an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

salam…

Bagi yang menanti2 cerpen gaythemed, maaf sekali sodara-sodara, anda harus lebih bersabar lagi. hihiiii, ini bukan gaythemed, ini cerpen biasa, ditulis dalam rangka melengkapi salah satu tugas yang sudah memusingkanku selama enam minggu berturut2, cerpen ini sendiri menjadi tugas keempatku di ajang audisi menulis itu.

Tanpa memperpanjang kata, semoga kalian menikmati membaca ONE NIGHT AT SHILLOUETTE CAFÉ seperti aku menikmati ketika menulisnya.

wassalam

nayaka

#####################################################

“Saya Adrianna…”

“Nama yang cantik, secantik paras pemiliknya.”

“Terima kasih…”

“Jadi, apa tepatnya yang akan anda lakukan di Shillouette Café setiap malam setelah malam ini saat harap anda tak kunjung terjawab, Nona Adrianna?”

“Saya akan bertarung dengan waktu yang saya harap bisa saya menangkan …”

***

Shillouette Café masih seramai malam-malam lalu. Kafé yang letaknya tepat di pusat kota ini memang tak pernah sepi pengunjung, setiap malam meja-mejanya selalu terisi penuh, sepanjang waktu gadis-gadis dan pria-pria muda dalam balutan hitam putih seragam pelayan berlalu lalang dengan nampan berisi pesanan para tamu. Shillouette Café seakan tak pernah mati, hingga tengah malam lampu-lampunya akan terus menyala, gelas dan piringnya akan terus terisi, musiknya akan terus mengalun, dan para tamu akan terus berdatangan selama pintunya masih menggantung papan tanda bertuliskan OPEN. Begitu satu meja ditinggalkan seorang tamu, maka tamu lainnya segera mengisi. Demikianlah, Shillouette Café menjadi tempat orang-orang menghabiskan sebagian kecil dari dua puluh empat jam waktu yang mereka miliki di hari itu.

Dengan intensitas kunjungan demikian padat, bukan mustahil Shillouette Café menjadi lembar bagi beberapa tamunya memulai cerita hidupnya, atau menulis lanjutan kisah hidup yang sudah dimulai di tempat lain. Dan itulah yang terjadi pada gadis ini. Entah cerita hidup macam apa yang membawanya untuk duduk di salah satu meja Shillouette seorang diri, setiap malam, dia selalu membawa sebuah buku bersamanya.

Gadis ini cantik. Tidak, cantik saja tak cukup menggambarkan betapa jelita dirinya. Wajahnya begitu sempurna. Semua bagian dari wajah itu adalah hasil pahatan Tuhan tanpa cela. Tuhan tentu sangat berhati-hati ketika memahat wajah makhluknya yang satu ini sehingga hasil pahatan itu benar-benar tanpa cacat.

Jelita, jelita dan jelita. Begitulah gadis ini. Adalah aneh bila dia selalu terlihat seorang diri di meja yang seakan sudah menjadi miliknya hampir sepanjang tahun ini. Meja itu terletak di salah satu sudut yang dekat dengan panggung dimana biasanya grup musik pengisi kafé itu tampil. Dan yang lebih aneh, gadis ini selalu duduk di meja tersebut, tak ingin meja yang lain. Dia akan langsung duduk di sana bila meja itu berada dalam keadaan kosong ketika dia tiba, sebaliknya dia akan berdiri di dekat panggung, memperhatikan hingga meja itu kosong bila kebetulan ketika datang mejanya itu sudah terisi.

Kelakuannya memang aneh, setelah pesanannya datang, si gadis akan membuka buku yang dibawanya dan mulai membaca. Entahlah, apakah dia benar-benar membaca atau hanya membolak-balikkan halamannya saja, yang pasti, dia menatap lembar-lembar buku yang dibawanya seperti orang yang sedang membaca. Mungkin inilah alasan mengapa dia selalu memilih meja itu setiap malam, keadaannya cukup terang meskipun berada di pojok. Ini karena lampu yang menyorot panggung juga ikut menerangi sekitar sudut tempat meja itu berada.

Pelayan-pelayan di Shillouette Café sudah hapal sosok gadis ini. Datang di awal malam, memesan menu yang selalu sama, membuka bukunya dan hanyut dengan kegiatannya sendiri. Si gadis akan beranjak dari kursinya ketika Shillouette berangsur-angsur sepi saat mendekati tengah malam. Dia tak pernah membawa teman, selalu datang seorang diri. Dan sejauh ini belum ada seorang pun yang datang meminta berbagi meja dengannya. Meski tamu-tamu pria yang kerap datang ke Shillouette Café mulai membicarakannya, namun belum ada yang berani mendekat dan duduk disatu-satunya kursi kosong yang ada di depan si gadis. Entahlah, gadis itu seperti punya kharisma yang membuatnya tampak agung dalam kecantikan dan keanggunannya. Orang-orang menghormati kharismanya itu.

Malam Minggu…

Dia kembali datang ke Shillouette Café. Berjalan menuju mejanya diantara hiruk pikuk tamu dan dentuman musik. Dia masih secantik malam kemarin, tubuhnya begitu pas dalam belitan gaun warna hitam bertali kecil di kedua bahu. Warna yang kontras dengan kulitnya yang putih bak porselen namun tampak serasi dengan rambut keemasannya yang tersanggul apik di puncak kepala. Sebagian punggungnya tersingkap, gaunnya tidak menutup sempurna bagian belakangnya.

Seorang pelayan pria menghampirinya, menyapanya ramah sambil menyerahkan buku menu. Meski sudah tahu menu apa yang bakal diucapkan, tapi para pelayan di Shillouette Café selalu menyerahkan buku menu setiap kali menanyakan pesanan si gadis, tuntutan pekerjaan mereka. Yang aneh, gadis ini akan selalu menerima buku menu, membukanya, meneliti beberapa saat dan mengujarkan menu yang diinginkannya, padahal menu itu sama seperti malam kemarin. Selalu menu itu lagi dan lagi setiap malamnya.

Setelah pelayan mengantarkan pesanannya ke atas meja, gadis ini akan menatap beberapa saat pada menunya dengan pandangan sayu, seakan pada menu-menu itu tergambar sesuatu yang membuatnya menatap sedemikian rupa. Sekilas, caranya menatap tampak seperti tatapan penuh damba.

“Aku masih di sini… akan terus di sini.” Gumamnya pada dirinya sendiri.

Lalu dia menatap pada dinding kaca di sampingnya, dinding kaca transparan yang membuatnya bisa langsung melihat keadaan di luar kafé. Matanya terpaku pada siluet yang ditimbulkan lampu jalan pada sosok pasangan-pasangan yang berjalan sambil berpegangan tangan di luar sana. Ya, bukankah ini Sabtu malam? Pasangan-pasangan itu tengah mengekspresikan perasaan yang sedang menggelegak dalam hati masing-masing mereka. Berpegangan tangan, saling merengkuh, meremas jari, menyentuh mesra, saling memandang penuh rindu atau berpelukan dalam dingin malam, itu adalah ekspresi dari perasaan luar biasa indah di hati pasangan-pasangan itu.

Dia mendesah. Melihat pasangan-pasangan itu mau tak mau membuatnya mengingat tentang dirinya sendiri, mengingat mengapa dia berada di sini, sendirian setelah beberapa masa dihabiskannya dengan berharap. Di sini, dia terikat pada sebuah janji untuk setia hingga waktu mengalah untuknya dan insan terpilih kepada siapa hatinya telah bertaut. Dia di sini, hingga waktu mengalah pada mereka.

Kini, perasaannya kian tak tertahankan seiring hari yang terus berganti. Dia menandai almanaknya, menandai musim-musim sepanjang tahun yang sudah terlewati, menghitung peristiwa, dan dalam masa itu hatinya kian mendamba akan insan terpilihnya. Mungkin rindu akan membunuhnya perlahan-lahan sebelum dia dapat menggenggam tangan lelakinya, andaipun sekarat karena ditikam rindu, demi janji, dia tak ingin mati terlebih dahulu.

‘Kita akan bersama lagi. Aku akan menerjang badai untuk bersatu denganmu. Tanamkan keyakinan dalam hatimu bahwa kau adalah milikku dan aku akan menanamkan keyakinan yang sama dalam hatiku bahwa aku adalah milikmu. Biarkan zaman berganti, biarkan musim bertukar, janji kita tak akan pernah mati…’

Ucapan itu masih terngiang jelas di pendengarannya meski sudah diucapkan sekian masa yang lalu, dan hingga sekarang, keyakinannya belum berubah. Dia yakin dirinya adalah milik insan terpilih itu.

Disesapnya iced berry mint tea dari gelas besar di depannya yang terus mengembun. Dia tak pernah bosan meski setiap malam selalu meminumnya, begitupun juga dengan chocolate cake yang masih utuh di depannya, meski begitu manis dan legit, dia selalu menikmati menghabiskan kue coklat itu.

Si gadis tersenyum sendiri, terbayang saat pertama kali dia duduk di sini satu masa lalu. Saat itu dia tidak sendiri, seorang lelaki tampan duduk di depannya, lelaki terpilihnya. Mereka bicara, tertawa, saling menatap, melempar senyum sementara jari-jari tangan mereka saling bertaut di atas meja. Dua menu yang sekarang selalu dipesannya setiap malam inilah yang ada di atas meja mereka saat itu.

Ya, suatu masa jauh ke belakang, gadis ini pernah duduk di Shillouette Café bersama lelaki terpilihnya. Dulu tak ada yang memperhatikannya, tak ada pelayan yang hapal sosoknya dan menu yang dipesannya, dan tentu tak ada tamu-tamu pria yang membicarakannya, karena dulu dia hanya satu kali duduk di salah satu meja di Shillouette, tidak dikenal dan tidak diperhatikan selain oleh lelaki yang menggengam jemarinya sepanjang waktu mereka berada di sana. Baru kini, setelah dia rutin bertandang tiap malam dan memesan menu yang sama, orang-orang memperhatikan sosoknya, mengenalnya dan kebiasaannya yang dia sendiri menyadari bahwa orang-orang menganggap kebiasaannya itu aneh. Namun dia tak peduli, cukup dia sendiri yang tahu.

Dia menyendok sekerat kecil chocolate cake-nya, memasukkan dalam mulut dan mengunyahnya perlahan, cake itu masih bersisa cukup besar. Ingatannya kembali melayang pada kali pertama kue coklat itu dikecapnya, lelaki yang bersamanya suatu hari di Shillouette itulah yang menyuapinya langsung dengan tangannya. Dia ingat sang pria sempat menyapu bibirnya dengan ujung jari sebelum menarik pulang tangannya. Sekarang, saat mengunyah kue coklat itu sendirian, dia merindukan jemari sang pria di bibirnya.

Setelahnya, dia kembali menerawang.

Dia berpisah dengan lelaki terpilihnya di depan Shillouette, setelah saling memberi seonggok catatan. Lelaki terpilihnya juga memberinya janji, sedangkan dia sendiri berjanji akan menunggu janji lelaki terpilihnya.

‘Kita akan bersama lagi, aku akan menyambangimu di sini, di Shillouette Café.’

Ucapan itu menggema di kepalanya berkali-kali.

Embun pada gelas iced berry mint tea miliknya mulai luruh membentuk garis-garis air tak beraturan hingga ke dasar gelas. Masih sangat penuh, dia menyesapnya sekali lagi hingga menyisakan setengahnya saja. Kemudian dia memandang berkeliling, malam ini Shillouette Café dipenuhi pasangan muda-mudi meski ada juga beberapa sosok-sosok dewasa sepertinya atau yang sudah paruh baya, tapi tetap yang lebih dominan adalah pasangan muda-mudi dalam bermacam gaya. Kini dia melihat hal-hal yang difikirkannya pada sosok-sosok yang dipandangnya dari balik dinding kaca sesaat tadi, di dalam sini dia langsung bisa melihat gadis-gadis yang sedang terbuai dalam pelukan lelaki-lelaki mereka, pasangan yang sedang berciuman, pasangan yang sedang meremas jari, yang sedang bercengkrama, yang sedang saling menyuapi atau minum dari gelas yang sama. Di matanya, pemandangan itu begitu terasa jujur. Pasangan-pasangan itu sangat jujur menampakkan perasaan mereka masing-masing, setidaknya begitulah yang terlihat.

Dulu, dia dan lelaki terpilihnya juga pasti terlihat begitu jujur. Ya Tuhan, betapa inginnya dia kembali duduk berhadap-hadapan bersama lelaki terpilihnya. Memperhatikan pasangan-pasangan itu, hanya akan membuat hatinya semakin mendamba.

Dia menunduk ketika pandangannya mulai terasa jengah, sejenak kemudian dia mulai membuka buku yang dibawanya setiap malam. Dia siap membuka lembar pertamanya ketika seseorang menegur.

“Selamat malam, Nona… apakah kursi ini kosong?”

Dia mendongak memandang pada orang yang baru saja menegurnya. Seorang pria paruh baya berdiri di depannya dengan mug mengepul di tangan, dia yakin isinya adalah kopi mendidih. Si gadis mengernyit, jika pria paruh baya ini tamu, adalah aneh dia membawa gelasnya sendiri ke meja. Bukankah seharusnya pelayan yang akan membawa gelas itu ke mejanya?

Itu tak penting dan bukan urusannya. Yang menjadi masalahnya adalah, sejauh ini, tak ada yang menghampiri mejanya, tak seorangpun bergerak melanggar privasi yang telah dibangunnya secara tak langsung dengan memagari mejanya, pagar tak terlihat. Tapi sekarang, seorang pria yang sebagian rambutnya sudah berwarna kelabu datang mempertanyakan status kursi yang menjadi bagian mejanya, bagian dari privasinya.

“Oh, selamat malam, Tuan…” dia membalas ucapan pria yang masih berdiri di depannya, lalu pandangannya mengitari seluruh penjuru kafé.

“Saya tidak menemukan satupun lagi kursi yang masih kosong…” ucap pria itu seakan tahu arti pandangan si gadis. “Bisakah saya duduk bersama anda, Nona?”

Gadis ini diam sejenak sebelum mengangguk, “Tentu, Tuan bisa duduk di kursi itu.” Jawabnya sambil menunjuk kursi kosong di depannya.

“Terima kasih, Nona. Anda gadis yang baik…” si pria meletakkan mug-nya di atas meja, isinya benar-benar kopi pekat yang masih sangat panas, uapnya mengepul dari mulut mug.

Si gadis tersenyum menanggapi pujian untuknya.

“Sangat ramai ya, pertama kali datang dan saya hampir tidak memperoleh tempat duduk.”

Gadis itu mengernyit, “Anda baru pertama kali kemari?”

Pria paruh baya mengangguk, “Ya, dan saya yakin telah memilih kafé yang salah…”

Si gadis tersenyum, “Ini Sabtu malam, wajar saja bila seramai ini.”

“Anda sering kemari?”

“Saya setiap malam datang kemari…”

Pria paruh baya terdiam sambil mengangguk beberapa kali, lalu pandangannya jatuh pada buku di atas meja yang sesaat tadi hendak dibuka gadis di depannya bila dia tidak menegur. “Anda penulis?” tanyanya sambil menunjuk pada buku kecil cukup tebal di atas meja. “Atau pengejar berita, mungkin?”

“Oh, bukan… ini buku milik seseorang yang sosoknya begitu saya harapkan. Sebagian tulisan di buku ini ditulis olehnya sendiri, saya menambahkan beberapa tulisan saya di dalamnya.” Dia menatap bukunya sambil tersenyum, “Saya selalu bagai memperoleh kebahagiaan yang saya cari ketika membaca tulisannya, dan jadi semakin mendamba saat saya mengulang baca tulisan saya sendiri.” dia masih tersenyum.

“Boleh saya melihatnya?”

Si gadis menatap pria paruh baya di depannya dengan tatapan ragu. Belum ada yang membaca buku itu selain dirinya sendiri dan tentu saja lelaki terpilihnya suatu masa dulu.

Ujung bibir pria itu tertarik, memperlihatkan senyum canggung. “Tidak mengapa, saya hanya akan duduk di sini dan menghabiskan kopi saya… maaf bila saya mengganggu kenyamanan anda, Nona.” Lalu dia menyesap kopinya sambil sesekali meniup-niup di atas permukaan mug.

Si gadis menatap bergantian antara pria di depannya dan buku di atas meja. Dia mulai berfikir, tak ada salahnya membiarkan seseorang membacanya. Lagipula, pria di depannya ini terlihat baik. Si gadis memandang pada cincin yang melingkar di salah satu jari pria di depannya, cincin kawin.

“Bagaimana kabar istri anda, Tuan?”

Si pria terkekeh, hampir membuat tumpah kopi yang mug-nya masih dipegang di tangannya. “Nona, sepertinya anda sangat mengenal identitas seorang pria.” Dia meletakkan kopinya di atas meja kembali. “Istri saya menitipkan beberapa oleh-oleh, besok saya harus mulai memburunya. Saya jarang mendapatkan perjalanan dinas ke kota ini, jadi saya harus memastikan kalau tak ada benda yang sangat diidamkan istri saya ada yang terlewat untuk dibawa pulang.”

Gadis itu tersenyum, “Anda suami yang baik…” lalu dia menyodorkan bukunya pada si pria, “Mungkin buku ini memang berjodoh untuk anda baca, beberapa halaman yang saya suka dan sering saya baca berulang-ulang sudah saya tandai…”

“Nona, apakah saya diizinkan membaca karena anda menilai saya adalah seorang suami yang baik?”

Gadis itu tertawa, “Saya mengizinkannya karena Tuan sangat menyayangi istri Tuan, oleh-oleh yang dititipkannya pastilah sangat banyak dan Tuan mau memenuhi semuanya. Tuan adalah suami yang sayang istri.”

Si pria tersenyum simpul, membuat kerutan di wajahnya semakin jelas. Lalu dia mulai membuka halaman pertama buku itu, tulisan tangan yang begitu rapi terpampang jelas di sana.

‘Saat kau palingkan wajahmu menatap pintu, saat itulah aku sedang berjalan menujumu. Jarakku mungkin masih cukup jauh darimu, tapi demi gadis terpilihku, aku rela menghadang badai untuk menjamah jemarimu.’

Pria paruh baya tersenyum, “Dia lelaki hebat…” ujarnya.

Gadis di depannya mengangguk mantap, matanya berbinar cerah. “’Kita bagaikan simpul yang sukar dilerai, bagaikan sepasang merpati yang terbang beriringan. Meski kita harus bertahan dalam kurun panjang yang membuat bimbang, yakinlah bahwa lelaki terpilihmu akan membawamu terbang bersamanya suatu saat nanti, jangan ragukan.’” Si gadis tersenyum cerah, “Saya sudah bisa menghapal semua isi buku itu.”

“Anda juga gadis hebat, Nona.” Si pria kembali berujar. Kemudian dia membalik lembar buku itu, mencari halaman yang telah ditandai si gadis dengan melipat sudut halamannya.

‘Aku membayangkanmu duduk di Shillouette Café lagi. Aku tahu itu berat, gadisku, tapi kumohon,janganlah kau bosan, janganlah jemu, jangan kau merasa jenuh, jangan kau merasa janji yang kuucapkan padamu adalah bual belaka. Tetaplah yakin, tetaplah yakin, seperti aku yakin kau akan tetap berada di sana.’

Pria paruh baya menatap gadis di depannya, “Anda masih yakin hingga sekarang, Nona?”

Si gadis kembali mengangguk mantap, “Saya masih seyakin dulu… dan semakin yakin lagi seiring hari membuat rindu saya bertambah kadarnya kepadanya.”

“Hemm… anda dan lelaki itu adalah insan-insan luar biasa.”

Gadis itu mengangguk lagi.

Si pria kembali membalikkan halaman buku di tangannya.

‘Hakikatnya kita dekat, gadisku. Sangat dekat. Aku akan berlari menjangkaumu, menenggelamkanmu dalam rinduku yang membadai. Ketika saat itu datang, aku ingin kau tersenyum sambil berkata ‘Lelaki terpilihku sedang menunaikan janjinya lagi.’’

Pria paruh baya itu terdiam, “Nona, kapan anda mendapatkan catatan-catatan ini?”

“Saya mendapatkannya di sini. Kami sudah pernah menunaikan janji kami jauh masa dulu, saat itulah kami saling bertukar catatan. Sekarang, saya yakin kalau kami juga akan segera menunaikan janji kami lagi dan tidak akan bertukar catatan lagi…”

Pria itu mengangguk berkali-kali, jarinya terus membalik mencari halaman yang bertanda.

“Ini tulisan anda, Nona?” tanyanya ketika mendapati halaman bertanda yang tulisannya berbeda dari yang sudah dibacanya tadi.”

Si gadis mengangguk. “Saya menulisnya cukup banyak. Itu adalah luapan perasaan suka cita saya setiap membaca tulisan yang dibuatnya di buku itu.”

Pria paruh baya mengangguk-angguk lalu mulai membaca.

‘Aku akan selalu berpaling menatap pintu, sesering yang kubisa. Aku tak peduli walau harus datang lalu pulang dalam masa berkurun-kurun lagi, sungguh aku tak peduli. Di saat aku masih yakin bahwa dalam hatimu kau selalu menanamkan keyakinan bahwa kau adalah milikku, maka sepanjang waktu itu pula aku akan duduk sambil menatap ke pintu. Bila aku tetap yakin dirimu masih jadi lelaki terpilihku, maka sepanjang waktu itu pula aku akan mengikrarkan diri sebagai gadis terpilihmu.’

“Tulisan yang luar biasa.” Ujar si pria. “Boleh saya meneruskan?”

Si gadis mengangguk.

‘Aku tahu jarak kita sebenarnya jauh, terlalu jauh. Tapi itu tak akan menyurutkan langkahku. Dalam pengharapan, keyakinanku kian kuat mengakar. Di sini aku duduk dengan hati dan perasaan mendamba yang bukan kepalang. Aku tahu kau tak akan membiarkanku menuai asa kosong, kau tidak akan membiarkanku duduk dalam keputusasaan yang tiada akhir. Suatu hari seperti katamu, aku akan menyongsongmu sambil tersenyum dan berteriak, ya… aku akan berteriak lantang ‘Lelaki terpilihku sedang menunaikan janjinya lagi.’’

Sekarang si pria menatap dalam-dalam sosok anggun di depannya, “Apakah perasaan anda sungguh sedalam itu, Nona?”

Gadis itu mengangguk, matanya masih berbinar cerah. “Saya tahu, saya belum duduk seperti yang dilukiskannya dalam catatannya, yang tersirat di sana adalah masa yang begitu panjang, dan saya siap karena saya yakin isi catatannya adalah benar.” Lalu dia meneguk iced berry mint tea miliknya lagi hingga menyisakan sedikit di dasar gelas. “Anda biasa makan kue coklat, Tuan?” dia memotong sisa chocolate cake di piringnya menjadi dua bagian lalu mendorong piring itu lebih ke tengah meja. “Suatu kehormatan bisa berbagi kue dengan pria sebaik Tuan.”

Si pria terkekeh untuk kedua kalinya semenjak bergabung di meja si gadis, “Saya yang seharusnya merasa terhormat bisa semeja dengan gadis hebat seperti Nona, dan sekarang bahkan mendapatkan cake free…” ucapnya sembari mengambil kerat kue bagiannya. “Istri saya sebenarnya melarang saya bersentuhan dengan manis legit seperti ini…”

“Oh, maafkan saya…”

Si pria tersenyum, “Tapi sekarang dia tidak sedang di sini. Sekerat kecil saja tidak akan jadi masalah.”

Gadis itu tersenyum simpul.

“Boleh saya meneruskan?”

“Oh ya, tentu…”

Pria itu meneruskan aktivitasnya di antara lembar-lembar buku, dia menemukan lembaran bertanda terakhir.

‘Aku ingin kau tahu, di sini aku duduk dengan kesetiaan yang diriku sendiri tidak bisa memastikan betapa kuat kadarnya, yang aku tahu aku sangat setia. Bila kau hadir menenggelamkanku dalam rindu, maka dengan ikhlas aku akan membiarkan diriku hanyut bersamamu. Kita memang sepasang merpati, kita terbang beriringan, meski sekarang jauh, aku yakin hatiku dan hatimu masih beriringan. Jarak tak akan berarti apa-apa, lelakiku. Dia hanya sekat yang memisahkan raga. Ada yang lebih kuat daripada raga yang saling bersentuhan, jiwa yang saling terikat. Andai pun kita dikalahkan jarak dan waktu suatu masa nanti, aku masih bisa menghibur diriku dengan kenyataan bahwa jiwa kita, hati kita pernah bertaut untuk masa yang tak singkat sejak kita menunaikan janji kita kali pertama hingga kita berusaha menunaikannya untuk kedua kalinya. Sampai akhir nanti, hanya kau yang terpilih, lelakiku satu-satunya.’

Pria paruh baya yang baru pertama kali datang ke Shillouette Café terpaku beberapa saat pada lembar buku terakhir yang ditandai si gadis. Dia menutup buku itu dan meletakkannya di atas meja.

“Nona, apa kau siap dengan akhir cerita yang tidak memihak padamu?”

Gadis itu tersenyum, “Jika cerita itu tidak memihak pada saya, maka tidak juga memihak padanya. Kami akan sama sakitnya bila kisah ini tak memihak kami dan akan sama bahagia bila sebaliknya, saya tak pernah ragu, Tuan. Namun seperti yang saya tuliskan, di sini saya akan duduk dengan kesetiaan yang saya sendiri tak mengetahui seberapa kuatnya, tapi yang pasti saya sangat setia.”

Pria paruh baya itu mengangguk mengerti, dia meneguk sisa kopinya yang sudah tak mengepul lagi, lalu bersiap-siap untuk meninggalkan Shillouette Café. “Jika boleh saya tahu, siapakah nama anda, Nona?” ujarnya sambil bangun dari kursi.

“Saya Adrianna…”

“Nama yang cantik, secantik paras pemiliknya.”

“Terima kasih…”

“Jadi, apa tepatnya yang akan anda lakukan di Shillouette Café setiap malam setelah malam ini saat harap anda tak kunjung terjawab, Nona Adrianna?”

“Saya akan bertarung dengan waktu yang saya harap bisa saya menangkan …”

Pria paruh baya itu mengangguk, tersenyum sekilas kemudian berbalik pergi.

Lalu Shillouette Café dihinggapi lengang, satu persatu lampunya padam. Gadis itu menatap punggung pria paruh baya yang baru saja mengobrol dengannya berjalan cepat melintasi pintu keluar. Dia mengerjap ketika matanya menatap siluet samar dari arah berlawanan, dia tersenyum.

Saat ini, dia sedang duduk memandang ke pintu.

 

September 2012

Dari atas kursi dan meja rumahku

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com