by Desem

 

joan of arc

iseng-iseng buka lepi pak lung, nemu film tentang salah seorang santo yang aku kagumi, santo cewek bernama Jeanne d’Arc. fufufu langsung nonton deh.

moga ada yang suka juga😀

## Jeanne d’Arc##

Identitas Film

Judul: he Messenger: The Story of Joan of Arc

Tahun rilis : 1999

Sutradara: Luc Besson

Penulis skenario: Andrew Birkin, Luc Besson

Bintang: Milla Jovovich, John Malkovich and Dustin Hoffman

Sinopsis

Film ini diangkat dari biografi seorang perempuan yang menjadi santo (orang suci agama katholik) sekaligus pahlawan perancis yang bernama Jeanne. Jeanne d’Arc lahir di Lorraine, Perancis, 6 Januari 1412 – meninggal di Rouen, Normandia, Perancis, 30 Mei 1431 pada umur 19 tahun), (dalam bahasa Inggris: Joan of Arc) . Di Perancis ia dijuluki La Pucelle yang berarti “sang dara” atau “sang perawan”.

cerita berawal dari narasi tentang pertempuran 100 tahun antara Inggris dan Perancis. Periode sebelum datangnya Jeanne adalah salah satu titik terendah dalam sejarah Perancis. Perang yang berlarut-larut telah menyebabkan kesengsaraan masyarakat, terutama pada bagian utara yang dikuasai oleh Inggris. Ada kemungkinan besar bahwa Perancis akan bergabung dengan Inggris sebagai suatu “Monarki Kembar” (“Dual Monarchy”) di bawah pemerintahan raja Inggris.

Raja Perancis pada waktu lahirnya Jeanne, Charles VI menderita penyakit jiwa dan sering tidak mampu untuk memerintah kerajaannya. Dua saudara raja, duke of Burgindi John the Fearless and duke of Orléans Lois bersengketa atas hak perwalian.

Raja Inggris, Henry V, mengambil kesempatan dari kekacauan ini untuk menguasai Perancis. Secara dramatis ia memenangi pertempuran di Agincourt pada 1415, dan terus melanjutkan menguasai kota-kota di bagian utara Perancis. Calon raja Perancis, Charles VII, mendapatkan gelar putra mahkota (bahasa Perancis: dauphin) pada umur empat belas tahun, setelah empat kakaknya meninggal, sehingga disebut Si Bungsu (Ni Si Raja Upil Gagas pasti senang dengarnya).

Pada tahun 1429, hampir semua bagian utara dan sebagian barat daya Perancis dikuasai oleh pihak asing. Inggris menguasai Paris sedangkan pihak Burgundi menguasai Reims. Reims adalah kota yang sangat penting, karena secara tradisi digunakan sebagai tempat penobatan (coronation) dan pentahbisan (consecration) raja, terutama karena belum ada satupun dari kedua pewaris tahta yang telah menerima mahkota. Inggris melakukan pengepungan terhadap Orléans, suatu kota yang terletak pada lokasi yang strategis di dekat sungai Loire, yang menjadikannya penghalang utama terakhir sebelum melakukan serangan untuk jantung Perancis lainnya.

Kisah pun dimulai saat Jeanne kecil. Jeanne dilahirkan di Domrémy pada tahun 1412 dari Jacques d’Arc dan Isabelle Romée[11]. Orang tuanya adalah petani. Jeanne sendiri adalah anak yang cerdas dan cenderung taat beribadah. dalam sekala extrim dia melakukan pengakuan dosa sampai 3 x sehari, sampai2 pendeta curiga bahwa Jeanne tidak merasa nyama berada di rumah. Tapi dengan polosnya Jeanne menyebutkan alasannya mendatangi gereja sering-sering, bahwa dia ingin bercakap-cakap dengan DIA (Jesus). Digambarkan bahwa Jeanne kecil sering mendapatkan “penglihatan” bersama bocah kecil yang mewakili figur DIA saat masih kecil.

Keluarga mereka tinggal pada suatu daerah terisolasi di wilayah timur laut yang tetap setia pada Perancis walaupun dikelilingi oleh daerah kekuasaan Burgundi. Beberapa penyerangan terjadi pada masa kecil Jeanne, di mana pada salah satu serangan, desanya dibakar.

Saat penyerangan itu lah, Jeanne menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang Inggris dan burgundi bertindak brutal. Salah seorang diantaranya membunuh dan memperkosa Catherine, kakak perempuan Jeanne di hadapan Jeanne.

Sejak penyerangan itu, Jeanne yang biasanya ceria berubah pendiam. Dia merasa bersalah karan Catherine tewas untuk melindungi Jeanne. Kedua orang tua Jeanne menitipkan  Jeanne ke Paman dan Bibinya. Pada saat dititipkan Jeanne sangat terobsesi dengan pengakuan dosa di gereja. Bahkan dia menjadi sangat terobsesi untuk segera bersatu dengan DIA. Dengan bonek (bondo nekat hehehe) Jeanne mendobrak gereja dan meminuh anggur merah yang menjadi simbol dari Darah-Nya, padahal secara usia, Jeanne belum saatnya untuk minum Darah-Nya.

Kisah berlanjut saat Jeanne berusia 17 tahun. Dia terus berusaha mengirm surat permohonan untuk bertemu dengan Sang Bungsu. Saat berhasil menemukan Sang Bungsu, Jeanne segera memberi tahu bahwa ia mendapatkan pencerahan. Menurutnya DIA meminta bantuannya untuk mengusir Inggris dan membawa Sang Bungsu ke Reims untuk diangkat menjadi raja.

Pendukung pertama Jeanne adalah mertua Sang Bungsu. dengan cerdasnya dia menganalisis bahwa kedatangan Jeanne dari Loraine bisa menyemangati prajurit dan rakyat karena sesuai dengan ramalan bahwa kelak perancis akan diselamatkan oleh seorang perawan dari Loraine. Secara mencolok digambarkan bagaimana busuknya politik (lebih tepatnya pemain politik) memanfaatkan agama dan rakyat untuk berkuasa. Mungkin dari sinilah ditarik hipotesis bahwa Agama tidak boleh dibawa-bawa ke ranah publik, utamanya Politik. Agama hanya akan jadi stempel politik, atau lebih extrimnya hanya menjadi pengesah kedusataan politik.

Untuk itu Jeanne harus menjalani tes keperawanan oleh para biarawati. Biarawati menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda kerusakan maupun kekerasan, dia nggak mengatakan Jeanne masih perawan. Bahasa forensik banget : diplomatis. Maklumlah kalo berhadapan dengan hukum dan pembuktian, semua harus dipertanggungjawabkan, jadi harus menjawab sesuai dengan yang ditemukan.

Dengan interpretasi hasil pemeriksaan bahwa Jeanne masih perawan, akhirnya Jeanne dikirim untuk membebaskan Orleans dari Inggris. Awal mula Jeanne diremehkan oleh para jenderal perang. karena emosi dia memotong rambutnya sendiri sperti rambut lelaki. Di sinilah, ditampakkan bahwa Jeanne mulai tidak bisa membedakan antara kehendaknya dan kehendak-Nya. Dia mengatakan bahwa dia tidak marah, tapi DIA-lah yang marah dan menyuruh Jeanne untuk memotong rambutnya.

dalam pertempuran pertamanya untuk membebaskan Orlean, Jeanne d’Arc tidak menuruti strategi hati-hati yang sebelumnya menjadi ciri khas kepemimpinan pasukan Perancis. Sebaliknya, ia menerapkan penyerangan frontal terhadap benteng pertahanan musuh. Setelah beberapa pos pertahanan tersebut jatuh, pihak Inggris memfokuskan sisa pasukan mereka pada stone fortress yang menjaga jembatan les Tourelles. Pada 7 Mei 1429, Perancis menyerang jembatan ini.

Setelah memenangkan Orleans dan membebaskan Reims, Jeanne mewujudkan “penglihatan”nya, dia berhasil menobatkan Sang Bungsu menjadi Raja Perancis. Tapi ambisi Jeanne yang berbalut dengan perintah-Nya belum berakhir. Dia ingin mengambil Paris yang masih dikuasai oleh Inggris.

Raj Perancis (Charless VII) tidak setuju, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Yang dia lakukan adalah menarik kembali pasukan Jeanne. Jeanne merasa kecewa, marah dan dikhianati oleh raja yang dia cintai. Tapi dia tetap setia, dia tetap ingin melanjutkan pertempuran.

Di sinilah digambarkan bahwa Jeanne hanya dimanfaatkan oleh Sang Bungsu menjadi Raja Charles VII. Sekali lagi dengan sangat mencolok film ini menggambarkan pesan agar Agama hanya akan menjadi korban kedustaan politik.

Karena merasa tak bisa mengendalikan ambisi Jeanne, akhirnya raja dan jajarannya memutuskan untuk menjebak Jeanne. Dia diperbolehkan untuk memerangi Burgundi dengan pasukan ala kadarnya. Saat pasukan Jeanne terpukul mundur, Jeanne malah tidak bisa masuk kembali ke kota, karena benteng dengan sengaja ditutup. Akhirnya Jeanne tertangkap oleh pasukan Burgundi. tragis. Sekali lagi dengan sangat mencolok Politik mendustai Agama. Jadi Agama jangan pernah mau pacaran ma Politik, karena politik hanya mau have fun aja ma Agama.

Setelah tertangkap, Jeanne diadili oleh pengadilan agama, dituduh telah mengajarkan ajaran bidah yang sesat. Dalam pengadilan tersebut Jeanne menolak tuduhan, bahkan dia selalu meminta kesempatan pengakuan dosa kepada para pendeta. Tapi pengadilan ini cuma permainan Burgundi dan Inggris untuk menghancurkan Jeanne.

Dengan cerdas Jeanne menjawab pertanyaan, bahkan bisa menyudutkan dewan hakim dengan argumen-argumennya. Bahkan dia mengancam dengan kalimatnya: wahai kalian yang merasa menjadi hakim, takutlah… takutlah bahwa kalian pun akan mendapatkan penghakiman kelak.

Sebagian besar pendeta mulai ragu, mereka mulai mempercayai bahwa Jeanne adalah orang suci. Bahkanutusan Sri Paus meninggakan sidang dan tidak mau terlibat dengan peradilan curang itu.

Pendeta yang menjadi ketua hakim berusaha menyelamatkan dia, tapi Inggris bermain licik. dia mengambil baju wanita Jeanne dan memberinya baju lelaki. dengan demikian Jeanne dianggap tidak mau bertobat dan tetap dengan ajaran sesat. akhirnya Jeanne di bakar hidup-hidup.

Dalam malam terakhirnya, Jeanne akhirnya mengakui pada DIA yang selalu mendampinginya, bahwa dia terlibat dengan ambisi dan dendam. dia mengakui semua kesalahannya.

Satu pesan mencolok lagi, bahwa orang yang berjuang di jalan-Nya dianggap sebagai orang gila, dianggap bahwa apa yang ia dengar dan lihat dalah Halusinasi.

500 tahun kemudian Vatikan menghapus tuduhan terhadap Jeanne dan menobatkan menjadi orang suci.

Diskusi

Tentang Jeanne sendiri, apakah dia seorang yang memang mengalami gangguan jiwa (Waham kebesaran, Halusinasi Visual dan Auditorik serta dugaan Schizophrenia Paranoid), nggak ada yang tahu. Sejarah punya banyak wajah dan versi. dan hanya versi pemenanglah yang muncul di permukaan.

Namun seperti yang kusebutkan, Film ini penuh dengan pesan sekulerisasi kehidupan. sebaiknya Agama jauh-jauh deh dari kehidupan. diperlihatkan bahwa Politik hanya akan berselingkuh dengan Agama hanya untuk mewujudkan Ambisi dan mendapatkan kekuasaan. disiratkan juga bahwa orang-orang yang membela-Nya adalah orang-orang yang gangguan jiwa.

Hmmm….

aku sempat nangis waktu melihat Jeanne melakukan pengakuan dosa kepada bayangannya sendiri, juga saat pembakaran Jeanne. politik benar-benar kejam.

Tapi, tentu film ini tidak mengubah pandanganku bahwa politik adalah kewajiban tiap warga negara. Jeanne dah memberikan contoh yang baik, bahwa seluruh rakyat harus peduli dengan negaranya. tidak hanya peduli pada perut dan selangkangannya.

Bahkan film ini menguatkan pandanganku, bahwa yang salah bukan politik itu sendiri, tapi sistem yang mengaturnya. toh faktanya sekarang sekulerisme yang diusung film ini malah menjadi bumerang yang meluluhlantakkan kehidupan barat saat ini.

Kesimpulan

film in recomended untuk ditonton. Aku sangat menikmati walaupun aku tidak menyetujui pesan yang disampaikan.