Saya cantik…

Dan saya kuat.

Saya tak butuh pria, apalagi seorang SUAMI…

Karna saya …. Ayah sekaligus ibu untuk anak saya.

^^^^^^^ >(())> ^^^^^^^

Yang saya butuhkan dari pria-pria ini hanyalah uang yang akan dengan mudah mereka keluarkan untuk apa yang telah saya berikan. Lebih tepatnya ‘pelayanan’. Pelayanan yang tak pernah saya nikmati. Hambar, yaa… hanya hambar yang saya rasakan ketika melakukannya. Sehambar rasa air putih yang memancar dari kelamin mereka setiap kali saya oral dan mereka tak kuat menahan birahinya. Sehambar sentuhan penuh nafsu mereka yang mencakar-cakar punggung saya yang telanjang. Dan sehambar rasa darah saya akibat luka sobek di bawah sana. Tapi para pria-pria itu tak pernah tau rasa hambar yang saya rasa. Yang mereka tahu hanya desahan nafas saya yang memburu, lenguhan-lenguhan saya yang mereka kira saya begitu menikmati kelamin mereka yang menancap di dalam bagian tubuh saya. Padahal tidak! Tidak pernah sama sekali saya menikmatinya. Percayakah kamu dengan apa yang saya bilang.

Seperti yang saya tulis di atas, saya hanya menginginkan uang mereka tanpa ada setitik rasa cinta atau nikmat yang saya rasa. Saya berangkat kerja ketika petang, melayani dua atau tiga pria yang sengaja datang ke areal “makam” ini lalu rehat untuk makan malam. Setelah itu kembali duduk-duduk di atas makam agar pria-pria itu bisa melihat saya dan memulai transaksi lagi. Sampai jam 3 pagi baru saya pulang, terseok-seok meninggalkan makam, tempat saya “kerja”. Begitu berulang setiap harinya tanpa ada rasa lelah di hati saya.

Saya punya rumah. Saya tinggal bersama putra saya dan satu orang pria yang mengaku-aku suami saya. Padahal saya sudah bilang saya tak butuh seorang suami . Saya sudah cukup nyaman tinggal berdua dengan putra saya yang sekarang sedang duduk di bangku kelas 4 SD. Tapi pria ini begitu ngotot ingin di anggap sebagai suami saya, begitu ngotot. Dia tinggal di rumah saya, tidur dan makan di rumah saya dan bermalas-malasan di atas tempat tidur saya. Saya di paksa untuk melayaninya setelah saya pulang dari ‘kerja’. Tanpa mau tahu capeknya saya, lelah yang saya derita. Setelah dia mengerang keras di atas saya dia akan tertidur pulas sampai siang, dan setelah bangun dia akan merampas uang saya dan mulai mabuk sampai malam. begitu terus setiap hari. Dan bila ada di antara kamu yang bertanya

kenapa kamu mau saja di perbudak oleh pria yang tak di kenal?”

jawabannya

“saya tak tahu”

Memang benar saya tak tahu. Padahal saya tak butuh seorang suami. Saya tak butuh seorang pendamping karna saya sudah cukup puas dengan hidup bersama anak saya. Kawan-kawan saya bilang kalau saya jatuh cinta dengan pria itu. Tapi saya benar-benar tak tahu, benar-benar tak mengerti.

Seperti malam ini, tepat pukul 03.45 saya sampai di rumah saya. Dan Seperti biasa juga saya akan menengok ke kamar putra  saya untuk sekedar memastikan dia baik-baik saja sebelum saya melayani pria yang mengaku suami saya. Akan tetapi tak seperti biasa kamar putra saya gelap. Hanya setitik kecil lilin yang menerpa wajahnya. Dia menggigil dan mengerang kesakitan. Dengan terburu saya menghampirinya dan mendapati badannya yang sangat panas. Dari mulutnya keluar erangan kesakitan yang menyanyat hati. Kedua kakinya mengangkang tak wajar . Begitu saya berusaha meluruskan kaki itu dia menjerit kesakitan. Dengan suara yang bergetar saya bertanya pada anak saya. Tak ada jawaban, hanya jari kurus itu yang menunjuk ke arah kamar saya. Dan tahu lah saya apa yang telah menimpa putra saya.

Saya tak bisa menangis, tapi pedih di hati saya begitu lekat hingga membuat mata saya berair. Sekuat tenaga saya tak pernah ingin menangis dan terlihat lemah. Seperti malam ini, setelah menenangkan anak saya dan mengipasi lubang anusnya yang menganga dan berdarah saya hanya bisa bersandar di samping tempat tidur anak saya. Hanya isak tertahan saya yang terdengar. Saya bisa melalui semua ujian yang Tuhan berikan kepada saya. Saya mampu menahan perihnya di tampar, di tendang, di jambak bahkan lebih dari itu. Tapi apa yang telah menimpa anak saya benar-benar membuat saya hancur. Saya hancur bersama jeritan kesakitan anak saya. Saya hancur bersama perih yang anak saya rasakan di anusnya,,, saya benar-benar hancur. Dan saya hancur ketika dengan terseok saya berdiri dan mulai berjalan meninggalkan kamar anak saya. Saya hancur ketika dengan perlahan saya masuk ke kamar saya dan menghampiri pria yang telah merusak anak saya. Dan dengan penuh kehancuran saya membelai tubuh itu dan mulai melayaninya. Pria ini tersenyum mesum dan mulai menerima tubuh saya yang berkeringat hebat. Pria ini tak sadar bahwa tubuh yang saat ini dia tindih berwajah dingin tanpa ekspresi. Yang dia perdulikan hanya alat kelaminnya yang keluar masuk di lubang saya dan terus memacunya tanpa berhenti. Sesekali mulutnya menggigit puting saya dan menghisapnya kuat-kuat. Pria ini tak memperdulikan apa-apa, seperti dia tak memperdulikan jerit memohon anak saya yang kesakitan saat anusnya di tembus secara paksa oleh kelamin bodohnya itu. Pria ini tak perduli. Dan tak perduli ketika tanpa sadar tangan saya menggapai asbak di meja samping dipan ini. Dan tak perduli ketika secepat kilat tangan saya menghantamkan asbak itu ke kepalanya yang terangkat pengaruh orgasme yang hebat. Dia tak perduli sampai dia melotot ngeri mendapati kepalanya retak lalu pecah terberai. Apakah dia akan perduli? saya rasa tidak karna saya yakin pria itu telah mati bersama ketidak perduliannya, bersama wajah dingin saya yang seperti kabut pagi pukul 03.00.

^^^^^^^^^^^^

Saya cantik…

Dan saya kuat.

Saya tak butuh pria, apalagi seorang SUAMI…

Karna saya …. Ayah sekaligus ibu untuk anak saya.

Disamping dipan tempat tidur anak saya yang tertidur tak nyaman, di depan meja rias saya menatap diri saya di cermin. Sekarang sudah petang dan saatnya saya bersiap kerja. Tangan saya mulai memoleskan kecantikan di atas wajah saya. Bedak, eye liner, bloush on, lip stick, maskara, semuanya. Saya pakai stokking hitam agar kaki saya yang berbulu lebat ini tak mengganggu penglihatan pria-pria yang akan memakai lubang saya nanti. Terakhir wig blonde ini yang akan melengkapi kecantikan saya. Saya cantik dan saya siap untuk menjajakan lagi lubang anus saya demi uang 10.000 rupiah yang akan di berikan oleh pria-pria itu nanti. Apakah saya perduli? saya tak pernah perduli dengan mereka karna saya hanya menginginkan uang mereka. Hanya uang mereka. Dan juga bila kamu menginginkan cerita yang menghibur serta cerpen romantis yang mengharu-biru kamu tak akan mendapatkanya di cerita saya ini. Karna kamu hanya akan mendapatkan kepedihan yang membosankan, cerita yang hambar , sehambar air mani pria-pria itu.

Adakah kamu seperti apa yang saya alami?

^^^^^^^^^^

Saya tak butuh pria, apalagi seorang SUAMI…

Karna saya …. Ayah sekaligus ibu untuk anak saya.

<Makam kembang kuning>