Aku Ingin Jatuh Cinta Dengan Bebas

by : Javas

Dua malam kuhabiskan untuk mengamati bulan dari balik jendela kaca. Membayangkan wajah bulat ibu dengan pipi yang selalu menggemaskan. Mengharap ia akan tersenyum lalu berujar, Baro, ibu sangat rindu. Pulanglah nak! Tapi, selama aku memandang, selama aku mengharap, bulan itu hanya bersinar. Lalu bergerak dan bersikus. Ibu masih tetap di ujung sana, tak terpecahkan olehku.

Berbicara ibu memang tak ada habisnya. Jika seseorang bertanya kepadaku, siapa orang yang paling aku suka, tentu saja Ibu. Siapa orang paling kuat di dunia, tak pernah aku memikirkan orang selain beliau. Ibu, ibu dan ibu. Orang yang tak pernah berniat buruk padaku. Meski aku sering, menentangnya.

Tapi sebenarnya bukan menentang, aku hanya menginginkan pendapatku diakui. Sejak dikhitan, yang ada dipikiranku hanyalah, “Hey ibu, aku sudah dewasa, tolong jangan terlalu mengatur, lelaki sejati bisa mengatasi masalahnya!” Aku sudah dewasa, tentu harus memiliki andil kepala sebagai pemikir keluarga. Toh kelak, aku yang akan berlabel kepala keluarga.

Kepala keluarga tak pernah menangis saat jatuh dari sepeda dan kakinya berdarah. Kepala keluarga tak pernah mengeluh walau cuma makan sehari sekali. Kepala keluarga harus selalu tersenyum meski mata tak bisa ditahan untuk menangis. Ibu melakukan semua itu. Bahkan lebih. Kepala keluarga tidak akan memikirkan dirinya sendiri, sepertiku. Sejak saat itu aku putuskan. Aku tidak akan menolak nasehat ibu. Aku akan menjadi anak paling patuh sedunia. Anak terhebat dari wanita paling hebat sedunia.

Hey Ibu? Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Apa masih suka memakan nasi sedikit dan bandel minum susu kalsium. Bu, apa ada rindu untukku?

***

Aku ingat malam itu. Saat Ibu mengajakku duduk di depan rumah. Mengarahkan tangan ke atas agar aku melihat bulan penuh. Ibu berbisik pelan, “Saat bulan penuh, coba sebutkan satu harapan. Kelak, seseorang yang juga melihat bulan, akan membantumu dalam mewujudkannya jadi nyata.” Sekarang aku berharap, dengan menghadap bulan. Mungkinkah ibu melihat bulan juga saat ini.

Jika aku berharap ibu mengertiku, apa bisa terkabul?

Malam itu kami berbicara banyak. Tentang ambisiku yang ingin membuat warung nasi sederhana ibu menjadi go nasional. Tentang niatku ingin menerbangkan ibu ke tanah suci. Semua ambisiki untuk ibu. Membuatnya bahagia dengan caraku. Ibu cuma tersenyum saat itu. Menidurkanku di pahanya lalu mengelus rambutku. Rasanya aku ingin Tuhan menambah malam menjadi lebih lama.

Ada satu pertanyaan ibu yang membuatku terdiam untuk bercerita. Wanita seperti apa yang ingin kamu jadikan istri? Jujur aku bingung untuk menjawabnya. Wanita yang cantik atau yang baik? Aku bahkan tak bisa membedakan wanita itu cantik atau tidak. Apa ada gadis yang kamu suka? Aku cuma tersenyum dan memandangi bulan yang nampak bulat tak mulus.

Semalaman aku tak bisa tertidur. Dadaku bergemuruh. Aku berusaha bertanya pada diriku sendiri. Berusaha menjawab sendiri. Mengulangi perkataan Ibu sambil terus memandang bulan. Apa ada gadis yang kamu suka? Pertanyaan itu sangat menyudutkan. Sejak kecil hanya ibu yang menjadi panutanku. Tak ada wanita yang kusukai, mungkin karena tak sama dengan ibu.

Lewat tengah malam aku masih berusaha menjawab pertanyaan itu. Bulan sudah mulai tak nampak, mungkin sudah pada posisi tengah. Aku tetap tak bisa menjawab gadis mana yang aku suka. Vika? Mira? Rani? Ah, aku merasa biasa saja. Mereka sahabat terbaikku. Doni? Aku hanya merasa nyaman dengannya. Nyaman.

Aku semakin takut memikirkan pertanyaan Ibu. Semakin kuingat semakin membuatku tersiksa. Kenapa tak ada satu gadispun yang aku suka. Justru beberapa bayangan teman pria yang nampak. Doni, Vasko, Imran semua lewat begitu saja ketika aku berusaha mensugesti diri untuk menyukai seorang gadis. Ada rasa hangat di dada sangat membayangkan mereka tersenyum ke arahku. Lalu menggandeng tanganku.

Ibu adalah orang paling wahid yang harus tak tahu ini. Aku hanya belum terbiasa saja. Suatu saat aku akan menyukai seorang gadis dan mampu menjawab pertanyaan ibu. Aku memerlukan proses panjang agar kontruksi otakku bekerja dengan baik. Aku akan menunggu saat itu. Aku akan bersabar.

Sebulan lebih aku kuat, dua bulan masih mampu, tiga bulan aku mulai merasa khawatir. Lewat tengah semester aku merasa berbeda. Aku tak sama dengan mereka semua. Aku selalu iri dengan sahabatku mendapatkan kekasih. Aku selalu merasa kerdil saat mereka menceritakan tentang ciuman pertama. Aku semakin terlihat berbeda saat mereka membicarakan adik kelas yang lewat.

Kenapa aku tidak bisa tertawa dengan muka nyaris mirip orang bodoh. Bersorak menggoda adik kelas hingga wajah mereka memerah. Menemukan secarik kertas pink dengan aroma parfum di tas. Aku iri. Aku semakin takut. Semakin dekat dengan Doni, Vasko, Imran semakin membuatku terasa beda. Semakin mebuatku hangat dan nyaman.

Aku takut jika salah satu dari mereka akan menjadi jawaban pertanyaan ibu.

***

Ibu, cinta itu apa? Apa seperti saat ayah melamar ibu dahulu? Ataukah seperti aku menyayangi ibu? Jika aku nyaman dengan seseorang, apakah lama-lama aku jadi cinta dengannya bu? Apa cinta itu bisa salah? Jika iya, siapa yang akan disalahkan, hatiku atau orang yang membuatku nyaman?

Aku tidak menyukai gadis. Apa itu salah bu?

Tak pernah aku menentang ibu. Tak pernah membantah semua perintah. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik buat Ibu. Tapi saat ini, aku ingin pendapatku dihargai. Ingin apa yang ada dalam hatiku bisa keluar semua tanpa takut. Ibu, bukankah aku masih anakmu walau aku kehilangan satu kaki. Aku masih anakmu kan meski aku berbeda dengan yang lain. Katakan aku masih anakmu.

  Kepergianku dari rumah bukanlah bentuk protes. Aku tak meyalahkan saat ibu memberi tanda merah di pipi. Saat aku bilang menyukai pria dengan tatapan sendu itu. Sungguh aku tak ada dendam. Aku tahu yang ibu lakukan adalah demi kebaikanku. Aku merasa menjadi pria paling buruk sedunia jika membuat menangis.

Tapi Bu, aku juga akan kalah jika menolak jati diri. Aku akan jadi boneka dengan topeng palsu agar semua terlihat sempurna. Bukankah menjadi diri sendiri itu jauh lebih baik bu? Apa yang aku lakukan teramat salah?

Aku hanya ingin ibu tersenyum dan membelai rambutku saat aku kasmaran. Ibu, aku juga ingin jatuh cinta sama seperti mereka, walau sedikit berbeda. Hanya jatuh cinta, setelah itu aku akan kembali ke pangkuanmu. Menjadi anakmu yang berbakti.

Satu kali saja, biarkan aku jatuh cinta dengan bebas.

________________________________________________________________

AKU INGIN JATUH CINTA

By : Nayaka Al Gibran

Untuk kesekian kalinya, aku kembali menatap mereka, pasangan yang berbahagia. Si pria tampak gagah dalam balutan jas warna gading, celana bagus berwarna serupa berikut dasi kupu-kupu hitam mengkilap yang menyeruak di antara kerah kemejanya yang terkancing sempurna. Si wanita, hari ini menjadi wanita paling cantik dengan pakaian berendanya yang sebagian besar terhampar di lantai. Mereka, mempelai yang dipersatukan cinta dan sebentar lagi akan diikat oleh janji suci pernikahan.

Aku tak menyimak satupun kata yang diucapkan pastor –sang juru nikah, aku sudah terlalu sering mendengarnya. Ini bukan pertama kalinya aku hadir ke gereja di pernikahan orang yang kukenal, ini adalah yang kesekian kalinya, aku bahkan sudah bisa menghapal kalimat-kalimat itu. Aku hanya memperhatikan kedua mempelai yang berpegangan tangan, menatap penuh damba, dan akan berciuman setelah mereka diikrarkan sebagai suami-istri. Selalu, aku merasa iri.

“Sayang, aku ingin terlihat seperti mempelai wanita itu di pernikahan kita nanti…” seorang gadis yang duduk pada barisan kursi di depanku berujar pada lelaki di kirinya. “Kau pasti akan lebih cantik darinya.” Balas si lelaki sambil menyampirkan lengan kanannya merangkul pundak si gadis, kekasihnya.

“Aku jadi ingat pernikahan kita tahun lalu…” seorang pria yang duduk di sampingku berbisik sambil mengecup punggung tangan wanita di sampingnya, istrinya. Si istri tersenyum, merangkul lengannya lalu meletakkan kepala di bahu sang suami.

Aku tak kenal pasangan kekasih –yang berniat menikah suatu saat nanti- di depanku, juga tak pernah melihat pasangan suami-istri –yang sudah menikah tahun lalu- di sampingku ini,  mereka bisa saja kerabat atau kenalan dari mempelai pria –sepertiku,  dan bisa juga kerabat atau kenalan mempelai wanitanya. Namun melihat pasangan-pasangan ini yang begitu intim dan mesra membuatku iri juga pada mereka. Entahlah, aku merasa saat ini menjadi satu-satunya tamu yang datang tanpa pasangan, tidak seperti pria yang lengannya sedang dipeluk istrinya, tidak seperti lelaki yang sedang merengkuh pundak kekasihnya. Aku sendiri.

Aku ingin merasakan kembali cinta seperti pasangan suami-istri di sampingku. Hidup serumah, bertemu tiap hari, menghabiskan sore dengan duduk bersama di beranda ditemani poci teh dan cangkir mengepul, makan malam di satu meja, berbicara setiap saat tanpa pernah bosan dan juga bercinta. Suami-istri yang saling melengkapi, saling menjaga dan saling menguatkan seperti yang pernah kulalui suatu masa dulu bersama istriku.

‘Menikahlah, Jun. Aku tidak ingin kau kesepian setelah kepergianku, temukan seseorang yang baik untukmu. Jatuh cintalah lagi, aku takut kesepian akan membayangi harimu jika kau memilih sendiri. Aku cemas akan kesendirianmu… Jatuh cintalah lagi…’

Penyakit jahanam itu merenggutnya dariku, membawa pergi seorang istri dari sisi suaminya. Gambaran sosoknya yang rapuh ketika berucap menyuruhku menikah setelah ketiadaannya masih tergambar jelas, sejelas siang di ingatanku. Dia mencemaskan kesendirianku. kenyataannya, hingga bertahun setelah kepergiannya, aku tidak membawa saorang pun ke rumah, tidak membawa seorang wanita yang akan menempati bagian ranjang yang pernah menjadi kepunyaannya, yang akan mengambil alih peralatan dapurnya dan juga pot-pot geranium-nya di halaman belakang. Aku tak pernah bisa jatuh cinta lagi seperti yang diingininya. Hingga kini, ketika warna kelabu mulai menyelip di antara helai hitam rambutku, aku masih berada dalam kesendirian yang dicemaskannya.

‘Jatuh cintalah lagi, Jun…’

Kepergiannya seakan ikut membawa pergi cintaku hingga tak bersisa. Meski aku kerap merasa sangat ingin kembali jatuh dan mencinta, tapi tak ada cinta yang bisa kuberikan untuk siapapun wanita itu. Ibarat seorang miskin berjiwa dermawan yang melihat peminta-minta, dia sangat ingin menjatuhkan satu atau dua keping logam dalam kaleng si peminta-minta, tapi dia tak punya logam untuk didermakan. Begitulah aku, sangat ingin jatuh cinta lagi tetapi tak punya cinta untuk kuberikan. Akhirnya, aku hanya bisa menatap iri pasangan-pasangan yang saling melempar senyum di jamuan-jamuan makan malam yang kuhadiri, pasangan-pasangan yang saling berpegangan tangan di lantai-lantai dansa, pasangan-pasangan yang berdiskusi tentang daftar belanjaan mereka di pusat-pusat perbelanjaan. Pun seperti sekarang, aku mendapati diriku sedang menatap iri pada pasangan-pasangan yang sedang menikmati jamuan mereka di hall megah ini sambil bercengkerama bahagia.

Setelah selesai mengucap janji di depan altar beberapa saat lalu, pesta pernikahan mereka berlanjut ke ruang hingar-bingar ini, ruang maha luas yang dipenuhi meja-meja besar dimana menu-menu mahal berjejer di atasnya. Di tengah ruangan, pengantin baru tampak saling merengkuh mesra sambil membalas sapaan dan ucapan selamat yang ditujukan buat mereka.

Aku berusaha menikmati pesta ini sebisaku, seperti kebanyakan pesta pernikahan yang pernah kuhadiri setelah kepergian istriku, aku berdiri di sudut agak sepi dengan satu seloki anggur di tangan kanan sementara tangan kiri berada dalam saku celanaku. Cara pria tak beristri menikmati pesta pernikahan.

“Yang mana kenalan Anda, mempelai pria atau mempelai wanita?”

Aku menoleh pada sosok yang menegurku, segera mengenali kalau dia adalah lelaki yang tadi duduk di kursi di depanku sambil merangkul pundak kekasihnya, lelaki muda yang berencana untuk menikah. Jika tadi aku hanya bisa melihat sisi wajah dan bahunya saja, kini aku bisa melihat tampilan keseluruhannya. Eksekutif muda.

“Mempelai prianya, kami sekantor.”

Dia mengangguk, “Saya kerabatnya, kami sepupu jauh.” Beritahunya tanpa kuminta, lalu dia seperti mencari-cari, “Anda datang sendirian, dimana istri Anda?” dia bertanya sambil menunjuk pada tanganku yang memegang seloki. Lelaki muda ini menemukan cincin kawinku.

Selama aku hadir seorang diri ke pernikahan-pernikahan orang yang kukenal, baru kali ini ada yang tertarik dengan cincinku, baru kali ini ada orang yang bertanyakan istriku. “Dia meninggal tujuh tahun lalu.” Jawabku.

Lelaki muda itu tampak menyesal, “Maaf…”

“Bukan salahmu.” Aku meneguk isi selokiku.

“Pasti dia wanita yang hebat.”

Aku tersenyum, “Dia wanita pertama yang membuatku jatuh cinta, dan hingga sekarang tetap menjadi satu-satunya. Tak ada yang bisa membuatku jatuh cinta lagi meski keinginan untuk itu sering datang…”

Si Lelaki Muda menatapku, “Saya ingin menjadi seperti Anda, mencintai satu wanita saja.”

Aku menggeleng, “Sebenarnya, aku ingin jatuh cinta pada wanita lain, ingin mencintai seseorang seperti mencintainya dulu, namun itu hanya menjadi keinginan saja. Aku bagai tak punya cinta lagi.”

“Sayang…!” seseorang berseru.

“Oh, hai… kau mendapatkannya?” Lelaki muda yang baru saja menjadi lawan bicaraku menyongsong gadis kekasihnya yang bergerak cepat ke arah kami dengan buket bunga di tangan. Gadis itu akan segera jadi pengantin. Mereka berpelukan sambil tertawa.

Aku tersenyum memandang mereka. Diawali jatuh cinta, tak lama lagi mereka akan menikah lalu hidup berumah tangga. Ah, aku ingin jatuh cinta, menikah dan berumah tangga, sekali lagi.