Di Bawah Guguran Sakura - Cover

an AL GIBRAN NAYAKA’s story

###############################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Jangan sampai tulisan ini dilewatkan ya, jangan anggap ini udah pernah, INI BRDA!

Judul semulanya adalah DI BAWAH GUGURAN SAKURA, cerita jelek yang entah bagaimana bisa keluar sebagai juara dalam LMC di page BCG. Beberapa sahabat ada yang menulis padaku mengatakan kalau tulisanku ini (yang dimuat di BCG) seperti ada part yang hilang, aku mengiyakan. Memang benar, ada part yang tak bisa terkover semua dalam naskah yang aku ikut sertakan dalam lomba BCG karena terikat dengan aturan lomba. Jumlah kata-kata yang dibatasi membuat aku tak bisa mengembangkan semua script yang sudah terkonsep, jadi, aku membuat alternative ending baru untuk naskah yang aku kirim ke BCG tempo hari, sad end.

Pada beberapa sahabat, aku pernah menjanjikan cerpen tersebut akan kuremake ulang dalam versi blog yang lebih lengkap seperti kebanyakan tulisanku di sini sebelumnya, dan syukur akhirnya tertunaikan juga. Semoga tak ada yang protes dengan ending yang memang sudah terkonsep semenjak tulisan ini ikut bertarung di BCG, seperti yang kubilang, karena keterbatasan kata, cerpen ini saat itu terpaksa kupenggal sebelum ending yang sudah kurencanakan, jadi… bisa dibilang postingan ini adalah versi keseluruhan cerpen DI BAWAH GUGURAN SAKURA itu. Kali ini judulnya kutulis dalam bahasa Jepang, semoga benar. Trims untuk Mbak Afni yang bersusah payah mentransletnya untukku.😀

Last, semoga kalian menikmati membaca RAKKA SAKURA NO SHITA DE seperti aku menikmati ketika menulisnya hingga dua kali. :p

Wassalam

Nayaka

###############################################

Dan sakura pun berguguran

Tanah menyambutnya dengan ikhlas

Angin menerbangkannya dengan welas

Dalam kerelaan yang mendamaikan

Kulepas dirimu bersama sakura

Bersama angin yang menerbangkan sepenggal kisah

Bersama bayu yang mengaburkan setapak jejak

Lewat tatapan yang kian menuai jarak

Kutitip doa pada ia yang mendengarkan

Semoga ingat selalu menghidupkan cerita

Semoga angan setia menukilkan hikayat

Bahwa hati pernah terjalin rapat

Bahwa jemari pernah bertaut erat

Di bawah sakura pada satu musim dulu

Dan bila langkah kembali bersilang

Doaku…

Semoga hati bersama lagi

Bertaut jua di bawah guguran sakura

***

Sekarang…

Aku duduk di sini, bersama pria yang mengisi bagian kursi di sisi kananku. Kami bersisian, sama seperti tahun lalu. Di sinilah aku dan pria ini pernah bersanding bahu untuk pertama kali. Kami berada di kursi yang sama tempat kami pernah duduk dulu, dan masih di bawah sakura yang sama pula. Aku masih mengatupkan bibirku sejak tiba di sini, pria di kananku juga masih diam sejak mengisi sisi kosong yang sengaja kusisakan untuknya beberapa menit lalu.

Untuk ke sekian kalinya, angin meluruhkan kembang-kembang pink-putih di atas kami, sakura nyaris lengkap mekar selama dua minggu, dan kini mereka mulai berguguran. Mekar, lalu gugur. Berkembang, kemudian punah. Tak bisakah keindahan itu abadi? Sakura yang sedang mekar adalah satu dari begitu banyak keindahan di sini, mengapa dia tidak abadi saja? Mengapa dia tidak terus mekar di setiap musim? Ternyata, tak ada keindahan yang benar-benar abadi. Tidak hanya sakura.

“Kau masih ingat saat kita pertama kali bertemu?”

Pria di kananku membuka suara setelah diam cukup lama. Masih memandang lurus ke depan, sama-sama menatap sayu, hampir putus asa mungkin. Dia salah telah membuka percakapan dengan pertanyaan demikian, ini sama saja dengan memaku langkahku untuk merelakan. Meski begitu, aku tak bisa memungkiri bahwa jejak pertama kami akan selalu mengikutiku, dan juga pria di kananku ini, bahkan mungkin akan jadi satu-satunya jejak yang akan membekas setelah berkurun lamanya nanti. Namun tetap, seharusnya dia tak menanyakanku pertanyaan itu sekarang. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Sekarang kami berada di tempat yang sama dimana ceritaku dengannya berawal dulu.

Aku mendesah, “Jika aku punya kekuatan untuk menghapus beberapa memori dari kepalaku, hari itu adalah memori pertama yang ingin kuhilangkan.”

Aku sadar dia berpaling memandangku sekarang, hangat udara dari hidungnya menerpa sisi kanan wajahku. “Hingga kini aku masih menganggap kalau pertemuan kita hari itu adalah ulah tangan takdir… Ran-kun.” Panggilannya untukku masih sesayang dulu.

Aku menyeringai getir, “Jangan membuatku membenci takdir, Ken. Mengapa kita tak menyebutnya sebagai kebetulan saja? Aku pasti akan lebih baik setelah ini tanpa menyalahkan takdirku sendiri.” Bohong, aku tak akan pernah lebih baik. “Pertemuan kita dulu adalah kebetulan, kebetulan yang buruk.” Kukencangkan syal di leherku, meski suhu udara sudah naik jadi belasan Celsius begitu sakura mekar aku tetap menggunakan syalku, meneruskan kebiasaan musim dingin.

Dia diam, kembali menatap lurus ke depan. “Apapun yang terjadi sekarang, akulah yang patut disalahkan. Namun aku ingin kau tahu, Ran-kun… mengenal dan melewati sebagian kecil waktuku bersamamu adalah satu-satunya hal paling baik yang pernah terjadi dalam hidupku…”

“Kau menyakitiku, Ken!” aku menukasnya, nyaris membentak. “Bisakah kau berhenti berkata-kata seperti kita akan bersama selamanya?” Aku menoleh, kami bertatapan. “Kumohon… buatlah ini mudah untukku. Kumohon…” aku melihat bukan mataku saja yang mulai mengabut.

Dia meraih jemari kananku, menautkan bersama jemarinya lalu dibawa ke pangkuan. “Andai aku bisa… andai aku punya sedikit saja celah untuk mengelak, aku ingin melewati beribu hanami(1) lagi denganmu…”

Aku mengerjap dalam tatapannya, “Kau menyakitiku…” ulangku lagi.

Dia menggeleng, “Terkutuklah aku karena menyakitimu.” Dia menangis. “ Ran-kun… izinkan aku mengenang kembali cerita kita, karena hanya itu satu-satunya caraku untuk menghidupkanmu selamanya di hatiku setelah ini…” tanpa menghiraukan beberapa pejalan kaki, dia mengecup jemariku. “Maukah kau bersandar padaku beberapa saat lagi? Aku memelas padamu…” Dia memandangku dengan tatap putus asa. Ya Tuhan, air mata itu.

Detik berikutnya, aku menyadari bahwa diriku telah bersandar ke bahunya, meletakkan tanganku di dadanya, aku ingin merasakan detak jantungnya untuk waktu yang sebentar, sebelum dia pergi memenuhi takdirnya. Dia merengkuhku dalam dekapnya. Begini, seakan kami baik-baik saja, seakan kami akan tertawa selamanya. Kubiarkan diriku menyelami kembali lembar-lembar kisahku bersamanya. Mungkin dia benar, hanya dengan ini cerita kami tetap hidup. Di hatinya, juga di hatiku.

Kurasakan puncak kepalaku dikecupnya, perlahan memori itu terkuak lalu terpampang jelas, sejelas hitam huruf kanji di kertas yang putih. Memori antara aku dan dia –pria yang merengkuhku dalam hangatnya yang masih kuingat.

Dan cerita kami pun bertutur di sela-sela guguran sakura di udara…

***

April, Haru…(2)

Aku melepaskan kembali topi Wol-ku dari kepala bocah ini, mengenakannya kembali ke kepalaku. Ibunya menjengukkan wajah untuk melihat hasil bidikanku barusan.

“Topinya kebesaran…,” ujar Si Ibu.

“Tapi aku terlihat tampan dengan topi itu, Mama.” Si Anak ikut melihat ke kamera.

Aku mendapati anak itu memandang topi wol di kepalaku, aku paham maksudnya. “Gomen ne…(3) kataku sambil mengacak kepalanya, “Ini topi wol-ku satu-satunya, kamu bisa minta pada Mama untuk membelikannya untukmu…” Hampir lima tahun di sini sudah lebih dari cukup untuk membuat logat Jepang-ku terdengar Jepang sekali. Aku bohong tentang topiku, ini bukan satu-satunya. Aku pelit? Tidak juga, orang-orang tidak akan menyebutmu pelit hanya karena tidak membagi popcorn-mu pada orang tak dikenal yang kebetulan bersebelahan denganmu di dalam bioskop.

Si Bocah tersenyum, “Bisa aku mendapatkan fotoku itu?”

Kupandang ibunya, dia juga terlihat meminta. Aku mengambil notes dan pena dari tas selempangku, “Sebenarnya aku memotret untuk diriku sendiri, tidak untuk dikomersilkan…” Aku menulis.

“Tapi aku yang ada di gambar itu…” Si Bocah ngotot sementara ibunya diam saja.

“Ya ya ya… aku juga sudah minta ijin untuk memotretmu kan? Kau juga sudah bersedia jadi objek.”

“Aku mau fotoku menggunakan topi itu…,” dia menunjuk kepalaku. “Aku terlihat tampan di sana…” Bahkan anak-anak pun sadar tentang ketampanan.

Aku tertawa, “Ini. Kalau sempat datanglah lusa, lewat siang. Kau akan mendapatkan fotomu…” aku menyerahkan sobekan notes yang berisi alamatku pada anak itu, dia menerima lalu memperlihatkannya pada Sang Ibu.

Arigatou gozaimasu(4),” ucap Si Ibu membungkukkan badannya, lalu dia menggandeng tangan Si Anak dan berjalan pergi.

Aku masih memandang mereka. Anak itu membuatku geli sendiri. Dia ngotot meminta fotonya karena dia terlihat tampan di sana. Ada-ada saja, padahal selama ini belum ada yang begitu memaksa meminta foto padaku. Aku masih senyum-senyum sendiri sambil mengutak-atik kameraku.

Aku berbalik, dan…

BUUUKK

Sepertinya aku menabrak.

Aku terhuyung ke belakang, nyaris terjerembab di jalan. Kameraku hampir berkalang tanah jika talinya tidak mengait di arlojiku. Dan topi wol-ku jadi miring letaknya, aku merasa dahiku sedikit nyeri, kepalaku membentur.

“Ah, maaf… aku…”

Kupandang sosok yang baru saja bertabrakan denganku. Seorang pria, jangkung dan… aku langsung sadar kalau dia adalah pria jepang paling rupawan yang pernah berdiri di depanku. Sempat kulihat bagian atas dasinya di balik jas musim dingin yang dikenakannya. Perkiraanku, pria ini adalah karyawan di sebuah perusahaan. Penampilannya khas eksekutif muda, meski dengan jas salah musim itu. Aneh, mulutnya melongo, dia seakan susah meneruskan kalimat maafnya.

“Ya?” aku mengernyit.

Dia masih ternganga, bukan, mungkin terpesona. Padaku? Ya Tuhan, jika benar, aku sungguh hebat bisa membuat seorang pria Jepang tampan terpesona pada pandangan pertama, great. Lalu pria jangkung itu mengerjap sekaligus mengatupkan mulutnya, tapi tatapannya masih tertuju padaku. Aku berdebar, sial. Lebih empat tahun di sini belum pernah ada pria Jepang yang bisa membuatku bergetar hanya dengan tatapan. Aku mulai merasa ada yang tak beres, apakah dia punya radar? Jika iya, apakah radarnya sedang bekerja sekarang? Apakah dia menangkap signal yang ada padaku? Tanpa sadar, hatiku sudah berdoa, semoga jawabannya IYA.

“Hei… daijobu desu ka?(5) aku menangkap getaran dalam suaraku.

Ya Tuhan, senyum itu. “Ah, maaf… aku tidak hati-hati berjalan.” Lalu dia merunduk memungut sesuatu, ponselnya. Ternyata tabrakan kami membuat benda itu jatuh, aku baru sadar saat dia mengambilnya di jalan.

Aku langsung tak enak. “Oh, apa aku membuat ponsel itu rusak?”

Tuhan… senyum itu lagi, dia orang Jepang paling ramah yang pernah kutemui. Pria di depanku memencet-mencet benda di tangannya, memukul-mukulkannya ke lengan beberapa kali, lalu menghela napas, “Memang sudah saatnya diganti,” sahutnya sambil kembali menatapku.

Apa dia memintaku menggantinya? Gawat. Menurut pengamatanku, ponsel itu tidak murah. “Apa aku yang harus menggantinya?” tanyaku ragu-ragu dengan suara amat sangat pelan.

Dia menggeleng, “Aku yang tidak hati-hati, bukan salahmu. Aku berjalan sambil sibuk dengan ponselku hingga tak menatap ke depan.”

“Tapi aku yang berdiri di tengah jalan.” Tukasku. Hah? Apa-apaan aku ini? kalimatku membuka peluang baginya untuk memintaku mengganti ponsel itu, aku baru sadar kalimatku memberatkan diriku setelah sukses terucap.

Pria itu memandangku, memandang kamera di tanganku beberapa saat, kemudian memandang berkeliling. “Yah, kau memang berdiri tepat di tengah jalan.” Lagi-lagi dia menatapku dalam. “Itu membahayakan pejalan kaki lain sepertiku…”

Terdengar tidak baik untuk keberuntunganku. Sebentar lagi dia pasti akan menyebutkan harga ponsel sialan itu. Bahuku mulai turun, hari ini aku apes. Niatku untuk menikmati pemandangan sakura mekar dan menjepretnya dengan kameraku belum sepenuhnya terlaksana, sekarang malah tersandung persoalan ganti rugi gadget orang asing.

“Aku akan menggantinya…” ucapku pasrah.

“Dengan sehelai gambar…”

Aku mengernyit, menatapnya tak mengerti.

“Aku ingin kau mengambil gambarku, bisa?” dia mengangkat sebelah alisnya.

Aku diam mencerna maksudnya. “Emm… dan…”

“Dan kau tak pernah berdiri di tengah jalan, tak pernah bertabrakan dengan seseorang, tak pernah membuat ponsel seseorang jatuh hingga tak bisa dinyalakan lagi.” Dia menyambung ucapanku, sekarang dua alisnya terangkat sekaligus. “Kau tak harus mengganti apa-apa. Bagaimana? Hanya sehelai gambar saja.”

Aku tersenyum, ternyata hariku tak seapes yang kubayangkan. “Kita sepakat?” tanyaku sambil mengaktifkan kamera.

Dia mengangguk, “Lagipula aku juga salah.”

Aku berhenti dari mengutak-atik kameraku. Ya, dia juga salah, mengapa aku saja yang dipojokkan? Kupandang pria ini. “Iya, kau juga salah. Seharusnya kita tak perlu membuat kesepakatan apapun.”

“Kau tidak mau mengambil gambarku?”

Apa aku tak mau mengambil gambar pria tampan ini? Aku tak bisa memungkiri kalau aku sangat ingin memiliki gambarnya. Tidak bisa tidak, pria ini adalah sosok Adam paling indah diantara yang pernah ditangkap kameraku. “Pilih posisimu…” ujarku akhirnya, sempat kutangkap senyum di wajahnya.

“Bagaimana kalau di kursi kayu itu?” dia menunjuk sebuah kursi kayu di bawah pohon sakura di sisi kanan jalan.

“Dimana saja selama aku masih bisa menangkap gambarmu tanpa harus memanjat pohon atau masuk ke air.”

Dia tertawa, memandang sekilas pada telaga jernih yang membujur di sepanjang sisi kiri jalan lalu kembali pada kursi kayu di bawah pohon sakura. “Aku berjodoh dengan kursi kayu itu.”

“Maka dudukilah jodohmu…” aku mengangkat kameraku, bersiap-siap.

Dia melangkah ke kursi lalu duduk di sana, sedikit membungkuk, dua lengannya bertumpu di atas paha. Dia tak memandang pada kamera. Pose yang biasa memang, tapi entah mengapa begitu pas ditampilkannya, maskulin. Dia pria yang kuat. Aku membidiknya sekali lagi, lalu sekali lagi, lalu sekali lagi dan sekali lagi.

“Kau sunguh dermawan ya, padahal aku hanya minta difoto satu kali saja, sehelai saja.” Kini dia memandangku yang berdiri kikuk akibat kalimatnya. Lalu dia menepuk bagian kosong di sisi kirinya, memberi isyarat padaku untuk ikut duduk di kursi itu. Sungguh, pria ini adalah orang Jepang teramah yang pernah kujumpai, kebanyakan orang Jepang hanya akan berformal-formal saja dengan orang yang mereka temui pertama kali. Tapi pria ini tidak demikian, formalnya menguap hilang, tipe seperti ini mungkin satu dalam seribu.

Entah perasaan apa yang menyelinap di dadaku ketika sudah bersisian dengannya di kursi kayu, bahuku bergandingan dengan bahunya. Aku diam, padahal tadinya aku mau mempersilakan dia mengintip kameraku, melihat gambarnya di sana.

“Jadi, dimana aku bisa mengambil fotoku?” entah sengaja, dia merentangkan sebelah tangannya lurus di bagian atas sandaran kursi, di belakang bahuku.

Setelah si anak tadi, kembali aku bertemu orang yang ingin memiliki foto mereka. Dengan menahan debar di dada karena kurasakan lengannya tepat di tengkukku, aku mengeluarkan notesku kembali, siap memberikan alamatku pada orang tidak kukenal untuk kedua kalinya hari ini.

“Kau tak punya kartu nama?”

Aku menyengir.

“Sayang sekali, sebagai seorang fotografer sangat penting bagimu untuk punya kartu nama.”

“Apa aku tampak seperti seorang fotografer?”

“Yang sangat professional,” jawabnya sambil mengangguk mantap.

Apanya yang professional? Kameraku saja tidak memenuhi standard seperti yang digunakan para pekerja foto itu. Aku menggeleng, “Di sini aku hanya menyalurkan hobi dan bakat saja, tapi jangan khawatir, kau akan mendapatkan gambarmu dengan hasil terbaik.” Aku merobek kertas lalu kusodorkan padanya. “Datang saja kapan sempat dalam minggu ini, tapi setelah lewat siang.”

Dia membaca sekilas, “Siapa yang harus kutanyakan ketika di sana?”

“Itu alamat rumah, aku tinggal bersama kawanku dan istrinya, kau tidak akan kebingungan, aku akan di sana.”

“Bagaimana jika saat aku datang yang menyambutku temanmu atau istrinya itu? Siapa yang harus kutanyakan pada mereka?” ulangnya.

Aku tersenyum, dia pintar dalam hal berkenalan. “I Gusti Wirayyan Dipasena…” aku mengucapkan namaku dengan sangat perlahan. Kasus yang sering kuhadapi, kebanyakan orang di sini susah melafaskan namaku. Sepertinya pria ini juga bernasib sama.

Keningnya bertaut lagi. “Maaf, siapa?”

Seperti yang kuduga. “I Gusti Wirayyan Dipasena, kau bisa menanyakan Gusti jika bukan aku yang menyambutmu.”

“Gusti…” dia mengulang namaku beberapa kali. “Bagaimana dengan Ran? Itu lebih mudah di lidah.”

Belum ada yang memanggilku demikan, dari mana pria ini bisa mendapatkan penggalan demikian? Tak ada bunyi Ran dalam namaku. Aku menarik kertas di tangannya, kutuliskan nama lengkapku di sana. “Beres.”

Dia tertawa. “Namamu unik…” katanya setelah mengeja kertasnya.

“Aku dari Indonesia. Kau pernah dengar Bali?”

Dia mengangguk. “Wonderful place…”

“Dari sanalah aku datang.”

“Apa yang kau lakukan di Tokyo?”

“Sudah empat tahun lebih aku bekerja di sini, di sebuah percetakan, kerabatku yang memasukkanku ke sana.”

Dia mengangguk-angguk, lalu mengulurkan tangan padaku.

“Oh, maaf, aku melupakan sopan-santunku.” Kusambut uluran tangannya, dia menjabatku erat, tangannya hangat. Seperti yang kuduga sebelumnya, dia memang ingin mengajakku berkenalan. Apa karena aku berasal dari Indonesia maka dia mengajakku berkenalan dengan cara seperti ini? Mengulurkan tangan. Biasanya, orang-orang di sini hanya akan menyebutkan nama saja sambil sedikit membungkuk ketika memperkenalkan diri.

“Matsuhara Kenichi…” ucapnya, kali ini cukup formal dengan menyebutkan nama keluarganya terlebih dahulu. “Kau bisa memanggilku Ken…”

“Bagaimana dengan Mamat-san? Itu lebih mudah di lidahku. Atau Mamatsusu-san? Itu lebih familiar lagi.” Aku balas dendam. “Mamatsusu Pembuat Huruhara-san, itu sudah paling lengkap,” lanjutku, mati-matian menahan tawa.

Dia menatapku bingung. Tanganku masih digenggamnya. Apa dia mengerti kalau aku sedang mengolok-olok namanya?

“Kau tidak ingin melepaskan tanganku?” aku bersuara, jengah dengan tatapannya.

Dia melirik tangan kami yang masih berjabat. “Tanganmu enak digenggam…” jawabnya tanpa kikuk, masih belum membebaskan tanganku. Pria yang penuh percaya diri.

“Kau tak ingin melepaskannya?” ulangku, kuabaikan kalimatnya barusan yang sempat membuat dadaku kembali berdebar. Apakah mukaku memerah?

“Aku suka tanganmu…” dia tersenyum lalu melepaskan jabatannya.

Blak-blakan sekali untuk ukuran orang yang baru bertemu pertama kali, yah… dia memang satu dalam seribu. Aku tersenyum simpul, “Hajime mashite,(6) Matsuhara-san…” dia memberiku seulas senyum ketika nama marganya kusebut sedemikian formal, bingungnya hilang seketika. Aku bangun dari kursi.

“Senang bertemu denganmu, Ran…” yah, dia memanggilku sesuai inginnya, tanpa embel-embel sapaan setelahnya.

Sakura berguguran ketika aku meninggalkannya di kursi. Aku berani bertaruh kalau dia masih mengikutiku dengan tatapannya.

***

Konnichiwa,(7)Ran-kun…”

Aku membeliak. Bagaimana dia bisa demikian intim menyapaku sedangkan kami baru bertemu satu kali saja? Aku semakin yakin dia adalah pria Jepang yang aneh. Kuabaikan dia, sebaliknya kutatap bocah bertopi wol di depanku. Sangat kebetulan mereka bisa bersamaan menunggu di depan rumahku siang ini, aku baru saja pulang membeli bahan dapur. Ini hari libur.

“Kau datang sendirian? Mana ibumu?” tanyaku pada bocah itu, topi wol-nya hampir sama dengan punyaku yang disukainya waktu itu.

“Kami bertemu di ujung lorong tadi, Ran-kun. Kertas yang dia pegang sama dengan yang kupunya. Ternyata kau membuat banyak kencan hari ini, ya?” dia tersenyum ketika kulirik.

Apa maksudnya memberi tambahan –kun di ujung namaku? Tidakkah seharusnya dia menambahkan dengan –san saja? Dan dia menyebut kencan? Apanya yang pantas dikatakan kencan? Bercandanya tak pantas.

“Tak usah merasa tak enak, kami belum menungggu lama.” Dia melanjutkan.

Aku mengabaikannya, kembali kupandangi Si Bocah.

“Mama sedang bekerja. Boleh aku segera mendapatkan fotoku?”

Aku tersenyum, kusentuh kepalanya. “Topimu bagus.”

Si Bocah tertawa, “Ini yang paling bagus di toko, dan paling mahal.”

“Apa kau merengek-rengek pada Mama?” godaku, si bocah tersengih. Ya, dia pasti merengek-rengek, mamanya tentu keberatan dengan harga yang mahal. Aku membuka kunci dan menggeser daun pintu. “Ayo…”

Mereka mengekor di belakangku. Setelah menyimpan belanjaan, aku menuju ruang foto, bocah itu mengikuti sementara pria yang masih tak kuhiraukan mulai memperhatikan keadaan rumahku.

“Mana temanmu dan istrinya, Ran-kun?”

Oh Tuhan, ini berterusan. “Mereka ke Kyoto, semalam. Adiknya Ayaki-san menikah besok!” Seruku dari ruang foto.

“Siapa Ayaki?” dia balas berseru dari ruang depan.

“Istri temanku, kau bisa melihatnya di foto pernikahan mereka di situ!”

“Aku sedang melihatnya.”

Kudiamkan dia. Aku mengambil foto yang diinginkan si bocah dari dindingku.

“Waaa… banyak sekali… kau yang memotret mereka semua?” Si Bocah takjub melihat foto-foto yang bertempelan di seluruh dinding, hampir tidak menyisakan bagian yang polos. Dia melupakan fotonya sendiri yang kusodorkan.

“Tentu saja, aku yang memotret mereka semua. Kau tidak mau mengambil fotomu?”

Dia segera menyerobot tanganku. “Wah, lihat… aku benar-benar tampan dalam foto ini!” Si Bocah berseru girang. “Tidakkah aku orang paling tampan yang pernah kau foto?” dia mendongak padaku.

Ya Tuhan, mengapa bocah ini harus menanyakanku pertanyaan begitu? bocah ini juga aneh.

“Tidak.”

Aku dan Si Bocah menatap ke pintu, pria itu berjalan masuk.

“Kau kalah denganku, Nak. Kata Ran-kun, akulah orang yang paling tampan itu, kau bisa membandingkannya dengan fotoku.” Dia mendekat ke dinding dan meneliti lembar-lembar yang bertempelan di sana.

Kapan aku mengatakan begitu? Pria ini terlalu percaya diri. Apa dia bisa membaca pikiranku ketika berada di bawah sakura dua hari lalu? Kupandang dia, siapa namanya hari itu? Matsuhara, ya namanya Matsuhara Kenichi. Pertanyaannya, mengapa dia begitu berusaha menarik perhatianku saat ini? panggilannya buatku, tatapannya, gaya bicaranya, dan penampilannya hari ini… dengan kemeja pas putih bersih dan jeans bagusnya itu, sungguh bagai magnet. Kemudian aku sadar kalau perhatianku memang sudah tertarik sejak mencetak fotonya kemarin, tidak… tepatnya sejak mengambil fotonya kemarin lusa.

Hening beberapa saat, aku sempat berfikir si bocah akan memprotes Si Matsuhara satu ini, tapi ternyata tidak.

“Aku harus pulang, Mama harus segera melihat fotoku ini. Terima kasih, Ran-kun…” Si Bocah ikut-ikutan cara Si Matsuhara memanggilku, Lalu segera berlari, dia tak ingin membandingkan gambarnya.

“Hey, hati-hati…” seruku pada Si Bocah. Aku bermaksud menyusulnya sampai ke pintu depan, tapi pertanyaan pria di belakangku ini menahan gerakku.

“Apa aku terlihat tampan di foto ini?”

Aku menoleh padanya, dia sedang memegang lembar-lembar fotonya. Ternyata pria ini sudah membuka laciku, foto-foto itu kusimpan di sana. Aku berjalan mendekat ke meja yang di atasnya memuat perangkat cetakku, di lacinya aku juga menyimpan banyak foto. “Seharusnya kau meminta izin dulu sebelum menyentuh apapun jika sedang di rumah orang.” Cetusku tak bersahabat.

Kenichi melongo, dimasukkannya kembali foto-foto itu lalu menutup rapat laciku. “Em… boleh aku membuka laci ini, Ran-kun?” ekspresi wajahnya membuatku geli.

Bagaimanapun, dia tetap terlihat manis dan… menarik. Aku mengangguk sambil menahan senyum, tak kupermasalahkan lagi dia memanggilku dengan panggilan sayang itu. Mulai kedengaran baik buatku. “Oh, Anda sopan sekali, Matsuhara-san…” dia pasti tau kalau aku menyidirnya.

Dia memberiku senyum dikulum, “Keberatan memanggilku Ken saja? Atau kalau kau baik, panggil aku seperti caraku memanggilmu.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan kalimatnya sesaat kemudian,  “Aku tidak menemukan fotoku di dinding, jadi aku berusaha mencarinya…”

“Dengan mengabaikan kesopanan,” lanjutku.

“Maaf…” ucapnya lalu mendekat padaku. “Ran-kun, apakah aku terlihat tampan di foto ini?” dia mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.

“Kau sudah menjawabnya sendiri tadi kan? Tidak seharusnya kau mematahkan keyakinan seorang bocah. Kau bisa mengiyakan kalau dia memang bocah paling tampan.”

“Hemm…” gumamnya pendek, lalu bergerak, “Maafkan, instingku tidak baik dalam hal demikian…”

Mengapa posisinya kian mepet padaku? Aku berdebar, lebih dahsyat dari hari ketika tanganku digenggamnya. Aku berusaha untuk tidak gemetar karena mendadak lututku lemas, tatapannya seperti menelanjangiku, melihat ke kedalaman jiwaku. Kalimatnya kemudian sukses membuatku serangan jantung.

“Ran-kun… maukah kau jadi kekasihku?” bisiknya begitu pelan, tepat di depan wajahku. “Aku yakin kalau aku telah jatuh cinta denganmu.”

Ya Tuhan, apa ini? Dia baru melihatku dua kali dan langsung memintaku jadi kekasihnya? Mustahil, tidak masuk akal. Tidakkah ini menunjukkan kalau dia tipe lelaki pemain? Lelaki yang mudah bilang cinta kebanyakan juga tidak butuh banyak alasan untuk mencampakan. Mudah mengumbar cinta, sangat gampang pula ketika berbalik arah. Dia menatap mataku tanpa berkedip. Aku seperti menemukan kejujuran dalam matanya itu. Dia jujur mencintaiku dengan sungguh-sungguh.

“Aku menemukanmu, aku melihat kita berdua pada kedalaman matamu saat kita bertabrakan…”

Oh Tuhan, tatapan yang hari itu sempat kuartikan sebagai radarnya. Ternyata benar.

“Aku menemukanmu, Ran-kun… karena itulah aku minta difoto…” tangannya yang memegang gambar menyentuh punggung tanganku.

Aku kaku di tempatku berdiri, mungkin wajahku pucat.

“Ran-kun, kumohon… jadikan aku pemilik hatimu…”

Aku seperti disengat listrik, bergetar sekujur tubuh. Kata-kataku menguap semuanya. Lalu itu terjadi begitu saja, dia menyusurkan jemarinya di wajahku, menyentuhkan ujung jarinya di garis rahangku, lalu menuju mulutku. Antara sadar dan tidak, kudapati diriku sudah berada dalam rengkuhnya. Aku kepayahan bernafas di antara bibirnya yang dengan beraninya menutup mulutku. Andai dia bukan pria Jepang paling tampan yang pernah kulihat, pasti saat ini giginya sudah berserakan di lantai karena berani menyosor mulutku tanpa babibu.

Ini terlalu cepat, keindahan yang terlalu cepat. Hatiku berbisik… semoga pupus tak bertandang secepat indah yang menghampiri.

“Kau ingin melihat sakura bersamaku, Ran-kun?”

Aku ingin melakukan apa saja bersamamu, Ken…

Dia menyeringai, “Apakah ciuman barusan bisa kuartikan kalau kau baru saja mengatakan iya?”

Aku menubruknya dengan kemauanku sendiri, mengetatkan diriku di depannya tanpa diminta.

Dia tertawa. “Tentu, ini artinya kau juga mencintaiku… orang Bali…”

Aku ingin meneriakkan jawabanku, namun dia terlanjur menutup gerak bibirku, lagi.

***

Juni, Natsu…(8)

Tiba-tiba saja hidupku menjadi hangat, bersama Kenichi. Percintaan kami membara laksana musim panas. Di hari-hari tsuyu(9) di awal musim panas, dia mencumbuku di bawah gerimis. Aku selalu suka caranya mencium, seperti akulah satu-satunya lelaki tempat dia merekatkan bibirnya hingga akhir hidupnya. Lembut dan liar di saat yang bersamaan.

“Ran-kun… kau satu-satunya.”

Dia mengatakan itu tiap waktu, lalu aku akan membingkai wajahnya, menyatukan dahi dan puncak hidungku padanya sebelum menyerang bibirnya.

Kulewati malam-malamku dengan memeluknya, menyusurkan jari-jariku di lekuk punggungnya, menggigit bahunya, meremas kepalanya dan melengkungkan diriku di depannya yang polos. Aku mengejang di atas ranjangnya acap kali, mengangkangi pinggangnya tak terhitung ketika, lalu luruh bak dedaunan kering di atas dadanya. Terlelap dalam peluknya hingga ke pagi lalu terbangun di bawah selimutnya, lagi.

“Kau tidur seperti bayi…”

Aku mengeliat, Kenichi sudah rapi dengan kemejanya. “Kau melupakan dasimu…”

“Aku menunggumu bangun untuk mengenakannya di leherku.”

Aku tersenyum, lalu bergerak bangun. “Semoga kau tidak terburu-buru, aku selalu lama bila di kamar mandi.” Kudengar dia tertawa.

“Bahkan beberapa ronde semalam masih belum cukup hingga kau perlu waktu extra di kamar mandi pagi ini? Bagaimana jika aku ikut berdiri di bawah shower?” aku menangkap senyum mesumnya, “Seharusnya aku membangunkanmu sebelum mandi tadi…”

Aku tertawa, menggeleng-gelengkan kepalaku lalu berjalan ke arah kamar mandi di sudut kamarnya. Kuhabiskan beberapa menit di bawah guyuran shower.

Kenichi sungguh-sungguh dengan ucapannya, dia sudah menenteng dasinya begitu aku keluar dari kamar mandi.

First time…” ujarnya.

Masih berlilitkan handuk, aku mendekat padanya. “Terus terang, aku tidak mengerti caranya menyimpul dasi, Ken…”

Kenichi menyeringai, menegakkan kerah kemejanya dan melilitkan dasinya di sana. “Aku akan mengajarimu, ayo…” cepat sekali lengannya menarikku merapat, handukku nyaris melorot jatuh.

Alih-alih memakaikannya dasi, aku malah dibuatnya kelabakan. Kenichi berhasil membuatku panas dingin. Betapa tidak, begitu aku berada dalam kungkungan lengannya, dia langsung menciumku tanpa jeda.

“Kau sangat manis Ran-kun… melebihi candu…”

Ketika sadar, aku tak tahu handukku menggeletak dimana, dan kancing kemeja Kenichi terberai entah kemana. Tapi aku tahu, ranjang di kamar Kenichi kembali berderak. Tiba-tiba saja hari kerja berubah menjadi hari libur.

Kenichi, lelaki pertama yang menunjukkan padaku betapa cinta bisa jadi surga ketika ia tak diganggu.

***

September, Aki…(10)

Ketika udara sejuk musim gugur tiba, dan daun-daun momiji yang berwarna oranye merah berjatuhan sepanjang waktu, kami melalui hari dengan berjalan bergandengan tangan di bawah luruhan daun. Lalu malam terlewati dalam hangat dan basah peluh memabukkan.

Aku menikmati tiap panas Kenichi yang menyapuku bak air pasang.

Warna daun-daun musim gugur turut menyemarakkan lembar-lembar kisah yang telah kutulis bersama Kenichi sepanjang musim sebelumnya.

“Indah ya…”

Kenichi menyampirkan lengannya di bahuku. Tatapan orang-orang yang sedang berdiri di jembatan yang sama di sekeliling kami tidak membuatnya rikuh. Dengan leluasa dia malah semakin merapatkan dirinya padaku.

Jika dia saja tak peduli, apa aku perlu merasa terintimidasi dengan mereka-mereka itu? Lagipula yang kutahu, di sini orang-orang tak suka mengurusi urusan yang bukan masalahnya. Jadi, kubiarkan Kenichi merengkuhku.

“Jangan bilang kalau kau baru sekali ini melewati musim gugur di sini…” Kenichi merespon ucapanku. Dari bahu, kini lengannya turun ke pinggangku.

“Memang bukan… tapi ini kali pertama aku berdiri di jembatan memandang daun-daun gugur dengan seseorang yang merangkul pinggangku.”

Kenichi tertawa, “Sekarang dengan seseorang yang meremas bokongmu…”

Sial, aku nyaris terlonjak menabrak kayu tumpuan jembatan di depanku ketika Kenichi dengan kurang ajarnya meremas bokongku. “Jangan kurang ajar, Ken…” desisku sambil menyikut perutnya.

Bukannya berhenti, dia malah mengelus-ngelusnya sekarang. Aku jengah, wajahku pasti memerah. Bayangkan, bokongmu dielus-elus orang dengan begitu lembutnya, di tempat umum lagi. Kutinggalkan Kenichi lalu berjalan meyusuri jembatan. Di belakangku, Kenichi mengikuti sambil bersiul-siul, persis seperti bastard yang menggoda gadis-gadis pirang di film-film Hollywood. Anehnya, aku suka siulan itu, seakan meneriakkan kalau dia adalah satu-satunya bajinganku, satu-satunya lelaki yang boleh menggodaku dan meremas bokongku.

Pertanyaannya, selama apakah Kenichi bisa menjadi bajingan untukku?

***

Desember – Maret, Fuyu…(11)

Seharusnya dia menghangatkanku hingga akhir musim dingin yang membekukan. Seharusnya dia menjagaku agar tidak menggigil nyeri ke ulu hati sampai tiba musim semi, dan seterusnya. Seharusnya dia tetap menyentuhku sepanjang musim dingin, seperti yang dilakukannya pada musim semi, saat musim panas atau sepanjang musim gugur. Tapi hangat itu tak berkekalan hingga penghujung musim dingin ini. Musim-musim itu tidak kulewati dengannya untuk kedua kalinya.

Harapku di awal ketika dia mengucap kata, memintaku menjadi kekasihnya tidak terkabulkan. Pupus itu ternyata datang terlalu cepat pada kisahku, secepat indah yang menghampiri dulu.

“Aku diminta pulang ke Yokohama, melaksanakan pesan terakhir Oka-san… ada gadis yang harus kunikahi di sana…”

Rasanya ribuan jarum mencucuk seluruh saraf di tubuhku.

“Oka-san yakin, Minami gadis yang layak untukku…”

Tak ada yang bisa kusuarakan untuk mencegah takdir. Aku tahu kalau Kenichi sangat ingin untuk melanggar pesan itu, aku tahu betapa besar dia mencintaiku, aku tahu betapa berhasratnya dia menghabiskan hidupnya bersamaku, sama dengan berhasratnya aku untuk menghabiskan waktuku hingga menutup mata bersamanya. Tapi kenichi tetaplah seorang anak di luar statusnya sebagai kekasih bagiku, dia terikat bakti yang lebih kuat dari ikatan cintanya denganku.

Apa yang bisa kusuarakan? Tak ada. Duniaku runtuh sudah menimpa diriku sendiri. Bayangan hari-hari kosongku seketika terpampang begitu Kenichi selesai berucap. Detik itu pula aku sadar bahwa kata tamat baru saja tertulis di lembar kisahku dan Kenichi. Selesai.

Kenichi menangis sedu-sedan, aku meraung kesakitan.

Sang Ibu meninggalkan pesan terakhir yang mencerai-beraikan kisahku, merobek lembar-lembar ceritaku yang berhias indah. Kenichi pergi menunaikan baktinya, meninggalkanku menghabiskan sisa musim dingin dalam pedih kesendirian, kian meradang dalam sepi ketika hari-hari musim semi bertandang.

Kenichi, lelaki pertama yang menunjukkan padaku betapa cinta juga bisa berubah menjadi neraka ketika harus berhadapan dengan perihnya merelakan.

***

Dan sakura pun berguguran

Tanah menyambutnya dengan ikhlas

Angin menerbangkannya dengan welas

Dalam kerelaan yang mendamaikan

Kulepas dirimu di bawah gugur sakura…

 

Sekarang…

Cincin itu melingkari satu jarinya. Tanda bahwa dia telah termiliki. Tanda bahwa jalanku dan jalannya tak lagi bersilangan, sekarang aku dan dia bagai dua garis lurus sejajar, tak akan pernah bertemu lagi meski ditarik hingga kemanapun itu.

Berikan aku perpisahan termanis, Ken… meski pahit akan jadi hari esokku, dan hari esokmu jua.

Di bawah sakura, dia menciumku disertai bening yang bergulir di wajahku dan wajahnya, lalu jatuh mendera bumi. Satu ciuman di akhir perjumpaan sebelum dia kembali ke istrinya dan aku kembali ke realitaku, kembali pada kesendirianku. Ciuman berhias kepedihan, sangat kontras dengan banyak ciuman yang pernah terjadi di awal dan pertengahan kisah.

Ken, kau akan terus hidup…

Aku menarik diri dari rengkuhnya, detak jantungnya tak lagi milikku. Hangat dirinya bukan lagi untukku. Di atas kursi kayu ini, sebuah cinta baru saja dilerai paksa, oleh takdir… katanya. Jika benar, aku benci takdirnya, terlebih lagi takdirku. Semoga ikhlas di hatiku membawa bahagia dalam tiap hembus napasnya.

Lepaskan dan relakan.

Tautan jemari terlepas sudah, tatap mata menjauh kemudian lepas berbalik, lalu ayun langkah kian membentang jarak. Dan sakura bertebaran di atas kursi kayu yang lengang…

Akankah jalan takdir memihak pada cintaku dan Kenichi, satu kali lagi…

***

Ketika cinta membawa pergi sekeping hati

Hati yang ditinggalkan tak pernah alpa

Bersama hati yang membawa pergi

Ia masih setia menghidupkan kisah

Ia masih tegar menukilkan hikayat

Tentang hati yang pernah terjalin rapat

Tentang jemari yang pernah bertaut erat

Di bawah sakura pada satu musim yang indah

Hingga langkah kembali bersilang…

Doa itu masih menggaung…

Semoga hati bersama lagi

Bertaut kembali di bawah sakura

 

Hari ini…

Chikara memeluk mesra pinggang ramping Ayaki-san –istrinya dengan lengan kanan, sementara lengan kirinya mendukung seorang bocah perempuan dengan rambut terkepang apik. Mereka tersenyum cerah. Aku ikut tersenyum untuk mereka, keluarga yang berbahagia. Aku sangat tahu bagaimana Chikara dan Ayaki-san begitu saling mencintai, Chikara sangat mencintai istrinya meski dokter sudah memvonis kalau dia tak akan bisa memiliki keturunan dengan Ayaki-san. Ya, Ayaki-san mandul. Secanggih apapun medik di sini, jika katanya sudah suratan, apa bisa dikata? Ketika Chikara menceritakan kabar itu padaku hampir empat tahun lalu, aku ikut merasa terpukul. Bagaimanapun, mereka adalah saudaraku. Duka mereka juga menjadi dukaku.

Ketika kemudian mereka memilih mengadopsi Mizuki, bocah perempuan yang berada dalam gendongan Chikara itu, aku mengutarakan niatku untuk menyewa rumah sendiri. Aku mengatakan jika sudah saatnya Chikara dan Ayaki-san membina keluarga kecil mereka sendiri, mereka butuh ruang yang lebih luas untuk itu. Padahal bukan itu alasanku yang sebenarnya, aku ingin menyepi. Itu dia, aku ingin menarik diri dan membuat duniaku sendiri. Dulu, dua tahun setelah Kenichi pergi, hidupku amat jauh dari kata baik-baik saja, aku tak bisa menikmati hidupku lagi. Chikara dan Ayaki-san kerap mempertanyakan perubahan diriku yang terus berlarut-larut itu, aku tak tenang. Akhirnya ketika Mizuki datang aku punya alasan logis untuk menjauh dari perhatian berlebih mereka terhadapku dan hidup sendiri, bebas larut dalam suasana hatiku, dalam kenanganku tanpa dipertanyakan orang-orang.

Hingga sekarang, ketika sudah dua tahun aku punya rumah sendiri –artinya nyaris empat tahun lamanya setelah musim semi terakhirku dengan Kenichi, aku masih belum bisa menghapus namanya di hatiku. Meski hidupku terlihat baik-baik saja kini, namun aku tahu dan sadar kalau hatiku tidak baik-baik saja. Kenichi masih menghuni sebagian besar jiwaku, hatiku. Dia menguasai malam-malamku. Mati-matian aku berusaha untuk tidak mencarinya, aku menghilangkannya dan melenyapkan diriku sendiri darinya. Tak ada alamat, tak ada nomor apapun. Kesepakatan aku dan dia masih utuh, dia pergi dan aku merelakannya.

“Gusti, apa pose kami sudah pas?” Ayaki-san berseru, lidahnya sudah seperti lidah orang Indonesia bila menyebut namaku.

Pagi tadi Chikara meneleponku dan memberitahu kalau Ayaki-san ingin melihat sakura sebelum bunga-bunga itu luruh semuanya, mereka sangat senang jika aku bisa ikut serta dengan membawa kameraku. Aku langsung mengerti kalau Chikara memintaku untuk mengambil gambar keluarga kecilnya berlatar belakang mekaran sakura. Segera kuiyakan, toh ini hari libur, dan aku belum pernah memotret mereka di musim semi. Jadilah aku menyandang kameraku dan pergi bersama keluarga Chikara.

Aku memperbaiki topi wolku, kuacungkan jempolku pada mereka, “Yang paling bagus yang pernah kulihat, Ayaki-san. Kalian tampak sempurna sekali,” pujiku.

Mereka tertawa.

Aku mulai membidikkan kameraku, berkali-kali. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, kameraku terus mengikuti. Lalu aku terpaku. Chikara dan keluarga kini menduduki sebuah kursi, kursi kayu di bawah cabang-cabang sakura.

Rasanya aku menggigil. Kursi kayu itu masih di sana, seakan masa empat tahun tak merubahnya. Sejak hari perpisahanku dengan Kenichi, aku tak pernah lagi menghampiri kursi kayu itu, tidak dengan sengaja.

“Apa terlihat bagus?” kali ini Chikara yang bertanya, Mizuki duduk di tengah-tengah mereka di kursi kayu itu, Ayaki-san memeluknya sambil tersenyum. “Gusti?”

“He eh…” aku tersadar, “Ya… perfect…” Aku mengangkat kamera.

Cekrekkk

Dan kenangan itu benar-benar memamahku. Mataku memerah. Seakan yang ditangkap kameraku baru saja adalah Kenichi dalam balutan jas salah musimnya, duduk dengan lengan di paha tanpa memandang kamera. Ya Tuhan, setelah hampir empat tahun, aku tak pernah merasakan serindu ini padanya.

Aku berpaling, menghindar dari tatapan keluarga berbahagia yang sedang berceloteh di depanku. Kurasakan mataku basah. Sial, ini bukan saat yang tepat untuk menangisi kenangan. Kuseka mataku dengan segera.

“Gusti, cukup dulu… kami akan membawa Mizuki ke jembatan.” Chikara berseru sambil menunjuk jembatan yang membentang di atas telaga di sisi kiri.

Aku mengangguk dan berusaha tersenyum.

Selepas mereka berlalu menuju jembatan, perlahan aku mendekat ke kursi kayu itu. Aku berdiri kaku di sini beberapa ketika. Beberapa kelopak sakura jatuh ke atasnya. Kususuri salah satu lengan kursi, aku merasa dadaku sesak. Dengan perlahan aku duduk dan menyandarkan punggungku, sesaat kemudian kudongakkan kepala untuk menyandarkan tengkukku sekaligus. Kini aku menatap cabang-cabang penuh bunga di atasku.

Ah… apakah dia pernah mengingatku selama empat tahun nyaris berlalu ini? Aku merentangkan kedua tanganku di atas kayu sandarannya, tempat dimana dulu Kenichi juga pernah merentangkan tangannya di belakang bahuku, hingga menyentuh tengkukku. Kupejamkan mataku dan kubayangkan ketika untuk pertama kalinya aku dan Kenichi duduk di sini, gambaranku masih sangat jelas, utuh seperti baru terjadi kemarin.

Semua detil itu muncul sempurna. Senyum pertamanya untukku, jabatannya, tatapannya, dan pembicaraan pertamaku dengannya di kursi ini. Hari ini aku kalah, segala kenanganku bersamanya membuatku remuk redam. Untuk beberapa ketika, aku nyaris gagal menahan diri untuk tidak mendesiskan namanya. Untuk beberapa ketika aku nyaris tak bisa menahan buliran air dari sudut mataku berubah deras dan menciptakan alur. Aku nyaris terisak. Masa lalu itu tak pernah menghantamku separah sekarang, ketika aku berada di tempat pertama kami bertemu sekaligus juga tempat terakhir aku merasakan dekapnya. Aku masih terpejam, larut dalam ingatanku yang menyiksa.

Rasanya ada yang menepuk pahaku.

Aku terkejut, menggeragap menyapu wajah lalu kembali duduk tegak. Ingatanku terputus, aku membuka mata. Di depanku, seorang bocah laki-laki bertopi wol warna coklat sama seperti warna topi di kepalaku tegak dengan mata berkedip-kedip. Kutaksir usianya belum mencapai dua puluh empat bulan, mungkin delapan belas. Dia masih balita. Kembali, aku teringat anak yang lebih besar yang dulu pernah kufoto dan naksir topi wolku di hari aku bertemu Kenichi.

Aku celingak-celinguk, orang tua mana yang begitu teledor membiarkan anak mereka lepas dari pengawasan? Huh, kebanyakan orang tua zaman sekarang memang tidak suka anak-anak mereka, sukanya hanya pas memproduksi saja. Aku mendongkol sendiri.

“Halo… dimana papa-mamamu bocah manis?” aku membungkuk, mendekatkan wajahku pada wajah si bocah, satu lengannya berada dalam genggamanku, lenganku yang lain menangkup pipinya yang bak telur bebek angsa, membulat, dia anak yang sehat. Aku tak yakin bocah ini mengerti ucapanku, andaipun mengerti, dia terlalu bocah untuk berkata-kata dan memberitahu dimana keberadaan orang tuanya yang tak bertanggung jawab.

Alih-alih mendapat jawaban, si bocah balita malah menemplokkan tangannya yang bebas ke hidungku.

Aku tertawa, “Kau suka hidungku, hah?”

Si bocah balita terkekeh sendiri, bola matanya nyaris tenggelam di balik kelopaknya.

Aku kembali memandang berkeliling, tak ada siapapun yang datang mendekat dan mengambil si bocah. Kembali aku fokus pada sosok mungil yang satu tangannya kini tertarik pada bulu-bulu di rahangku. “Bagaimana kau bisa ke sini?” aku sadar, kali ini juga tak akan memperoleh jawaban. Aku mengoceh sendiri. “Bagaimana aku bisa menemukan papa-mamamu?” Si Bocah berkedip-kedip lagi, lengannya sudah kubebaskan, kini keduanya bermain di mukaku. Aku menghela napas, “Kau berjalan sendiri kemari? Dengan langkah kecilmu? Bagaimana kau bisa sanggup berjalan sendiri?” aku memang sadar tak akan mendapat jawaban apapun, instingku mendorongku untuk mengoceh. “Baiklah, kita tunggu papa atau mamamu datang mencari, okey…” aku mengangkat bocah itu ke pangkuanku dan kembali bersandar di kursi kayu. Entah karena pangkuanku yang empuk atau si bocah memang penurut, dia duduk tenang dalam pelukanku, tali kameraku jadi mainannya. Aku masih melongok kiri kanan, kalau-kalau ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang tergopoh menghampiri dengan wajah cemas. Tali kamera mulai melilit tangan balita di pangkuanku, dengan beringas dia berusaha membebaskan kedua lengannya. Aku tertawa sendiri.

“Sepertinya dia suka kameramu, Ran-kun…”

Aku merasa bagai ada badai salju yang menerjang punggungku. Suara itu berasal dari arah belakang, suara yang berhasil membekukanku, sangat kukenal, dan… kurindukan untuk bisa kudengar kembali. Aku tak yakin, apakah aku masih terjaga atau sebenarnya aku masih berada di tempat tidurku sejak Chikara menelepon tadi, tak pernah terjaga.

“Dan aku yakin kalau dia juga begitu menyukaimu…”

Dua kalimat, cukup. Aku sadar kalau aku memang sedang terjaga. Aku memutar kepalaku. Rasanya bagai menemukan satu-satunya lentera di tengah pekat malam di hutan belantara. Rasanya bagai mentari yang terbebas dari gerhana yang menghitamkan. Begitulah yang kurasakan ketika mataku menangkap sosoknya tepat satu langkah di belakang kursi tempatku duduk bersama si bocah di pangkuan. Sosok itu masih sama seperti yang kuingat, hanya tatapannya saja yang tampak lelah dan kuyu, selebihnya dia masih sosok yang pernah kufoto di sini satu masa dulu.

Lidahku kelu, segala rindu menyesak di kerongkongan. Sosoknya menjadi buram, Tuhan… jangan biarkan aku menangis lagi sekarang, jangan. Aku ingin terbahak hari ini, aku ingin tergelak besar.

Sosok itu berjalan mengitari sisi kanan kursi, mataku mengikuti geraknya hingga dia duduk di samping kananku, seperti dulu. Aku masih tak bisa bersuara, andai aku cukup kuat, aku ingin memeluknya saat ini juga. Tapi seluruh anggotaku kaku.

“Chiro, ayo beri salam pada Ran-kun…”

Bocah dalam pangkuanku menoleh padanya.

“Ya… ayo beri salam pada Ran-kun Papa…”

Si Bocah menepuk-nepukkan kedua tangannya yang masih terbelit tali kamera pada lenganku sambil tergelak sendiri.

“Kau tak ingin membalas salamnya, Ran-kun?”

Setelah mati-matian berusaha untuk tak berair mata, satu isak tertahan akhirnya menyembur dari mulutku. Kupeluk sosok kecil yang masih terus tertawa sambil memukul-mukul lenganku, kucium puncak topi wol yang membungkus kepalanya, “Ha.. halo… Chiro-kun…” aku terbata.

“Namanya Matsuhara Kenichiro… anakku… Minami baru mengandung setelah pernikahan kami memasuki tahun kedua…”

Tanpa diberitahu pun, aku tahu kalau bocah ini putranya. Menyinggung pernikahannya, sedikit… rasa perih itu naik ke permukaan.

“Aku terkejut dia bisa sangat gembira begitu kami tiba di sini kemarin… padahal selama dua minggu ini hanya asik menangis saja…” dia mendesah tertahan, “Mungkin ikatan batin ayah dan anak, dia ikut gembira karena ayahnya juga bahagia ada di sini…” ibu jarinya membelai pipi putranya yang masih kupangku.

Sedikit, aku mengerti arah kalimatnya. Dia gembira ada di sini karena aku juga di sini. Sadarkah dia jika aku juga begitu bahagia sekarang? Tapi ada apa dengan waktu dua minggu yang dia sebutkan?

“Aku harap dia bisa cepat melupakan sosok ibunya bersama sakura-sakura Tokyo yang tinggal beberapa hari lagi…”

Untuk pertama kalinya, aku bisa fokus menatap matanya. Kini aku tahu, dia dan putranya datang bersama duka.

“Minami meninggal dua minggu lalu…”

Aku menangis lagi, tanpa suara. Minami, wanita pilihan ibunya. Meski tak pernah melihat, sekarang aku yakin Minami memang gadis yang tepat, gadis baik seperti yang dipesankan ibunya. Aku tak tahu, apakah harus senang atau ikut berduka untuk kematian istrinya. Namun yang pasti, aku ikut berduka untuknya dan putranya.

Lalu kebisuan menyingkup, hanya celoteh tak jelas Kenichiro yang sesekali membeset atmosfir di kursi kayu, tali kameraku basah liurnya. Mungkin karena kehabisan cara untuk membebaskan lengannya dari belitan tali kamera, sekarang dia mulai menggigit-gigit.

“Kau masih sendiri, Ran-kun?”

Aku belum bersuara dari tadi, pertanyaannya seakan jawaban dari empat tahun kesendirianku. “Dan masih menjadi fotografer amatiran…” aku berucap lirih, memberinya jawaban.

Dia tertawa kecil, “Sebenarnya aku ingin memintamu untuk mengambil gambarku lagi, tapi kulihat kau sudah cukup lelah dengan Ayaki-san dan temanmu.” Ternyata dia masih mengenal wajah Ayaki-san, padahal dulu hanya sekali melihat fotonya.

“Hemm…” aku memandang keluarga Chikara yang masih betah di jembatan.

Diam lagi, celoteh tak jelas Kinichiro kembali nyaring.

“Apa selama empat tahun ini kau masih mengingatku?”

Ya, setiap detik.

“Aku tak pernah melewati satu malam pun tanpa memanjatkan doa agar aku diberi kesempatan untuk melihatmu kembali…”

Haruskah aku meneriakkan ke telingamu bahwa aku masih memimpikanmu di setiap malamku?

“Ran-kun… maaf jika aku harus bertanya…” Dia diam sebentar, dapat kudengar hela nafasnya, “Apa kau masih memiliki cinta sebesar yang dulu untukku?” ekor mataku menangkap kalau dia menoleh menatapku sekarang.

“Jika aku sudah tidak memilikinya, saat ini kau tak akan menemukanku di sini, Ken…”

Kami bertatapan. Lalu kulihat senyumnya tersungging, lepas. Aku yakin kami sudah sama-sama mendapatkan jawaban yang kami cari.

“Aku bersumpah akan melewati ratusan bahkan bila mungkin ribuan hanami lagi denganmu, Ran-kun… aku bersumpah.” Aku kembali merasakan hangat tangannya pada tanganku. Bibirnya mengecup lembut jari-jariku yang ditangkup dalam dua tangannya, “Bisakah kita?”

Aku tak menjawab, sebaliknya kusandarkan kepalaku di bahunya. Hari ini, segala indah yang pernah kumiliki bersama Kenichi kembali jadi milikku setelah ia mengembara selama begitu banyak musim. Hari ini, segala hangat yang pernah hilang dariku telah berada dalam genggamanku kembali.

Kenichi merengkuhku ke dadanya, denyut jantungnya juga dapat kuraba lagi. Setelah sekian lama hilang, aku bisa merasakan kembali kecupnya di puncak kepalaku.

Kenichiro tergelak dalam pelukanku dan ayahnya. Tiba-tiba saja, musim semi ini menjadi musim semi paling indah selama aku di sini. Musim semi yang akan mengawali kisahku untuk kedua kalinya, semoga tak ada jeda memedihkan yang akan hadir, seperti yang pernah terjadi dulu.

Angin menghembus dan meluruhkan kuntum-kuntum sakura di atasku, jatuh mengguyur bagai gerimis tsuyu yang dulu pernah mengguyurku dan Kenichi.

***

Epilogue…

Kita tak pernah tahu seperti apa perjalanan takdir. Namun saat ini, aku seakan sudah bisa menerka kemana arah takdir membawaku, aku yakin ia akan memberiku jalan yang indah, menunjukkanku akhir yang membahagiakan. Lewat Kenichi, kini aku sedang menapaki takdir kami. Aku sudah cukup merelakan, Kenichi sudah cukup mengorbankan diri selama musim yang begitu panjang dulu. Sudah saatnya aku dan dia berpegangan tangan, menatap musim-musim dengan senyum tersungging di wajah masing-masing. Tak perlu khawatir bahwa gelap akan kembali merenggut arah, tak perlu takut jika gerhana akan kembali membutakan jalan. Aku dan Kenichi sudah puas menguji diri. Kekuatan doanya setiap malam, ingatanku tentangnya setiap ketika telah mepertautkan kembali jemari kami yang sempat terlerai di bawah sakura dulunya. Dan di bawah sakura jua cintaku dan Kenichi kembali menemukan jalannya…

Lalu Kenichiro… tak ada yang lebih membuat gembira dari mendengarnya berceloteh riang, dia adalah anakku. Begitulah takdir yang telah tersurat sejak dia menepuk pahaku untuk pertama kali…

TITIK

Awal Oktober 2012

Dari pojok kamar di malam hujan

nay.algibran@gmail.com

 

Foot note :

(1)Hanami (istilah Jepang) : Melihat bunga (sakura)

(2)Haru (istilah Jepang) : Musim semi

(3)Gomen ne (bahasa Jepang) : Maaf ya…

(4)Arigatou gozaimasu(bahasa Jepang) : Terima kasih (percakapan formal)

(5)Daijobu desu ka? (bahasa Jepang) :Kau baik-baik saja?

(6) Hajime mashite (bahasa Jepang) : Senang bertemu denganmu

(7)Konnichiwa (bahasa Jepang) : Selamat siang

(8)Natsu (istilah Jepang) : Musim panas

(9)Tsuyu (istilah Jepang) : Hujan/musim hujan

(10)Aki (istilah Jepang) : Musim gugur

(11)Fuyu (istilah Jepang) : Musim dingin