CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku senang, blog ini ternyata juga dipilih beberapa sahabat untuk memajang buah karya mereka. Kali ini ada Yoshian, katanya, ini tulisan pertamanya yang dipublikasikan. Dan menurutku lumayan bagus, bahasanya gak kaku, alurnya juga terarah. Secara keseluruhan, aku tak perlu lagi mengeditnya. Tapi seperti beberapa tulisan sahabat yang masuk ke email, PILIHAN PELANGI juga masuk dapur editingku, kekekekekek. Tidak banyak kesalahan (Yoshian, silakan senyum sumringah), tapi tetap ada mistake2 kecil, berikut aku beberkan: huruf kecil di hampir semua awal kalimat dialog –seharusnya huruf Kapital; tanda petik yang salah –jangan pakai spasi; penggunaan ‘–ku’ yang salah, hampir semuanya diberi spasi padahal seharusnya digabung dengan kata yang mengikuti di depan atau di belakangnya; kata depan di- juga masih ada beberapa yang salah tulis. Selebihnya hanya kalimat-kalimat yang agak rancu dan itu tak banyak.

Yoshian, maaf… ada beberapa detil yang aku ganti ya, dan juga satu scene yang aku rasa tak cocok, adegan pantai antara kakak adik, ciuman bibirnya aku ganti tuh, hihihiii… tapi gak ngubah esensi ceritamu kok, semoga aku gak dipentung.

Dan… maaf juga untuk emailmu yang mengendap lama di spamku, aku tak akan pernah tahu kalau ada tulisan bagusmu di akun yahooku kalau tidak mengobok-obok spamku tadi pagi. Maaf. Sahabat sekalian tau? Email Yoshian berisi tulisan ini sudah sejak tanggal 11 oktober loh, dan si Yoshi diam-diam aja selama itu, aku geram kenapa dia gak ngomong di sini yak…

Last, aku rasa ini pantas dibaca, jadi… luangkan sedikit waktu untuk menatap layar kalian yak…

Wassalam

Nayaka

________________________________________________

Ini adalah perjumpaan keduaku dengan pemuda yang baru saja aku ketahui bernama Distan itu.Pertemuan sebelumnya terjadi ketika aku sedang berada di kios cokelat yang rutin aku kunjungi tiap luang atau usai sekolah. Waktu itu akhir pekan, aku tengah bingung  mencari dompetku yang sebelumnya aku selipkan di saku bagian belakang celana, namun saat aku bermaksud mengambilnya untuk membayar, aku tidak menemukan dompetku lagi. Alhasil, aku harus mengembalikan benda manis yang sangat aku gilai itu kedalam raknya semula. sedang  sibuk mengingat-ingat kemungkinan aku lupa menaruh uangku, seorang laki-laki yang aku tafsir berusia beberapa tahun lebih tua dariku datang menghampiri, kemudian bertanya

“Apakah ada masalah?”

Aku yang kala itu belum mengenalnya hanya mengangguk saja, dan menceritakan perihal dompetku yang hilang. Tanpa aku sangka, dengan begitu berbaik hati dia mengambil banyak batang cokelat dan menyeretku ke kasir kemudian membayarkan semuanya.

“Terima kasih, aku akan mengembalikan uangmu lain waktu.” Ucapku berterima kasih. Dia hanya mengangguk kemudian berlalu begitu saja. Tapi…. Tunggu..!!! siapa namanya? aku berusaha mengejar, namun sama sekali tak dapat kutemui sosoknya. Bagaimana aku akan mengembalikan uangnya jika namanya saja aku tak tahu? Belum lagi identitasnya yang lain. Sungguh bodoh, mengapa aku tak menanyai namanya tadi.  Sepanjang perjalanan pulangku, aku hanya sibuk merutuki kebodohanku sambil berpikir bagaimana cara aku bisa menjumpainya lagi untuk mengembalikan uangnya.

***

Aku sedang berada di alun-alun kota bersama Davin, tetangga sebelah rumah yang juga merangkap jabatan sebagai sahabatku sedari kecil. Kami tengah asik berkutat dengan kanvas dan alat lukis kami, namun tiba-tiba sebuah bola menghampiri kami dan sukses memporak-porandakan peralatan menggambar kami, khususnya punyaku. Aku sangat kesal dan berusaha mencari sumber datangnya bola sial ini. Tak perlu waktu lama aku segera menemukannya, dari kejauhan terlihat remaja laki-laki berlari ke arahku. Dengan nafas yang tak beraturan dan peluh bercucuran dia menghardik meminta kembali bola sialnya itu. Namun karena masih kesal, aku tetap menahan bolanya dan meminta pertanggungjawaban dari si empunya bola.

Lama kami berdebat, hingga sebuah suara menghentikan percekcokan kami.

“Mike, nape lu lama banget? Mana bolanya ?” teriak seseorang dari belakang cowok belagu tak bertanggung jawab yang ternyata bernama Mike itu.

“Jangan salahin gue, nih anak gak mau balikin kita punya bola.” Balas orang bernama Mike  sambil menunjuk ke arahku.

Teman Mike yang berteriak tadi berjalan mendekat kearah kami. Dan kalian tau? ternyata dia adalah orang yang  membayarkan cokelatku tepat dua pekan yang lalu. Seperti masih mengenaliku, dia hanya tersenyum kemuadian meminta bolanya kembali.

“Ternyata kau manis, apakah boleh kami meminta kembali bola kami ?”.

“Distan, lu kenal ama nih bocah bawel? tau gitu mending lu aja yang ngambil bolanya tadi. Biar gue gak perlu repot adu debat sama dia.” Ujar Mike dengan muka masamnya yang hanya dibalas dengan sekali anggukan oleh lelaki yang dipanggilnya Distan, si penebus coklatku.

Ternyata orang yang memenuhi ruang pikiranku dua pekan terakhir ini bernama Distan. Karena aku merasa masih berhutang denganya, akhirnya dengan sangat berat hati aku mengembalikan bola sial itu. Merasa menang bisa mendapatkan kembali bolanya, Si Mike pun berlari menghampiri teman-temannya yang sudah cukup lama menungguinya. Sedangkan Distan, dia masih tinggal dan ikut membantu aku dan Davin membereskan peralatan lukis kami yang berantakan itu.

“Maaf untuk bola kami yang menghancurkan acara melukis kalian. Aku sungguh akan bertanggung jawab atas semua ini, dan apa yang bisa aku lakukan buat menebusnya?” ucap Distan kepada kami saat sedang berbenah.

Jujur aku masih sangat marah, namun rasanya tak tau diri sekali jika aku masih meminta pertanggungjawaban setelah dia membayarkan cokelatku tempo hari.

“Emm… tidak perlu, kami tidak …..”

“Apa? tidak perlu? enak aja, gue udah ngerelain waktu jalan gue sama Kila khusus buat nemenin lo ngelukis di sini yang justru menjadi berantakan, tapi lo malah bilang nggak perlu. Lo tu gimana sih Tan?” sela Davin keras tak ber-space sekaligus menyalahkanku.

“Dav, lo diem deh. Lo tau? dia itu yang udah bayarin cokelat gue tempo hari.” Hardikku dongkol berusaha memberitahu Davin supaya tidak marah-marah lagi. Dan baiknya, Davin pun langsung mengerti dan berbalik meminta maaf.

“Maaf, gue nggak tau.”

“Hahaha… kalian itu lucu sekali. Sudahlah tak apa, nanti kuberikan cokelat buat kalian sebagai tanda permintaan maafku.” Ujar Distan

“Ta… tapiii……”

“Tapi apa TITAN? bukannya lo seneng banget sama cokelat? pake acara sok nolak segala.” Potong Davin lagi dengan menekankan suaranya saat menyebut namaku yang sukses bikin aku malu. Sungguh luar biasa, mahluk bernama Davin itu memang banyak sekali bicara.

“Hei.. makanya lu diem dulu. Gue kan belum kelar ngomongnya. Main potong aja.” Davin kembali mendapatkan pelototanku. “Aku masih punya hutang  yang belum dibayar sama kak Di… emm Da… eh…!@!#$!@.” aku lupa namanya.

“Distan”

“Iya, Kak Distan maksudku.”  Entah kenapa sebutan kakak meluncur begitu saja dari mulutku

“Hah? Kakak? ganjen banget lu, Tan.” Timbrung Davin lagi yang hanya kubalas dengan tatapan sinis.

“Hahaha… kalian ini, baguslah. Kalian memang harus memanggilku Kakak, karena aku memang lebih tua dari kalian. Dan hutang Titan sama Kakak sudah dianggap lunas, semoga Kakak tak salah menyebut namamu tadi.” katanya sambil menunjuk ke arahku.

“Right, makhluk manis ini emang Titan. Dan gue Davin.” Ucap Davin lantang sambil menjabat tangan Kak Distan. Pede sekali dia, bukannya tadi Kak Distan menanyai aku, tapi kenapa malah dia yang memperkenalkan diri. Tidak tau malu, dasar Davin.

“Baiklah, sekarang angkat alat lukis kalian dan bawa ke mobil, Kakak akan mengantar kalian pulang setelah kakak melunasi janji membelikan cokelat untuk kalian.”

Tanpa berfikir lama, kami pun mengekor di belakang Kak Distan. Sebelum maghrib, Kak Distan sudah mengantar kami sampai rumah. Kebetulan rumahku dan Davin bersebelahan. Dengan berbasa-basi aku mengajak Kak Distan mampir barang hanya sebentar, namun dia menolaknya dan berjanji akan datang berkunjung lain kali.

I’ll be waiting…

***

Hubunganku dengan Kak Distan berjalan cukup baik, bahkan aku sudah tidak dapat menghitung lagi berapa kali aku bertemu dengannya. Karena sangat sering, sepulang jam sekolah dia akan menungguiku di depan gerbang untuk kemudian mengantarkanku pulang. Dia begitu menunjukan perhatiannya kepadaku. Perhatian yang aku rasa berbeda dengan perhatian yang diberikan seorang teman, atau perhatian kakak kepada adiknya, tapi perhatiannya sungguh… tidak bisa aku jabarkan. Namun demikian, aku sangat menyukainya. Aku memang mberharap begitu, karena jauh di lubuk hatiku, aku telah menjatuhkan pilihan cinta pelangiku teruntuk dia seorang.

Aku akui, sejak pertama bertemu dengannya Aku sudah merasa benar-benar jatuh hati padanya. Kak Distan, cowok putih jangkung 19 tahun mahasiswa jurusan Arsitektur semester tiga. Pembawaanya yang tenang dan ramah, juga perawakan yang kekar tak berlebihan, serta ketampanannya yang selalu terpancar sungguh mampu membuat darahku berdesir dan jantungku berdegup kencang.

Ingin sekali aku mengungkapkan betapa aku menggilainya lebih dari aku menggilai cokelat yang sudah mencapai level akut itu. Aku sungguh tak kuat lagi harus memendam rasa ini lebih lama. Namun aku sadar, cintaku ini bukanlah cinta yang biasa. Bukan juga cinta yang umum dari Kaum Adam kepada Kaum Hawa. Melainkan ini adalah cinta pelangi, cinta seorang laki-laki kepada laki-laki juga. Aku takut akan mengubah semuanya, dunia indahku bersama Kak Distan, jika aku nekat mengungkapkan apa yang hatiku rasakan. Walau seperhatian dan sesayang apapun Kak Distan kepadaku, namum besar kemungkinan bahwa dia tak sama denganku, bahwa dia bukan dari kalangan kaum pelangi seperti halnya diriku. Kak Distan, mengapa kau begitu baik padaku? mengapa kau begitu perhatian kepadaku? itu semua membuatku bimbang. Apa sebenarnya yang kau rasakan terhadapku. Cintakah? sayangkah? atau hanya sekedar main-mainkah? aku benar-benar bisa gila jika harus selalu berada pada situasi seperti ini.

***

Aku begitu terkejut, tak menyangka ketika seminggu lalu ayah dan bunda memberitahukan suatu hal kepadaku. Bahkan aku juga melihat gurat kesedihan dan ketidaksenangan di raut muka Davin yang kebetulan sedang berada di rumahku.  Ayah memberi tahu bahwa kami sekeluarga harus pindah ke kota Dewata lantaran mutasi yang dilakukan perusahan untuk ayah. Aku seperti ingin menangis, aku berusaha menolak. Aku meyakinkan ayah dan bunda kalau aku sanggup hidup di sini walau jauh dari mereka. Aku meyakinkan akan ada Davin dan Kak Distan yang akan sedia membantuku di sini. Namun nihil, mereka tetap kukuh dengan keputusan bodoh itu. Alhasil, dengan teramat sangat berat hati aku hanya bisa menurutinya.

Besok pagi, aku harus meninggalkan kebahagiaanku di sini, meninggalkan teman baik seperti Davin, terlebih meninggalkan cinta yang sudah kupatri untuk Kak Distan. Aku benci takdir ini, takdir yang mengharuskan aku jauh dari kebahagiaanku sendiri. Aku menangis sampai sesenggukan, sejak kemarin tak ada kabar dari Kak Distan. Sejak mengabarkan perihal perpindahanku pada Kak Distan beberapa hari yang lalu, dia seperti menghindar dariku, begitu juga Davin. Aku sadar, mereka marah besar. Tapi harusnya mereka juga tau, aku tak memnginginkan ini. Jika boleh memilih, tanpa harus berfikir dua kali aku akan memutuskan untuk tetap  tinggal di sini, dekat dengan mereka. Aku begitu terpukul, belum lagi tiba hari keberangkatanku, namun aku sudah merasakan kehilangan sebesar ini.  Entah sudah keberapa kalinya aku  menghubungi Kak Distan, namun tak ada satupun panggilanku yang dijawabnya. Pun demikian dengan seabreg pesan-pesanku, tak ada yang diindahkannya. Kak Distan, kenapa kakak menyiksaku seperti ini. Tangisku pecah semakin menjadi-jadi. Aku hanya ingin untuk yang terakhir kali bertemu dengannya barang beberapa kejap saja.

Waktu sudah menunjukan pukul satu lebih empat piluh dini hari, namun tangisku belum juga reda. Sesak sekali, sakit sekali. Ingatanku berulang kali mereply potret-potret kebersamaanku dengan Kak Distan. Saat kami bercanda, saat kami tertawa, saat aku atau dia sedih, juga saat aku menangis karena keusilannya. Semua itu terus terngiang-ngiang di dalam otak kecilku. Aku tersadar dari lamunanku ketika benda kecil di sebelahku bergetar. Ada panggilan masuk rupanya, dan betapa tersentaknya aku kala mengetahui bahwa itu panggilan dari Kak Distan. Tanpa babibu aku langsung menjawab panggilannya. Terdengar suaranya yang lemah dari corong hapeku.

“Kak Distan?” lirihku sambil menangis.

“iya…” itu sungguh suara yang begitu aku rindukan. Tapi suara itu bergetar, seperti terisak dalam diam.

Kak Distan menangis? apa dia begitu marah padaku? apa dia begitu terluka atas kepergianku?

“Titan, turunlah. Kakak ada di bawah.” lanjutnya yang kemudian disusul bunyi tuuttt panjang pertanda dia memutuskan teleponnya.

Aku menengok ke luar jendela, di sana di depan gerbang berdiri sosok yang begitu aku harap kehadirannya. Aku berlari keluar menuju sosok indah yang sedang terkoyak itu. Kuhamburkan tubuhku memeluknya saat dia sudah berada di depan mataku. Dia juga balas memelukku tak kalah erat. Aku terisak dalam dekapannya, menangis sesenggukan, begitu tak ingin jauh darinya. Dia bukan kekasihku, namun hatiku sudah kupersembahkan teruntuk dirinya seorang. Kak Distan mengangkat daguku, kemudian menatap lekat mataku. Aku melihat kelopaknya berair, aku sudah tau kalau dia juga menangis sedari tadi. Lama kami saling beradu pandang, kemudian didekatkannya wajah letih itu kearah wajahku, dalam kedipan mata bibirku terasa basah. Dia menciumku, begitu hangat dan dalam. Lama kami bertahan dalam moment indah itu, hingga dia melepaskan bibirnya dariku dan berbisik.

“Kaki kakak tidak begitu kuat untuk menopang berat badan Titan… itu.” Katanya sambil mengangguk dalam, menunjuk kaki kami berdua.

Aku yang tersadar hanya tersenyum. Ternyata selama berciuman tadi kedua kakiku berada di atas sepatu Kak Distan. Wajahku berubah merah seketika, ya jelas karena aku malu. Dan… ciuman barusan memperjelas segalanya antara kami berdua.

“Kenapa Kakak tak menjawab teleponku, juga tak membalas satupun pesan dariku. Menghilang begitu saja. Apa kakak marah?” tanyaku dengan begitu polosnya saat kami sudah berada di dalam mobil.

“Lihat mata kakak, apa ada gurat amarah disana?”

“Aku tak melihat apapun, karena di sini terlalu gelap.” Balasku.

Dia tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. Kemudian dia menyalakan lampu di dalam mobilnya.

“Kakak bukan menghilang, hanya butuh waktu untuk menerima keadaan ini. Titan tau? kakak begitu tersiksa, begitu sakit yang tiada tertara di sini.” dia meletakkan tanganku di dadanya, aku tau yang di maksud adalah hatinya. “Entah kenapa dan bagaimana, kakak juga tak tau. Namun akhirnya kakak sadar, kakak tau jawaban pastinya, bahwa kakak tidak mau kehilangan Titan, hati ini menginginkan selalu berada di dekat Titan. Karena hati kakak memilih Titan. Kemudian dia menuntun kakak ke sini. Untuk mengatakan bahwa kakak mencintai Titan, menyayangi Titan, dan teramat sangat menginginkan Titan. Sedari dulu…” Lanjutnya dengan suara parau.

Aku tak tau harus menjawab apa, aku begitu bahagia mendengar penuturannya itu. Terlalu bahagia sampai tak dapat bersuara. Air matapun menitik, itu air mata bahagiaku.

“Apa kakak tau, betapa tersiksa memandam cinta Titan buat kakak selama ini. Hati Titan juga sudah memilih kakak. Titan sayang kakak. Titan sangat cinta kakak.”

“Kakak tau itu, dan semoga belum terlambat untuk kakak mengatakan ini, apa Titan mau jadi pacar Kak Distan?”

“Apakah ada alasan buat Titan untuk menolaknya?”

“Hmmm…. Baguslah, jika sudah jelas begitu maka tak ragu lagi untuk kakak meminta ini… Jagalah hati Titan hanya untuk kakak seorang. Berjanjilah takkan pernah ada nama lain di hati Titan. Itu hanya punya kakak, itu cuma milik kakak. Apa Titan mau berjanji?” bisiknya menatap lekat mataku.

“Apa kakak juga akan melakukan hal yang sama?”

Dia mengangguk.

“Titan janji hanya akan mencintai kakak, hanya akan menyimpan nama kakak di sini, di hati Titan.”

Entah siapa yang memulainya, bibir kamipun sudah menyatu kembali. Lidahnya menyapu dinding-dinding mulutku. Mengulum bibirku lembut, sungguh nikmat dan nyaman. Getarannya terasa sampai ke hati. Dia orang pertama yang menciumku, aku begitu bahagia karena Kak Distan yang melakukannya.

Tok… tok…

Ciuman kami terhenti. Seseorang mengetuk kaca mobil Kak Distan. Karena kaget reflek aku mendorong badan Kak Distan hingga kepalanya membentur kaca depan mobil. Dan aku? bibirku tergigit hingga mengeluarkan darah. Setelah kaca pintu mobil di buka, sosok Davin dengan muka tak berdosanya itu menengok ke dalam.

“Apa kalian bakal ngerayain hari jadi kalian tanpa partisipasi dari gue?”

Ya Tuhan, makhluk itu tahu… Serentak kami bertiga lantas terbahak hingga memecah keheningan malam. Aku tak menyangka atas respon Davin mengenai cinta pelangiku, dulu aku mengira dia akan menjauh jika tau penyimpangan yang terjadi padaku. Tapi nyatanya aku salah, dia begitu terbuka menerima perbedaanku. Aku bangga padanya. Kalau sudah begini, maka aku merasa sujuta kali lebih berat untuk pergi. Perih pasti ada, sedih apalagi. Namun aku patut berbangga, karena aku akan pergi membekali hati Kak Distan. Aku sedih, tapi aku juga Bahagia.

***

Sudah tiga bulan  aku berada di sini. Di tempat baruku di antara hiruk pikuk kota Bali yang tak pernah sepi. Aku sudah punya beberapa teman di sini, mereka itu tak kalah gokil dengan Davin atau teman-temanku di kotaku dulu. aku juga sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan di sekitarku. Aku mendapatkannya,  sekolah yang baik, teman yang baik, dan hari-hari yang baik juga. Terlepas dari itu, aku sungguh teramat sangat sibuk dengan rutinitasku di sini.

Dan satu lagi, aku teramat sangat rindu dengan kebahagiaan yang aku tinggalkan di sudut kota sana, aku rindu sahabatku, terlebih kepada cintaku. Dan besok lusa, awal liburan akhir semesterku, dengan berbekal ijin dari ayah dan bundaku, aku memutuskan untuk pulang ke sana. Ke tempat aku manyimpan hatiku.

Sengaja aku tak mengabari Kak Distan ataupun Davin, karena aku ingin memberikan kejutan kepada mereka. Dan hari ini pun tiba. Pesawat yang kutumpangi telah lepas landas.

“Aku datang lagi, Yogyakarta…” Batinku dalam hati.

Sekarang tibalah aku di sini, di sebuah toko cokelat tempat kala dulu mempertemukanku dengan Kak Distan. Aku memutuskan untuk menyambangi terlebih dahulu tempat ini sebelum aku sampai di rumahku. Sedang asik memilah-milah batang cokelat yang akan aku beli, dari seberang rak ekor mataku menangkap bayangan sesosok orang yang sangat aku kenali. Yah, sosok itu adalah alasanku kembali ke sini. Aku berbinar, ternyata dia baik selama aku tak ada. Dengan perasaan berbunga-bunga aku berjalan menghampirinya.

Dan langkahku terhenti, bagai dipakukan ke lantai… Aku melihatnya bersama sosok laki-laki, mereka begitu akrab. Berjalan begitu serasi. Dan apa yang aku lihat, Kak Distan menggandeng tangan laki-laki yang tak kalah tampan dengannya itu. Mereka lalu melenggang meninggalkan tempat ini.

Hatiku teriris, sungguh panas meradang, neraka macam apa ini? mungkinkah Kak Distan begitu tega menduakanku? apa dia berani melanggar ikrarnya menjaga hatinya untukku? sungguh, lututku lemas. Badanku bergetar hebat, aku begitu sakit hati. Aku tak menyangka, kembali ke sini hanya untuk menyaksikan kekasihku menggandeng tangan pria lain. Aku berlari meninggalkan batang-batang cokelatku di meja kasir. Sekarang yang ingin aku lakukan hanya menangis, aku tak mampu membendungnya lagi. Hati ini begitu sakit, sakit yang paling sakit yang pernah aku rasa. Aku masuk ke dalam taksi yang sedari tadi menungguku, dan meminta supir untuk segera berlalu menuju rumahku.

Rumah ini, ternyata masih sama seperti sedia kala. Masih tetap indah dan terawat. Aku menggenggam daun pintu rumahku, kemudian membukanya. Dengan perasaan berkecamuk berjalan mengelilingi rumah ini. Mataku menyapu seisi ruangan. Semuanya tidak ada yang berubah. Tapi aku lelah, aku ingin beristirahat di kamarku. Saat menaiki tangga, terdengar suara nyaring memanggil namaku. Kemudian aku berbalik mencari sumber suara. Di depan pintu, aku melihat sosok itu berdiri dengan seribu ketekejutannya. Yakin bahwa itu adalah sosoknya, akupun berlari dan berhambur memeluknya.

“Sumpret jang, gue kangen banget sama lu. Kok ga ngasih kabar mau datang?” ucap Davin sumringah.

“Gue apa lagi, kangen banget sama elu Dav. Lu nggak nakal kan waktu gue tinggal?” candaku pada Davin yang diresponnya dengan mengerucutkan bibir, dia imut jika begitu. “Yaudah, lanjutin ngobrol di kamar yuk. Sekalian gue mau ngerasain pijitan dari lu. Hahaha…”

Kami tertawa terbahak-bahak, saling bercerita pengalaman masing-masing selama kami berpisah. Setidaknya kehadiran Davin telah sedikit menghapus kegundahan hatiku. Ingin rasanya aku berkeluh-kesah dengannya atas peristiwa yang aku jumpai tadi. Namun sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat. Tidak terasa hari sudah berganti malam, yang semula terang kini pun gelap. Sama seperti suasana hatiku. Malam ini aku dan Davin berencana akan makan di luar, di tempat kita biasa nongkrong kala masih bersama. Tepat pukul tujuh, Davin bersama motor besarnya itu sudah bertengger di muka rumahku. Aku menghampiri dan duduk manis di boncengannya. Setelah acara makan-makan kita selesai (dan sialnya aku yang harus membayar), akhirnya kita memutuskuan untuk pergi ke pantai.

Setelah kurang lebih berjalan 30 menit, kamipun tiba di sini. Pantai pasir putih yang tetap indah walau di kala malam hari. Kami berjalan menyusuri bibir pantai, hingga sepakat singgah di atas sebuah karang besar. Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya lagi.  Udara yang begitu menyejukkan, tempat yang tepat untuk melupakan masalah walau  tak bertahan lama. Aku mendongak menatap lagit, hanya gelap tak ada bulan ataupun bintang. Apakah malam juga merasa apa yang aku rasakan? apa dia turut berduka atas duka yang menghantamku? tanpa terasa air mataku menitik. Walau bagaimanapun juga aku hanyalah manusia biasa. Aku tak bisa menahan bongkahan batu di dalam hatiku yang begitu menyesakkan. Aku bukanlah salah satu dari banyak Insan pilihan Tuhan yang dikaruniai hati sekuat baja dan kesabaran seluas samudera.

“Lo nangis, Tan?” tanya Davin menyelidik.

“Eng.. enggak dav, gue cuma klilipan pasir aja. Sial, pedes banget nih mata.” Kilahku sambil mengusap kedua mataku.

“Lo nggak perlu bohong, gue itu tau lo. Gue bareng sama lo ga cuma sehari dua hari, tapi nambelas taun. Jadi gue tau kalo lo itu lagi bohong. Cerita sama gue, ada apa sampe lo nangis gini..”

Benar, Davin memang begitu mengenaliku, dia tau jujur dan bohongku. Dan aku fikir ini waktu yang tepat untuk bercerita dengannya.

“Gue… gue sedih, Dav. Hati gue sakit banget. Lu tau? tadi gue liat Kak Distan di toko cokelat sama cowok. Mereka berdua gandengan tangan. Itu bener-bener sakit banget. Gue nggak nyangka Kak Distan ingkar sama janjinya sendiri, dia jahat, Dav… dia kejam banget.” Aku tak mampu lagi membendung sesuatu yang memberontak keluar dari kelopak mataku. Aku menangis, aku mengakuinya, aku cengeng.

Davin merelakan bahunya untuk menjadi sandaranku. Dia memang sahabatku. Orang yang paling bisa mengerti aku.

“Lo yakin itu Distan? atau jangan-jangan lo salah liat kali. Mata lo kan udah agak burem.” Canda Davin mencoba menenangkanku.

“Sial lo, gue yakin gue nggak salah liat. Yang tadi itu bener Kak Distan.” Jawabku masih sambil terisak. Kemudian Davin mengubah posisi duduknya. Dia mendekapku. Berusaha menghiburku dengan stok kekonyolannya yang masih sama seperti kuingat dulu.

“Tapi, Tan… gue nggak yakin. Distan itu sayang banget sama lo. Jadi nggak mungkin dia…” lama dia terdiam tak melanjutkan perkataannya.

“Jadi Lo nggak percaya, Dav?”

“Gu… gu… gue percaya kok.” Ucap Davin terbata tanpa melihat kearahku, matanya terpusat pada suatu tempat. Aku merasa penasaran, sebenarnya apa yang dia lihat sampai mukanya terkejut begitu.

Kemudian aku menatap ke arah yang sama dengan ekor mata Davin, dan… shit.. entah kebetulan atau disengaja. Bajingan itu ada di sana dengan pejantan barunya. Aku semakin sakit lagi…

“Sekarang lo percayan kan, Dav ? gue nggak bohong kan. Lo lihat sendiri kan?” ucapku datar tanpa daya dengan mataku yang masih terkonsentrasi pada pemandangan jahanam itu.

Aku tak perlu susah payah membuat Davin percaya, tatapan mata kami masih terpusat ke tempat itu. Tepat di bawah bias cahaya lampu penerang, orang yang pernah berjanji padaku sedang mengecup kening seorang laki-laki. Kemudian… aku sungguh tak sanggup melihatnya. Dia mendekap laki-laki itu. Tangisku yang tadi sudah sempat terhenti, akhirnya pecah kembali. Semakin sesak, semakin sakit. Aku melihatnya, sosok di sana, kekasihku sedang mendekap hangat seorang laki-laki, dan itu bukan aku. Tuhan, ini terlalu sakit. Aku menangis, batinku sungguh tersiksa. Kak Distan sungguh tak punya hati, dia begitu tega padaku. Dia teramat sangat kejam menduakan ketulusanku. Karena geram, Davin bangkit dan berlari menuju arah mereka. Aku tak sempat menarik lengannya, perasaanku sungguh tidak enak sekarang. Tak ingin terjadi sesuatu hal yang tak diharapkan, aku berlari menyusul Davin.

Dan benar saja, Davin meraih kerah Kak Distan kemudian menyarangkan tinjunya tepat di rahang kirinya yang sukses membuatnya tersungkur. Kepalanya membentur karang. Kemudian Davin menarik lagi sosok yang tengah tersungkur itu dan kembali menyarangkan hantamannya di muka Kak Distan secara bertubi-tubi.

“Davin, ada apa ini…” Kak Distan berteriak di sela bogeman Davin. “Ti..Titan?” serunya yang lebih mirip sebuah rintihan. Darah segar mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya. Dia berusaha bangkit namun tak kunjung berhasil.

Tanpa terduga, Davin menendang perut Kak Distan hingga membuat mulut Kak Distan memuntahkan darah. Berkali-kali Davin melakukan itu. Aku sungguh tak tega, Kak Distan mencoba bangkit berulang kali, namun selalu terjatuh lagi. Aku kaku di tempatku, begitu juga dengan lelaki yang telah merebut cintaku. Kini tubuhnya tergeletak lemah di atas pasir. Bajunya basah akan darah, aku miris melihat itu. Tangisku pecah kembali. Davin benar-benar keterlaluan. Tak seharusnya dia berbuat demikian. Aku bermaksud menghampiri sosok Kak Distan yang tergolek lemah tak berdaya itu, namun Davin mencegahku dan menyeretku ikut dengannya. Aku meronta berusaha melepaskan cengkramannya yang begitu kuat di lenganku,  namun tenagaku tak cukup kuat untuk melawannya.

“Apa… apa yang terjadi disini? dimana kakakku?” kata laki-laki yang tadi bersama Kak Distan. Terlihat tangannya meraba-raba seperti ingin menggapai sesuatu. Dia berjalan pelan tidak tentu arah, kemudian terjatuh karena tersandung tubuh Kak Distan yang tergolek di atas pasir itu.

“Kak Distan, kakak dimana? Dilan takut. Kakak ayo pulang. Nanti dicari mama. Kak… kakak…..” sambungnya lagi sambil merangkak dan tangannya masih berusaha menggapai sesuatu.

Langkahku dan Davin terhenti, cengkraman Davin telah melemah di lenganku. Apa mungkin, apa mungkin orang yang menyebut dirinya Dilan adalah adik Kak Distan? Dan dia itu buta? Ya Tuhan, ternyata benar. Berkali-kali ia tersungkur di atas pasir saat baru beberapa langkah berjalan. Dan tangannya selalu bergerak seperti mencari sesuatu untuk digapai.

“Tan,  jangan pernah maafin gue kalo apa yang gue pikir memang bener…” ucap Davin lirih tanpa ekspresi. Wacahnya datar, tubuhnya bergetar kemudian terjatuh bersimpuh di atas pasir. Dia memegangi tangannya sendiri.Tubuhnya berguncang kencang. Tak perduli dengan Davin, aku berlari ke arah Kak Distan yang masih terbaring tak berdaya. Aku semakin bertambah terisak. Aku mendekap tubuhnya erat, dia begitu lemah.

“Ti… Titan…” ucapnya begitu sulit dan tersendat.

“Kakak… maaf… Titan minta maaf..” ujarku di sela isakan yang kian menjadi.

“Kapan Titan pulang, kenapa nggak ngasih tau kakak? dan dimana Dilan. Kakak akan mengenalkan Titan pada adik Kak Distan.” Lirih Kak Distan masih dengan suara parau dan terbata. Aku semakin kencang mendekapnya. Ternyata aku salah menilainya, aku telah berburuk sangka terhadapnya. Dia tak pernah menduakanku, dia tak pernah ingkar dengan janjinya. Bodoh, bego, dasar Titan Tolol. Rutukku dalam hati.

“Ka..kak sayang Titan” kata-kata terakhir Kak Distan sebelum tubuhnya melemah dan matanya tertutup.

“Kakak… kakak.!!! Kakaaaakk… kakak bangun, Titan juga sayang kakak. Kak Distan bangun kak… Titan nggak bakal ninggalin Kak Distan lagi.”

Aku berusaha membangunkannya, namun tidak ada jawaban sama sekali darinya. Tubuhnya, bahkan jarinya tak sedikitpun bergerak. Matanya tertutup. Darahnya masih terus mengalir dan menganak sungai. Aku begitu terpuruk atas bencana ini, begitu juga aku lihat Davin dan Dilan. Tak jauh dari ku, mereka juga bersimpuh sambil terisak. Kebodohan yang akan terus aku sesali. Aku tak siap merasakan yang lebih sakit lagi dengan kehilangan kekasihku, dengan kehilangan hatiku. Aku sungguh tak siap.

***

EMPAT TAHUN KEMUDIAN

Aku terjaga dari tidurku, silau matahari yang menerobos celah jendela kamarku telah membangunkanku dari tidur lelap. Aku memandangi sosok yang masih terlelap di sebelahku, cintaku yang begitu damai. Kemudian mataku beralih kearah jam dinding di kamarku, celaka…

Aku tersentak tak karuan  kala mengetahui waktu sudah menunjukan pukul  tujuh lebih dua puluh menit. Gawat, 40 menit lagi wawancara pertamaku akan di mulai. Aku tak mau sampai ditolak lantaran datang terlambat. Uhhh… kacau sekali, kenapa bisa bangun telat? dasar Titan bego. Batinku dalam hati.

Dengan tergesa-gesa aku masuk kamar mandi sekedar membasahi tubuh saja. Setelah itu berlari ke arah almari pakainku. Kutarik tergesa denim merah delimaku dan kukenakan dengan sama tergesanya. Usai berpakaian dan bersepatu aku berlari terburu keluar kamar.

“Sepertinya sayangku melupakan ini…” ucap seseorang  sambil menunjukkan tas di tangannya.

“You also forget your tie’s dady.” Dan Yang ini adalah suara seorang anak laki-laki sambil memperlihatkan dasi dalam genggaman tangan mungilnya.

Damn… aku hampir lupa, aku tak mungkin melakukan wawancara tanpa tas dan dasiku. Kemudian aku berbalik menghampiri mereka. Setelah kukenakan dasi beserta tasku, kemudian tak lupa aku berikan kecupan ucapan selamat pagi kepada suami dan anakku. Setelah selesai dengan ritual pagi itu, aku terbirit berlari ke arah garasi. Kemudian mengemudi mobilku kencang meninggalkan pekarangan apartemen elit itu.

Tiga puluh menit kemudian aku sampai di perusahaan tempat dimana aku akan melakukan wawancara perdanaku. Dengan langkah mantap aku memasuki ruangan beraura menegangkan itu. Begitu berdebar hatiku, sesi tanya jawabpun dimulai. Satu jam terasa begitu lama, namun terbalaskan dengan hasil yang begitu manis. Aku melompat girang, mereka menerimaku, dan memintaku bekerja mulai besok. Aku harus memberitahukan kabar bahagia ini kepada kak Distan dan Derry –suami dan anakku.

Setiba di rumah, aku mengumumkan kabar bahagiaku itu, dan kalian tau? Aku mendapatkan satu batang cokelat dari kak Distan, dan satu lagi dari anak kami Derry.Itu adalah hadiah yang indah yang aku peroleh dari orang-orang terindah pula…

***

FLASHBACK

Setelah peristiwa naas di pantai pasir putih itu terjadi, Kak Distan mengalami koma lebih setahun. Kami semua sempat pesimis akan keadaannya, namun setelah melakukan perawatan intensif di luar negeri dalam kurun waktu yang tak sebentar  itu, akhirnya dia bisa pulih seperti sedia kala. Dan mengenai Dilan, seseorang yang pernah kukira sebagai selingkuhan kak Distan itu, dia sudah mendapat donor mata dan berhasil merampungkan operasinya dengan sempurna. Sedangkan Davin, dia sangat beruntung karena keluarga Kak Distan tidak membawa kasus itu ke jalur hukum. Sekarang dia sedang menempuh pendidikan kedokterannya di negeri kanguru. Dan aku sendiri, aku patut berbangga diri karena dapat menyelesaikan pendidikanku dalam waktu tak lebih dari 3 tahun.

Beberapa Bulan setelah kepulangan kak Distan ke tanah air, dia bersama keluarganya datang menyambangi rumahku untuk melakukan prosesi lamaran. Dan betapa bahagianya aku, ternyata baik pihak keluarga kak Distan maupun pihak keluargaku tidak ada yang keberatan dengan hubungan cinta pelangi kami. Atas kesepakatan bersama, aku dan kak Distan telah mengucap janji suci kami di depan altar pernikahan. Setelah pernikahan kami itu, aku dan kak Distan memutuskan tinggal bersama di sebuah apartemen elite di kawasan pusat kota Amsterdam. Dan kami juga telah mengadopsi seorang anak laki-laki tampan dan begitu menggemaskan itu, dialah Derry.

END

Note Penulis :

Sungguh, sumpah serapah aku lega dengan berakhirnya cerita ini. Aku yang begitu tak berbakat, dengan tidak tahu diri mencoba berkutat dengan keyboard pada komputer lusuhku untuk membuat satu coretan tak bagus ini. Andaipun akan ada yang menghina, dengan senang hati aku menerima. Jujur ini bukan kali pertama aku membuat sebuah cerita, namun baru sekali aku menemukan kepercayaan diri untuk mempublikasikan kepada teman-teman semua. Jelek, sudah pasti. Oleh sebab itu, wajib kalian cela tulisanku ini agar aku lebih berkaca lagi, agar aku berfikir lebih banyak lagi untuk menghaturkan tulisan-tulisanku selanjutnya buat teman-teman semua. Dan terpenting, aku minta maaf. Maaf yang sebesar-besarnya buat kalian yang telah menyia-nyiakan waktu berharga kalian untuk sebuah karya buruk semacam ini. Jika ada yang tidak suka, mohon kemaklumannya. Terimakasih dan wasalam……..

Yoshian