AL GIBRAN NAYAKA’s short story

###########################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ini adalah versi happy end dari kisah Ranti-Ranto. Bagian awalnya sama seperti versi putusya, tapi kata Mbak Afni, versi ini lebih manis. Kekekekek, aku pribadi juga lebih suka yang versi ini. Trims banyak-banyak buat Mbakku… love you so much, Mbak… so much.

Tanpa banyak kata, semoga kalian menikmati mebaca KARENA KITA JENUH seperti aku menikmati ketika menulisnya. Eh, tuliskan keburukannya di kolom komen ya, sangat banyak nih nilai minusnya…

Wassalam

Nayaka

###########################################

 

Ranti melihat pemuda itu berjalan ke arahnya, agak tergesa. Ransel di punggungnya tampak berat. Saat dekat, dia tersenyum pada Si Pemuda, Ranto. Sampai hari ini mereka masih berstatus pacaran.

“Maaf, aku telat lagi… ada lembar tugas yang harus kukumpulkan ke meja dosen.” Ranto melepas ranselnya, meletakkannya di atas meja lalu menghempaskan bokongnya di kursi, duduk tepat di depan Ranti. “Apa kau sudah menunggu lama?”

Ranti menggeleng, “Tidak selama kemarin, aku bahkan belum memesan apapun.”

Ranto melihat sekeliling, “Sepi ya…”

“Hemm… tak banyak yang punya kelas sore.”

“Mau pesan sekarang? Atau kita mengobrol dulu?” tanya Ranto sambil menggulung lengan kemejanya.

Ranti mengangkat bahu.

“Terserah aku? Baiklah…” Ranto mengangkat tangannya, melambai pada lelaki paruh baya yang berdiri di balik rak bakso di bagian dalam kantin.

Mang Ujang –pemilik kantin- berbicara pada gadis yang bekerja untuknya, si gadis segera menghampiri meja pelanggan mereka.

“Pesan apa, Mas?” tanya si gadis sembari siap-siap mencatat di notes kecilnya.

“Apa yang kau butuhkan, Ranti?”

Ranti menatap pemuda di depannya, kejadian di Taman Riyadhah kemarin sore masih membuatnya bingung. Di sana, mereka diam cukup lama, sama-sama duduk terpekur bersisian di kursi taman sebelum akhirnya pulang tepat jam setengah enam petang. Rencana yang sudah disusunnya tak terlaksana, dia belum mengucap putus pada Ranto.

“Ran…?” Ranto memanggil setelah tak mendapat respon gadis di depannya.

Ranti mendesah, “Pesankan apa saja, Ran…” ujarnya.

“Bakso?”

“Mi ayam saja.”

Ranto tersenyum, “Itu melenceng dari apa saja yang kau sebutkan sebelumnya, Honey…”

Ranti merasa ditampar, dia menunduk. Faktanya dia masih mendapat panggilan sayang itu. Keraguan semakin menyingkupinya, dia ragu kalau hari ini dirinya juga tak akan bisa mengucap putus. Ragu kalau cintanya masih sama besar seperti sejak pertama kali bertemu dulu, hanya saja dia tak tahu berada dimana cinta itu selama beberapa bulan terakhir ini hingga memutuskan ingin mengakhiri hubungannya dengan Ranto.

“Mi ayam dua,” ujar Ranto pada gadis pekerja di kantin Mang Ujang.

“Iya, mi ayam dua. Ada lagi?” tanya Si Gadis.

“Sirup dingin, boleh?” Ranto melirik Ranti.

“Aku sedang tidak boleh minum es.”

Lagi, Ranto tersenyum. “Kalimat pesankan apa saja-mu tadi berguguran sudah.”

Ranti menunduk, kegalauan pikiran membuatnya tidak konsen pada apa yang diucapkannya.

“Air mineral saja, Mbak. Bawakan beberapa gorengan juga ya!” Ranto menyudahi pesanannya.

Si Gadis mengangguk lalu kembali menuju rak dagangannya di dalam kantin dimana Mang Ujang bersiaga.

Ranto menatap pacarnya yang masih menunduk, mempermainkan ujung taplak meja dengan jari tangannya. Apakah pikirannya sedang kalut sepertiku? Ranto bertanya dalam hati. Apa dia juga berniat memutuskanku seperti niatku padanya? Ranto ingat kalau di taman kemarin Ranti bersikap aneh, padahal gadis itu yang punya hajat meminta bertemu di taman. Mengingat sikap diam Ranti kemarin, Ranto ragu kalau sebenarnya Ranti juga punya maksud yang sama dengannya. Apakah dia juga menjadi ragu kemarin? Ranto kembali membatin, apa Ranti merasa masih mencintaiku seperti aku merasa masih mencintainya ketika menatap matanya di taman kemarin?

“Apa kau akan diam saja, Ran?” Ranti membuka tanya. “Kau yang mengajak bertemu di kantin, kita di sini sekarang. Tidakkah ada sesuatu yang ingin kau beri tahu padaku?”

Ranto menarik napas, melipat lengannya di meja lalu membuang tatap pada rumpun bunga di sisi kanan kantin. “Kemarin kau juga mengajakku bertemu, begitu aku sampai di sana kau juga hanya diam,” ucap Ranto, masih memandang pada rumpun bunga.

“Aku bingung kemarin…” Ranti berucap lirih.

“Apa yang membuatmu bingung?”

“Hatiku…”

“Ada apa dengan hatimu?” kejar Ranto, dia semakin yakin kalau gadis di depannya punya niat yang sama, ingin memutuskan hubungan mereka.

Ranti menggeleng, “Aku bingung…”

“Apakah kau bingung sejak duduk di taman dan masih begitu hingga sekarang?”

Ranti menatap Ranto yang kini juga sedang menatap padanya, lalu dia mengangguk. “Hatiku membuatku bingung.”

“Ya Tuhan, Ran… kau bisa menularkan bingungmu itu jika terus saja berkata aku bingung, aku bingung…”

“Kau tidak?” Ranti menukas, “Karena aku menilai bahwa kau juga sama bingungnya denganku kemarin.”

Ranto bagai dibungkam paksa, dia susah menelan liurnya sendiri.

“Apa yang ingin kau bicarakan…?” Ranti melirik ke dalam kantin, selain dia dan Ranto yang memilih meja di luar kantin, di dalam sana hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang asyik dengan laptop mereka masing-masing. Sejak dia tiba tadi, keadaan kantin yang berada di dekat gedung fakultasnya ini memang sudah sepi.

“Ran… aku…” Ranto diam. Bagaimana aku mengatakannya?

Ranti mencondongkan badannya ke depan, “Ya?”

Ranto menatap wajah si gadis, “Apa kau masih mencintaiku?” dia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan terlebih dahulu pada Ranti.

Giliran Ranti yang merasa bagai didiamkan secara paksa. Dia kembali menarik badannya, punggungnya kembali bersandar di kursi.

“Pesanannya, Mas…” gadis yang tadi mencatat pesanan mereka datang dengan nampan penuh di tangan.

Ranti membantu Si Gadis menata mangkuk mereka di atas meja. “Trims, Mbak…” ujarnya pada Si Gadis yang direspon dengan senyuman sebelum kembali melenggang masuk ke dalam bersama nampannya.

Ranto mengambil botol air mineral di depannya, membuka tutupnya dan langsung menenggak hingga menghabiskan setengah dari isi botol. Lalu tanpa berkata-kata dia mulai memusatkan perhatian pada mangkuknya.

Hening, hanya denting sendok dan garpu di tangan Ranto yang terdengar. Dia hampir berhasil mengosongkan mangkuk mi ayamnya. “Apapun yang menjadi ganjalan pikiranmu sekarang, Honey… jangan biarkan dia merusak selera makanmu.” Ranto berhenti menyendok, ditatapnya sang pacar, “Lupakan pertanyaanku, okey… kita akan bicara begitu mangkuk kita kosong.”

“Apa kau sendiri masih mencintaiku, Ran?” Ranti berbisik, cukup jelas untuk di dengar pria di depannya. Tangannya terus mengaduk-ngaduk di dalam mangkuk, membuat daging ayam di dalamnya timbul tenggelam di antara belitan mi.

Ranto berhenti mengunyah, “Kemarin sore… apakah kau berencana untuk memutuskan hubungan kita, Ranti?”

Mereka bertatapan, asap dari mangkuk keduanya meliuk-liuk dalam jarak pandang mereka.

“Jujur, aku ingin mengutarakan itu padamu kemarin sore di taman. Sepanjang perjalanan menujumu, aku terus meyakinkan diriku bahwa aku memang benar-benar ingin mengakhiri hubunganku denganmu…”

Meski sudah mengira, Ranti tetap kaget. “Kenapa?” potongnya.

“Entahlah, aku merasa hubungan kita hambar, datar dan tak lagi bergejolak seperti dulu.” Ranto melepaskan sendok dan garpunya, dia kembali menatap rumpun bunga. “Tapi ketika tiba di kursimu, aku malah ragu dengan keputusanku sendiri…”

Ranti terpekur pada sisi wajah Ranto, menatap tak berkedip pria yang sudah berstatus sebagai pacarnya hampir setahun ini. Benar sudah, Ranto juga berniat memutuskannya kemarin.

“Bagaimana denganmu, Ran… apakah salah aku menduga bahwa kemarin kau juga berniat sama sepertiku?” Ranto sudah kembali menoleh memandang gadis pacarnya ini.

Ranti mengangguk lemah, satu kali, lalu menunduk dalam. “Maaf…” ucapnya lirih.

Ranto menghembuskan napas perlahan, “Tidakkah aku juga berhak meminta maaf darimu, Ran? Aku juga berniat memutuskanmu kemarin…”

“Aku yang mengajakmu bertemu…”

“Tahukah, sebelum kau meneleponku mengajak jumpa di Taman Riyadhah, aku juga sudah berniat meneleponmu untuk meminta bertemu. Kau mendahuluiku…”

Ranti diam.

“Apa alasanmu, Ran? Apakah ada pria tak kuketahui yang sedang memikat hatimu?”

Ranti mengangkat wajah lalu menggeleng keras-keras, “Tak ada pria lain…”

Ranto tersenyum simpul, “Lantas…?”

“Aku merasa tak punya cinta lagi untukmu, aku merasa… entahlah, seperti kehilangan loncatan listrik di hatiku. Aku tak lagi merasakan begitu akhir-akhir ini…”

“Jadi, dalam kalimat lain adalah… aku bukan pria lagi yang tepat untuk menerima cintamu?”

“Ran, aku…”

It’s ok, Ranti…”

“Tidak, bukan begitu…” Ranti menelan ludah. “Aku tahu kau adalah pria baik, kau tak pernah berbuat kesalahan selama menjadi kekasihku, kau tak pernah marah-marah, tak pernah memaki-maki, tak pernah bersikap menyebalkan, tak pernah tidak menepati janji, selalu tepat waktu…”

“Kemarin aku terlambat…” tukas Ranto.

“Hanya satu kali saja, itu tak masuk hitungan.”

“Tapi itu tetap terlambat namanya…”

Ranti menggeleng.

“Mendengar dari tuturanmu, sepertinya aku termasuk kekasih terbaik yang pernah ada, lalu mengapa kau malah kehilangan loncatan listrik di dadamu?” Ranto menggerak-gerakkan tangannya di depan dada, memeragakan denyut jantung. “Seharusnya, dengan segala ke-tidak-pernah-an itu, loncatan di hatimu bukannya makin kuat dan menjadi-jadi, ya?” sekarang dia semakin kencang menggerakkan tangannya di depan dada, “Seperti ini…”

Mau tak mau, Ranti tersenyum kikuk. “Jangan konyol, Ran…”

“Aku hanya mencoba memperlihatkan ujud nyatanya saja…” Ranto berhenti menggerakkan tangannya.

“Bagaimana denganmu? Kau bilang merasa hambar, apa kau sudah menemukan gadis yang punya sejuta rasa yang tidak kumiliki?”

Ranto tertawa, “Tidak, aku tidak sedang berusaha menjerat gadis lain. Aku juga sedang tidak terjerat pesona gadis seperti yang kau gambarkan, punya sejuta rasa…” Ranto tertawa tertahan, kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Adakah nama-nama rasa hingga mencacah hitungan satu juta?”

“Jangan konyol!” ulang Ranti.

“Tidak, aku hanya menganalisis kalimatmu saja…”

Ranti mendecak, “Jadi kenapa, Ran… apa yang membuatmu merasa hambar padaku?”

Ranto menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Kau gadis baik, Ranti. Kau adalah cinta pertamaku…”

“Begitu juga kau, Ran…” tukas Ranti.

“Ya, kita sama-sama tahu itu.” Ranto diam sesaat sebelum melanjutkan. “Mungkin aneh, bagaimana aku bisa kehilangan rasa cintaku terhadapmu yang selama ini sudah memerankan peranmu sebagai seorang kekasih dengan sangat baik, tapi itulah kenyataannya… aku merasa hubungan kita tidak sehangat masa awal-awal pacaran.” Ranto diam lagi, “Mungkin keadaan kita sama, Ran… kita sama-sama kehilangan rasa cinta satu sama lainnya.”

Hening kembali, tak ada suara denting sendok dan garpu kali ini. Mangkuk mereka sudah tak tersentuh.

“Apa ini yang namanya fase jenuh dalam sebuah relationship, Ran?”

Ranto diam.

“Bagaimana menurutmu…? Apa perasaan kita ini bisa dikatakan dengan jenuh? Kita bosan dengan pasangan, jemu hingga mengikis rasa cinta yang pernah menjadi modal ketertarikan kita pada sosok pasangan…”

“Aku tak tahu, Ran…” ucap Ranto. “Jika jenuh, seharusnya kita saling menghindar. Tapi kita tidak begitu kan? Selama ini kita masih sering ketemu di kampus, masih sering saling mengirim pesan singkat, aku masih sering meneleponmu, kau juga tak pernah mengabaikan teleponku…”

“Mungkin selama ini kita membohongi diri sendiri…”

Ranto melongo.

“Kita berusaha tetap terlihat seantusias dulu padahal kita tidak dengan senang hati melakoninya…”

“Kau begitu?”

Ranti tidak menjawab.

“Hemm… mungkin kita memang begitu.” Ranto menjawab sendiri pertanyaannya.

“Kemarin, sebelum kau datang… aku berbicara dengan seorang gadis, dia sedang menunggu pacarnya. Dia bercerita kalau diputuskan itu rasanya sakit bila kita masih teramat mencintai sang kekasih, dia pernah mengalami itu, pacar pertamanya memutuskan hubungan mereka di saat dia masih begitu mencintai pria itu. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah kau juga akan merasa sakit ketika kuputuskan nantinya…”

“Hemm…” Ranto menggumam, membiarkan Ranti menyelesaikan ceritanya.

“Aku juga minta pendapat gadis itu. Katanya, andai pun kau terluka, kemungkinan kau akan mudah dan cepat sembuh kembali karena katanya pria lebih kuat dari wanita…” Ranti tersenyum sendiri, “Namun nyatanya, kau juga punya niat untuk memutuskanku…”

Ranto menyeringai, “Azhar malah bilang aku bodoh bila mengakhiri hubunganku denganmu.”

Ranti tertawa, “Kau dapat nasihat apa darinya?”

“Kau ingin tahu?”

Ranti mengangguk, “Katanya, andaipun hubungan kita berakhir, dia berpesan agar aku bisa membuatmu yakin bahwa hubungan kita akan sama baiknya ketika sudah tak lagi berstatus pacaran. Katanya, aku harus bilang padamu bahwa kita akan baik-baik saja dengan jadi sahabat dan kau boleh memintaku untuk mendampingimu kapanpun kau perlu didampingi…”

“Baiknya dia…”

“Yap, gara-gara dia juga aku terlambat menemuimu kemarin, Azhar bicara terlalu banyak.”

Ranti mengangguk-angguk, “Katakanlah kau jadi memutuskanku, andai Azhar tidak berpesan demikian padamu apakah kau sendiri punya pemikiran semacam itu?”

Ranto langsung mengangguk mantap.

“Memang…” ucap Ranti, “Kebanyakan mereka yang break up pasti akan bilang ‘kita akan jadi sahabat yang baik setelah ini, tenang saja,’ padahal begitu putus, waktu mereka akan tersita oleh pacar-pacar baru mereka. Tak ada waktu tersisa untuk menjalin persahabatan dengan mantan pacar… waktu terlalu sempit untuk sekedar bertanya-tanya apakah sang mantan sudah makan siang hari ini? apakah sang mantan sehat-sehat saja? Atau hanya sekedar pesan ‘hai’ saja…” Ranti mengambil jeda sesaat lalu melanjutkan, “Segera, segala sesuatu terkait dengan mantan pacar tak ada yang penting lagi begitu kata putus terucap…”

Ranto menggeleng, “Aku tak akan seperti itu.”

“Trims…”

“Kita belum putus, Ran…”

“Memang… kita sedang membahasnya sekarang…”

Beberapa mahasiswa masuk ke kantin sambil berbicara riuh, mereka langsung disambut Mang Ujang dan karyawannya. Ranto mengikuti kelompok mahasiswa itu hingga ke meja mereka dengan ekor matanya, kantin jadi sedikit berisik dengan kemunculan mereka.

“Dalam pandanganmu, siapa di antara mereka yang paling menarik perhatian?” Ranto iseng bertanya.

“Tidak penting…” Ranti bahkan tak melirik meja tempat beberapa mahasiswa itu berkelakar di dalam kantin sana.

“Ran, serius… cobalah, mana di antara mereka yang potensial punya kesempatan lebih besar untuk dipilih seorang gadis?”

Ogah-ogahan, Ranti melirik mereka. “Tak ada…”

Ranto langsung tertawa, “Padahal yang pake kemeja garis-garis vertikal menurutku punya tampang di atasku.”

Ranti melirik sekali lagi, memperhatikan mahasiswa yang disebutkan Ranto, lalu melengos. “Aku belum rabun, Ran… kau jauh lebih menarik.”

“Artinya, aku masih menarik kan di matamu?” todong Ranto.

“Seingatku, dari tadi aku tidak sekalipun menyebutmu sudah tak menarik lagi.”

Ranto mengangguk-angguk. “Ya ya ya… kau hanya kehilangan loncatan listrikmu… bukan begitu, Honey?”

Ranti tak merespon.

“Keberatan jika aku menghabiskan mi ayamku?”

“Silakan…”

“Kau tak ingin mengikuti jejakku?”

Ranti kembali mengaduk-aduk isi mangkuknya, daging ayam kembali timbul tenggelam dalam lilitan mi. Mangkuk itu sudah tidak berasap seperti beberapa saat lalu.

“Makanlah, Ran… kasihan Mang Ujang bila nanti berfikir mi ayamnya tak lagi enak karena kau menyisakan mangkuk utuh, bisa-bisa dia gulung lapak dan berhenti jualan di kampus kita.”

Ranti tersenyum, pria di depannya masih mempertahankan sifat konyol yang pernah membuatnya klepek-klepek suatu masa dulu. Dia mulai menyendok dengan enggan. Beberapa menit selanjutnya, waktu berlalu dalam kediaman.

“Aku selesai…” Ranto mendorong mangkuknya lebih ke tengah meja. “Hemm… sepertinya Mang Ujang benar-benar akan pindah tugas,” lanjutnya begitu mendapati kalau mangkuk Ranti masih penuh. “Apa aku harus menyuapimu, seperti saat di panti asuhan dulu?”

Ranti tertawa, sekilas momen suap-suapannya bersama Ranto ketika kegiatan Baksos di panti asuhan dulu melintas di kepalanya. Saat itu mereka belum resmi pacaran. “Apa kabarnya ya anak-anak di sana…” Ranti menerawang.

“Yang pasti, mereka masih harus ngantri kalau mau makan dan mandi,” jawab Ranto.

“Jawaban jelek.”

“Itu realita.”

Ranti mengangguk sekilas, “Menurutmu, apa hubungan kita yang berawal dari sana adalah realita juga seperti halnya kebiasaan anak-anak panti itu?”

“Menurutmu?”

“Jangan kembalikan pertanyaanku, Ran…”

Ranto menaikkan sebelah alisnya, “Tentu saja, Ran… hubungan kita nyata kan? Yah, bukankah dulu kita benar-benar jatuh cinta? Aku mencintaimu dan kau mencintaiku, aku tertarik padamu kau juga sama tertariknya denganku, kita lewati hari sebagaimana laiknya orang yang sedang jatuh cinta, itu real kan? Iya sih, sekarang kita sedang mengalami krisis perasaan, tapi bukankah ini termasuk realita juga? Realita dalam sebuah hubungan perkasihan, pasang surut…”

Ranti seperti mendapat pencerahan, pasang surut. Ya, itu dia. Ditatapnya Ranto, lalu berucap, “Pasang surut, tidakkah kau menganggap kalau kita sedang mengalami fase seperti itu? Saat ini kita sedang surut, setelah mengalami pasang di masa awal-awal dulu…”

Ranto mengerjapkan matanya beberapa kali, “Perhaps…” jawabnya singkat.

“Jangan membuatku bimbang, Ran…”

“Ya, baiklah… aku setuju. Hubungan kita sedang memasuki fase surut.”

“Jadi..”

“Jadi?” Ranto menaikkan alisnya lagi.

“Jadi bagaimana menurutmu?”

Ranto bengong. “Mungkin kita bisa membeli kail, cari cacing lalu pergi memancing. Katanya, saat air surut itu banyak ikannya…”

“Kau konyol lagi…”

Ranto tertawa, “Baiklah, daripada mendengar kekonyolanku lagi dan lagi dan lagi, bukankah lebih baik kau yang mengutarakan persepsimu? Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?”

“Yang jelas bukan pergi memancing.”

“Tentu, lantas…?” Ranto mencondongkan badannya.

Ranti tak menjawab, hatinya mencari-cari lagi. Mencoba mengingat bagaimana persisnya perasaan yang sempat menghantamnya kemarin sore di Taman Riyadhah ketika gelisah menunggu kedatangan Ranto. Dia mencoba menjabarkan perasaannya ketika mendongak dan mendapati Ranto tegak menjulang di hadapannya dibalut jaket pemberiannya. Bagaimana persisnya perasaanya saat itu? Bukankah dia sempat berkata dalam hati bahwa dia masih mencintai pria ini?

“Ran…” Ranto memanggil lirih, badannya masih condong ke arah sang pacar. “Bagaimana?”

Ranti membuka tutup botol minumnya, mendadak dia merasa mulutnya kering.

“Yah, kau tampaknya memang perlu minum, Honey…” ujar Ranto lalu kembali menarik diri ke sandaran kursinya. Menunggu Ranti selesai dengan botol air mineralnya, dia meraih piring berisi gorengan dan mulai mengunyah. “Agaknya rasa gorengan Mang Ujang beda hari ini…” Ranto mengecap-ngecap.

“Ada apa dengan rasanya?” tanya Ranti.

Ranto masih terus mengecap-ngecap, “Agak hambar… tidak ada loncatan-loncatan rasa seperti biasanya di lidahku…”

Ranti langsung memberengut, “Kau menyindir hubungan kita?”

“Tidak, cobalah…”

Ranto menyodorkan piring gorengan pada Ranti, Si Gadis menyambut dan langsung mencomot satu gorengan dari dalamnya.

Ranti mengikuti tingkah Ranto, mengunyah perlahan-lahan sepotong gorengan dalam mulutnya. Keningnya mengernyit, “Rasanya masih sama seperti hari kemarin-kemarin kok…”

“Tidak hambar?”

Ranti menggeleng.

“Ada loncatan-loncatan rasa di lidah?”

Bingung, Ranti mengangguk.

“Berarti masalahnya ada di lidahku.”

“Kau membuatku bego…” tukas Ranti lalu meletakkan piring gorengan kembali ke atas meja.

“Tidak tidak… rasanya memang beda di lidahku…”

“Rasanya masih sama.”

“Sama seperti dulu?”

Ranti mengangguk.

Ranto mengangkat bahu lalu meraih piring gorengan kembali, “Carilah kalimat tepat yang ingin kau sampaikan, Ranti… sembari menunggumu bersuara, aku akan mencoba menemukan kembali rasa gorengan yang sama seperti yang pernah dikecap lidahku sebelum ini…”

Lalu Ranto mulai mengunyah lagi, sementara Ranti menatap pacarnya dalam bingung. Apa maksud kalimat Ranto barusan? Apakah dia menganalogikan perasaannya sebagai rasa gorengan? Dia ingin menemukan rasa gorengan yang sama seperti yang pernah dikecapnya sebelum ini, apakah itu Ranto memaksudkan kalimatnya itu bahwa dia ingin membangkitkan kembali perasaan cinta yang sama kepadanya seperti yang pernah dimilikinya dulu? Ranti membatin, jika iya… artinya Ranto tidak jadi memutuskannya? Namun bagaimana dengan dirinya sendiri? apakah dia ingin memutuskan Ranto? Pasang surut, Ranti kembali mengingat istilah itu. Tadi dia dan Ranto sempat setuju kalau hubungan mereka sedang memasuki fase surut, artinya, pasang akan kembali terjadi.

Ranti berdehem, “Ran…” panggilnya.

“Ya?!” Ranto berhenti mengunyah dan menatap mata Ranti.

“Berikan aku jawaban…”

“Untuk pertanyaan yang mana?”

“Apakah kau masih mencintaiku?”

Ranto meletakkan piring, menelan sisa gorengan dalam mulutnya lalu menghembuskan napas perlahan. “Ternyata rasa gorengannya memang masih sama, ya!” katanya. “Seingatku, bukankah tadinya aku yang lebih dulu mengajukan tanya seperti itu?”

“Anggap saja di sini berlaku ungkapan ladies first… anggap aku yang bertanya lebih dulu.”

“Hemm… beruntungnya menjadi seorang gadis.”

“Trims…”

Ranto tersenyum lalu menunjuk pada lengan kiri Ranti, “Aku suka kau masih memakai gelang itu…” ujarnya.

Ranti menunduk memandang gelang di pergelangan tangan kirinya, disentuhnya bandul hati yang menggantung pada salah satu ring gelang putih itu. “Yang terindah yang pernah kumiliki…” ucapnya lalu kembali menatap Ranto. “Kau belum menjawabku.”

Sudut bibir Ranto tertarik, “Apa aku masih mencintaimu?” Ranto bermonolog, “Jika aku menjawab tidak, apa yang akan kau katakan? dan bila aku menjawab, aku masih mencintaimu, apa pula reaksimu?”

“Ran, jangan membuatku tak bisa memantapkan hatiku. Tolong, jawablah.”

“Ya, Ranti…” Ranto mencondongkan badannya lagi, kali ini lebih dekat dari beberapa kesempatan tadi. “Aku-masih-mencintaimu.” Ranto mengucapkan kalimatnya dengan penggalan yang amat sangat jelas dan dengan intonasi yang amat meyakinkan, lalu dia menyambung ucapannya, “Hubungan kita akan segera pasang kembali… andai kau juga menjawab ya untuk pertanyaan yang sama dariku…”

Ranti berbinar ketika Ranto menggenggam jemarinya, dia kehilangan kata-kata. Perasaannya sama ketika gelisah menunggu Ranto di Taman Riyadhah kemarin sore, sama seperti ketika dia mendongak dan menemukan sosok Ranto dengan jaket pemberiannya di depannya, perasaannya sama persis seperti kata hatinya kemarin, aku masih mencintai pria ini…

“Apa kau lupa pertanyaanku, Ran?” Ranto berbisik.

Ranti berkabut sudah.

“Ya Tuhan, Ran… Please, don’t cry…”

“Maafkan aku…”

“Shhh… kau tak salah…”

Ranti menggeleng, “Aku salah pernah punya niat untuk memutuskanmu, padahal kau adalah kekasih terbaik yang pernah ada. Pertama, terbaik dan satu-satunya…” Ranti bocor, matanya basah.

Ranto menggerakkan ibu jarinya di wajah Ranti, menghapus tiap basah yang mengalir di sana. “Maka aku juga salah telah punya niat yang sama, Ran… aku juga sama bersalahnya, mungkin lebih salah lagi…” Ranto membelai puncak kepala gadisnya, “Please, jangan nangis lagi…”

“Hemm… Aku mencintaimu, Ran… aku masih mencintaimu… padahal hatiku sudah lebih awal menyadarinya kemarin sore saat kau berdiri di depanku…”

Yeah, I know…” Ranto menyatukan jemarinya bersama jemari Ranti lalu mengecupnya lama. “Thanks God…” lalu dia menyentuh dagu gadis di depannya. “Tertawalah Ran, kita akan memasuki fase pasang lagi…”

Ranti tertawa dalam tangis, “Maukah kau menyuapi mi ayam ini? aku tak mau Mang Ujang pindah…”

Ranto terbahak, mengecup jemari Ranti sekali lagi lalu mengambil alih mangkuk di depan Si Gadis.

“Beritahu aku jika kau punya niat untuk memutuskanku lagi, agar aku bisa cepat mengantisipasinya. Kenapa? Karena aku pasti akan kehilangan semua rasa makanan di lidahku bila kau mengucap putus…”

Ranto menggeleng, “Aku malah berniat mengenalkanmu pada ayah bundaku…”

Ranti tersenyum cerah. Hari ini, mereka kembali saling menyuapi.

September 2012

Masih di rumahku

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com