“aku tak bisa bersama mas lagi…”

aku hanya terdiam ketika kau mengucapkan itu. Sambil menghisap habis sisa rokok yang sedari tadi menemaniku, ku tengadahkan wajahku ke langit malam yang kelam kelabu, miris.

tapi kau bisa bersamanya….”

getar hatiku mulai bersuara. seakan masih tak rela dengan apa yang akan terjadi, dengan semua yang akan kau ucapkan.

“bukan karna aku membenci mas. sungguh aku masih sayang mas, sebenarnya”

kau mulai meratap. dan kulihat dua lajur cairan bening mengalir di lesung pipimu. isakanmu mulai terdengar sendu dipendengaranku.

“kenapa harus menangis?! kenapa harus air mata yang kau umbar di hadapanku?! kenapa bukan kejujuran?!”.

 lagi suara hatiku mulai menggema.  KEJUJURAN, ya… kejujuran yang masih kukejar dari dirimu sampai saaat ini. kejujuranmu tentang siapa yang sering membuatmu memar merah bersemu ungu di pipi, lengan, bahkan punggung dan pahamu. Kejujuran untuk semua alasan yang kau katakan bila tiba-tiba kau terburu pergi dari tempat tidurku setelah mengangkat telfon dari seseorang. bukan…. bukan aku tak mengetahui siapa dia, bukan! tapi hanya karna aku ingin kamu jujur dan mengatakannya sendiri padaku. masih kuingat ketika ku tanpa sengaja meraba agak menekan payudaramu. saat itu kau melenguh tertahan menahan sakit. ketika ku tanya kau hanya menggeleng pelan. kasihan sekali kamu.

**********

malam semakin larut tapi kau masih setia duduk disebelahku. di bangku ini, di taman yang mulai gelap ini. Ntah apa yang ada di pikiranmu. mungkin kau lupa bahwa sekarang kau bukan lagi “siapa-siapa” dalam hidupku saat ini setelah kau ucapkan kata “putus” satu jam yang lalu.

“tapi apa perduliku?”

suara lain dalam hatiku berkata. yeah… apa perduliku? setelah semua yang kau berikan padaku, ketidak jujuran itu. dan semua luka yang selalu berdarah setiap mengingatmu.

“tapi aku masih perduli..!!!! aku masih terlalu menyayangimu!!!”

tapi tak ada suara yang keluar. itu hanya jeritan hatiku yang terus ingin menggapaimu kembali. sekalipun aku begitu tau dan paham, hatimu, dan ragamu terlalu banyak kau berikan untuk pejantan betinamu itu. aku tau, sangat tau akan hal itu. tapi mengapa aku seakan tak pernah rela?

sesekali tanganmu menggosok rahang kirimu yang bengkak keunguan. angin masih mempermainkan helaian ikal mayangmu. aghh… kenapa kau begitu cantik sekalipun ragamu tlah begitu banyak luka?. sampai detik inipun aku masih begitu menggumimu. tapi ingatan akan kejadian malam itu benar-benar telah membuatku hancur. malam dimana untuk pertama kalinya aku melihatmu di gagahi oleh orang selain aku. orang yang begitu sering menampar dan menendangmu. orang yang berhasil menggantikan nikmatnya pangkal pahaku dengan tiga jari miliknya. dan dengan bodohnya kubiarkan dirimu melakukan semua itu. kubiarkan telingaku mendengar erangan menagih dari bibir ranummu, menagih untuk terus dipuaskan oleh pejantan betinamu. malam itu… malam yang paling menyakitkan dalam hidupku.

********

aku lelaki bodoh. yang mengatakan aku pintar berarti dia bohong yang sangat mendusta. aku lelaki bodoh yang membiarkan apa yang kumiliki pergi begitu saja tanpa ada usaha untuk merampasnya kembali. seperti saat ini, di bangku kayu, ditaman, dikala malam seperti ini ku tetap membiarkanmu pergi tanpa ada kata yang keluar dari corong mulutku.

“mungkin sudah saatnya aku pergi, mas…. ”

“yeaahh… pergilah bersenang-senang bersama pejantan betinamu itu”

“tidakkah mas ingin mengatakan sesuatu untukku?

“tidakkah kau melihatku dengan luka ini, hey? jadi untuk apa aku memberimu kata-kata?”

akan tetapi….

“take care, my flo…”

masih dengan menatap kosong kedepan kuucapkan kata itu untukmu. kulirik dirimu dari sudut mataku dan kulihat selarik senyum disana, di sudut bibirmu

“thankz yaa…. ”

dan kau pun perlahan menjauh dari tempatku sekarang, dari bangku kayu ini, di taman ini. menjauh dari harapan yang tlah ku rancang bersamamu, menjauh untuk mendekat dengan kehancuranmu, mungkin.

segera ku enyahkan rasa perduliku, biarkan saja.

*********

kusulut sebatang rokok dan mulai ku hisap dengan nikmat. kuhembuskan asapnya… dan kubiarkan membumbung tinggi ke angkasa bersama angin malam. kini rasa hatiku begitu hampa. seakan tak lagi bisa kurasa perih dan pedih yang baru saja menggores hatiku. mungkin saja hatiku tlah mati rasa, bisa jadi telah benar-benar mati. mungkin lagi ragaku hanya tinggal raga? tanpa hati dan pikiran, tanpa perasaan, mungkin saja. siapa yang perduli? bukankah hati yang telah mati sudah tak punya rasa perduli?

“drrrrtttt……drrrrrrtttt…..”

aku masih duduk di bangku kayu ini, ditaman ini pada malam ini ketika getar handphone ku menyadarkanku dan membawaku lagi ke alam realita.

<aku tunggu di hotel langganan yaa ganteeeng. jangan telat, udah nggak tahan pingin kamu obok-obok>

aku hanya tersenyum hambar membaca sms itu. tapi apa perduliku? hidupku akan terus berjalan. biarkan Florencia pergi bersama pejantan betinanya, dan aku sendiri akan melangkah dengan duniaku sendiri. biarkan luka penghianatan ini seperti apa adanya, apa perduliku?

<oke, 10 menit lagi saya akan sampai>

_SMS SENDING: TO: OM WILLY_

_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-