Sepasang lelaki itu berangkat menuju gua di atas bukit berbatu. Dalam perjalanan itu, salah satu di antaranya terlihat begitu cemas. kadang-kadang ia berjalan di depan belahan jiwanya, kadang di belakangnya.

Melihat hal ini, Sang Belahan Jiwa bertanya mengapa sang kekasih berlaku demikian. dan sang kekasih menjawab, “Wahai Belahan Jiwaku, kalau

aku teringat pengintai dari depan, aku sengaja berjalan di depanmu, kalau aku teringat kepada para pengejar, maka aku berjalan di belakangmu.”

Lalu Sang Belahan Jiwa bertanya “Apakah kau ingin jika terjadi sesuatu, engkau yang mengalaminya, bukan aku?”

“Ya,” jawab sang kekasih.

Demikianlah, keduanya sampai dan bersembunyi di dalam gua sempit di atas bukit batu. Sementara orang-orang yang menistakan mereka menyebarkan para pencari jejak hingga ke mulut gua. Ketika itu sang kekasih berkata “Wahai belahan jiwaku seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah, niscaya mereka melihat kita.”

Sang Belahan Jiwa berkata “ Bagaimana menurutmu dengan (keadaan) dua orang di mana Allah adalah yang ketiganya. Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”