Seperti layaknya dedengkot blog yang demen sama perutku. *Nutupi perut takut Nay mendadak nggrepe*  Aku juga memposting tema yang sama. Tentang ayah. Karena ini PR yang aku kerjakan kebut-kebutan mohon maaf jika banyak typo atau beberapa kalimat absurd. Daripada kesimpan di HD terus mending aku pajang.

 

Silakan dinikmati…

Salam Karya!

———————————————————————————————————————————————

 

Bintang Masih Berkedip

by: Javas

 

 

Pria itu masih nyaman menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Duduk selonjor, tangan  menyangga di tanah. Kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam lembut. Angin sedikit mengibarkan rambut hingga bergerak seirama dengan barisan rumput hijau di sekelilingnya. Dia menikmati siulan angin. Meleburkan tubuhnya pada alam yang tak pernah berhenti berdetak.

Matanya terbuka perlahan. Sekelilingya kosong. Hanya ada beberapa kambing gibas dengan ekor menggembung dengan bulu putih agak kusam. Mereka berkeliaran di kejauhan, menikmati rumput segar serta bermandi cahaya matahari yang hangat. Sekali dua kali, kambing itu mengembik memanggil anaknya. Pria itu mengembuskan nafas dengan berat, lalu satu kata keluar dari mulutnya: anak.

Dia bangkit perlahan. Mengibaskan celananya yang dipenuhi rumput kering. Merentangkan tangannya lebar-lebar. Mencoba meregangkan tubuhnya yang kaku. Seharian merebah dengan posisi setengah tidur cukup memberinya alasan untuk mengerang hingga lega.

Pria paruh baya itu terduduk lagi sambil menopang dagu. Mengamati gerombolan bahagia keluarga kambing yang berlarian.

Anak. Anakku!

Dengan gerakan ringan. Pria itu sedikit menjambak rambutnya kesal. Wajahnya mengerut dengan mata terpejam erat. Dia semakin menjambak rambutnya keras-keras sambil menahan rasa sakit. Terdengar dencakan gigi dari dua rahang yang dipaksakan bertemu. Dia berteriak keras-keras. Suaranya gema dan hilang dibawa angin. Bersisa dua aliran dari sudut matanya. Pria itu ambruk ke rumput. Membenamkan mukanya sambil terisak.

Sesaat kemudian dia berbalik. Ada seulas senyum. Senyum dipersimpangan emosi. Dengan tangan yang masih mengepal keras dia terbahak-bahak. Dia tidak gila. Hanya ingin melepas beberapa duri yang menyayat batinnya.

Dia mendadak diam. Kembali hening.

***

Lima menit yang lalu dentingan keras terdengar dari benda besar pada pojok ruang tamu. Sebuah pendulum warna emas bergoyang ke kiri dan ke kanan. Hari ini usai dengan mengendap. Dan pria itu, masih duduk di kursi goyangnya yang menghadap pintu. Tekatnya masih kuat, meski jumlah antara warna putih dan hitam di kepalanya nyaris sama. Dengan air muka datar tapi dingin dia menanti seseorang yang dipastikannya akan masuk dalam hitungan menit.

Terdengar derik perlahan dari jendela yang tertarik. Ada nada kehati-hatian dari gesekan yang mulai keras. Jendela itu terbuka perlahan dengan daun tertarik ke luar. Benar seperti dugaan pria itu. Muncul sosok yang bukan imajiner. Bukan maling yang akan memboyong beberapa guci yang mungkin peninggalan dinasti ming. Sosok itu mulai nampak dengan rambut cepak dan tubuh tinggi tegap. Begitu berkas sinar menerangi pandangannya, sosok itu tersenyum kecil.

Berjalan pelan mendekati pria itu. Mencium tangannya perlahan.

“Ayah belum tidur lagi malam ini?”

“Ini sudah pagi, apa kau tidak bisa membaca waktu di gelangan berdetik di tanganmu?  Apa matamu sudah kabur dengan berteguk-teguk minuman yang… ah, aku ingin mencuci tanganku ini dengan detergen anti kuman paling ampuh sedunia.” Pria itu mengibaskan tangannya. Semacam jijik atau seperti memegang benda najis dengan tingkat bakteri tinggi.

“Apa ayah sudah makan tadi malam. Apa obatnya ayah minum dengan teratur?”

“Kau tak perlu khawatir dan ingin membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Aku bisa membesarkan anak yang sekarang jadi bedugal. Bagaimana mungkin aku tak bisa menjaga diriku sendiri hanya untuk sekedar makan dan minum obat.” Selang beberapa detik pria itu batuk-batuk hingga wajahnya memerah meski hanya samar.

Anaknya tersenyum kecil lalu berlalu menuju dapur.

Meja makan seperti tak pernah terjamah sama sekali. Nasi masih menggunung. Sayur dan beberapa lauk tak terlihat berpindah dari wadahnya. Dengan gesit pemuda itu itu mengambilkan nasi, menghangatkan sayur dan lauk. Tak lupa, sewadah obat di samping gelas air yang masih utuh jumlahnya. Pemuda itu berlalu menuju ruang tamu. Ayahnya masih nampak mematung dengan ekspresi dingin.

“Makan sendiri atau aku suapi?”

“Aku yang mengajarimu makan. Jangan kira walau sudah tua, aku tak bisa makan sendiri. Berikan nasinya!” Pemuda itu menyerahkan nasi yang sudah dibubuhi sayur dan lauk. Dia duduk di depan ayahnya sambil tersenyum-senyum.

“Ini obatnya. Harus di minum juga.”

“Mengapa aku membesarkan seorang bedugal yang cerewet. Ya Tuhan, apa dosa hamba ini sehingga Kau beri aku dia.” Mulut pria itu masih mengunyah. Terlihat sangat lahap.

Selama setengah jam, ritual memberi makan orang tua dan mengobatinya sudah dilakukan dengan sukses oleh pemuda itu. Ada aroma hangat meski deselingi umpatan kecil saat pemuda itu mencoba baik kepada ayahnya. Ya selalu begitu. Seperti ada lapisan tipis tak kasat mata di antara mereka berdua. Batas antara sayang dan benci meski sering terkamuflase.

Pemuda itu berjalan di belakang ayahnya. Membiarkan pria tua itu berjalan angkuh dengan cara sendiri. Setelah sampai kamar, pemuda itu berdiri di pintu. Memandangi ayahnya yang mulai beranjak dan merebahkan. Matanya masih mengawasi ayahnya yang tak kunjung terpejam.

“Kapan kau akan merubah dirimu menjadi lebih baik? Umurmu nyaris tiga puluh tahun. Apa kau akan membiarkan tua bangka ini membusuk karena terlalu mengkhawatirkanmu?” Ada jeda cukup lama sebelum pria tua itu menatap anaknya dalam-dalam. Ada api keinginan yang besar dari matanya.

“Ayah jangan terus memaksaku untuk berubah. Aku tidak melakukan kejahatan, hmm… maksudku, kalaupun kejahatan itu bisa dimaafkan. Aku tidak melukai orang. Tidak membunuh atau merampoknya. Aku…” pemuda itu tidak melanjutkan kata-katanya. Dia memilih menunduk, tak melihat mata ayahnya yang selalu menyiksanya.

Sejak dulu memang pria itu tak pernah menghukum anaknya. Saat si anak bolos sekolah seminggu berturut-turut. Dia hanya mendesah dan bergumam kecil. “Kau mirip sekali dengan ibumu. Kelakukan kalian sangat mirip.” Itu saja yang dia katakan kepada anak laki-laki semata wayangnya itu. Itupun sudah membuat anaknya menangis dan mengurung dirinya dalam kamar, seharian.

Tak ada yang menyakitkan di dunia ini, kecuali dibanding-bandingkan dengan Ibunya. Itupun dalam segi keburukan. Bagaimana mungkin seorang ayah mengatakan keburukan ibunya di depan anaknya. Pemuda itu sangat benci jika sanga ayah sudah mulai menghukumnya. Menjeratnya dengan kata-kata pedih. Kata yang lebih menyakitkan dari cambukan pecut di punggungnya yang polos.

“Aku sudah tidak punya banyak waktu. Sampai kapan kau akan terus membangkang denganku. Apa kau tidak ingin meninggalkan satu kesan baik di mata ayahmu ini.”

Pemuda itu merosot, duduk bersandar pada rangka pintu. Terlihat dia berpikir sejenak sebelum akhirnya membalas, lebih tepatnya membela diri. “Aku sudah menuruti apa kemauan ayah. Dari SD hingga lulus kuliah. Sekarang aku sudah dewasa. Berikan sedikit kebebasan.” Nada suara pemuda itu merendah.

“Dewasa? Dengan terus pulang malam dan meloncati jendela kau sebut dewasa? Aku lebih menyebut itu tindakan seorang bayi. Tak mengerti sopan santun dan perasaan orang tua. Kau memang dewasa. Badanmu besar dan berotot. Ayah yakin dengan sekali pukul kau bisa menidurkanku. Tapi apa pikiranmu sudah dewasa?” pemuda itu tak bisa membalas.

“Ayah sudahlah!”

“Kau bilang ingin sebuah kebebasan? Apa ayah harus mebiarkanmu mengambil beberapa lembar uang di laci? Mencongkel beberapa mutiara dan rangkaian rantai emas di kotak dalam lemari. Apa itu yang namanya kebebasan?” sausana memanas. Wajah pria itu memerah menahan agar suaranya tetap terlihat berwibawa.

“Aku hanya meminjamnya. Aku akan mengembalikannya nanti jika sudah bekerja.”

Pria itu semakin memerahkan mukanya. Emosi di dalam rongga dadanya benar-benar melebihi batas kemampuan. Jika diizinkan, pasti saat itu juga dia bangkit, meloncat dan mengumpat keras-keras sambil menunjuki wajah anaknya. Tapi kewibawaan nampaknya masih menjadi energi paling kuat. Masih dipegangnya dengan sangat teguh.

Anaknya membisu dan beku. Dia juga bingung harus berkata apa lagi kepada ayahnya. Apa yang keluar dari mulutnya pastilah sebuah kesalahan. Tak akan pernah ada kebenaran di dirinya. Kebenaran absolut hanya milih ayahnya. Pria tua yang sudah meluncurkan serangan jerat kata-kata.

“Kau benar-benar mirip dengan Ibumu.”

Hening muncul dengan cepat. Sejurus kemudian terdengar suara keras.

Pemuda itu membanting pintu dengan mata berwarna merah, sembab.

***

Pria itu kembali menengadahkan kepalanya ke langit. Mengamati biru yang cerah. Matanya bergerak mengkuti awan komulus yang nampak seperti kapas-kapas. Dia tersenyum kecil, membayangkan awan itu menjadi beberapa hewan. Seperti ada fabel yang melakukan pertunjukan seni dengan bingkai langit.

Tangan pria itu mengacung ke atas. Menghitungi anakan awan yang menyebar di sekeliling matahari. Lalu matanya sedikit menyipit ketika terik berusaha masuk ke dalam pupilnya.

“Dua belas, pasti kamu suka!” Pria itu memejamkan mata. Bibirnya ditarik ke kiri dan ke kanan. Membayangkan banyak hal. Banyak sekali.

Waktu anaknya masih berumur lima tahun, pria itu pernah mengajak berkemah. Mendaki bukit kecil sambil mendirikan tenda sederhana. Waktu itu, langit terlihat sangat cerah. Hitam pekat, tapi dipenuhi serbuk gemerlip. Bulan masih setengah muda dan mulai merangkak dari ufuk timur.

Pria itu membuat perapian kecil dari kayu-kayu yang dia kumpulkan. Bersama dengan anaknya, dia mendekatkan tangan ke perapian. Perpaduan antara dingin udara dan hangat disekujur tangan membuat malam ini sempurna. Ditambah suara-suara serangga malam yang mendayu. Perfecto!

Dia memeluk anaknya yang terlihat menggetarkan giginya kedinginan. Mulutnya mulai berceloteh. Berkisah apa saja yang sudah dia dengar dari ayahnya. Seperti ada tradisi turun menurun untuk menyampaikan cerita secara lisan.

“Apa kau pernah dengar cerita tentang pria sejati yang selalu berbuat kebaikan selama hidupnya?” pria itu mulai bercerita. Anaknya yang masih mungil cuma menatapnya dengan serius. Mengamati bibir dan mata ayahnya.

Lalu anak itu menggeleng. “Apa aku mengenalnya yah?”

“Tentu kau kenal walau tak pernah melihatnya. Pria itu sangat tangguh. Mau melakukan apa saja demi kebajikan. Terpenting, dia selalu menjaga harga dirinya. Sangat tangguh dan menakjubkan. Ayah sangat iri dengannya.” pria itu bercerita dengan sangat serius. Raut mukanya mirip mimik orang sedang pentas drama.

“Siapa dia yah? Aku ingin tahu.” Anak kecil itu melonjak, lepas dari pelukan ayahnya.

Pria itu menarik anaknya lagi. Tak membiarkan pelukannya kosong. “Jangan melonjak, nanti kau menggigil lagi. Ayah akan menceritakan semuanya kepadamu. Minum teh hangatmu.” Anak kecil itu mengangguk, meniup tehnya karena masih terasa panas di lidah.

“Dia kakekmu. Pria sejati paling hebat sedunia yang ayah kagumi. Dia berjuang dengan sangat kuat dahulu. Dia menghidupi ayah dengan perasan keringat. Dia tidak pernah makan apapun sebelum perut anaknya kenyang dan membuncit. Aku selalu sengaja menyisakan makanku agar kakekmu bisa makan.” Pria itu mengambil alih cangkir kecil anaknya. Meniup kuat-kuat agar panasnya sedikit hilang.

“Memang sulit ya mencari beras dahulu?”

Satu senyum menjadi balasan pertanyaan anak itu. Lalu pria itu kembali berkisah. Kali ini dengan nada tekan yang kuat. Sangat semangat. Pelukan kepada anaknya semakin erat seiring angin lembab yang tiba lebih dingin.

“Dulu makannya cuma gaplek atau ketela dikeringkan. Jaman penjajahan yang namanya nasi hanya untuk kompeni dan bangsawan.” Anak itu mengangguk saja meski sedikit tidak mengerti dengan penjelasan ayahnya.

“Pasti kakek sangat kurus karena tidak pernah makan.”

“Iya, tapi dia sangat kuat. Dia tak pernah membiarkan ayah kelaparan. Dia bahkan rela menukar tubuhnya untuk sekarung gaplek.” Pria itu menatap langit barat sambil tersenyum. Lalu membelai kepala anaknya.

Pria itu memutar kepala anaknya agar mengikuti arah jarinya menunjuk. Anak itu mengikuti saja walau tak paham dengan maksudnya. Dia menoleh dan mengikuti arah jari ayahnya yang menunjuk gugusan bintang di langit.

“Kakekmu ada di bintang paling terang itu. Sekarang dia mengamati kita. Dia menjaga kita dengan sangat kuat. Ayah tidak pernah merasa sendiri karena ada kakek yang selalu mengawasi ayah.” Pria itu mengelus kepala anaknya lagi.

“Ayah, bintang itu berkedip. Apa kakek sedang menyapaku?” anak itu tersenyum sumringah. Ada rona bahagia yang tak bisa dijelaskan. Malam ini dia berkenalan dengan kakeknya. Untuk yang pertama.

“Saat kau tumbuh menjadi pria dewasa. Mungkin ayah akan mendampingi kakek untuk menjagamu dari jauh.”

“Pasti aku akan merindukan ayah jika waktu itu tiba.”

Lalu keduanya masuk tenda. Tidur dengan satu senyum.

***

Meja makan merubah personanya menjadi medan perang. Sangat sengit. Sangat panas hingga akan bersisa satu pemenang: yang mampu berkilah dengan pendapat. Memegang teguh keyainannya. Hanya itu syarat kemenangan perang pagi ini. Tak lebih.

Pria tua itu masih memasang wajah datar. Seakan bilang ‘tututi kemauanku atau kau selamanya akan menderita’. Anaknya cuma diam. Berusaha mengubah pandangan matanya ke sisi lain. Dia tak mau melihat mata, atau gerak aneh dari tubuh ayahnya. Keduanya berusaha menahan diri. Tidak ada yang mau memulai perang pagi ini.

Keadaan yang sangat buruk. Pasti berakhir lama dan alot.

Tangan ringkih itu mulai membalik piring. Terdengar suara benturan piring dan meja. Sesaat kemudian, bunyi dencing memecah dari sendok logam yang jatuh. Anaknya menoleh singkat, langsung dibalasnya dengan tatapan tajam. Membunuh.

Lalu dia tersenyum.

“Apa tidurmu nyenyak anakku? Apa kau sudah menghilangkan bau busuk dari cairan yang kau tenggak selamam?” sepertinya perang sudah di mulai. Senjata pertama telah dipatik untuk menandai genderang perang.

“Makanlah dulu yah, minum obatmu. Setelah itu lanjutkan apa yang kamu suka. Aku hanya ingin saat makan pagi menjadi lebih sederhana.” Pemuda itu menuangkan secentong nasi ke piring ayahnya. Menyendokkan beberapa lauk dan menaruh di depan ayahnya.

Masih diam. Perlahan ayahnya mulai menyendok nasinya. Mulai mengunyah. Pemuda itu mulai makan seiring dengan situasi yang lebih nyaman. Keduanya membisu, berusaha memberi makan perutnya. Mengumpulkan tenaga untuk kelanjutan berdebat.

“Ayah mau kau bulan depan untuk menikah dengan seorang gadis anak kenalan ayah. Aku harap kau mau melakukan keinginan ayah kali ini. Bisa kan?”

Pemuda itu masih mengunyah. Berusaha pura-pura tidak mendengar.

“Bisa kan?”

“Ayah, apa kau tak ingin membiarkanku untuk makan sejenak. Aku sangat lapar pagi ini. Setelah makanku selesai. Bisa?”

“Sepertinya kau kelaparan setelah berulah semalam. Setelah melakukan kelakuan buruk dan bermabuk ria.” Pria itu terus saja menyulut. Wajahnya sudah berubah. Kali ini sangat garang. Siap menghabisi apapun di depannya. Meskipun itu anaknya sendiri.

Anaknya menyendokkan nasi banyak-banyak ke mulutnya. Menegak air banyak agar nasi di dalam mulutnya cepat masuk ke dalam mulut. Dia berusaha untuk terus mengacuhkan ayahnya. Harus membuat perut kenyang, itulah yang ada dipikirannya sekarang.

“Apa susahnya untuk menikah. Kau cuma tinggal duduk. Menyalami tamu. Lalu malamnya… apa ayah juga harus mengajarimu?” pemuda itu menggenggam erat sendoknya. Menyudahi makannya dengan memandang ayahnya lekat.

“Aku hanya tak ingin menikah saat ini. Kalau ayah ingin mendapatkan cucu. Bisa mencari di panti asuhan dan mengadopsi.” Balasan mulai telak. Semakin memanas. Dan menyenangkan.

“Tidak ingin? Atau kau tidak bisa berhubungan dengan wanita? Aku tahu kau luar dalam anakku. Sifat ibumu yang buruk kenapa menular di tubuhmu!”

Pemuda itu melempar sendoknya ke meja. Dia bangkit perlahan. Memandangi ayahnya dengan sangat tajam. Matanya mengelang. Tangannya terus menggenggam erat. Dia paling tak suka jika ayahnya menjelek-jelekkan ibunya. Dia bisa diumpati apa saja asal tidak membawa-bawa ibunya.

“Sudah aku bilang. Jangan membawa ibu dalam masalah ini.”

“Oke baiklah. Kalau begitu turuti saja apa kemauanku. Nikahi perempuan. PEREMPUAN! Aku rasa kau juga sudah tahu. Dengan umurmu yang sudah matang tidak akan mengejar desakan biologis semata. Sudah saatnya kau bertanggung jawab dengan gen di tubuhmu. Kau harus melanjutkan penyaluran gen, aku tidak mau gen superiormu terbuang begitu saja tanpa hasil.”

“Apa maksud ayah berkata begitu? Jadi ayah cuma menganggap aku sebagai rangkaian hirarki. Tak lebih dari itu?” Pemuda itu semakin mengeratkan genggaman tangannya. Matanya sudah merah. Sama seperti mata ayahnya.

Pemuda itu mulai beranjak dari tempatnya. Dia berjalan utuk kembali ke kamarnya. Tapi dicegah pria itu. Dia menariknya hingga keduanya berhadap-hadapan untuk jarak yang cukup dekat. Keduanya saling menyebarkan aura membunuh. Pemuda itu untuk pertama kalinya merasa ingin melawan ayahnya hingga akhir. Perdebatan sudah nyaris klimaks. Keduanya berusaha mengeluarkan kata-kata andalan untuk saling menyerang.

“Aku tidak akan menuruti kemauan ayah walau terus dipaksa. Selama ayah tidak bisa menghormati Ibu. Mengerti!” satu kali dalam hidupnya. Pemuda itu membentak ayahnya dengan sangat keras.

“Dasar anak tak tahu diuntung!” satu sambaran tangan pria itu mengenai pipi anaknya. Satu kali dalam hidupnya, pria itu memukul anaknya. Dan ini sangat keras. “Pergilah dari rumah saat ini juga. Jangan pernah kembali!” Pria itu menutup mulutnya. Menyesal sudah berujar meski tak mungkin menariknya.

Harga diri pria sejati sangat tinggi.

Pemuda itu menyambar tasnya. Lalu berlalu tanpa menolah.

 “Minum obatmu ayah. Cepatlah sembuh.”

***

Pria itu masih di bawah pohon. Sore sudah menjelang dengan cepat. Kali ini langit sudah tak biru. Lebih keemasan dengan hiasan awan tipis. Kadang terlihat beberapa kawanan burung terbang rendah dan menghilang saat menerjang pepohonan. Kawanan kambing gibas sudah mulai berduyun-duyun kembali ke kandangnya. Nampak seorang anak kecil membawa bambu panjang untuk menggiringnya.

Anak!

Pria itu mengamati anak laki-laki kecil yang berlarian mengejar anak kambing. Meski jauh, nampak raut muka anak itu cemberut, kadang tertawa kecil dengan keringat memenuhi wajahnya. Pria itu tersenyum kecil dengan polah anak itu. Terus memandang hingga anak kecil itu lesap. Berganti gelap yang berusaha menghimpitnya.

Sekali dalam hidupnya dia merasa membenci gelap. Dia membenci malam yang sebelumnya sangat dia cintai. Mungumpati malam. Mengumpati dirinya yang terlalu bodoh.

Pria sejati.

Pria yang mampu melindungi harga dirinya. Kali ini dia mulai merasa jika kata-kata itu sangat salah. Dia memegang teguh harga dirinya, tapi tak bisa melindungi apa-apa. Pria sejati. Dua kata itu terus bergelayut di kepalanya yang terus tertunduk.

Dia sama sekali tidak berani memandang langit yang kali ini sangat bersahabat. Bulan nampak utuh dengan cahaya lumayan terang. Tanah lapang berumput bisa terlihat dengan jelas. Gemintang dan konstelasinya tampil indah tak tertutup oleh awan. Tapi pria itu masih menunduk. Tak berani mendongak. Tangannya menyatu erat menahan kepala untuk tetap memandang bawah.

Terlihat tetesan air mengenai rumput. Tiga kali. Lalu ada isakan yang tertahan kuat. Pria itu bergetar dengan posisi yang tak berubah.

Pria itu mulai berani mendongak.  Bulan nampak tersenyum. Matanya tak bisa menahan rembesan yang membanjiri pelupuk. Pria itu menyeka dengan siku. Berusaha menahan isakannya agar tak lebih keras. Agar berhenti.

Meski agak lemah dia bangkit dan mulai berjalan dengan cepat. Menuju tengah lapangan yang diterangi bulan. Dia menghirup udara kuat-kuat lalu mengembusnya perlahan. Pria itu mencoba mengatur nafasnya meski terlihat sangat sulit. Lalu dia duduk. Menghitungi sesuatu di langit dengan telunjuknya.

Dia berjalan agak menjauh. Menapaki jalanan agak berbatu dengan kaki polos. Dia melompat dari ujung batu ke batu lain dengan masih sangat lincah. Pria itu berjalan menuju bukit kecil yang dulu sering dia kunjungi bersama anak laki-lakinya. Pria itu sangat semangat menuju bagian landai yang mampu menampilkan layar langit dengan utuh. Dengan cepat dia sudah sampai di tempat yang sering dia sebut serambi langit. Dia dan anaknya yang menamai.

Senyumnya terkembang begitu menemukan gugusan bintang yang nampak terlihat sangat cantik di langit barat. Ada satu bintang paling terang di tengahnya. Pria itu menunjuknya sambil terus tersenyum.

“Apa kakek ada bersamamu sekarang nak? Apa dia memelukmu dengan sangat hangat?” matanya terus menatap satu bintang paling terang itu.

Bintang itu berkedip dua kali.

“Ah, kau tak perlu menjaga ayah dari sana. Aku bisa hidup dengan lebih baik setelah ini. Akan rajin makan dan minum obat.”

Bintang itu berkedip lagi.

Terus berkedip. [*]