Saya yakin, setiap orang pasti punya story of song, ataupun song of story. Trus apa bedanya? Hehehe.. menurut saya beda.. Story of song, artinya cerita dari sebuah lagu. Kalo song of story artinya lagu dari sebuah cerita. Story of song, sebuah lagu bisa jadi memiliki cerita tersendiri buat kita, dalam hal ini karena lagu itu tanpa disengaja ada pada saat kita mengalami kejadian yang berkesan atau nggak terlupakan. Nah, kalo song of story, lebih ke lagu yang sengaja kita pilih karena misalnya match atau pas liriknya dengan suasana hati atau kisah yang kita alami. Hmh.. kalo seandainya suasana hati atau kisah kita adalah sebuah film, maka song of story bisa dikatakan sebuah soundtrack.

Kalo sebelumnya di blog ini cuman ada kolaborasi dua orang, sekarang saya menyeret tujuh orang termasuk saya sendiri buat menulis story of song masing-masing. Jadi, yang perlu dicatet, semua cerita di bawah ini adalah non-fiksi. Kesamaan nama tokoh, tempat dan peristiwa bukan kebetulan semata dan memang benar adanya tanpa rekayasa, jadi kalo ada yang ngerasa, silakan ge-er, kekeke..

Happy reading

Satria’s : Lagu Sendu (Audy Item)

Kisah ini saat aku masih duduk di bangku SMP. Aku seorang murid yang biasa saja, berpenampilan biasa, prestasi biasa, pokoknya semuanya biasa. But I have a story….

Akhir semester I

Saat itu ada seleksi siswa untuk mewakili sekolah di olimpiade sains Indonesia (OSI) tingkat SMP. Aku coba ikut seleksi itu dan kebetulan aku lolos seleksi. Ada 20 siswa yang lolos di masing bidang yang akan dilombakan. Dari 5 bidang yang dilombakan, aku salah satu yang lolos di biologi. Lolos  seleksi bukan berarti langsung mewakili sekolah. Kami harus ikut bimbingan dan melewati seleksi lagi. Tapi bukan lomba ini yang jadi story of song, ada kisah lain didalamnya. Tentang seseorang yang aku suka,

Namanya Riri, dia gadis yang cantik sekaligus manis. Dia punya rambut panjang dan lurus, kulit yang putih, dan matanya indah. Dia juga lolos seleksi di biologi. Sebenarnya aku tidak pernah berkenalan langsung dengan Riri. Kami beda kelas, Riri di kelas A dan aku di B. Aku tahu segala hal tentang Riri dari Ferdian, sahabatku yang sekelas dengan Riri. Dari Ferdian aku tahu jika Riri adalah murid yang pandai sekaligus cerdas, enerjik, langganan juara kelas sejak SD.

Sejak lolos seleksi, aku dan 19 murid lainnya harus rela pulang lebih sore untuk ikut bimbingan. Hampir setiap hari kami menerima materi dan membahas contoh soal. Sebenarnya aku merasa malas dan tidak bersemangat untuk bimbingan karena aku sudah dapat private course dari kakakku, kakakku juga pernah ikut olimpiade ini dan bahkan melaju sampai tingkat nasional. Tapi kehadiran Riri seperti memberi semangat baru untukku. Walaupun kami tidak pernah bicara satu sama lain, aku senang bisa melihat Riri dari dekat.

Dua minggu bimbingan itu berjalan, ternyata ada evaluasinya. Seperti pertandingan dengan sistem gugur, evaluasi ini juga mengeliminasi setengah dari peserta bimbingan. Dan saat pengumuman hasil, aku ada di urutan pertama dengan nilai tertinggi dan Riri di urutan kedua.

Entah kenapa seteleh hasil evaluasi itu keluar, tiba-tiba Riri datang menghampiriku. Kami berkenalan dan berbincang banyak hal. Aku langsung bisa merasa akrab dengan Riri. Dia adalah lawan bicara yang menyenangkan. Kami bahkan sempat bertukar nomer ponsel.

Berikutnya kami semakin akrab. Saat bimbingan, Riri duduk di sampingku. Saat jam istirahat sekolah, Riri sering berkunjung ke kelasku atau aku yang berkunjung ke kelasnya. Kami punya tempat ngobrol favorit yaitu perpustakaan. Walaupun topik obrolan kami tidak jauh dari materi OSI dan pelajaran tapi aku senang bisa berinteraksi dengan Riri.

Evaluasi berikutnya aku lewati dengan mudah, begitu pula dengan Riri. Dia bahkan ada di urutan pertama. Ada lima murid yang terpilih mewakili sekolah untuk ikut OSI biologi tingkat SMP se-kota kabupaten. Ada waktu satu minggu sebelum kami lomba dan selama satu minggu itu Riri selalu datang ke rumahku untuk belajar bersamaku dan kakakku. Sebenarnya aku yang menawarkan untuk belajar bersama kakakku. Modus memang, hehehehe…

Hari lomba pun tiba. Aku bisa mengerjakan semua soal tanpa menemui kesulitan yang berarti. Aku percaya jika Riri juga bisa mengerjakannya dengan mudah. Dan benar saja, kami berdualah yang keluar sebagai peraih nilai tertinggi sekaligus sebagai wakil kota kabupaten di olimpiade sains SMP tingkat provinsi.

Hubunganku dan Riri semakin dekat setelah hasil lomba itu keluar. Riri juga semakin sering ke rumahku, tapi karena orang tua dan kakakku merasa kurang enak jika anak gadis orang datang tiap hari ke rumahku hingga larut malam maka aku dan kakakkulah yang datang ke rumah Riri. Kami juga sering jalan bersama ke perpustakaan kota, taman kota, toko buku, bioskop, mall, taman hiburan. Sempat aku berniat untuk mengutarakan perasaanku pada Riri tapi kuurungkan niat itu karena Riri buru-buru bilang kayak gini, “Sat, kamu tau gak kalo jatuh cinta dan pacaran bikin orang jadi bodoh? Aku gak mau pacaran karna aku gak mau jadi bodoh.” Nusuk banget rasanya. Sepertinya dia tahu maksud hatiku. Tapi aku sudah cukup bahagia bisa sedekat itu dengan Riri. Dan aku tidak mau merusak hubungan baik kami. Pada malam sebelum lomba, kami membuat janji bahwa kami akan lolos bersama ke tingkat nasional.

Hari OSI tingkat Provinsi tiba. Sainganku adalah siswa-siswa terbaik dari seluruh kota kabupaten di provinsiku. Aku menyelesaikan soal dengan mudah. Entah mengapa aku merasa soal kali ini lebih mudah dari soal OSI kota kabupaten. Aku seperti mendapat semangat ekstra karena janjiku dan Riri. Aku tidak akan mengecewakan Riri dan melaju ke nasional bersamanya.

Setelah lomba berakhir hubunganku dengan Riri berjalan seperti biasa, hanya saja kami tidak belajar bersama lagi. Sebulan kemudian pengumuman hasil OSI pun keluar. Aku menerima sebuah amplop yang berisi daftar peserta OSI nasional dan undangan OSI. Ketika aku membacanya aku merasa gembira sekaligus kecewa. Gembira karena namaku ada di urutan 27 peringkat nasional, ternyata nilaiku melewati passing grade yang ditentukan panitia, aku tidak pernah menyangka itu. Dan kecewa karena nama Riri tidak ada disana, itu berarti dia tidak lolos.

Aku langsung ke kelas Riri untuk menceritakan kabar itu padanya. Tapi aku tidak menemukan Riri di sana. Aku bertanya pada teman-teman Riri, mereka menjawab bahwa Riri minta izin pulang lebih awal. Aku sempat merasakan hal yang aneh pada teman-teman Riri, cara mereka menatap dan berbicara kepadaku seperti mengisyaratkan jika mereka tidak suka padaku padahal sebelumnya tidak pernah begitu. Sepulang sekolah aku sengaja ke rumah Riri tapi orang rumahnya bilang Riri tidak mau menemui siapapun. Keesokan hari juga begitu, aku tidak menemukan Riri di manapun bahkan panggilan telepon tidak pernah dijawab dan sms yang kukirim tidak pernah dibalas.

Akhirnya aku coba bertanya pada Ferdian dan aku mendapatkan fakta yang mengejutkan dan membuatku terpukul. Dari penuturan Ferdian, Riri memang sengaja menghindar dariku, dia sangat kecewa karena bukan dia yang lolos ke nasional. Ternyata selama ini  Riri tidak pernah benar-benar menganggapku teman, aku hanyalah saingan berat yang harus dia kalahkan, dan dia mendekatiku karena kakakku.

Mengetahui kenyataan itu, aku merasa hilang semangat dan seluruh energi dalam tubuhku seperti ditarik keluar. Aku mulai menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai jika saja aku tidak mengerjakan soal dengan baik dan Riri yang lolos mungkin keadaannya tidak seperti ini. Aku jadi malas belajar, malas ke sekolah, malas makan, malas mandi, pokoknya malas semuanya. Dan itu berlangsung hingga seminggu. Sampai suatu malam saat aku mengurung diri di kamar, aku mendengar lagu yang sengaja dikeraskan suaranya dari kamar kakakku. Suaranya yang keras menggangguku tapi liriknya bagus dan membuat suasana hatiku membaik. Liriknya begini,

“Ketika kumenangis tersedu,

Kuingin dekatmu.

Jika kuingin lepaskan rindu,

Sandarkan diri di bahumu.

Namun karna sesuatu dan itupun salahku

Tak dapat kau terima, kaupun berlalu.

Ketika kumenangis tersedu,

Tanpa dirimu hatikupun kelu.

Andai kuulang waktu,

Aku kan kembali ke masa itu

Dan ku kan hindari kesalahanku.

Kisah kasih syahdu.

Sayang semua berlalu, akankah kembali kisah itu?

Ku tak tahu…”

Karena penasaran, aku masuk ke kamar kakakku (tanpa permisi). Ternyata lagu itu dari tv yang sedang ditonton kakakku. Lalu aku disuruh duduk di atas ranjang di samping kakakku. Dia langsung merangkul bahuku. Dia bilang kalau dia sudah tau semuanya dari Ferdian, aku harus punya semangat berjuang karena aku adalah wakil provinsiku di OSI nasional. Dia juga bilang bukan salahku bila Riri tidak lolos lagipula Riri belum tentu lolos kalau aku mengalah dan kalaupun Riri lolos belum tentu kami akan terus dekat, karena ada maksud lain di balik pertemanan kami. Kakakku juga tau kalau aku suka pada Riri, katanya Riri bukan orang yang tepat untuk dijadikan teman spesial. Aku merasa lebih tenang dan nyaman setelah mendengar lagu itu (waktu itu belum tau judulnya) serta mendengar nasihat dalam pelukan kakakku. Dan malam itupun aku tutup dengan tidur di kamar kakakku.

Esoknya aku kembali ke rutinitasku di sekolah plus pembekalan khusus OSI setiap sore, hanya berdua bersama guru atau dosen universitas b(T_T)d. Aku juga tidak memikirkan soal Riri lagi. Di kepalaku saat itu hanya belajar dan belajar. Dan setiap hari aku mendengar lagu milik Audy itu di tv dan radio, mungkin saat itu dia sedang promo single terbarunya. Lagu itu membangkitkan memoriku tentang Riri sekaligus membakar semangatku.

Sebulan kemudian aku terbang ke Pekanbaru untuk berhadapan dengan ratusan siswa dari seluruh Indonesia di OSI nasional. Aku memang tidak menang disana, hanya bisa masuk di 30 besar saja. Walaupun begitu aku puas karena telah berusaha maksimal.

 

That’s my story of song. Sampai sekarang jika aku mendengar lagu itu maka memori manis dan pahit itu akan muncul kembali di kepalaku.

 

Faid’s : Beekeeper’s Daughter (All American Rejects)

Aku selalu ingin tertawa bila mendengar lagu Beekeeper’s Daughter-nya All American Rejects. Bukan karena aku mengerti arti liriknya, bukaan! Kenyataan bahwa aku paling minus dalam berbahasa inggris membuatku tak mengerti apa yang di nyanyikan. Tapi karena lagu itu membuatku teringat akan satu malam yang sangat berkesan. Malam yang sangat menegangkan tapi berakhir sangat indah sampai sekarang. Happyending bahasa kerennya. Malam saat aku menyatakan “Gue cinta ma loe” padanya. Hahahahaa… konyol. Terus, apa hubungannya dengan lagu Beekeeper’s Daughter?

***

‘nyet? loe nyariin gue ea seharian?’

_ENTER_

Kukirim pesanku itu ke alamat seseorang yang sudah membuatku hatiku berdetak di atas normal dua mingguan ini. Si “young” masih di genggaman saat ingatan ini kembali pada suatu pesan yang dikirim seseorang yang jauh disana.

‘dek paid, sapa dulu tuh si satria. katanya dia kangen ma kamu. seharian nyariin kamu mulu.’

Benarkah itu? Benarkah dia merindukanku seperti aku merindukan setiap pesan yang dia kirimkan kepadaku? Tanpa sadar ku tersenyum sendiri memikirkan itu. Semua di kamar yang gelap karena saklar lampunya aus termakan usia.

<drrrtttt…..drrrtttt!!!>

Dua kali hp-ku bergetar tanda ada sebuah pesan yang masuk. Arghh… pesan YM darinya.

‘nggak tuh, emang napa? bukannya loe yang nyariin gue?’

Aku mengerutkan dahi, heeh? ckckck….

‘tadi gue di-YM ma abang nay katanya loe nyariin gue’

‘loh? tadi abang nay juga YM gue katanya loe nyariin gue seharian!’ balasnya kemudian. Dan aku tak butuh waktu lama untuk menyadari kalau kami berdua sedang dikerjain oleh abang kami yang naudzubillah kerennya itu. Satria mengirimkan pesan lagi bergambar emoticon tertawa guling-guling.

‘kita dikerjain ma abang nay!’ ketikku.

‘iyya…. hahahahaa…. maksudnya apa’an juga tuh.’

Satria membalas dengan tidak lupa menambahkan emo cengiran kudanya. Ahhhh… ada perasaan kecewa terbersit di hati. Sungguh, perasaanku yang tadinya sudah meluap dan melambung macem balon gas harus dipaksa meletus dan menguap. Dengan perasaan yang dongkol aku mengirimkan pesan padanya.

‘haaa… ternyata cuma bo’ongan. gue kira bener. tiwas hati gue berbunga2’ <emo sedih>

‘haah? berbunga2?’

Waduh!!! keceplosan!

‘eeehhh… maksud gue, gue dah kadung percaya, gitu,’ dengan terbata aku meralat apa yang aku tulis. Mampus aku!

Lama pesanku tak dibalas oleh Satria. Aku mulai khawatir, takut kalau-kalau dia marah dan tak lagi mau berteman denganku. Kenyataan bahwa Satria adalah sosok yang berhasil menggantikan nama Daffa di ruang hatiku semakin membuatku menggigil ketakutan. Bagaimana bila Satria benar-benar membenciku? Dan tak lagi ingin berbalas YM dengan ku? Arrrrggghhh… aku mulai frustasi.

‘sat, loe marah ea ma gue?’

‘nggak do, gue nggak marah.’

‘trus, napa kok lw diem gitu? jempol loe habis kepalu yak?’ candaku garing, sekadar mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah dingin membeku layaknya Kutub Utara.

‘nggak papa, gue cuma pingin tau tentang loe aja, do’

Aku menarik nafas. Sepertinya sudah saatnya dia tau, batinku.

‘loe pingin tau apa tentang gue?’

“bagaimana posisi gue di hati loe, do?”

Jlebb! Benar, dia menanyakannya. Aku terdiam sebentar sebelum membalas pesannya.

‘loe istimewa buat gw, sat. gue… jatuh hati ma loe’

‘seberapa dalam?’

‘gue nggak bisa ngukur, monyet! emangnya gue tukang gali sumur??’ balasku sewot.

‘bukan gitu, do. maksud gue seberapa besar cinta loe ke gue?’

‘gue juga nggak tau, nyet. yang pasti loe sangat berarti banget buat gue.’

‘sebenarnya gue juga merasakan hal yang sama, do. tapi gue masih bingung dengan perasaan ini. gue nyaman banget ma loe.’

Arghh… Kasian anak ini. Aku mulai merasa bersalah karena sudah mengusik perasaannya.

‘fardoo…. gimana nih, gue jadi kepikiran.’

Aku berpikir sejenak, dan menuliskan,

‘biarkan hati loe yang menjawab semuanya, sat. seperti gue yang membiarkan hati gue menemukan hati loe untuk dicintai.’

***

Hawa kamar yang gerah semakin membuatku suntuk. Kuambil si “zylo” beserta headsetnya dan tak lupa juga si “young” yang tiba-tiba berubah menjadi benda yang paling sering kubawa serta. Tujuanku adalah naik ke atap rumah yang merupakan tempat favoritku bila sedang bersantai di kala malam. Dari sini aku bisa melihat bintang dan bulan serta merasakan segarnya udara malam, nyaman pokoknya.
Sesampai ku di atap, aku mulai memasang headset dan kuputar zylo-ku dengan lagu yang baru saja aku curi dari kantor. Aku lihat playlistku, ada Beekeeper’s Daughter yang sedang terputar. Hmm…. lumayan lah.

‘do, tolong gue do…. gue …. galau!’

Satria, ternyata kamu lebay juga, batinku lucu.

‘sat, loe dimana sekarang?? cepat keluar dari kamar loe! gue tunggu loe di luar!’

Sifat tak sabaranku mulai kambuh. Aku menarik nafas dan membuangnya. Itu caraku agar tak lepas kontrol.

‘iyya do, gue udah di luar’ balas Satria kemudian.

‘oke, denger gue ea sat. gue harap loe mau denger apa yang gue omongin. gue sayang ma loe, sat. gue nggak mau loe galau kayak gini. gue sekarang di atap rumah gue dan loe di pekarangan rumah loe. gue biarkan diri gue di peluk oleh malam, sat. berharap loe juga begitu. dan kita akan berpelukan dalam malam ini. dan gue berharap loe bisa ngerasain perasaan gue yang teramat besar buat loe.’

aku berhenti sejenak untuk me-repeat kembali lagu Beekeeper’s Daughter. Kayaknya lagu ini bakal jadi lagu soundtrack-ku untuk beberapa hari ini. Setelah itu aku mulai lanjut menulis.

‘gue nggak maksa loe untuk nerima cinta gue sat. gue hanya berharap loe mau membiarkan hati loe untuk merasakan perasaan gue. karena apa yang hati loe rasakan itu benar, its true!’

Arghhh…. aku mulai berlagak berbahasa inggris. Padahal aku begitu nol besar, hahahaha… Lama Satria tak membalas pesanku. Mungkin dia sedang memikirkan perkataanku atau bisa jadi ketiduran. Haahhh… itu adalah kebiasaannya yang tak aku sukai sampai sekarang.

‘do, gue udah memikirkan semuanya. gue jua jatuh cinta ma loe. gue mau nerima cinta loe do. karena loe juga orang yang spesial buat gue.’

‘kita jalani ini pelan-pelan ea, sat. gue baru pertama menjalani hub kayak gini jadi gue butuh banyak bantuan loe. gue akan jaga hati loe sat.’

Setelah menuliskan kata-kata itu, pikiranku tiba-tiba terang benderang. Seakan ada sinar yang sangat kuat yang menyingkap mendung yang selalu menutupi hatiku. Aku percaya, Satria akan mampu menjaga hatiku, sebagaimana aku akan menjaga hatinya, selalu. Lagu Beekeeper’s yang sedari tadi kuputar masih mengalun dan sudah sampai di lirik ini :

I just want you there to wait

Look out your window

What do you see?

You don’t see me

Aku ikut mendendangkannya sekalipun aku tak hapal liriknya. Tapi biarlah, yang penting aku bisa ikut berdendang, ladadadadaa…

***

Itulah kisah pertamaku bersama Satria. Kisah yang akan aku kenang seumur hidupku, mudah-mudahan. Aku masih menjaga hatinya sampai sekarang, seperti janjiku pada diriku sendiri kalau aku akan terus bersamanya sampai kapanpun. Muluk emang, tapi itulah keinginanku. Dan di atas semua itu, aku perlu berterima kasih kepada abang super kerenku (ini dusta) karena mungkin tanpa “comblangannya”, aku dan Satria tak akan berani mengungkap apa yang kami rasakan. Eiitzzz… dan mbak afni juga, hmm…. lady-ku itulah yang pertama kali mengetahui perasaanku. Rasa-rasanya pingin kupeluk dia dan mengatakan betapa aku sangat menyayanginya, sebagai kakak tentunya.

Dan Beekeeper’s Daughter, benar saja. Lagu itu sudah kujadikan soundtrack untuk kisahku bersama Nadtan (itu adalah panggilan kesayanganku untuk Satria). Tapi selain itu, ada satu lagu lagi yang aku suka, sebagai lambang cintaku. 2 Manusia dari OST Perahu Kertas. Pas banget untuk aku dan Nadtan.

 

Javas’ : Meguro Kawa (Miwa)

Story of song? Aku sempat mengerutkan dahi saat sesepuh Afni mengajak berjamaah merealisasikan ide ini. Tapi bukan lagu yang dipas-paskan dengan cerita. Bukan! Tapi lagu yang hadir saat kita mengalami suatu kejadian khusus. Bisa sedih, senang atau memalukan. Contohnya seperti saat Faid nyungsep di pinggir jalan mendadak ada tukang jualan gethuk lewat dan muter lagu Ayu Ting-ting dengan Alamat Palsunya! What the??? Lebih enakan buat song fiction dari lagu yang kita ambil idenya. But, based on true story! Hmm, mikir dulu. Ngorek luka lama dulu. Ciyus? Miapah? Demi mengeratkan tali persahabatan. Ah tidak, sepertinya keluarga lebih cocok. Titah sesepuh nggak boleh ditolak. Iya kan?

Dengan seberat-beratnya hati, aku coba tuliskan kisah ini dengan sedikit modifikasi di sana sini tanpa mengubah esensinya. Masa mau jujur di depan publik secara blak-blakan? Hari gini jadi cowok kudu main aman. Ya nggak sih? Hihihi.

 

Let’s start….

Agustus 2010

Aku masih ingat dengan jelas. Waktu itu aku sedang praktik mengajar pada salah satu SMP di Malang. Bertepatan dengan bulan puasa. Seharusnya 16 Agustus adalah tepat aku menjalin hubungan dengannya. Seorang gadis penggila buku. Orang yang begitu saja muncul dalam hidupku. Dan pergi begitu saja dari hidupku. Semuanya serba diam-diam. Dia mengakhiri hubungan denganku sederhana. Tidak ada berdebat, mengolok atau sampai saling blokir akun jejaring sosial. Semua serba cepat.

Kata teman, kita ini seperti orang kembar. Tinggi kita tidak begitu terpaut jauh. Berwajah bulat dengan kaca mata melekat erat. Tanggal lahirku dengannya berselisih hari. Dia lebih tua dariku setahun lebih sehari. Aku menganggapnya adalah jodoh, kebetulan paling terbetul yang pernah kualami. Namun, pada akhirnya semuanya lesap. Tanpa ada sisa sedikitpun.

Ada dua lagu yang mengiringiku terus hingga akhirnya kesempatan bersamanya benar-benar menguap. Pertama adalah lagu berjudul そばにいたいから(soba ni itai kara), yang kedua adalah lagu berjudul めぐろ川 (meguro kawa). Keduanya dinyanyikan oleh penyanyi Jepang bernama Miwa. Bisa dibilang adik tingkatnya Yui. Aku akan membahas satu persatu lagu itu. Huft. Luka ini terbuka lagi.

Dia sangat suka dengan lagu berjudul “Soba ni itai kara”. Karena menurutnya, lagu itu perlambang hubungan kami. LDR sucks! Lagu yang berisi harapan agar bisa selalu dekat orang terkasih. Walau pada akhrnya dia yang semakin menjauh dariku. Semakin jauh berpindah. Lalu menyerah dengan harapannya sendiri. Setiap lagu itu terputar, seperti ada benda besar menyumpal dadaku. Entah itu apa. Mungkin lagu itu punya kekuatan terlalu kuat untuk membuatku kembali meluka. Ah! Aku tidak mengira, lagu ini menyimpan setiap memori: sakit yang cukup dalam. Cukup!

Aku lebih menyukai lagu dengan judul “Meguro Kawa” yang dapat diartikan menjadi “Sungai Meguro”. Sebuah kawasan sungai di pusat Tokyo yang sekelilingnya berjajar bunga sakura. Lagu itu berkisah tentang seorang gadis, tentang kenangan ciuman pertama dalam kerimbunan sakura, juga doa. Lagu itu benar-benar menjadi nyata buatku. Aku berpisah dengan terlalu banyak harapan dengan dia. Menjadi imamnya. Apa itu terlalu rumit? “Ada satu hal yang belum bisa aku katakan kepada orang lain. Aku merindumu, aku mencintamu. Aku harap kamu selalu sehat. Bermekar semua angan yang telah kau rancang. Aku akan merindumu di sini. Entah sebagai apa.” Lagu ini lebih menyakitkan dari lagu pertama. Begitu intro masuk ke pendengaranku, saat itu juga sebuah tamparan bertubi menyiksa batin. Apa aku masih belum ikhlas dengannya? Apa aku terlalu bodoh dengan selalu menggeluti luka. Entahlah. Bagiku, semua kenangan yang mulai hambur dan terlihat jelas itu terlihat indah. Luka dan indah adalah dua hal yang hanya terpisah selaput tipis. Keduanya bisa tercampur dan membentuk ramuan ajaib: harapan.

Aku memiliki harapan itu. Bukan untuknya. Tapi untuk sepotong hati baru yang mulai meyulami dan memintal benangnya pada ruang hampa di sekat rinduku. Biarlah lagu itu terus menginjak-injak. Aku akan tersenyum dan memeluk seseorang di sampingku dengan erat. Sayang, kira-kira lagu apa ya yang akan mengantarkan kita pada puncak kehidupan? Apa kita perlu membuatnya sendiri. Aku dan kamu. Membuat lagu sederhana yang akan kita wujudkan dengan sederhana pula. Bisa?

 

Nayaka’s : Dealova (Once)

Aku ingin menjadi mimpi indah

Dalam tidurmu

Aku ingin menjadi sesuatu

Yang mungkin bisa rindu

Tanpamu sepinya waktu merantai hati

Bayangmu seakan-akan…

[Dealova – Once]

***

Kalau harus jujur, aku akan dengan senang hati mengakui bahwa aku –ya, aku!- sangat tidak suka lagu yang judulnya kujadikan tajuk tulisan singkatku kali ini. Buat fanatik Mas Once, maaf sekali… aku tidak menyukai semua lagu yang dinyanyikannya secara solo, sedikit suka bila suaranya berada di sela-sela ribut alat musik grup Dewa 19.

Meski tidak suka, tak urung jika mendengar lagu itu –entah dari perangkat pemutar musik apapun milik siapapun- aku akan ingat seseorang di satu masa. Dia adalah teman sekolah menengahku, namanya juga nebeng di judul tulisan ini tuh. Di kelas, dia lebih sering dipanggil Ian, guru-guru memanggilnya Yanir padahal jelas nama depan dan nama belakangnya punya jeda, Yan dan Irwansyah. Entah bagaimana caranya di lidah guru-guruku nama Ian dibuat tancapgastanpajeda (seperti tulisan barusan). Guru bahasa inggris kami malah lebih parah, beliau tak pernah memenggal, langsung disambung jadi Yanirwansyah tiap kali mengabsen.

Cerita Dealova ini terjadi ketika semester akhir sekolahku, di kelas tiga. Sudah kuberi tahu kalau aku bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan? Sekarang sudah. Di kelas tiga, tepatnya semester dua, kelasku dikirim magang ke luar kota, kalau tak salah ingat itu awal tahun 2006 –bertepatan dengan booming film Dealova (lagi, aku tak suka film itu).

Kami tinggal di asrama yang berdekatan dengan lokasi magang, selama dua bulan penuh. Asrama itu punya kamar kecil-kecil, di sana aku tak mengira bakal sekamar dengan si Ian ini, padahal ketika berangkat tadinya, aku sudah janji akan sekamar dengan Rizal yang lebih sering jadi teman sebangkuku di kelas. Aku mengira itu karena kami rebutan kamar bagus, siapa cepat dia dapat. Karena kelamaan turun dari bus yang mengantar hingga halaman asrama –aku kewalahan dengan koperku yang super berat- seorang teman malah lebih dulu nyelonong ke kamar bagus yang berhasil didapat Rizal terlebih dahulu. Belakangan Rizal sempat cerita padaku kalau dia sudah berusaha ngusir si kawan dimaksud, tapi karena kamar bagus –jendelanya kaca dan lantai keramiknya baru diganti- si kawan ngotot gak mau pindah. Ya sudah, aku berlapang dada. Sekarang, aku berpikir bahwa tak bisa sekamar dengan Rizal waktu itu adalah ulah takdir agar aku punya sejarah dengan lagu Dealova yang parahnya tak kusukai seujung kuku pun dari dulu, apalagi sekarang saat tuh lagu sudah gak jamannya lagi.

Nasibku sama dengan Ian, kami kebagian kamar paling jelek di antara. Belum direnovasi, lantainya masih semen, jendelanya masih kayu, cat dindingnya sudah kusam, dan langit-langitnya penuh warna coklat bekas rembesan air hujan. Memang ada beberapa kawan yang juga kebagian kamar berkeadaan serupa, tapi punyaku dan Ian yang paling jelek. Paling bikin merana adalah, kamar kami persis berada di samping deretan kamar mandi, oh Tuhan. Bayangkan saja, bau pesing pasti akan familiar di hidungku dan Ian selama dua bulan penuh.

Home sweet home, Nay…!Aku ingat Ian berkata begitu ketika menendang pintu kamar hingga menutup dengan suara berdebam.

“Setidaknya kesempatan kita menggunakan kamar mandi lebih dulu di pagi hari lebih besar, kan?” aku juga menghibur diri sendiri dengan ucapanku buatnya. Saat menjawab begini aku membayangkan sepanjang magang seluruh siswa akan rebutan kamar mandi, dan itu benar. Aku dan Ian tak pernah ngantri di depan deretan kamar mandi itu, jarak kami dekat.

“Apa hebatnya???” balas Ian dengan nada pesimis. Belakangan, dia mengakui kebenaran ucapanku itu.

***

 

Then, Dealova syndrome pun dimulai. Tepatnya dua hari setelah ketibaan kami, satu sore Ian masuk kamar dengan wajah gembira.

“Sini, Nay…!” dia memanggilku sementara kedua tangannya sibuk mengoperasikan discman-nya (tahun segitu, discman masih punya sisa-sisa pamornya, aku bahkan masih punya walkman yang juga ikut kubawa ketika magang itu). “Dari lapak bajakan, cari album Ost. Dealova…” lanjut Ian tanpa kutanya sambil menyodorkan headphone padaku, “Aku baik, ngasih kesempatan kamu buat dengerin pertama kali.”

Sampai sekarang, aku masih ingat momen baik hati si Ian itu. Sayangnya, ketika itu aku emoh dan ngaku terus terang kalau gak suka tuh lagu. Aku tak peduli jika seandainya penolakanku berefek tak baik pada Ian waktu itu.

Menyiksa juga ternyata, mendengar lagu yang tak kita sukai dilantunkan rata-rata hampir satu kali setiap jam.

Hari-hari sisanya, dari bibir si Ian bakal terus keluar lirik-lirik lagu Mas Once itu, saat menjelang tidur, saat bangun tidur, dalam kamar mandi, keluar dari kamar mandi, bahkan saat luang pulang dari kegiatan magang. Ian bakal melolong-lolong sendiri dengan headphone di kepala. Meski puyeng, kadang aku suka ngikik, ngekek hingga ngakak sendiri melihatnya. Yang paling rusak adalah part reffrein-nya, ingat kan kalau reff lagu gak biasa banget. Nah, kalau sama Ian ini, jatuhnya tuh reffrein jadi luar binassa sekali sodara-sodara, bagian ini nih…

… yang memanggil rinduku padamu o o wow o wo

Bener gak ya tulisannya? Whatever, yang jelas aku ingin bilang kalau bagian yang kugaris-bawahi di atas adalah hal paling menggelikan yang kuingat dari history pengrusakan lagu oleh seorang Yan Irwansyah. Sungguh, aku ingat banget ekspresinya ketika sampai di bagian yang itu, bibirnya berubah dower sambil merem melek kayak orang over dosis ngerujak.

Yang aneh, Ian gak pernah bosan. Bahkan lagu itu masih jadi lagu kesukaannya sampai kami lulus sekolah pertengahan 2006. Kuberi tahu kalian, Ian berhasil mendapat sedikit tepuk tangan dan banyak acungan jempol terbalik setelah selesai ‘melantunkan’ lagu itu dengan penuh percaya diri di panggung pada hari perpisahan. Mas-mas di belakang keyboard sampai harus geleng-geleng kepala, tapi si Ian nyengir-nyengir pede aja tuh. Ck ck ck… luar biasa fanatiknya, aku memandang itu sebagai NEKAT. Nekat naik panggung padahal tak punya bakat, masih untung Ian tak disambit botol bekas air mineral.

***

Sekarang, setelah lebih enam tahun kami lulus, aku masih sering senyum-senyum sendiri tiap kali mendengar lagu Dealova diputar –tentu saja bukan dari perangkat musikku. Bukan karena suka, tapi karena ingat Ian, cowok baik tapi konyol. Formulanya, DEALOVA + KUPINGKU = YAN IRWANSYAH. Kabar terakhir yang kudengar ketika reuni puasa yang lalu, si Ian sukses meneruskan usaha bengkel orang tuanya di luar daerah, melenceng jauh dari ilmu yang diperolehnya dari sekolah menengah kami dulu. Beberapa kawan yang pernah bertemu bilang kalau Si Ian ini makin cakep. GBU, Ian… kapan kita bisa bongkar mesin bareng-bareng? Kekekekekekekeg…

 

Yuuki’s : Romance (Choi Tae-won, from OST Korean Drama ‘Endless Love’)

2-6 SMOELA 2002

Class Meeting hari itu aku malas keluar untuk sekedar melihat pertandingan basket ataupun jajan di kantin sekolah.

Kebanyakan teman-teman juga pada ‘leyeh-leyeh’ di kelas dan tentu saja karena ada satu ‘makhluk’ yang bikin aku betah di ruangan yang sedikit membosankan ini.

‘Yukito’ cinta pertamaku, well, ‘Yukito’ itu emang nick yang aku kasih buat dia. Dan dia tahu itu.

Kami duduk berseberangan. Dia di deretan pojok tempat duduk sebelah barat dan aku di deretan pojok tempat duduk paling timur.

Aku sedang sibuk membaca komik waktu itu. pura-pura membaca lebih tepatnya, xixixixi.

Meskipun keinginanku untuk sekelas dengannya sudah terkabul, aku masih saja sering curi-curi pandang seperti waktu kelas satu dulu.

Yuki sedang ngobrol dengan Dani, sahabat karibnya. Mereka satu band dan kebetulan hari itu Yuki membawa gitar, ‘kekasih’nya yang setia, itu yang sering dia bilang ketika aku menelponnya.

Aku tak lagi berkonsentrasi pada komik yang aku pegang.

Apalagi ketika suara petikan gitar mulai memenuhi kelas 2-6.

Aku yakin itu Yuki.

Benar saja, pemuda ber-Megane (berkacamata) itu nampak menghayati memainkan ‘kekasih’nya, jemarinya terlihat terampil memetik senar-senar panjang di benda itu. Sesekali matanya terpejam, bibirnya yang mengatup terkadang menggumam lirih.

Mendadak suasana kelas begitu hening. Hanya alunan nada yang dimainkan Yuki yang terdengar.

Sebuah nada yang aku kenal betul.

Aku dan dia pernah membicarakan musik itu, instrument sederhana dari Drama Korea yang sedang hangat dibicarakan kala itu.

Romance oleh Choi Tae-won – Ost Korea Drama Endless Love.

Tiba-tiba,

DEG!

Pandangan kami bertemu.

Dia menatapku lekat-lekat dan aku benar-benar tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

Lama dan rasanya kesehatan jantungku langsung terganggu saat itu juga.

Yuki lalu menyengir tipis, tapi kalau diingat lagi rasanya itu lebih mirip sebuah seringaian, mungkin dia menyadari kalau dari tadi aku diam-diam mencuri pandang ke arahnya.

Siaaaaalllll!

Aku ketangkap basah.

Rasanya kalau ada sumur, aku pingin nyebur aja dech…

Tapi kalau beneran nyebur, ntar jadi Movie The Ring Indonesian version yak? LOL

Meskipun malu karena ketahuan, tapi aku benar-benar bahagia ketika dia tersenyum dan menatapku.

Umm… senyum atau seringaian ya? Hahahaha…

Yang jelas, aku terlalu bahagia waktu itu ^///^

 

Hatsu Koi (Cinta Pertama) sepertinya memang susah buat dilupakan ya? Setiap mendengar Instrument dari Korean Drama Endless Love itu, aku selalu saja teringat moment kecil bersama Yuki.

Semua tentang dia, sampai kapanpun, sepertinya akan menjadi cerita yang terpatri di sudut hatiku.

Hatsu Koi yo… meskipun kita nggak pernah jadian, karena ternyata kamu nggak punya perasaan yang sama kayak perasaanku ke kamu, tapi… Terimakasih ya…

Terimakasih untuk kenangan selama tiga tahun di SMU dulu.

Dan Terimakasih untuk kenangan selama hampir sepuluh tahun ini.

Terimakasih untuk semuanya.

Ah… aku rinduuuuuu~ TTwTT

Olief’s : Safe and Sound (Taylor Swift)

Lagu ini dari seseorang yang pernah dan masih berarti di hati. RD, sahabat sekaligus kawan yang tinggal di Johor. Dua tahun lebih kami berteman baik hingga suatu saat muncullah orang-orang di sekitar kami, mulai masuk dan satu persatu masalah timbul.

Aku ingat sekali waktu itu keadaan kacau sangat. Kepercayaan memudar, kebohongan terkuak dan kesetiaan terlihat. Semua kacau. Dia marah, kita bertengkar besar saat itu. Dia cold, tak banyak bicara, tapi aku tahu bagaimana dia. Setelah terjadi pertumpahan darah dan air mata #lebay# lalu disaat semuanya memburuk, aku pasrah jika hubungan kami akan berakhir saat itu.

Tak ada kalimat panjang atau kata-kata yang menenangkan, tapi tiba-tiba dia memberi link Youtube lagu ini.

Cukup.

Hanya dengan itu saja, cukup buatku untuk mengetahui bahwa kami akan baik-baik saja. Seakan dia ingin mengatakan seperti apa yang disampaikan pada lirik lagu itu.

Don’t you dare look out your window darling

Everything’s on fire

The war outside our door keeps raging on

Hold onto this lullaby

Even when the music’s gone


Just close your eyes

The sun is going down

You’ll be alright

No one can hurt you now

Come morning light

You and I’ll be safe and sound

 

Afni’s : Only Love (Trademark)

Ada yang masih ingat, bagaimana perasaan berbunga ketika disayangi dan menyayangi? Disukai dan menyukai? Bukan perasaan sepihak nggak berbalas, perasaan mengagumi diam-diam, yang hanya berani mengamati dari kejauhan. Atau mungkin saat ini ada yang sedang ngalamin?

Lagu ini sedikit banyak mengingatkan saya pada perasaan itu. Perasaan saat saya duduk di semester tiga bangku kuliah. Menyukai seorang senior setingkat di atas saya, yang waktu itu membuat saya ngerasa beruntung karena ternyata dia punya perasaan yang sama. Saya berharap banyak padanya, pacar saya yang pertama. Saya berharap dia bisa jadi teman, sahabat, pacar, sekaligus saudara. Saya juga sempat berharap dia jadi yang pertama sekaligus terakhir. Tapi kadang kenyataan nggak sesuai dengan harapan kan?🙂

Beberapa hari setelah kami jadian, dia memberi saya sebuah disket. Waktu itu flashdisk masih barang langka dan mewah, CD burning juga masih jarang, jadi disket adalah penyimpan data yang umum dipake, ada yang menebak kira-kira jadul tahun berapakah itu?😀 Waktu itu dia bilang, disket itu berisi game. Hhe? Game? Padahal saya nggak pernah cerita kalo saya suka main game, dan saya emang nggak suka main game. Ya udah lah, saya pikir disimpen aja kan nggak apa-apa. Jadi, setelah senggang, akhirnya disket itu saya buka di komputer Pentium 3 saya (hihihi.. jadullll..), dan isinya adalah sebuah file bertipe Flash, ada yang tau? Yang iconnya belah ketupat warna pink itu..🙂 Yang membuat saya tersenyum adalah, file itu bernama “Kucingnya Afni”. Iya.. iya.. saya bukannya nggak ngerti kalo nge-rename file segampang itu, cukup klik kanan filerename – kasih nama semau kita – enter. But still, it was so sweet.. File itu akhirnya saya pindahkan ke harddisk, dan disketnya saya pake buat nyimpen data-data paper dan laporan praktikum.

Ternyata file itu jauh dari yang namanya game, tapi lebih mirip flash video. Sama sekali nggak ada tombol-tombol yang bisa diklik seperti umumnya flash game. Video itu sendiri menayangkan slide gambar-gambar kucing yang ampun dah imutnya, di tiap gambar ada quotes dalam Bahasa Inggris tentang kita nggak bisa hidup sendiri, memiliki seseorang di samping kita itu indah, dan seterusnya.. dan seterusnya. Yang bikin saya ber’hah?’, lagu yang dipake sebagai backsound dalam flash video itu adalah Trademark – Only Love.

Ada yang tau lagu ini? Atau grup vokal ini? Trademark adalah sebuah grup vokal asal Jerman yang beranggotakan tiga orang personil. Kalo saya nggak salah inget, saya mulai kenal grup ini waktu saya SMP, dengan single hits-nya ya lagu ini, Only Love. Lagunya emang ear-catching buat saya, mellow dan relaxing, tapi saya sama sekali nggak suka sama grup ini karena penampilan mereka yang “nggak banget” dibandingkan boyband yang waktu itu sedang marak, kekeke… maklum ya, masih ababil, gitu…🙂

Maka selanjutnya, flash video itu jadi penting buat saya, berikut lagu ini. Kapanpun saya duduk serius di depan komputer, atau bengong nggak jelas di kamar kos, saya pasti puter flash video itu, berulang-ulang, dan senyum-senyum gaje setelahnya…

Setelah hubungan kami akhirnya bubar di tengah jalan, saya masih simpen flash video itu, masih suka ngeliat meskipun nggak sesering dulu. Jelas ya, ngeliat flash video itu berarti juga mengingat orang yang ngasih.

Dan kemudian, sebuah bencana – seenggaknya buat saya – terjadi. Harddisk komputer saya rusak… T_T Saya kehilangan semua data di dalamnya. Nggak terselamatkan lagi. Tau kah, apa yang saya tangisi karena hilang waktu itu? Sama sekali bukan salinan materi kuliah dari dosen, beberapa paper atau apapun itu yang penting… Tapi justru file musik dan flash video yang cuman satu-satunya itu. Sedih rasanya, dan iya, saya bener-bener nangis. Konyol ya? Kenapa juga saya harus menangisi pemberian orang yang saya pengen lupa. Lebih konyol lagi ketika akhirnya saya meminta file yang sama dari orang itu. Dan berkali lipat konyol, karena saya bilang, saya maunya file itu tetep dikasih nama “Kucingnya Afni”. Waktu itu dia mengiyakan. Tapi nyatanya, setelah saya lulus duluan, dia menyusul setahun kemudian, dan bertahun-tahun selanjutnya sampe sekarang, saya nggak pernah mendapatkan lagi flash video itu… Hm, seenggaknya saya masih bisa denger lagunya kan?🙂

But only love can say

Try again or walk away

But I believe for you and me

The sun will shine one day

So I just play my part

Pray you’ll have a change of heart

But I can’t make you see it through

That’s something only love can do

 –

Ini cerita kami, apa ceritamu?🙂