Rahasia besar itu telah terkuak, dan ini saatnya aku menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan urusanku dengan Stevan dan Little Monster.

***

Langkahku terus menyusur koridor yang ramai oleh siswa yang sibuk mengobrol. Jam istirahat baru saja tiba, dan aku, sudah memutuskan untuk menuntaskan semuanya hari ini. Dengan tanpa membuang waktu lagi kuarahkan kedua sepatu kets putihku untuk menuju ruang kelas XI IPA 1, kelas Stevan. Aku berharap bisa segera merubah pikiran Stevan tentang klub milikku.

Dan aku berhenti tepat di depan kelas bercat nila itu. Disinilah kelas dimana jenius dari segala penjuru sekolah berkumpul. Kelas dimana penghuninya selalu duduk bertelekan buku diktat dan kalkulator. Membicarakan hal-hal yang tak mungkin ter-obrolkan oleh anak-anak dikelasku.

Tanpa basa-basi lagi kuketuk pintu dan mendapati Si Ketua OSIS itu tengah duduk berdiskusi dengan beberapa siswa berkacamata tebal, sementara di depannya, terdapat diktat tebal yang tak kuketahui isinya.

“Bisa keluar sebentar Stev, gue ada perlu?”ujarku kemudian, membuat Stevan dan kawan-kawannya seketika menoleh kearahku..

“Ada perlu apa lagi?”jawab Stevan. “Aku sedang ada diskusi”

“Keluarlah sebentar, aku tak mau membicarakannya disini,”ucapku lagi.

Sebentar, kulihat Stevan berbincang dengan teman-temannya. Mungkin sekedar meminta ijin untuk keluar sebentar, yang dijawab dengan anggukan serempak dari mereka.

Dan tanpa membuang waktu lagi, dia bangkit dan mulai berjalan menujuku. Bisa kulihat tubuhnya yang terbentuk oleh ekskul sepak bola yang digawanginya nampak maskulin dalam langkah lebarnya. Apalagi auranya yang seakan candu bagi siapa saja yang melihat kian kuat begitu jaraknya kian mendekat padaku. Aku masih saja berdebar jika harus berhadapan dengannya.

“Ada apa?”ucapnya singkat begitu berhenti tepat didepanku. Kuakui, aku masih terinfeksi oleh virus ketampanannya, tapi aku coba mengenyahkan.

“Ikut gue, kita selesaikan semuanya!”ujarku seraya menarik tangan kanannya tanpa permisi.

“Urusan apa?”ujarnya datar.

“Kau, aku dan Little Monster!”sergahku cepat.

Awalnya ia berontak, tapi tatapan mematikanku cukup ampuh untuk membuatnya mengikutiku seperti kerbau dicocok hidung.

Aku mengajaknya menuju taman sekolah dimana Kak Garry telah menunggu. Aku ingin mempertemukan keduanya. Sebab pangkal masalahku sebenarnya ada pada mereka berdua. Siapa tahu, Stevan akan berubah pikiran setelah kesalah pahamannya terhadap Kak Garry selesai. Siapa tahu juga bahwa aku (mungkin) bisa membuat Stevan dan Kak Garry balikan..

“Kita mau ngapain sih? Kenapa pake acara ke taman sekolah segala! Seperti kurang kerjaan saja! Aku lagi ada diskusi dengan kawan-kawanku!”protes Stevan begitu aku hampir sampai taman. Ia masih saja mencoba melepaskan lengannya dari genggamanku. Tapi gagal. Aku cukup kuat mencengkeramnya.

“Udah deh diem aja! Siapa suruh lo bikin urusan sama seorang Agung Nugraha Atmadjaya!”bentakku seraya terus menarik tangan Stevan. Tak perduli dengan tatapan sinis siswa-siswi yang kami lewati sedari tadi. Mungkin dimata mereka, aku adalah siswa keterbelakangan mental yang berani menyeret paksa ketua OSIS yang dihormati maha-maha itu. Tapi bodo amat. Buatku, dia tak ubahnya ketua OSIS tak punya otak yang seenak jidatnya membuat keputusan.

Tak sampai lima belas menit kemudian, aku dan Stevan sampai di taman sekolah yang cukup sepi. Tentu saja, anak-anak lebih tertarik ke kantin Pak Afgan daripada nangkring di taman sekolah. Toh disini tak ada wahana jungkat-jungkit atau ayunan. Kalaupun ada, mungkin hanya siswa-siswi yang sengaja ‘mojok’ ke taman ini untuk memadu kasih.

“Nah Stev, lo pasti masih inget sama Kak Garry kan?”ucapku kemudian begitu kami berdua berhenti tepat di depan Kak Garry yang duduk diatas bangku kayu berhamburkan dedauan Akasia yang gugur diterpa angin. Poninya yang pendek melayang ditiup-tiup sang bayu.

Tak menjawab, bisa kulihat Stevan terpaku dalam diam. Ia dan Kak Garry, mereka berdua masih bertatapan dalam lengang. Mata mereka beradu seirama desau angin yang menggesek ranting-ranting pohon.

“Apa maksud lo dengan ini Gung?”bisik Stevan pelan sementara matanya menerawang entah kemana. Bisa kudengar suaranya bergetar.

“Ini kan yang ngebikin lo benci Lady Gaga! Lo cuma salah paham, Stev! Lo salah paham sama persepsi lo!”cetusku.

“Lo nggak pernah tau perasaan gue, Gung!”

“Gua tahu, makanya gue lakuin ini,”elakku

“Lo nggak tau Gung!”pekik Stevan seraya memutar langkahnya untuk cepat-cepat pergi. Ia seperti melihat kerumunan virus mematikan jika tak segera enyah. “Lo nggak tahu yang sebenarnya terjadi!”

Namun terlambat, tangan Kak Garry telah lebih cepat menyahut lengannya erat. Hingga langkahnya terhenti seketika.

“Aku bisa jelaskan semuanya Stev!”ujar Kak Garry parau. “Aku bisa jelaskan semuanya!”

Bisa kulihat beribu penyesalan menggelayuti raut Kak Garry. Wajahnya yang semula dipenuhi kharisma dan aura kelelakian mendadak sayu dibebat kegalauan yang dalam.

Sementara Stevan, ia masih terkesiap. Diam memperhatikan seakan mengharap kepastian. Bibirnya terkatup seperti dikunci.

“Apa lagi yang bisa kakak jelaskan setelah kakak mengakhiri semuanya,”bisik Stevan kemudian dengan suara lirih. “Apa lagi? Hah?”

“Maafkan aku, Stev….”

“Kakak nggak salah kok, aku-nya saja yang salah,”potong Stevan sebelum Kak Garry sempat menyelesaikan cakapanya.

“Bisakah kau berhenti menyalahkan dirimu sendiri dan coba dengarkan aku!”

Aku terkesiap begitu mendengar pekik lantang Kak Garry barusan. Pun begitu Stevan yang seakan asing dengan perubahan jemawa pria itu. Untuk beberapa detik, kami bertiga diselimuti kekauan. Bisu.

“Kenapa kau masih saja tak mau mendengarku Stev,”tambah Kak Garry lagi. Kali ini suaranya menurun beberapa desibel.”Kenapa kau
selalu menganggap kalau dirimu yang salah, hah?”

“A..aku..” Stevan tercekat.

“Asal kau tahu, aku tak pernah sedikitpun membencimu Stev, tak pernah. Apalagi yang kau hubung-hubungkan dengan Lady Gaga itu. Aku tak mempermasalahkannya sedikitpun.”

Aku masih terdiam menyimak kata-kata Kak Garry barusan. Sementara Stevan masih tercekat dalam kekakuan. Ia masih belum bisa mempercayai apa yang barusan didengarnya.

“Aku hanya ingin kau mendengarku dan menganggapku ada sebagai kekasihmu, itu saja cukup, Stev!”

Bisa kulihat raut muka Kak Garry kini laksana mendung yang sebentar lagi menebarkan hujan. Tapi aku tahu ia masih mencoba tegar. Meskipun rautnya tak pernah mampu membohongi isi hatinya.
Tapi bukankah bagaimanapun perasaan takkan pernah diingkari?

“Aku masih mencintaimu, Stev! Aku masih mencintaimu. Sungguh, sama seperti saat aku pertama berjumpa denganmu,”isaknya.

“BERHENTI MENGATAKAN ITU!” sentak Stevan mendadak. Membuatku dan Kak Garry sontak terkesiap. “JIKA KAU MENYURUHKU KESINI HANYA UNTUK MENDENGAR INI. KALIAN SALAH!”pungkas Stevan sebelum lari lintang pukang meninggalkanku dan Kak Garry yang masih terbengong. Kenapa mendadak dia jadi semurka itu. Masih dendamkah ia pada Kak Garry dan masa lalunya itu? Masih marahkah ia?

“Maafkan aku, Gung, maafkan aku..”Aku melirik kearah Kak Garry yang masih mematung disampingku. “Sampai kapanpun aku memang takkan pernah bisa membuatnya berubah pikiran dan kembali padaku. Aku sudah terlalu jauh menyakitinya”

Aku hanya meneguk ludah. Lantas mendekat ke Kak Garry untuk sekedar memberi support. Aku yakin ini hanya masalah waktu yang tak tepat saja. Mungkin saja Stevan hanya belum siap memaafkan Kak Garry. Mungkin juga Stevan masih ragu untuk kembali menerima uluran cinta dari lelaki itu.

Aku menghela napas berat. Sepertinya jalanku tak semulus yang kuperkirakan.

***

“Rencana pertama: Gagal !”

Aku mencoret-coret buku tulis dihadapanku dengan kesal. Berulang-kali aku mendesah sambil ngedumel nggak jelas. Jamal yang sedari tadi memperhatikan tingkahku hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa. Di depan sana, Bu Chintya-guru matematika super duper galak tengah menjabarkan rumus-rumus Aljabar pada papan putih yang besar.

“Lo kenapa sih manyun muli dari tadi?”bisik Jamal seraya mencolekkan pulpennya ke siku kananku. Rupanya dia juga sedang tak berkonsentrasi dengan pelajaran Bu Chintya yang biasanya jadi pelajaran favorit.

“Rencana gue ngebikin si Stevan berubah pikiran dengan mempertemukannya dengan Kak Garry gagal!”bisikku tak kalah pelan. Takut-takut kalau guru killer itu mendengar obrolan kami.

“Hah?” Jamal menaikkan alis. “Masa?”

“Iya!” Jawabku masih berbisik. “Dia malah marah-marah pas aku ketemui dia sama Kak Garry”

Kulihat sebentar bibir Jamal mengatup. Sepertinya dia juga stuck mengetahui kalau rencana yang diharapnya bisa merubah pikiran Stevan malah gagal berantakan begini. Rencana yang sejak awal kupikir bakal mudah dilaksanakan rupanya malah menemui jalan buntu. Ini pelik.

“Yaudahlah, lo tenang saja. Nanti kita cari lagi clue yang berhubungan sama dia. Kali aja kita mendapat kemudahan kali ini”

Aku mengangkat bahu,”Yah, semoga saja. Aku benar-benar tak rela jika Klub Little Monsterku digusur tanpa ada alasan kuat.”

“Maka dari itu tenanglah, aku akan mem…”

“EHEM!”

Belum sempat Jamal menyelesaikan perkataannya. Kedua wajah kami sontak tertegak saat sebuah suara dehaman menginterupsi percakapan kami. Dan kami sontak saja terkesiap saat Bu Chintya yang berpostur gempal dengan rambut keriting berdiri tepat di depan kami. Shit! Kenapa kami berdua tidak menyadarinya?

“Sepertinya kalian menemukan hal yang lebih asyik daripada rumus Aljabar yang ibu terangkan di depan?”tikam Bu Chintya yang membuat dada kami kembang kempis seketika. Sepertinya sebentar lagi kami akan menerima hukuman paling mengenaskan dari guru tersebut.

“Ehh…aa..anu Bu…” Jamal terbata, mukanya merah padam. Pun begitu aku.

“CEPAT KELUAR DARI KELAS SAMPAI PELAJARAN SAYA SELESAI!” Pekiknya seketika yang membuat aku dan Jamal lari lintang pukang meninggalkan penghuni kelas lain yang masih terdiam memperhatikan kepergian kami. Sepertinya, pagi ini aku benar-benat ketiban sial.

“Gara-gara lo sih, kita jadi dikeluarin dari kelas kan?” Cetusku pada Jamal yang nampak santai melenggang menyusuri koridor sekolah yang lengang. Ia seperti tak punya rasa bersalah barang secuilpun.

“Harusnya lo berterima kasih dong, gue udah ngebebasin elo dari pelajaran nenek sihir jahanam itu!”Cablaknya yang membuatku sontak menaikkan alis. Ini beneran Jamal bukan sih.

“Tapi bukannya lo nyesel ninggalin kelas Bu Chintya? Matematika kan pelajaran favorit lo?”

Jamal malah menggedikkan kepala. “Siapa bilang?”

“Hah?”

“Selama ini aku cuma pura-pura serius aja pas pelajarannya Bu Chintya. Tapi lama-lama membosankan juga. Rumus dan angka-angka itu memang sepertinya bukan konsumsi bagi otakku, hahah”

Aku nyinyir. Dasar Jamal. Rupanya dia sama saja dengan siswa-siswa lain.

Belum sempat aku mengucapkan ‘mau kemana’ pada Jamal, seketika saja handphoneku bergetar dibalik celana abu-abuku. Segera kurogoh hape dan melihat siapa yang menelepon. Andity, kalian masih ingat adik kelas yang tergabung dalam klub Lilmons-ku. Itu bukan?

“Halo dit!”sapaku kemudian.

“Gawat Kak Agung! Anak-anak OSIS bahkan mulai mindahin properti klub kita dari basecamp!”