Lupakan sejenak kisah tentang Agung dan Lady Gaga! Sebab yang ingin kukisahkan sekarang bukanlah kelanjutan kisah jelek itu, melainkan sebuah flashfiction alias fiksi kilat yang tak sengaja terlintas di otak penuh imajiku. Yah meskipun singkat, kuharap kalian menikmati tulisan ini. Sebab jika dirasa-rasa, akhir-akhir ini aku semakin jarang ‘membuang sampah’ ku di blog ini (sorry Nay, aku nggak bermaksud menjadikan blogmu sebagai tempat sampah :p). okeh, at least enjoy this one!

__________________________________________________________________-

Kau ingat? Mendung masih menggelayuti langit Jakarta petang itu. Rentetan truk dan mobil-mobil yang mengantre itu seakan menyempurnakan kesialan kita.

Macet!

Jakarta memang bukan tempat yang membuat rindu, katamu.

Kau terus mengeluh diantara desak-desak penumpang yang mulai berjubal di metromini becek yang berjalan lambat itu. Kedua tanganmu masih menggamit resleting jaket yang rasanya tak hangat sama sekali. Sementara bola matamu terus melirik kearah arloji yang mulai berembun. Kau tahu? Hujan memang tak pernah datang tanpa hawa dingin. Hujan pasti selalu datang bersamaan dingin dan banjir.

“Kalau macet begini, kita bisa bener-bener telat!” desismu dengan bibir gemetar. Rautmu masih menunjukkan kekhawatiran.

Disampingmu, aku juga menggigil. Namun bukan karena rinai hujan yang kian deras itu. Aku menggigil karena kharisma dan senyum yang tak henti kau lemparkan. Senyum yang membuat degupku mendadak meningkat sepersekian dentum.

“Hahaha,” aku tertawa karena raut khawatirmu yang lucu. “Bersabarlah sedikit, toh masih ada tigapuluh menit lagi sebelum filmnya dimulai.”

Kau hanya garuk-garuk kepala. Seperti sangsi terhadap ucapanku. “Iya juga sih. Cuman aku nggak mau aja kalau kita sampai bioskop dan ternyata filmnya sudah ending, kan nggak lucu, hehehe.”

Lagi-lagi kau tersenyum, membuat sesuatu di dalam dadaku mendadak kian beku dan sesak.

Dan perlahan, metromini usang itu melaju perlahan di ikuti dengan suara mesinnya yang terdengar kepayahan. Roda-rodanya terus menerabas jalanan basah tergenang hujan yang tiada lelah turun. Meninggalkan jejak-jejak diantara becekan dan titik-titik embun di kaca.

Kau masih bergumam, menguarkan segala keluh kesah sembari menatap arloji dengan tidak sabar. Waktu bagi kita saat itu, seperti saat kita dikejar-kejar deadline, katamu.

***

Dan akhirnya, metromini yang katamu menyebalkan itu berhenti disini. Tanpa menghiraukan rintikan yang membasahi jaket dan cipratan air yang menodai celana, kau terus menarik jemariku. Menerabas lalu-lalang manusia yang hampir saja terjatuh karena kecerobohan kita.

Kau tersenyum.

Aku kian kepayahan menahan degup.

Kita terus berlari. Kau menyeretku menyusuri lorong mall beku dan dingin. Kemudian mengajakku berlarian menapaki jengkal-jengkal eskalator yang bisa saja menggelincirkan kita tanpa ampun. Tapi andaikan kita tergelincir, aku tak akan menyesal.

“Kenapa tak naik lift saja?”

Sebenarnya hampir keluar kata-kata itu dari bibirku. Namun kuurungkan.

Sebab aku menikmati tiap genggaman tanganmu yang menyeretku dengan buru-buru. Karena aku menikmati setiap nafasku yang terengah seirama jejak kaki kita yang kepayahan mengejar waktu menuju bioskop.

Aku takkan pernah merasakannya jika naik lift. Takkan pernah. Kau tahu? Waktu seperti berhenti berputar kala kita akhirnya berdiri terengah di depan loket bioskop itu. Kita tertawa. Menertawai betapa anak-anaknya kita yang berlarian mengejar waktu tayang film tentang drakula itu.

“Kita langsung masuk saja, kita tak punya banyak waktu lagi!”ucapmu kala itu.

“Tapi tidakkah kau haus? Sebotol minuman isotonik mungkin? Aku haus sekali,”sergahku yang langsung membuat alis kananmu mengkerut.

Aku tahu kita buru-buru. Tapi keburu-buruan kita bisa saja membuatku mati kehausan.

Dan akhirnya kau menurut kala aku mengulurkan beberapa lembar rupiah pada om-om bermata tajam yang menjaga kios minuman itu.

Tapi kemudian kau kembali mengeluh.

“Tiga puluh lima ribu rupiah untuk dua botol minuman yang -biasanya- bisa kau dapatkan hanya dengan sepuluh ribu rupiah? Alangkah culasnya om-om tukang minuman itu! Harusnya kita beli minuman diluar saja!”rutukmu kesal. Aku tahu kau tak terima dengan jumlah uang yang tak sepadan dengan dua botol kecil itu.

Tapi biarlah, anggap saja lebihannya untuk membayar kebersamaan kita ini. Sebab jika kupikir, aku takkan pernah bisa membayar betapa berharganya tiap detik kebersamaan kita sekarang. Takkan pernah sedikitpun.