CUAP2 NAYAKA

salam.
Yep, sesuai kategori, fiksi ini dikirim seorang sahabat untuk blog DKN. Aku pribadi suka tulisannya, singkat tapi ngena. Hanya Butuh 5 Menit, yah… mungkin untuk membacanya juga cukup waktu segitu.
Aku senang, DKN menjadi pilihan beberapa sahabat untuk memajang karya mereka. Semoga kali depan semakin ramai sahabat-sahabat yang meminati DKN yak.

Dan… tulisan ini bebas editan. Aku bilang, Ji’ef (si penulis) memang punya ilmu banyak tentang tulis menulis.

Happy reading, buddy…

wassalam
nayaka al gibran

#############################################################

“Nta, maafin aku Nta. Aku ga sengaja. Maafin aku Nta” Tetap saja aliran itu tak kunjung berhenti meski sudah aku sumbat dengan kaos, yang aku yakin bukan kaos milik Cinta. Panik. Aku mulai panik. Aku tidak menyangka sama sekali kalau tusukanku bisa meleset.

“Nta, jangan merem Nta. Tetep buka mata Nta. Maafin aku Nta”

***

3 menit yang lalu, pukul 23.55 WIB.

“Egy?” Batinku saat kulihat sepasang sepatu converse merah nangkring dengan gagahnya di ujung undakan di depan kost Cinta.

“Nta bilang lagi ada acara keluarga, apa lagi sakit ya?” Sepasang sepatu merah mahal itu mulai berhasil membawa otakku untuk merangkai rangkai perkiraan. Sempat mematung sesaat demi memberi waktu untuk otakku menyibukkan diri.

“Jangan sampai Cinta sakit tapi aku ga tau. Masa harus orang lain duluan yang tau.” Langkahku sontak mendapat sejuta semangat. Untuk entah yang keberapa kali Cinta berhasil mencuci otakku. Aku selalu mengutamakan dia disetiap urusanku. Seperti saat sekarang, saat syaraf syaraf tubuh diracuni oleh toksin toksin kejenuhan setelah beberapa bulan membanting tulang. Aku memang sudah terbiasa menghabiskan masa libur kerja dengan bermanja dan berkeluh kesah kepadanya. Jadi seperti liburan yang sudah sudah, liburan kali inipun aku berencana bermanja di kost nya.

“Cinta pasti lapar. Untung aku sempet mampir cari nasi padang menu biasa, tadi.” Sembari melihat sekeliling, tanganku disibukkan dengan keping keping uang logam di kantong celanaku. Sibuk jemariku disibukan kekhawatiran hingga begitu tidak sabaran untuk meraih raih sesuatu dari kantong celana.

“Mana sih…!!!” Ketemu juga kunci kamar kost Cinta. Kunci yang aku dapat tanpa sepengetahuannya. Yah, aku memang sengaja menduplikat kunci itu untuk hari ini. Apalagi besok adalah hari jadi kami yang ke 18 bulan. Aku merasa ini bukan hal yang berlebihan. Merayakan hari jadi tidak harus selalu setiap tepat 12 bulan kan. Justru inilah yang menjadi salah satu bumbu tambah manisnya hubungan kami.

“Aaahhh… aku telat. Damn…!!!” Umpatku dalam hati setelah anak kunci sukses mendobrak pintu dan memberi jalan dan mendapati satu porsi Pizza Hut, atau apalah itu aku tidak tahu namanya karena aku sama sekali tidak pernah membeli makanan seperti itu. Mungkin lebih tepatnya tidak mampu membelinya. Ada apel merah juga ternyata, dan pisau stainless steel yang pasti Egy juga yang membawa karena masih tampak baru dan berkilau. Aku merasa beruntung mendapatkan kekasih sehebat Cinta. Dia mau menerima aku apa adanya, tidak pernah sekalipun dia menuntut macam macam.

“Huh… Egy emang bisa diandalkan.” Ya ya ya. Egy memang selalu ada untuk setiap masalah Cinta yang tidak bisa aku selesaikan. Dengan limpahan materi yang dia miliki, acap kali dia jadi Sang Penyelamat. Dia memang bisa diandalkan sebagai teman.

“Beneran sakit kayaknya. Mungkin Egy lagi ngurusin kebutuhan Cinta.” Langkahku gontai menuju kamar Cinta. Gagal total rencana kejutan yang sudah aku susun sekian bulan. Kenapa Cinta harus sakit? Dengan sakitnya Cinta, aku jadi tidak bisa diam diam mengendap endap ke kost nya dan muncul tepat di jam 12 malam nanti. Kelancanganku tentang kunci duplikat ini seakan jadi tidak memiliki tujuan yang baik. Terlebih dengan permohonan pemajuan hari liburku ke Bosku yang dengan dalih Neneku sakit agar diperbolehkan. Tapi ada baiknya juga, karena dengan rencana kejutan ini, dengan datang setelah bilang ga bisa datang, aku jadi tahu kalau Cinta sedang sakit. Tapi kenapa Cinta tidak memberi tahu aku kalau dia sedang sakit? Malah dia bilang dia sedang ada kegiatan bersama keluarganya. Pastilah dia tidak ingin membuat aku cemas. Ya. Alasan yang masuk akal kalau aku perhatikan dari semua perhatian yang Cinta beri untukku.

“……” Aku hanya bisa berdiri di depan pintu ini. Membisu, mecari alibi indah untuk apa yang aku saksikan. Dan Tidak juga kutemukan.
Tanpa fikir panjang aku urungkan niat untuk masuk ke kamar Cinta dan berbalik arah untuk segera mengambil pisau berkilau di samping apel merah mahal dari Si pemilik sepatu merah mahal, Egy. .

“Suara itu… Suara itu membutuhkan sesuatu yang berkilau untuk menghentikan suara itu.” Pisau ditanganku, dan daun pintu terbuka paksa oleh kakiku.

Tepat. Dugaanku tepat sasaran. Suara itu suara rintihan kenikmatan dua insan di atas ranjang. Tepatnya suara Kenikmatan Egy diatas tubuh Cinta. Dua mahluk picik itu terkejut. Sayang sekali, keterkejutan mereka begitu lamban dan kalah cepat oleh kelebatan tubuhku, yang aku yakin disaat seperti inilah setan setan berperan untuk membantu. Mereka terlambat untuk menyadari penyebab suara pintu yang terdobrak. Mereka terlambat karena stainless steel di tanganku sudah mengancam di atas tubuh mereka.

Dan… Bleeesss…!!! Tepat.

“Hahaha.” Tiba tiba saja aku ingin tertawa. Ya, tawa ini sangat menyejukan. Seakan lepas semua beban kekalahan yang sesaat tadi mendera.

“Beeebbbzzz…” Tidak. Ini tidak mungkin. Suara lemah Cinta. Suara lemah dari Sang pemilik mata sayu, Cintaku.

***

3 menit setelah 3 menit lalu, pukul 23.58 WIB

“Nta, maafin aku Nta. Aku ga sengaja. Maafin aku Nta” Tetap saja aliran itu tak kunjung berhenti meski sudah aku sumbat dengan kaos, yang aku yakin bukan kaos milik Cinta. Panik. Aku mulai panik. Aku tidak menyangka sama sekali kalau tusukanku bisa meleset.

“Nta, jangan merem Nta. Tetep buka mata Nta. Maafin aku Nta”

Tidak. Kenapa? Kenapa bisa meleset? Kenapa tusukanku tidak setepat perkiraanku tentang suara indah senandung ranjang? Kenapa? Kenapa tusukanku meleset?

Seonggok tubuh terdampar di pojok kamar.

“Egy.” Aku baru sadar dari kepanikan sesaat bahwa ada orang lain disini. Egy jatuh terduduk di pojok ruangan neraka ini.

“Hah…!!! Dasar ababil. Rupanya lututnya ga cukup kuat untuk menyaksikan drama penghakiman ini. Otakku terus dan terus mengeluarkan perkiraan perkiraan yang aku yakin itu semua tepat dan tidak meleset lagi seperti perkiraan tentang suara tadi.

“Tapi kenapa tusukanku tidak tepat…!!!” Kepanikan kembali meraja. Aku marah, aku marah. Disaat seperti inilah setan setan kembali mengambil andil.

“Ini semua gara gara kamu, bajingaaannn…!!!” Kali ini suaraku berhasil memberontak keluar sembari kulempar benda berkilau yang sempat tertanam dengan subur diperut Cinta kearah Egy. Tepat. Kali ini tepat sasaran. Perutnya kini tertanam sebilah pisau berkilau. Pisau stainless steel yang dibelinya sendiri.

“Hahaha…” Apa ini, tawa ini kenapa begitu menggairahkan? Tawa ini kembali membuncah merayakan kemenangan.

“Nta, bertahan Nta.” Sepertinya aku kembali menjadi aku yang sebenarnya. Terbukti dengan gerak reflek kedua tanganku untuk mengangkat tubuh Cinta.

“Bertahan Nta, bertahanlah.” Tubuh Cinta hampir berhasil aku angkat. Tapi terhenti.

“Gw? Lo nyalahin Gw?” Bocah itu, berani sekali dia bersuara. Sehausnya dia memikrkan perutnya yang terus saja mengeluarkan cairan merah.

“Apa maksud Lo hah…!!! Ap”

“Lo kere…!!!” Berani sekal dia memotong ucapanku dengan ucapan itu.

“Dimana Lo saat dia butuh uang buat kebutuhannya? Dimana hah…!!!” Ya. Dimana aku saat itu. Aku hanya mematung. Tubuh yang sempat terangkat, perlahan terebah kembali.

“Benar itu Nta?” Kutatap mata sayu itu. Aku berharap ini semua hanya kekhilafannya, sama seperti beberapa khilafnya dulu. Aku berharap mata itu berkata demikian.

“Maaf Bebz” Kristal menetes di kedua sudut sayunya.

“Bangsaaattt…!!!” Lagi, untuk ketiga kalinya setan setan memegang kendali. Kuterjang tubuh Egy, pisau yang tertancap manis itu kucabut paksa. Tapi hanya untuk beberapa detik saja pisau itu terpisah dari sarang keduanya. Karena setelah itu, entah berapa puluh sarang baru telah kucipta di tubuh mulus Si Ababil Tajir itu.

“Hahaha…!!!” Ini sebuah kemenangan. Aku tidak dapat memungkiri bahwa ini adalah sebuah kemenangan.

Kuhampiri tubuh pujaan hatiku.

“Cinta, sabar yaaa…” Kututpi Wajahnya dengan bantal, dan lalu… Seperti Egy, sarang sarang baru untuk sang berkilau pun terbentuk.

Teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng teng…

Jam 24.00. Hanya butuh 5 menit untuk mengetahui kebenaran. Hanya butuh 5 menit untuk mengetahui kepicikan. Hanya butuh 5 menit untuk menghabisi 2 manusia mesum. Hanya butuh 5 menit untuk meraih kemenangan.

“Hihihi… Maaf Nta, maaf.” Pandanganku kosong bersama tawa yang melemah.

“Huahahaha… MAAF NTA, MAAF KARENA KALI INI AKU YANG MENANG…!!!”

***

“Hey… udah, tar chip kamu abis looohhh :p :p :p”. Wah, pelecehan ini. Masa aku diejek sampai segininya.

“Gpp Ntaaa… Buat kamu apa sih yang ga :* :* :*” Kucandai dia dengan postingan canda yang sedang marak didunia maya.

“Huuuwww… Bebez niii…” Awal keakrabanku dengannya, dan keintiman dengannya, hingga kami menjadi sepasang kekasih.

Pojok kiri bawah pada layar PC yang aku gunakan kembali berkelip.
“Tuuu kaaannn… Aku bilang juga apa :p”. Posting dari dia.

“Tenang saja, next time kita tanding lagi :*” Ya, next time. Karena aku tidak tahu kapan aku harus mengambil cuti lagi dan menyempatkan pergi ke warnet untuk sekedar mengobati jenuh.

“Next time nya kamu tu lama loh Bebz. Bisa 1 bulan, 2 bulan, terkadang 3 bulan.”  Hei… Dia ternyata dia masih ingat duel duel sebelumnya. Artinya dia menikmati duel itu dan mungkin menikmati juga kata demi kata yang kami obrolkan melalui chatting. Mungkinkah dia tertarik padaku? Fikirku kala itu. Dan memang benar kan, buktinya kami menjadi sepasang kekasih.

“OK laaa next time😉. Masih dengan peraturan yang sama kan.” Kembali postingannya muncul setelah kami saling terdiam beberapa menit kemudian.

“Seperti kata Nta: Masuk, 5 menit kemudian hitung. Chip siapa yang bertambah paling banyak. Gitu kan. :)” Yaaa… Kami saling berlomba untuk mendapatkan chip terbanyak hanya dalam 5 menit. Permainan “gaje” memang, tapi penuh emosional. Hingga akhirnya, aku memang tidak pernah menang dalam permainan Chip Poker 5 Menit itu. Tapi, aku menang dalam 5 menit yang lain.