Harusnya kita tak pernah bertemu,

Tak pernah saling mengenal satu sama lain,

Tak pernah satu ruang,

Tak pernah bercinta.

 

Harusnya…

Aku dan kamu tak pernah menjadi kita.

Tak pernah saling mengikat.

Tak pernah bermain-main dalam relung hati.

 

Harusnya…

Aku tak perlu menyentuh bibir itu…

Bibir yang dengan cepat menyalurkan berjuta perasaan aneh.

Menyalur dalam tarian lidahmu dan aku…

Dan membekas berkarat di palung terdalam,

Yang kutahu bernama hati.

 

Harusnya…

Sesuatu itu tak perlu tumbuh.

Tak perlu berakar bahkan bertunas.

Seharusnya kubiarkan layu,

Atau bahkan mati bila perlu,

 

Semuanya sudah berakhir,

Tak ada aku, tak ada kamu, tak ada kita.

Yang tesisa hanya kosong dan hampa.

Hanya bangkai kenangan yang begitu bau ‘tuk diungkit kembali.

 

Dan lagi…

Seharusnya…

Luka ini, tak perlu seperih ini.

 

P.S.

To all,

Aku sayang sama semua author dan pembaca di blog ini. Yuk kita saling menghargai semua karya tulis sebagai bagian dari karya sastra. So, jangan saling mencela, membanding-bandingkan dengan yang lain bila itu tujuannya bukan untuk membangun.