tumblr_m9fybnuEU61qm6dn5o1_500

“Nah, mulai sekarang, Bapak tak mau lagi melihat perdebatan lagi di antara kalian. Semuanya sudah selesai sekarang, jadi Bapak mohon kalian baikan dan kembali berkonsentrasi dengan klub kalian masing-masing,”lanjut Pak Jeffrey lagi.

Sesaat aku melirik Stevan yang masih diam terpekur di duduknya. Dia masih saja ketus seolah tak bersalah. Itulah yang menyebalkan darinya.

“Kalian sudah baikan kan? Kenapa tak berjabat tangan? Bukankah sebuah jabatan berarti perdamaian?”tambah Pak Jeffrey lagi. Beliau nampak mengangkat alis kanannya melihat aku yang masih bersikap ketus pada Stevan.

Maka dengan sedikit gagu, kuulurkan tanganku kearah Stevan yang melakukan hal serupa padaku. Jemari kami bertaut. Tapi wajahnya masih saja ketus seperti pertama kali aku mengenalnya.

“Maafin gue,”tukas Stevan singkat tanpa memalingkan mukanya sedikitpun
padaku.

Aku sebenarnya agak sebal dengan cara meminta maafnya. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa penyesalan yang sungguh-sungguh. Namun sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk mendebat ketua OSIS yang selalu menang itu. Toh Pak Jeffrey juga sudah meminta kami baikan tanpa ada ketegangan satu-sama lain bukan? Jadi nggak ada alasan untuk memulai perdebatan lagi dengannya.

“Iya, gue juga minta maaf udah ngomong kasar dan nggak bisa ngejaga kelakuan gue sama lo,”cerocosku sembari melepas jabatan kami sebelum melengos kearah Pak Jeffrey yang sekarang sudah nampak senyum-senyum puas.

“Nah, begitu dong, kan enak dilihatnya,”cetus Pak Jeffrey dengan senyum anehnya.

“Kami sudah baikan, jadi, bisakah saya kembali ke kelas saya? Banyak yang perlu saya bicarakan dengan anak-anak OSIS yang lain.”

Stevan bersiap hendak mengangkat kaki dari ruang kecil nan pengap ini.

“Baiklah, tapi kalian benar-benar sudah baikan kan? Bapak tak mau kalau sampai esok pagi kalian bertengkar lagi.”

“Tentu saja kami bersungguh-sungguh, Pak!” Sambungku yang hanya dijawab oleh anggukan Stevan. Tanpa kata si ketua OSIS itu segera bergegas meninggalkan ruang kecil nan pengap ini. Meninggalkan aku yang masih tersenyum menang bersama Pak Jeffrey. Senyuman penuh konspirasi.

“Jadi bagaimana? Sudah tenang sekarang?”sambung Pak Jeffrey kemudian memecah keheningan. Segera kualihkan tatapanku pada guru BP tersebut.

“Lumayan, Pak! Tapi bagaimana bisa Bapak sampai seperti tadi membela klub saya? Bukankah klub saya bukanlah klub resmi yang ada hubungannya dengan kependidikan?”cerocosku penasaran karena beliau tadi membela klubku saat perdebatanku dengan Stevan.

“Kau salah, Gung,”jawab Pak Jeffrey sembari tersenyum penuh kharisma. “Tak selamanya yang baku dan terikat itu yang terbaik. Terkadang kita juga perlu menjadi gila dan berbeda untuk menunjukkan suatu perubahan.”

Aku tertegun. Tak mengerti dengan bahasa Pak Jeffrey yang amat tinggi itu. “Maksud Bapak?”

Pak Jeffrey kembali tersenyum. “Bapak juga tak rela kalau klub Little Monster di sekolah ini digusur. Karena Bapak juga seorang Little Monster.”

Untuk kedua kalinya aku terkesiap.

Pak Jeffrey? Little Monster?

“Hahahah! Kenapa? Aneh ya kalau Bapak nge-fans sama Lady Gaga?”tukas Pak Jeffrey cengar-cengir.

“Eh.. Engg.. Enggak kok! Nggak nyangka aja gitu kalau Bapak Little Monster juga! Heheh”

“Yah.. Kadang yang terlihat diluar tak seperti yang kita perkirakan! Hehehe!”

Dan kemudian kami berdua tertawa. Menertawai betapa rumit dunia ini sehingga aku tak menyadari kalau guru di sekolahku yang terkenal berkharisma ini juga sama denganku dan kawan-kawan Little Monsterku.

***

Dan semenjak itu. Hidupku dan kawan-kawan Little Monsterku di sekolah ini bisa dibilang damai, aman dan sentosa. Tak ada lagi pertikaian antara klub kami dan kubu-kubu lain. Kami semua berdiri setara. Kami berdua berjalan seirama.

Stevan dan kawan-kawan OSISnya tetap mendirikan klub siaran dan menggunakan ruangan di sebelah basecamp Little Monster. Dan soalnya kehidupan percintaannya dengan Kak Garry, aku tak begitu tahu. Tapi yang pasti, perlahan mereka kian membaik lagi. Kadang aku melihat Kak Garry dan Stevan di kantin atau perpustakaan bersama-sama. Yah, kuharap mereka bisa kembali lagi. Meski aku tak yakin itu takkan mudah. Sebab yang namanya pernah disakiti itu amat sulit. Sulit untuk memaafkan dan sulit untuk menerima kembali. Tapi aku yakin Stevan bukan tipe orang pendendam. Aku yakin itu.

Soal Jamal, yah, tak banyak yang bisa diceritakan darinya. Ia tetap jadi sahabt dekatku dan tetap menyebalkan seperti biasa.

Dan soal klubku. Ada kabar baik. Pak Jeffrey yang awalnya enggan mengakui kalau dirinya adalah Little Monster, akhirnya memberanikan diri untuk mendaulat diri sebagai pembimbing klub kami. Berbekal kecintaannya pada Lady Gaga, beliau terus membimbing kami agar melakukan hal-hal yang bermanfaat disamping kegilaan kami pada Gaga.

Yah, kurasa semuanya memang berjalan seperti seharusnya kini. Semuanya berakhir bahagia. Aku selalu suka happy ending seperti ini. Yah, meskipun ini terdengar begitu simpel, tapi begitulah nyatanya. Ada kalanya hidup kita berjalan ringan dan mudah. Itulah hidup. Setiap kehidupan pasti punya kisah masing-masing.

Pun begitu kisah ini. Ini hanyalah kisah kecil tentang hidupku sebagai Little Monster. Hidupku sebagai bocah lelaki pemuja Stefani Joanne Angelina Germanotta itu. Ini memang kisah ringan. Kisah yang tak membuat kalian mengharu-biru. Tapi inilah kisahku. Kisah yang kuharap menjadi satu catatan dalam lembar kehidupanku.

Dan bukan kisah yang hilang begitu aku membuka mata esok pagi.

__________________________________________________________________________________________

Sedikit catatan.

“Huahhhhhhh! Finally I can finish this story. Meski berat pada awalnya, tapi aku bangga karena lagu- lagu Gaga tetap memberiku inspirasi selayak pada cerita- cerita lain. Aku tahu endingnya pasti gagal banget, tapi yah, at least itulah yang mampu keluar dari imajinasiku. Hanya ending datar dan tidak meledak yang mampu kusajikan. Tapi biar bagaimanapun kuharap kalian menikmatinya dan menyukainya. Oke, setelah kisah ini selesai, aku akan mengurai kisah baru. Tetap nantikan karyaku dan tetap kunjungi blog menyeramkan ini” (tambahan: aku bercanda soal blog menyeramkan. Bogku ini penuh warna, ya kan? ya kan? *digampar Nayaka*)