By: Desem

 

Dia masih terduduk diam tanpa kata. Matanya redup menatapku dalam-dalam. Ada luka di dalam sana. Ada lara teramat sangat.  Tak ada sinar ceria yang dulu pernah memendar. Tak ada pula gairah semangat yang dulu juga pernah menyala. Mata itu makin meredup.

Aku diam menunggu ia bicara. Tapi tidak juga mulut itu mengeluarkan suara. Bibirnya bergetar, seolah mengatakan sesuatu, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“ hhh….” Aku mendesah kesal seraya memberikannya lolly pop  kesukaannya. Berharap bisa membujuknya untuk mengatakan apa yang terjadi, apa yang ia rasakan saat ini. Terlalu menakutkan bagiku untuk menghadapi kenyataan bahwa dia kembali tenggelam dengan dirinya sedniri.

Dia menerimanya, seperti biasa dengan tangan kirinya. Kukira dulu dia kidal, tapi ternyata tidak.

“Karena aku benci tangan kanan!” begitu jawabnya ketika kutanya mengapa dia selalu menggunakan tangan kiri untuk mengambil lolypopnya. “Dan aku sangat mencintai loly pop. Mana mungkin aku menyerahkan benda yang kucinta pada tangan yang kubenci?”

“Mengapa kamu begitu menyukai loly pop?” tanyaku saat itu.

“Nikmatilah Loly pop dengan sepenuh hatimu, karena kamu akan merasakan sensasi yang sangat sensual saat bibirmu mulai menyentuhnya untuk pertama kali, dan ketika lidahmu bermain di setiap bagian itu akan terasa asam dan manis, tekstur warnanya membuat kamu akan semakin bergairah untuk segera melumat dan mengahabiskannya hingga jilatan terakhir[i]”. Begitulah jawabnya suatu ketika kutanya mengapa dia begitu menyukai gula-gula itu.

Namun sekarang dia hanya diam. Tak berkata. Hanya suara decap bibirnya yang mulai sibuk dengan loly pop di tangan kirinya.

Jika kuberitahu engkau siapa dia, tentu kau tak akan percaya. Tidak juga aku ketika pertama kali melihatnya di kursi pasien saat itu. Tentu kau mengenalnya sebagai sosok yang kuat, begitu pula aku. Dan faktanya, dia memang kuat, lantang, tegas tak kenal kompromi. Dia akan terus menerabas, membogkar dan menerjang segala sesuatu yang menurutnya salah. Teluk buyat[ii], blok natuna[iii], gunung emas papua[iv], utang luar negeri yang terus membengkak, korupsi yang menggurita, duka penduduk Porong yang tenggelam oleh lautan lumpur. Dan terakhir kau melihatnya begitu gagah menentang rencana kampanye kondom ke kelompok remaja oleh menteri kesehatan baru demi memenuhi permintaan tuan besarnya melalui MDGs[v].

Tapi, tidak di depanku saat ini, di ruang ini. Dia tidak sekuat itu, dia rapuh. Sama sekali tidak lantang. Bahkan dia tak jua bersuara. Dia hanya sibuk mencecap loly pop di tangan kirinya. Dan dengan segera loly pop itu pun lumer di mulutnya. Meninggalkan noda kemerahan di pinggir bibirnya. Tentu kau tidak akan menyangka bahwa dia begitu jorok, dulu pun aku tak pernah menyangkanya.

Tanpa kuambilkan, dia langsung mengambil loly pop yang kedua, dan tentunya dengan tangan kirinya. Sempat aku yakin bahwa dia kidal, tapi hipotesisku terbantah tatkala dia menenggak segelas air putih yang kusuguhkan dengan tangan kanannya. Dan sampai loly pop kedua itu luner meninggalkan batangnya yang kesepian, dia masih belum juga mau berkata-kata.

Jika jadi aku, tentu kau sudah frustasi. Satu tahun bukan waktu yang singkat untuk membina sebuah hubungan, dan dalam sekejap semua jadi mentah kembali. Dalam setahun ini, si kecil Daniel sudah bisa balas tersenyum saat ayah dan mamanya menyapanya, padahal ketika dia datang, menatap wajah lawan bicara pun dia tak mampu. Dalam setahun juga, bahkan kau sudah ceria menceritakan istrimu yang baik dan anak-anakmu yang lucu, tak ada lagi ide-ide konyol tentang euthanasia[vi] dengan 10 cc suntikan Phenobarbital[vii] intra vena untuk mengakhiri penderitaanmu. Tak peduli lagi engkau dengan kanker yang menggerogoti prostatmu. Tak peduli pula dengan konspirasi para kapitalis yang dulu menghantui mimpi-mimpimu.

Pun begitu pula dengan dia. Terakhir kali aku bertemu dengannya, tepatnya seminggu yang lalu, dia masih lantang, bersemangat jauh lebih baik dari setahun yang lalu ketika dia pertama kali datang. Dan tiba-tiba saja hari ini, dia tak ubahnya ketika pertama kali dia datang, mungkin lebih buruk. Jika saat pertama kali dia datang, dia mengucapkan terima kasih ketika kuberikan sebatang loly pop, maka tidak hari ini. Dia hanya membisu.

Mungkin aku terlalu ambisius, bukankah setiap pasien punya karakter masing-masing? Dan sungguh aku sangat benci seseorang dengan karakter seperti dia. Tak bisa ditebak dan terlalu banyak tahu. Kupikir, apa yang kami lakukan tak ada perkembangan sama sekali, kecuali akhirnya dia mau bercerita panjang lebar tentang masa lalunya. Itu pun sepotong-potong, seperti sebuah puzzle yang sengaja dia berikan untuk mempermainkankku. Dan tepat ketika aku sedang bingung menyusun puzzle-puzzle seperti saat ini, dia akan tersenyum, matanya berbinar gairah. Seperti bocah enam tahun yang berhasil menyesatkan orang dewasa yang bertanya alamat kerabat padanya. Atau seperti remaja yang berhasil menjahili guru matematikanya.

Jancok! Aku mulai tak sabar dengannya, dengan senyumnya kememangannya, aku mulai benci dirinya, aku mulai benci diriku sendiri. Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku? Apakah kebingungankku atas teka-teki? Apakah ketidakberdayaanku menghadapi tingkah lakunya? Ataukah keputusasaanku menunggu kebisuaanya? Untuk inikah aku dibayar?

Jancok! Taik! Bangsat!

Rasanya ingin kutumpahkan semua sumpah serapah ke mukanya. Sayangnya aku tak bisa. Dan dengan tenangnya dia mengambil loly pop di mejaku, tentu dengan tangan kirinya, dan memberikan padaku. Aku menerimanya, seperti menerima kekalahanku. Kami duduk berhadap-hadapan, sama-sama mencecap loly pop, sama-sama belepotan noda-noda merah lumeran loly pop, sama-sama diam saling menatap.

Matanya tersenyum, bukan senyum kemenangan yang selalu aku sangkakan sebelumnya. Tapi senyum kejujuran.

“aku luka…” matanya mulai bercerita. “sepertimu…, kita sama-sama luka. Dunia pun luka. Kau oleh arogansimu, aku oleh arogansiku, dan dunia oleh arogansi dunia. Mengapakah kita tak kembali saja pada masa tanpa arogansi? Masa ketika kita mempersakasikan dan membenarkan sebuah kebenaran dari Yang Maha Benar? Ooh… mungkin engkau lupa kapan itu terjadi, aku pun lupa dan mungkin dunia juga lupa” matanya terus saja mengirimkan sinyal psychotron[viii].

Hah! sejak kapan aku belajar menangkap dan menterjemahkannya? Mungkin kau bertanya begitu, aku juga. Tiba-tiba saja aku punya kemampuan itu.

Jangan-jangan itu hanya halusinasiku saja? Atau bahkan delusi? Mungkin kau akan terus mendebatku. Dan mungkin aku akan menjawabnya, mungkin juga tidak.

Dunia begitu absurd, aku begitu absurd, kau juga absurd, tentunya dia juga begitu absurd, kita semua begitu absurd oleh arogansi yang juga tak kalah absurd. Lalu mengapa kita tak kembali saja ke masa-masa dimana arogansi tak ada? Seperti yang diusulkannya?

Hei! Itu bukan ide yang buruk. Mungkin itu jawabmu, mungkin juga tidak. Aku tak peduli, bahkan tak pernah peduli padamu. Aku doktermu, kau pasienku, dia pasienku, Daniel juga pasienku, mungkin dunia juga pasienku. Lalu mengapa aku harus larut dalam keabsurdan kalian? Mengapa juga aku harus terus peduli padamu yang hanya bisa menorehkan luka menggariskan lara?

Dia masih diam, begitu juga matanya, tak lagi mengirimkan sinyal psychotron. Ah mungkin tadi hanya imajinasiku, aku terlalu lelah. Tangan kirinya bergerak mengambil loly pop ke lima, membuka bungkusnya lalu mencecapnya dengan rakus. Ah setidakanya aku tidak perlu menyuguhkan rokok atau ethanol untuk membuat dirinya tenang. Karena keduanya tidak pernah aku suka. Keduanya hanya untuk orang-orang yang luka dan lara. Dan aku tidak luka maupun lara. Dan dia pun akhirnya tak pernah lagi datang dengan mulut bau rokok dan ethanol. Hanya membawa beberapa batang lolypop di tangan kirinya.

“aku luka… kau tahu itu” matanya kembali mengirimkan psychotron kepadaku. “kau bisa melihat parutnya yang tak akan pernah hilang.”

“siapa yang melukaimu?” aku mencoba mengirim psikotron.

“mereka!” dia menjawab, aku berhasil berkomunikasi dua arah dengannya.

“siapa mereka?”

“di depanmu mereka memujaku, di belakangmu mereka menggagahiku. Tahu kah kau bagaimana rasanya digagahi ramai-ramai? Tentu kau tahu, tapi kau pura-pura tak tahu. Bukankah berandal-berandal itu pun pernah menggagahimu? Menyisipkan sejuta nyeri dan ngilu ke ujung colon rectummu. kau pun meringis nyeri, senyeri dan sengilu papua yang tercabik mesin-mesin Freeport yang menderu. Dan mereka pun mendesah nikmat atas segala luka dan lara yang ada padamu. Lalu mengguyurkan sejuta kehinaan dari batang kebiadaban mereka ke wajahmu seperti Newmont yang mengguyurkan mercuri ke Buyat. Aku luka. Kau pun luka. Aku lara, kaupun lara. Dunia pun nelangsa. Hanya mereka yang terbahak”

“tidak! Aku tidak luka.” Sanggahku. Aku runtuh, tak seharusnya aku larut dalam ocehannya yang bahkan tak terdengar oleh telinga.

“kau luka, kau lara, kau tahu itu meski enkau menyangkalnya, meski engkau mulai menikmatinya. Kau luka oleh mereka yang menggahimu malam itu. Kau luka oleh dia yang meninggalkanmu, lelaki yang bahkan dengan bangganya menceritakan istrinya yang cantik dan anak-anaknya yang lucu padamu. Lelaki yang hanya diam saat berandal-berandal itu mencecap tiap jengkal tubuhmu, seperti korporat-korporat itu mengkavling tiap jengkal negeri ini. Dan tentu kau luka oleh arogansi rasionalisasimu[ix]. Kau berusaha menikmati, tapi kau hanya menipu diri sendiri. Kau luka, kau lara.”

“Hentikan!!” aku benar-benar runtuh. Ya … aku luka, aku lara. Kau pun tahu itu, kau menyaksikanku tapi kau hanya diam membisu, tak satu langkahpun kau ambil untuk melindungiku, tak satupun gerak kau kerahkan untuk menyelamatkanku. Kau hanya diam membisu, menatapku penuh rasa ngilu. Ya … aku luka, aku lara. Kau pun tahu itu. Kau tahu saat aku mulai tenggelam dalam lumpur dunia, dan kau pun hanya membisu.

“tentu! Tentu kita harus menghentikan semua itu. Menghentikan mereka yang terus menorah luka menggaris lara. Menghentikan kebiadaban demi kebiadaban.”

“lalu kenapa kau masih membisu di sini?” ejekku. “ tidak kah orasimu lebih berguna jika kau melantangkannya di gedung yang kau sebut be ha itu?”

“ kemarin mereka datang” sambungnya mendatar. Aku menunggu. “Mereka mengancamku, mereka mengancam akan membunuhku jika terus bersuara menentang. Aku tidak takut ancaman mereka, aku hanya malu. Sama sepertimu, aku malu jika harus kembali kepadaNya sementara diri belum bersih… ”

Lalu dia pun membisu, tak mau berkata. Tidak oleh mulutnya yang penuh noda merah lolypop yang lumer oleh ludahnya, tidak pula oleh psikotron dari matanya. Dia masih mendiam dengan pandangannya yang kelam, penuh luka, penuh lara, penuh kengerian yang teramat sangat. Menyiksaku dengan resah dan gelisah.

Waktu terus bergulir. Dia masih terdiam, aku semakin tersiksa resah.

Waktu semakin bergulir,  mulutnya tak bersuara, matanya tak berkata. Hanya diam yang semakin meresah. Aku tak tahan lagi. Sungguh! Tak ada pilihan lain, aku harus menyingkir, sebelum aku tersingkir.

Ping!

BBM dari sekretarisku, memberitahukan pasien pertama hari ini sudah datang. Aku segera bergegas pergi meninggalkannya yang membisu, meninggalkan sebingkai cermin berdebu yang masih membisu.

FIN

* * *

[i] Filosofi sponsor lomba J

[ii] Teluk buyat: teluk di Sulawesi utara yang terkenal karena pencemaran limbah tailing dari PT Newmont Minahasa Raya, menimbulkan berbagai dampak yang berantai, mulai dari kerusakan ekosistem pantai hingga berbagai penyakit yang timbul karena pencemaran tersebut (minamata disease).

[iii] Blok natuna: Blok Natuna D Alpha, wilayah penambangan gas alam di Provinci Kepulauan Riau dengan bagi hasil 100% gas untuk kontraktor, sementara Indonesia hanya mendapatkan pajak.

[iv] Gunung emas: gunung emas yang dimaksud adalah gunung Ersberg dan Garsberg di kabupaten Mimika Provinsi Papua yang secara resmi dikuasai oleh PT Freeport Indonesia, anak perusahaan dari Freeport McMoran Copper and Gold Inc, sejak tahun 1991. Seperti korporat-korporat besar lainnya, PTFI tidak lepas dari masalah kerusakan lingkungan serta pembagian hasil yang sangat njomplang (1 untuk Indonesia, 99 untuk Freeport) Ironisnya pemerintah seolah tidak pernah tahu kejahatan yang dilakukan korporat-korporat itu. Data lengkap bisa dibaca dari buku Selamatkan Indonesia oleh Amien Rais.

[v] MDGs: Millennium Development Goals. Kesepakatan international tentang tujuan pembangunan Negara-negara di dunia. Terdiri dari 8 goals. Kalau dilihat dari textnya maka tidak ada yang aneh dengan MDGs, semua baik dan bagus. Namun bila dilihat dari realisasinya, maka kita akan tercengang dengan program-program yang berujung pada hegemoni Negara maju kepada Negara berkembang. Goal yang cukup mencuat saat ini adalah goal 6 tentang pemberantasan HIV/AIDS, dimana WHO menekan Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengkampanyekan penggunaan kondom pada kelompok yang berisiko. Selain tidak mengatasi permasalahan akar dari HIV/AIDS, kampanye ini diduga ditunggangi korporat produsen kondom, bayangkan jika kondom menjadi barang wajib di Indonesia yang berpenduduk 200 juta. Berapa keuntungan yang akan diperoleh?

[vi] Euthanasia: program “pembunuhan”pasien yang dilakukan oleh dokter atas persetujuan pasien sendiri atau keluarga, dengan pertimbangan bahwa hidupnya sudah tidak bisa tertolong dan hanya membuat pasien menderita.

[vii] Phenobarbital: obat sedative dan anti kejang. Dalam dosis tinggi bisa melumpuhkan otot-otot termasuk otot antar iga yang menjadi otot pernafasan utama. Menjadi obat protocol untuk euthanasia.

[viii] Psychotron: salah satu hipotesis tentang telepati, sebuah partikel sekaligus gelombang yang dipancarkan oleh seseorang dan bisa ditangkap oleh orang lain. Kemampuan memancarkan dan menangkap orang lain sebenarnya dimiliki oleh setiap orang, tetapi beda tingkat kemampuan. Kemampuan ini bisa ditingkatkan dengan latihan. Menjadi salah satu kajian dalam disiplin ilmu parapsikologi, berbeda dengan di Indonesia yang terkesan mistis, parapsikologi di luar negeri, salah satu pusat penelitian dan pengembanannya adalah di swiss, lebih bersifat ilmiah dan dapat dijelaskan, meskipun masih dalam tataran hipotesis. Bidang kajian lainnya adalah teleportasi (berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejap) dan telekinetis (menggerakkan benda denga kekuatan pikiran).

[ix] Rasionalisasi: salah satu mekanisme pembelaan ego (ego defense mechanism) imatur dengan membuat alasan-alasan pembenaran sehingga kesalahan-kesalahan yang dilakukan tampak wajar adanya. Ada juga yang menyebutnya sebagai intelektualisasi, karena alasan-alasan yang dibuat sedemikian mendukung sampai-sampai tidak ada yang menduga bahwa dia telah bersalah/teledor.