CUAP2 NAYAKA

Salam…
Sahabat, ini cerita kedua Ji’ef. Auranya masih sama kayak cerita pertamanya, dan aku pribadi tetap suka. Singkat dan ngena, kalau kata Adi-dear, Flashfiction deh.

Terima kasih buat Kawan Ji’ef atas mini cerpen keduanya ini, harapku semoga ada yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Buat yang baca, semoga bisa memetik pelajaran, meski cuma secuil.

Happy reading.

wassalam
n.a.g

#################################################################

Kaleng minuman berwarna coklat di atas meja itu masih berdiri tegak walau hanya tersisa setengah dari isi semula. Tapi asbak yang dipenuhi sisa-sisa pembakaran nikotin terbalik dan membuat meja yang selalu kujaga tetap mengkilap itu harus menerima tumpahan abu serta putung rokoknya. Ingin rasanya kuambil lap dan lalu kubersihkan kalau saja tidak ada buih buih busa menjijikkan itu. Terlebih juga ada dia, yang sudah begitu sangat kubenci. Betapa memuakkannya dia. Dan ditambah lagi ikatan logam ditanganku ini.

Masih ingat bagaimana 2 hari lalu kami belanja berbagai kebutuhan, dan tentu saja minuman sialan itu, di supermarket langganan kami.

“Yupp… Kita ambil 10 ya Bebz!” kata Cinta disela keenggananku. Ya, enggan. Aku tahu pasti dia akan menuju ke bagian minuman kaleng. Dan tentu saja, kaleng berwarna coklat itu langsung diraihnya, seperti sekarang ini.

“Bebz…”

“Hmmm…” Aku hanya mendesah pasrah saat matanya seolah meminta persetujuanku sambil mengacungkan kaleng itu ke arahku. Persetujuan? Lebih tepatnya paksaan. Aku setuju ataupun tidak setuju, baginya aku setuju.

“Aku ga suka Nta.” Waktu itu aku menggeleng.

“Aaahhh… Kaya ga biasanya.” Sementara dia tetap saja memasukkan kaleng kaleng itu ke keranjang belanjaan.

“Paling ga, ambil rasa lain buat aku!” Pintaku sembari mengambil kaleng dengan warna merah, yang menurutku pasti lebih segar. Ahhh… Akhirya aku berani juga melakukannya.

“Kayaknya yang ini seger deh Nta…” Tapi Cinta malah menggelengkan kepalanya beberapa kali saat aku utarakan alasanku lebih memilih kaleng merah itu daripada pilihannya yang, sumpah aku benci dengan pilihannya itu.

“Yang itu hanya seger aja Bebz. Apa aku kurang seger hingga Bebez cari yang seger-seger? Kalo pilihanku, bisa buat temen kerjaku. Sekali minum, rasa kantuk langsung mati Bebz. Ampuh.” Dulu rayuan seperti itu pasti langsung membuat hatiku berbunga, pipi merona. Tapi sekarang? Sekarang aku yang menggeleng.

“Aku tidak suka itu!” Aku ngotot lalu memasukkan kaleng merah yang aku ambil tadi ke keranjang belanjaan.

“Tapi yang belanja aku,” katanya sambil ikut memasukkan kaleng coklat pilihannya, lalu kaleng merah pilihanku sukses kembali berjajar di etalase.

“Jadi pilihanku yang dipakai,” lanjutnya setengah terkekeh dan mengejek. Aku membalas ejekannya dengan menjulurkan lidah. Tapi bukan berarti aku tidak menaruh rasa dongkol. Tentu saja dongkol. Kekasih mana yang setiap perkataannya tidak dianggap sama sekali.

Ah, memang dia selalu tidak mau kalah. Kamar kami berdua yang menempati, kami berdua yang membayar, tetapi tetek bengek makanan ringan dan minuman seperti ini harus mutlak 100% dia yang memilih. Dan… sudahlah, aku sudah terlalu cape untuk melayangkan protes.

Setengah hati aku melirik kaleng coklat itu saat menuju kasir. Tiba tiba saja aku teringat perkataannya sesaat tadi. Ada gejolak semangat yang membara di dadaku.

“Sekali minum, rasa kantuk langsung mati Bebz. Ampuh.” Iya, masih ingat aku kata Cinta waktu itu. Iya, memang ampuh, bukan hanya membunuh kantuk, tetapi membunuhnya dalam sekali teguk. Sekali aku campur minuman kaleng rasa kopi itu dengan setengah porsi racun tikus, 15 menit kemudian mulutnya berbusa dan beberapa detik kemudian dia mati.

Aku puas, satu kaleng minuman rasa kopi untuk hampir dua tahun penderitaanku menjadi korban yang tertekan, korban pengkhianatan, korban kepicikan. Dan juga untuk tidak bisa tidurku hampir di setiap malam karena meminum minuman kaleng favoritnya, dan harus membukakan pintu untuk kepulangannya, dan lalu mencium aroma parfum manusia lain di badannya. Aaahhh… sudahlah. Tidak akan aku ceritakan semua ini di sini. Cukup aku dan Cinta, ehm, mantan Cinta lebih tepatnya, karena sungguh ini adalah kisah terlarang. Ya, sampai titik darah penghabisan, ini akan tetap rahasia.

“Ayo bawa dia!” Suara berat seorang polisi yang sedang menarik resleting pembungkus mayat Cinta, dan polisi yang sedari tadi mengikat tanganku dengan borgol mendorong punggungku.
“Ayo jalan!” Bentaknya kasar.

Masih sempat aku lirik minuman kaleng berwarna coklat yang masih tegak berdiri di atas meja. Menyesal? Tidak! Ini adalah keputusan terbaik. Terbaik untuk menghentikan bibit-bibit dosanya di kemudian hari. Sampai jumpa di neraka, Cinta!

“Huahahaha…!!!” Dua Polisi yang mendorongku sempat terlonjak oleh tawa kemenanganku.