an AL GIBRAN NAYAKA’s story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ya Tuhan… akhirnya aku menyelesaikannyaaa… T___T

Lega. Aku sempat mengira kalau tulisan ini gak akan pernah jadi, selamanya hanya berupa judul saja dan terdiam di flashdiskku. Namun sekarang aku berhasil mengetik namaku di bawahnya. Yes yes yes…!!! tentu aku sangat senang. Bagi sahabat yang bertanya-tanya kapan ada tulisan baruku, semoga terpuaskan dengan cerpen jelek ini yaa… Jika belum juga terpuaskan, silakan berkunjung ke tempatku, aku punya perkakas yang bisa bikin kalian puas. Silakan pilih, aku punya kunci inggris, segala jenis obeng, linggis anti karat, kapak perak, gergaji tembaga, dan palu antik nan apik. Kekekekekeh… silakan… silakan…!

Mari bercerita sedikit tentang cerpen kali ini. Judulnya sudah sangat lama terketik dan ter-save, bahkan Edward ‘Eragon’ Speleers sudah sangat lama nemplok di covernya. Aku sudah membuat cover cerpen ini jauh hari, sejak judul cerita ini terfikirkan aku langsung membuat covernya juga. Itu sekitar bulan Agustus awal, ketika blogku masih baru-barunya. Judulnya (mungkin saat itu ceritanya juga) terinspirasi ketika aku mengubek-ubek kaset lama di rumahku di kampung, aku nemu kaset Ella (penyanyi legendaries negeri jiran yang pernah duet dengan Om Deddy Dores negeri kita), kangen suara seraknya Puan Ella, aku puter tuh kaset. Eh, ada satu lagu yang tiba-tiba nyantol banget, dulu ketika sekolah menengah aku sering nyanyiin lagu itu di kamar mandi juga. Musiknya agak-agak country menurutku. Ketika balik ke kost dan jaringan inet sedang bagus, aku langsung donlot tuh lagu masuk playlistku di hape. Trus, kepikiran deh untuk bikin cerita ketika denger2 lagu itu. Aku pun langsung ngetik judul ceritaku beserta pembukanya berupa lirik lagu ‘Dia Lelaki’ milik Ella dan Ramli Sarip (bukan sarap yaa…) Lalu, karena keterbatasan ide (mungkin juga faktor malasnya Nayaka) akhirnya, file berjudul LELAKI terus nganggur. Aku beberapa kali sempat ingin mendelete file kosong ini, tapi teringat betapa dulu aku begitu cape merancang kovernya, dari hunting gambar hingga menyunting huruf, akhirnya gak jadi hapus deh (trims buat Edward… hihihiii)

Akhirnya, hari ini cerita ini terselesaikan dan bisa kalian pelototin kejelekannya. Idenya gak jelas sih, alurnya juga jungkir balik (semoga gak ada yang pusing menelaah alur ya…), selain itu, aku merasa kalau tulisan kali ini agak berat bahasanya, bagi yang kurang suka bahasa puitis, Nayaka minta maaf banget yak… ada beberapa part yang agak-agak berpujangga gitu (hallaaah).

Akhir kata, huhuhuuuu… sudah sangat lama aku tidak menuliskan iniiiii… kangen berat maaaaaakkk… Ehemm… Semoga kalian menikmati membaca LELAKI seperti aku menikmati ketika menulisnya. Weee… pengantarku seabrek-abrek, ayo silakan di-skip aja! :p

wassalam

N.a.g

#####################################################

Pastinya sunyi bila malam

Tentunya resah bila siang

Mencari cintanya

Dibawa angin mengembara

Kasih

Dia tidak bermimpi

 

Dia terperdaya lagi

Yang pasti dia lelaki

Tergapai tangannya

Mencari tempat bermanja

Kasih

Dia lelaki mangsa cinta

 

Olahan perasaan formula angan-angan

Dari zaman kesepian

Dia terhumban dibuang

masih merasa sayang

Karena dia sayang nan cinta

 

Dia tidakkan mengerti

Cintanya membawa mati

Tidak ditangisi juga tidak di hargai

Kasih

Dia lelaki mangsa cinta…

[Dia Lelaki lyrics – Ella feat. Ramli Sarip]

***

Lelaki itu menyeringai getir, wajahnya pucat, bibirnya bergetar. Air mata masih meleleh dari sudut matanya, luruh membuat alur di kedua sisi wajahnya, belum kering. Wajah itu menggambarkan pengharapan sekaligus keputusasaan di saat yang bersamaan. Ia bertelanjang dada, setengah badan kokohnya yang tak dibalut kain cukup menegaskan kalau ia adalah lelaki kuat, otot dada, perut dan lengannya menjelaskan demikian. Namun raga kuat bukan berarti pemiliknya juga punya jiwa kuat, tidak semua mereka seperti itu. Dalam raga yang kuat seringkali bersarang jiwa yang rapuh. Itulah yang sedang terpampang pada sosok si lelaki, terbaca lewat bahasa tubuhnya sekarang, tersampaikan melalui sorot matanya saat ini. Ia, lelaki yang tersakiti cintanya sendiri…

“Aku mencintaimu…”

Lelaki ini berujar lirih sebelum merah berjelaga, memerahkan sosoknya yang indah bersih.

***

Hikmal terbangun dengan tubuh basah keringat, ia terengah-engah. Mimpinya sesaat tadi terlalu nyata, sangat nyata, seakan ia melihat langsung, seakan ia berada di sana dan melihat sendiri seringai putus asa di wajah Zahrul dalam keremangan cahaya. Hikmal meraup wajah, perasaannya mendadak sakit.

Aku mencintaimu, maaf jika cinta ini harus kubawa mati…

Begitu ucapan Zahrul dalam mimpinya yang masih begitu segar di kepala. Hikmal mendesah. “Tuhan, semoga ini hanya bunga tidur…” ia memandang sosok yang tidur menelungkup di sisi lain ranjang, pelanggannya malam ini.

Hikmal tersenyum getir, kegiatannya bersama pria bule yang tidur tanpa busana di sisinya beberapa jam lalu kembali berkelebat. Mengingat bagaimana si bule nyaris melolong ketika dia bertindak tadi membuatnya geli, ini pertama kalinya ia mendapat pelanggan yang tidak bisa tahan dengan mendesis saja seperti kebanyakan mereka yang sudah-sudah. Nicklas –turis Aussie usia awal 30- mengaku kalau itu yang pertama baginya, pertama kali dimasuki, tapi Hikmal yakin pria itu bohong. Hikmal bukan anak kemarin sore yang baru sehari dua hari mengenal ranjang, ia tahu mana pasangan bercintanya yang baru pertama kali atau sudah tak terhitung kali. Namun Hikmal tak peduli ucapan si bule, bohong atau jujurkah sama sekali bukan masalahnya, ia hanya perlu tahu kalau bayarannya sesuai, itu saja. Lagipula, pria yang baru saja ditidurinya itu adalah bule Aussie. Hey, adakah turis luar yang masih fresh ketika datang ke negeri ini? Jawabannya, kita semua tau.

Namun mimpi tadi masih menyita seluruh sarafnya, lelaki itu kembali mengusap wajah. “Apa kau baik-baik saja, Rul?” Hikmal berbisik sendiri. Tak tenang, ia turun dari ranjang, telanjang mengumpulkan pakaiannya yang berserak di lantai kamar. Perut dan pahanya masih terasa lembab lengket. Hikmal mendecak, tangannya merogoh saku celana, mencari ponselnya.

Panggilannya tersambung, satu kali, dua kali, Hikmal mencoba hingga delapan kali. Tak ada jawaban. Mimpinya semakin membuatnya cemas. Tergesa ia menggunakan celana dalam lalu jeans-nya, dengan tergesa pula ia mengancing kemeja.

“Are you leaving now?”

Hikmal menoleh. Si bule sudah terduduk di ranjang, selimut menggumpal di bawah pinggangnya. “Ya, aku harus pulang…” Hikmal mengenakan sepatunya.

“Dini hari begini? sesaat lagi pagi…” Nicklas turun dari ranjang, kepolosannya langsung tersingkap. “Please… stay.” Pria itu mendekati Hikmal, “Aku akan menambahkan fee-nya besok…” si bule Ausie merayu sambil mencium tengkuk pemuda di depannya.

Sorry, man… Aku harus pergi! maybe next time…” Hikmal melerai lengan Nicklas di perutnya lalu segera melangkah ke pintu. Pria ini bukan bule pertama yang membayarnya, dengan kemampuan Bahasa Inggris seadanya, Hikmal sudah berkali-kali mendapat pelanggan warga asing.

Nicklas mendesah, “Apa kita bisa ketemu lagi malam nanti? kau free?” pria itu bertanya, sepertinya dia tergila-gila dengan service pemuda Asia yang dikencaninya beberapa jam lalu.

Hikmal berdiri di pintu yang sudah membuka, “I’ll call you…” lalu dia melesat pergi.

Tak sulit mendapatkan taksi di kawasan perhotelan kota Bandung, setengah jam kemudian Hikmal sudah berdiri di depan rumah mungil bergaya sangat minimalis yang berada di kawasan pinggiran kota, rumahnya dan Zahrul. Tergesa, lelaki itu bergelut dengan lubang kunci.

Gelap, dan hening. Tentu saja, siapa manusianya yang berhasrat membuat hiruk-pikuk pada saat dini hari begini? Hikmal melintasi ruang tamu kecil yang hanya diterangi pendar lampu hias dari dalam akurium mereka di sudut ruang, ia menuju kamar, satu-satunya kamar tidur di rumah itu. Tanpa suara, dikuaknya daun pintu, cahaya lampu tidur di atas nakas membuat keadaan di dalam kamar remang-remang, lebih terang dari keadaan di ruang tamu. Hikmal menemukan sosok lelaki yang dicintainya meringkuk di bawah selimut tebal, membelakanginya. Ia bernafas lega, mimpinya beberapa saat lalu jelas hanya bunga tidur.

Tanpa suara, ia menutup pintu kamar lalu berjalan ke ranjang. Kemejanya di buka dan dilempar ke sebarang tempat, ponsel di saku celana disimpannya di samping lampu tidur. Perlahan lelaki itu menelusup di bawah selimut, di sisi lelaki yang tidur membelakanginya. Takut membangunkan si lelaki, dengan amat perlahan juga Hikmal merapatkan dadanya ke punggung sosok itu lalu melingkarkan lengan ke pinggangnya. Namun usahanya tak semulus yang diharapkan.

Sosok si lelaki mengeliat, “Kau pulang?” nada mengantuk terdengar jelas dalam suaranya yang parau.

“Hemm…” Hikmal menggumam, “Maaf membangunkanmu…”

“Kau bau sperma…”

Hikmal tertawa kecil lalu memeluk sosok dalam dekapnya kian erat, “Oh diamlah, Rul…” ucapnya sambil menyurukkan wajah ke tengkuk Zahrul, “Atau kau ingin aku membuatmu juga berbau seperti itu?” candanya.

Zahrul mendecak lalu mengeliat melepaskan diri, ia membuat jarak dengan Hikmal. “Seharusnya kau tak perlu pulang…” nadanya dingin, menusuk. “Seperti lazimnya selama ini…” Zahrul mengambil guling dan meletakkan tepat antara dirinya dan Hikmal. “Tak sempatkah kau mandi sebelum keluar dari sana? setidaknya berusahalah membuatku tak mencium aroma lelaki lain darimu…” Zahrul masih menikam, “Seharusnya kau tak perlu pulang…”

Hikmal mendecak kesal, sekali bergerak dia sudah keluar dari bawah selimut untuk selanjutnya keluar kamar, bukan ke kamar mandi. Sofa ruang tamu akan menerimanya dengan senang hati.

Di atas ranjang, Zahrul terjaga seutuhnya, kantuk tak akan datang lagi hingga ke pagi. Ia mengerjap, ada kebeningan yang meluncur dari sudut matanya.

Cinta macam apa yang sedang kita lakoni…?

***

‘Aku buatkan pancake, ada di lemari makan – Rul’

Hikmal membaca memo Zahrul yang direkatkan di pintu kulkas, ia bangun kesiangan. Jam di dinding ruang tamu menunjukkan angka sembilan ketika ia terjaga di sofa tadi. Tidak ingin repot-repot mandi dulu, Hikmal berjalan ke dapur dan menemukan memo Zahrul di sana. Ia lapar, dua potong pancake dingin buatan Zahrul sebelum pergi kerja cukup untuk mengganjal perutnya pagi ini.

Hikmal membuat kopi sendiri, lalu membawa cangkirnya ke beranda, duduk bertelanjang dada di salah satu kursi, memandang kendaraan yang berlalu-lalang di jalan depan rumah. Sesaat kemudian, pikirannya melayang pada Zahrul, saat ini lelakinya itu pasti sedang sibuk dengan mesin kopi di kafé tempatnya bekerja sebagai barista. Apakah dia sungguh-sungguh marah dini hari tadi? aku akan minta maaf begitu dia pulang nanti. Hikmal merasa perlu meminta maaf atas ketidakenakan yang terjadi awal pagi saat dia pulang, seharusnya ia memang tidak tidur dengan badan bau begitu. Dan ya Tuhan, sekarang pun dia masih berbau sama.

Hikmal meneguk isi cangkirnya, tidak seenak buatan Zahrul. Kopi racikan Zahrul selalu lebih memanjakan lidah, itu memang keahliannya. Hikmal ingat suatu pagi ketika Zahrul mengajarinya meracik kopi, itu salah satu momen manisnya bersama lelaki teman hidupnya di sini. Hingga menghabiskan nyaris satu toples bubuk kopi, ia masih belum bisa mewarisi ilmu Zahrul, tidak setengahnya pun.

Cangkirnya kembali didekatkan ke mulut, sejurus kemudian, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata. Dalam pejam, kenangan membawanya mengingat kembali saat-saat bersama Zahrul.

***

“Ikmal, kopi itu sejatinya adalah kepahitan…” ucap Zahrul suatu pagi setelah sebulan mereka menyewa rumah minimalis itu. Ia sedang membuat dua cangkir kopi untuk mereka sementara Hikmal menunggu di meja, duduk manis hanya dengan bercelana pendek. “Bahkan, sesuatu sepahit kopi bisa diubah jadi manis dan digemari banyak orang. Kita hanya perlu tahu cara untuk mengubahnya jadi manis, menuangkannya ke cangkir, lalu lihatlah… kepahitan itu jadi menarik dan pantas untuk dinikmati.” Zahrul berjalan ke meja, meletakkan satu cangkir di depan Hikmal lalu duduk di kursi satunya.

“Apa kau sedang berfilosofi denganku, Rul? karena jujur saja, aku serasa ikut salah satu kelas ahli filsuf, dan aku jadi satu-satunya mahasiswa yang salah masuk kelas.”

Zahrul tertawa, “Kopi itu seperti hidup kita, Ik… hidup kita pahit. Yatim piatu, tak ada kemanisan yang benar-benar manis yang pernah kita kecap…”

Hikmal mengerti, Zahrul sedang membicarakan tentang mereka. “Yah… aku sudah tau bahwa hidupku adalah kepahitan sejak menyadari bahwa aku yatim piatu.” Hikmal menyesap kopinya.

“Kita sedang berusaha membuat hidup kita manis, bukan?”

Hikmal mengangguk.

“Namun rasanya hidupku akan terus pahit, Ik…”

Hikmal mengernyit, bingung.

“Kopi juga ibarat perasaanku… Jujur, betapapun manisnya hidupku bersamamu, namun hingga sekarang aku belum bisa mengerti bagaimana aku bisa bertahan dalam kepahitan perasaanku padamu.”

Hikmal semakin mengernyit. “Aku tak pandai membaca huruf kanji, rasanya kau baru saja membahasakannya untukku…” gurau Hikmal lalu kembali meminum kopinya.

Zahrul mendesah, “Maafkan jika lisanku lancang… aku tak bisa mengerti, bagaimana aku bisa begitu mencintaimu sedangkan aku tahu ragamu tak hanya milikku seorang… di saat yang sama, aku merasakan manis dan pahitnya mengarungi cinta denganmu…”

Rasa kopi tak lagi manis di kerongkongan Hikmal, sekarang cairan itu mutlak pahit. Sedikit, rasa tersinggung itu memang dirasakannya. Bingung, dia mendesah lalu menjawab, “Setidaknya hatiku tidak dimiliki oleh lebih dari satu orang.”

Pagi itu obrolan berakhir dengan kata maaf dari mulut Hikmal, sementara Zahrul merasa seperti baru saja menampar seseorang.

***

“Aku mencintaimu, Rul… sangat.”

Hikmal mendekap tubuh polos itu ke dadanya yang masih basah keringat. Di luar sana, hujan turun dengan begitu derasnya diselingi petir yang memijar dan guntur yang memekakkan.

Zahrul mendorong tubuh lelaki yang merangkulnya dari samping hingga terlentang, kemudian mendaki dan merebahkan diri tepat di atasnya. Tanpa mempedulikan perut yang masih lengket dan badan yang licin keringat, ia memeluk Hikmal dan menyurukkan wajahnya di lekuk leher lelaki itu. Tak ada yang bersuara hingga beberapa menit kemudian.

Hujan masih deras, udara kian dingin, tapi ranjang mereka tetap hangat.

“Ik… bisakah aku meminta sesuatu?”

“Hemm…” Hikmal membelai punggung Zahrul yang menelungkup di atasnya.

“Berhentilah… seperti yang dulu kau niatkan, bisakah?”

Hikmal diam, ia tahu kemana arah ucapan Zahrul. Lelaki itu memintanya berhenti dari pekerjaan yang telah menghidupi mereka selama ini. Pekerjaan haramnya, dosa yang tak terampuni untuk menunjang hidup mereka berdua.

“Aku yakin kita bisa, Ik… aku akan mencarikan pekerjaan untukmu. Aku akan mempromosikanmu pada manajerku, kita bisa bekerja di tempat yang sama. Gajinya memang tak seberapa, tapi kita bisa hidup sederhana, berdua…”

Hikmal masih diam, tapi pikirannya mengikuti setiap kata dari bibir Zahrul yang berhembus di lehernya.

Apa yang bisa diandalkan dari penghasilan pekerja kafé? bisakah kita makan enak, bisakah kita membeli pakaian-pakaian bagus, bisakah kita memakai jam tangan bermerek, bisakah kita melunasi tagihan-tagihan? bagaimana kita bisa hidup dengan gaji tak seberapa itu?

Sanggahan-sanggahan menggaung dalam hati Hikmal.

Zahrul mengeliat di atas pasangan hidupnya, merasakan tekstur Hikmal menggesek di badannya. “Bisakah kau menuruti pintaku, Ikmal…?” Zahrul mengangkat kepalanya, memandang langsung mata gelap lelaki di bawahnya.

Hikmal tersenyum, membingkai wajah lelaki yang dicintainya itu dan menyapu bibirnya dengan jari-jari sebelum mengecupnya. “Pasti, aku akan berhenti nanti, Rul… aku tak akan selamanya begini… percayalah.”

Zahrul tersenyum.

“Jika sudah saatnya, aku pasti akan memintamu menyeretku ke tempatmu bekerja.” Hikmal bergerak, kini dia yang menindih Zahrul. “Sekarang, bisakah kau menyenangkanku dengan mendesah-desah seperti tadi?” Hikmal menyerang leher Zahrul dengan mulutnya, satu tangannya bergerak merangkul pinggang lelaki itu dan mengangkatnya hingga merapat.

Zahrul tertawa kecil, tungkainya dilingkarkan ke pinggang Hikmal, lagi.

Obrolan tentang pekerjaan baru itu terlupakan, bahkan tak pernah disinggung lagi setelah berhari-hari kemudian, dan hari menggenapkan bulan-bulan selanjutnya.

***

Hikmal tersadar, ponselnya berbunyi nyaring, ada panggilan. Ia bangkit dari kursi, mengambil cangkir kopi lalu melangkah masuk ke dalam. Ponselnya telah berhenti berdering. Setelah menaruh cangkir di bak cuci piring, ia berjalan ke kamar. Ponselnya kembali bersuara tepat ketika ia meraih handle pintu, nada pesan kali ini.

Benda itu masih di tempat yang sama, di dekat lampu tidur tempat ia meletakkannya semalam. Satu panggilan dan satu pesan. Hikmal mengabaikan panggilan dan membuka pesannya.

[Hilton Hotel, room 147, pukul dua siang. Aku bayar dua kali lipat dari semalam. Reply, please… – Nicklas]

Hikmal mendesah. Bule itu sungguh tergila-gila dengannya, ia tak sabar menunggu Hikmal menelepon dan memutuskan mengkonfirmasi lebih dulu, sekarang si bule malah pindah hotel segala, yang lebih berkelas.

Hikmal melirik weker Zahrul, pukul sebelas lewat dua puluh menit. Masih terlalu pagi dari jam dua siang. Ia mengetik ‘Yes, I’ll be there’ di layarnya dan menekan tombol send.

Nicklas baru satu-satunya pelanggan hari ini.

Hikmal mencari nama Zahrul di phonebook-nya, seperti semalam, panggilannya tak terjawab. Hikmal mengetik.

[Pancake-nya enak, trims… apa itu artinya aku dimaafkan untuk kesalahan semalam? aku janji itu tak akan terulang. I love you…]

Meski pesannya tak berbalas, Hikmal yakin kalau ia sudah dimaafkan.

***

Hikmal sudah mati-matian mengemukakan alasannya pada si bule agar tidak memasuki kafé ini, tapi Nicklas bersikeras kalau dia ingin minum kopi, dan tadi pagi bule itu sudah mencoba kopi di kafé ini, kesimpulannya… adalah yang terenak. Sekarang, setelah puas bermain nyaris setengah hari di kamar hotel, bule itu berbaik hati mengajak Hikmal menghabiskan sore dengannya.

Dan Hikmal menyesal telah mengangguk saat Nicklas mengajaknya, lebih menyesal lagi karena telah mereply pesan bule intelek itu. Lebih bodoh lagi, dia lupa kalau tempat kerja Zahrul begitu dekat dengan hotel tempat ia menggunakan fasilitas kamar mandinya beberapa menit lalu. Sekarang, sudah jauh terlambat, ia dan si bule sudah berada di salah satu meja di kafé yang kopinya telah membuat si bule jatuh hati. Di kafé yang tentu saja juga telah membuat Hikmal jatuh hati kepada si peracik kopinya, Zahrul.

Hampir satu jam, dan nyaris selama itu pula Hikmal sadar kalau mejanya terus menjadi pusat perhatian lelaki jangkung yang berdiri di balik meja barista. Zahrul memperhatikan kekasihya bersenda gurau dengan pria tampan berambut pirang di salah satu meja. Hatinya bagai teriris tiap kali si pria pirang melempar tatapan mesra pada lawan bicaranya, Zahrul merasakan matanya bagai tertusuk besi panas tiap kali si pria pirang dengan sengaja menyentuh punggung tangan lawan bicaranya, atau tersenyum menggoda pada si lelaki.

Zahrul gemetar di tempatnya berdiri. Kesadaran bahwa mereka tentu sudah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar menyentuh tangan atau bercanda, membakarnya. Ia bukan tidak pernah berpikir begini, sering. Ia kerap membayangkan Hikmal memeluk lelaki lain, tapi baru kali ini ia melihat salah satu dari sekian banyak lelaki lain yang sering dibayangkannya itu, melihat langsung kemesraan ringan itu. Hanya kemesraan ringan. Namun cukup untuk menghancurkannya. Sekarang, dia melihat bagaimana lelakinya dikagumi pria lain, dipandang mesra oleh lelaki selain dirinya, disentuh oleh lelaki yang bukan dirinya. Kehancuran karena melihat hal seringan itu secara langsung lebih sakit ketimbang membayangkan lelakinya bercinta dengan pria lain.

Zahrul merenggut celemeknya, menggantungnya di gantungan, kemudian berbicara sebentar dengan rekan kerjanya sebelum melesat pergi. Hikmal melihat itu, melihat riak wajah Zahrul yang keruh ketika berjalan tergesa menuju toilet pria.

Air dingin dari keran tak cukup untuk mendinginkan hatinya, Zahrul membasuh wajahnya, lagi dan lagi hingga ujung-ujung rambutnya ikut basah dan menetes-netes. Lalu matanya terasa panas, dia menangis sudah.

Kau bodoh.

Tiba-tiba hatinya berteriak.

Kau tahu seperti apa dia, kau tahu bagaimana hidupnya. Namun dengan begitu bodohnya kau membakar diri demi cintamu padanya. Apa yang kau harapkan? menghibur diri bahwa suatu hari dia akan berhenti dan hanya akan tidur denganmu saja? teruslah hibur dirimu, Zahrul… maka selama itu pula kau terus menyalakan bara untuk kau pijaki sendiri.

“Aku tidak bermaksud…”

Zahrul menoleh.

Hikmal tegak berdiri di pintu, memandang cemas pada deretan kloset di sisi kanan Zahrul, memastikan bahwa di dalam sana tak ada telinga yang mendengar obrolan mereka.

Zahrul melengos, menyalakan lagi keran dan kembali membasuh mukanya yang kian merah.

“Jika kau berpikir aku sengaja mengajaknya ke sini, kau salah…”

“Apa aku perlu tau?” potong Zahrul cepat. tidak menoleh. Suaranya bergetar, menahan amarah.

Tak peduli, Hikmal meneruskan, “Nicklas yang memaksa ke sini…”

“Mengapa kau merasa aku perlu tahu nama si bedebah itu?” Zahrul menarik tisu dengan gerakan sebat, suaranya masih bergetar.

Hikmal kesulitan menelan ludahnya sendiri, “Dia bilang, kopi di sini paling enak…” jelas dia salah berucap.

“Seharusnya aku mencampurnya dengan racun.”

“Aku minta maaf…”

“Lakukan saja sesukamu.”

“Rul, ini hanya bagian pekerjaanku…” Hikmal putus asa.

“Maka pastikan kejantananmu mendapat bayaran setimpal.”

“Rul…” Hikmal tak pernah merasa direndahkan dengan begitu telaknya selama ini.

Tanpa memandang sedikitpun pada Hikmal yang menatapnya tajam, Zahrul bergerak cepat ke pintu, lalu menutupnya dengan suara berdebam.

***

Hikmal pulang dalam hujan. Meski sudah berlari ketika turun dari taksi, hujan tak urung membuatnya sedikit kuyup ketika naik ke beranda. Lampu teras sudah menyala terang, Zahrul pasti sudah pulang. Dipandangnya buket mawar putih di genggaman, sedikit basah. Hikmal meniup-niup di atas kelopak-kelopak putih itu. Dalam kekalutannya setelah dari kafé tadi dan setelah berusaha menolak Nicklas yang memaksanya menginap bersama, Hikmal berjalan melewati toko bunga dan berfikir sebuket mawar putih mungkin bisa mendamaikan hati Zahrul, meski ia bukanlah seorang gadis yang suka bunga. Tepat setelah menebus buket paling cantik dan paling mahal, hujan mengguyur kota bandung dengan begitu derasnya. Hikmal baru memperoleh taksi ketika gelap sudah turun sempurna.

Ia membuka pintu dan menemukan Zahrul bersama novelnya di salah satu sofa ruang tamu, duduk membelakangi arah pintu. Hikmal berdehem, dia yakin kalau Zahrul sudah menyadari kedatangannya semenjak dia naik ke beranda, tapi lelaki itu berlagak tak peduli.

“Hujan sangat menyukai Bandung, ya…” ujar Hikmal sambil melangkah masuk.

Tak ada respon.

Hikmal berjalan mendekat, pakaiannya yang basah terlupakan. “Aku ingat tak pernah memberimu bunga…” buket itu di letakkan di meja, tepat di ujung kaki Zahrul. “Sedikit basah, tapi tidak mengurangi keindahannya, kan? kata yang jual, aku tak salah memilih buket ini jika ingin kuberikan pada orang terkasih, malah katanya sangat tepat bila ingin diberikan sebagai tanda permohonan maaf…”

Hikmal berharap mendapat respon, tapi Zahrul sama sekali tak menoleh, lelaki itu terus saja membaca dan membalikkan halaman demi halaman buku di genggamannya.

“Rul…” Hikmal memanggil.

Zahrul diam.

“Aku mengaku salah, tapi kumohon… jangan hukum aku dengan sikap diammu. Jangan anggap aku tak ada… itu terlalu sakit.”

“Daripada terus mengoceh, sebaiknya kau berganti pakaian… kecuali kau lebih suka masuk angin…”

Hikmal tersenyum kini, respon yang baik meski lelaki itu masih belum memandangnya. Ia lalu membuka kancing kemejanya, menarik lepas oblong dalamnya lewat kepala lalu keduanya ditumpuk di lantai. “Aku kedinginan…” ujarnya lirih.

Kali ini Hikmal berhasil mendapatkan perhatian lelaki teman hidupnya itu. Zahrul menatap sosok yang tegak berdiri bertelanjang dada di depannya, tatapannya tidak hangat seperti yang diharapkan memang. Hikmal tersenyum mendapatkan pandangan seperti itu, jauh lebih baik ketimbang Zahrul tak menatapnya sama sekali.

“Rul…” Hikmal memanggil lagi.

Zahrul menggeleng beberapa kali, “Meski rasa pahit kopi tak bisa kuhilangkan… namun demi Tuhan, Ik… aku tak bisa membinasakan cintaku yang terus berusaha membuat kopi hidup kita menjadi manis.”

Hikmal tersenyum lagi, lepas kini. Perlahan ia naik ke sofa, berlutut di depan Zahrul yang sudah menekuk kakinya ketika Hikmal bergerak ke depannya. “Kau suka bunganya?”

Zahrul melirik buket bunga di atas meja, lalu menggeleng. “Andaipun aku seorang gadis, mawar putih tak akan jadi kesukaanku, aku lebih suka dihadiahkan selusin kondom oleh pacarku…”

Hikmal tertawa. “Apa kau sengaja merangsangku?” lelaki ini sangat sering melihat kondom.

“Aku yakin malah sebaliknya kau yang berusaha merangsangku dengan sengaja melepas kemejamu di sini.”

“Tidakkah ucapanmu yang memintaku berganti pakaian yang patut disalahkan?” Hikmal menggoda, ia bergerak semakin mendekat. Tangannya meraih kaki Zahrul dan membuatnya kembali lurus di sofa sementara ia mengangkanginya dengan berlutut.

Zahrul mendesah ketika Hikmal bergerak semakin merapat padanya. Pinggang Hikmal kini berada tepat di depannya. “Apa kau akan memaksaku?” ujarnya sambil mendongak.

“Tidak, kau akan melakukannya dengan suka rela…” Hikmal menyeringai. Tangannya meraih lengan Zahrul dan dibawa ke pinggangnya. “Tidakkah kau merasa kalau malam ini terlalu dingin, Rul?” sementara satu tangan berada bersama tangan Zahrul di perutnya, tangannya yang lain menyusuri sisi wajah lelaki yang kini menatapnya dengan tatapan mendamba ini, kontras dengan tatapan dingin beberapa saat tadi.

Novel  yang tadi dipegang Zahrul tergeletak di lantai, sudah sejak beberapa menit lalu. Kini tangannya sibuk  di pinggang Hikmal, berusaha membuka sisa pakaian lelaki itu. Hikmal sendiri berusaha menarik lepas kaos longgar yang dikenakan Zahrul. Ketika Zahrul sudah setengah telanjang, Hikmal justru sudah polos sempurna.

“Apa kita bisa ke kamar sekarang?” suara Zahrul lebih mirip desahan.

“Kita belum pernah bercinta di tempat sempit, aku rasa sofa ini tidak keberatan menampung kita…” Hikmal mendorong Zahrul menelentang, kemudian dengan tergesa meloloskan celana pendek lelaki itu sebelum menindihnya dengan sikap sangat jantan.

Hanya seperti itu, amarah yang sempat tersulut dihapus cinta yang tiba-tiba saja mengubah kedinginan menjadi kehangatan yang memabukkan.

Mereka terkulai di sofa, bertindihan, tanpa pakaian dan selimut. Sebelum terlelap di dada Hikmal, Zahrul berbisik, “Andai harus mati karena mencintaimu, maka aku akan mati demi cinta itu…”

***

Hari-hari terlewati lagi.

Hikmal masih keluar masuk dari satu hotel ke hotel lainnya, dari satu kamar ke kamar lainnya. Ketika turun dari satu ranjang maka ranjang berikutnya sudah menunggu, ketika selesai dengan satu pria maka pria lainnya sudah menanti dengan rupiah di tangan. Sekotor apapun, Hikmal tetap punya satu cinta, hatinya hanya milik satu lelaki saja. Pada akhirnya, ia akan tetap pulang pada Zahrul, hanya pada Zahrul, selalu. Begitu janji hatinya.

Bulan-bulan terlewati lagi.

Zahrul masih mengisi cangkir demi cangkir, cawan demi cawan pelanggannya. Ketika satu cangkir baru saja diisi maka puluhan lainnya baru saja dikosongkan pengunjung. Meski hanya mendulang sedikt rupiah, ia masih menyimpan asa bahwa suatu saat dirinya dan lelaki yang dicintainya dapat hidup dari gaji yang secuil itu tanpa dibayangi pertanyaan ‘siapa pria yang tidur bersama lelakiku saat ini?’ Sungguh, betapapun ia berkata bahwa dirinya baik-baik saja dan dapat menerima, jauh di sana di relung hatinya, perasaan tak rela itu tetap tertinggal. Mengintai, menunggu untuk naik ke permukaan dan membabi-buta.

***

Hikmal pulang dengan tampang kusut, hari ini begitu melelahkan, menguras habis energinya. Ia menghempaskan diri di sofa lalu melepas kaus putih polosnya yang tampak kusut. Matanya terpejam, ia bernapas panjang-panjang lalu membuang udara lewat mulut, begitu caranya mengusir penat. Hikmal terus terpejam, mungkin akan tertidur.

“Tidakkah kau lelah dengan ini semua, Ik…?”

Hikmal membuka mata, entah sudah berapa lama Zahrul duduk di seberang meja, di lain sofa, memperhatikannya.

Hikmal mendesah lalu menegakkan badan. “Ini untuk kita, Rul… aku seperti ini untuk kita berdua…”

Zahrul menyeringai, lalu menggeleng. “Pernahkah kau berpikir, mungkin selama ini kau salah memilih motovasimu. Untuk kita…” ada jeda. “Mengapa kian jauh aku merasa bahwa kau melakukan ini untuk memenuhi egomu sendiri?”

Mata Hikmal melebar.

“Sudah tak ada lagi, Ik… aku sudah hangus terbakar dan menjadi debu dengan begitu sempurnanya.” Zahrul diam sesaat sebelum melanjutkan. “Aku lelah menunggu saat yang selalu kau dengungkan, aku akan berhenti… aku akan berhenti… nyatanya hingga berkali-kali aku berlagak lupa dan menghibur diri dengan berpura-pura bahwa aku tak pernah mendengar kau berjanji seperti itu, saat yang kau janjikan belum juga sampai. Lamakah masanya lagi, Ik? lamakah masanya hingga egomu terpuaskan?”

Hikmal terhenyak. “Mengapa kau selalu tak bisa mengerti, Rul… aku bekerja kotor seperti ini semata-mata untuk menopang hidup kita, hidupmu… hidupku…”

“KAU MENIPUKU LAGI…!!!” Zahrul berteriak. “AKU BOSAN MENDENGAR KALIMAT YANG SAMA TIAP KALI…”

Hikmal tercengang.

“Aku mulai yakin bahwa dari pertama kau memang tak pernah benar-benar mencintaiku. Andai kau sungguh-sungguh, seharusnya kau berhenti dari dulu dan menjaga perasaanku. Tapi kau tidak…”

“Ya Tuhan, Rul… Aku sungguh-sungguh dengan perasaanku. Sekarang, dengan berucap demikian aku bahkan merasa kau tak pernah menghargai jerihku selama ini…”

“JERIH APA???” Zahrul kembali berteriak. “Jika yang kau maksudkan adalah uangmu, aku lebih baik tak punya apa-apa.”

“Kau seharusnya melihatku dari sudut pandang lain. Melihat pekerjaanku dari kacamata realita hidup ketika kita tak ubahnya bagai gelandangan di jalanan…” Hikmal masih berusaha tenang.

Zahrul meringis, “Yang kulihat justru kau menikmati pekerjaanmu tanpa sedikitpun menggubris perasaanku. Seharusnya kita tetap jadi seperti gelandangan…”

Hikmal bangun dari duduknya, kesabarannya hilang sudah. “Kau tak pernah berterima kasih, Rul… aku menistakan diriku untuk membayar hidup kita. Aku menjual diri untuk menebus semua kebutuhan kita. Aku membayar sewa rumah, membayar segala macam tagihan, memastikan bahwa lemari dapur kita jangan pernah kosong, memastikan bahwa kita tidak akan lagi terlihat seperti tunawisma dengan pakaian buruk seperti dulu.” Hikmal merunutkan segalanya, dia berang sudah. “Pernahkan kau berpikir ke sana? pernahkah kau bandingkan keperihan hidup kita dulu dengan kesenangan hidup kita sekarang? pernahkah kau berpikir akan pengorbananku?” Hikmal menggeleng, menjawab sendiri pertanyaannya. “Kau tak pernah berpikir…”

Zahrul terdiam sesaat sebelum kembali bersuara, “Jika itu yang kau khawatirkan, aku masih sanggup mencukupi diriku meski hanya jadi tukang cuci piring di warung tenda…”

“Dan makan nasi tanpa lauk hampir setiap hari?” Hikmal mengibaskan tangannya di udara, “Karena siapa kau mendapatkan pekerjanmu yang sekarang? aku merintis hidup kita, membuatmu berhenti jadi tukang cuci piring lalu jadi pekerja kafé hingga mendapatkan kehormatan untuk mengisi gelas-gelas pelanggannya. Apa namamu sekarang??? barista? ya, aku merubahmu dari seorang pencuci piring di warung tenda hingga menjadi barista di kafé mewah… apa aku tak layak mendapatkan sedikit saja pengertian dan rasa percayamu, sedikit terima kasih?”

Zahrul merasakan dadanya dihantam, tentu dia ingat semua itu. Dia tahu seperti apa sejarah hidupnya dan Hikmal. Dia berterima kasih. Namun cukup sudah ia membakar dirinya. “Kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan pada detik kau berhenti dari pekerjaanmu…”

Hikmal meraup muka, frustasi. “Kau ingin aku bekerja seperti mereka? berlalu-lalang dengan nampan di tangan menghidangkan pesanan? berdiri di depan coffee machine dan mengisi gelas-gelas sialan itu? bahkan gajinya sebulan tak cukup untuk melunasi tagihan listrik…”

Zahrul diam, menatap tajam Hikmal yang berdiri dengan wajah mengelam. “Aku berdiri di depan mesin kopi, aku mengisi gelas-gelas sialan itu, gajiku memang tak cukup melunasi bil listrik rumah ini, tapi setidaknya aku tidak menggunakan anggota tubuhku untuk mendulang uang haram. Kau tahu yang menyedihkannya, berdalih bahwa pekerjaan itu demi menopang hidup orang lain…”

“Aku tahu sekarang… selama ini aku memang tak pernah berarti apa-apa bagimu…” nada kecewa terdengar jelas pada kalimat Hikmal.

“Kau yang tak menganggapku berarti… Kau hanya menurutkan nafsu bejatmu saja…”

Hikmal meradang. Sekali bergerak, tangannya meraih vas kosong di atas meja dan sedetik berikutnya akuarium di sudut ruang tamu sukses pecah menghamburkan isinya ke segala penjuru. Beberapa ikan hias menggelepar-gelepar di lantai yang basah sebelum diam megap-megap kehabisan udara, beling memenuhi ruangan, terumbu karang berserakan dimana-mana.

“Aku tak lagi mengenalmu…” Zahrul berujar lirih, “Mungkin sebenarnya aku memang tak pernah mengenalmu sejak dulu.” Lalu ia bergerak meninggalkan ruang tamu, menuju kamar. Hatinya tersayat perih. Cinta juga adalah keperihan, Zahrul sudah sangat mengerti itu.

Hikmal mengacak rambutnya, kian merasa frustasi. Penuh geram, ditendangnya meja di depannya hingga terpelanting. Dengan gigi bergemeletukan, di ambilnya baju kaus dari atas sofa lalu menuju pintu. Ia butuh udara segar.

***

“Aku melacur…”

Suatu  hari, Hikmal berucap lirih pada Zahrul ketika telentang di atas kasur di kamar sempit mereka.

Zahrul mengangkat kepalanya dari dada si lelaki, alisnya bertaut.

“Aku berhenti jadi kenek angkot lebih sebulan lalu, seseorang menawarkannya padaku…”

Zahrul terduduk, dia mulai mengerti arah pembicaraan Hikmal. Ia masih berharap kalau yang didengarnya adalah sebuah kebohongan. Namun mata Hikmal menegaskan kejujuran.

“Aku ingin membuat hidup kita jadi lebih baik, Rul… aku ingin membuat hidupku dan hidup orang yang kucintai tidak seberat dan sesusah seperti selama ini…” Hikmal ikut bangun, tangannya membingkai wajah Zahrul yang mulai basah.

Zahrul menunduk. Hatinya Hancur. Lelakinya tidak lagi menjadi miliknya seorang, sudah tidak lagi sejak lebih sebulan lalu. Lebih sebulan lalu sejak baju-baju bagus sering didapatnya, sejak sepatu-sepatu baru sering dihadiahkan untuknya, sejak kantong-kantong bertuliskan nama plaza mewah melewati pintu mereka, sejak makanan-makanan mahal terkemas apik sering dikecapnya, sejak Hikmal menyuruhnya tak perlu ke warung tenda lagi. Sudah sejak itu. Zahrul ingin marah, meluapkan kekecewaannya dengan cara apapun, tapi dia hanya diam.

“Aku janji, Rul… aku tak akan mengkhianati cinta kita. Selamanya kau akan jadi satu-satunya lelaki yang akan kucintai seumur hidupku.”

Zahrul terisak.

“Maafkan aku…” bisik Hikmal sambil membawa kepala lelaki kepada siapa dia baru saja mengucap janji itu ke dadanya, mendekap hangat dan erat di sana. “Aku akan berhenti suatu saat nanti, aku akan berhenti. Namun aku ingin kau percaya, aku hanya mencintaimu saja, bisakah kau meyakini satu hal itu?”

Zahrul menjawabnya dengan isakan. Meluapkan kemarahan dan kekecewaannya dengan terisak di dada sang kekasih.

***

“Aku tak bisa hanya berleha-leha saja di sini!”

Zahrul mengeluarkan uneg-unegnya setelah dua minggu mereka menempati kamar kontrakan yang lebih luas. Hikmal baru saja selesai mandi, ia hanya berlilitkan handuk sebatas pinggang.

“Kebanyakan kafé memiliki pelayan pria berwajah tampan dan berpostur tinggi. Aku yakin kau diterima di kafé mana saja yang mendapatkan map lamaranmu.” Hikmal tersenyum.

“Meski tak berijazah?”

“Ya, meski tak berijazah. Kau yakin ingin jadi pekerja kafé? Aku punya kenalan, dia bisa menguruskan. Kapan kau mau mulai?”

Zahrul berbinar, wajahnya cerah. “Secepatnya…”

“Hemm… tapi sebelumnya, bagaimana kalau kita menggoyang ranjang itu?” Hikmal berujar menggoda sambil menunjuk tempat tidur mereka.

Zahrul tertawa, “Itulah satu-satunya keahlianmu, kan?” lalu naik ke ranjang.

***

“Ya Tuhan, Ik… bagaimana kita bisa membayar uang sewanya?”

Zahrul menatap takjub rumah mungil nan apik di depannya, Hikmal berdiri di sampingnya sambil tersenyum.

“Mengapa kau tak membayangkan saja betapa nyaman tinggal di dalamnya?” Hikmal menggamit lengan Zahrul dan melewati gerbang.

Sesaat kemudian mereka sudah berdiri di teras rumah minimalis yang halamannya dikelilingi cemara. Begitu teduh.

“Aku akan suka tinggal di sini, Ik… sangat suka.”

“Aku tahu, dan aku yakin tak salah pilih ketika membayar tanda jadi sewa pada pemiliknya kemarin lusa.”

“Pasti mahal…” Zahrul masuk ke dalam dan kembali takjub memandang interior rumah baru mereka.

“Aku hanya ingin membuat hidup kita lebih baik. Tak ada yang mahal untuk kita, Rul. Akan kutebus apapun itu untuk membahagiakan kau dan aku.”

Zahrul tersenyum.

***

 Hikmal nyaris ambruk. Zahrul menabraknya hingga terhuyung ke belakang begitu pintu membuka.

“MEREKA BILANG KOPIKU ENAK…!!!”

Hikmal mengernyit, tak mengerti teriakan kekasihnya.

Zahrul merangkul leher Hikmal dan mengecup bibirnya satu kali. “Aku iseng meracik kopi saat jam istirahat, ketika pelanggan sepi, mereka meributkan keenakan kopiku hingga manajer kami merasa perlu melihat apa yang terjadi..”

Hikmal mulai mengerti, lengannya melingkari pinggang Zahrul.

“Mulai besok, aku menemani Zahara jadi barista?” Zahrul mengecup bibir lelaki di depannya lagi.

Hikmal kembali mengernyit, “Barista? apa itu? kedengaran seperti nama kue berbahan mentega. Mereka mau kau menjaga rak kue?”

Zahrul memutar bola mata. “Barista, si peracik kopi, wahai kekasihku Hikmal Ar Rahyan…”

Hikmal tertawa mendengar jawaban Zahrul, nama lengkapnya jarang terdengar dari bibir lelaki yang sedang berganyut manja di lehernya. “Aku semakin mencintai barista-ku ini…” ujarnya sebelum menyerang bibir Zahrul dengan mulutnya.

***

Puntung rokok bertebaran di kakinya. Hikmal hanya merokok jika pikirannya sedang kalut, seperti sekarang. Sudah tiga jam sejak dia keluar rumah dan duduk di halte yang ditemuinya ketika berjalan kaki dalam kekeruhan pikiran, seorang diri, saat larut malam.

Aku mencintainya, sangat. Mungkin dia benar, sudah saatnya aku berhenti, sudah saatnya aku membuktikan kebenaran ucapanku. Lebih dari itu, sudah saatnya dia memiliki ragaku seutuhnya. Aku tak bisa bila kau tak bersamaku, Rul… aku tak bisa…

Hikmal membuang puntung rokoknya yang terakhir, menginjak baranya hingga padam lalu beranjak pulang. Ia harus segera sampai di rumah, harus segera sampai pada lelakinya. Ia akan memeluk lelakinya dan berkata bahwa dirinya siap berubah, siap menyerahkan raganya seutuhnya, siap menjadi seperti yang kekasihnya inginkan. Ia akan jadi kenek angkot, akan jadi pelayan, akan jadi penyapu dan pengepel, akan jadi penjaga pintu, bahkan mantap bila harus jadi pencuci piring dan gelas sekalipun. Ia siap melepas hitam yang melekat lalu menyongsong putih bersama lelakinya, kekasihnya. Ia siap kini, demi satu-satunya lelaki yang ia cintai.

Berjalan kaki, kini Hikmal sudah berdiri di beranda. Tangannya meraih handle pintu, dingin. Hikmal melangkah masuk, ruang tamunya masih terang, ia yakin Zahrul tidak kembali ke sini setelah masuk kamar tadi, semua lampu masih menyala terang.

Hikmal mematung beberapa saat, menyapu kerusakan yang telah disebabkannya beberapa jam lalu. Ruang tamu mereka berantakan, basah dan penuh beling serta bangkai ikan, ditambah meja kayu berukir dalam posisi terbalik. Ia merutuk kemarahannya sendiri yang telah mengakibatkan semua itu. Berjingkat-jingkat, Hikmal berusaha mengembalikan meja ke posisinya semula, setidaknya ada sesuatu yang sudah diperbaikinya. Sisanya akan dibereskan besok pagi, mungkin juga akan mencari akuarium baru dengan ikan hias yang lebih bagus tentunya.

Shit…”

Hikmal mengumpat. Satu bagian kecil beling akuarium berhasil menusuk telapak kakinya yang telanjang. Terpincang-pincang, ia menjauh dari serakan beling. Setelah memastikan kalau lukanya aman, Hikmal memutuskan akan membereskan kekacauan itu sekarang juga. Ia mengambil sapu, serokan, keranjang sampah, gagang pel dan ember.

Saat Zahrul melewati ruang tamu ketika berangkat kerja besok pagi, ia tak akan melihat lagi bukti kekanak-kanakanku.

Hikmal tersenyum, bersemangat ia menyapu beling dan rongsokan penghias akuarium berikut si ikan malang dan memasukkannya dalam keranjang sampah. Setelahnya, dengan bersemangat pula ia mengepel lantai. Hikmal harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera bergabung bersama kekasihnya di bawah selimut, memeluknya erat setelah tentu saja mengecup keningnya terlebih dahulu, mendekapnya ke dada untuk memastikan kalau sang kekasih tetap hangat hingga ke pagi.

Hikmal tersenyum, membayangkan mulai besok hidupnya dan Zahrul akan semakin indah membuatnya gembira. Ia akan mengikuti Zahrul, mengikuti keinginannya. Hikmal siap kembali ke kontrakan sempit mereka yang dulu jika Zahrul menginginkanya, ia siap hidup bersahaja lagi dengan lelaki itu, asalkan cinta tetap jadi perekat mereka.

Bajunya basah dan melekat ketat di badan. Hikmal selesai membereskan ruang tamu. Diliriknya jam di dinding, mendekati pukul empat dini hari. Hikmal mematikan lampu ruang tamu, lampu ruang tivi dan dapur lalu berjalan ke kamar. Ternyata, Zahrul juga tak mau repot mematikan lampu kamar mereka, ia pasti langsung jatuh tidur setelah mereka bertengkar tadi.

Tak apa… aku bisa memandang wajah kekasihku sepuasnya dalam terang. Memandang teduh wajahnya ketika terlelap. Biar saja lampu menyala sepanjang sisa malam ini…

Hikmal mendorong daun pintu.

Dan dunianya berhenti berputar seketika. Rasanya bumi terbelah, rasanya ia berpijak di atas bara, rasanya langit runtuh menimpanya. Kengerian langsung terhampar begitu daun pintu menguak.

Hikmal meraung.

Di sana, Zahrul terduduk kaku bersandar di kaki ranjang. Matanya terpejam, kulitnya seputih kapas, kontras dengan merah basah menggenang di lantai yang bersih.

Hikmal meraung.

Lelakinya, satu-satunya lelaki yang dicintainya kini teronggok bisu, diam ditemani merah dan anyir yang mulai membuat sesak. Merah anyir yang berasal dari lengannya kirinya.

Hikmal meraung.

Pisau cukur menggeletak basah dalam genangan merah. Itu pisau cukur miliknya. Benda itu telah merenggut lelakinya selamanya.

Hikmal mendekap kepala lelakinya erat, meraung memanggil-manggil nama lelakinya. Kaus putihnya basah darah, wajahnya bebercak merah kini, dia mencium lengan lelakinya tanpa henti, mengecup seluruh wajahnya dengan air mata bercucuran.

Hikmal meratap, meraung histeris dengan Zahrul melekat di dada. Hikmal menangis pilu sambil terus mendekap sosok kaku satu-satunya lelaki kepada siapa ia akan menunaikan janjinya, mengabulkan segala pinta atas nama cinta. Kini segalanya sudah tak mungkin…

Di kaki mereka, selembar foto ikut tergeletak bersama satu boardmaker. Dua orang lelaki berpakaian lusuh berfoto saling merangkul bahu sambil tersenyum lepas. Sebuah angkot jelek melatarbelakangi mereka. Di foto itu, tertulis dengan sangat jelas.

AKU MENCINTAIMU, MAAF JIKA CINTA INI HARUS KUBAWA MATI.

Tinta boardmaker itu juga berwarna merah.

***

Kekuatan cinta itu memahadaya

Yakinlah

Ia lebih kuat dari prahara

Lebih dahsyat dari air bah

Dan kadang lebih kejam dari mata pisau yang mengoyak

Kekuatan cinta itu luar biasa

Percayalah

Kuasanya lebih kuat dari terali yang memenjarakan sang tiran

Kuasanya lebih kuat dari baja

Dan lebih kuat dari tembok pualam

Namun kadang kekuatan cinta itu melahirkan kerapuhan

Seumpama rapuhnya daun kering

Laksana rapuhnya kayu yang digerogoti rayap

Tak ubah rapuhnya seperti cangkang telur

Kerapuhan itu membuat luluh-lantak

Kadang juga membinasakan

Cinta yang membinasakan

Adalah cinta yang kekuatannya membuat rapuh jiwa yang mencinta

Maka lalu lihatlah…

Cinta itu membunuh dan merenggut

Memisahkan tangkai dari kelopak

Memutus harap dan angan indah

Lalu ketika sadar…

Kau sudah tak punya apa-apa lagi…

Selain kosong dan sunyi berkepanjangan

***

Sebuah Epilogue…

Papan nisan itu punya nama. Zahrul Fariq Qudsi terlulis di sana, huruf-hurufnya masih hitam dan jelas, baru saja terpacak di atas gundukan merah bertabur bunga. Wangi perkabungan. Sunyi yang menyesakkan, tak ada irama kehidupan di perkuburan, karena ia adalah tanah orang mati.

Seorang lelaki, berbaju hitam, berkopiah hitam, duduk membungkuk sambil memegang papan nisan bernama. Bibir lelaki itu bergetar. Andai air matanya masih bersisa, mungkin saat ini wajah pias itu juga akan tampak basah, tapi kelopak matanya sudah kering sejak pagi tadi. Tangannya menyapu nama di papan nisan, lembut dan perlahan, seakan ia sedang membelai wajah sang kekasih, seakan ia tengah menyentuh punggung tangan orang yang dicinta.

Angin menggerakkan kelopak-kelopak yang bertabur di puncak gundukan merah, meluruhkan beberapa diantaranya hingga ke tanah datar. Angin juga berhembus di wajah pias si lelaki, Wajah berjelaga kepedihan dan kesedihan bertumpuk. Suaranya parau ketika ia berucap lirih.

“Aku berjanji, Rul… aku juga akan membawa cintaku hingga ke mati. Aku akan menjaga cintaku padamu sampai ajal mendatangi. Aku janji… hanya padamu.”

Lalu ia mengecup nama di papan nisan, lama dan lalu terisak, terisak namun tak berair mata lagi. Lelaki itu melepas kopiah di kepalanya, meletakkan di atas gundukan di depan papan nisan. Sebelum beranjak, ia membelai kembali tulisan di papan.

“Aku akan menghabiskan sisa waktuku dengan menjengukmu, Rul… kau tak akan sendirian, aku juga tak akan sendirian… kita tetap bersama meski rumah kita tak sama lagi sekarang….”

Langit sudah menyemburat jingga ketika lelaki itu mengambil langkah pertama, meninggalkan gundukan merah bertabur bunga dan papan nisan bernama. Makam berpapan nisan milik kekasihnya…

Pertengahan Nopember 2012

Dariku yang sederhana

Nayaka Al Gibran

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com