Sekejap Ucap

ini tulisan yang dah agak lama di note fbku. masih bingung dengan judulnya. di note fbku kuberi judul imperfect (tidak sempurna) berasal dari lyric simple plan yang ku kutip di pembukaan cerita yang judulnya perfect.

Well, ini catatan ketiga yang kuunggah ke DKN. Seperti catatan-catatan sebelumnya, catatan kali ini juga menggunakan pakemku dalam menulis: masih bermuatan psiko-sosio-politico-spiritual romance, dan tentunya masih bertabur dengan istilah-istilah asing. Sebisa mungkin akan kuberikan catatan akhir selengkap aku bisa. Moga saja bisa menambah pengetahuan dan kosa kata teman-teman semuanya😀

Tentang cerita? Hmm… masih seputar imaji-imaji kriminalku hehehe, tentang dunia kelam. Tapi kali ini lebih realistis, dan memang aku pernah terjun di dalamnya. Semoga semua bisa ambil hikmahnya.

Tentang Judul? Akhirnya aku menemukan yang cocok (menurutku sih) heheh, jadinya berjudul “Happy is …”

Terakhir aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak:

  1. Allah dan Rasul-Nya. dan tentunya sepasang manusia yang surgaku terletak di kaki mereka.

  2. Nayaka al Gibran selaku pemilik lapak😀. Atas kebaikannya, aku masih bisa jualan di sini. Suatu saat aku ingin bertemu denganmu, bila tidak di dunia, mungkin di suatu tempat di akhirat, semoga di tempat yang indah. Amin😀

  3. Semua pembaca, terutama yang mau meninggalkan jejaknya. Inniy uhibbukum fillah😀

Akhukum Fillah

Desem

## Happy is … ##

by Desem

“Maafkan Bintang yah…”ucapku terbata.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan nak,” jawab ayah tertunduk.

“Bintang tidak bisa sesempurna yang ayah harapkan”

“Tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi bahagia, kau hanya perlu keberanian untuk menerima kebenaran,” jawabnya bijak. Dia berbalik meninggalkanku, menghilang di telan kelamnya malam.

….

Cos we lost it all

Nothing last forever

I’m sorry i cant be perfect…

Now it’s just too late

And we cant go back

I’m sorry i cant’t be perfect…

….

Simple Plan membangunkanku. Huft nyaris saja bablas. Bukankah aku hari ini ada janji dengan Si Jemmy Jelek?

Sushi Tei, Sabtu 10.10

“ Irasshaimase, “ ucap mas-mas berpakaian kimono ala Chef Harada sambil membungkuk hormat ala Jepang. Kubungkukan sedikit tubuhku membalasnya. (selamat datang, bahasa jepang)

”Sudah pesan tempat?” tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan. Lalu dia mempersilahkan aku memilih tempat duduk, tentu yang tidak ada tanda reservenya. Celingak-celinguk aku mencari sesosok lelaki dewasa muda yang berjanji menemuiku pagi ini.

Hmmm…. nihil. Ke manakah dia? Nggak biasanya dia telat. Padahal aku sengaja menelatkan sepuluh menit dari jam janjian. Huh dasar!

Kupilih tempat duduk di pojok dekat kaca, tempat biasa kami bertemu dan bertransaksi.

“Hoaamm… chawanmushi1 satu, teh hijau hangat satu” pesanku sambil menguap. Dia melihatku heran. Mungkin dia bertanya-tanya mengapa sepagi ini aku sudah mengantuk. Bagaimana aku tidak mengantuk kalau selama empat puluh delapan jam aku tidak tidur?

“lainnya nyusul. Saya menunggu teman” sambungku agak ketus, menyiratkan pesan nggak usah tanya-tanya. Bukan maksudku untuk berketus ria, apalagi pada cowok seganteng dia. Tapi ini bukan waktu yang tepat: aku ngantuk berat.

“Mohon ditunggu sebentar, pesanan segera saya antar,” jawabnya sedikit kesal, dia segera melangkah meninggalkanku.

===

ak dah d bgku pjok biasax. Koko dmn?

Delivered to Jemmy Jelek

10.15

===

Kukirim SMS ke Jemmy. Seperti biasanya aku memanggil dia Koko, yang artinya kira-kira sama dengan mas atau abang, yang intinya saudara tua lelaki. Padahal secara umur aku lebih tua dua tahun dari dia. Anggap saja sebagai service ke pelanggan. Orang-orang Cina kan suka banget dijadikan saudara tua, dipanggil Koko untuk laki-laki atau Cece untuk perempuan.

Tapi sejujurnya, walaupun seandainya dia bukan pelangganku, aku tetap bersedia memanggilnya koko. Orangnya ganteng, gagah, dewasa, baik hati, tidak sombong, rajin menabung ya pokoknya memenuhi kriteria cowok idaman. Andai dia jadi Bfku, tentu aku akan sangat bahagia dunia akhirat. Wait akhirat? Kayaknya nggak deh. Mana ada surga untuk cinta terlarang. Ugh…

Tapi ah… untuk apa aku muluk-muluk menghayal dia jadi BFku? Dia jadi pelanggan tetapku saja aku sudah cukup senang. Apalagi dia selalu ada saat aku membutuhkan. Seperti saat ini, saat aku butuh dana cukup banyak untuk bayar SPP, tunggakan kos dan tumpukan hutang-hutangku yang lain. Dia memang benar-benar cowok yang bisa diandalkan.

Kulihat hapeku, belum ada balasan.

“hoaammm….” kelopak mataku semaki terasa berat. Kalau tidaklah terpaksa, tentunya aku tidak mau memaksa tubuhku untuk bekerja lebih dari tiga puluh dua jam. Tapi bagaimana lagi, aku harus segera membayar SPP kuliahku. Bagi sebagian orang, tentu SPP kuliahku tergolong murah, bahkan lebih murah dari SPP SMA. Bayangkan saat ini SPP SMA bisa mencapai 300 ribu perbulan. Itu kelas yang standard nasional lho, lha yang bertaraf (baca: bertarif) internasional? Bisa lebih dari itu. Sementar SPP kuliahku kalau dibagi menjadi enam bulan, jatuhnya 250 ribu per bulan saja.

Untungnya aku masuk sebelum perguran tinggi tempatku belajar ganti status menjadi Badan Hukum Milik Negara. Nggak kebayang seandainya aku masuk saat perguruan tinggiku sudah berubah status menjadi BHMN. Secara BHMN kan diharuskan mandiri dari campur tangan pemerintah, termasuk pendanaan. Kalau nggak salah pemerintah hanya mau menanggung maksimal 40 persen dari total biaya operasional pendidikan. Padahal kan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu diantara empat tujuan negara yang tertera di pembukaan UUD’45, lah koq pemerintah mau lari dari tanggung jawab tersebut. well, walaupun sekarang PT BHMN telah dikembalikan menjadi PTN, tetap aja pemerintah mau lari dari tanggung jawab.  draft UU Pendidikan Tinggi yang terbaru membuktikannya. ya senafas lah dengan rekomendasi World trade Organization (WTO) dalam General Agreement on Trade and Service (GATS) yang menganggap  bahwa PENDIDIKAN adalah KOMODITAS PERDAGANGAN.

Namun anggapan tidak mahal itu hanya bagi sebagian orang. Bagiku itu masih mahal. Belum lagi biaya kos, makan dan lain-lain. Total bisa mencapai 500 ribu lebih. Awalnya tidak terlalu bermasalah karena kiriman orang tuaku sekitar 750 ribu sebulan. Tapi semenjak tahun ini, ayah hanya mengirim 500 ribu sebulan. Bahkan mulai dua bulan lalu ayah cuma mengirim 300 ribu. Bisnis ayah sedang ada masalah. Aku harus bisa memakluminya. Makanya satu-satunya jalan agar aku bisa tetap makan dan kuliah adalah bekerja.

Lalu pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa? Banyak. Tapi semuanya membutuhkan keahlian khusus dan menyita cukup banyak waktu. Semisal jadi guru les privat, tentu membutuhkan keahlian di pelajaran-pelajaran SMA serta strategi belajar mengajar yang okey punya. Terus, aku juga harus pandai-pandai membagi konsentrasi antara mempelajari kuliahku sendiri dengan mempelajari pelajaran-pelajaran yang aku ajarkan. Lebih dari itu, aku harus pandai-pandai mengatur waktu, kalau nggak bisa berabe. Tahu sendirilah jadwal kuliahku di FK bisa dikatakan cukup padat (sebagian orang mengatakan sangat padat). Belum lagi jadwal jaga malam.

Sebagai ilustrasi, hari kerja aktifku adalah senin sampai jumat. Jadwal di mulai dari jam tujuh pagi hingga jam tiga sore. Tiga hari sekali mendapatkan jadwal piket jaga malam, mulai dari jam tiga sore sampai jam tujuh pagi keesokan harinya. kalau lagi nggak hoki, bisa kena jadwal jaga dua hari sekali. Belum lagi dengan tugas makalah-makalah, pembuatan dokumen medik pasien baru, serta lembar monitoring kemajuan pasien yang harus diisi tiap pagi. Cukup padat kan?

Dan dengan alasan itulah, akhirnya kuputuskan untuk menempuh jalan pintas yang sudah lama kutinggalkan. Aku terpaksa, sungguh-sungguh terpaksa untuk kembali ke dunia hitam ini. Aku tidak punya pilihan lain. Senin aku harus segera menyetor uang SPP. Akhir minggu ini aku harus membayar uang kos yang sudah nunggak tiga bulan. Total yang kubutuhkan sekitar dua setengah juta. Sementara uang di tabunganku hanya tinggal satu juta. Maka satu-satunya jalan adalah kembali menceburkan diri ke dunia kelam ini, ke pekerjaan hina dan penuh resiko ini.

“Silahkan mas…” mas-mas berbaju kimono itu kembali menghampiriku, memberikan secangkir chawanmushi dan secangkir teh hijau pahit. “Ada yang lain mas?” tanyanya ramah.

“Entar dulu mas, thanks…” jawabku singkat. Segera kuhirup teh hijau hangat dihadapanku. Berharap cafein2 yang dikandungnya seampuh cafein kopi. Bukankah mereka sama-sama derivat cafeinnya?

Kulihat kembali hapeku, belum ada balasan juga dari Jemmy Jelek. Kulihat arloji Seikoku, jarumnya sudah menunjukkan waktu pukul setengah sebelas. Hmmm… arloji ini adalah salah satu hasil kerjaku di dunia hitam. Cukup dengan tiga malam kerja, aku sudah bisa membeli arloji seharga dua juta lebih itu. Kalau ditempuh dengan mengajar les privat, mungkin aku harus menempuhnya selama tiga bulan. Kurasa dua malam cukup untuk membayar SPP, tunggakan kos dan hutang-hutangku yang lain.

Untuk itulah aku menunggu Jemmy pagi ini. Menunggu lelaki dewasa muda yang menyewa jasaku kemarin malam. Kebetulan, mungkin juga kebiasaan, kemarin malam dia tidak membawa uang cash. Dia berjanji akan memberikan pagi ini. Aku tidak keberatan dibayar di belakang. Toh selama ini dia tidak pernah membohongiku. Beberapa kali dia menyewa jasaku tanpa membawa cash, paginya dia langsung menyerahkan secara kontan. Lagian kalau janjian lagi pagi harinya, aku bisa sekalian bisa minta dibayarin sarapan di Sushi Tei. Jarang-jarang kan aku bisa makan makanan mahal? Bahkan bisa dipastikan aku tidak pernah masuk ke restoran mahal tanpa ada yang mentraktir. Hehehe

Kriukkk….. perutku mulai protes. Aku belum makan sejak tadi malam. Padahal semalaman aku tidak tidur sama sekali dan menghabiskan tenaga cukup besar.

Kuaduk-aduk cangkir berisi telur uap kesukaanku. Tak berapa lama aku sudah melahap habis makanan Jepang favoritku itu. Padahal pertama kali aku memakannya dulu aku membutuhkan waktu satu jam untuk menghabiskannya. Bahkan sempat nyaris muntah saat putih telur uap itu memasuki kerongkonganku.

Kriuukk…. perutku masih protes. Segera kupanggil mas-mas berbaju kimono tadi.

“Sushi salmonnya satu ya mas, sekalian minta diambilkan teh hijau lagi,” pesanku ramah. Aku sudah melewati jam-jam kritisku. Setelah jam setengah sebelas, aku bisa melek sampai seharian penuh walaupun sudah tidak tidur dua malam. Kalau sudah melewati jam segitu, aku kembali normal, tidak uring-uringan lagi.

“hai…” dia mengiyakan dengan gaya jepangnya. Setelah kuamat-amati tampaknya mas-mas ini lebih ganteng dari pertama kali aku melihatnya. Mungkin tadi kegantengannya tebiaskan oleh rasa kantuk yang menyelimuti kedua mataku.

Treeett…. treett…. treett…. Hapeku bergetar. Ada SMS masuk. Jemmy kah?

===

Mas ntar malam kosong nggak?

From: Leo Meong

10.55

==

Hmmm… kalau memang sudah rejeki nggak akan lari ke mana. Tapi sanggup nggak ya? Aku sudah dua malam tidak tidur. Tentu serviceku nggak akan optimal. Padahal selama ini aku selalu mengedapankan profesionalisme dan layanan yang optimal pada setiap pelangganku. Dan lagi, aku benar-benar ingin hibernasi malam ini.

Kayaknya aku tolak saja tawaran Leo. Malam ini aku berencana istirahat total. Besok pagi, atau besok malam baru terima job lagi. Tapi itu kalau ada yang calling, kalo nggak? Bisa-bisa aku nganggur jaya. Dan tentunya gagal bayar SPP dan kawan-kawannya.

Jika melihat keadaanku yang sungguh-sungguh payah, aku ingin menolak tawaran job dari Leo. Tapi jika mengingat hutangku yang setumpuk, aku ingin menerimanya. Apalagi jika customernya Leo. Nggak jauh dari Jemmy, Leo juga ganteng, sexy, kaya raya dan tentunya baik. Sebelum memakai jasaku, biasanya dia akan membawaku ke Depot Slamet terlebih dahulu. Supaya staminaku penuh semalaman katanya. Dan yang paling aku suka adalah saat dia membayar.

“Jangan dianggap ini bayaran, karena kita tidak sedang transaksi. Anggap ini hadiah dari seorang teman,” itulah keunggulan Leo dibandingkan Jemmy yang cenderung ketus. Selain itu dia tidak pernah menuntutku untuk memanggilnya Koko, walaupun dia Cina juga seperti Jemmy. Aku memanggilnya Koko dengan sukarela. Beda dengan Jemmy yang kadang agak ngambek kalau aku lupa memanggil dengan namanya langsung.

Hhh…. kuhela nafas panjang. Sementara Si Jemmy Jelek belum juga datang. Sudah satu jam dari jam perjanjian.

Kulihat hapeku. Belum ada balasan dari Jemmy, tidak pula ada miscall darinya. Jangan-jangan dia kenapa-kenapa? Mendadak ada yang geli di ulu hatiku, ah … semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.

==

Gimana mas? Bisa? Lagi butuh banget nih.

From: Leo Meong

11.07

==

Gimana ya? Aku ingin menerimanya. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Aku harus menangkapnya kali ini.

Tapi… aku capek berat. Entar malah jatuh sakit?

Leo sedang butuh banget. Bukan kah selama ini dia baik padaku? Tidak ada salahnya kan aku membantunya? Sedikit berkorban untuk cowok seganteng, sesexy, sekaya dan sebaik Leo, tentu tidak ada ruginya. Segera kuketik balasan SMS Leo.

==

Okey.

==

“silahkan…” ucap mas-mas berbaju kimono yang ternyata bernama Cahyo Fajar. Cahaya Fajar. Cahaya yang memerah di pekatnya malam. Seperti secercah harapan di kondisi yang sulit. Menandakan bahwa yang memberi nama memilii doa agar sang penyadang nama tidak mudah putus asa, semakin kuat bila ditempa kesengsaraan. Aku teringat dengan Sebuah filosofi seorang teman. Semakin pekat malam semakin dekat fajar. Semakin sulit ujian, semakin dekat kemenangan. Hmmm nama yang indah. Secara fisik juga, mas-mas ini pas banget dengan namanya. Kulitnya hitam manis, tapi mata dan wajahnya seolah bercahaya.

“Hei… dah lama?” tanya Jemmy mengagetkanku yang sedang asik mengamati mas Cahyo. Dia tidak ramah. Hhmm ada apa? Apa ada masalah di rumah? Semoga tidak.

“Baru satu mug chawanmusi dan satu cangkir teh hijau,” jawabku dengan nada menyindir. “Iya kan mas?” tanyaku pada Mas Cahyo. Jemmy tampak makin tidak suka, matanya seolah mengeluarkan death blare seperti di manga-manga ke orang yang dilihatnya. Aku hanya menahan tawa, sementara Mas Cahyo jadi kikuk salah tingkah.

“Eh… pesan apa lagi mas?” tanya Mas Cahyo gugup. Jemmy masih menatapnya dengan pandangan tajam lengkap dengan death blarenya. Lalu Mas Cahyo pun menyebutkan nama-nama masakan jepang yang tidak aku tahu namanya sambil menjelaskan spesifikasinya masing-masing.

“Okey… masing-masing dua,” kata Jemmy melunak. Pada dasarnya dia orangnya baik, tapi kadang jadi agak ketus dan menyebalkan. Bagaimana pun dia tetap pelangganku yang nomer satu.

Treett…. treett… trett….hapeku kembali bergetar. Ternyata message failed. SMSku ke Leo gagal. Pulsaku habis hiks hiks hiks…

“Siapa?” tanya Jemmy masih ketus. Dengan cueknya dia menyumpit sushi salmonku. Tak sampai di situ, dia juga menyeruput teh hijauku. Tampaknya dia masih kesal sama Mas Cahyo, atau jangan-jangan sama aku? Kalau tidak mengingat bahwa dia yang membayar semua yang kupesan, tentu sudah kulabrak dia.

“Minta SMS dong Ko” rengekku dengan gaya manja lengkap dengan puppy eyes mode on. Aku hafal betul tabiat Jemmy yang nggak akan tahan melihat jurusku yang satu itu. Pastilah dia akan segeram menuruti permintaanku.

“Ke siapa?” tanyanya agak ketus. Kyaa… jurusku tidak mempan. Dengan cueknya dia menyumpit lagi sushiku. Arggh…. aku masih lapar lho Ko!

“Leo…” jawabku ringan, masih keukeuh dengan jurus puppy eyes. Berharap dia melihat mataku dan luluh.

“Leo…?” tanyanya semakin ketus. Nadanya meninggi. Dia menatap tajam ke arahku, seperti tatapan Jaksa Penuntut Umum ke terdakwa. Death blarenya semakin mengganas gila.

“iya…” kujawab agak kesal dengan gaya kenes Miranda Goeltom. Kalo dia masih mengovestigasi dan menatapku seperti Jaksa Penuntut Umum, aku bakal menggunakan gaya amnesia ala Nunun Nurbaeti.

“Ada apa?” tanyanya masih dengan gaya Jaksa Penuntut Umumnya. Huft!

“Ada apa ya?” jurusnya Nunun Nurbaeti benar-benar kupraktikan. Sayang kayaknya nggak mempan. Dia masih cuek menyumpit sushiku yang ketiga.

Dasar lelaki tidak tahu diri. Masak sushi orang diludeskan begitu saja tanpa permisi. Walaupun pada akhirnya dia yang bayar, tapi aku yang pesan kan? Tidak tahukah dia aku belum makan sejak kemarin malam? Padahal malam kemarin aku menghabiskan tenaga untuk melayaninya? Huft! Ingin rasanya kutumpahkan washabi3 ke bibirnya yang merah itu.

Hup… langsug kusumpit sushi terakhirku sebelum si Koko Jemmy Jelek menghabiskannya. Kucolek sedikit washabi sebelum kumasukkan sushi terakhirku.

“Dia mau makai kamu ya?” dia menyeruput teh hijauku sampai habis. Sementara aku mendelik keselek washabi gara-gara pertanyaanya. Sejurus dia memandangku dengan pandangan yang sulit kudefinisikan. Pandangan yang mampu melengkungkan ruang-waktu seperti blackhole di ruang angkasa yang berhasil melengkukngkan cahaya. (huekk…. mabuk teori relatifitas umum Einstein)

“uhuukk… uhuk…. uhukk….” aku terbatuk sepersekian detik setelah tersadar dari jeratan pandangannya yang serupa blackhole tadi. Aroma washabi benar-benar menghajar saraf-saraf indera penghiduku.

“kamu nggak papa?” tanyanya tampak khwatir.

Jelas lah aku apa-apa.

“Nih minum dulu!” perintahnya sambil menyodorkan sebotol air mineral yang dibawanya. Kuterima air mineralnya. Kuminum perlahan.

“uhukk…. uhuk…” aku masih terbatuk. Secara reflek saluran lacrimalisku tertutup. Al hasil mataku menjadi berkaca-kaca. Nyaris saja aku benar-benar menumpahkan washabi ke arahnya. Tapi…

Puk… puk… puk… dia mendekat ke arahku dan menepuk-nepuk punggungku. Ada rasa nyaman menjalari tubuhku. Ajaibnya aku jadi berhenti batuk. Aku menoleh ke arahnya, dan dia hanya tersenyum. Sejenak kami terdiam. Ruang bermatra empat di sekitar kami melengkung, membuat waktu terasa memanjang membenarkan teori relatifitas umum Einstein tentang ruang-waktu bermatra empat yang melengkung di sekitar benda bermassa sangat besar seperti balckhole di angkasa. Eits… ngapain dari tadi aku mengandaikan dengan teori relatifitas Einstein? Apa nggak ada pengandaian yang lebih enak dimakan?

“Makanya… pelan-pelan,” kya… dia berubah jadi ketus lagi. Kuurut dadaku, mensugesti kerongkonganku untuk segera bekerja menurunkan washabi yang tadi sempat melakukan makar.

“Mau bayar berapa dia?” tanyanya, tentu dengan nada semakin ketus. Aku jadi malas menjawab. Aku yang mau dipakai, koq dia yang ketus. Dasar!

“Mang kamu butuh berapa?” tanyanya lagi. Aku jadi semakin malas menjawab. Leo mau bayar berapa ya terserah kesepakatan kami lah. Apa urusannya dengan dia coba? Masalah buat dia?

“Aku bisa bayar lebih!” dia semakin menyebalkan. Ada nada meremehkan dalam ucapannya.

Ya ya ya… semalam kamu dah menyewaku. Tapi bukan berarti kamu memilikiku kan? Ucapku dalam diam. Sebaiknya aku memang diam, daripada malah bertengkar. Bisa-bisa dia nggak mau memakai jasaku lagi. Atau parahnya dia pergi tanpa membayar jasaku semalam, tanpa membayar makanan yang telah ia pesa. Horor banget.

“Nggak takut kondite?” jleb… serangannya tepat sekali.

Hehh…. kuhela nafas panjang.

Kondite. Satu kata yang paling kutakuti selama melakoni pekerjaan hitam ini. Oleh karenanya aku selalu bekerja seprofesional mungkin agar tidak ada pihak-pihak yang curiga kemudian melaporkanku ke bagian pendidikan. Kalau ada yang melapor, tamatlah riwayatku, tamat pula pendidikanku. Dalam sejarah percaturanku di dunia hitam ini, aku sudah tertangkap basah tiga kali.

Pertama kali tertangkap aku mendapatkan kondite tidak bisa ikut ujian stase. Dengan kata lain secara otomatis aku dinyatakan tidak lulus stase dan harus mengulang setengah dari stase normal. Saat itu aku stase Ilmu Penyakit Dalam yang normalnya harus kujalani sepuluh minggu. Dengan adanya kondite, maka aku harus menambah lima minggu. Total menjadi lima belas minggu.

Tertangkap kedua kalinya, kondite yang diberikan semakin berat. Sanksi yang kudapatkan adalah mengulang penuh dua stase yang aku curangi. Saat itu aku stase di Ilmu Bedah yang normalnya harus kujalani delapan minggu. Dengan adanya kondite, aku harus menambah delapan minggu penuh plus sepuluh minggu Ilmu Penyakit Dalam.

Dan yang ketiga, yang paling berat. Aku tertangkap di stase Ilmu Kesehatan Anak. Karena ini yang ketiga kalinya, bagian pendidikan memutuskan untuk menghanguskan seluruh stase yang sudah kulewati. Padahal stase yang tersisa cuma tinggal dua: Ilmu Kesehatan Mata dan Ilmu Kedokteran Jiwa, dua stase yang nyantai dan masing-masing cuma empat minggu. Tamatlah riwayatku, setahun lebih kerja kerasku hangus. Aku harus mengulang dari awal. Karena sangsi itulah akhirnya aku bertemu mengulang bareng Jemmy dan Leo, adik tingkat dua tahun di bawahku.

“Mau gimana lagi Ko, aku butuh duit,” jawabku pelan.

Memang mau bagaimana lagi? Aku butuh duit. Bermula dari hilangnya laptopku, aku berniat membeli lagi tanpa membebani ayah. Kukumpulkan semua daya dan upaya yang ada, hasilnya tak seberapa. Hingga datanglah tawaran dari salah seorang teman untuk terjun ke dunia hitam ini dengan menjadi joki jaga malam. Awal mula tarifku 500 ribu semalam. Makin profesional tarifku makin naik. Saat ini kuhargai jasaku 50 ribu per jam dengan tambahan 25 ribu per dokumen pasien baru yang kukerjakan atas nama pemakai jasa. Dan dari joki itulah aku bisa membeli kebutuhan-kebutuhanku, bahkan keinginan-keinginan yang tak terlalu mendesak.

Sejak mendapatkan keputusan dari bagian pendidikan tentang penghangusan masa staseku, aku berniat untuk bertobat. Sungguh aku bertobat. Aku tidak pernah lagi menerima tawaran joki. Tapi seminggu ini, tidak ada hal lain yang kupikirkan selain menjadi joki. Aku butuh duit. Dan aku sungguh terpaksa.

Semalam Jemmy memakai jasaku. Bukan karena dia sedang butuh, tapi karena dia tidak tega setelah aku merayu dan mengemis kepadanya.

“Butuh berapa?” tanyanya melunak melihatku berkaca-kaca. Aku tertunduk, ada cairan asin mengalir di hidungku menuju kerongkonganku.

“Ini ce jing untuk yang semalam,” sambungnya setelah Mas Cahyo pergi meninggalkan kami. Kuterima sepuluh lembar Soekarno-Hatta yang diberikannya. Sebutir air asin terjatuh dari sudut mataku. Perasaanku kacau.

“Sorry…” dia menggenggam tanganku. Pertahananku runtuh. Air asin itu semakin deras berjatuhan dari sudut mataku.

“Aku nggak mau kamu di-DO gara-gara njoki,” lanjutnya. Tentu aku juga tidak mau didrop-out. Aku tidak mau susah payahku menempuh pendidikan selama lebih dari enam tahun tiba-tiba hangus. Aku juga tidak mau ayah semakin kecewa dengan kondisiku. Tapi aku sungguh tidak ada pilihan lain.

”Kamu butuh berapa?” tanyanya lagi. Bukan dengan nada ketus atau meremehkan. Tapi dengan nada bersahabat. Aku terdiam tak menjawab. Air asin itu masih berjatuhan meski tinggal satu satu. Tangan kirinya masih menggenggam tanganku. Sementara tangannnya mengusap air asin di sudut mataku.

“Kalau kamu butuh bantuan, aku siap. Kamu nggak harus njoki lagi,” dia mengangkat wajahku yang tertunduk. Menatapku lekat-lekat. Berusaha meyakinkanku bahwa dia serius ingin membantuku. Sementara aku masih terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

“Koko nggak mau kehilangan kamu,” deg… dia menjatuhkan kepalaku di dadanya dan memelukku. Aku tersirap tak tahu apa yang harus kulakukan. Rasa aneh menguasai tubuhku, aku tak tahu apa itu. Serupa rasa aman setelah terlepas dari bahaya. Sehangat rasa nyaman di bawah selimut tebal saat hujan. Apakah ini yang dinamakan bahagia? Atau kah ini rasanya jatuh cinta?

Tidak! Aku tak pantas mendapatkan ini. Selama ini dia sudah terlalu baik. Sudah terlalu sering membantu. Aku tidak ingin menyusahkannya lagi.

“Koko sayang kamu,” dia semakin memperat pelukannya. Aku semakin tersirap. Apakah barusan artinya dia menyatakan perasaanku padaku? Apakah itu artinya dia menuntutku untuk balik menyatakan perasaanku padanya? Apakah itu juga berarti bahwa dia memintaku untuk menjadi kekasihnya? Argh…. pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi ruang di rongga kepalaku. Memantul-mantul menghasilkan gema yang menggaung dari ujung ke ujung.

Tidak! Aku meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Yang kuharapkan, sekaligus yang kutakutkan terjadi. Aku sudah tahu dia memiliki rasa unik ini kepadaku sejak lama. Sudah sering dia menunjukkan sign dan symptompnya. Aku saja yang tak mau tahu. Bukankah dia satu-satunya orang yang datang menghiburku saat vonis dijatuhkan oleh Dekan? Apalagi yang aku ragukan darinya? Dia cukup baik, bahkan sangat baik untuk dijadikan kekasih. Apa yang harus kuragukan lagi?

Itu dia! Dia terlalu baik. Dia layak mendapatkan yang lebih baik dariku.

Aku terus meronta. Percuma, dia semakin erat menenggelamkanku dalam pelukannya. Dan aku pun semakin tenggelam dalam perasaan aneh yang menguasai tubuhku. Aku menyerah, tak lagi meronta. Aku tidak harus berkata dan berbuat apa. Kubiarkan saja waktu mengalir perlahan. Andai aku bisa melengkungkan ruang-waktu, aku ingin melengkungkan waktu hingga memanjang atau bahkan kalau perlu sampai waktu berhenti, aku ingin seperti ini selamanya. Tapi aku tak bisa.

Perlahan dia melepaskan pelukannya.

Aku juga sayang Koko. Hatiku memerintahkanku untuk menjawabnya. Tapi sayang, yang berkuasa atas diriku adalh segumpal masa lunak berwarna putih-keabuan di dalam rongga tengkorakku. Dan segumpa massa itu memerintahkan lidahku untuk diam.

Rasional saja, apa yang bisa diharapkan dari hubungan yang akan kalian rajut? Seperti biasa, super ego selalu berusaha memberikan pertimbangan yang rasional dan tentunya tidak melanggar aturan.

Lihat nanti sajalah. Si Inner Child tak mau kalah, seperti biasa dia akan ngotot dan merengek agar keinginannya segera dituruti. Walau pun aku tau ia tak punya argumen untuk apa aku harus menuruti keinginannya.

Kamu bisa bahagia bersamanya. Kali ini memberikan argumen yang cukup masuk akal dan menggoda.

Ya aku bisa bahagia bersamanya. Bukankah saat ini adalah saat-saat paling bahagia dalam hidupku? Seseroang yang sudah lama kudambakan ternyata memiliki perasaan yang sama denganku.

Apa definisi bahagia? Yang kau rasakan saat ini tak lebih dari serangkaian reaksi kimia yang melibatkan serotonin di otakmu. Kembali Super Ego mengajukan argumennya.

Bahagia? Apakag itu bahagia? Bukankah memang bahagia adalah serangkaian reaksi kimia dalam rongga kepala?

Lha itu dah terjawab. Yang kita butuhkan kan memang serangkaian reaksi kimia agar kita merasa tenang, nyaman, senang dan tentunya bahagia. ya kan? Inner Child tak mau kalah.

Ah entahlah… aku tak tahu. Bahagia? Apakah ada kebahagian dalam jalan yang akan tempuh? Atau kah kesenangan semu yang sesaat?

“koq diam?” tanyanya Ko Jemmy membuyarkan lamunanku. Dia menatapku dengan matanya yang berpendar jenaka. Wajahnya mendekat. Apa yang dia lakukan? Apa dia bermaksud …

“Silahkan …” celetuk Mas Cahyo mengagetkannya. Dia membawa makanan-makanan yang dipesan Ko Jemmy tadi.

“Arigatou Gozaimasu” jawab Ko Jemmy terbata. Kami sama-sama tersenyum kikuk. Mas Cahyo tahu situasi, dia segera pergi. Kami kembali saling bertatapan.

“aishiteru. Do you? ” bisiknya pelan. Tangannya masih menggenggam jemariku. Dan aku masih terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Aku sangat tahu bahwa ini salah. Tapi aku sangat menginginkannya. Apa semua harus dilihat dari kacamata benar dan salah? Tidakkan lebih dunia dan kehidupan akan lebih indah bila dilihat dari kacamata nyaman atau tidak, menyenangkan atau tidak? Tapi … apakah semua keinginan, semua kenyamanan dan semua ksenangan harus dipenuhi? Bukankah apa yang kira indah, belum tentu indah pada hakikatnya?

“kamu tak harus menjawabnya sekarang…” sepertinya dia tahu apa yang terjadi dalam semesta pikiranku. Tapi apa dia tahu, seberapa lama pun dia memberikan waktu, aku tak akan bisa menjawab pertanyaannya. Aku tahu jawaban yang benar, tapi aku tak ingin jawaban itu.

“yang lahap gih…” dia segera menyumpit dan melahap sushi salmon favoritnya. Ekspresinya sungguh menggemaskan. Menatapnya sungguh membuatku merasa nyaman. Kunikmati tiap detik momen ini. Kurasa itu lah yang bisa kulakukan, menikmati tiap detik momen singkat bersamanya.

“eits…” aku mendahului menyumpit sushi salmon yang terakhir.

“aku duluan wekkk…. hap..” kumasukkan sushi salmon yang kusumpit ke dalam mulutku. Dia melongo heran. Aku hanya tersenyum.

“ish….” tampaknya dia mau memprotes.

“aishiteru too…” potongku sebelum dia melayangkan protesnya. Dia menatapku hangat, matanya berpendar dan senyumnya merekah. Tak ada yang bisa kulakukan selain menikmati momen sesaat ini. Berusaha mengukir bahagia dari cinta yang tak sempurna yang kurasakan detik ini. Ya, hanya detik ini, detik lain mungkin semua yang kurasakan menguap entah ke mana.

Apakah aku bahagia dengan cinta yang tak sempurna yang kurasakan saat ini? Lalu kebagaian sendiri itu apa? Ah entahalah, biar waktu yang akan menjawab. Mungkin saat ini aku belum menemukan jawabannya, lebih tepatnya aku tidak mau mencarinya. Tapi aku yakin suatu saat nanti aku pasti akan menemukan jawabannya. Saat aku berani melangkah untuk menerima kebenaran.

FIN

1 Chawan mushi = masakan jepang terbuat dari putih telur yang diuapkan, ditambah beberapa bumbu dan bahan seperti jamur dan ayam.

2 Cafein ialah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan

3 washabi: pasta hijau pedas, biasa di makan bersama sushi,

4. BHMN, ini undang-undang tentang Badan hukum Pendidikan memang telah dibatalkan, tapi ternyata ambisi pemerintah untuk berlepas tangan masih belum sirna. beberapa draft telah diajukan untuk UU Pendidikan Tinggi, tapi nafas yang dibawanya makin liberal aja. semua draft senafas dengan general agreement on Trade Service dari WTO-PBB, bahwa pendidikan adalah komoditas yang layak diperjualbelikan.

5. Super Ego = bagian dari jiwa (menurut sigmund freud) yang merupakan internalisasi aturan2 dan norma2, sehingga pandangan yang diberikan adalah ketaatan pada aturan dan penundaan pemuasaan dorongan.
6. Inner Child = disebut juga id, adalah bagian dari jiwa (sekali lagi menurut freud) yang sudah ada sebelum ego dan super ego matang. jadinya dia sudah ada sejak kita bayi, dan sifatnya seperti anak2 yang ingin dipuaskan seketika itu juga. makanya disebut inner child.

7. ce jing = seribu, maksudnya satu juta.

8. serotonin = zat kimia dalam tubuh yang mempengaruhi otak sehingga kita merasa senang selalu. beberapa hipotesis menyatakan bahwa pada orang jatuh cinta serotonin meningkat, begitu pula dengan orang gila. makanya orang jatuh cinta tuh kadang kayak orang gila, senyum-senyum sendiri, ngomong2 sendiri gitu.

9. ruang bermatra (dimensi) empat. adalah sebutan untuk ruang (dimensi tiga) ditambah dengan dimesi waktu. lebih jelasnya bisa tanya jipi hehehe.

10. blackhole = masa padat yang konon katanya adalah bintang yang sudah mati (kehabisan bahan bakar). dimana gravitas yang dihasilkan sangat besar sampai2 bisa membengkokan cahaya.

P.S

kalo ada istilah yang belum dimengerti bisa di tulis di komen.😀 hehehe itu sekeja kisah yang pernah kualami, tak 100% benar sih. tapi ya kira2 begitulah.