Sebelumnya perkenankan saya koar-koar disini :

Ini posting dadakan, saya sebenarnya gak berniat posting tulisan ini dalam waktu dekat. Namun entah kenapa, kemarin saat mendengar lagunya KT Tunstall berjudul Other Side of The World, tiba-tiba saja pengen menyelesaikan cerpen ini sekaligus publish di Blognya milik Bos Nay (moga-moga suka aku panggil Bos). Postingan kedua ini saya berharap gak ada kesalahan teknik seperti yang pertama, walaupun sebenarnya aku masih bingung ngatur tata letak agar tulisanku ini tak amburadul. Dan, saya gak kaget kalau ada yang ngasih jempol ke bawah, I’m still learning with these thing🙂

Anyway, kemarin-kemarin saya lupa ngucapin matur nuwun sama yang punya Blog karena diizinkan publish semua tulisanku di sini (maap ya Bos Besar, lupa bilang), jadi saya punya media untuk menyalurkan hobi saya ini😀

Udah deh, lama-lama yang baca jadi pengen nyiapin batu buat ngelempar saya lagi. Monggo dibaca postingan dadakan saya ini ya, kalau ada salah kata …. yah, langsung bilang aja di komen😀

Happy reading

**************************************************************************************

Boergis n’ Foe Café , pukul sembilan malam.

Sosok itu duduk disana, berada di pojok, sebuah meja untuk empat orang yang menghadap jendela, posisi yang langsung membawa mata menuju pemandangan jalanan yang tak pernah sepi. Sosok itu bertubuh jangkung, berkulit cerah, wajahnya terkesan dingin, namun siapapun pasti akan memberikan waktunya beberapa detik hanya untuk melihat dirinya, ada semacam kekuatan samar dari dalam dirinya yang merebut atensi orang-orang disekitarnya. Atau bahasa sederhananya, wajahnya tampan.

Sosok itu sudah menjadi pelanggan tetap di kafe ini, dan tempat yang ia duduki adalah posisi favorit yang selalu ia pilih, atau  kalau tidak, dia akan memilih meja di lantai dua, dekat dengan air terjun buatan yang menghadap ke arah barat. Hampir semua pelayan kafe hapal betul apa yang akan diucapkan sosok itu ketika masuk, dan mereka akan langsung menawarkan kedua meja ‘sakral’ itu kepadanya, yang diiringi dengan anggukan kecil, bisa dihitung dengan jari ada senyum yang mengekor setelah anggukan kepalanya.

Sosok itu sering menggunakan mejanya untuk bernostalgia dengan kesendirian, pada beberapa waktu terlihat dia membawa seorang teman, hanya satu orang. Postur tubuhnya tak jauh berbeda dengan sosok itu, dia juga berkulit cerah, berambut coklat dan memiliki mata berwarna coklat yang pas sekali dengan warna rambutnya.

Bukan hal yang mengejutkan jika sosok itu doyan menyendiri selama berjam-jam, bahkan hingga kafe tutup, sekedar asik dengan notebook miliknya, ataupun iPad yang selalu ada di ransel biru miliknya. Sosok itu selalu memesan tiga menu konstan yang tak pernah berubah, setidaknya sampai sekarang. Ice Hazelnut latte, wagyu steak, dan pudding caramel dengan buah ceri diatasnya. Untuk saat ini, ketiga menu itu tak dipanggil ke mejanya, justru diganti dengan lemon squash dan red velvet porsi mini.

Seorang pelayan wanita berjalan menghampiri mejanya, membawa nampan berisi lemon squash yang tadi dia pesan.

“Lemon squashnyaMas Izal, silahkan”

Sosok itu ternyata memiliki nama, Izal.

Izal yang tengah berkutat dengan iPad miliknya menoleh pelan, hanya mengangguk sambil tersenyum manis pada pelayan wanita itu. lemon squash itu diletakkan bersebelahan dengan empat gelas lemon squash sebelumnya yang telah kosong, seakan menggenapi keanehan ‘Mas Izal’ itu.

Pelayan wanita itu berbalik sambil tersenyum simpul, ada sesuatu dalam hatinya yang seketika membuncah menerima senyuman manis dari pelanggan favoritnya. Sejak kedatangan Izal yang pertama, pelayan itu sudah menaruh hati pada sosoknya yang dingin, namun anehnya memancarkan pesonabagai magnet itu. Dia jugalah yang pertama kali dengan cukup berani dan lumayan tak tahu malu, menanyakan nama Izal sebagai usaha pedekate pada sosok yang ditaksirnya diam-diam.

“Arizal Gunawan, panggil aja Izal”

Itulah jawaban Izal saat pertanyaan itu diajukan kepadanya, selanjutnya dia kembali dengan ‘semesta’ yang ia ciptakan setiap kali mampir ke kafe ini. Walaupun begitu, jawaban itu sudah cukup membuat pelayan wanita itu berbunga-bunga. Cukupan untuk membuat pelayan itu cekikikan sendiri di balik meja kasir.

Begitu lemon squash pesanannya tiba, Izal berhenti dari iPad dan meminum lemon squash dalam bisu, melamun dalam dimensinya sendiri, menelusuri gang-gang sempit dari pikirannya sendiri.

Tak pernah ada yang tahu, -kecuali Izal dan Tuhan- bahwa Izal selama satu jam ini dia tengah menunggu seseorang, seorang teman, yang biasanya menemaninya disini. Well, dia ragu apakah ungkapan teman adalah kata yang cocok, karena mulut dan hatinya sama sekali bertolak belakang akan hal itu. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya tiap kali nama itu disebut, ada perasaan rindu yang seketika merangsek masuk saat wajahnya memenuhi kepalanya, ada sesuatu yang membuatnya tersenyum tolol saat mengingat dia, dan selalu saja ada reaksi aneh saat Izal beradu muka secara langsung dengannya. Dan bagi Izal, memang cukup dia dan Tuhan yang tahu, bahwa kafe inilah gudang data dari segala perasaan yang ia bawa dari dunia di luar kafe sana.

Otak dan perasaan Izal kini tengah berkonspirasi, memutar semua rekaman dari kenangan-kenangannya bersama orang itu, membuat dirinya larut dalam samudra memori dimana Sigmund Freud saja yang tahu rahasianya.

Kalau saja hari itu tak perlu ada…..

**

Halte Bus, pukul satu siang, enam bulan yang lalu.

Matahari bulan September tengah dalam aksi totalnya membakar kota dengan panas dan rasa gerah yang menjemukan, Izal adalah korban diantara jutaan orang yang bernasib sama dengannya, sesak oleh hawa panas yang sedari tadi membuatnya mengelap dahinya dengan sapu tangan berkali-kali. Duduk di halte dan menunggu bis kota adalah kejadian langka bagi Izal, yang hampir semua aktivitas kesehariannya dihabiskan dalam sejuknya mobil SUV ber-AC yang telah ia gunakan selama setahun belakangan ini. Kalau saja bukan karena mobil yang mogok, dan jalan raya depan rumahnya yang diblokade oleh buruh yang berdemo, Izal mungkin tak akan duduk di halte ini.

Sudahlah, anggap saja variasi, naik bis kota bukan hal yang buruk.

Izal menghibur dirinya sendiri, mencoba menikmati ‘keluar dari zona nyaman’ yang saat ini dia hadapi. Mulutnya bernyanyi kecil sekedar membunuh waktu dari menunggu bis kota yang tak kunjung datang.

 

I’ve been looking so long at these pictures of you

That I almost believe that they’re real

I’ve been living so long with my pictures of you

That I almost believe that the pictures are all I can feel

 

Remembering you standing quiet in the rain

As I ran to your heart to be near

And we kissed as the sky fell in, holding you close

How I always held close in your fear

………….

 

Entah kenapa lagu ini yang pertama kalinya muncul di kepalanya saat akan ingin bernyanyi tadi, ada perasaan sesak yang seketika hinggap saat dia mengingat lagu ini.

Pictures of you-nya The Cure ya Mas ?”

Suara baritone di sebelahnya menyahut, membuat Izal sadar dari lamunannya.

“Iya Mas, suka The Cure juga ya ?”

Izal tersenyum ramah, pria yang menyahutnya ini tampak seumuran dengannya. Kulitnya cerah, tubuhnya tegap dan termasuk terisi sekalipun tak tampak seperti binaraga, wajahnya tampan, ada lesung pipi yang menghias di sisi kanan wajahnya. Yang mencolok tentu saja rambut dan matanya yang sama-sama berwarna coklat, kombinasi yang terlihat proporsional menurut Izal.

Cowok separuh bule ini pantes dikasih nilai 9, good looking. Batin Izal.

“Gak bisa dibilang ngefans banget sih, cuma lumayan tahu lagu-lagunya The Cure, ketularan kakakku sih. Aku lebih suka sama Coldplya” Jawabnya sambil terkekeh pelan. Izal tampak tertarik.

“Oh ya ? berarti hapal dong semua lagunya ? Every teardrop is waterfall ?”

Izal mencoba mengetes, pria itu tersenyum kecil.

“Album Mylo Xyloto itu ya ? tahu kok”

Dia mengangguk, Izal sumringah, dia selalu bersemangat jika sudah diajak ngobrol mengenai musik. Dan pria itu tampaknya juga memiliki semangat yang sama jika sudah membahas musik. Mereka berdua terlibat percakapan seru mengenai musik.

“Jadi suka Jazz juga ? Pantes tadi tahu banyak sama Stevie Wonder”

“Yup, kalo yang Indo, aku gak bisa lepas dari Maliq & d’Essential”

“Wah, kalo itu aku juga suka Mas, apalagi yang judulnya Untitled, lagu galau tapi penyampaiannya kalem banget tuh”

Pria itu menatap tak percaya.

“Serius ? Itu lagu yang paling aku suka tahu”

“Eh, jangan panggil mas dong, kayaknya seumuran deh kita. Kenalin, namaku Elzar”

Izal menyambut uluran tangan Elzar sambil tersenyum.

“Arizal, panggil aja Izal”

……….

Dan setengah jam berlalu begitu saja bagi Izal dan Elzar, mereka tenggelam dalam obrolan mereka yang seakan tak ada habisnya. Dan seiring waktu berjalan, mereka berdua yang telah saling tukar kontak itu menjadi teman yang akrab, tak hanya mengenai musik, berbagai hal yang mereka anggap menarik akan mereka bahas berdua, film, novel, olahraga, berita bahkan gossip artis yang bagi mereka tak penting, namun toh tetap saja diobrolkan. Hampir setiap ada kegiatan apapun, acara nongkrong di suatu tempat, mereka berdua akan selalu ada. Dan seiring itu pula, ada perasaan lain yang pelan-pelan Izal rasakan. Perasaan yang tak terlalu asing baginya, namun membuatnya resah. Sesuatu yang tak ingin ia harapkan datang namun dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Enam bulan berlalu, dan Izal yakin bahwa hatinya sudah berlabuh pada seseorang. Seorang kawan, seorang sahabat bernama Elzar.

………………………………

Izal yang tengah asik dengan lamunan dan gelas lemon squash-nya tiba-tiba siaga, matanya menangkap sosok yang tak asing. Dan sosok itu berjalan pelan ke arahnya, membuat persendiannya seketika kaku, dan dia dapat mendengar degup jantungnya menjadi lebih cepat saat sosok itu langsung duduk di hadapannya.

Izal menarik napas panjang, sambil berdoa mencari kekuatan.

“Maaf aku terlambat”

Elzar yang duduk dihadapannya membuka pembicaraan pertama kali. Wajahnya terlihat menyimpan sesuatu. Yang mungkin mereka berdua telah sama-sama tahu apa.

“Tak masalah, kau kan memang selalu sibuk” sahut Izal datar, sekalipun tak bisa menyembunyikan kesan menyindir dalam kata-katanya.

Selama beberapa menit, mereka hanya membisu, dan pada beberapa kesempatan saling memandang selama beberapa detik, seakan memaksa siapa yang akan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

“Zar, aku pengen ngungkapin sesuatu sama kamu”

Izal lah yang menjebol kebekuan diantara mereka, dia sudah tak tahan lagi.

“Aku, maaf kalau aku lancang, dan menyembunyikan ini cukup lama. Aku …”

“Cinta sama aku kan ?”

Elzar langsung memotong perkataannya, kedua matanya melebar, sekalipun tak terlalu kaget jika Elzar tahu perasaannya.

“Ya, aku cinta padamu”

Izal berkata lirih. Elzar hanya tersenyum lemah.

“jelaskan padaku Zal, aku ingin mendengar semuanya”

Tangan Izal ditepuknya pelan. Sejenak dia menghela napas panjang, sebelum memulai menceritakan segala isi hatinya.

“Sejak pertama kali bertemu di halte itu, dan sejak kau duduk di bangku yang sama denganku di bis kota itu, aku tahu hatiku telah dipilih untukmu. Sejak itu pula, semua memori, semua senyumanmu, caramu berbicara, semuanya telah terekam disini dan diproses oleh ini” Izal menunjuk jidatnya pelan, lalu bergerak kearah dadanya.

“Dilihat dari sudut pandang orang normal, pasti semua tanpa ragu bilang kalau cinta ini udah melenceng jauh. Tapi aku udah males mikir hitam putihnya cinta. Yang aku rasain sekarang ya ini. Gak bisa dimodifikasi lagi. Aku cuma ingin kejelasan Zar”

Elzar hanya memandangi Izal tanpa ekspresi, sesaat kemudian dia tersenyum tipis.

“Aku tahu rasanya semua itu kok Zal. Bagaimana kamu jadi senyum-senyum sendiri saat kamu teringat orang yang kamu cintai mirip orang tolol, bagaimana kamu tiba-tiba merasa hatimu sesak akan rindu saat mengingatnya, dan bagaimana kamu kehilangan logika saat terjebak cinta, aku tahu semua rasanya. Aku juga sama sepertimu Zal, memiliki cinta yang kata orang ‘melenceng’ itu, setidaknya dulu”

Izal mengangkat kepalanya dan menatap Elzar tajam.

“Benarkah itu ?”

Elzar hanya tersenyum tipis, seolah berat mengatakan.

“Aku memang sudah mengetahui sejak kamu memberikanku sketsa wajahku dengan tulisan ZELAR REMOA di bawahnya, koreksi jika aku salah, tapi kata-kata itu adalah anagram bukan ? ZELAR adalah ELZAR, namaku. Sementara REMOA adalah bahasa Spanyol, dari … AMORE ….”

Elzar terdiam tanpa melanjutkan.

“cinta” Izal meneruskan kalimat Elzar yang terputus. “Ya, itu memang petunjuk dariku Zar”

“Aku menghargai semua perasaanmu padaku Zal, tapi seberapa lamapun kau menunggu, aku tak akan membalasnya. Aku tak cinta padamu Zal”

Kedua bola mata Izal melebar, detik itu juga terasa ada pedang es yang menancap di dadanya. Dan hati itu kembali sesak, terasa sesak oleh rasa sakit dari kalimat yang baru saja keluar tadi.

Elzar menatap Izal dalam, berusaha memberikan kekuatan padanya.

“Maafkan aku Zal, aku mungkin sama sepertimu, tapi ketahuilah, aku trauma menjalin hubungan dengan pria kembali. Aku cukup sekali saja mencintai seseorang, dan cukup sekali aku merasakan sakit. Bukan karena cinta itu hanya satu arah saja, bukan pula karena sikap orang yang aku cinta berubah saat aku mengatakan perasaanku pada mereka”

Elzar mengambil napas sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatan. Dia sendiri rasanya juga ditarik ke arah pusaran perasaan yang sama. Membangkitkan kembali memori-memori menyakitkan dulu.

“Tak lain adalah karena dia sahabatku sendiri, yang telah aku anggap saudara, dan bahkan setelah aku menyatakan perasaanku padanya, aku masih dianggap layaknya sahabat, tanpa ada sedikitpun yang berubah. Kau tahu ? ternyata rasanya lebih sakit saat kau mengetahui bahwa kau harus berjudi, apakah kau ingin mengorbankan perasaanmu sendiri, merusak hubungan dengan sahabat yang telah menerima dirimu apa adanya. Atau selamanya memendam rasa yang tak akan bisa dibalas sampai dunia ini tamat. Ternyata rasanya lebih sakit Zal, karena kaulah yang akhirnya harus membunuh perasaanmu sendiri”

Suara Elzar serak, rasanya tiang beton itu jatuh menimpanya kembali, setelah sekian lama berusaha mengangkatnya dengan susah payah, dalam waktu singkat, tiang beton itu jatuh kembali, membuat dadanya seketika sesak oleh perasaan sakit yang dulu ia rasakan.

“Aku berjanji tak akan merusak persahabatan itu Zal. Aku trauma dan takut mencintai pria kembali, aku tak ingin sakit untuk kedua kalinya. Karena itulah aku belajar untuk mencintai seorang gadis”

Elzar terdiam sesaat, sementara Izal masih menatap Elzar meminta penjelasan lebih lanjut. Elzar memejamkan matanya sejenak dan tersenyum.

“Mungkin kau akan berpikir aku sulit berubah, setidaknya itukan masalah bagi orang-orang sekitar kita ? Percayalah Zal, jika memang niatmu baik, Tuhan akan mendengarnya, dan melalui Dia lah, kau akan belajar mengenai cinta secara langsung. Gadis itu hadir dalam hidupku, waktu itu aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun padanya, sedikitpun tidak. Seiring waktu, gadis itu menyatakan perasaannya padaku, dan saat itulah aku tak tahu harus menjawab apa, aku belum mencintainya seperti dia mencintaiku. Aku tak tahu harus bagaimana, hingga akhirnya aku jujur kepadanya mengenai diriku apa adanya.”

Mata Elzar menerawang jauh, namun ada binary bahagia di matanya.

“Diluar dugaan, dia justru tak marah, dia berkata akan selalu menunggu cintaku padanya. Sewaktu aku bertanya bagaimana bisa kau senaif itu mengharap cinta dari orang sepertiku, dia hanya menjawab pelan :

‘Tuhan lah yang lebih berhak mengutak-atik hati manusia, aku tak akan ikut campur dengan kehendakNya, namun aku tetap berharap dan tetap berdoa, bahkan jika kelak kita menikah tanpa cinta, dan Mas menjalin hubungan dengan pria lain, aku ikhlas, karena inilah cinta yang dipilihkan Tuhan padaku. Apapun yang membuat Mas bahagia, aku akan ikut bahagia’

“Saat itu aku tak mampu menjawab apa-apa, tak ada kalimat yang sanggup keluar dari mulutku. Aku bertanya-tanya bagaimana bisa dia memiliki hati sebesar itu, sementara kepastian apakah aku akan bisa membalas perasaanku padanya tak ada ? dan saat itulah aku diajarkan apa itu cinta, dia bukan milik siapa-siapa, tapi untuk cinta itu sendiri. Tak mampu disentuh oleh apapun. Tak terikat oleh apapun. Detik itu pula, aku melihat kasih sayang, dan perasaan cinta dalam hatiku untuk gadis itu. Hanya Tuhan yang tahu, rahasia hatiku, namu ketahuilah, Tuhan lah yang memberikan cinta itu padaku”

Elzar menggenggam tangan Izal kuat-kuat, mencoba menguatkan hati kawannya itu. tak disangka-sangka, datang seorang gadis yang berparas ayu, memakai jilbab berdiri di samping Elzar dan tersenyum ramah pada Izal.

“Ini Zahra, gadis yang baru saja aku ceritakan itu Zal. Dialah yang kini mengisi hatiku”

Zahra tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya, Izal menyalami gadis itu dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di kepalanya.

“Aku tak ingin mencampuri urusan hatimu Izal, tapi serahkan semua hatimu pada Tuhan, serahkan semua cintamu itu pada Tuhan. Dia yang akan menunjukkan jalannya, aku tak ingin banyak berkata, waktu yang akan membuktikan Izal. Mas Elzar telah bercerita semuanya padaku”

Zahra memberikan tatapan memberi semangatnya pada Izal, mencoba menghibur kawan Elzar itu. Izal tersenyum lemah, berat, namun ada perasaan bahagia saat melihat Elzar bersanding dengan Zahra di depannya.

“Terima kasih”

Hanya itu yang Izal sanggup katakan, segala macam perasaan yang menghimpitnya membuatnya kehilangan kata-kata.

“Aku akan memberikan waktu untukmu sendiri, percayalah, suatu saat kau akan mengerti Zal”

Elzar beranjak dan sebelum pergi, dia sempat menepuk pundak Izal pelan, Zahra mengekor dibelakangnya setelah menyentuh kedua tangan Izal memberikan semangat.

Yang tersisa setelah kedua orang itu pergi hanyalah suara kafe yang masih ramai. Sementara jauh di dalam Izal sendiri, di tempat yang sekalipun organ tubuhnya diobok-obok, tak akan pernah ketemu. Di situlah benaknya membeku, hatinya mendadak mati dan segalanya kini terasa seperti dagelan luar biasa konyol dari Yang Maha Cinta.

Apa ini perasaan yang tadi diceritakan oleh Elzar ? sebuah perasaan dimana cintamu tak lagi penting kecuali kebahagiaan orang yang kau cintai. Benarkah dia dibawa ke level selanjutnya dari cinta ? Izal tak pernah tahu, mungkin Yang Maha Cinta yang lebih tahu.

Aku kalah lagi, segala perjudian hidupku, ternyata aku kalah lagi.

Dan lagi, aku tak memiliki kekuatan untuk melawan.

Jadi Zahra ya ?

Betapa beruntungnya dia, betapa beruntungnya kau Zar.

Drama hidup ini lucu ya ?

Dan kenapa manusia tak bisa lepas dari rantai emosi ?

Kau tahu ? aku rasanya sudah tak berbentuk lagi.

Bernyawa, tapi tak berwujud.

Berjiwa, tapi tak berupa.

Lucunya, aku tak bisa marah. Sakit, sangat, sangat sakit.

Tapi hanya itu, tak ada yang lain.

Dan kau tahu ? hati kecilku berkata bahwa kau memang layak.

Jika memang cinta tak pernah subyektif.

Maka dimanapun hatimu berlabuh, aku akan tersenyum dalam kehancuranku.

Izal tersenyum, senyum pahit karena disaat yang sama, hatinya terasa disayat. Dia jalanan, lalu membimbing matanya menuju arah langit. Membiarkan matanya beradu dengan pekatnya langit malam, yang ironisnya tak berbintang.

Sial, bahkan langit seakan tahu apa yang sedang terjadi.

Lamat-lamat, senyum itu tersungging di mulutnya, dan kedua bola mata itu berkaca-kaca. Ada semacam perasaan maha besar yang kini menyelimutinya.

“Terima kasih”

Gerakan mulutnya amat pelan, nyaris tanpa suara. Dan itulah satu-satunya kata yang bisa ia ucapkan, pada Elzar, pada langit malam yang tanpa bintang, dan tentu saja kepada Tuhan.

by : Ial