By. Desem

Sekejap Ucap

Jika disebutkan satu nama buah, yaitu apel, apa yang kawan-kawan ingat?

Merah kah? Manis kah? Kak Noel kah?

hmmm yang terakhir tentu dah banyak yang tahu kan. penulis jempolan yang dah merilis ceritanya: Cowok Rasa Apel. cerita yang menurutku keren abiz. bisa membuatku ikut merasakan malu saat erik mempermainkan perasaaan dimas. hhhh…. kapan ya bisa menulis cerita sekeren CRA?

ups…

terus apa hubungannya dengan tulisan desem kali ini? fan fiction CRA kah?

hmmm sayangnya nggak. selain belum dapat ijin dari yang punya CRA, aku takut coretanku hanya membuat CRA jadi jelek hehehe.

jadi…?

aku hanya mencoba membuat resensi. tentang Cowok Rasa Apel kah? ah nggak, tentang sebuah novel yang berjudul Harga Sebuah Apel.

well, moga bermanfaat😀
## Resensi Novel: Harga Sebuah Apel ##

identitas buku:

Judul buku : Harga Sebuah Apel

Penulis        : TW Power

Penerjemah : Nin Bakdi Soemanto

Halaman   :813

Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama

Harga       : Rp. 5.000 (di pasar loak hehehe)

well, pertama kali membaca novel ini waktu kelas satu SMA (kalo nggak salah). waktu itu aku pinjam di perpustakaan kabupaten yang kebetulan bertetangga dengan SMA-ku. awalnya sih cuma iseng-iseng aja, melihat sampulnya koq uniq. gambar sebuah apel berpagar duri. semacam apel terlarang gitu.

Nah pas kubaca, eh ternyata novel ini seru banget. Novel bergenre politik ini, mengangkat sebuah kisah, tentang negara dunia ketiga yang sedang membangun. Rakyat dituntun berkorban untuk memacu pertumbuhan ekonomi dengan sebuah janji : pertumbuhan itu niscaya akan memberi dampak perembesan ke bawah (trickle down effect, betul nggak ya nulisnya) dan akan diikuti oleh proses demokratisasi.

tetapi, apa lacur? Pengalaman kemajuan Eropa Barat dan Amerika Utara ternyata tidak terulang. yang terulang justru langsung pada pengalaman buruk mereka bersama Kapitalisme.

Rakyat kian terperosok dalam situasi yang runyam. ketimpangan sosial, kalau tidak semakin parah, tetap saja menganga. Sementara itu korupsi kian merajalela. Dan demokrasi menjadi semakin terkuak kedok sebenarnya, bahwa ianya bukan lah suara rakyat kebanyakan, tapi suara rakyat yang kebanyakan uang.

Novel ini menjadikan kasus pakistan sebagai latar,novel sejarah politik yang ditulis oleh T.W. Power ini dengan baik menyajikan kenyataan di balik maraknya pembangunan di dunia ketiga. Menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan, yaitu seorang wartawan Amerika bersama istrinya yang bertugas di Pakistan. Dalam menjalankan tugasnya tersebut mereka bertemu dengan Tabreska, seorang penjual buah keliling. Dan dari sinilah kisah mulai bertutur. Tentang kerja keras dan kejujuran belum mendapat imbalan yang layak. Saat itu lah Rakyat mulai memanipulasi sistem itu dan mencari uang dengan segala cara. setiap pegawai negeri mencari cara untuk menyedot uang rakyat. ini sudah jadi suatu permainan dengan aturan main yang gamblang.
“Tiada pekerjaan yang diselesaikan tanpa uang asap”.

Dalam menghadapi sulitnya keadaan itu, tabreska bercita-cita agar setiap anak Pakistan bisa menikmati Apel yang manis. Dia terjun ke arena politik dengan penuh kesadaran bahwa kondisi ini hanya bisa diubah bila dia berhasil menstabilkan politik negaranya. sampai akhirnya Tabreska terpilih menjadi presiden, dia telah membuat banyak perubahan yang signifikan.

Tapi… kapitalisme dan antek-anteknya tak akan diam. Pada saat Tabreska berpidato, sniper bayaran menembaknya hingga tewas.
hmmm….

Dari sinilah aku mendapatkan kesadaran bahwa politic adalah sesuat yang urgen. dia tidak kotor, yang kotor adalah sistem yang menguasainya, yaitu kapitalisme.

well, terkuak satu misteri mengapa tulisanku selalu berbau politik. bagiku berpolitik (walaupun tidak secara praktis) adalah wujud cintaku pada Indonesia. dengan politik lah kita bisa mengubah haluan Indonesia menjadi Baldatun Thoyibatun wa Rabbun ghafurun. tentu bila politik yang kita usung adalah politik yang benar dan sahih, politik yang berjalan di atas rel yang ditetapkan-Nya.
Ayo berpolitik😀

Akhukum Fillah

Desem