Nayaka Sedang Jatuh Cinta.

by: Javas

Tepatnya tiga kali. Aku sempat melihat Nayaka mengerlingkan matanya ke arahku. Kali pertama saat kuliah Kalkulus dua minggu lalu. Saat aku asik menyalin tulisan di papan, dengan kilat dia melirik ke arahku. Pandangan kami sempat bertemu beberapa detik, sesudahnya dia membeku dan ada rona merah di wajahnya. Apa kau sedang sakit? batinku waktu itu sambil terus menyalin hingga habis.

Tiga hari sesudahnya, cukup lama mata kami bertemu. “Pinjam pensilnya.” Nayaka mencoba memecah keheningan. Aku berikan pensilku. Aku lihat dia tersenyum-senyum sambil menggenggam erat pensil yang kuberikan. Jujur aku semakin takut kalau dia mendadak gila. Tapi aku masih mencoba menganggap hal itu biasa. Mungkin dia sedang dapat ‘rejeki’.

Paling ekstrem kemarin lusa. Aku merinding saat dia terang-terangan memandang mataku. Padahal sebelumnya selalu mencoba menghindar dan beralasan. Setelah puas, dia tersenyum dan berujar lirih. Aku tak dengar dan tak sempat bertanya karena dia sudah pergi dari ruangan. Tapi dari jauh aku bisa lihat gerakan tubuhnya. Seperti orang menang lalu bilang “Yes!”.

Sambil menyeruput es teh di kantin, kepalaku asik bersumsi macam-macam. Sebenarnya, aku sempat cerita tentang kelakuan aneh Nayaka ke teman satu kos. “Halah, paling cari perhatian saja ke kamu. Biasalah cowok jaman sekarang kalau ngebet pengen punya pacar.” Dua kali aku mengangguk mendengar temanku berceloteh. Masa iya Nayaka cari perhatian kepadaku?

Tapi dilihat-lihat memang agak benar sih. Selain suka melirik ke arahku. Gaya bicara Nayaka kepadaku juga lebih halus. Saat kerja kelompok dengannya kemarin, dia tak pernah slengekan. Padahal, seantero kampus juga tahu. Nayaka anak jurusan Matematika adalah seorang gokil, bakat jadi komedian dan hobinya membuat orang terpingkal. Tapi kemarin…. Ah! Mungkin aku terlalu banyak menonton serial korea. Imajiku jadi ngelantur kemana-mana.

Hey tunggu! Tapi asumsi konyolku itu punya alasan. Sejak setahun lalu aku dan Nayaka selalu sekelas pada mata kuliah apapun. Jadi secara tak langsung aku bisa melihat perubahan drastis pada dirinya.

Nayaka selalu duduk pada deretan belakang, bersama kerumunan cowok lainnya. Seperti ada batasan antara grup cowok dan cewek. Tak pernah berbaur kecuali ada acakan kerja kelompok. Tapi sebulan ini, dia selalu duduk sederet denganku. Selisih dua bangku di samping. Itu alasan pertama. Alasan kedua adalah kepergoknya dia melirikku, atau juga memandang jauh di mataku. Rona merah di wajahnya tak bisa disembunyikan, juga senyum yang… aneh!

Puncaknya memang saat kerja kelompok kemarin. Entah kebetulan atau dia sengaja, kita bisa duduk bersampingan. Aku sih diam saja, tapi pikiranku selalu berusaha menjajah. Selalu menyuruhku bertanya langsung tentang sikapnya yang aneh kepadaku belakangan ini. Tapi gengsi dong, masa iya cewek tanya seperti itu. Nanti dianggapnya aku kegatelan.

Tapi…

Saat semua orang pergi mencari makan. Saat cuma ada aku dan Nayaka. Telingaku terasa penasaran dengan detak jantung yang kuat. Jelas itu bukan punyaku. Berarti yang lagi deg-degan adalah…

“Sinta.”

“Hmm, ada apa Nay?”

Tanganku ditarik dan diletakkan tepat pada tengah dadanya.

“Apa kau tak merasa jika detak jantungku selalu cepat saat di dekatmu?”

“Benarkah?”

Nayaka mengangguk lalu wajahnya merona ranum. Yah, baiklah. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya. Tapi pikiranku semakin yakin jika Nayaka akan segera mengajukan proposal hatinya kepadaku. Tapi ingat, aku bukan GR. Semua ada bukti otentiknya.

Ah, detak jantungku juga semakin cepat di dekatmu Nay!

———————————————————————————————————–

Cinta

by: Nayaka Al Gibran

Ternyata benar, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Begitulah kini yang terjadi pada Gunawan, remaja tujuh belas tahun yang sedang dimabuk rasa pada seorang gadis tetangga baru di depan rumahnya. Setiap hari menjelang sore, Gunawan akan terlihat duduk di teras rumah sambil memperhatikan sang gadis menyiram tanaman dalam pot yang berjejer di teras rumahnya sendiri. Gunawan akan tersenyum tiap kali si gadis muncul dari pintu sambil membawa alat penyiram kecil di tangannya. Seperti hari ini, senyum masih terus menghias wajah Gunawan bahkan setelah si gadis kembali masuk ke rumahnya.

Bila kegiatan ‘memantau’ itu selesai, Gunawan akan masuk ke rumah sambil bersenandung kecil, lirik-lirik lagu cinta terus bergulir dari bibirnya hingga dia masuk kamar mandi, masih terus begitu saat dia selesai dari sana. Gunawan akan menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya ketika memilih-milih isi lemari pakaiannya. Begitu juga ketika berada di depan cermin, dia akan berdiri tegak sambil mengamati pantulan dirinya sendiri di kaca itu.

Gunawan mulai suka memutar lagu-lagu berirama lembut dari perangkat musik di kamarnya. Rak bukunya sekarang ikut memuat beberapa judul buku Kahlil Gibran, roman-roman yang judulnya terdapat kata ‘cinta’ juga ikut berdesakan bersama komik-komik yang sudah lebih dulu berada di sana. Ya, gunawan mulai mencari tahu seperti apa cinta itu dari buku-buku yang menjadi pendatang baru di rak bukunya tersebut.

Saat malam, sebelum tidur Gunawan akan membuka jendela kamarnya dan berdiri di sana sambil menatap rumah si gadis. Dia akan bertahan di jendelanya sampai semua lampu yang ada di rumah si gadis dipadamkan. Saat rumah itu menjadi gelap, Gunawan akan mengepalkan tangan kanan, mengecup kepalannya itu beberapa lama lalu membukanya dengan ujung jari lurus ke rumah si gadis. Dengan perlahan Gunawan akan meniup telapak tangannya lalu tersenyum. Setelah menutup jendela, Gunawan akan meraih salah satu buku barunya dari rak, mencium sampulnya lalu naik ke tempat tidur. Dia akan terlelap bersama buku itu. Hal ini juga sudah berlangsung sejak sepekan yang lalu.

Pagi hari, Gunawan akan berlama-lama bertahan di gerbang rumah hingga si gadis keluar dari rumahnya sendiri dengan seragam sekolahnya. Di dalam bus, Gunawan akan berusaha mendapatkan tempat duduk yang bisa membuatnya leluasa menatap si gadis. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Gunawan akan terpesona di tempatnya dengan pandangan tertuju pada si gadis. Lalu sisa hari di sekolah akan dilaluinya dengan duduk menopang dagu sambil sesekali tersenyum sendiri.