Puteri Gunung Ledang (Sebuah cerita kepada kawan)

by

Naraya Alexis Liani

 

Tuah, ketika engkau mesti berdepan dengan dua kenyataan yang terhidang di telapak tangan: tunduk setia kepada titah Sultan sebagai bentuk pengabdian Laksmana tauladan, pun ingkar demi mempertahankan segenggam perasaan, kemana sauh jawaban engkau labuhkan?

Cinta. Cinta dan pengorbanan tepatnya, adalah inti dari ceritera yang akan kunukilkan kepadamu, kawan, di ambang petang menuju malam. Cinta yang apabila diumpamakan sebatang pohong, akan melahirkan cabang-cabang dan ranting-ranting bernama kesetiaan, ketaatan, duka lara dan anak pinaknya. Cinta yang di awal punca memuja harap akan akhir yang indah lagi bahagia, pun cinta yang pada kesudahannya berujung gerimis di pelupuk mata.

Syahdan, tersebutlah kisah tentang kerajaan Majapahit di suatu masa, dengan Adipati Handaya Ningrat selaku pemegang tahta. Ketika fajar baru saja menampakkan semburat merahnya di cakrawala, alam damai bumi Majapahit mendadak gempar sebab serangan dari kerajaan Demak yang tiba-tiba. Adipati Handaya Ningrat memutar pikir mencari siasat agar pertikaian kedua kerajaan dapat dihentikan, hingga didapatlah sebuah kata sepakat: Gusti Adipati harus menyerahkan adiknya tercinta, Gusti Puteri Retno Dumilah untuk dipersunting pemegang tampuk kekuasaan kerajaan Demak yang digdaya.

Putri Retno Dumilah yang jelita tegas menolak. Bagaimana mungkin ia sanggup bersanding dengan teruna lain, penguasa sebuah kerajaan sekalipun, sementara hatinya telah ia tambatkan kepada Hang Tuah, pemuda Melayu, Laksmana ternama kerajaan Melaka yang pernah menginjakkan kaki ke tanah Majapahit suatu ketika dahulu, demi menjawab tandatangan seorang pendekar Tanah Jawa. Tidak. Sang Puteri tak sanggup menggadaikan perasaan, meski taruhannya ialah perdamaian kedua kerajaan. Haruskah kuncup-kuncup kasih yang mekar menjelma bunga di hatinya ditebas hingga ke akar demi mematuhi kehendak Kakanda, atas nama rakyat negerinya? Sang Puteri tak rela. Untuk pertama kali seumur hidupnya, biarlah ia menurutkan kata hati dan membawa diri, mengejar cintanya kepada Tuah. Maka berseorang diri, sang Puteri memadu destinasi: Puncak Gunung Ledang yang terletak di sempadan Muar, Johor dan Melaka pilihan hati.

Putri, ketika dulang yang terhidang di hadapanmu hanya menyajikan dua hidangan: memasrah diri dan hati demi perdamaian negeri meski harus menikah dengan lelaki yang tak kau cintai, atau menurutkan bisikan hati yang membujuk langkah-langkah kaki agar engkau berlari mengejar cinta sejati, maka di hidangan mana jemarimu menelisik sandi?

Disinilah selanjutnya kisah yang memulas airmata untuk hati yang sedang dikepung cinta ini bermula. Pada masa yang tak terlalu berbeda seiring kepergian Puteri Retno Dumilah dari Tanah Jawa, penguasa Melaka ketika itu, Sultan Mahmud Syah namanya, tengah berduka sempena mangkatnya Permaisuri tercinta, Tun Kecil. Hiba Paduka tiada terkira, terlebih ketika memikirkan bakal pewaris tahta, Raja Ahmad yang masih teramat belia. Hinggalah di suatu malam, ketika rembulan purnama sempurna, Sultan bermimpi bertemu seorang dara jelita, kecantikannya tak dapat diungkap sebarang kata. Ketika Sultan terjaga dari mimpinya, dipanggillah ahli nujum  istana untuk mentakwikan mimpinya. Menurut ahli nujum, dara jelita dalam mimpi Sultan adalah Puteri Gunung Ledang, putri cantik dari Tanah Jawa. Maka jatuhlah titah Sultan, hendak mempersunting dara jelita sebagai ganti Permaisuri. Dan dikirimlah beberapa utusan untuk melamar, dengan Hang Tuah sebagai ketua rombongan.

Hati Tuah diamuk bimbang. Kesetiaan kepada  Sultan dipertaruhkan. Ia dihadapkan pada dua pilihan sulit ketika berdepan dengan titah Sultan yang mustahil dibantah, pun perasaan kasihnya pada dara jelita belahan jiwa. Dengan berat hati dan setengah rela, Tuah memimpin rombongan untuk melamar sang Puteri. Ke puncak Gunung Ledang mereka mendaki.

Hancur  hati Tuah, tak sebanding dengan hancur hati sang Puteri, ketika mereka berdepan, bertatap muka. Embun pilu bergulir menuruni pipi, melebur harap dan mimpi si dara akan hidup bahagia dengan teruna dambaan sukma, ketika dengan terbata, sang Laksmana Utama kerajaan Melaka itu mengemukakan hajat kedatangan mereka yang membawa titah Sultan yang hendak melamar. Namun, bukan Puteri dari Tanah Jawa ia namanya, ketika harus mengalah dengan mudah. Maka, dengan hati yang menyisakan puing, sang Puteri memberi tujuh syarat kepada rombongan pelamar, isyarat tersamar sebuah penolakan.

“Sampaikan kepada Sultan Mahmud Syah, patik akan menerima pinangannyaa, sekiranya Paduka mampu memenuhi ke-tujuh syarat yang patik ajukan. Adapun syarat yang pertama, airmata anak dara yang tidak berdarah, tujuh tempayan banyaknya. Kedua, pinang, bukannya kawin karena tidak tua, merah darahnya, tujuh tempayan juga banyaknya. Ketiga, merangkak bebas di daratan, darah juga kehendaknya, sifatnya, tujuh dulang banyaknya. Keempat, terbang bebas di udara, darah juga kehendaknya, sifatnya, tujuh dulang banyaknya. Kelima, darah putih rakyat untuk menambat darah kuning raja dari tapak ke tahta. Keenam, darah merah rakyat untuk menambat darah kuning raja dari tapak ke tahta. Ketujuh, darah seguntal tetap mengalir, badan bersilih menanti, sebatil,” Tuah tertegun tanpa kata. Ia paham sangat akan maksud si dara.

Lalu kembalilah rombongan meminang untuk menyampaikan tujuh syarat sang Puteri kepada Paduka Sultan. Tuah yang merasa dua kegagalan sekaligus: gagal menjalankan titah Sultan dengan sempurna, pun gagal mempertahankan dara jelita dalam genggaman memutuskan untuk tidak ikut kembali ke istana guna menghadap Sultan. Hanya tanjak kebesarannya yang ia titipkan kepada salah satu anggota rombongan. Di bawah sebatang pohon besar, di dekat muara sebuah sungai, Tuah membuang keris Tameng Sari kebanggaannya dan mengucapkan sumpah.

“Selagi Tameng Sari tenggelam ke dasar sungai ini, hamba tak akan kembali.”

Rombongan akhirnya sampai kembali ke istana. Dan murka sang Sultan tak dapat dijangka. Enam dari tujuh syarat sang Puteri dapat ia kabulkan, namun tak mungkin ia mengorbankan Putera Mahkota, sebagai penggenap syarat penutup. Maka dalam geram Sultan bersumpah, sambil menancap keris ke darah.

“Karena daulat Sultan Melaka bertanah sakti dan berbumi tuah, berarti engkau mendurhaka Sultan. Engkau aku ijinkan tinggal di puncak Gunung Ledang berseorang diri, namun barang siapa melihat wajahmu akan hilang nyawa bermuntah darah!”

Pada akhirnya, Gusti Puteri menetap selamanya di Puncak Gunung Ledang, berselendang sumpahan Sultan, hingga ajal menjemput badan. Pun adanya Tuah, ia melanglang buana hingga menutup usia, membawa lara di dalam jiwa. Cinta mereka tak berkesudahan indah.

Inilah kawan, akhir dari nukilan kisah yang kujanjikan. Kisah yang berupa-rupa, kisah yang bermuara dari sungai kasih, dan akan bermuara pada lautan cinta yang sebenar, dan tak akan berpisah makna,, meski raga tidak bersama. Bukankah pada setiap kisah selalu memiliki inti serupa: cinta?

 * * *

 Nayaka, makasih sebelumnya sudah mengingatkan akan limitnya, yaaa? Huwaaa, aku rasanya ingin menangis, aku gak tau mau nulis apaan. Rasanya mau nyerah, tapi tiba-tiba aku ingat akan tulisan ini yang kupublish di fb-ku. Makanya aku ngebut sejam-an ini, mengetik ulang dan mengeditnya sekaligus.

Aku gak tahu ini masuk kategori mana. Aslinya sih ini adalah sebuah filem yang kuceritakan kembali dengan bahasaku,  halah. Mau dibilang review kayaknya masih jauh banget, hihihi, jadi ya udah ah, aku tulis begini aja. Ntar kalo banyak waktu kosong, aku akan mencoba menulis yang lain. Buat teman-teman, maaf jika ada yang komentar tapi jarang kureply, sejak anakku makin besar, frekuensi jaga malamnya makin sering, jadi aku gak  bisa megang laptop. Pas anakku lelap,  laptopnya dipake Papih buat maen game, hiks…Maklumilah, namanya juga ibu-ibu :p

Akhir kata, bacalah, itu juga kalau ada yang mau baca, huahahaha *plaaakkk…