AL GIBRAN NAYAKA’s short story

###########################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ini adalah versi putus dari kisah Ranti-Ranto dalam dua post sebelumnya, nanti ada versi dimana cinta kembali menyatukan mereka, hihihiii… bosan yak? Satu cerita banyak versi, yah… gak apa deh, sahabat bisa baca salah satu versinya aja kok.

Gak banyak cuap, semoga kalian menikmati mebaca KARENA KITA JENUH seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

Nayaka

###########################################

 

Ranti melihat laki-laki itu berjalan ke arahnya, agak tergesa. Ransel di punggungnya tampak berat. Saat dekat, dia tersenyum pada Si Lelaki, Ranto. Sampai hari ini mereka masih berstatus pacaran, status yang akan segera tamat beberapa menit lagi. Merenung sepanjang malam hingga pagi tadi, Ranti kini sudah punya kebulatan tekad.

“Maaf, aku telat lagi… ada tugas siswa yang harus kukumpulkan ke ruang guru.” Ranto melepas ranselnya, meletakkan di atas meja lalu menghempaskan bokongnya di kursi, duduk tepat di depan Ranti. “Apa kau sudah menunggu lama?”

Ranti menganguk, ”Sudah sejak sebelum bel pulang berbunyi, jam terakhir kelasku kosong.”

Ranto melihat sekeliling, “Sepi ya…”

Ranti ikut menolehkan matanya ke seluruh penjuru kantin. Selain mereka, tak ada satu pun siswa atau guru magang seperti mereka di sini. Mereka baru melewati dua minggu dari tiga bulan masa magang mereka di SMA ini. Pemilik kantin terlihat sedang membereskan peralatan dagangnya dan memasukkan peralatan itu ke dalam gudang simpannya.

“Sudah jam pulang, kan? Siapa yang sudi berleha-leha di sini? Tidur siang di kasur empuk di kamar sendiri tentu lebih menyenangkan,” sahut Ranti.

Ranto menangkap sedikit nada kesal dalam ucapan gadis di depannya ini. “Kau kesal karena harus menunggu? Padahal aku baru telat dua kali selama masa pacaran kita…”

“Hari ini kau lebih telat dari kemarin sore.”

“Ya, dan kemarin sore kita malah membuang-buang waktu saja. Kau menyuruhku datang namun tak memberitahukanku apapun yang menjadi maksudmu…”

Ranti menatap lak-laki di depannya, kejadian di Taman Riyadhah kemarin sore masih membuatnya bingung. Di sana, mereka diam cukup lama, sama-sama duduk terpekur bersisian di kursi taman sebelum akhirnya pulang tepat jam setengah enam petang. Rencana yang sudah disusunnya tak terlaksana, dia belum mengucap putus pada Ranto.

“Ran…?” Ranto memanggil setelah tak mendapat respon gadis di depannya.

Ranti mendesah, “Kemarin aku bingung…” ujarnya.

“Ya, kau memang terlihat begitu kemarin.”

“Tapi hari ini kau yang memintaku menunggu di sini, seharusnya kau sampai lebih dulu…”

“Oh ayolahbukan kelasku yang tak ada jam. Lagipula sekarang aku sudah di sini. Dan, Tuhan… aku baru satu kali ini sangat terlambat, Honey.”

Ranti merasa ditampar, dia menunduk. Faktanya dia masih mendapat panggilan sayang itu. Lagi, keraguan menyingkupinya sekarang, dia ragu kalau hari ini dirinya juga tak akan bisa mengucap putus. Ragu kalau cintanya masih sama besar seperti sejak pertama kali bertemu dulu, hanya saja dia tak tahu berada dimana cinta itu selama beberapa bulan terakhir ini hingga memutuskan ingin mengakhiri hubungannya dengan Ranto.

Ranto menatap pacarnya yang masih menunduk, mempermainkan ujung taplak meja dengan jari tangannya. Apakah pikirannya sedang kalut sepertiku? Ranto bertanya dalam hati. Apa dia juga berniat memutuskanku seperti niatku padanya? Ranto ingat keanehan sikap Ranti di taman kemarin, padahal gadis itu yang punya hajat meminta bertemu di sana. Mengingat sikap diam Ranti kemarin, Ranto ragu kalau sebenarnya Ranti juga punya maksud yang sama dengannya. Apakah dia juga menjadi ragu kemarin? Ranto kembali membatin, apa Ranti merasa masih mencintaiku seperti aku merasa masih mencintainya ketika menatap matanya di taman kemarin?

“Apa kau akan diam saja, Ran?” Ranti membuka tanya. “Kau yang mengajak bertemu di kantin, kita di sini sekarang. Tidakkah ada sesuatu yang ingin kau beri tahu padaku?”

Ranto menarik napas, melipat lengannya di meja lalu membuang tatap pada rumpun bunga di sisi kanan kantin. “Kemarin kau juga mengajakku bertemu, begitu aku sampai di sana kau juga hanya diam, kan?” Ranto kembali mengulang kalimat yang senada, tatapannya masih tertuju pada rumpun bunga.

“Aku bingung kemarin…” Ranti juga kembali mengulang.

“Kau sudah mengatakannya…”

“Kau juga terus mengulang kalimat yang sama, seakan aku sangat bersalah telah menyia-nyiakan waktu soremu.”

Ranto mendengus, “Apa yang membuatmu bingung?”

“Hatiku…”

“Ada apa dengan hatimu?” kejar Ranto, dia semakin yakin kalau gadis di depannya punya niat yang sama, ingin memutuskan hubungan mereka.

Ranti menggeleng.

“Apakah kau bingung sejak duduk di taman dan masih begitu hingga sekarang?”

Ranti menatap Ranto yang kini juga sedang menatap lekat padanya, lalu dia mengangguk. “Hatiku membuatku bingung.”

“Ya Tuhan, Ran… kau bisa menularkan bingungmu itu jika terus saja berkata aku bingung aku bingung…”

“Kau tidak?” Ranti menukas, “Karena aku melihat bahwa kau juga sama bingungnya denganku kemarin.”

Ranto bagai dibungkam paksa, dia susah menelan liurnya sendiri.

“Apa yang ingin kau bicarakan…?” Ranti melirik ke dalam kantin, Si Pemilik tempat baru saja meninggalkan lapaknya setelah menggembok pintu gudang tempat beberapa peralatan dagangnya telah disimpan. Kini kantin sekolah dimana mereka menjadi guru magang benar-benar sepi.

“Ran… aku…” Ranto diam. Bagaimana aku mengatakannya?

Ranti mencondongkan badannya ke depan, “Ya?”

Ranto menatap wajah si gadis, “Apa kau masih mencintaiku?” dia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan terlebih dahulu pada Ranti.

Giliran Ranti yang merasa bagai didiamkan secara paksa. Dia kembali menarik badannya, punggungnya kembali bersandar di kursi.

“Apapun yang menjadi ganjalan pikiranmu sekarang… alangkah lebih mudah jika kau langsung mengungkapkannya, tak perlu sungkan… ini hanya aku, bukan Pak Kepsek kita.” Ranto menatap lekat sosok di depannya.

“Apa kau sendiri masih mencintaiku, Ran?” Ranti berbisik, cukup jelas untuk di dengar lelaki di depannya.

Ranto mendesah, kalimat tanyanya dikembalikan lagi padanya. “Kemarin sore… apakah kau berencana untuk memutuskan hubungan kita, Ranti?” Ranto malah mengajukan pertanyaan baru.

Mereka bertatapan, kata-kata tak terucap meliuk-liuk dalam jarak pandang mereka.

“Jujur, aku ingin mengutarakan itu padamu kemarin sore di taman. Sepanjang perjalanan menujumu, aku terus meyakinkan diriku bahwa aku memang benar-benar ingin mengakhiri hubunganku denganmu…” Ranto mulai membuka permasalahan mereka.

Meski sudah mengira, Ranti tetap kaget. “Kenapa?” potongnya.

“Entahlah, aku merasa hubungan kita hambar, datar dan tak lagi bergejolak seperti dulu.” Ranto mengangkat pundaknya, lalu kembali menatap rumpun bunga. “Tapi ketika tiba di kursimu, aku malah ragu dengan keputusanku sendiri yang sudah kupertimbangkan masak-masak…”

Ranti terpekur pada sisi wajah Ranto, menatap tak berkedip pria yang sudah berstatus sebagai pacarnya hampir setahun ini. Benar sudah, Ranto juga berniat memutuskannya kemarin.

“Bagaimana denganmu, Ran… apakah salah aku menduga bahwa kemarin kau juga berniat sama sepertiku?” Ranto sudah kembali menoleh memandang gadis pacarnya ini.

Ranti mengangguk lemah, satu kali, lalu menunduk dalam. “Maaf…” ucapnya lirih.

Ranto menghembuskan napas perlahan, “Tidakkah aku juga berhak meminta maaf darimu, Ran? Aku juga berniat memutuskanmu, kan?”

“Aku yang mengajakmu bertemu kemarin…”

“Tahukah, sebelum kau meneleponku mengajak jumpa di Taman Riyadhah, aku juga sudah berniat meneleponmu untuk meminta bertemu. Kau mendahuluiku…”

Ranti diam.

“Apa alasanmu, Ran? Apakah ada pria tak kuketahui yang sedang memikat hatimu?”

Ranti mengangkat wajah lalu menggeleng keras-keras, “Tak ada pria lain…”

Ranto tersenyum simpul, “Lantas…?”

“Aku merasa tak punya cinta lagi untukmu, aku merasa…” Ranti menerawang, “Entahlah… seperti kehilangan loncatan listrik di hatiku. Aku tak lagi merasakan begitu akhir-akhir ini…”

“Jadi, dalam kalimat lain adalah… aku bukan pria lagi yang tepat untuk menerima cintamu?”

“Ran, aku…”

It’s ok, Ranti…”

“Tidak, bukan begitu…” Ranti menelan ludah. “Aku tahu kau adalah pria baik, kau tak pernah berbuat kesalahan selama menjadi kekasihku, kau tak pernah marah-marah, tak pernah memaki-maki, tak pernah bersikap menyebalkan, tak pernah tidak menepati janji, selalu tepat waktu…”

“Kemarin aku terlambat…” tukas Ranto. “Dan sangat terlambat hari ini.”

“Hanya satu kali saja yang parah, itu tak masuk hitungan.”

“Tapi tetap terlambat namanya…”

Ranti menggeleng.

“Mendengar dari tuturanmu, sepertinya aku termasuk kekasih terbaik yang pernah ada, lalu mengapa kau malah kehilangan loncatan listrik di dadamu?” Ranto menggerak-gerakkan tangannya di depan dada, memeragakan denyut jantung. “Seharusnya, dengan segala ke-tidak-pernah-an itu, loncatan di hatimu bukannya makin kuat dan menjadi-jadi, ya?” sekarang dia semakin kencang menggerakkan tangannya di depan dada, “Seperti ini…”

Mau tak mau, Ranti tersenyum kikuk. “Jangan konyol, Ran…”

“Aku hanya mencoba memperlihatkan ujud nyatanya saja…” Ranto berhenti menggerakkan tangannya.

“Bagaimana denganmu? Kau bilang merasa hambar, apa kau sudah menemukan gadis yang punya sejuta rasa yang tidak kumiliki?”

Ranto tertawa, “Tidak, aku tidak sedang berusaha menjerat gadis lain. Aku juga sedang tidak terjerat pesona gadis seperti yang kau gambarkan, punya sejuta rasa…” Ranto tertawa tertahan, kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Adakah nama-nama rasa hingga mencacah hitungan satu juta?”

“Jangan konyol!” ulang Ranti.

“Tidak, aku hanya menganalisis kalimatmu saja…”

Aneh, mereka masih bisa bicara hangat menjelang mengucap kata selesai.

Ranti mendecak, “Jadi kenapa, Ran… apa yang membuatmu merasa hambar padaku?”

Ranto menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Kau gadis baik, Ranti. Kau adalah cinta pertamaku…”

“Begitu juga kau, Ran…” tukas Ranti.

“Ya, kita sama-sama tahu itu.” Ranto diam sesaat sebelum melanjutkan. “Mungkin aneh, bagaimana aku bisa kehilangan rasa cintaku terhadapmu yang selama ini sudah memerankan peranmu sebagai seorang kekasih dengan sangat baik, tapi itulah kenyataannya… aku merasa hubungan kita sudah tidak sehangat masa awal-awal pacaran.” Ranto diam lagi, “Mungkin keadaan kita sama, Ran… kita sama-sama kehilangan rasa cinta satu sama lainnya.”

Hening menggantung di antara mereka. Keduanya berusaha menyelami hati dan pikir masing-masing, mencoba menemukan tujuan akhir mereka. Tidak… bukan menemukan, tepatnya adalah memantapkan tujuan akhir itu.

“Apa ini yang namanya fase jenuh dalam sebuah relationship, Ran?”

Ranto diam.

“Bagaimana menurutmu…? Apa perasaan kita ini bisa dikatakan dengan jenuh? Kita bosan dengan pasangan, jemu hingga mengikis perasaan yang pernah menjadi modal ketertarikan kita pada sosok pasangan seperti ketika pertama kali jatuh cinta…”

“Aku tak tahu, Ran…” ucap Ranto. “Jika jenuh, seharusnya kita saling menghindar. Tapi kita tidak begitu kan? Selama ini kita masih sering ketemu, masih sering saling mengirim pesan singkat, aku masih sering meneleponmu, kau juga tak pernah mengabaikan teleponku…”

“Mungkin selama ini kita membohongi diri sendiri…”

Ranto melongo.

“Kita berusaha tetap terlihat seantusias dulu padahal kita tidak dengan senang hati melakoninya…”

“Kau begitu?”

Ranti tidak menjawab.

“Hemm… mungkin kita memang begitu.” Ranto menjawab sendiri pertanyaannya.

“Kemarin, sebelum kau datang… aku berbicara dengan seorang gadis, dia sedang menunggu pacarnya. Dia bercerita kalau diputuskan itu rasanya sakit bila kita masih teramat mencintai sang kekasih, dia pernah mengalami itu, pacar pertamanya memutuskan hubungan mereka di saat dia masih begitu mencintai pria itu. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah kau juga akan merasa sakit ketika kuputuskan nantinya…”

“Hemm…” Ranto menggumam, membiarkan Ranti menyelesaikan ceritanya.

“Aku juga minta pendapat gadis itu. Katanya, andai pun kau terluka, kemungkinan kau akan mudah dan cepat sembuh kembali karena katanya laki-laki lebih kuat dari perempuan…” Ranti tersenyum sendiri, “Namun nyatanya, kau juga malah punya niat untuk memutuskanku…”

Ranto menyeringai, “Azhar malah bilang aku bodoh bila mengakhiri hubunganku denganmu.”

Ranti tertawa, “Kau dapat nasihat apa darinya?”

“Kau ingin tahu?”

Ranti mengangguk, “Katanya, andaipun hubungan kita berakhir, dia berpesan agar aku bisa membuatmu yakin bahwa hubungan kita akan sama baiknya ketika sudah tak lagi berstatus pacaran. Katanya, aku harus bilang padamu bahwa kita akan baik-baik saja dengan jadi sahabat dan kau boleh memintaku untuk mendampingimu kapanpun kau perlu didampingi…”

“Baiknya dia…”

“Yap, gara-gara dia juga aku terlambat menemuimu kemarin, Azhar bicara terlalu banyak.”

Ranti mengangguk-angguk, “Katakanlah kau sudah memutuskanku, andai Azhar tidak berpesan demikian padamu apakah kau sendiri punya pemikiran semacam itu?”

Ranto langsung mengangguk mantap.

“Memang…” ucap Ranti, “Kebanyakan mereka yang break up pasti akan berkata ‘kita akan jadi sahabat yang baik setelah ini, tenang saja,’ padahal begitu putus, waktu mereka akan tersita oleh pacar-pacar baru mereka. Tak ada waktu tersisa untuk menjalin persahabatan dengan mantan pacar… waktu terlalu sempit untuk sekedar bertanya-tanya apakah sang mantan sudah makan siang hari ini? apakah sang mantan sehat-sehat saja? Atau hanya sekedar mengetik pesan ‘hai’ saja…” Ranti mengambil jeda sesaat lalu melanjutkan, “Segera, segala sesuatu terkait dengan mantan pacar tak ada yang penting lagi begitu kata putus terucap…”

Ranto menggeleng, “Aku tak akan seperti itu.”

“Trims…”

Ranto menyeringai, “Kita belum resmi putus, Ran…”

“Memang… kita sedang membahasnya sekarang…”

Lagi-lagi hening.

Ranto mencoret-coret di atas meja dengan ujung telunjuknya, menyibukkan diri sementara otaknya terus saja berfikir cara yang baik untuk mengakhiri cerita mereka. Ranto mulai mengingat-ingat beberapa kalimat yang telah dipersiapkannya kemarin menjelang berangkat menemui Ranti di taman. Namun kini, kalimat-kalimat itu sudah tak tepat lagi, mereka sudah sama-sama tahu maksud masing-masing.

Ranti kembali mempermainkan ujung taplak meja, pikirannya tak jauh beda dengan Ranto.

“Katamu, kau sedang tidak tertarik dengan lelaki lain…”

“Aku tidak bohong, tak ada yang membuatku tertarik seperti kau…”

“Artinya, aku masih menarik di matamu, kan?” todong Ranto memutus kalimat Ranti.

“Seingatku, dari tadi aku tidak sekalipun menyebutmu sudah tak menarik lagi.”

Ranto mengangguk-angguk. “Ya ya ya… kau hanya kehilangan loncatan listrikmu… bukan begitu?”

Ranti tak merespon.

“Yah, mungkin aku juga yang sudah tak bisa menyetrummu seperti saat awal-awal masa pacaran kita.”

Ranti tersenyum, pria di depannya masih mempertahankan sifat konyol yang pernah membuatnya klepek-klepek suatu masa dulu. Beberapa menit selanjutnya, waktu berlalu dalam kediaman.

“Kau masih ingat bagaimana aku begitu sange ketika pertama kali akrab denganmu?”

Ranti tertawa, sekilas momen suap-suapannya bersama Ranto ketika kegiatan Baksos jurusan mereka di panti asuhan dulu melintas di kepalanya. Saat itu mereka belum resmi pacaran. “Apa kabarnya ya anak-anak di sana…” Ranti menerawang.

“Yang pasti, mereka masih harus ngantri kalau mau makan dan mandi,” jawab Ranto.

“Jawaban jelek.”

“Itu realita.”

Ranti mengangguk sekilas, “Menurutmu, apa hubungan kita yang berawal dari sana adalah realita juga seperti halnya kebiasaan anak-anak panti itu?”

“Menurutmu?”

“Jangan kembalikan pertanyaanku, Ran…”

Ranto menaikkan sebelah alisnya, “Tentu saja, Ran… hubungan kita nyata kan? Yah, bukankah dulu kita benar-benar jatuh cinta? Aku mencintaimu dan kau mencintaiku, aku tertarik padamu kau juga sama tertariknya denganku, kita lewati hari sebagaimana laiknya orang yang sedang jatuh cinta, itu real kan?” Ranto memfokuskan pandangannya pada Ranti, lalu melanjutkan kalimatnya, “Iya sih, sekarang kita sedang mengalami krisis perasaan, tapi bukankah ini termasuk realita juga? Realita dalam sebuah hubungan perkasihan, pasang surut…”

Ranti seperti mendapat pencerahan, pasang surut. Ya, itu dia. Ditatapnya Ranto, lalu berucap, “Pasang surut, tidakkah kau menganggap kalau kita sedang mengalami fase seperti itu? Saat ini kita sedang surut, setelah mengalami pasang di masa awal-awal dulu…”

Ranto mengerjapkan matanya beberapa kali, “Perhaps…” jawabnya singkat.

“Jangan membuatku bimbang, Ran…”

“Ya, baiklah… aku setuju. Hubungan kita sedang memasuki fase surut.”

“Jadi…”

“Jadi?” Ranto menaikkan alisnya lagi.

“Jadi bagaimana menurutmu?”

Ranto bengong. “Mungkin kita bisa membeli kail, cari cacing lalu pergi memancing. Katanya, saat air surut itu banyak ikannya…”

“Kau konyol lagi…”

Ranto tertawa, “Baiklah, daripada mendengar kekonyolanku lagi dan lagi dan lagi, bukankah lebih baik kau yang mengutarakan persepsimu? Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?”

“Yang jelas bukan pergi memancing.”

“Tentu, lantas…?” Ranto mencondongkan badannya.

Ranti tak menjawab, hatinya mencari-cari lagi. Dia menyelami ke kedalaman hatinya sekali lagi, mencoba menemukan sedikit saja perasaan yang sama seperti yang sempat dirasakannya pada Ranto ketika pertama bertemu, pertama berbicara, pertama berpegangan tangan ataupun masa-masa setelah dia menerima kata cinta Ranto dan jadi sepasang kekasih. Namun, hingga lama dan keningnya terasa lembab, dia tidak menemukan perasaan itu lagi. Rasanya terhadap Ranto adalah kosong, tak ada apa-apa.

“Ran…” Ranto memanggil lirih, badannya masih condong ke arah sang pacar. “Bagaimana?”

“Aku perlu minum…” mendadak Ranti merasa mulutnya kering, dia membuka tas dan mengeluarkan botol minumnya.

“Yah, kau tampaknya memang perlu minum…” ujar Ranto lalu kembali menarik diri ke sandaran kursinya. Menunggu Ranti selesai dengan botol airnya.

Ranti menutup botol minumnya lalu berdehem, “Aku takut kalau aku sudah kehilangan semua rasa yang pernah kupunya padamu…” ada jeda, “Aku takut hubungan kita terus surut, tanpa pernah pasang lagi.”

Ranto menghela napas dan menghembuskannya perlahan.

“Bagaimana katamu?”

Ranto diam.

Tak sabar, Ranti buka mulut lagi. “Ran…” panggilnya.

“Ya?!” Ranto menatap mata Ranti.

“Berikan aku jawaban…”

“Untuk pertanyaan yang mana?”

“Bagaimana pendapatmu tentang hubungan kita? Apakah bisa pasang lagi?”

Ranto mengangkat bahu. “Kau takut kalau dirimu sudah kehilangan semua rasamu terhadapku… aku malah takut kalau keyakinanku benar bahwa rasaku padamu juga tak bersisa sedikitpun lagi,” jawabnya. “Kita sama-sama tidak lagi memilikinya, Ran…”

Mereka diam lagi, bermenit-menit. Ranto sibuk dengan tulisan jarinya di atas meja sementara Ranti sudah hampir membuat ujung taplak meja keriting sempurna.

“Baiklah, mari kita perjelas…” Ranto mengambil inisiatif untuk maju membuat keputusan lebih dulu. “Aku akan bertanya, kau hanya perlu menjawabnya dengan satu kata yang pasti.”

Ranti bengong.

“Apakah kau masih mencintaiku?”

Sejenak, Ranti tak membuat sebarang gerakan, bahkan matanya tak berkedip, sepertinya dia juga menahan tarikan nafasnya. Kemudian, dengan suara jelas, gadis ini menjawab. “Tidak.”

Ranto mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menggumam. “Kau tidak ingin memastikan jawabanku?”

“Aku sudah yakin kalau jawabanmu juga tidak.”

“Itu tadi, siapa tahu sekarang hati dan pikirku sudah berubah, kan?”

Ranti tertawa canggung, “Kau sudah merasa hambar padaku berminggu-minggu, mungkin juga beberapa bulan terakhir ini. puncaknya kau juga berencana memutuskanku kemarin. Bagaimana mungkin percakapan kita yang belum satu jam ini bisa mengembalikan perasaanmu untukku lagi?”

Ranto terkekeh. “Yah, aku pikir mungkin kau mau lebih memastikannya.”

“Baiklah, jawab saja. Apa kau sudah tak mencintaiku lagi?”

“Seratus persen yakin, aku tidak lagi menyimpan sedikitpun cinta untukmu lagi.”

“Yah, jelas sudah kan?”

Ranto mengangguk.

“Jelas sudah kalau kita memang tak mungkin lagi meneruskan hubungan kita yang hambar ini, seperti katamu. Tak guna kita mengikat diri dalam hubungan yang sudah tidak menimbulkan getar apa-apa lagi, seperti kataku…”

“Jenuh..” potong Ranto.

“Hemm…” Ranti merespon dengan gumaman.

“Sepertinya istilah paling tepat memang jenuh, ya?”

Ranti mengangguk setuju.

“Kau setuju?”

“Iya, setidaknya istilah itu terdengar lebih baik ketimbang penyebab lain, selingkuh, orang ketiga, pengkhianatan, tertarik pada orang lain, hati mendua dan sebagainya. Meski alasan-alasan itu tak satupun terjadi pada kita… alasan sama-sama jenuh kedengaran lebih masuk akal dan beretika untuk mengakhiri sebuah hubungan.”

Ranto tertawa.

Alis Ranti bertaut, “Apa kalimatku baru saja terdengar aneh dan lucu?”

Ranto menggeleng di sela-sela tawanya, “Itu kedengaran menggelikan…”

Ranti semakin mengernyit. “Kita jenuh? menggelikan? Di bagian mana?”

Ranto berhenti tertawa, lalu menggeleng. “Apa dulu ketika pertama jatuh cinta kau merasa seperti ini : dia akan jadi satu-satunya orang yang aku cintai, tak akan kuduakan, tak akan kulepas, aku tak akan pernah bosan dengannya, tak akan pernah jenuh…” papar Ranto, “Apa kau merasa begitu? Karena ketika naksir dan lalu menyatakan cintaku padamu dulu aku merasa begitu.”

Ranti diam sejenak, lalu mengangguk mengerti sambil mengulum senyum.

Hal ini membuat Ranto kembali terpingkal, “Benar, kan? Dan itulah yang menggelikannya. Apa yang terjadi di sini hari ini sungguh bertolak belakang dengan segala ucap hati saat kita pertama jatuh cinta dan menjalin hubungan.” Ranto berdecak sambil terus menggeleng, “Jenuh… ck… ck… ck… aku tak pernah membayangkan kalau kita, khususnya diriku akan benar-benar merasa jenuh.”

Ranti mendesah, “Tapi kita sepakat kalau itu adalah alasan paling baik, kan?”

“Kau sudah bilang begitu…” Ranto mengangkat bahu, “Apa yang bisa kukakatakan lagi selain menyetujui?”

“Kalau mereka bertanya alasan kita putus, jawaban apa yang akan kau jejalkan ke telinga mereka?” Tanya Ranti.

“Kami putus karena kami jenuh, bagaimana? Bisa seperti itu?”

Ranti mengangguk, “Aku juga akan menjawab demikian kalau mereka mencari tahu dariku.”

Ranto melirik jam karet di lengan kirinya, jarum pendeknya sudah melewati angka dua. Mereka sudah duduk terlalu lama dari waktu yang diperkirakannya semula, tadinya dia berpikir hanya butuh kurang dari setengah jam saja untuk melafaskan kata ‘selesai’ pada Ranti. Dan ini kantin sekolah, bukan kafé apalagi taman. Ah, tak apa, yang penting sekarang masalahku terselesaikan. Batinnya.

Ranti juga melirik jam tangannya, lalu memasukkan botol minum yang telah kosong kembali dalam tas, siap untuk beranjak pergi.

“Jadi… kita resmi putus?” ucap Ranto tiba-tiba ketika gadis di depannya sudah menyandang tali tasnya.

“Tentu saja, sejak beberapa menit tadi kita memang sudah resmi putus,” jawab Ranti, menatap pada Ranto lalu melanjutkan, “Putus tanpa meninggalkan luka…”

“He eh, kayak istilah infotaiment… berpisah baik-baik.”

“Itu bukan hanya istilah untuk artis yang putus pacaran atau putus pernikahan saja, kita juga bisa pakai,” protes Ranti.

Ranto tertawa, kemudian mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. “Ayo, sebagai tanda resmi kalau status pacaran kita sudah selesai.”

Ranti menyalami tangan Ranto sambil tersenyum.

“Dengan ini, dinyatakan bahwa Saudara Mars Suranto dan Saudari Venus Suranti resmi ber-pi-sah…” ucap Ranto jelas dan tegas dengan menekankan kata berpisah di ujung kalimatnya.

Ranti tertawa, “Aku single lagi…”

Tangan mereka terlerai.

“Yah, selamat datang jomblo baru…”

Ranti terkikik, “Jumlah jomblowan dan jomblowati di negeri kita bertambah masing-masing satu jiwa mulai hari ini.”

Lalu mereka bangun dari kursi masing-masing. Saling menatap sejenak sebelum berjalan pulang tanpa bergandengan tangan.

Satu kisah cinta dua anak manusia baru saja berakhir hari ini.

 

September 2012

 Pada meja dan kursi di rumahku

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com