“Kak Garry ‘tuh masih sayang sama lo! Dia cinta sama lo! Kenapa sih lo nggak bisa melihatnya sedikitpun?”pekikku tanpa mampu lagi mengatur apa yang keluar dari mulutku. Saat ini, emosiku sudah memuncak. Memenuhi setiap centi sel otakku.

“Gung! Jangan katakan itu lagi!”desis Stevan yang mulai cemas karena anak-anak OSIS lain mulai bergerombol dan melemparkan tatapan aneh padanya.

“Kenapa? Lo mau lari dari kenyataan? Kenapa sih lo tak pernah mau jujur sama apa yang terjadi? Lo munafik, Stev!”tambahku. Kurasa aku sudah benar-benar menyudutkannya kali ini.

“Lo bener-bener nggak bisa jaga mulut ya!” pekik Stevan seraya menarik tubuhku keluar ruang OSIS dengan kasar. Sementara aku terus meronta melepaskan tubuhku.

“Lepasin gue, Stev! Lo benar-benar picik ya!”

Dan BUGH!!!

Sebuah tinju keras terasa mendarat di wajahku. Seketika saja aku bisa merasakan ada yang meleleh dari lubang hidungku. Aku menyekanya. Setetes darah segar nampak memerahkan ujung-ujung jemariku.

“Dan lo rupanya lebih biadab dari yang gue kira, Stev!”desisku marah.

Maka aku pun membalas apa yang tadi dilakukan Stevan padaku. Aku tak terima jika diam saja. Tinjuku tepat mengenai pelipisnya. Membuatnya sedikit terhuyung menahan rasa sakit. Stevan tersulut emosi dan menghantamkan tangannya ke seluruh penjuru tubuhku. Untuk sesaat, aku dan Stevan larut dalam pertengkaran sengit. Beberapa kali aku dan ketua OSIS menyebalkan itu terjungkal ke lantai, tak memperhatikan belasan pasang mata yang menatap sedari tadi. Wajah kami mulai lebam. Seragam kami pun compang-camping tak karuan.

“Hentikan! Tolong hentikan!!”

Tiba-tiba saja terdengat suara khas yang kencang dan menggelegar. Aku dan Stevan sontak menoleh dan menemukan Pak Jeffrey-guru BP- berkacamata yang nampak menakutkan dengan kumis tebalnya-berdiri tergopoh sementara beberapa anak OSIS lain berdiri di belakangnya.

“Kalian berdua! Ikut Bapak ke ruangan BP! Sekarang!”pekik beliau dengan suara menggelegar.

Maka tanpa memperpanjang debat kusir, langkahku dan Stevan pun terbirit mengekor Pak Jeffrey. Jika kami bergulat lebih lama setelah teriakan menggelegar itu, bisa dipastikan kalau kami akan mendapat sangsi yang lebih dari sekedar satu minggu skorsing. Pak Jeffrey tak pernah suka siswa yang membangkang.

***

Dan akhirnya aku dan Stevan pun duduk di kursi kayu pada ruangan pengap itu. Ruangan dimana aku dan siswa seperti Stevan harusnya tak berada didalamnya. Di depan kami, Pak Jeffrey nampak mondar-mandir seraya menangkupkan tangannya di dada. Beliau nampak menimang-nimang sesuatu, mungkin memikirkan hukuman apa yang pantas untuk kami berdua. Aku hanya diam, pun begitu Stevan. Menunggu apa yang selanjutnya terjadi akibat pertengkaran kami tadi.

“Stevan! Agung!” buka Pak Jeffrey yang membuat kami kontan mendongak kearah nya.

“I..Iya Pak!”jawabku dan Stevan nyaris bersamaan. Suara kami bergetar.

“Sebenarnya ada masalah apa diantara kalian berdua hingga kalian berkelahi seperti tadi? Kalian ini siswa-siswa yang harusnya jadi contoh! Kenapa malah berkelahi di depan banyak orang, hah?” tikam Pak Jeffrey yang membuat kami sontak diam terpaku.

“I.. Ini ha.. Hanya salah paham saja, Pak!”tegasku terbata, berusaha sekuat mungkin menatap Pak Jeffrey yang mulai memasang tampang bengis. Membuat ruangan pengap ini kian panas untuk kami berdua.

“Kesalahpahaman?”Pak Jeffrey mengangkat alis kanannya. “Kesalahpahaman apa maksud kalian?”

“Tentang penggusuran klub Little Monster di sekolah ini, Pak! Agung tak terima dengan rencana itu!”

Stevan yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Kulihat ia menyeringai tipis seraya membetulkan kacamatanya.

“Jadi hanya gara-gara itu? Hanya gara-gara kau keberatan dengan rencana Stevan dan rekan-rekan OSIS-nya menggusur klubmu?”tandas Pak Jeffrey yang membuatku terkesiap. Kenapa semua orang menganggap enteng klub yang susah payah kudirikan itu?

“Bukan begitu Pak! Bukan masalah aku keberatan klub saya digusur! Tapi coba Bapak pikirkan kerja keras saya dalam mempertahankan klub Little Monster selama ini! Bukankah sebelumnya tak ada pihak OSIS dan guru yang keberatan dengan klub kami? Toh kami juga tak merugikan siswa lain? Kami berkreatifitas! Kami juga mempererat persahabatan sesama Little Monster di sekolah ini!” cecarku tanpa mampu lagi mengontrol ucapan. Biar. Biar saja. Meskipun aku dianggap tak sopan atau apapun. Yang penting aku sudah menyuarakan apa yang selama ini terpendam dalam hatiku.

“Saya hanya menjalankan apa yang seharusnya dijalankan, Pak! Kami akan mendirikan klub siaran yang notabene lebih berguna daripada klub pecinta Lady Gaga!”potong Stevan tegas.

“Tapi bukan berarti harus menggusur klub kami tanpa alasan pasti!”tandasku.

“Kami anak-anak OSIS punya alasan logis untuk menggusur klub tidak berguna itu!”

“Hei! Bisakah kau lebih sopan dalam menyebut klub ku!”

“Sudah! Sudah! Hentikan pertengkaran kalian! Seperti anak kecil saja! Tidak bisakah kalian bersikap sedikit lebih dewasa?”pekik Pak Jeffrey yang seketika membuat kami terbungkam untuk kedua kalinya. Bisa kuterka beliau sudah jengah kali ini. Meladeni dua siswa yang tak mau mengalah satu-sama -lain bukanlah hal mudah. Beliau pasti sudah hilang kesabaran.

“Kau Stev!” ucap Pak Jeffrey sembari mengacungkan telunjuk kearah Stevan. “Sebenarnya keputusanmu untuk menggusur klub milik Agung hanya karena ingin membentuk klub baru itu bukanlah keputusan yang benar. Walau bagaimanapun, Agung dan kawan-kawannya berhak untuk berkreasi dan menyalurkan kreatifitas mereka meskipun hanya dengan membuat sebuah fansclub yang diwadahi oleh sekolah,”cetus Pak Jeffrey yang membuatku menghela napas lega karena beliau membelaku.

“Tapi, Pak!”

“Kenapa?”potong Pak Jeffrey.

“Mereka hanya klub pecinta artis yang tak mempunyai agenda kerja!”

“Hei! Kami punya agenda kerja!”selaku geram.

“Agung! Bisa kau diam sebentar,”potong Pak Jeffrey lagi. Aku diam. Tak berani lagi membantah.

“Stev, Agung dan kawan-kawannya punya agenda kerja asal kau tahu!” tukas Pak Jeffrey lagi. “Mereka mengekspresikan diri mereka dengan karya-karya yang berhubungan dengan Lady Gaga. Mereka membuat comical photo di mading, mereka membuat artikel dan cerpen di koran sekolah. Dan mereka juga membuat flashmob dance video yang diikutkan dalam lomba. Apakah itu buka agenda kerja namanya?”

Stevan hanya diam. Ucapan Pak Jeffrey barusan membungkam mulutnya.

“Dulu klub milik Agung punya pembimbing! Dan dulu mereka juga banyak melakukan hal-hal positif! Mereka menggalang dana untuk anak-anak jalanan. Yah, meskipun harus dengan mengamen lagu-lagu Lady Gaga. Atau menjual poster dan kaos bergambar Lady Gaga. Tapi lihatlah semangat dan kebersamaan mereka. Meskipun banyak yang menganggap klub mereka klub tak berguna, tapi mereka membuktikan dengan kebersamaan dan kekompakan mereka. Bahwa sesuatu yang dianggap sepele juga bisa memiliki nilai yang luar biasa.” Penjelasan Pak Jeffrey membuatku spechless. Aku tak menyangka kalau beliau akan mengutarakan hal itu.

“Tapi Pak,”sela Stevan. Rupanya masih berani dia mengucap kata ‘tapi’.

“Tapi apa, Stev?”tanya Pak Jeffrey.
“Kalau memang mereka tak punya guru pembimbing, kenapa klub mereka tetap dipertahankan? Lihatlah! Mereka nampak begitu liar tanpa guru pembimbing!”cetus Stevan yang membuatku lagi-lagi terpancing emosi. Namun akal sehat dan tatapan membunuh Pak Jeffrey membuatku sadar diri. Setidaknya, aku harus tetap menahan emosi sampai prosesi damai ini selesai. Jika tidak, aku bisa saja mendapat kemungkinan terburuk.

“Stevan, dengar,”lanjut Pak Jeffrey.”Asal kau tahu, kami dari pihak sekolah tengah mencari guru pembimbing pengganti untuk klub milik Agung. Kami dari pihak sekolah percaya kalau Agung dan kawan-kawannya mampu melakukan kegiatan positif dibalik kefanatikan mereka terhadap Gaga.”

Mendengar yang barusan, aku dan Stevan kembali diam.

“Kami salut dengan ide kalian dan anak-anak OSIS untuk membuat klub siaran. Hanya saja, cara kalian saja yang salah. Kau mengerti?”lanjut Pak Jeffrey. Bisa kulihat Stevan hanya tertunduk pasrah. Penjelasan panjang lebar dari Pak Jeffrey benar-benar membungkam bibirnya. Membuatnya sudah tak sanggup untuk membantah barang se-kalimat pun. Tentu saja aku juga tak menyangka kalau Pak Jeffrey akan membelaku sejauh ini. Secara, beliau dikenal paling netral se-sekolahan ini. Tapi sudahlah, harusnya aku bersyukur ada yang mendukungku. Mungkin saja Fortuna memang benar-benar lagi berpihak padaku.

“Kalian boleh saja mendirikan klub siaran atau klub apapun di sekolah ini. Kami malah akan mendukung jika memang klub-klub itu bisa mewadahi dan menjadi muara bagi kreatifitas siswa-siswi di sekolah ini. Hanya saja, bukan berarti dengan mengorbangkan hal satu demi hal lain, kau tahu? Bapak dan dewan guru lainnya akan sangat bangga jika kalian bisa menggali potensi dalam diri kalian masing-masing. Tapi ya seperti apa yang Bapak bilang tadi, tak seharusnya kalian bermusuhan. Jadikan klub kalian saling berdampingan satu sama lain. Bukankah berdamai itu indah?”sambung Pak Jeffrey lagi.

Membuat aku dan Stevan seketika bertekuk-lutut oleh kata-kata beliau yang begitu menyihir. Kau tahu, bagaimanapun juga, guru itu seperti buku yang menyimpan banyak ilmu dan susah jika ditebak hanya dengan melihat sampulnya. Setidaknya itu persepsiku pada Pak Jeffrey. Dibalik tampang killernya, rupanya beliau adalah sosok dewasa yang sangat adil dan mampu menengahi murid-muridnya.

“Maka dari itu, Bapak amat sangat memohon kepada kalian. Tolong hentikanlah perdebatan ini. Kau Stev, tetap dirikan klub siaran yang kau rencanakan itu. Kau bisa memakai ruang bekas ekskul jurnalistik sebagai basecamp mu. Dan kau Agung, buktikanlah pada Stevan kalau memang klubmu dan teman-temanmu itu memang layak untuk dipertahankan,”lanjut Pak Jeffrey menengahi.

Mau tak mau, aku dan Stevan pun harus berdamai kali ini. Meski dalam hati terbesarku aku masih menyimpan berjuta-juta dendam dan emosi terhadap apa yang telah dia lakukan selama ini. Tapi Pak Jeffrey sudah menyelesaikan masalah ini bukan? Jadi, tak ada alasan lagi buatku untuk tetap menyimpan benci pada Stevan. Toh, semuanya hanyalah sebuah kesalah-pahaman dan sekarang telah terselesaikan dengan ‘clear’ kan?

…..continued! (again)!!!!!!!

__________________________________________________

Sedikit curhat di post ini, nggak tahu kenapa, seakan sudah jadi hobiku jika kesusahan menggarap cerita pada part-part terakhir. Sama seperti cerita-cerita ku sebelumnya, aku selalu kesusahan menentukan alur akhir sebuah cerita. Tapi sebuah pesan ‘peringatan’ (sorry Nay, aku mesti menyebutnya begitu :p) dari Nayaka Al Gibran mendadak saja membuatku kembali bersemangat untuk mengurai kisah yang tersisa antara Agung, Stevan dan Lady Gaga. Sering- sering aja yah, Nay, hehehe. Oke, last but not least, semoga kalian menikmati ‘almost end part’ yang satu ini. Meski pendek, kuharap kalian bisa menikmati nya seperti aku menikmati ketika menulisnya. *ditampar Nayaka*