Namanya juga ide, susah susah gampang dapatnya. Pas lagi enak diajak kerja sama, ibarat tamu yang udah berdiri di pintu dan tinggal buka pintu aja. Tapi kadang juga pake acara sembunyi-sembunyi loh, itu yang bikin senewen. Sepenggal cerita ini ( I wish for good testimonials ) jatuh di kepala setelah membaca majalah Kick Andy. Dan tema-nya juga STANDARD banget, yaitu CINTA. Apakah membuat bosan ? kalian sendiri yang lebih tahu. CINTA kan seperti barang obral, ada dimana-mana. So, enjoy this story.

#seandainya anda tertidur saat membaca cerpen ini, maka saya tak bisa memberikan ganti rugi dalam bentuk apapun. And please, beri saya kritikan untuk tulisan ini. Saya gak menemukan keanehan dalam tulisan ini, namun saya kurang sreg dengan tulisan saya sendiri. Beneran *suer*

************** ——————————- ****************************

Barangkali aku ingin tertawa saat melihat film televisi yang aku sedang aku tonton saat ini. Seperti layaknya semua FTV di negeri ini, temanya pasti hanya satu : cinta. Hanya saja dengan berbagai macam karakter pemeran film, lokasi dan latar belakang budaya yang berbeda. Sisi baik dari FTV adalah ceritanya dinamis, tak bertele-tele, ringan sekaligus mewakili cerita di sekitar kita. Cukup satu kali tayang, namun cukup meninggalkan kesan bagi yang menontonnya. Buktinya aku lumayan hapal beberapa judul FTV yang ceritanya aku suka. Dan tentu saja FTV adalah alternatif yang lebih baik daripada menonton sinetron menye-menye. Entah kenapa setiap kali menonton sinetron di TV, yang terpikirkan adalah aku tak ubahnya menonton tutorial memperoleh harta warisan dengan segala cara dalam bentuk drama. Hampir semua teknik mendapatkan harta warisan disajikan secara gamblang mirip paket kombo restoran cepat saji. Dan segalanya selalu berlebihan, si miskin akan begitu miskin, nelangsa, dan si kaya pasti sombong, angkuh dan ‘ terlalu ‘ kaya. Yang paling jelas adalah mereka hebat sekali dalam berbicara kepada dirinya sendiri. Lengkap dengan sound effect dan slow motion yang menurutku masuk kategori lebay. Ah sudahlah, membahas sinetron sama menjengkelkannya dengan menontonnya selama 2 jam tanpa berhenti.

Hanya satu yang selalu aku merasa ingin tertawa saat menonton FTV, semua aktor dan aktrisnya pasti ganteng dan cantik, seakan bumbu pelengkap dari kisah cinta mereka yang apa adanya adalah tampilan fisik. Itu memang tak salah, semua film pasti perlu gimmick agar terlihat menarik. Lalu apa yang membuatku tertawa ? karena aku juga tahu salah satu kisah nyata yang jelas-jelas berbeda.

Kisahnya mungkin tak indah, namun juga tak bisa dikatakan tak romantis. Mungkin aku bisa mengirim naskahnya kepada salah satu PR pembuat FTV itu, dan siapa tahu diangkat menjadi film. Who knows ?

Dia adalah pria yang sedang merintis karir di Surabaya. Tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Saat itu dia sedang menghadiri wawancara kerja di salah satu perusahaan di Surabaya. Hari itu dia sedang kesal, seharian naik turun bus kota ( karena tersasar ) untuk mengikuti wawancara kerja dan tak sampai sepuluh menit setelah interview, dia dinyatakan gagal. Harusnya prosedur standarnya adalah setelah beberapa hari. Sepanjang jalan pria menyumpah-nyumpah perusahaan itu, berharap seluruh bangunan gedung perusahaan itu terbakar atau runtuh sekalian. Dan dia akan menjadi orang pertama yang bersorak sorai sambil mengibarkan bendera.

Langkahnya terhenti karena haus, di salah satu warung tepi jalan dia berhenti dan memesan dua gelas es teh dan mencomot gorengan di meja. Pemilik warung itu seorang wanita yang kira-kira empat tahun lebih muda darinya, wajahnya sawo matang, dia berjilbab, dan satu hal, dia memandangi pria itu dengan geli yang sedang meminum sampai habis gelas es teh begitu ditaruh di depannya oleh satu-satunya pegawai di tempat itu. Wanita itu duduk di belakang etalase berisi makanan dari kaca, wajahnya yang menggembung menahan tawa terlihat jelas dari balik etalase. Mungkin dia menganggap pria itu konyol atau belum pernah tahu rasanya meminum air. Terserahlah, dia tak peduli, dia hanya ingin mengobati rasa hausnya.

“ sepertinya anda orang yang gampang haus ya ? atau memang belum pernah tahu rasanya minum air ? “ Benar kan? dugaanku tak meleset.

Wanita itu akhirnya berkomentar tentang tingkahnya dari masuk warung tadi. Dia pandangi wajahnya yang tertawa pelan itu, kemudian mendengus kesal.

“ saya juga orang yang gampang marah “ Ucapnya sambil menekankan kata terakhir itu.

Wanita itu terdiam, namun ada senyum tipis yang muncul beberapa detik kemudian. Untuk sesaat dia seakan membaca ekspresi wajah pria itu. Kemudian tersenyum tipis kembali. Menelan segala kesimpulan yang ia dapat setelah mengamatinya beberapa detik.

“ anda sedang capek. Tak hanya capek fisik, namun juga hati “ Dia mengucapkannya dengan pelan, namun jelas terdengar.

Pria itu menatap wanita di depannya yang hanya terpisah etalase kaca itu lekat-lekat. Mengalihkan pendangannya dan menghela napas.

“ ya … saya rasanya marah sekali. Seminggu ini saya berusaha mendapat pekerjaan namun sampai sekarang tak ada hasilnya “

Pria itu menatap lantai, dia tahu bahwa perkataannya adalah masalah klasik orang-orang yang mencari pekerjaan. Namun dia tak tahu kalau rasanya begitu berat saat dia sendiri harus mengalaminya. Ternyata tak semudah seperti saat dia mengomentari orang lain.

“ sabar, ikhlas dan mantapkan hati anda. Tuhan tak pernah tidur, kitalah yang kadang tuli untuk mendengar bisikan-Nya “ Wanita itu berkata sambil tersenyum. Pria itu hanya menatap datar. Anda baru menonton siraman rohani ?

“ anda tahu apa ? memangnya anda tidak tahu bagaimana susahnya mencari kerja ? berpindah dari satu tempat ke tempat lain, belum lagi panas matahari, uang saku yang tak cukup, saingan kerja yang juga tak kalah banyak. Apa anda tahu rasanya itu semua ? “

Kata-kata itu terucap lebih keras daripada yang dapat pria itu bayangkan sebelumnya. Dan rasanya lebih mirip bentakan. Saat itu dia sedang marah, dan wanita itu memicu emosinya untuk tumpah. Ada rasa menyesal saat dia tahu dia terlalu emosional.

Wanita  yang menjadi sasaran teriakannya itu hanya tersenyum tipis. Dan mengangguk pelan, seakan menyetujui perkataan pria itu. Wanita itu kemudian menunduk seperti ingin mengambil sesuatu. Dan kemudian dia berdiri dan mulai berjalan ke arah pria itu. Ditatapnya dengan heran cara berjalan wanita itu yang aneh dari balik etalase kaca. Begitu wanita itu ada di depannya langsung, seketika semuanya menjadi jelas.

Pria itu seperti kehilangan kata-kata melihat wanita di depannya itu, sudah jelas sekarang kenapa cara berjalan wanita itu aneh karena dia sedang memakai kruk. Sosok di depannya adalah seorang wanita dengan kaki hanya satu buah. Dia tak mengamati karena saat wanita itu duduk, dia tengah memangku kain lap agar tak terkena bumbu masakan yang mungkin tercecer. Pria itu masih tak tahu harus berkata apa, ada rasa menyesal dan malu yang tak terkira saat ingat bahwa dia sudah membentak wanita itu, padahal wanita itu hanya memiliki satu kaki. Dia bahkan masih sempat tersenyum, dan seakan tak marah sama sekali.

Wanita itu kini duduk disampingnya dan masih saja tersenyum. “ anda benar, saya sama sekali tak tahu rasanya. Yang saya tahu rasanya hanyalah berjalan dengan satu kaki selama ini. Namun saya tahu, bagaimana saat kita rasanya tak diberi kehidupan yang adil, dan kenapa kita merasa begitu berat melalui sesuatu. “ Ucapnya sambil tersenyum teduh, matanya menerawang jauh.

Pria itu tampak begitu kacau. Sesal, malu, merasa bersalah bercampur jadi satu di benaknya. “ maafkan saya “

Hanya itu yang dapat dia keluarkan, saking malu dan menyesalnya dia pada wanita itu.

“ Saya tahu anda orang yang kuat. Yang membuat anda berat adalah karena hati anda selalu anda pakai untuk mengeluh, setiap kali anda mengeluh, beban yang anda rasakan tak akan bertambah ringan. Yang ada malah anda akan terus menerus mengeluh pada keadaan, dan akan terasa semakin berat. Hati anda kuat, namun anda paksa untuk menyerah. Dan karena itulah, mungkin ada untuk sementara waktu anda seakan tuli dan buta, bahwa detik ini Tuhan masih menyayangi anda. Buktinya ? es teh itu masih bisa anda minum sampai habis “

Pria itu tertawa pelan, lalu menatap wanita itu dengan ekspresi yang sulit diungkapkan. Dia baru sadar, dia selama ini memang selalu menyalahkan keadaan. Namun tak pernah berhenti sejenak untuk menyalahkan “keadaan“ dirinya sendiri. Keadaan dimana dia tak pernah merasa bersyukur pada kehidupannya.

Dalam hati dia berterima kasih kepada Tuhan, karena mengirim wanita ini untuk memberinya embun di hatinya yang sudah kering seperti gurun.

“ semoga saya tak malah membuat anda tersinggung “ Wanita itu tersenyum malu-malu, mungkin merasa dia terlalu banyak bicara.

Pria itu juga tersenyum. “ terima kasih, Tuhan memang masih menyayangi saya. Buktinya anda hadir disini dan membersihkan saya dari kotornya hati. “

Wanita itu tertawa pelan, dan pria itu melihatnya. Sebuah tawa yang lepas, tak dibuat-buat, dan begitu tulus. Dia seakan tak peduli bahwa orang didepannya ini baru dikenalnya sepuluh menit yang lalu. Ditatapnya wanita itu, dan dia merasakan sesuatu yang lain sedang merekah di hatinya. Dibalik tubuhnya yang tak sempurna itu, dibalik wajahnya yang jauh dari standar mode majalah fashion, pria itu melihat keindahan yang lebih dalam dari itu semua. Wanita itu cantik, secantik hatinya yang begitu polos dan mengajarkannya kehidupan tanpa maksud menggurui. Seakan dirinya yang hanya memiliki satu kaki, tak ada artinya dibanding sebuah senyum dan tawa yang ia tunjukkan hari ini.

Pria itu melihat itu semua, dan dia sadar dia sedang diberi keindahan Tuhan yang lain.

Keindahan yang merupakan berkah luar biasa untuk manusia.

Dia sadar dirinya telah jatuh cinta.

“ nama saya Adri. Apa boleh saya mengenal anda ? “ Pria itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, sebuah aksi yang tak ia rencanakan sebelumnya. Dia hanya tergerak untuk mengenal wanita ini lebih jauh.

Wanita itu mengatupkan bibirnya, dan tersenyum. Dia tak langsung menyambut uluran tangan pria itu, namun malah menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.

“ Maaf saya tak bisa menyentuh anda. Saya yakin anda tahu maksud saya. Nama saya Aisa, tentu saja anda boleh mengenal saya. Dan tenang saja, tak masuk tagihan es teh dan gorengan tadi kok “ Ujarnya sambil tersenyum simpul. Pria itu sekali lagi tertawa.

Untuk sesaat kedua orang itu saling menatap satu sama lain, hanya sekian detik. Kemudian menarik pandangannya kembali. Namun mereka berdua tahu, sekian detik itu telah bertahan di relung hati mereka. Dan mereka tahu, inilah awal dari sesuatu yang akan merubah kehidupan mereka.

Pria itu membayar es teh dan gorengan, kemudian pamit pergi. Pria itu tahu, dia mungkin akan kembali ke warung ini lain waktu. Satu hal yang jelas adalah Tuhan memberinya tiga kado sekaligus dalam satu paket. Wanita itu, nasihatnya yang membuat dia lebih termotivasi untuk bangkit, dan tentu saja perasaan sejuk yang ia rasakan saat melihat wanita itu. Tuhan masih menyayanginya, dan tak lupa memberinya kado yang manis.

—** —

Sampai sekarang aku masih menyukai cerita tentang dua orang itu. karena keindahannya ada pada diri mereka sendiri. Sekali lagi, aku masih yakin apabila kisah ini diangkat sebagai film pasti akan laris manis. Walaupun belum tentu juga sih.

“ ayah belum tidur ? besok kan harus berangkat kerja “

Seseorang memanggilku dari arah kamar. Aku menoleh, dan seorang wanita datang menghampiriku perlahan, jalannya tampak kikuk. Aku maklum, baru beberapa hari yang lalu istriku akhirnya bisa mendapat kaki palsu yang benar-benar pas untuk dipakai. Kaki palsu yang sebelumnya sedikit kaku dan membuat cara berjalannya malah terlihat seperti orang mau rubuh.

Istriku menghampiriku dan memelukku dari belakang.

“ masih terasa aneh ya ? “ Aku menanyakan perasaannya memakai kaki palsu yang baru itu. Dia tersenyum manis.

“ tidak juga, lama-lama terbiasa kok. Dan tentu saja ini tak membuat pinggangku rasanya dipelintir. “ Ujarnya sambil tertawa, aku mendekap tangannya erat. Wanita inilah yang membuat hidupku bermetamorfosa. Dan aku mencintainya segenap hatiku.

“ Ayo … ayah juga capek “ Aku mematikan FTV yang belum sampai pada ending itu dan beranjak, berjalan santai sambil memeluk istriku. Salah satu hadiah terbesarku dalam hidup adalah saat aku mengenal wanita bernama Aisa ini. Seorang wanita dengan hanya satu kaki, namun satu itu mewakili betapa besar hatinya, betapa damai hatinya melihat hidup. Dialah oase dalam hatiku yang saat itu seperti gurun. Kering akan rasa syukur kepada Tuhan. Dan saat ini, semua kedamaian itu juga aku rasakan. Terima kasih Tuhan, terima kasih istriku.

Dan sekali lagi, ide untuk mengirim naskah ini ke Production House FTV kembali muncul di kepalaku. Bahkan jika boleh sedikit berandai, akan jadi FTV terbaik tahun ini.