Hanya secangkir kopi, pena dan buku

Hanya hingar bingar musik dan kepulan asap rokok yang menguar

Pada pena kutuliskan lara

Pada langit kuteriakan luka

Pada angin yang sembunyikan tangisku

Dan padamu kuberikan senyum terbaik

Memangnya aku harus apa?

Berkata benci dan membiarkan topengku retak?

Apa kau akan terus ada, jika saat itu tiba?

 

Di duniaku yang kadang hening

dan terkadang diam

Aku cuma rindu

Entah pada siapa, entah pada apa…

Mungkin rindu akan asa yang membuatku dulu bermimpi

Membuai terlalu dalam, hingga aku lupa saatnya tuk terbangun

Dan melepasnya

 

Bagaimana bisa kutahu waktuku tuk pergi?

Bagaimana bisa kutahu kemana arah jalan ini?

Jika aku bertanya, akankah ada jawab yang kudapat?

Tentang sesuatu yang berarti

Tentang hati yang memilih dan dipilih

Selama ini apa sebenarnya yang aku inginkan?

Apa yang ingin aku buktikan?

Bila ku t’lah lelah mencari

Bisakah aku berhenti sekarang?

Ataukah aku harus tetap tersenyum dan berkata “Aku baik-baik saja.”

Waktuku terus berdetak dan aku tak mungkin hidup seribu tahun lagi bukan?

Pada yang kupercaya.

Pada kata yang dulu kupegang.

Pada janji yang dulu kugenggam erat di ingatan.

Kali ini bisakah aku berkata “Terimakasih” ?

 

 

Sebab terkadang, “Terimakasih” berarti “Selamat Tinggal”

 .

.

.

Kali ini masih ‘Aku’

Entah sampai kapan menjadi ‘Kita’

Dan mungkinkah cuma ‘Aku dan Kamu’

 

YUUKI