HIM cover

an AL GIBRAN NAYAKA’s mini story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kali ini Cuma ada dua, aku kehabisan kata-kata begitu Mini DUA selesai (padahal udah ngantuk berat, boooo…) Tak apa ya. Lagipula ini cuma coretan singkat, tak jelas dan tak berkesan, percuma juga kubuat judul banyak-banyak. Jadi dua saja cukup.

Gak mau berpanjang-panjang, kuharap ada yang baca dan meninggalkan sedikit pelajaran untukku di kolom komen. Meski singkat, bukan berarti tak perlu kututup dengan ajian pamungkas. Nih, semoga kalian menikmati membaca HIM seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

Nayaka

##################################################

Mini SATU : SEBANGKU

Hari ini, sangat kebetulan, mereka duduk sebangku. Dia selalu menemukan laki-laki ini berada di angkot yang sama dengannya saat berangkat kuliah. Berkacamata, celana katun, kemeja lengan panjang terkancing sempurna hingga ke kerahnya, sepatu pantofel tua dan tas ransel gede warna hitam rata –tak ada aksen apa-apa. Penampilan laki-laki ini selalu begitu, warna celana katun dan kemeja lengan panjangnya saja yang berganti-ganti setiap hari. Gaya rambutnya pun sangat sederhana –belah tengah. Dapat dipastikan, sekali pandang saja orang-orang akan langsung menjudge-nya sebagai laki-laki cupu, tak tahu mode, tak mengikuti tren, ketinggalan zaman bahkan pasti ada yang menilai lebih parah.

“Kampungan…”

Dia menoleh pada dua gadis yang tampak saling berbisik sambil sesekali melirik ke arah tempat duduknya dan laki-laki berambut belah tengah yang sedari tadi terpekur pada buku tebal yang terkuak di pertengahan. Tempat duduk mereka dengan dua gadis –yang sepertinya mahasiswi- ini saling bersisian, mereka di satu sisi sementara dua gadis itu di sisi berseberangan. Dia tahu, yang menjadi bahan bisikan kedua gadis itu bukanlah dirinya, tapi laki-laki yang sebangku dengannya. Dehemannya ternyata tak membuat dua gadis itu mengerti, dengan jarak demikian dekat, bukan mustahil laki-laki di sampingnya akan mendengar apa yang diucapkan kedua gadis itu dengan mimik merendahkan.

“Aku yakin dia anak udik yang baru tiba di kota…”

“Kuper pastinya…”

Bisik-bisik itu terus berlanjut. Lalu…

“Apa pribadi orang-orang selalu dinilai berdasarkan cara mereka berpakaian?”

Dia terkejut, tidak menyangka laki-laki di sampingnya akan merespon secepat itu. Nada bass-nya terdengar sedap meski kalimatnya terkesan menikam.

Dua gadis di bangku berseberangan melongo menatap pada laki-laki yang sekarang sudah menutup bukunya dan melepas kacamatanya, memandang dengan tatapan teduh dan berkharisma, jauh dari kesan marah.

“Saya memang berasal dari kampung, udik dan kuper. Tapi setidaknya saya lebih tahu sopan santun ketimbang saudari-saudari yang tampaknya sangat menikmati ketika membicarakan orang lain yang dianggap aneh dengan cara yang begitu merendahkan. Saya berdoa semoga saudari berdua tidak dibicarakan orang dengan cara tidak baik di masa mendatang, karena saya percaya… karma itu ada.”

Dua gadis semakin melongo, diam bagai ada yang menahan lidah mereka. Si laki-laki mengenakan kacamatanya kembali dan meneruskan membaca.

Dia tersenyum, mengagumi kepintaran laki-laki di sampingnya dalam hal membungkam mulut orang yang kurang ajar. Hari ini, setelah sekian lama kerap satu angkot, dia mendapat kesempatan mendengar suara si laki-laki untuk pertama kalinya. Dan dia menyukainya. Rasa kagum membuatnya semakin jatuh cinta.

***

Dia naik ke angkot dan segera menyadari kalau hanya bangku di samping si laki-laki yang masih kosong. Ke situlah dia membawa langkah dan menghempaskan bokongnya. Hari ini, mereka kembali sebangku untuk kedua kalinya.

Tak ada buku yang terbuka di pangkuan hari ini, si laki-laki bersidekap lengan di dada dan memandang ke luar melalui jendela. Sampai angkot berhenti di halte dekat kampusnya dan dia turun, si laki-laki masih memandang ke luar jendela.

***

          Besoknya mereka sebangku lagi, masih diam. Besoknya dan besoknya dan besoknya lagi terus sebangku dan masih diam. Entah keanehan apa yang sedang terjadi, bangku di samping si laki-laki selalu saja kosong begitu dia masuk angkot. Kadang hanya tinggal satu-satunya dan kadang tidak, namun meski bukan satu-satunya yang kosong, dia akan tetap menuju bangku di samping si laki-laki.

Lama-lama, itu menjadi satu kebiasaan yang menciptakan gambaran bagi penumpang angkot, bahwa : bangku itu tidak boleh diduduki oleh orang selain mereka di jam pagi. Mereka, adalah kawan sebangku.

Ya, mereka hanya kawan sebangku. Dia tak tahu kalau si laki-laki sudah menyematkan cincin di jari seorang gadis di kampungnya, dia tak tahu kalau si laki-laki sudah diikat janji pertunangan, dia tak tahu kalau cintanya pada si laki-laki hanya sebatas cinta selama mereka sebangku di dalam angkot.

Sampai mata dan fikirnya terbuka ketika mereka bicara untuk pertama kali. Dan sayangnya… juga menjadi yang terakhir kali…

“Rasanya aneh ya… tidakkah kau merasa begitu?” Si laki-laki membuka percakapan.

Dia mengangguk. “Aneh yang berterusan… tapi aku senang mendapat teman sebangku yang sama tiap hari.

Si laki-laki mengangguk. “Kau mengambil ilmu apa?”

“Hukum.”

“Wah, hebat… dulu aku gagal.”

Mereka saling menatap, untuk pertama kali.

“Kau pernah ingin kuliah di jurusan yang sama?”

Si laki-laki mengangguk. “Nyatanya tidak berjodoh, aku malah nyasar ke Biologi. Tapi aku mencintai pekerjaanku sekarang, jadi guru biologi asik juga.”

Dia mengangkat alis, “Kau seorang guru?”

Si laki-laki mengangguk, “Apa aku tak tampak meyakinkan sebagai seorang guru?”

Dia tertawa, “Aku mengira kau masih mahasiswa sepertiku.”

“Hey, bukankah aku tak pernah turun di halte yang sama denganmu? Sekolahku di halte setelahnya…”

Dia tersenyum, “Ya ya ya… aku tahu, kau tampak terlalu muda untuk jadi guru…”

“Yah, aku langsung melamar menjadi guru honor setelah kuliahku selesai, aku tak ingin menggantung anak gadis orang terlalu lama, ada mahar yang harus kutunaikan… dan caranya adalah dengan bekerja.”

Dia merasa lidahnya kelu. Setelah sekian hari hatinya bahagia berada sebangku dengan si laki-laki kini dia harus mengetahui satu fakta, selamanya cinta di hatinya tak akan tersampaikan. Dosa, ya… dosanya karena telah lancang menyimpan cinta untuk calon suami orang.

Begitulah. Mata dan fikirnya terbuka, kenyataan sudah terpampang. Kini dia tahu, cincin di jari si laki-laki yang selalu dilihatnya bukanlah sekedar cincin suasa penghias diri, tapi cincin tanda ikatan tak boleh diganggu. Bahkan sekedar menyimpan cinta saja adalah dosa.

Itu adalah percakapan pertama dan terakhirnya dengan si laki-laki, karena setelah hari itu, mereka tidak lagi sebangku.

________________________________________________________________

Mini DUA : PUISI

Satu-satunya alasan mengapa dia mau bersusah payah menjadi pengurus mading dan menyibukkan diri setiap dua kali sebulan untuk memburu materi dan mengumpulkan tulisan untuk dinding itu adalah Ketua Osisnya.

Sang Ketua, pintar dan tampan telah menarik perhatiannya sejak moska dulu. Dalam pandangannya, diantara berjubel cowok menarik dalam balutan putih abu-abu mereka, hanya Sang Ketua seorang yang mencuri hati dengan begitu telaknya. Kakak, begitu dia menyapa buat insan pencuri rasa itu.

Dia tak suka tulis-menulis, benci membaca tulisan tanpa gambar. Baginya, tak ada bacaan yang menarik selain komik. Apatah lagi Mading, yang isinya kebanyakan tulisan amatiran tak jelas dari rekan-rekannya satu pengurus yang menurutnya sok bisa nulis itu. Namun demi bisa bertemu Sang Ketua tiap ada rapat Osis, demi bisa melihat sosok Sang Ketua yang berbicara penuh kharisma dan jumawa di depan forum, demi bisa mendengar suara bagus Sang Ketua saat berdiskusi, demi bisa dikenal oleh Sang Ketua sebagai salah satu penggerak tulisan dinding sekolah, dan demi bisa terlibat percakapan-percakapan sesaat dengan Sang Ketua, dia rela meredam ketidaksukaannya pada tulis-menulis dan mengambil satu-satunya kesempatan yang ada. Konsekuensinya, dia harus mendongkol dalam hati tiap kali menyeleksi kertas-kertas yang akan dipajang.

Ternyata pengorbanannya tidak sia-sia, dia jadi lebih akrab dengan Sang Ketua, dia memanggilnya Kakak.

***

“Kita harus berterima kasih kepada pengurus Mading, saat ini hanya club tulis-menulis yang mendapat apresiasi terbaik dari guru-guru. Sedangkan club lain dipandang tak punya prestasi yang baik…”

Dia bangga, hatinya berbunga ketika suatu kali saat rapat Osis Sang Ketua berkata demikian, dan semakin bermekaran ketika pandangan Sang Ketua sempat beradu dengannya, dia tersenyum dan Sang Ketua membalasnya.

‘Kamu harus jadi milikku, Kakak… kamu harus jadi pacarku.’ Hatinya berkata mantap.

***

Dan harapnya seolah-olah akan terkabul. Hari-hari yang berlalu mendekatkan dia dengan Kakak-nya.

“Tentu tak mudah ya menyeleksi tulisan yang layak muat…”

Suatu kali, Sang Ketua mengajaknya duduk semeja ketika jam istirahat. Dua mangkuk berasap terhidang di depan mereka. Dia bahagia luar dalam, bakso yang akan dihabiskannya hari ini adalah yang tersedap, karena ada pujaan hati yang menemaninya mengosongkan mangkuk.

“Tidak juga, Kak… itu pekerjaan yang mengasikkan, lumayan menantang juga.”

Sang Ketua tersenyum, “Apa semua pengurus selalu menyumbangkan tulisan?”

Dia berhenti menyendok, lalu menyengir. “Tidak juga…”

“Tidak selalu atau tidak semua pengurus yang ikut menulis…”

“Tidak semua pengurus selalu menyumbangkan tulisan.” Dia kembali menyendok.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku sering menulis puisi, Kak…” Dia berbohong.

Ah… demi terlihat baik di depan pujaan hati, bohong satu kali tak mengapa.

“Oh ya…” Sang Ketua tampak antusias. “Kakak selalu suka puisi, kapan ada puisimu yang dimuat kasih tahu ya, kakak ingin membacanya, sebagus apa sih jika kamu merangkai kata…”

Dia merasa bagai digaruk. Dia terjepit dalam jerat sendiri.

“I… iya, Kak. Edisi depan ada kok, jangan sampai gak dibaca.”

Mereka menghabiskan baksonya. Selain rasa bahagia, kini dia juga merasa susah. Ada pekerjaan sulit yang harus diselesaikannya untuk membuat pujaan hatinya semakin memandangnya. Ini adalah peluang sekaligus cobaan baginya.

***

Dan mulailah dia rajin membaca puisi. Tiap hari ke perpustakaan untuk meminjam buku-buku karangan penyair lama. Dia membaca puisi-puisi Toto Sudarto Bachtiar berkali-kali, berusaha menuliskan kata demi kata tiap kali selesai membaca satu puisi, dan tiap kali itu pula dia menjambak rambutnya. Kata-katanya tak ada yang benar. Dia bukan seorang penyair.

Dia mulai memburu puisi-puisi modern di internet, membeli majalah-majalah remaja dan melahap rubrik puisi mereka seperti melahap pudding paling sedap. Lalu dia kembali merangkai kata, hasilnya… dia meremas kertasnya dan melempar beringas ke tong sampah di sudut kamar.

Dia frustasi, Mading akan segera ganti edisi.

Putus asa, dia membuka jendela dunia mayanya, mencari puisi berbahasa Inggris tentang cinta lalu menerjemahkannya.

Demi terlihat pintar di depan pujaan hati, bohong dua kali masih tak mengapa.

Dia menghibur diri.

***

“Wah… puisimu bagus, Dik. Kakak suka… sungguh, baru kali ini Kakak membaca puisi seindah ini. Kamu berbakat.”

Dia tersenyum, semakin tak bisa menutup bibir ketika pujaan hatinya merangkul bahunya di depan Mading, Sang Ketua mengulang baca puisnya untuk kedua kalinya. Hatinya kian berbunga.

“Katanya, puisi cinta selalu bisa bikin cewek luluh ya?”

Dia tertegun mendengar ucapan Sang Ketua yang sampai saat itu masih merangkul bahunya.

“Bener gak, Dik…?” Sang Ketua memburu setelah menunggu lama tapi tak memperoleh jawaban.

“Katanya sih iya…” dia menjawab lirih, hatinya tak enak.

Sang ketua manggut-manggut. “Kamu kan pinter nih bikin puisi cinta kayak gini, kakak minta tolong dong…”

“To… tolongin apa, Kak???” dari merasa tak enak, kini dia merasa was-was.

Sang Ketua menyengir, “Ini… Kakak naksir berat sama sekretaris Osis kita, tapi bingung mau nyatakan cinta pake apa… tapi begitu membaca puisimu ini, kakak pikir… pasti gak bakal ditolak jika menyatakannya lewat puisi. Plis ya, Dik… bantu Kakak. Bikinkan satu puisi cinta buat Kakak, bisa ya…”

Hatinya patah-patah, ingin saja dia menangis detik itu juga. Pujaan hatinya memintanya menuliskan puisi untuk diberikan kepada orang yang dicintai. Dia hancur sudah.

Sang Ketua menarik lengan dari bahunya, lalu merenggang. “Besok atau lusa Kakak ambil ya, Dik. Makasih banyak, nanti kalau Kakak sudah jadian, kamu pasti Kakak traktir…”

Jahanam dengan jadianmu itu…

***

Dia menghabiskan malamnya dengan membuat guling basah. Air matanya berderai. Dia hancur, pujaan hatinya tak mungkin bisa dimilikinya. Yang lebih sakit, dia harus membantu pujaan hatinya untuk mendapatkan hati yang ditaksirnya.

Dia benci puisi. Namun untuk pertama kalinya, dia meluapkan kehancuran perasaannya lewat kata-kata. Dia menulis puisinya sendiri, puisi patah hati.

Mulai besok, dia akan berhenti berpura-pura menikmati jabatannya sebagai pengurus Mading, dia sudah mempersiapkan kata-kata pengunduran dirinya.

Dan puisi cinta yang dipesankan Kakak-nya… tak ada. Yang ada hanyalah puisi patah hati yang sudah selesai dicoretnya pada kertas yang penuh titik-titik basah, dia menulisnya diantara isak tangis.

________________________________________________________________

Awal Desember 2012

Coretan singkat tentang cinta tak kesampaian

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com