By : Jipi Taufiq Nurammadhy Ni

Asap mengepul ke udara membentuk kumpulan awan hitam
Sang mega tertutup pekat asap di dirgantara
Hati mendera oleh kesakitan yang kelam
Tiada luka kubawa lari tapi mendapat sengsara

Surya tenggelam dalam siang
Bayang menghilang ditelan bumi
Dalam kelam yang tersayang
Dalam senang kau tlah pergi

Awan hitam tlah menyatu
Gerimis berisik memecah suka
Hati mendalam karenamu
Getar terusik karena cinta

Kau pergi tanpa suka, kau pergi bukan mau
Sendau gurau di kalbu mati karena kepergianmu
Tak ada kata hanya sendu, isakku terlepas
Apa kata??
Tapi berucap dari tuturmu, Sang pelangi akan tiba
Bianglala telah ada untuk menggantikanmu
Apa bisa??
Hanya semoga………………..

Duka hati karena sang kekasih pergi membuatku terpuruk berminggu-minggu. Tapi kenapa? Dia pergi tanpa perpisahan yang berarti. Hanya sepucuk surat yang ia tulis yang membuatku sedikit lega. Mungkin memang benar apa yang dikatakan orang? Semakin kita menyukai seseorang, semakin susah pula untuk melepaskannya. Tapi apa yang dia tulis adalah benar. Aku tak boleh terus-terusan berduka cita. Aku tak mau menyia-nyiakan hidupku dalam kamar yang sempit ini. Mengenangnya adalah hal yang membuatku tersenyum saat ini. Tapi kesedihan itu muncul saat sosoknya telah menghilang dalam bayanganku. Aku punya teman-teman yang baik. Teman-teman yang mengerti aku. Apa yang kulakukan salah. Menganggap mereka bukan siapa-siapa akhir-akhir ini.

☺☺☺

Sabtu yang cerah.

Awan sudah mempersiapkan mobilnya. Yap, hari ini aku akan pulang. Pulang ke kampung halaman tercinta. Berdiam diri sendiri tanpa hiburan akan membuatku stress sendiri. Rumahku dengan Awan searah. Dan dengan kesediaannya, ia mau mengantarku pulang dengan mobilnya.

“Barangnya udah masuk semua?”, tanya Awan mengingatkan.

“Udah kok, ini tinggal tas ransel aja”, aku menaruh barang terakhir itu di bagasi belakang.

“Oke, ayo jalan!”, aku tersenyum. Senang sekali melihat Awan yang ceria. Kamipun langsung melesat menuju tempat tujuan.

Hampir tak ada celah baginya untuk berhenti mengoceh di sepanjang perjalanan. Awan benar-benar membuatku tertawa. Entah apa yang terjadi? Tak biasanya dia seantusias ini bercanda denganku. Aku tahu, dia berusaha untuk menghiburku. Dan dia berhasil. Sungguh lelaki yang baik.

☺☺☺

Tiga jam perjalanan sudah kami tempuh. Waktu yang sebentar kan? Yah, tapi rumah Awan masi jauh karena dia tinggal di Solo. Mobil Awan mulai memasuki pelataran halaman rumahku. Bundaku keluar ke teras. Beliau tersenyum menantikan putra kesayangannya telah tiba.

Kami turun dari mobil sedangkan Bunda berjalan menghampiri kami.

“Aduh, lama bener kamu pulangnya?”, tanya Bunda sambil bersiap merangkulku.

“Ih, Bunda ini. Malu tahu, diliat temen”, protesku saat pelukan Bunda sudah melingkar di pinggangku. Bunda mencium pipi kiri dan kananku bergantian. Mukaku bersemu merah.Sedangkan Awan hanya tersenyum puas melihatku aku diperlakukan seperti itu.

“Sama Bunda sendiri kok malu. Aneh kamu ini”, Bunda melirikkan matanya kearah Awan. Awan bersikap ramah dengan memasang senyum termanisnya. ‘Aduh, gantengnya!’, pasti itu yang ada di pikiran Bunda saat ini.

“Temen kampus yah? Namanya siapa nak?”, tanya Bunda. Awan berjalan menghampiri Bunda.

“Perkenalkan, nama saya Awan bun. Kakak tingkat Alfa”, Awan mencium punggung tangan Bunda dengan sopannya. Bak calon mantu aja dia.

“Iya, saya Bundanya Alfa. Boleh panggil Bunda Muji. Ngomong-omong rumah nak Awan mana? Kok bisa sempet nganter Alfa? Jadi ngrepotin nih”, kata Bunda agak sungkan.

“Gak apa-apa kok bun. Rumah saya di Solo. Mau tahu juga rumah Alfa disini. Rencananya sih mau nginep disini selama seminggu. Boleh nggak bun?”, aku sukses melotot. Bahkan dia gak bilang apa-apa sewaktu perjalanan kemari kalau ada rencana untuk menginap.

“Oh, boleh boleh. Mau tinggal disini juga gak apa-apa’, canda Bunda yang aku respon dengan kernyitan.

“Beneran bunda?”, tanya Awan sok imut.

“Iya, punya anak ganteng satu lagi siapa yang gak mau?”, puji Bunda berlebihan.

“Ya udah ayo masuk! Barang-barangnya sekalian dibawa!”,

☺☺☺

Keluarga bahagia. Itulah yang diucapkan Awan padaku. Katanya aku orang beruntung dimana banyak orang yang menyayangiku.

Awan dan Ayah sedang mengobrol di teras rumah sedangkan aku membantu Ibu memasak di dapur.

“Emang liburan kemana?”, tanya Bunda disela kesibukannya mencuci sayuran.

“Oh, kemaren liburan ama temen-temen ke objek wisata sekitar jogja aja Bun”, jawabku bohong. Mana mungkin aku jawab jika aku mengurung diri di kamar bak perawan?

“Kok lama bener? Sampai tiga minggu loh”, Bunda menatapku sinis tapi malah jadi kelihatan lucu.

“Ha ha ha, Bunda apa-apaan sih? Natap aku kaya gitu? Lucu tau”, aku hanya bisa tertawa terbahak keras. Bundaku memang lucu. Beliau sering memuat suara-suara yang membuatku tertawa. Sebenarnya itu trik untuk membuatku berhenti menangis sewaktu kecil. Eh, malah keterusan sampai sekarang.

“Aku ada tugas buat OSPEK anak-anak Maba juga Bunda”, sambungku lagi setelah menghentikan tawaku. Tentunya alasan kali ini juga bohong. Tapi tentang aku yang panitia OSPEK adalah benar. Cuma persiapan buat OSPEK belum direncanakan kemaren-kemaren.

“Oh, gitu”, Bunda memasang wajah lucu lagi. Aku tersenyum. Inilah yang kukangenin dari Bunda. Sangat menghibur dan jadi tempat curhat. Ha ha ha. Emang pelawak? Anak kurang ajar!

“Udah,udah Bunda. Ngomong-ngomong adek kenapa masi di kosan? Betah banget dia?”, tanyaku penasaran. Karena dari tadi pagi Bunda cuma bilang Adek balik ke kota seminggu yang lalu.

“Iya, Adekmu ke kota bukannya karena betah. Dia lagi ada training buat ikut lomba”, jelas Bunda disela aksinya menumis sambal goreng.

“Hah, capek ya Bunda kalo ikut lomba terus. Keinget jaman dulu. Karena keseringan keluar kota jadinya gak ada waktu buat main sama temen-temen”

“Itu kan karena kamu sendiri yang kuper anakku. Keluar rumah aja nggak mau. Masa sampe menikah nanti kamu mau ngempeng sama Bunda terus?”, canda Bunda lagi.

“Yeeee, ya nggaklah Bunda. Emang sekarang aku hobi ngempeng?”

“Percaya,percaya Anak Bunda nggak ngempeng lagi. Itu temenmu Awan temen satu jurusan?”

“Bukan Bunda, dia di IT. Kenalnya aja dari si Ivy. Temen cewek yang aku certain tempo dulu itu loh”

“Oh, Ivy pacar kamu ya?”, goda Bundaku sumringah. Aku mengernyit lagi. Kebiasaan yang aku lakukan jika Bundaku sudah bersikap seolah-olah aku anak 7 tahun.

“Bukanlah, Bunda itu sok tahu. Dia itu cuma temen aja”

“Anak Bunda dibercandain gampang ngambek”, aku mengerucutkan bibir. Bunda masi tersenyum puas.

“Hah…”

“Tapi Bunda pengen punya mantu kaya Awan. Baik, ramah dan sopan”

DEG!!

Apa yang dikatakan Bunda membuatku hampir tercengang.

“Kenapa Bunda bicara seperti itu? Anak Bunda yang disini cowok semua. Siapa yang mau dinikahin sama Awan?”

“Bunda juga bingung”, aku mengernyit untuk ketiga kalinya. Nah lo?

Apa Bunda masi mengharapkan aku seorang cewek? Obsesi Bunda dahulu adalah pengen punya anak perempuan pada kelahiran kedua. Karena di kelahiran pertama, Bundaku mendapatkan anak cowok yaitu kakakku. Yah itu, mungkin aja Bunda masih berharap kalau aku seorang perempuan. Tapi aku yakin Bunda akan menerima keadaan anaknya. Walaupun anaknya seperti ‘ini’.

Ayam Bumbu Pedas, Ayam Tepung, Ayam Madu, Ayam Kecap, Sambal Goreng, Oseng-Oseng, Sayur Terong dan berbagai gorengan sudah siap tersaji. Jangan tanya kenapa aku suka ayam kaya Upin dan Ipin!

Kami berempat sudah berkumpul di meja makan. Akan menjadi acara makan bersama yang menyenangkan walaupun minus kakak dan adikku.

“Kalian mau liburan kemana aja rencananya?”, tanya Ayahku spontan.

“Belum ada rencana Ayah. Emang kesini Awan mau jalan-jalan?”, Aku menatap Awan.

“Yah, padahal asyik tuh kalo liburan bareng. Kita jalan-jalan ya Fa?”, ajak Awan menandakan ia menyetujui Ayah.

“Atau kalian ke Pantai Nampu dan Sembukan? Terus ke museum Kars dan ke Waduk Gajah Mungkur. Tempatnya deket-deket dari sini”, sambung Ayahku lagi.

“Wah, boleh tuh yah. Ayah sama Bunda juga ikutan ya? Biar ramai”, wajah Awan berubah jadi antusias.

“Bunda sama Ayah udah kebanyakan jalan-jalan tiga minggu sebelum kalian kemari. Jadi Nak Awan sama Alfa aja yang jalan-jalan. Sekalian biar Alfa kasi tau tempat-tempat bagus di Wonogiri”, ujar Bunda.

“Beres deh Bunda!”, Awan mengacungkan jempolnya.

Makan malam yang kurindukan di rumah telah usai. Malam makin larut tapi tak hentinya Ayah ngajak ngobrol ngalur ngidul Awan. Beberapa jam kemudian sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktunya orang-orang untuk tidur.

“Ngapain kamu ngikut masuk?”, Aku menolehkan wajah ke belakang menghadap Awan yang tengah mengekorku.

“Mau ikut tidurlah”, katanya dengan tatapan mengantuk.

“Kamu kan sudah disiapin kamar? Pake aja kamar kakak atau adekku. Kenapa malah ngikut-ngikut?”, tanyaku sinis.

Awan mendorong tubuhku memasuki pintu dan menutup sembari mengunci pintunya.

“Apa-apaan sih? Mana kuncinya!”, bentakku kecil karena aku tak mau membangunkan kelelapan orang-orang dalam tidur.

“Udah, ayo masuk!”, Awan mendorong tubuhku pelan hingga seluruh ragaku masuk ke dalam kamar yang akan kutempati. Hingga setelahnya ia mengunci pintunya dan tersenyum puas.

“Eits, siapa suruh mengunci pintu kamarku tanpa permisi?”, mataku yang mulanya hampir mengatup sukses melotot kea rah wajahnya.

“Ah, kamu ini. Udahlah, emang aku mau ngapain kamu? Ayo bobok”, kunci pintu ia kantongi ke saku celananya dan badannyapun ia rebahkan ke kasur kesayanganku.

“Terserahlah, heran aja sama kamu. Kamarkan banyak, ngapain tidur bareng denganku?”, kataku sinis.

“Namanya juga acara nginep. Kalo tidur sendiri-sendiri gak enaklah”, Awan memiringkan posisinya dengan mengeloni sebuah guling.

“Ya udahlah, yang penting jangan ganggu tidurku”,aku ikut menempati kasurku dan memiringkan badanku dengan berlawanan arah dengan Awan.

“Met bobok”,ucapnya yang masih membelakangiku.

“Iya, selamat malam juga kakakku!”,balasku hingga selang beberapa menit kami terlelap dalam mimpi masing-masing.

☺☺☺

Suara adzan membangunkan tidurku. Kurasakan sesuatu yang hangat merangkul tubuhku. Kepalaku tepat menempel di dadanya. Aroma khasnya tercium sempurna di hidungku. Astaga, jantungku berdetak kencangnya. Dasar tak tahu diri! Kenapa seperti ini? Bahkan aku menikmati pelukannya. Ini tak boleh terjadi. Sepelan mungkin, aku berusaha memindahkan tangannya dari badanku. Namun dalam sepersekian detik dengan cepat Awan mendaratkan pelukannya lagi. Kali ini lebih erat. Kudongakkan kepalaku ke atas dan terpampang jelas wajah teduhnya dengan mata yang masih menyipit layaknya orang yang baru saja terjaga dari tidurnya.

“Jangan pergi dulu”,ucapnya lirih. Lagi-lagi aku menikmatinya. Pelukan yang hangat. Pelukan yang sama saat bersama Carel. Tapi aku sadar bahwasanya dia adalah orang berbeda.

“Uhm, jangan terlalu erat! Aku sesak napas ini”, protesku di tengah kenyamanannya.

“Iya deh, tapi jangan kemana-mana dulu”, pintanya seakan dia takut aku pergi.

“Iya, aku tahu”, secara perlahan ia melonggarkan rangkulannya. Kini aku bisa merasakan kenyamanan yang luar biasa di pelukan seseorang.

“Aku mau bilang sesuatu”,jantungku makin gemetar saat suara bassnya memasuki gendang telingaku.

“Aku cinta kamu”, sambungnya sembari mengecup dahiku.

Aku hanya kikuk tanpa ekspresi pada ronaku. Gejolak batin antara senang dan penolakan akan rasa itu bergemuruh di ulu hati.

“A….aku…”

Tok tok tok

Suara ketukan pintu terdengar dengan jelas.

“Bangun anak-anak! Udah saatnya shalat subuh”, suara berat Ayah diseberang pintu juga ikut membungkam aksi buka bicaraku.

“Iya, Ayah”, sahut Awan yang sudah melepaskan pelukannya dariku.

“Ya udah, bangunin Alfa juga ya Nak Awan”

“Aku dah bangun Ayah”, balasku juga.

“Kalau begitu Ayah tunggu di luar. Ayo shalat berjama’ah ke masjid”, titah beliau. Udah jadi adat di rumah ini jika shalat wajib harus berjamaah ke masjid. Bahkan itu harus bagi yang laki-laki.

“Iya”, jawab kami serempak. Awan membuka pintu kamar dan menengok kearahku yang masih duduk di ranjang.

“Acara peluk-pelukannya dilanjutin nanti aja. Okey?”, katanya dengan tatapan nakalnya. Aku hanya memasang muka bersemu merah karena dipermainkan lelaki yang kononnya mantan playboy itu.

☺☺☺

Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Suasana sarapan pagipun tambah menyenangkan ketika Awan memulai guyonannya. Entah kenapa, dia semakin terlihat seperti Carel walau mereka jelas-jelas orang yang berbeda. Hanya merasa aneh saja dengan sikap dan tingkah polahnya yang sama-sama cool. Tapi sejak setelah shalat subuh tadi, aku agak merasa sedikit canggung tiap bertemu kata dengannya.

☺☺☺

Acara makan pagi sudah lewat. Saatnya mengantar Awan ke tempat pariwisata di sekitar Wonogiri yang sudah dibicarakan kemaren.

“Kita mau kemana?”, tanya Awan sebelum aku naik ke pemboncengan motor. Kali ini kami memakai sepeda motor milik Ayah yang jarang dipakai. Biar lebih asyik kata Awan jika naik kendaraan terbuka.

“Kita ke Pantai Nampu, pantai yang kurindukan”, jawabku agak sedikit alay.

“Jauh gak tuh?”

“Cuman deket kok. Lima belas menit juga sampai”, jawabku sekenanya.

“Yah, gak asyik tuh. Masa cuma deket? Cari yang jauhan dikit dan lebih baguslah”, gerutu Awan yang sudah siap dengan motornya.

“Itu tempat paling bagus tauk. Emang kenapa sih? Kesana aja belum, udah bilang gak bagus”

“Gak bisa lama-lamaan di peluk sama Alfa”, Ia menorehkan wajahnya ke belakang sambil mengamatiku yang baru saja duduk di jok motor.

“Apaan sih? Dasar playboy tukang gombal! Gak mempan!”, ejekku di telinganya yang tertutup helm hingga motornya tiba-tiba ia lesatkan.

“Heyyyyyyy!!!!!!……..”, refleks langsung kupeluk dia.

☺☺☺

Kami berdua duduk di tepian pantai memandang gelombang laut yang berkejar-kejaran. Suasana alampun tercipta dari deru ombak dan semilir angin yang menyatu. Memang kami berada di sisi lain pantai ini. Ada dua tebing yang membatasi tiap tepi pantai menjadi tiga bagian. Sedangkan kami berada pada sisi timur dimana tempat ini merupakan wilayah yang jarang dikunjungi wisatawan. Apalagi ini masih pagi dan kami cuma berdua saja.

“Gimana tanggapanmu tadi?”, Awan memulai percakapan semenjak berdiaman 10 menit yang lalu.

“Tanggapan apanya?”, tanyaku balik dengan memasang wajah pura-pura tidak tahu. Padahal aku mengerti apa yang akan ia bicarakan ini.

“Aku cinta kamu”, ucapnya frontal tanpa berpikir panjang.

Kutatap matanya lekat-lekat. Keseriusan terpancar dari binar matanya. Aku terdiam, lagi. Rasanya seakan ingin terpelosok ke dalam jurang kebimbangan. Satu sisi aku berketetepan bahwa Carel tetap tak tergantikan sedangkan disisi lain aku dengan cepatnya menemukan seoarang yang sama-sama membuatku nyama namun dengan cover yang berbeda.

“Apa dia tak tergantikan? Apa aku tak bisa menggantikannya?”, tanyanya bertubi-tubi.

Aku berpikir sejenak.

“Beri aku waktu. Mungkin saat ini belum ada yang bisa menggantikannya. Atau ego pemikiranku saja yang tak bisa lepas darinya. Diapun pernah berkata jika akan ada orang yang harus menggantikannya tapi sepertinya bukan untuk saat ini”, aku menundukkan kepalaku.

“Tenang saja, aku orang yang sabar menunggu. Kamu tahu? Aku menyukaimu dari dulu. Orang yang kubicarakan denganmu dulu adalah kamu. Cleo hanya bagian untuk mengalihkanmu saja. Tapi pikiranku tak bisa berjarak dari gambaran tentangmu. Jadi pada akhirnya aku hanya berani mengungkapkan itu sekarang”, Awan tersenyum seolah-olah terlepas dari bebannya. Dengan cepat ia memelukku lagi.

“Ini lanjutan yang tadi”, sambungnya.

☺☺☺

“Aw!!!”, aku mengeluh kesakitan saat sesuatu mengenai kepalaku.

“Ya ampun, kaleng minuman ternyata. Siapa yang dengan serampangnya melempar ini?”, tanya Ivy geram.

Selang beberapa menit anak muda berbadan jangkung menghampiri Aku, Ivy dan Andre.

“Maaf Kak Alfa yang manis, tadi sengaja”, ucapnya tanpa beban. Cengengesnya yang merupakan gaya dari anak lelaki ini.

“Sengaja buat apa?”, tanya Andre kepo.

“Buat diperhatiinlah. Masa dari tadi aku gak disapa coba?”

“Yey, tadikan gue sama Ivy sering nyamperin kelompokmu otomatis sering ketemuan juga kan?”

“Apaan? Siapa juga yang mau disamperin kalian berdua? Aku maunya diperhatiin sama kak Alfa tauk”, jawabnya dengan menatapku.

“Ya ampun, tapi tetep aja ini namanya gak sopan. Masa seniornya di lemparin kaleng? Kamu MABA yang tak sopan”, ejekku.

Yah, 2 bulan setelah liburan aku dan teman-temanku disibukkan dengan kegiatan penerimaan mahasiswa baru di kampus ini. Dan kami bertiga merupakan anggota panitia OSPEKnya. Sedangkan tak disangka, anak kecil yang sering menggangguku datang lagi. Awalnya sempat kaget karena dulu ayahnya bilang kalau dia setelah lulus nanti akan disekolahkan ke luar negeri. Tapi ternyata dia memilih untuk kuliah disini. Sejak hari pertama OSPEK sampai hari akhir ini memang aku sengaja tak menghiraukannya karena takut diperhatikan orang. Dia kan orang dengan sifat tak terduga. Jika dia melakukan sesuatu terhadapku di hadapan teman-temanku bisa berabe aku.

“Maaf deh, mana yang sakit? Kasian kak alfaku”, katanya sambil mengelus kepalaku yang terkena lemparan kalengnya tadi.

“Huh, dasar”, ucap Ivy.

“Biarin, eh kak entar malam inagurasi ada pertunjukkan ketua kelompok dengan salah satu kakak panitia. Kakak sama aku aja ya?”

“Apa? Aku? Sama kamu?”, aku memasang wajah bloon.

“Iya, ntar aku yang main gitar dan kakak yang nyanyi”

“Ogah ah, aku gak bisa”

“Udahlah Fa, turutin aja kemauannya. Suara loe juga baguskan? Nyumbang tuh buat acara”, tambah Andre.

“Iya nih, kakak-kakak panitia yang diajak MABAnya buat acara inagurasi ntar malam di peraturannya harus mau loh”, kali ini Ivy yang menimpali.

“Iya,iya”, jawabku pasrah

Kamipun berlatih berdua.

☺☺☺

Malampun bertamu. Malam inagurasi telah berjalan setengah bagiannya. Kini para juru acarapun memanggil namaku dan Oscar. Sorak sorai penontonpun terasa memenuhi sekeliling panggung. Tepuk tangan saat kami tampil di depan sangat antusias hingga Oscar memetik gitarnya dan akupun mulai mendendangkan senandungku

Lihat awan disana berarak mengikutiku
Pasti diapun tahu
Ingin aku lewati lembah hidup yang tak indah
Namun harus kujalani

Berdua denganmu pasti lebih baik aku yakin itu
Bila sendiri hati bagai langit berselimut kabut

Gemuruh semangat warga Fakultas makin ramai. Meneriaki nama kami. Lagu kedua telah siap dimainkan.

Kaulah yang pertama
Menjadi cinta
Tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga
Seluruh cintaku untuknya

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepadanya yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang tuk selamanya
Oh ho

Betapa cinta ini
Sungguh berarti
Tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih
Kau telah pergi selamanya

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepadanya yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang tuk selamanya
Oh ho

Kaulah yang pertama
Menjadi cinta
Tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga
Seluruh cintaku untuknya

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepadanya yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang tuk selamanya
Oh ho

Lagu bunga terakhir menutup penampilan kami disusul tepuk tangan meriah dari para penonton yang menyaksikan.

Malam inagurasi tlah usai. Sebelum kami turun panggung, Oscar bilang padaku untuk menemuinya di belakang panggung setelah acara selesai. Sosok yang memintaku datang telah berdiri sambil tersenyum kearahku. Kini aku merasakan adanya hawa penembakan lagi.Ini pertanda jika aku harus siap-siap merangkai kata untuk menolaknya dengan halus.

“Kak..”

“Iya”

“Makasi”

“Untuk apa?”

“Untuk malam ini”

“Kakak telah menutup malamku dengan sempurna. Setidaknya ada momen terkenang yang tidak akan aku lupakan. Sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak lama. Aku udah punya kesadaran akan kakak yang tidak bisa mencintaiku. Kakak memang benar, hubungan kita akan langgeng jika kita menjadi adek kakak. Jadi, aku berharap kakak bisa bahagia tanpa merasa bersalah akan perasaanku”, Oscar tersenyum tipis. Aku terkesiap takjub memandangnya. Kata-kata dewasa terpanjang yang kudengar dari bibir kecilnya.

“Maafkan kakak selama ini. Kakak akan berusaha menjadi kakak yang baik buatmu”

“Minta peluk dan cium”, rengeknya.

Aku mendekat kearahnya. Hingga tangan kokohnya memelukku erat.

“Cium…”, katanya.

Cup

Satu kecupan mendarat di pipi kananku.

“Ehem……”, sebuah suara mengagetkan kami. Oscar melepaskan pelukannya. Dan pandangan kami menuju kearah sumber suara.

“Calon kakak ipar rupanya. Ya udah pergi dulu. Cium satu kali lagi”, kecupan lagi di pipi kiriku setelah itu ia melenggang pergi sambil menjulurkan lidahnya kearah Awan pertanda ejekan.

“Dasar, emang anak itu suka cari kesempatan”, Awan bersuara.

“Emang, trus ngapain kamu disini?”

“Mau ngasih ini”, Awan memberiku bunga semacam mawar yang tak kutahu jenisnya.

“Bunga apa ini?”

“Ini bunga mawar apel, nama latinnya Rosa villosa. Lambang cinta untuk yang terkasih. Dan aku memberikanmu ini untuk tahu apa isi hatimu padaku. Jika kamu menerimanya berarti kamu juga mau menerima cintaku”

Selang beberapa detik, mawar apel itu sudah berada di genggamanku. Awan tersenyum puas. Akupun juga.

“Dengan ini kamu jadi pacarku”, ucapnya tegas.

“Siapa bilang? Aku kan gak bisa nolak bunga mawar”

“Jadi?”, ia memasang muka cemberut.

“Aku bercanda. Aku mau kok”

“Yes,”,kini giliran Awan yang memelukku. Bibir nan manis itu bertaut dengan bibirku.

Mawarku adalah kamu. Hingga suatu saat mawar itu telah menjadi layu tak berdaya. Dengan berjalannya masa, mawar apel Rosa villosa tlah membuka lembaran baruku. Namun tetap terpatri sempurna perjalanan lalu kita sebagai kisah bahagia.

Terlarut dalam kesedihan. Tuturmu membimbingku ke jejak dimana tempat mawar lainnya tumbuh. Mawar apelku nan permai di sanubari romansaku.

END

nOTE :

Assalamu’alaikum
Salam oki doki ☺☺☺

Akhirnya rampung juga. Makasi untuk semuanya, buat kak Nayaka, kak Rafa,kak faid, kak Desem, dan para komentator-komentator lainnya. Saran dari kalian sungguh sangat membantu.

Buat kak Aiz yang dulu sempet promosiin Jipi, buat DEKA(MY lovely <3), kak renly, Delpho & Adek Nyu AHSANUL HILAL.

Satu lagi, karena cerbung ini awalnya untuk seseorang yang dulu sempet istimewa Om Poe.

Wassalamu’alaikum ☺☺☺