Tamu

by: Nayaka Al Gibran

            Rasanya baru beberapa menit lalu tubuhku terkapar di ranjangku. Mimpi segera akan menarikku hanyut dalam pusarannya, mimpi indah seperti malam-malam terdahulu yang menghadirkan gadis indah di dalamnya. Gadis indah dalam mimpi yang indah. Sejak dia menempati apartemen yang berselang dua pintu dari pintuku hampir enam bulan lalu, nyaris setiap malam aku menghayalkannya dan berujung pada mimpi dalam tidurku. Sekarang, aku siap menyongsongnya lagi jika saja suara –yang entah berasal dari mana- itu tidak mengeluarkan sebagian jiwaku dari alam bawah sadar. Aku terjaga, diam dengan mata terpejam, beberapa inderaku ikut siaga kemudian. Suara itu berhasil kuketahui. Di luar sana, seseorang sedang mengetuk pintu apartemenku.

            Siapa orang gilanya yang bertamu malam-malam buta seperti ini? Sungguh tak kenal waktu. Masih terpejam, aku mendumel dalam hati. Ketukan itu masih terdengar, pelan dan lembut, yang mengetuknya pastilah seorang penyabar. Aku berusaha membuka kelopak mataku, rasanya ada lakban besar yang merentang di atasnya. Aku mengeliat berbalik, seketika silau menyerbu mataku. Dengan mengernyit, aku bisa melihat pijar sang surya dari balik tirai tipis jendelaku. Ternyata sekarang tak lagi malam buta, tamu itu tak salah waktu. Hei, tapi kemana suara itu? Aku tak lagi mendengarnya, kutarik selimut hingga menutupi wajah. Sekarang aku ingat bahwa semalam aku pulang dini hari, ada pesta kecil di kediaman putera bos, pesta akhir pekan bagi karyawan yang masih lajang bersama beberapa botol beer dan beberapa gadis. Jika saja semalam aku tak menolak seperti biasanya setelah botol-botol itu kosong,  maka pagi ini aku tidak akan terjaga di kamarku, mungkin di salah satu ranjang di kediaman sang putera bos bersama salah seorang gadis.

            Ketukan itu terdengar lagi. Sial. Kenapa dia tidak pergi saja? Aku menyingkirkan selimut dengan sentakan kuat hingga sebagian kain tebal itu tertebar di lantai. Kuangkat badanku hanya untuk kembali terkapar setelahnya, kepalaku pusing. Tamu itu masih mengetuk, “Wait a second…!” teriakku parau. Hening, sang tamu berhenti menimbulkan suara di pintuku, dia memilih menunggu.

            Aku kembali bangkit sambil memijit-mijit keningku mengusir pusing. Kulirik weker di nakas, mendekati setengah tujuh. Ini jam terpagi dalam sejarahku menerima tamu. Masih menahan pusing, kuseret langkahku keluar kamar dan menuju pintu, sempat kuperhatikan ruang tamu apartemenku yang berantakan, plastik laundry yang mengemas beberapa bajuku tergeletak asal-asalan di atas sofa bersama serakan surat kabar dan beberapa kantong berisi belanjaan dapur yang kubeli dua hari lalu.

            Ketukan itu terdengar lagi tepat saat aku meraih kunciku. “I’m coming…!” dan daun pintuku pun terbuka. Aku menegang di tempatku berdiri. Gadis pengisi mimpi-mimpiku tegak di depan pintuku.

            “Hi…” sapaan dibarengi senyum berlesung pipi itu seketika membekukanku.

            Butuh beberapa detik untuk menyadarkan diriku bahwa aku sedang tidak bermimpi di ranjangku. Aku mengerjap, mimpi-mimpiku berkelebat cepat. Beberapa potong memori dimana sosok yang barusan menyapaku hadir juga ikut berkelebat, obrolan kecil di lift, saling melempar senyum di lobi gedung apartemen, beberapa kali sempat bertemu di swalayan seberang jalan, dan beberapa sapaan ketika berpapasan di coffee house di lantai dasar gedung apartemen saat hendak sarapan. Kini dia tepat di depanku, aku sulit bernafas.

            “Emm… aku berniat turun untuk sarapan, kufikir… akan lebih menyenangkan bila bisa mengobrol sambil menikmati sekerat pancake… denganmu…”

            Ini mimpi yang jadi nyata. Meski sedikit terbata, aku mengerti dia memintaku menemaninya sarapan. “Oh… ya, tentu saja.” Untuk pertama kalinya aku merasa penampilanku sangat kacau, kulirik diriku yang masih mengenakan celana kantor kemarin dan bertelanjang dada. “Keberatan memberiku waktu sepuluh menit untuk merapikan diri?”

            Dia tersenyum dan menggeleng, “Jam sarapan masih bersisa lama…”

            Kukuak daun pintu lebih lebar untuk mempersilakannya masuk, persetan dengan ruang tamuku yang bagai bak pembuangan limbah rumah tangga. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bagus untuk membuat mimpi-mimpiku jadi nyata, mimpi berpegangan tangan dengan makhluk indah ini di sebuah taman penuh bunga.

————————————————————————————————————–

Tamu

by: Javas

Untuk yang keempat kalinya, aku melempar benda yang ada di kasur. Berusaha membuat suara ketukan dari balik pintu lesap. Aku semalam lembur hingga lewat hari, jangan ganggu aku!

Bantal dan guling sudah terlempar, selimut mendarat di kursi. Tak ada benda untuk menutup telinga lagi. Terpaksa, aku berjalan gontai. Nyawaku masih belum sepenuhnya terkumpul. Aku bersumpah. Jika saat kubuka pintu ternyata yang muncul bukan orang penting, dan membawa berita tak penting. Saat itu juga akan aku ….

“Ini masih jam enam pagi. Apa tidak diajari oleh orang tuamu tentang tata krama bertamu?” mulutku begitu saja menyembur meski mata masih susah terbuka.

Seseorang di depanku cuma tersenyum. “Apa kau lupa sudah kuajari untuk santun terhadap tamu? Sudah sebesar ini masih saja kenaka-kanakan.”

Mulutku mengatup.

“Apa aku mengajarimu untuk tetap membiarkan tamu berdiri di depan kamar?” Aku bingung dengan situsi ini. Kenapa Ibu ada di depanku.

“Silakan masuk.” Jawabku kaku.

Tunggang langgang aku berlari ke dalam. Merapikan selimut, bantal dan guling ke posisi yang semestinya. Akan memalukan mendapat kunjungan tapi rumah mirip gudang. Ibu sudah masuk, melihatku gelimpangan merapikan ruangan. Aku bisa melihat seulas senyum meski tersamar.

“Apa kau sudah sarapan?”

Kubalas dengan gelengan kecil, “Tak pernah sarapan lagi.” Aku menarik kursi untuk Ibu. Lalu duduk di depannya sambil menunduk.

“Semakin kurus. Apa kau selalu makan mie instan?”

Aku mengangguk pelan.

“Anak bandel, Ibu sudah bilang untuk jangan terlalu banyak makan mie instant. Sarapan juga tak pernah. Apa kau tak memikirkan badanmu sendiri. Jaga kesehatan!” Kepalaku terasa dipukul ringan. Tapi hangat.

Lagi, aku mengangguk lebih pelan.

“Mana dapurnya? Aku ingin masak.”

“Di sana Bu.”

“Tunggu di sini. Aku ingin membuatkan sarapan untukmu.”

Ujung mataku terasa sangat panas.

***

“Sebentar lagi lebaran, kau tak pulang lagi?”

Aku mengangguk.

Tiga tahun aku memutuskan hidup sendiri karena merasa tak cocok lagi dengan Ibu. Memilih untuk memutus komunikasi dengannya. Meski sebenarnya, rindu.

“Mungkin lain waktu. Aku belum siap Rin.” Aku mengembus lemah.

“Yang jelas, saat melamarku nanti. Kau harus datang dengan orangtuamu. Termasuk Ibu. Paham?”

Kepalaku terasa berat untuk mengangguk.

***

Aku masih memandangi Ibu yang asik mengocok telur, mengiris daun bawang dan cabai. Ibu juga menanak nasi. Dari belakang, aku seperti melihat seorang malaikat. Tak ada sayap, hanya tangan mungil agak keriput.

Ibu, aku rindu.

“Apa kau tak ingin menengok Ayahmu di rumah? Dia sekarang punya kolam ikan di belakang rumah. Adikmu sebentar lagi lulus kuliah. Kenapa lebaran kemarin kau tak juga pulang.” Debar jantungku meningkat. Ibu memang tak pernah bisa aku kalahkan.

Aku harus menjawab apa Bu?

“Apa kau tak ingin mengunjungi Ibu? Sebegitu kuatkan pendirianmu hingga setahun sekali saja kau tak menyempatkan makan ketupat di rumah. Ibu tak memaksa untuk pulang atau mengubah pendirianmu. Hanya ingin dikunjungi anaknya, melihat makanan yang dibuat masuk ke mulut anaknya, hingga habis.”

Sepiring nasi hangat. Dadar telur harum diletakkan ibu di depanku.

“Makan sampai habis! Jangan ada sisa!”

Aku cuil telur, kusendok nasi dan mulai mengunyahnya. Ini enak, sungguh. Makanan paling enak sedunia. Sarapan paling mewah sedunia. Buatan Ibu.

“Makan dulu, anak lelaki nggak boleh menangis.”

“Aku nggak menangis, jangan mengarang.”

Beberapa alir jatuh ke atas dadar telur. Mataku semakin panas dan tak bisa menahan rembesan. Aku merasa, sangat bahagia hari ini.

“Minggu depan pulanglah, tengok bapakmu. Dia akan panen ikan. Bisa?”

“Bisa, aku akan datang. Pasti akan datang.”

“Bu.”

“Hmm? Ada apa?”

“Maafkan aku.”

Ibu memandangku lekat. Matanya benar-benar menembus jauh di dasar hatiku. “Kumaafkan kalau kau pulang, aku rindu kamu nak.”

“Aku lebih rindu lagi bu.”

Kuhabiskan nasi dan dadar telur di depanku. Aku akan dimarahi Ibu jika menyisakannya barang cuma satu butir nasi. Bu, terima kasih.