: Hawa Bersyair

 

aku bertemu seorang hawa, di telaga kata, pada senja

waktu melibas aksara, menuakan usia, hingga aku dan dia selayak

kembara, terperangkap dalam kerangkeng masa.

 

aku bertemu seorang hawa, di muara setangkup pedih, seolah peniti

berbaris merajut luka di bilah-bilah nadi. menghadirkan perih.

mengalirkan deras kenang dalam fragmen yang berloncatan.

menebarkan aroma dendam. aku dan dia menjelma bidara, mencari

cahaya di hutan suaka.

 

aku bertemu seorang hawa, di tingkap ratap, mengharap waktu mampu

menghentikan laju hikayat, mengembalikan almanak yang terkoyak

ini dada masih sebak, dicumbu tanya tak terjawab, tentang cinta yang tak

kuasa dimaknai dalam hampa tak terucap.

 

aku bertemu seorang hawa

bersunting purnama

dan airmata

 

 

NB: untuk semua pertanyaan masa lalu, aku mencoba menulis puisi (?) ini. Aku hanya ingin mendengar satu kalimat dari  bibirmu, Ayah, bahwa kau menyayangiku…