, sehingga aku dan dia tak seperti pasangan lain yang memiliki panggilan sayang untuk pasangan masing-masing? Aku memanggilnya Aya, sama seperti teman-temannya memanggilnya. Begitu juga dia, memanggilku Nyoman, seperti orang-orang lain memanggilku. Pernah, di awal kebersamaan kami, aku dan dia menggunakan kata daku-dikau, hal yang kemudian kami tertawakan, sebab seolah-olah sedang berada dalam sebuah drama kolosal ketimbang percakapan sepasang anak manusia yang sedang pacaran.

 

“Hemmm?” Ia bergumam menjawab panggilanku.

 

“Kau tahu kalau aku bukan lelaki yang romantis. Lantas apa yang membuatmu memilihku?” tanyaku. Ada riak yang bermain di sepasang matanya mendengar pertanyaanku. Aku mengerti, ia heran dengan pertanyaanku. Aku pernah menanyakan hal yang sama ketika kami chat, tentunya agak mengherankan ketika aku kembali menanyakan pertanyaan serupa.

 

“Bukankah kita juga sudah pernah membahasnya? Bukankah seperti yang sudah seringkali kukatakan, aku memilihmu karena hatiku menuntunku untuk menerimamu. Orang-orang memang seringkali melabeliku sebagai perempuan yang romantis, tapi hal itu tak lantas membuatku harus mencari lelaki romantic juga sebagai pasanganku, kan? Kau berbeda, dan justru perbedaan di antara kita yang membuat hubungan kita kaya. Kau tahu aku tak pernah suka melihat acara tenis di televisi, tapi sejak bersamamu aku belajar untuk menyukainya. Awalnya memang sedikit terpaksa, sih. Hanya supaya aku tak terlihat dungu di depanmu, tetapi lama-lama aku menikmatinya, bahkan menyukainya. Kau pun begitu, kan? Seperti katamu, kau nol besar dalam masalah puisi, tapi kau juga berusaha untuk bisa memahaminya, kan? Bukankah itu yang akhirnya membuat hubungan kita menjadi indah? Kita belajar dari sekian banyak perbedaan di antara kita.” Jawabnya panjang lebar.

 

Senyumku merekah mendengar jawabannya. Jawaban yang masih sama seperti beberapa waktu lalu.

 

“Kemarilah,” aku menepuk pahaku. Gadis itu berdiri, mengibas remah-remah kerupuk yang mengotori rok selutut yang ia kenakan, lalu melangkah memutari meja kecil yang menjadi pembatas di antara kami. Ia lalu duduk di pangkuanku. Aku memeluk pinggangnya, sambil membenamkan wajahku di pundaknya, menikmati wangi shampo yang ia kenakan. Untuk beberapa saat, tak ada yang berbicara di antara kami. larut dalam pikiran masing-masing.

 

“Dengan begitu banyak beda di antara kita, apa kau yakin dengan hubungan ini ke depannya, Ay?” tanyaku, sambil tetap memeluk pinggangnya. Gadis itu menangkupkan kedua tangannya di atas tanganku.

 

“Itu adalah konsekuensi  yang harus kita jalani, kan? Kita tak pernah tahu apa yang terjadi nanti, maka lebih baik kita jalani saja hari ini. Bukankah aku juga pernah bilang, sebelum pemilik asli hatimu datang, ijinkan aku untuk sementara menempati singgasana cinta yang kau hamparkan. Nanti jika yang punya sudah datang dan meng-klaim bahwa dialah yang tercipta dari tulang rusukmu, baru aku akan mundur,”  seuntai tawa menutup jawabannya. Aku semakin mengeratkan pelukanku pada gadis itu.

 

Aya lalu memintaku melonggarkan pelukanku. Gadis itu berbalik, hingga posisinya kini duduk berhadapan denganku. Kedua tangannya ia kaitkan di leherku. Tatapan matanya lurus menatap sepasang bola mataku.

 

“Kau tahu, apapun yang akan terjadi di dalam kehidupan kita ke depannya, aku hanya ingin kau percaya bahwa apa yang kukatakan hari ini adalah yang paling benar. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu yang mencintaiku dengan cara yang berbeda. Aku mencintaimu dengan segala ketidakromantisanmu.  Pokoknya, aku mencintaimu,” ujarnya, lalu secepat kilat gadis itu membalikkan badannya, kembali memunggungiku, meski masih tetap duduk di pangkuanku. Senyumku mengembang mendengar pernyataan gadis itu. Aku yakin, wajahnya telah bersemu merah saat ini. Hampir setahun menjalin hubungan, meskipun hubungan jarak jauh, namun tadi adalah pernyataan cintanya yang pertama untukku. Aku merasakan sebuah perasaan bahagia luar biasa demi mendengar pernyataannya.

 

Kemudian lagi-lagi hanya sunyi di antara kami. aku mengeratkan pelukanku pada gadisku itu sambil mengajaknya menikmati angin sawah yang bertiup semilir. Dalam bisikku, aku menunjukkan padanya keindahan panorama yang terbentang di depan kami: anak-anak yang berjalan bertelanjang kaki melewati aliran sungai kecil yang mengairi sawah, burung-burung yang terbang berkelompok di udara, kupu-kupu aneka warna yang bertebaran di atas hamparan sawah. Aku tertawa sambil menjawab pertanyaannya yang bertubi-tubi juga luapan bahagianya yang seumur hidup baru sekali melihat sawah. Haha, mungkin benar apa yang ia katakana, justru beda itulah yang membuat hubungan kami kaya.

 

I love you too, Aya

With love, Nyoman.