an AL GIBRAN NAYAKA’s story

###############################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kembali, bagi sahabat yang nunggu gaythemed dari Nayaka silakan nunggu hingga lumutan, bibir dower, kaki kapalan, kutu-an, bersisik, bertanduk hingga bertaring. Mohon maaf, Nayaka belum punya cerita pedang-pedangan dalam waktu dekat ini. Gak apa ya, sahabat… baca yang ada dulu yak!

Tulisan ini juga kutulis untuk melengkapi salah satu tugasku, seperti tulisanku sebelumnya, ONE NIGHT AT SHILLOUETTE CAFÉ. Syukur, dua tulisanku ini lolos dan aku selamat dari tiang gantungan (colek Kawan Javas)

Kali ini tentang seorang ayah, aturan mainnya sama dengan tulisan sebelum ini, tak boleh menggunakan sederet kata larangan yang membuat maksud dari tulisan tumpah ruah di dalamnya, tapi maksud itu harus disampaikan secara tersirat. Jadi, beginilah yang kubisa, semoga para sahabat bisa menangkap isi cerita tanpa mengerutkan kening, menarik kuping, mengucek mata, menyumbat lubang hidung dengan jempol kaki sendiri, menggoyangkan bokong di atas bara api, atau ganyang-ganyang gak jelas di ubin kamar mandi. Kuharap para sahabat bisa menangkapnya hanya dengan duduk manis sambil oncang-oncang kaki di depan layar masing-masing dengan kompeng dalam mulut. Amin.

Yep, tentu saja, semoga kalian bisa menikmati membaca DIA TETAP SEORANG AYAH seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

Nayaka

###############################################

Pria itu sangat menyayangi putranya, putra satu-satunya yang dia miliki bersama sang istri yang harus berkorban nyawa ketika melahirkan buah cinta mereka ke kehidupan fana. Sang putra belum pun memasuki masa remajanya, seharusnya saat ini dia masih menikmati hari-hari ceria masa kanak-kanaknya. Sang putra tersayang masih sangat belia, terlalu belia sehingga tidak bisa melengkapi semua cita-cita seorang ayah. Harapan yang begitu banyak terhadap anak lelakinya itu harus diikhlaskannya untuk tak pernah terwujud.

Dia ingin melihat sang putra tercinta menyimpan seragam merah putih miliknya dan menggantinya dengan warna biru putih yang baru sebelum berganti lagi dengan putih abu-abu. Dia ingin melihat bagaimana dirinya menghadapi beberapa kenakalan putranya ketika menjadi remaja. Dia ingin membelikan putranya sebuah sepeda motor seperti yang diidamkan para remaja seusianya nanti, melihat putranya tertawa bersama rekan sebayanya, memperkenalkan diri pada teman-teman yang datang mencari putranya ke rumah, atau tersenyum ramah ketika sang putra mengenalkan seorang gadis padanya suatu hari nanti. Dia ingin dirinya berada di masa-masa itu untuk melihat putranya melewati tahap demi tahap dalam hidupnya.

Dia selalu berdoa agar diberi umur panjang untuk melihat putranya berdiri gagah dengan baju wisudanya suatu saat nanti seperti dia berdiri di depan ayah ibunya suatu masa dulu. Lebih dari semua itu, dia kerap membayangkan kehadiran seorang menantu perempuan dalam rumahnya, membayangkan betapa indah hari tuanya diantara cucu-cucu menggemaskan, anak dari putra satu-satunya.

Kini, segala ingin itu harus diikhlaskannya. Mulai saat ini orang-orang akan melihatnya sebagai pria paruh baya yang malang, pria paruh baya yang tidak memiliki satu pun harta berharga lagi. Kini dia tak ubahnya bejana kosong, tak ada apa-apa di dalamnya yang bisa disebut sebagai isi selain dari udara dan kehampaan. Dia adalah kekosongan dan kehampaan.

Sekarang, saat dia berjalan lesu di jalan kecil dan sepi menuju rumah yang juga sudah memulai masa-masa sepinya semenjak hari ini, ingatannya yang masih sesegar pagi menghadirkan sang putra dalam gambaran utuh di kepalanya. Beberapa potongan kehidupan seorang ayah dan anak lelakinya mencuat keluar dari memorinya, langkahnya kian terasa berat…

***

Hari-hari sepi tanpa seorang istri tidak terasa berat baginya. Pada sosok malaikat kecilnya, dia merasakan bahwa sang istri tak pernah pergi. Segala kebaikan yang pernah dilihatnya dalam diri istrinya kini juga didapatinya dalam diri buah hati mereka. Seperti hari ini, dia sekali lagi melihat kebaikan yang sama pada diri putranya.

“Ayah, sepertinya dia terjatuh dari sarangnya, aku menemukannya di bawah pohon kita…”

Dia berhenti dari pekerjaannya menggergaji papan dan menoleh pada sosok kecil yang berdiri di belakangnya, putranya. “Wah, cantik sekali, kau ingin memeliharanya? Pasti akan sangat mengasyikkan punya binatang peliharaan, Ayah bisa membuatkan sangkar bagus untuknya.”

Anaknya menggeleng, “Maukah Ayah mengembalikan anak burung ini ke atas pohon? Ibunya pasti kebingungan saat pulang nanti…”

Dia terdiam menatap sang putra yang balik menatap dengan tatapan memohon, anak burung yang masih merah tergolek lemah dalam telapak tangannya. “Kau tidak ingin memeliharanya?”

Si anak menggeleng lagi, “Aku khawatir tak bisa memeliharanya dengan baik.”

Dia tersenyum sambil mengusap kepala putranya. “Ayo kita kembalikan dia ke ibunya.” Digandengnya tangan putranya itu berjalan keluar dari gudang tempatnya bekerja mengolah kayu-kayu.

“Ayah bisa melihat sarangnya?”  tanya sang putra sambil mendongak, mereka sudah sampai di bawah pohon di halaman rumah.

“Kau bisa melihatnya?” dia balik bertanya, putranya menjawab dengan gelengan. “Kemari, sarangnya ada di sana…” dibimbingnya tangan putranya lebih dekat ke bawah pohon. “Itu dia.”

Si anak mengikuti arah telunjuk ayahnya, lalu dia tertawa. “Ayah bisa memanjat setinggi itu?”

“Kita akan lihat.”

Lalu dia mengambil anak burung dari tangan putranya dan mulai memanjat. Di bawah pohon, si anak memperhatikan dengan takjub apa yang dilakukan ayahnya di atas sana.

“Ayah, apa dia punya saudara?” putranya berseru.

“Dia punya tiga saudara kembar, mereka menyambutnya dengan gembira.”

“Apa mereka juga masih merah?”

“Ya, mereka sama merahnya.” Jawabnya sambil bergerak turun.

Saat dia kembali berada di bawah pohon, putranya memeluk pinggangnya. “Apa kita sudah melakukan hal baik, Ayah?”

“Tentu, anakku. Kau sudah melakukan hal baik…”

“Kita berdua, Ayah.”

“Ya, kita berdua…”

Dia yakin, putranya akan tumbuh menjadi pria baik saat dewasa kelak.

***

Dia memasuki pekarangan rumahnya, berhenti sejenak di gerbang sambil memandang  pohon besar di dekat pagar sebelah kirinya. Dia berjalan ke bawah pohon itu, berdiri tepat dimana putranya pernah berdiri sambil memandang takjub padanya suatu hari dulu. Pohon ini masih menjadi rumah bagi burung-burung itu, sekarang, dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat beberapa sarang baru di sekitar dahan tempat dia menunaikan permintaan anaknya waktu itu.

Puas berdiri di bawah pohon, dia melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah. Di beranda, dia berhenti sebentar untuk memandang ke sekeliling halaman, jejak-jejak putranya masih segar di seluruh penjuru. Ayunan kayunya masih utuh di sana, bergoyang pelan ditiup angin di satu sudut. Bila sore, ayunan itu menjadi tempat favoritnya untuk melepas lelah setelah mengayuh sepeda bersama teman-temannya, putranya akan tetap berada di sana sambil mengayun pelan sampai dia berseru memanggilnya untuk segera mandi. Sekarang, ayunan itu tak akan terpakai lagi.

Di tiang ayunan, dia menemukan sepeda itu bersandar seperti biasanya. Sejak menjadi benda mengasyikkan untuk menghabiskan waktu bermain, sepeda itu tak pernah disimpannya di dalam rumah atau di gudang kayu di samping rumah tempat motor tua sang ayah juga diparkir saat malam.

‘Biar mudah saat mau dipakai besoknya, Ayah…’

Begitu selalu putranya akan menjawab setiap dia menyuruhnya untuk menyimpan sepeda itu di gudang kayu bersama motor tuanya. Kini, sepeda itu juga sudah tak bertuan.

Kolam kecil di samping beranda tempat sang putra memelihara beberapa ikan juga tak luput dari perhatiannya. Setiap pagi sebelum bersiap-siap ke sekolah, putranya akan menghabiskan beberapa menit di kolam itu sambil menaburkan pellet untuk ikan-ikan di dalamnya. Di hari minggu, dia juga akan ikut sibuk di kolam itu untuk membantu putranya menangkap ikan-ikan dan mengganti airnya.

‘Jangan menjepitnya terlalu keras, Ayah. Mereka tidak buas…’

Sang putra pernah berucap demikian padanya ketika suatu kali dia terpaksa menjepit salah satu ikan yang berhasil ditangkap setelah sebelumnya bergerak gesit di dasar kolam. Ikan itu yang paling susah ditangkap, dia harus menjepit kuat-kuat karena tubuh si ikan terlalu licin di tangannya. Ketika jepitannya dilonggarkan, ikan itu lepas dan mencebur  kembali ke dalam kolam, lalu mereka tertawa-tawa.

‘Kali ini Ayah boleh menjepitnya kuat-kuat…’

Rasanya dia akan mengingat saat itu hingga akhir hayat nanti. Mulai hari minggu mendatang, dia akan membersihkan kolam itu seorang diri, dia juga akan akan mengambil alih kebiasaan putranya di pagi hari sebelum bersiap-siap ke sekolah, menaburkan pellet.

Matanya menubruk kursi kayu di beranda, juga meja di depannya. Meja dan kursi kayu buatannya sendiri. Saat malam, dia kerap duduk di sana sambil mendengarkan putranya membaca keras-keras cerita dalam majalah anak-anak yang dibeli untuknya. Setelah putranya selesai membaca, dia akan menyampaikan maksud yang terkandung dalam cerita itu sementara sang putra akan mendengarkan dengan penuh perhatian sambil sesekali mengangguk mengerti. Di kursi kayu itu pula dia sering duduk sambil bercakap-cakap dengan putranya setelah makan siang sebelum kembali ke gudang untuk menempah pesanan.

Hari-hari ke depan, dia akan menghabiskan waktu istirahat siangnya di kursi itu sendirian, juga tak akan mendengarkan sang putra membaca keras-keras cerita apapun lagi dari majalah yang dibelikan untuknya.

Dia mengusap wajah lalu mendorong daun pintu. Kesendirian itu langsung terasa begitu dia melewati ambang pintu rumahnya. Dibawanya langkah menuju dapur. Dari sini, dia selalu bisa mendengar derap kaki sang putra saat berlari menujunya yang sedang menyiapkan makan siang. Selalu begitu, putranya akan berlari mendapatkannya setelah membuka sepatu di pintu depan.

‘Ayah, aku pulang…!’

Sang putra akan berseru begitu saat tiba di rumah.

‘Wah, sepertinya enak…’

Dan dilanjutkan dengan kalimat itu ketika sampai di dapur dan menemukan ayahnya di depan kompor dengan panci mengepul. Putranya akan menyalami tangannya sebelum kembali berlari menuju kamar untuk mengganti seragamnya.

Berada sendirian di sini, sekarang dia menatap sayu pada peralatan dapurnya. Rasanya tak akan sama lagi saat dia menggunakan peralatan-peralatan itu esok hari dan hari-hari setelah esok. Digenggamnya tangannya sendiri, mencoba merasakan kembali jari-jari putranya di situ ketika menyalami dan mencium tangannya.

Pandangannya beralih ke meja makan. Suatu pagi dia pernah kebingungan menjawab pertanyaan dari putranya ketika sedang sarapan. Kebingungan yang berakhir dengan kalimat ‘Habiskan sarapanmu dan segera berangkat.’

***

Putranya tampak tidak berselera dengan sarapan yang dibuatkannya pagi ini, nasi goreng dan telur mata sapi, padahal dia sering membuatkan menu demikian di pagi-pagi yang sudah lewat. Di ujung meja, putranya menggerak-gerakkan sendoknya mengaduk-ngaduk isi piring dengan malas. Belum sesendokpun nasi itu masuk ke mulutnya.

Dia berhenti dari makannya dan bertanya, “Nasi gorengnya tidak enak?”

Putranya mengangkat wajah, lalu menggeleng. “Nasi gorengnya selalu enak.”

“Hem… tidak enak badan?”

Putranya diam.

“Ayah akan ke sekolah untuk mengabarkan pada wali kelasmu kalau kau tidak bisa masuk hari ini.” Dia mengira anaknya tidak selera makan karena sedang kurang sehat. “Makanlah sedikit lalu kembali ke kamar…”

“Tidak apa-apa, Ayah. Aku sangat sehat, sesehat hari-hari kemarin.” Lalu dia mulai menyendok isi piringnya.

Ditatapnya sang putra beberapa saat sebelum meneruskan makannya kembali. Dia mengira percakapan mereka pagi ini berakhir sampai di situ saja, ternyata tidak. Setelah beberapa saat, putranya kembali bersuara. Kalimat sang putra kali ini membuat dia berhenti menyendok.

“Apa Ayah pernah merindukan Ibu?”

Nasi berubah menjadi batu di dalam mulutnya, dia berhenti mengunyah. Berusaha menelan sisa nasinya tanpa mengunyah. Putranya belum pernah menyinggung kata ibu dalam kalimat semenyesakkan itu. Selama ini, putranya hanya bertanya pertanyan-pertanyaan biasa.

Apa ibuku cantik? Ya, ibumu sangat cantik.

Apa ibuku baik? Tentu, ibumu yang paling baik.

Apa Ibu ada di surga? Tuhan sayang ibumu, jadi… ya, dia di surga.

Apa Ibu akan marah jika aku nakal? Tidak, jika kau nakal, dia akan menasehatimu untuk tidak nakal lagi.

Apa Ibu bisa melihatku? Pasti, Nak. Ibumu melihatmu sepanjang waktu.

Selalu pertanyaan-pertanyaan mudah saja selama ini, dia tak pernah kesulitan menjawab. Sekarang, pertanyaan putranya mengambil subjek lain, dirinya. Apa dia pernah merindukan istrinya? Begitulah adanya pertanyaan putranya. Dan saat ini dia juga yakin jika putranya sedang sangat merindukan ibunya.

“Sepertinya aku bermimpi bertemu Ibu semalam…”

Mendadak dadanya sesak, dia tak bisa berkata-kata.

“Seperti kata Ayah, Ibu sangat cantik…”

Lidahnya semakin kelu, susah payah dia bertahan untuk tidak membiarkan matanya mengalahkannya di depan putranya.

“Ibu membelai kepalaku lalu kami pergi ke sebuah taman bunga. Ibu memberiku satu bunga paling cantik dan berpesan agar aku membawanya pulang untuk Ayah. Saat aku bangun tadi pagi, hal pertama yang aku ingat adalah bunga pemberian Ibu…”

Mereka diam, sangat lama. Dia tahu kalau putranya sedang menatapnya sekarang, dan dia masih belum siap mengangkat wajahnya untuk menatap sang putra.

“Apa Ayah pernah merindukan Ibu?” putranya mengulang tanya. “Apa Ayah pernah bermimpi bertemu Ibu?”

Dia tak akan lepas sebelum menjawab. Tapi apa yang harus dijawabnya? Mengakui kalau dia juga merindukan istrinya pasti akan membuat putranya semakin ingat ibunya, dia tak ingin putranya semakin merasakan ketidakberadaan sosok seorang ibu bersama mereka.

Menahan sesak, dipandangnya sang putra sambil berusaha tersenyum. “Kau beruntung bermimpi bertemu ibumu, Nak.” Nafasnya terasa berat, “Sekarang, bisakah kau menghabiskan sarapanmu dan segera berangkat ke sekolah? Ayah takut kau sudah terlambat…”

Dan percakapan itupun berakhir, dia berharap untuk tidak berhadapan lagi dengan situasi seperti ini di hari-hari esok. Cukup sekali pertanyaan itu membuatnya bingung memilih jawaban, antara mengakui perasaannya sendiri atau menjaga perasaan putranya.

***

Dari dapur, dia beranjak ke kamar putranya. Di sana dia berlutut di depan lemari putranya yang penuh bertempel gambar tokoh kartun kesukaannya. Dia mamandang pantulan wajahnya di depan cermin di lemari kecil itu. Wajah kuyu dan pucat. Dengan tangan gemetar, dibukanya lemari itu. Baju-baju sang putra terlipat rapi di sana, jaket-jaketnya tergantung di gantungan. Matanya terpaku lama pada seragam merah putih yang tergantung diantara jaket dan beberapa potong kemeja. Perlahan, dia membelai seragam itu, menyentuh kerahnya, kancing-kancingnya, saku kecil di sebelah kiri dan juga dasi merah yang terselip di saku kecil itu. Ditariknya dasi kecil itu lalu diciuminya. Aroma sang putra masih tertinggal di sini. Tak puas, dia mengeluarkan seragam itu dan mendekapanya.

Walau samar, dia masih ingat hari pertama putranya mengenakan seragam merah putihnya, bukan yang ini tapi seragam yang lebih kecil. Itu sudah lima tahun lalu…

***

Dia sengaja bangun lebih pagi dari biasanya hari ini. Ada peristiwa penting yang akan terjadi, ini hari pertama putranya masuk Sekolah Dasar. Hal pertama yang dilakukannya adalah membuat seragam putranya terlihat serapi mungkin. Dia menghabiskan waktu lebih lima belas menit dengan setrikaan untuk membuat seragam merah putih itu tidak memiliki satu kerutanpun.

Setelah itu, dia menjerang air. Putranya belum terbiasa mandi terlalu pagi, dia butuh air hangat agar tidak ke sekolah dengan badan menggigil. Sambil menunggu airnya mendidih, dia memanaskan wajan untuk membuat sarapan.

‘Kau butuh seorang istri untuk mengurusmu dan putramu…’

Seorang jiran pernah berkata begitu padanya, saat itu dia menanggapinya dengan tersenyum. Sekarang, dia kembali tersenyum sendiri sambil mengaduk isi wajan. Bila aku masih bisa mengurus diriku sendiri dan putraku, mengapa aku harus punya istri lagi?

Begitu airnya mendidih, dia bergegas ke kamar sang putra dan membangunkannya. Tak butuh waktu lama, setelah memandikan putranya mereka kembali ke kamar.

“Apa aku akan bangun sepagi ini tiap hari, Ayah?” putranya bertanya saat sang ayah memakaikan seragam.

“Kau bukan di taman kanak-kanak lagi, sekolahmu yang sekarang membunyikan lonceng lebih awal. Nanti kau akan terbiasa.”

Lalu putranya diam.

Dia mengancing kemeja sang putra, memakaikan dasinya lalu menyisir rambutnya serapi mungkin.

“Padahal aku bisa melakukannya sendiri, Ayah.” Putranya kembali bersuara.

Dia tersenyum, “Ya, Ayah tahu. Ayah hanya ingin kamu terlihat siap di hari pertamamu…” dia mengambil bedak, meratakan di telapak tangannya lalu disapukan pada wajah sang putra. “Besok, kau bisa bersiap-siap sendiri. Ayah hanya mengambil hari ini saja.”

Putranya tertawa, “Apa ketika seusiaku, orang tua Ayah juga mengambil hari pertama Ayah?”

Kembali dia tersenyum, “Ya.”

Lalu dia mundur beberapa langkah, memandang putranya dengan tatapan bangga, menatapnya dari puncak kepalanya sampai ujung kakinya.

Itu putraku, dia sudah beranjak memasuki masa baru dalam hidupnya.

“Ayah, apa aku bisa memakai sepatuku di dalam rumah? itu masih baru, tidak kotor.”

Kali ini dia tertawa, “Tentu, kau bisa memakainya dan berlari ke seluruh penjuru sesukamu, khusus hari ini saja. Tapi, jangan buat seragammu kusut, Ayah sudah menyetrikanya dengan sangat baik.”

Putranya lalu mengambil kotak sepatu barunya di bawah kolong tempat tidur. “Ayah mau memakaikannya? Ini hari pertamaku kan?”

Tawanya kian keras, lalu dia mengambil sepatu itu dan memakaikannya ke kaki sang putra setelah terlebih dulu menyarungkannya dengan kaus kaki.

“Besok aku akan memakainya sendiri, kan?”

“Hemm…”

“Terima kasih, Ayah.”

Sang putra berjalan lincah mengelilingi kamar sebelum mengikutinya menuju dapur untuk sarapan.

***

Dia mengembalikan seragam itu ke gantungannya, menatap beberapa lama lagi sebelum menutup pintu lemari. Dari sana dia berjalan ke tempat tidur kecil di tengah kamar. Bantal dan guling tersusun rapi, selimut juga terlipat seperti biasanya di kaki tempat tidur. Perhatiannya tertuju pada boneka beruang besar yang teronggok di kepala tempat tidur di samping bantal.

‘Apa aku masih pantas untuk punya boneka beruang?’

Suatu malam setelah membaca cerita di majalahnya dimana tokoh utama dalam cerita tersebut adalah seekor beruang, putranya bertanya demikian padanya. Saat itu dia berpikir bahwa seharusnya dia sudah membelikan putranya sebuah boneka jauh sebelum dia bisa membaca, seharusnya dia sudah membelikan boneka ketika putranya masih suka bermain perosotan di taman kanak-kanak.

Keesokan hari, putranya berlompatan girang ketika pulang sekolah dan menemukan sebuah boneka besar yang nyaris sama tinggi dengannya di atas tempat tidur.

‘Ayah, aku akan menamainya Ranko, seperti nama beruang dalam cerita semalam.’

Dia mendekat dan duduk di atas tempat tidur. “Kau mulai merasa sepi juga, hah? Ranko?” diambilnya beruang itu dan diletakkan di atas pangkuannya. “Ya, aku tahu… pasti kau juga sepertiku. Seharusnya aku membeli satu lagi benda sepertimu ini agar kau punya teman. Ah, tak apa, kita akan berteman mulai hari ini. Kau akan jadi temanku dan aku akan jadi temanmu… tenang saja.”

Diletakkannya kembali boneka beruang itu di tempatnya semula. Sekarang dia memandang berkeliling ke seluruh penjuru kamar. Memandang sayu pada topi merah putihnya yang tersangkut di gantungan baju di belakang pintu, pada raket bulu tangkis dan bola bisbol serta pemukulnya di salah satu sudut kamar, pada kertas-kertas berisi gambar buatannya sendiri yang bertempelan di banyak tempat di dinding, juga pada jendela yang di kacanya bertempelan stiker kartun sejenis dengan yang tertempel di lemari. Dia pernah menegur putranya karena menempel stiker di kaca jendela, tapi putranya tak pernah melepaskannya. Stiker itu masih tetap tertempel di sana hingga hari ini.

‘Bukankah sinar matahari jadi terhalang bila jendela ditempeli seperti itu?’

Kalimatnya ketika menegur putranya dulu kembali terngiang. Dia ingat putranya hanya diam ketika itu, sebelum keluar kamar, dia sempat menyuruh putranya untuk melepaskan stiker-stiker itu dari jendela. Tapi sang putra tidak melepaskannya. Dia beranjak ke sana, mengusap stiker-stiker itu sambil berusaha membayangkan saat putranya menempel mereka di sana.

Puas mengusap jendela, dia kembali memandang ke seluruh penjuru kamar. Sekarang  pandangannya tertuju pada meja belajar, menatap lama semua benda-benda di atasnya. Tas sekolah, buku-buku pelajarannya, mug berisi pensil dan pena, komik-komik dan buku-buku cerita. Tumpukan majalah anak-anak yang sering dibacanya juga ikut ada di sana. Lalu perhatiannya tersita pada  piala yang terletak bagian atas meja belajar itu, ada tiga piala. Dia ingat betul kapan piala-piala itu dibawa pulang putranya.

Dia melangkah mendekat ke meja, memandang piala-piala itu lebih dekat. Semua tulisan di piala itu sama, JUARA I LOMBA MENGGAMBAR. Ya, putranya sangat suka menggambar, karena itulah seluruh dinding kamarnya bertempelan kertas gambar. Piala-piala itu membuktikan betapa sang putra sangat cinta menggambar.

Diraihnya piala-piala itu dan diusapnya satu-satu sebelum diletakkan ke tempat semula. Lalu perhatiannya tertuju pada weker berbentuk panda yang tergeletak diantara buku-buku di atas meja belajar.

‘Ayah, sepertinya aku sudah harus punya weker untuk membuatku lebih disiplin… Ayah tak harus susah lagi mebangunkanku tiap pagi…’

Dia tak pernah keberatan membangunkan putranya, sebaliknya dia selalu menikmati rutinitas paginya itu. Namun dia tak mungkin menolak permintaan sang putra untuk membelikannya sebuah weker, toh putranya benar, bahwa dia akan belajar mendisiplinkan diri dengan benda itu. Jadi setelah putranya berangkat ke sekolah, pagi itu juga dia mencari sebuah weker di pasar.

Merasa cukup melihat-lihat kamar putranya, dia beranjak keluar. Ditutupnya pintu kamar sang putra dengan hati tak menentu. Dia tak yakin akan sekuat ini saat masuk ke kamar sang putra di hari-hari esok, sama tak yakinnya kalau dia akan sanggup hidup dalam kesendiriaan yang pasti akan mengiringi hari-harinya hingga tua kelak.

Mulai hari ini sepi akan jadi temannya. Semuanya tak sama lagi, walau setiap hari mulai esok dia masih menyiapkan sarapan, masih duduk di kursi kayu di beranda, masih melihat ayunan di halaman, masih melihat sepeda itu, pohon itu, dan juga masih bisa melihat kamar putranya, tapi semuanya akan ditemukannya dalam keadaan tak sama lagi.

Kemarin, dia masih menjalani hidupnya bersama keyakinan bahwa suatu saat harapan dan impiannya terhadap sang putra akan terwujud satu persatu seiring berjalannya waktu. Sekarang, hari-hari kosong tanpa harapan dan impian sudah mulai menyambanginya. Namun sekosong dan sesepi apapun hidup yang akan dijalani hingga hari tuanya kelak, itu tak akan merubah statusnya. Sampai dia menutup mata, sampai dunia kiamat, dia tetap seorang ayah bagi putra yang tak lagi bersamanya. Dan begitulah orang-orang akan mengenalnya. Dia tetap seorang ayah meski tak ada lagi yang memanggilnya ayah.

September 2012

Masih dari atas kursi dan meja rumahku

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com