Jejak Terakhir

by : Javas

Tiga kali, ombak kecil menghempas kakiku. Menghapus alur jejak yang kubuat sebagai pembatas antara basah dan kering. Antara pasrah dan rindu. Kulakukan seperti bisikkanmu waktu itu. “Kalau kau bisa membuat jejak dari ujung karang ini ke ujung karang sana, tanpa tersapu ombak, maka satu keinginanmu akan terkabul.” Aku ingat, saat itu pantulan merah di horizon masih terlalu muda. Lalu dengan semangat kau menarikku. Kita berjalan membatasi pantai dengan ombaknya.

Pasir halus menggesek kakiku saat basah kembali ke tengah. Beberapa camar nampak menukik di depanku, lalu hambur dan berarak bersama kawannya. Aku ingat. Dulu kau selalu mengolokku. Katamu, aku ini seorang gadis kecil dengan badan tak mau tumbuh. Aku tahu itu cuma bercanda. Karena setelahnya kau mengangkat tubuhku, berlarian searah angin. Dan saat lelah, kau minta pahaku untuk alas tidur.

Hey! Tahu tidak? Dingin ombaknya masih sama. Tak ada yang berubah di sini. Kumang kecil masih sering bersembunyi saat tergerus ombak, hingga nampak ratusan cangkang keong warna-warni.

“Kumang itu hewan plin-plan dan tak bersyukur.” Aku cuma mengangguk. Kita duduk di atas karang dengan kaki menjutai ke dalam air laut yang hangat. Kau menyuruhku mengintip cangkang yang sudah ditinggalkan kumang. “Kumang akan mencari cangkang baru lagi, lebih baik, lebih bagus. Tidak puas dengan apa yang dia punya.” Aku ingat raut mukamu nampak bersinar. “Mari membuat jejak lagi.” Kau selalu membuat semangat.

Semangat yang kubawa sampai sekarang. Saat aku masih berusaha membuat jejak di pinggir pantai. Sial! Baru empat langkah, ombak datang dengan sangat tenang. Aku percaya ucapanmu. Aku bisa walau sendiri. Kurapal setiap kakiku mulai melangkah. Memandang kapal laut yang nampak kecil di tengah sana. Seperti titik hitam pada bulatan pijar yang menyala.

Dulu, kau menyebut kejadian itu sebagai olah takdir. Sesuatu yang besar dan kuat pasti jadi kecil dan lemah di kejauhan. Jika dari dekat lemah, apa dari jauh juga lemah? Aku jawab pertanyaanku sendiri dalam hati.

Aku teringat lagi, saat terakhir kalinya kau menggendongku menembus cahaya keemasan di barat. Setelah itu, dengan ranting kering kau menggambar bulatan, matahati katamu. Di sampingnya kau gambar bulatan lagi, bulan. “Bulan terang karena ada matahari. Jadi mereka selalu terikat meski terbentang jarak.” Aku cuma bisa tersenyum, apalagi saat kau menulis “M” pada bulan dan “D” pada matahari. Tebakku, itu inisial nama kita.

Hey Matahari di ujung barat! Aku sudah membaca kotak kecil yang kau kirim kemarin. Aku senang, ada sketsa bulan dan matahari pada sampulnya. Mungkin yang beda, hanya nama yang jadi inisial. M bukan untuk Meri, tapi Mika. Ya, Inisial itu untuk Mika dan Dika. Terdengar lebih baik. Lebih bagus.

Kuputuskan. Sebelum sinar keemasan yang terpantul di laut habis. Aku akan melangkah untuk terakhir kalinya. Membuat alur tanpa putus di pasir.

Aku melangkah sambil menghitung mundur. Mataku memejam, kedua tanganku mengepal. Empat, tiga, dua, sa…. Ah, sesuai dugaanku, ombak terakhir sukses mengenai kakiku yang terseret lumpuh. Saat kumengintip, gelap tiba dengan damai, perlahan-lahan.

Aku akan hidup lebih baik setelah ini. Aku berjanji!

________________________________________________________________

Hanya Senja

by : Nayaka Al Gibran

Lidah ombak kembali menyentuh kakiku, membuat ujung celanaku semakin basah. Aku sengaja tak menggulungnya, sengaja membiarkan ujung celana panjangku basah air garam. Kuhirup udara –yang juga beraroma garam- sebanyak yang sanggup ditampung rongga dadaku  lalu kuhembuskan perlahan. Kupejamkan mata dan kurasakan angin yang bertiup tenang di pantai ini, terasa sejuk di kulitku. Aku tersenyum, berada di pantai ketika senja seperti sekarang selalu bisa membuatku damai. Entahlah, rasanya segala penat dan lelah setelah berkutat dengan kertas-kertas dan bermacam file di kantor menguap hilang begitu aku sampai di sini.

Melepas lelah, itu bukanlah alasan mengapa aku sering menghabiskan senjaku dengan datang ke pantai ini. Aku masih melihatnya di sini, berlari berkejaran dengan lidah ombak sementara angin mengibarkan baju dan mengacak rambutnya yang hitam legam hingga berantakan. Aku masih bisa mendengar suara tawanya sambil melambai memanggilku mendekat. Aku juga masih bisa merasakan lembut jemarinya dalam genggamanku ketika berjalan menyusuri tepian pantai di bawah langit keemasan suatu masa dulu. Aku ke sini untuk mengenangnya, itulah alasanku.

Dia begitu menyukai pantai. Menyukai senjanya, menyukai saat langitnya bersalin warna dari kelabu menjadi jingga keemasan, menyukai anginnya yang menghembus sejuk, seperti yang kurasakan sekarang, juga tak pernah lupa untuk menyusurkan jari-jarinya di atas pasir yang menurutnya selembut kapas itu. Dia akan duduk bersamaku di atas pasir hingga matahari perlahan-lahan mencelup masuk dan hilang dalam laut. Kini, aku tengah melihat hal itu terjadi. Sendirian, duduk termangu di atas pasir yang sama di pantai yang sama.

Segerombolan camar melintas di atasku. Aku mendongak mengamati mereka melesat di angkasa lalu menukik tajam ke permukaan laut sebelum akhirnya kembali terbang meninggi, berputar-putar ke segala penjuru. Camar dan pantai adalah sejoli, seperti aku dan dia dulu.

Puas memperhatikan burung laut, aku memandang pada deretan perahu yang berjejer di bibir pantai. Sepasang muda-mudi terlihat di dekat perahu-perahu itu. Mereka juga sedang menikmati senja sepertiku, bedanya mereka menikmati senja sambil berpegangan tangan dan saling berucap sementara aku duduk sendiri memeluk lutut. Tak ada siapapun bersamaku.

Aku bangkit berdiri lalu menepuk pasir dari celanaku, tiba masanya aku berpisah dengan senja. Sebelum pergi, kubawa lagi pandanganku pada langit merah di ujung nadir, pada permukaan laut yang beriak berirama, juga pada nyiur yang melambai di sepanjang garis pantai. Aku berbalik. Esok aku akan kemari lagi untuk mengenangnya, mengenang istriku dan senja yang pernah kuhabiskan bersamanya.