“Anak-anak OSIS sudah berani memindahkan properti klub dari basecamp!”

Aku sontak terkesiap begitu kedua telingaku menangkap apa yang baru saja diutarakan Andity. Seberani itukah mereka sekarang?

“Kau yakin tak salah lihat?”ucapku meyakinkan.

“Yakin 1000 persen, Kak! Demi Gaga! Aku melihat Stevan dan anak buahnya mempreteli semua yang ada di basecamp Little Monster!”

Stevan! Shitt!! Mendadak saja aku tambah muak dengan nama itu.

“Yaudah, kalau begitu, kamu sekarang dimana?”

“Aku di dekat perpustakaan sama Gindra dan Radisa, kami nggak berani mendekat!”

“Okey, kamu tunggu disitu,aku segera kesana!”ucapku.

“Memang kakak nggak ada jam?”

“Tak penting! Klub kita lebih penting dari apapun!”tegasku sebelum menekan tombol ‘end conversation’ di ponsel. Aku menghela napas berat. Amat sangat berat kali ini.

“Ada apa lagi?”sambung Jamal kemudian dengan tampang sok curious yang dibuat-buat.

“Stevan!”jawabku singkat.

“Kenapa lagi dia?”

“Dia dan kawan-kawan OSIS-nya yang nggak punya perasaan itu bener-bener serius mau menggusur klub gue. Mereka bahkan mulai berani mendepak segala apa yang ada di basecamp gue, Mal! Shitt!!”umpatku bernada panik.

Jamal hanya geleng-geleng. “Kok jadi parah gini yaa urusannya.”

Untuk kedua kalinya aku mendesah. “I dont know, Mal! Dendam apa dia sama Lady Gaga sampai kayak gini bengisnya sama gue”

“Yah, I dont know juga!” Jamal mengangkat bahu. “Terus sekarang lo mau gimana?”

“Gue mau ke basecamp! Mau liat-liat dulu”

“Perlu gue temenin?”Jamal menawarkan

Awalnya aku hendak berkata “iya”, namun sedetik kemudian aku berubah pikiran. Aku tak mau melibatkan Jamal yang notabene tak tahu apa-apa. Lagipula aku tak mau memperkeruh suasana. Jamal yang emosian pasti akan memperburuk keadaan seandainya aku dan Stevan (terpaksa) berantam nantinya.

“Nggak usah deh, Mal, I do believe I can do this,”jawabku. Tersenyum pada Jamal.

“Yah, yaudah deh kalo gitu, gue mau gendon dulu ke kantinnya Pak Afgan, jam-jam segini pasti gorengannya masih pada anget, hehehe,”Jamal berceloteh. Membuatku sedikit tersenyum mau tidak mau. Setidaknya dia memang sengaja memaksaku tersenyum. Aku sudah terlalu tertekan akhir-akhir ini.

“Yaudah, thankss yaa, gue cabut dulu,”pungkasku sebelum pergi meninggalkan Jamal yang masih berdiri di koridor sembari nyengir menatap kepergianku.

 

***

Andity, Gindra dan Radisa rupanya sudah berdiri didepan basecamp yang hancur berantakan. Nampak disana hanya tinggal ruangan kecil yang kosong dan berantakan. Sebejat inikah ulah anak-anak OSIS? Mereka bahkan tak memberi kesempatan sedikitpun untuk mempertahankan basecamp. Seminggu yang lalu, kunci yang biasa kupegang telah berpindah tangan secara paksa.

“Ini? Benarkah mereka melakukan ini?”

Andity, Gindra dan Radisa kontan menoleh begitu aku sampai dengan ekspresi keterkejutan yang amat sangat. Raut mereka nampak sendu. Sama seperti rautku yang tak tentu karena dibebat amarah. Bayangkan saja jika apa yang kau bangga-banggakan selama ini dihancurkan secara paksa tanpa sedikitpun alasan logis. Tentu menyakitkan bukan? Setidaknya itu yang aku rasakan saat ini.

“Kami nggak bisa berbuat apa-apa, Kak! Mereka terlalu berkuasa!”jelas Andity dengan suara parau. “Mereka benar-benar buas saat ini.”

“Apa tak ada guru pembimbing yang melarang mereka?”tautku. Gemetar oleh amarah.

“Aku yakin tak ada, Kak! Kita kan memang tak punya guru pembimbing ekstrakurikuler. Kita tak memilikinya.”

“TAPI INI TAK ADIL!! BENAR-BENAR TAK ADIL!!!”pekikku murka. Andai saja Miss Tania-guru yang dulu jadi pembimbing Little Monster-tak resign, tentu kami takkan mengalami hal sepahit ini.

Tapi sekarang semuanya telah terjadi. Dan Stevan beserta gerombolan begundalnya telah nyata-nyata menancapkan bendera peperangan pada Little Monster. Ini tak bisa dibiarkan. Bagaimanapun, aku punya batas kesabaran. Dan inilah batasnya. Demi Tuhan sekalipun, aku takkan pernah membiarkan mereka melakukan yang lebih jauh dari ini.

“Ini nggak bisa dibiarkan,”ujarku penuh amarah. Aku tahu Andity dan dua siswa kelas satu itu tak pernah melihat ekspresiku saat ini.

“Tapi kita bisa apa, Kak?”

“Aku akan menyelesaikannya,”jeda. “Sekarang juga,”ucapku sebelum mengayunkan langkah dengan mantap menuju ruang OSIS. Aku harus menyelesaikan ini semua. Sekarang. Saat ini juga. Aku tak mau menundanya.

“Kak Agung jangan gegabah!”

Langkahku terhenti. Aku menoleh. Andity nampak mencemaskan sesuatu. “Jika aku gegabah, maka aku sudah menghancurkan mereka sejak awal.”

Dan aku kembali melangkahkan kaki. Tak peduli apa yang akan terjadi padaku. Meski aku harus berhadapan dengan dewan sekolah yang mengatasi OSIS sekalipun. Aku tak takut. Setidaknya aku punya hak untuk mempertahankan klub milikku.

***

Kedua kakiku berhenti di depan ruang sekretariat OSIS yang nampak ramai. Mataku tiada henti menyelusur setiap aktivitas anak-anak OSIS yang tengah merapikan properti-properti klub-ku yang kini jadi sampah yang menumpuk diruang itu. Maka dengan emosi yang sudah membumbung diubun-ubun (setelah melihat properti klubku jadi rongsokan), kugedor pintu OSIS dengan kencang.

“Hei! Bisakah kau sopan sedikit? Ini ruang OSIS!”

Sebuah teriakan protes dari cowok berkacamata yang tengah menyusun file-file dalam tumpukan stopmap tak kuhiraukan. Aku tak punya urusan dengan cowok cupu yang sok rajin itu. Tujuanku kemari hanyalah untuk bertemu Stevan, menghajarnya jika perlu. Maka aku-pun terus melangkah masuk kedalam ruangan 25×28 cm itu dan berhenti dihadapan Stevan yang mengobrol dengan beberapa cowok yang berdandanan cupu.

“Mau apa lagi kau?” Suara berat Stevan seketika menyambut kehadiranku. Beberapa anak OSIS yang tadi sibuk dengan urusannya sendiri sontak mengalihkan pandangan kearahku dan Stevan.

“Aku kesini untuk meminta kembali hak-ku!”pekikku sekuat tenaga. Aku tak perduli setinggi apa jabatannya disekolah ini.

Stevan tak segera menjawab, hanya melemparkan seringai memuakkan yang seakan meremehkan. “Meminta kembali hak-mu katamu?”jeda. “Hak yang mana kalau aku boleh tahu?”

Jemariku berkeringat. Gemetar.

“Lo tuh bener-bener biadab yaa Stev!”umpatku emosi. Aku tak pernah suka dengan orang yang plin-plan.

“Hei! Bisa sedikit kau jaga sopan santunmu saat berbicara dengan ketua OSIS?”cowok berkacamata yang tadi sibuk menata file kembali berkomentar. Aku mendengus kencang.

“Dan bisakah kau diam dan nggak usah ikut campur urusan orang?”balasku yang membuat si ‘cowok file’ itu tercekat diam.

“Bisa kita selesaikan ini diluar saja Gung?”Stevan menyela.

“No!”jawabku segera. “Apa kau takut kalau kebusukanmu diketahui oleh anak-anak buahmu?”

Stevan menyeringai,”Apa maksudmu?”

“Udahlah Stev! Coba buka mata lo! Apa yang lo lakuin ini salah! Gue punya hak buat mempertahankan klub yang udah susah payah gue diriin!”pekikanku meninggi. Membuat semua yang ada diruang ini terdiam hening. Pun begitu Stevan.

“Asal lo tahu Stev,”lanjutku. Telunjukku berada tepat di depan wajah Stevan. “Kebencian lo terhadap Lady Gaga itu cuma kesalah-pahaman yang nggak beralasan! Apa yang lo pikirkan tentang Lady Gaga dan Kak Garry itu nggak benar Stev!”

“Tak bisakah lo berhenti menyangkut-pautkan Kak Garry dengan masalah ini?”

Aku membuang napas tanpa ritme. “Kenapa? Lo mau lari dari kenyataan? Lo mau berkelit?”ejekku. “Bagaimanapun juga, inti dari masalah ini adalah antara lo dan Kak Garry! Kau mengerti?”

Please, jangan sebut-sebut lagi nama Kak Garry,Okey?”

“Nggak!”potongku segera. “Kenapa sih lo nggak pernah sedikitpun membuka mata lo pada kenyataan? Kenapa lo tetap angkuh dengan ego lo, hah?”

“Apa maksudmu?”

Aku sudah kehilangan kesabaran dengan sikap pura-pura Stevan.