Lantunan suara itu masih mengalun lembut memenuhi udara. Padahal kelas sudah bubar beberapa jam lalu, bahkan di luarpun langit mulai menggelap.

Sesosok pemuda tampak menyenandungkan sebuah nada dengan penuh penghayatan.

Nyanyiannya menggema diantara ruangan dan koridor yang telah sepi.

Sesaat alunannya terhenti. Pandangannya menerawang sejenak. Dihembuskan napasnya, berat. Bibirnya menggumam pelan.

“Aku menyukaimu, Bayu…”

.

.

.

Yuuki’s Present

( ~ Spread Your Wings ~ )

.

.

.

Ima watashi no negaigoto ga kanau naraba
tsubasa ga hoshii
kono senaka ni tori no you ni
shiroi tsubasa tsukete kudasai

kono oozora ni tsubasa wo hiroge
tonde ikitai yo
kanashimi no nai jiyuu na sora he
tsubasa hatamekase yukitai (*)

.

.

.

Entah sejak kapan aku mulai menyenandungkan nyanyian itu, sejak pertama kali mendengarnya, entah kenapa aku langsung jatuh cinta. Mungkin itu tipe musik yang aku suka, mungkin juga karena liriknya yang langsung menyentuh hatiku. Atau mungkin karena aku ingin sayap.

Dengan begitu, mungkin aku bisa terbang dan menemuimu…

 

“Suara yang bagus.”

“Eh?”

Kontan saja pandanganku teralih pada sosok pemuda yang kini telah berdiri diambang pintu kelasku.

Mataku melebar begitu melihat dengan jelas sosok pemuda itu. Napasku tercekat.

‘Ba-bagaimana bisa dia ada di sini?!’ jeritku dalam hati

Cukup lama kami terdiam dan aku masih menatapnya horror.

“Hehehe… maaf mengagetkanmu. Ummm… meskipun aku nggak tahu sama sekali arti nyanyianmu itu, tapi kurasa lagu dan suaramu bagus sekali,” komentarnya kemudian.

Jantungku sepertinya sudah hampir copot sekarang. Antara senang dan juga takut.

Bagaimana mungkin? Seharusnya dia tak ada disini, seharusnya aku sudah tak bisa lagi bertemu dengannya.

Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Baru pertama kali aku melihat lesung pipinya dari jarak sedekat ini.

Manis.

Meski dia laki-laki, tapi kurasa kata manis cocok untuknya.

“Suaramu bagus, Oki.”

Air mataku jatuh saat dia menyebut namaku.

Dia Bayu. Teman sekelasku.

Seseorang yang diam-diam aku sukai.

.

.

.
“Ba-bagaimana bisa kamu….” Aku  tak  melanjutkan pertanyaanku  dan masih menatapnya takut.

Kami berdua duduk di atas meja. Menatap senja yang mulai merangkak naik dari jendela besar ini. Langit luas di atas sana mulai berubah warna menjadi sedikit kemerahan.

“Ada yang harus kamu katakan padaku kan? Rasanya aku belum lega kalau belum mendengarnya sendiri darimu,” katanya.

“Eh?”

Kali ini aku menatapnya lekat-lekat. Bayu hanya tersenyum kecil. Wajahku sedikit menghangat saat itu.

“Bukankah, kau juga akan tenang jika sudah mengatakannya?” tanyanya.

Aku tertunduk. Jantungku kembali berdebar kencang.

“A-aku….”

“Hmmm….”

Dia tampak menungguku mengatakan sesuatu. Aku masih ragu-ragu untuk membuka suaraku. Rasanya lidah ini begitu kelu.

Tapi, aku tak ingin terlalu lama menahannya di sini. Aku harus bisa melepasnya pergi.

Dan akhirnya kubulatkan tekadku.

“A-aku menyukaimu, Bayu. Bukan sebagai teman atau sahabat. Aku menyukaimu seperti gadis-gadis yang selalu ingin mendapatkan perhatianmu itu. Aku menyukaimu,” ucapku.

Cukup lama aku belum juga mendapatkan respon darinya. Kuberanikan diriku untuk kembali memandangnya. Mata hitam itu menatapku sendu.

“Ma-maaf, aku paham kalau kau merasa jijik denganku. Bahkan membenciku. Tapi aku… aku…”

“Makasih, Ki,” katanya.

Bayu tersenyum. Senyum yang mungkin tak akan aku lupakan dari ingatanku.

Dan tak kusangka, kini Bayu memelukku. Mendekapku begitu erat di dadanya.

Aku sendiri tak begitu paham kenapa dia bisa menyentuhku. Bahkan tubuhnya begitu hangat.

Kupejamkan mataku dan mencoba merasakan keberadaannya untuk yang terakhir kali.

Ah~  kini aku sudah tenang.

Perasaanku ini begitu ringan.

Seolah…

Aku memiliki sayap dan terbang.

.

.

.

“Ren, sorry ya ngerepotin, tapi cuma kamu yang percaya sama aku,”

“Hehehe… nggak apa-apa, Mas Bayu,”

“Aku selalu denger suara nyanyian itu begitu kelas sepi, tapi nggak ada siapa-siapa di sini, yang kudengar setelah itu cuma bisikan yang menyebut namaku,”

”Iya, Mas, mungkin itu karena masih ada hal yang membebani hatinya, jadi dia masih di sini.”

“Hmmm…”

“…”

“Kamu itu, kok bisa bikin aku lihat dia sih, Ren? Kamu itu…”

“Mas Bayu pasti mikir yang aneh-aneh deh, hahahaha….”

“Tapi…”

“Aku bukan siapa-siapa kok, Mas. Aku Reno.”

“Aneh kamu, Ren.”

“Hehehehe…”

“Sekarang… dia udah tenang kan, Ren?”

“Semoga aja, Mas. Semoga aja.”

.

.

.

(*) If I can get one wish
To come true right now, I want a pair of wings
Please grant me white wings on my back like a bird

In this huge sky I want to
Spread my wings and fly
Towards the free sky with no sadness
I want to flap my wings and soar

.

.

.
END (?)

.

.

.

 

 

Yuuki Notes :

Nayaka-Kaichou! Honto ni Gomen nasai karena saya baru ‘melapor’ Huks TT__TT

Saya terlalu dalam tersesat di jalan yang namanya kehidupan nih. Petanya salah, yang baca juga buta arah Hiks TT__TT

Ano sa… Butiran Debu nya mohon tunggu sebentar ya, masih di perbaiki sana sini. Maaf kalau banyak yang tanya ke Nayaka-kaichou, mungkin malu mau tanya langsung ke saya ^///^ <<< Hajar saja dia LOL XP

Mohon bimbingannya lagi, Nayaka-Kaichou! Ough!

*Kaburrrrr*