begik’s story

*

*

*

Somewhere Only We Know

*

*

*

Sejak itu aku dan kamu semakin dekat

Aku hanya takut perasaan ini semakin besar

Takut, kamu tak memiliki rasa yang sama

Perasaan, bahwa kamu berarti untukku.

*
*
*

Prasetya.

Aku mengenalmu secara tak sengaja. Pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini kamu ada di sana. Tinggal tak jauh dari rumah iparku, rumahku yang sekarang.

Pertama kali kujabat tanganmu itu, aku tak menaruh rasa apa-apa padamu. Kamu tak tampan, tapi menurutku kamu memiliki kharisma. Sesuatu yang membuat semua orang begitu nyaman berada didekatmu.

Kamu selalu mengantarku pulang, meski satu sekolahan, kelas kita sebenarnya berjauhan. Namun  kamu selalu ada di sana, menungguku dengan wajah sedikit ditekuk, namun seketika wajahmu akan berubah cerah saat melihatku keluar dari kelas.

“Ayo, pulang!” serumu.

Aku hanya tersenyum tipis menanggapimu.

Ya, ayo kita pulang.

*

*

*

Dan waktu berlalu hingga tak terasa kita sudah menginjak tahun kedua.

Saat itu meski berbeda jurusan tapi kelas kita begitu dekat. Dan bahkan ‘Ikatan’ kita semakin erat.

Kamu selalu saja menarik tanganku, menggenggamnya erat-erat ketika kamu mengajakku ke suatu tempat.

Merangkul bahuku mendekat, hingga terkadang aku takut kamu bisa mendengar suara jantungku yang berdetak cepat.

Dan yang paling membuatku tak bisa lupa, adalah ketika kau putus dengan Rere, pacarmu yang kau cintai itu.

Mendung nampak jelas diwajahmu saat itu. Sebenarnya, aku tak berani mendekatimu. Tapi justru kamu meminta aku duduk di sampingmu dan tak boleh menjauh.

Saat itu aku menyadari sesuatu. Aku ingin seperti Rere, menjadi seseorang yang berarti dan special untukmu.

Sejak hari itu, ‘Ikatan’ kita semakin erat.

Terlalu erat hingga aku membuatku bertanya-tanya, ‘Ikatan’ seperti apa yang kita punya?

Pernah suatu ketika seorang kawanmu bertanya,

“Kalian pacaran ya?”

Tanpa ragu kamu malah menjawab,

“Iya, Ren pacarku.”

Rasanya aku ingin memukul kepalamu saat itu, kurasa itu bisa memperbaiki syarafmu yang konslet.

Dasar gila!

Kuharap tak ada gossip aneh yang beredar.

Tapi, entah kenapa aku begitu senang.

Sepertinya, aku juga sudah gila ya? Hehehe…

*

*

*

GOR hari itu tampak sedikit ramai, aku sengaja datang ke sini untuk melihatmu latihan Atletik. Perlombaan lari yang akan kamu ikuti semakin dekat. Aku tahu benar kamu berlatih keras untuk hari itu.

Kamu tersenyum lebar saat melihatku apalagi ketika aku memamerkan satu botol minuman dingin kearahmu.

“Tunggu limabelas menit lagi ya?!” teriakmu.

Aku hanya mengangguk dan kembali memperhatikan sosokmu dari kejauhan.

Entah sejak kapan aku selalu mengamatimu seperti ini. Menatapmu dalam-dalam seakan ingin mencoba menyelamimu.

Ada perasaan yang lain. Perasaan yang aku sendiri begitu sulit untuk mendiskripsikannya. Seandainya aku harus menulisnya dalam bentuk essay, mungkin lembaran kertasku itu akan kosong.

Karena aku tak dapat menceritakannya, tak dapat menggambarkannya dalam kata.

Perasaan yang hangat, sekaligus perasaan yang menyesakkan. Sesak karena aku takut, perasaan yang aku punya sekarang ini, kamu tak memilikinya.

Lamunanku buyar ketika kamu menghampiriku dengan napas terengah-engah. Peluh tampak membasahi baju olahragamu. Tanpa meminta ijinku, kamu sudah merebut botol minuman dari tanganku dan meneguknya dengan cepat.

“Haaahhhh~ capeknya,” ujarmu.

Aku hanya tersenyum kecil.

“Ren, habis ini mau kemana? Pulang bareng yuk? Anak-anak mau makan dulu nih, kamu ikut ya?”

“Eh?” aku sedikit terkejut dengan tawaranmu. Bukannya bagaimana, aku dan kamu sudah sering sekali pulang bersama.

Hanya saja…

“Hmmm… maaf Pras, kamu duluan aja deh. Aku masih ada urusan dikit nih,” tolakku.

“Urusan apa sih? Udahlah, bareng kita aja ya? Aku pingin kamu ikut,” kamu membujukku lagi.  Menatapku lekat-lekat seolah tak memberiku celah untuk berkelit.

Namun, aku terpaksa menolakmu.

“Maaf, Pras.”

Kamu hanya diam.

*

*

*

Aku termangu di salah satu sudut gelanggang olahraga ini. Belum ada niat untuk beranjak, padahal mendung sudah mulai berarak. Dan kamu pun tak ada lagi di sampingku sejak dua jam yang lalu.

Kamu pergi dan aku membiarkan punggungmu menjauh dariku.

Aku hanya butuh waktu untuk berpikir, Pras.

Tentang perjuanganku di kota ini, tentang study ku. Juga tentangmu, tentang perasaanku padamu.

Apakah kamu menganggapku berarti seperti kamu yang selalu aku anggap berarti?

Aku berpikir hingga hujan datang.

Hingga bajuku sedikit basah dan dingin mulai terasa dikulit ariku.

Waktu berlalu.

Dan perasaanku padamu… aku mulai memahami itu.

*

*

*

Namun, entah kenapa sejak hari itu kamu mulai terasa jauh. Perlahan aku mulai jarang melihat sosokmu. Kamu jarang sekali meluangkan waktumu untukku, jarang… hingga hilang sama sekali.

Tak ada lagi sapa, tak ada yang menjemput dan mengantarku pulang. Tak ada wajah ceriamu saat aku keluar kelas, tak ada kamu yang menggenggam tanganku, menarikku kesuatu tempat dimana hanya kita saja yang tahu.

Kamu menjahuiku dengan alasan yang sebenarnya aku tak mau tahu.

Sepertinya kamu mulai menyukai teman-temanmu itu. Mereka yang lebih kaya, lebih memiliki materi dan mungkin lebih segalanya. Aku tahu, aku tak seperti teman-temanmu yang kaya itu.

Mungkin kamu lebih nyaman bersama mereka daripada terus bertahan bersamaku.

Namun setidaknya ada hal yang masih patut aku syukuri hingga saat ini.

Aku masih bisa melihatmu. Memperhatikanmu dari jauh meskipun kamu tak tahu.

Aku masih bebas memandangimu diam-diam. Dan perasaan itu masih ada.

Ada banyak tempat yang menjadi kenanganku denganmu dulu.

Di kelas, kantin, lapangan, rumahmu, bahkan di GOR saat hari hujan itu.

Aku hanya ingin kamu tahu, Pras.

Kalau kamu itu berarti untukku.

Sampai sekarang dan entah kapan.

Dan kalau saja kamu masih memilki sedikit waktu yang kamu sisakan untukku.

Aku ingin kita pergi dan berbicara tentang perasaan ini.

Aku ingin kita pergi ke suatu tempat, dimana hanya aku dan kamu yang tahu.

*
*
*
END (?)

*
*
*
Yuuki’s Notes :

Hmmm… sedang menyelesaikan Butiran Debu, tapi cerita dari teman nun jauh di sana ‘menggelitikku’ untuk menuliskan sesuatu dan sebentar menunda pekerjaanku. Hehehehe…

Tokohnya sih, Yuuki ambil dari tokoh di Ruri no Ame, cerita pertama Yuuki di Blog Nayaka-san ini. Karena menurut yang punya cerita, Ruri no Ame hampir mirip dengan kisahnya. Sama-sama tentang orang yang berarti.

Ini adalah cerita versi nya, ada yang Yuuki tambahi sih, sekedar untuk melengkapi saja. Semoga tak melenceng terlalu jauh dari inti ceritanya ya? hehehe XDD

Terimakasih untuk ceritamu, Begik. Kalau aku diposisimu, mungkin aku udah Ngelabrak dia yak? Apa-apaan sikapnya itu? #Esmoni hehehe XP

Ne~ Anata ni taisetsunahito wa imasu ka?  

Hei, adakah seseorang yang berarti bagimu? ^^