Zetsuen-No-Tempest-zetsuen-no-tempest-32614552-1280-720

RENAI SHASHIN

( Picture of Love )

*

*

*

“Teruuu… di sini kamu, ya ampuuunnn… bantuin kami dong, itu pada ribet pake kostumnya,” ujarku sedikit kesal.

Cowok  yang kuajak bicara itu tak juga memalingkan wajahnya ke arahku. Aku menggembungkan pipiku cemberut, ini anak kalau sudah bersama Canon EOS 6500 miliknya, pasti nggak bakal sadar dengan keadaan sekitar.

Kamera kesayangannya itu sudah seperti ‘istri’ saja. Dielus-elus, ditimang-timang dan dari Teru yang imut dan manis dia bakalan berubah personality menjadi super galak, kalau ada yang berani  menyentuh ‘istri’ tercintanya.

Ugh! Cameracomplex?

“Teruuu-chaaannn…” panggilku lagi.

Kali ini dia memandangku lekat-lekat sambil menelengkan wajahnya yang innocent.

Dia dengar tidak sih, apa yang aku bilang tadi?

“Itu anak-anak pada ribet dandan, cosplay cabaret  mau dimulai 15 menit lagi, tolong bantuin mereka bisa?” pintaku.

Cowok bertampang imut itu cuma menyengir dan mengangguk saja. Dia pun segera beranjak ke ruang ganti yang sudah seperti kapal pecah itu. Kamera kesayangannya digantungkan di lehernya dengan hati-hati.

Huft…

Hikari itu nama grup cosplay kami. Hikari yang berarti cahaya, tidak tahu pasti apa filosofi dibalik nama pemberian pendahulu kami itu, mungkin karena disetiap kegelapan pasti ada cahaya, harapan yang setidaknya membuat kami terus berusaha menjadi kuat. Hehehe… kedengarannya keren ya?

Hari ini kami sengaja datang ke kota semarang untuk mengikuti event japan matsuri yang rutin diadakan setiap tahunnya. Dan sebagai vice president… ano… itu terlalu keren sepertinya. Yeah, anggap saja aku tangan kanan kaichou, pembantunya, cuma aku nggak pakai kostum maid sih, hohohoho… aku bertugas mengatur member grup kami agar perform kali ini berjalan baik.

Disaster

Itu gambaran yang tepat untuk suasana di ruang ganti ini. Benar-benar ‘bencana’ hahaha…

Ada yang sibuk merapikan wig, menambahkan make up yang luntur karena keringat dan bahkan ada yang terpaksa mengikat Kostum mereka dengan tali rafia karena kegedean.

Yare-yare…

Bersama Teru aku segera membantu beberapa member grup kami yang sebentar lagi mau menampilkan cabaret, kami sepakat menampilkan parody dari anime hakuoki shinsengumi. Kaichou sedang ribet memakai wig hitam panjangnya, kali ini ketua grup kami itu mendapatkan peran sebagai Hijikata Toshizo. Teru tampak telaten membetulkan hakama kaichou yang sedikit kedodoran, meletakkan katana yang mesti dipakainya senyaman mungkin agar tak mempersulit gerakan kaichou nanti. Tentu saja, akan ada sedikit pertarungan dalam pertunjukan nanti.

Nama panggilannya sih, Sammy. Cowok yang terlalu berani, terlalu kritis, terlalu semangat dan yang pasti, dia terlalu narsis. Namun, karena banyak ‘terlalu’ yang dia punya, makanya Sammy ditunjuk jadi kaichou di grup hikari menggantikan senpai pendahulu kami yang sudah lulus.

Perform kali ini aku tidak ikutan cosplay ataupun cabaret sih, hanya membantu saja. Karena itu aku cuma menggenakan haori shinsengumi dengan bawahan celana jeans, tanpa hakama ataupun properties ribet lainnya.

Teru juga sama, haori yang dipakainya pas sekali dengan postur tubuhnya. Rambutnya yang sedikit panjang dan jabrik sebenarnya pas kalau memainkan karakter Okita Souji, cocok disandingkan dengan Hijikata Toshizo.

Ups! Hehehe…

Tapi seperti biasa, Teru menolak. Memang sih, sejak bergabung dengan grup kami dia jarang ikut cabaret ataupun cosplay. Dia lebih suka jeprat-jepret dengan ‘Istri’ miliknya. Dan tak bisa dipungkiri hasil fotonya memang bagus untuk ukuran pemula. Karena itu kami senang-senang saja Teru bergabung. Kaichou juga mempertahankannya, itu karena ketua paling suka menyuruh Teru untuk mengabadikan foto pribadinya. Bergaya-gaya nggak jelas dengan kostum-kostum koleksi miliknya, memang dasarnya ketua grup kami itu narsis kok. Duh!

Minna-san,  setelah melalui perjuangan penuh tetesan darah dan air mata….”

“Huuuuuuuu…” belum saja kaichou menyelesaikan pidatonya, anggota hikari yang lain sudah meneriakinya. Aku hanya menggeleng pelan dengan ke-lebai-an kaichou kami itu.

Setelah selesai berdadan dan sebelum tampil, kaichou memerintahkan anggotanya untuk berkumpul dan membuat lingkaran.

Hhhh… ada-ada saja. Tapi, siapa yang berani menolak.

“Ehemm… pokoknya kita mesti berjuang untuk perform kita kali ini. HikariiiiiiFightoooo!!!”

“Ooouuughhh!” teriak kami bersamaan sambil melayangkan kepalan tangan kami ke udara.

Penyemangat itu perlu, itu yang menumbuhkan kepercayaan diri pada agar kami selalu yakin. Bahwa apa yang kami lakukan tak sia-sia, bahwa apa yang kami kerjakan itu pantas dihargai.

Kami juga ingin bersinar.

Seperti cahaya yang menyinari kegelapan.

*

*

*

Satu hari setelah kami pulang dari semarang, base camp masih terlihat sepi. Sepertinya mereka masih kelelahan dari perjalanan panjang kemarin, bahkan kaichou pun kabarnya tepar. Ya ampun.

Hanya ada aku dan Teru di markas hikari. Aku asyik mengotak-atik laptop miliknya dan seperti biasa Teru sibuk mengelus-ngelus Canon kesayangannya.

Perform cabaret kami bisa dibilang sukses. Dua bulan kami berlatih, menulis script cerita, mengedit suara dan musik, menyiapkan kostum dan properties. Semua kerja keras kami rasanya terbayar, meskipun tak juara, rasanya riuh tepuk tangan penonton waktu itu cukup membuat kami berbangga hati.

Dan tentu saja photo session selalu menjadi cerita tersendiri yang menarik. Kaichou yang banyak dikerubuti cewek-cewek waktu itu. Teru juga sedikit kewalahan ketika anggota hikari yang lain memintanya untuk mengabadikan foto mereka dengan anggota grup lain yang datang di acara japan matsuri kemarin.

Sebenarnya ada satu foto yang ingin aku lihat, sih.

“Udah kamu pindah kan? Di folder apa, Teru?” tanyaku.

“Japan matsuri, Nee.”

Segera saja aku buka, folder yang Teru bilang tadi.

Aku lihat satu persatu foto-foto hasil jepretannya. Sepertinya juniorku yang satu ini punya bakat jadi photographer handal. Entah kenapa hasil gambarnya selalu terlihat ‘hidup’. Sudut yang dia ambil selalu pas dan memiliki daya tarik tersendiri. Entahlah… aku juga tak begitu paham dengan photography.

Aku mengerutkan keningku, sepertinya waktu itu aku sudah meminta Teru untuk mengabadikan moment itu.

“Kok nggak ada photo fanservice kaichou sama Yudha to?” tanyaku sambil bolak-balik meneliti lagi foto-foto yang aku lihat.

Teru hanya terdiam.

Aku masih ingat betul, waktu itu cewek-cewek ingin mengambil foto Hijikata Toshizo yang diperankan kaichou dan Okita Souji yang diperankan salah satu member kami, Yudha. Kaichou sendiri tidak menolak meskipun Yudha memasang tampang ngeri.

Aku sendiri hanya menahan tawa saat para otaku cewek itu meminta kaichou memeluk Yudha.

Dan dengan terpaksa Yudha balas memeluk kaichou

Tentu saja aku meminta Teru untuk ikut mengabadikan moment itu. Bisa jadi salah satu koleksiku nanti.

Hahahaha…

“Padahal scene itu bagus loh, hehehe… itu bisa bikin fujoshi pada nosebleed,” ujarku sambil tertawa cekikikan.

Hening.

Aku terpaksa menoleh kearah juniorku itu. Teru tak nampak lagi mengelus ‘istri’ tercintanya. Wajahnya ditekuk dan bisa kupastikan dia  sedang melamun. Aku mencoba memanggilnya.

“…ru….”

Tak ada jawaban.

“Teru?!” kali ini aku sedikit berteriak.

“Males ah, Nee… “ katanya ogah-ogahan. Bibirnya sedikit manyun.

Hee? Maksudnya?

“Aku nggak mau ambil foto itu, kenapa kemarin nggak Nee foto sendiri aja, sih?” ujarnya.

Aku mendelik kearahnya tapi adik kelasku itu cuma menjulurkan lidahnya cuek.

Ish…

Dengan sedikit kesal aku kembali fokus ke laptop miliknya, kubuka-buka saja folder event-event yang pernah kami ikuti. Memperhatikan satu persatu foto-foto yang berhasil diabadikan olehnya.

Ini cuma perasaanku saja atau memang lebih banyak foto milik kaichou disini ya? Dimana-mana muka ini orang selalu nongol, deh. Entah itu sengaja di potret atau terlihat diam-diam di potret. Soalnya si narsis ini pasti banyak pasang gaya kalau tahu bakal di foto.

Ck, narsism.

Aku buka-buka lagi folder foto-foto di laptop Teru. Okelah kalau memang ada banyak foto-foto kaichou sendiri. Tapi setidaknya Teru juga mengambil fotoku, atau foto Yudha yang lagi sendiri, atau mungkin foto member hikari yang lain kan?

Tapi ini, sih…

“Ngapain, Nee?” tanya Teru tiba-tiba, tanpa kusadari adik kelasku itu sudah berada dekat di sampingku.

Sial! Kenapa aku lengah dan tak bisa merasakan cakranya. Reputasiku sebagai seorang ANBU bisa hancur kalau…

Woooiiii!

“Ng, Teru… kamu suka kaichou ya?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja, spontan tanpa bisa aku cegah. Entah dari mana aku mendapat kesimpulan seperti itu, mungkin instingku yang biasa menemukan hal-hal yang umm… janggal? Dan maksudku suka di sini itu…

Ng-nggaaakkk!” teriak Teru panik.

Dia sedikit mundur kebelakang menjauhiku. Kami bertatapan sejenak, sebelum pandangannya beralih ke lantai. Mungkin ada recehan yang jatuh kali.

Aku menghembuskan napas pelan.

Nggak masalah kan kamu mau suka sama siapa, laki-laki atau perempuan….”

“Ini bukan dunia anime, Nee! Ini dunia nyata, hal seperti itu nggak gampang!” serunya keras sebelum aku sempat meneruskan kalimatku.

Kali ini matanya menatapku tajam. Kalau nggak salah lihat, pipinya yang putih itu sedikit memerah.

Yappari! Mau bohong juga percuma… ketahuan banget kan dari reaksinya barusan. Polosnya juniorku yang satu ini.

Gomen… aku ngomong gini bukan karena aku seorang fujoshi kok, lagian fujoshi itu bukan orang yang terus bakal gembar-gembor kalau ternyata temennya itu beneran gay, kan?”

Tatapan Teru sedikit melunak, tapi bisa kulihat dia masih sedikit salah tingkah.

“Aku ngomong sebagai temenmu, Teru… Kamu kan udah gede, udah ngerti mana yang baik dan nggak. Masalah pilihan, semua itu ditanganmu kan? Dan apapun keputusanmu, semua pasti ada konsekuensinya,” kataku panjang lebar.

Sepertinya kata-kata bijak yang sering nongol di timeline twitter milikku, ada manfaatnya juga sekarang.

“Aku… suka kak Sammy, Nee… Tadinya kupikir itu cuma perasaan simpati saja, tapi ternyata suka ku itu lebih dari sekedar kagum. I-ini aneh kan, Nee?”

Ya Tuhan, pengakuan ini terlalu manis. Bagaimana bisa aku dihadapkan pada kenyataan yang sering aku lihat di film-film kartun, sih? Apa ini yang namanya cobaan?

Aku cuma terdiam. Oke, aku fujoshi. Aku suka dengan hal-hal semacam ini. Tapi, meskipun aku termasuk orang yang open minded untuk urusan yang begini, rasanya kurang baik kalau aku menjadikan Teru sebagai objek untuk kesenanganku itu kan? Nggak mungkin banget aku mesti berteriak YES! atau melompat-lompat girang bahkan sampai koprol karena ada YAOI live action  di depan mataku sekarang.

Zettai, dame desu!

Huft…

“Menurut Nee, aku mesti gimana?”

Heee? Mau gimana? Yang bener saja, masa iya aku mesti bilang ‘tembak saja,’? Masa iya aku suruh mereka kawin lari? Aku juga bukan pakar yang bisa memberikan bermacam-macam nasehat yang ampuh dan super. Duh!

Lagian bener juga kan, ini dunia nyata bukan kartun atau anime.

Kore wa genjitsu no sekai da!

Aku hanya tersenyum dan mengacak rambutnya pelan. Teru tak sempat menepis tanganku.

“Udah, nikmati saja kebersamaan kita sekarang… Oke?” ujarku.

Yeah, setidaknya hanya itu yang bisa aku katakan pada Teru sekarang. Masalah kedepannya nanti dia mau bagaimana juga, itu mutlak hak Teru untuk memutuskan.  Aku yakin, dia bisa bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

Teru mengerutkan kedua alisnya sembari menatapku. Mata hitamnya kembali berbinar dan bibirnya melengkung membentuk huruf U.

“Hehehe… Oke!”

*

*

*

Aku menguap lebar, semiggu setelah pasca kejadian confessions Teru. Dan tentu saja, sebagai teman yang baik dan benar aku masih menyimpan rapi rahasia kecilnya. Aku berjalan lunglai menuju base camp. Ngantuk, semalaman aku lembur, download OVA Yaoi terbaru. Fufufufufufu…

Ternyata markas hikari masih sepi, mungkin mereka masih ada pelajaran tambahan. Cuma ada Teru dan kaichou, tampaknya mereka tak menyadari kedatanganku. Teru terlihat asyik mengobrol dengan kaichou tentang kostum baru untuk event kami selanjutnya. Sesekali mereka tertawa, kaichou tampak memperagakan gaya-gaya narsisnya. Astaga…

Aku lihat Canon milik Teru tergeletak begitu saja di meja. Tumben ‘istri’nya nggak dibawa kemana-mana. Mungkin karena sudah ada ‘suami’ jadi lupa, deh. Hohohoho…

Hmmm… rasanya kamera ini bisa dimanfaatkan.

Tiba-tiba… bola lampu yang berpijar terang benderang muncul tepat di atas kepalaku.

Nyeeehehehehehew…

*

*

*

Ku letakan kamera milik Teru seperti semula. Tak lupa kuselipkan sebuah notes kecil disampingnya sebelum keluar diam-diam dari base camp. Aku mengintip dari balik jendela.

Adik kelasku itu tampak menghampiri kamera kesayangannya. Mungkin baru sadar kalau dia melupakan sesuatu. Keningnya berkerut ketika melihat notes yang aku tinggalkan tadi.

 

Teru e

Wasurenai yo… Futari no egao renai shashin❤

 

(Teruntuk Teru

Jangan lupakan ya, senyum kalian berdua dalam foto cinta ini❤ )

 

Mata hitamnya melebar begitu melihat layar di kamera kesayangannya. Hehehe… hasil jepretanku juga nggak kalah bagus kan?

Bibirnya bergetar sebelum akhirnya teriakan entah berapa oktaf membahana di seluruh koridor kelas.

Ne-Neechaaaaannnn!”

Aku sudah lebih dulu mengambil langkah seribu. Moment seperti tadi tidak mungkin tak  kuabadikan, dong.

Well, aku seorang fujoshi… mau bagaimana lagi.

Hahaha….

*

*

*

OWARI

*

*

*

Moshi-moshi… Yuuki disini, pasti pada mau bilang butiran debu nyaaa manaaaa~

Gomen, Honto ni Gomen nasai… #Bows m(_,,_)m

Lagi stuck ama Ending nyaaa~ berkali-kali Yuuki ganti, tapi kok aneh geto yak… apalagi belakangan nggak ada waktu dan cape ama kerjaan kantor, Huft~ tada hitori wa honto ni taihen desu (hanya sendirian itu melelahkan T__T) Yuuki nggak bisa janji bulan desember ini bakal kelar, Ugh! Laporankuuuu~ T__T (Woi! Dilarang curhat) Teehehehew~

Ide cerita ini sudah lama, tapi baru selesai di edit sih… Aku sampai minta Nayaka-kaichou buat menambah masa aktif (?) ku di Blog ini. Ugh… kerjaanku benar-benar membunuhku. Pengen libuuurrrr TT__TT. Tapi, rasanya seneng sih waktu ngetik ini cerita. Mungkin karena tentang hobi sendiri sih ya, LOL

Lagu Renai Shashin punya mbak Ai Otsuka yang  jadi Ost J-Movie Tada Kimi no Aishiteru, dengerin dech… hohoho XDD

At last Read and Review! Bwahahahahaw XDD #Fanfic Mode On ^^

*

*

*

Mini Jisho (Kamus Mini) :

-chan  : Akhiran ini biasanya dipakai buat cewek, anak kecil ataupun orang yang sudah akrab, kalau cowok dipanggil dengan akhiran ini kesannya terlalu ‘imut’ makanya cowok kalau dipanggil dengan akhiran –chan pasti kebanyakan protes, hahahaha XDD

cosplay cabaret   : Cosplay = singkatan dari “costume” dan “play” atau menggunakan Kostum dari suatu tokoh tertentu dalam hal ini Anime (Kartun), Game ataupun Manga (Komik) dan menjiwai karakter tersebut semirip mungkin. Orang yang melakukan Cosplay disebut Cosplayer.

Sedangkan Cabaret adalah drama teaterikal sekelompok cosplayer  yang memerankan suatu tokoh tertentu, biasanya berupa parody dari cerita anime, game, ataupun manga.

Japan Matsuri  : Festival Budaya Jepang

Kaichou  : Boss, Pimpinan, Ketua.

Yare-yare  : Ya Ampun.

Hakuoki Shinsengumi  : Judul Anime tentang kesatuan polisi khusus pada masa Shogun terakhir dalam sejarah jepang.

Hakama : Pakaian luar tradisional jepang yang dipakai untuk menutupi pinggang sampai mata kaki, bentuknya seperti celana.

Haori : Luaran atau baju lapis semacam jaket atau jubah yang dikenakan pria ketika memakai kimono

Katana : Sejenis pedang khas yang dimiliki oleh samurai.

Senpai : Kakak kelas

Minna-san : Sapaan kepada orang lain (Jamak), bisa diartikan ‘semuanya’

Fighto  : Orang jepang nggak bisa ngomong Fight (akhiran konsonan) misalnya saja ngomong Cream (Baca : Krim) pasti ngomongnya Kurimu (akhiran vocal)

Nee  : Singkatan Neesan, atau Neechan untuk memanggil Kakak Perempuan

Fanservice  : ‘Servicing’ the Fan, maksudnya itu suatu ‘aksi’ atau ‘pertunjukan’ yang dilakukan (biasanya sih oleh para pemain band jepang, atau cosplayer) untuk menghibur para penggemarnya. Aksi disini ya macem-macem… pokoknya yang bikin Fans pada melted atau nosebleed pokoknya. LOL

Otaku  : Istilah dalam bahasa jepang untuk menyebut Penggemar berat subkultur asal jepang, seperti Anime (kartun), atau Manga (komik).

Fujoshi  : Istilah dalam bahasa jepang yang diberikan untuk menyebut Otaku cewek penggemar Yaoi

Yaoi  : Istilah dalam bahasa jepang yang merujuk pada genre penerbitan media yang berfokus pada hubungan antar pria (Gay / Homo), dan biasanya eksplisit secara seksual.

Gomen  : Maaf

Cakra  : Titik pusat energi yang ada di dalam tubuh manusia, cakra bentuknya nonfisik jadi tidak bisa dilihat dengan mata.

ANBU   : (Ansatsu senjutsu tokushu Butai) atau secara harafiah berarti ‘Pembunuh Khusus’. Dalam Anime NARUTO, ANBU adalah sebutan untuk pasukan elit pembunuh rahasia yang ditugasi untuk melakukan misi yang super berbahaya.

Yappari  : Sudah seperti yang aku duga.

Zettai, dame desu!  :  Absolutely not!

Kore wa genjitsu no sekai da!  : Ini adalah dunia nyata!

OVA  : Original Video Animation, istilah di jepang untuk menyebut sebuah atau serangkaian anime yang dipublikasikan langsung ke dalam format video tanpa didahului penyiaran di televisi ataupun bioskop.

Hijikata Toshizo adalah wakil  kapten Shinsengumi dan membuat sebagian besar keputusan bagi Shinsengumi. Sedangkan, Okita Souji adalah kapten unit 1 Shinsengumi yang paling terkenal dan populer. Keduanya merupakan tokoh yang benar-benar ada dalam sejarah jepang.