Akhir yang Bahagia

by

Naraya Alexis Liani

 

Aku menatap wajah tampan Richard yang masih asyik menguliti udang rebus di hadapannya, memisahkan bagian-bagian kulit dan kepala hingga menyisakan daging yang siap untuk disantap. Rambut cokelatnya yang setengah gondrong tergerai indah melewati kedua pelipis dan berayun perlahan dipermainkan angin pukul empat sore. Beberapa butir keringat bertengger nakal di seputar area wajahnya yang sedikit menunduk, yang justru semakin menambah kadar ketampanannya. Sekian detik berikutnya Richard masih berkutat dengan posisi dan kegiatan yang sama, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya. Menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

Stop!” sergahnya, ketika aku baru saja hendak membuka mulut. “Tak perlu mengatakan apa-apa, karena aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan. Aku mengenalmu sebaik aku mengetahui dengan pasti berapa garis di ibu jariku,” sambungnya pelan namun menusuk. Sepasang bola matanya yang juga berwarna kecokelatan menghujam tepat di kedua bola mataku. Memerangkapku dalam penghakiman tak terbantahkan. Aku mencoba memberinya sebuah senyuman, atau lebih tepatnya cengiran, berusaha menyembunyikan perasaan sakit yang mendadak menghimpit dadaku.

Lalu hanya sunyi yang tercipta di antara kami berdua. Seolah ada selubung cahaya tak kasat mata yang memenjarakan pendengaran dari tembang-tembang permintaan para tamu yang dinyanyikan perempuan cantik dengan dandanan cukup menyolok di panggung kecil yang berjarak beberapa meja dari meja yang kami tempati, ataupun dari lantunan alat-alat musik yang mengiringinya. Aku terdiam dengan perasaan terhakimi, sementara Richard terdiam sambil kembali menikmati atau berusaha terlihat seolah-olah sedang menikmati sajian udang rebus di depannya. Begitu pelannya ia mengunyah daging udang tersebut, hingga tak sedikitpun suara yang terdengar dari bibirnya.

“Suasana di sini masih tetap sama seperti dulu ya, Chard?” aku mencoba memecah kesunyian. “Hanya dekorasinya yang sedikit dirombak. Yang lain masih tetap sama seperti terakhir kali kita ke sini,” Richard menghentikan kunyahannya, dan menjulurkan lidah. Mengejekku. Atau dalam kamus Richard menertawakan kebodohanku dalam mencipta sebuah topik untuk memulai percakapan. Aku tahu bahwa lelaki berdarah setengah Perancis yang duduk di depanku ini mengerti kalau diriku bermaksud mengalihkan pembicaraan yang kuketahui dengan sangat jelas akan bermuara kemana. Tapi Richard adalah Richard. Ia kenal diriku dengan baik. Seperti ucapannya, ia mengenal aku sebaik ia mengetahui berapa banyak garis di jempolnya.

“Sudah dua tahun, Nat,” tukasnya, di antara gerakan lincah jari-jemarinya yang menguliti udang ke sekian ekor.  Aku tahu, batinku. Kamu tak perlu mengingatkanku. “Persisnya dua tahun, tiga minggu, dan enam hari sejak hari itu. Bukankah seharusnya menjadi sebuah pertanyaan jika waktu selama itu masih saja membuatmu dibelenggu oleh mimpi dan kenangan masa lalu?  Perlukah kupertegas bahwa Karel dan Nabila sudah menikah, dan itu atas permintaanmu? Mereka bahkan telah memiliki sepasang anak kembar. Lantas apa yang membuatmu masih dibutakan oleh harap? Demi Tuhan, Nathaniel, jangan katakan padaku kalau kau berencana untuk menghancurkan kebahagiaan mereka hanya karena Karel tidak memi…,”

“Chard!” serobotku, sebelum Richard menyelesaikan ucapannya. Ia mendengus tak senang. “Kumohon, bisakah kita membicarakan hal lain? Aku akan berusaha mengimbangi topik atau isu apapun yang akan kamu bicarakan, asal jangan yang satu itu. Kamu tahu betul betapa aku tak pernah lagi ingin membicarakan mereka. Please…,” rengekku. Richard mengangguk.

Fine! Jika itu yang kamu mau. Tapi itu berarti menjadi seorang pengecut yang selamanya tak mampu berdepan dengan kenyataan. Tak masalah bagiku, itu pilihanmu,” jawabnya enteng namun menyakitkanku.

“Jangan menyebutku pengecut!” desisku. Richard memamerkan senyumannya yang senantiasa bermakna ganda itu.

“Oh, jadi sebutan apa yang menurutmu pantas kusematkan padamu? Pahlawan kesiangan yang sok mengorbankan perasaannya sendiri dengan dalih kebahagiaan orang yang dicintai? Pada kenyataannya, kelakuanmu membuatmu pantas untuk disebut pengecut,” kecamnya, membuatku meradang.

“Kamu tak punya hak untuk menghakimi perasaanku, Chard. Itu dluar kendalimu,”

“Aku tak sedang menghakimimu, Nat. Aku menilaimu,” sanggahnya, membuat bibirku terkatup rapat. Kalimat-kalimat sanggahan yang telah kupersiapkan seolah menguap. Kuputuskan untuk memalingkan pandang dari sergapan matanya yang tajam sambil berkali-kali menghela napas panjang, melonggarkan dadaku dari bongkahan sebak yang menyeruak. Aku selalu saja kesulitan bernapas setiap kali membicarakan dua nama itu. Karel dan Nabila.

Dalam detik berikutnya yang seolah berjalan lambat, aku menyesali keputusanku menerima ajakan Richard untuk menghabiskan Sabtu sore di food court yang khusus menyajikan menu makanan laut ini. Mungkin akan jauh lebih baik jika saja tadi pagi aku menolak dengan halus ajakannya dan beralasan bahwa aku harus mengantarkan Bunda ke rumah Tante Lupita, adik kandungnya. Namun pada kenyataannya, di sinilah aku, duduk berhadapan dengan pria keras kepala yang telah kukenal sejak masih di bangku SMA itu dan harus mampu bertahan dari ucapan-ucapan pedasnya yang jarang mampu kusangkal.

Aku masih memusatkan perhatianku pada hamparan air laut  berwarna hijau kebiruan di depanku yang membentang sejauh mata mampu memandang. Aku dan Richard sengaja memilih untuk duduk di pondok kecil beratap rumbia yang dibangun artistik di atas laut yang terdapat di sudut kiri ruangan utama food court karena view yang disajikan mampu mencakup keseluruhan komplek Mega Wisata Golden City ini. Beberapa pasangan muda tampak mengayuh Aqua Circle sambil bercanda ria mengitari laut yang dibendung dengan luas hampir menyamai lapangan sepakbola. Ada juga beberapa keluarga dan rombongan turis mancanegara yang mengabadikan kebersamaan mereka di depan replika Kapal Laksmana Ceng Ho, panglima muslim di zaman Dinasti Ming sekitar abad ke-15. Dan sungguh, penyesalanku karena menerima ajakan Richard semakin menjadi-jadi, ketika setiap sudut bangunan ini justru semakin mengingatkanku pada Karel dan kenangan-kenangan indah yang kami lewati saat masih bersama.

“Aku memang bukan orang tepat jika yang kamu cari adalah sosok yang akan membenarkan tindakan bodohmu itu, Nat,” tuturnya dingin. Sedingin penampilannya.

“Bukankah kamu sendiri yang pernah bilang, bahwa menebak arah hati sama mustahilnya seperti menebak cuaca? Aku sudah membuang jauh segala pengharapan sejak kartu undangan pernikahan mereka sampai ke tanganku, dua tahun yang lalu. Aku bahkan sangat menyadari bahwa kesempatanku telah tertutup rapat sejak ikrar suci pernikahan mereka resmi terucap di depan Pendeta. Ini bukan masalah menyimpan harap atau tidak. Bagiku ini hanyalah masalah waktu. Waktu untuk membuka hati terhadap orang baru itu ternyata tak secepat yang kukira, Chard,” kilahku seraya menyesap Jus Sirsak yang sejak tadi dibiarkan tak tersentuh.

“Kamu tak pernah bersungguh-sungguh berusaha untuk melepaskan diri dari jerat masa lalu, Nat. Kamu aktor yang sangat buruk dalam memanipulasi perasaan. Sekuat apapun kamu berusaha menutupi kenyataan, semakin terlihat jelas di mataku bahwa perasaanmu pada Karel belumlah berubah. Kamu masih sangat mencintainya, Nat. Perasaan itu masih utuh,” kalimat Richard menarik perhatianku. Aku menatapnya penuh tanda tanya, dan pada saat yang sama ia melakukan hal serupa. Begitu banyak makna bermain di sepasang bola matanya, makna yang tak mampu kujabarkan dalam jeda.

Aku benci untuk mengakui bahwa Richard benar. Sampai hari ini, aku memang belum bisa melepaskan pesona Karel dari benakku. Ia cinta pertamaku. Lelaki pertama dan satu-satunya yang mampu meruntuhkan tembok tebal yang memagari hatiku dan kuijinkan bertahta di singgasana cintaku. Karel yang kucintai sepenuh hati dalam kondisinya yang baru saja putus dari kekasih wanita yang telah enam tahun dipacarinya, tepatnya sejak awal mereka memasuki sekolah menengah. Beberapa teman telah mengingatkanku bahwa aku hanyalah pelarian,  sebab Karel tak pernah benar-benar mencintaiku. Menurut mereka, Karel memacariku hanya karena aku ibarat sosok lain Nabila, mantannya, dalam wujud seorang pria. Tapi cinta tetaplah cinta. Terkadang buta dan tak membutuhkan logika.

Dan ketika kenyataan pahit bahwa aku tak akan pernah mampu menutupi lubang besar yang menganga di hati Karel pasca perpisahannya dengan Nabila menampar logika berpikirku, maka atas nama cinta pula pada akhirnya aku meminta Karel kembali pada wanita itu. Wanita yang akan mampu mewujudkan impiannya memiliki sepasang anak kembar dan mendirikan rumah pohon sebagai perlambang cinta tulus yang sederhana. Namun sungguh, aku sama sekali tak menyesali keputusanku menerima Karel, sebab selama enam bulan menjadi kekasihnya, akulah pusat dunianya. Akulah yang disebutnya kekasih, meski itu terbatas pada teman tertentu. Kekasih yang akhirnya melepaskannya karena tak ingin membuatnya memilih antara cinta masa kini dengan seorang pria, atau cinta masa lalu dengan seorang wanita.

“Terlepas dari apapun pandangan orang terhadap Karel, bagiku  ia adalah lelaki yang layak untuk dicintai. Ia jujur akan segala perasaannya padaku. Dan kamu benar, aku masih mencintainya. Sangat. Dan perasaan itu belum berubah. Tapi jangan kuatir, aku sama sekali tak mempunyai niatan untuk menghancurkan rumah tangga mereka seperti yang kau sangka, kok. Aku justru merasa lega mendengar ia bahagia dengan keluarga kecilnya, karena itu berarti aku mengambil keputusan yang tepat,”jawabku. Kualihkan pandanganku dari ikan-ikan Senjulung yang berenang berkelompok di bawah kakiku, pada gugusan pohon Pinang Merah yang berjajar di kiri kanan pintu masuk. Kugelengkan kepala, mengusir wajah Karel yang mendadak berkelebat di benakku. Karel yang selalu mampu menenangkanku dengan suara merdunya atau membuatku tertawa dengan anekdot-anekdotnya yang konyol. Karel yang…

“Kamu dan mimpi semu tentang akhir yang bahagia bersama Karel,” sindirnya. “Katakan, berapa lama lagi waktu yang kamu butuhkan untuk melupakan nama itu? Setahun? Dua tahun? Atau sepuluh tahun? Dan apa selama itu pula aku harus kembali menunggu agar bisa menggantikan kedudukannya dari hatimu?” aku terlonjak mendengar kalimat akhir Richard. Kupandangi wajahnya lekat-lekat, berusaha mencari riak dusta di antara tatapan tajamnya. Apa yang baru saja ia katakan?

“Ka-kamu?”

“Beri aku kesempatan yang sama seperti yang pernah kamu berikan padanya, Nat. Karel, Nabila, aku juga kamu berhak bahagia. Beri aku kesempatan untuk menjagamu, memagari hatimu, dan kita bersama-sama menuju akhir bahagia dan membuktikan kalau itu bukan dongeng semata. Aku telah menunggumu tujuh tahun lamanya, dan menunggu beberapa tahun lagi agar kamu membuka hati untukku tak akan terlalu menyakitkan,” ucapnya meyakinkanku. Aku tak tahu harus menangis haru ataukah tertawa. Apakah ia masih lelaki yang sama yang beberapa waktu lalu mengataiku pengecut?

“Dasar bodoh!” makiku tak sungguh-sungguh.

“Aku tak bodoh. Aku adalah lelaki yang memiliki tekad kuat untuk meraih sesuatu yang kuyakini,” kilahnya. Aku tertawa, dan ia menggeser piring udang rebusnya yang kini hanya menyisakan kulit dan kepala. Diraihnya jemariku, dan ia menatap lekat wajahku.

“Nathaniel, apakah kamu mengijinkan aku untuk menempati bangku yang pernah Karel tempati di hatimu?”  aku menggeleng. Dengan perlahan kulepaskan pegangannya pada jemariku. Aku hampir terpingkal-pingkal menyaksikan wajahnya yang kini berselimut mendung.

“Tidak!” aku menggeleng dramatis. “Aku tak akan mengijinkanmu. Sebaliknya, aku ingin kamu membantuku menghancurkan bangku itu, dan menemaniku untuk membangun bangku baru. Bangku yang akan kau duduki. Di sini,” aku menunjuk dadaku sambil menghadiahkannya senyuman paling manis.

Ya. Aku akan mencobanya. Memberi kesempatan pada Richard, juga pada hatiku untuk meraih akhir yang bahagia itu. Memberi kesempatan untukku mencinta, tanpa membuat salah satu dari kami harus memilih…

 Fin