Aku ingin memeluk semua kecemasan Oktober yang perlahan datang dan menjadikanmu basah.

“Aku baik-baik kak.”

Terbata. Kau eja kesimpulan sebuah tragedi hari ini. Tubuhmu meringkuk menatap dinding yang dingin, sedang jarum jam terus membuatmu tenggelam dalam alam fikirmu.

“Tak apa, adek mau istirahat saja.”

Lirih. Kau menginginkan sepotong kebebasan. Getarmu adalah cemas, serupa hamba dengan segala pengharapan doa.

Aku bangkit dari dudukku, merapatkan selimut yang tersibak dari semua harga dirimu. Letih teramat, ringkih atas semua daya, atau barangkali kau mengira almanak tak lagi berpihak.

“Terima kasih kak…Selamat tidur.”

Aku tak tahu apakah cukup bagi detak menghitung semua beban dihatimu sedang hari ini mereka mengunci semua pintu, untukmu. Bahkan sekedar untuk bernafas pun tak diberi. Sesak.

Akhirnya aku mengalah, melangkah keluar kamarmu, meski didalamnya hujan masih deras penuhi tiap sudut. Ratap tertahan disela sepi mengalir begitu saja, semacam rapal mantra, merapatkan harap dan mengaminkan doa-doa.

Aku ingin memeluk semua kecemasan Oktober yang perlahan datang dan menjadikanmu basah.

Ah, siapakah mereka yang begitu saja menghinamu, hanya karena kau menemukan cara lain dalam memilih hidup. Ratu adilkah mereka yang begitu saja menghakimimu sedang dosa adalah suatu yang pasti dalam diri manusia, mereka.

Pejamku tak jenak, ada sembilu tak nyata menyayat setiap sendi tubuhku. Begitu dinginkah Oktober ini, sedang segala menjadi beku nanti ketika Desember datang. Aku ingin memelukmu. Sungguh. Menadahi semua gerimis dengan bahuku, dengan dadaku. Dengan hatiku.

Lalu, akan kau temukan aku disisimu bahkan ketika dunia tak memihakmu.

Semarang, 17 Oktober 2012