Kidung Cinta Nayaka

by

Naraya Alexis Liani

September yang hampir meninggalkan lembaran almanak senantiasa bermahkotakan hujan. Seperti hari ini. Hujan deras yang turun terus-menerus sejak pagi tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti. Dari kaca jendela kamar yang kubiarkan setengah terbuka, tampak jelas keadaan jalan raya yang lengang. Hanya satu dua kendaraan yang melewatinya. Tentu saja, siapa juga yang ingin mencari penyakit dalam sergapan hujan yang membabi buta?

Dari ranjang yang sedang kududuki saat ini, aku juga bisa melihat dengan jelas kondisi pepohonan tinggi menjulang yang tumbuh subur di kiri dan kanan jalan berdesir dengan suara yang cukup keras. Sebagian besar daunnya yang memang telah menguning berguguran ke tanah, menciptakan sebuah pemandangan yang luar biasa, tak ubah musim gugur di negara empat musim yang sering kusaksikan lewat layar kaca. Dingin yang menyelinap melalui celah-celah jendela seolah ingin membekukan tulang. Namun, keadaan alam yang murka sedemikian rupa ternyata tak menyurutkan minat seorang bocah lelaki berambut pirang sepundak yang sejak beberapa waktu lalu asyik memandangi butiran-butiran hujan yang berlomba menuju tanah. Dari kaca jendela yang berembun, Miko, yang memiliki nama lengkap Miko Ladreit de Lacharrière itu terlihat begitu menikmati saat-saat dimana panah-panah hujan berebut menikam perut bumi. Huh, jangan bilang di Perancis si bocah tak pernah melihat hujan, sungutku dalam hati.

Kuputar kepalaku, mengalihkan pandangan dari Miko yang berdiri serupa arca batu di tepi jendela, ke pemilik wajah rupawan nan menggoda yang duduk bersilang kaki di sofa beludru tunggal, tepat di depanku. Niel Mahesa de Lacharrière, sahabat karibku semasa SMA.

Tak banyak yang berubah dari pemuda yang biasa kupanggil Niel itu. Ia masih saja terlihat seperti remaja belasan tahun di usianya yang telah berkepala dua. Malah, ia terkesan semakin imut. Rambutnya yang hitam berkilau bak model iklan shamphoo itu dibiarkan memanjang hingga telah melewati pundak. Papih suka rambutku yang begini, jawabnya, ketika aku menanyakan alasannya memanjangkan rambutnya itu.

Aku tergelak. Papih. Sejak pacaran hingga menikah, Niel memang memanggil suaminya itu dengan panggilan Papih. Aku sendiri cukup mengenal sosok lelaki setengah baya yang berhasil mencuri cinta sahabatku itu. Om Theo, demikian aku biasa memanggilnya, adalah salah satu kolega keluarga Niel. Duda mapan kaya raya beranak satu dan berkebangsaan Perancis itu saat SMA dulu sering kali mengantar jemput Niel. Dan, karena rumahku satu arah dengan rumah Niel, akupun sering berangkat sekolah bareng menaiki mobil mewah Om Theo.

Ada banyak orang yang bisa dikatakan sejak lahir dikaruniai keberuntungan. Salah satunya, menurutku adalah Niel. Niel yang baby face bisa dikatakan memiliki segalanya. Ia terlahir sebagai anak semata wayang dari pasangan pengusaha restoran seafood ternama di kota ini. Sejak kecil, Niel tak ubah pangeran kecil yang hidup bergelimang harta dan kemewahan. Namun satu hal yang kusalutkan, Niel tetap tumbuh sebagai sosok rendah hati. Ia adalah sosok peramah dan murah senyum yang sekalipun tak pernah membanggakan kekayaan orang tuanya. Saat SMA, Niel menjadi murid idola se-sekolahan dan memiliki fans club sendiri. Hal yang sampai saat ini membuatku geleng-geleng kepala jika mengingatnya.

Sudahkah kukatakan sebelumnya jika Niel adalah seorang lelaki?

Ya. Dan itulah satu-satunya yang sempat membuatku iri pada Niel. Ia memiliki orang tua yang begitu menyayanginya, dan tetap menerima Niel apa adanya, meskipun putra tunggal mereka itu memiliki orientasi seks yang ‘sedikit’ berbeda. Niel yang terlihat sempurna itu lebih tertarik kepada kaumnya sendiri dari pada wanita. Sama sepertiku.

“Ada yang nitip salam buatmu, Nay,” ujar Niel, memecah kesunyian yang tercipta di antara kami bertiga. Keningku berkerut. Setengah tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Bagaimana mungkin ada yang menitipkan salam padaku dengan perantaraan Niel yang jelas-jelas baru saja kembali lagi ke negeri ini setelah empat tahun lamanya menetap di Perancis.

Aku lupa mengatakan bahwa setelah lulus SMA pada usia tujuh belas tahun, Om Theo langsung melamar Niel. Mereka menikah di Belanda. Dan setelah itu, Om Theo memboyong Niel ke negeri asalnya.

“Siapa?” tanyaku acuh. Kuletakkan The Lost Symbol yang baru separuh kubaca di atas meja belajarku, setelah lebih dahulu membatasi halamannya.

“Radith” jawab Niel sambil menyelipkan helaian rambutnya di balik telinga. Kerutan di keningku bertambah.

“Radith?” kuulang kembali sepotong nama yang baru saja Niel sebutkan. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di sudut hatiku.

“Iya. Lengkapnya Radithya Syah Pahlevi. Kamu kenal,kan? Dia ngakunya pernah sekelas denganmu saat SMP. Kok kamu gak pernah cerita soal dia saat kita masih sekolah dulu, Nay?” jelas Niel sambil memberondongku dengan pertanyaannya. Aku terdiam. Tentu saja aku kenal. Meski sudah bertahun-tahun tak bertemu, paras wajahnya masih terekam dengan baik di ingatanku.

“Gimana ceritanya kamu bisa kenal dengan Radith?” sambungku, tanpa menjawab pertanyaan Niel sebelumnya.

“Sebelum aku ke sini, aku dan Miko terlebih dulu belanja di Hypermart. Saat aku terburu-buru mau mengambil barang di penitipan, tanpa sengaja aku menyenggol seorang cowok cakep, ya si Radith itu. Untung saja dia tak marah padaku, padahal aku sudah membuat handphone-nya jatuh. Aku minta maaf dan ujung-ujungnya kami berkenalan dan makan siang di tempat yang sama. Katanya, ia ke kota ini dalam rangka liburan. Kangen sama SMP-nya dulu. Dari situ aku tahu kalau dia satu angkatan denganmu. Dia agak kaget lho waktu aku nanya apakah dia kenal kamu. Ternyata oh ternyata, bukan cuma kenal, tapi kalian pernah sekelas ya? Kamu sih, gak pernah cerita kalau punya teman secakep Radith. By the way, Radith itu cakep ya, Nay? Pake acara titip salam pula buatmu,” goda Niel di akhir penjelasannya yang panjang kali lebar. Aku hanya tersenyum. Sudah hampir tujuh tahun aku tidak melihat Radith, pasti telah begitu banyak yang berubah dari dirinya.

“Kenapa reaksimu hanya senyum doang? Kamu gak percaya sama ceritaku, Nay?” protes Niel seraya menggelembungkan pipinya. Mau tak mau aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu itu. Waktu dan perjalanan usia tak membuat hilang sikap manjanya.

“Bukannya tidak percaya pada ceritamu, Niel. Aku hanya tidak percaya bahwa seorang Radithya Syah Pahlevi titip salam buat aku,” jelasku. Sekarang gantian jidat licin Niel yang berkerut.

“Kenapa bisa begitu?” Niel balik bertanya. Aku mengangkat bahu.

“Aku juga tak tahu, Niel. Aku malah merasa aneh, secara aku dan Radith tidak pernah bertegur sapa meskipun kami pernah sekelas selama setahun,” jawabku. Niel tampak menghela nafas. Air mukanya tak mampu kubaca.

“Kamu dulu pernah suka sama dia ya, Nay?” tebak Niel yang membuatku tersentak. Bagaimana Niel bisa menebak begitu tepat? Meski bersahabat dengan Niel sejak kelas satu SMA, tak pernah sekalipun aku bercerita mengenai Radith padanya, apalagi tentang perasaanku. Itu masa laluku. Masa lalu yang ingin kukubur dalam-dalam, meski hingga kini masa lalu itu terus membayangi langkahku. Jujur kuakui, aku pernah menyukai Radith di awal-awal kesadaranku akan orientasi seks-ku yang ‘berbeda’. Ketika itu kelas dua SMP, Radith dengan segala pesonanya sebagai Ketua Kelas sekaligus Ketua Klub Matematika membuatku jatuh cinta. Dalam diam aku memujanya, meletakkan namanya di tahta tertinggi di hatiku. Membiarkan namanya terukir manis di hamparan permadani cinta yang kubentangkan di hatiku. Hari-hari selama setahun kebersamaan sebagai teman sekelas adalah saat terindah dalam kehidupan sekolah menengah pertama-ku. Meski tanpa tegur sapa.

“Iya kan, Nay?” desak Niel memotong lamunanku. Kupandangi wajahnya yang rupawan itu. Seulas senyum terukir di sudut bibirnya. Alis kirinya terangkat, seolah menggodaku.

“Memangnya kenapa? Namanya juga cinta monyet, Niel,” kilahku dibarengi tawa sumbang. Ya, seberapa dewasa sih pikiran anak SMP sepertiku dulu untuk menjabarkan makna cinta yang sesungguhnya?

“Tidak apa-apa. Tapi dari reaksimu barusan, aku dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya sampai detik ini kamu masih memiliki perasaan itu, kan? Waktu tujuh tahun belum mampu memadamkan perasaan sukamu kepada Radith. Dan aku juga yakin, sampai sekarang kamu belum tahu apakah Radith cowok straight, atau malah seperti kita. Iya, kan?” lagi-lagi aku mengakuinya. Meski dalam waktu tujuh tahun ini aku mencoba mengenyahkan perasaan suka yang kukira hanya sesaat itu, aku gagal total. Radith masih mendominasi setiap celah dalam hati dan pikiranku. Aku tak pernah berhasil melepaskan diri dari pesonanya.

Untuk beberapa saat aku dan Niel kembali dibelenggu kesunyian. Miko yang sedari tadi terpesona dengan hujan yang masih mengguyur deras tanah kota ini tampak membalikkan tubuh dan berjalan pelan menghampiri Niel.

“Papa,” ucapnya.

Oui?” jawab Niel seraya mengangkat bocah pirang berusia tujuh tahun itu ke pangkuannya.

“Miko ngantuk, Papa,” ujar bocah tampan itu dalam bahasa Indonesia yang patah-patah seraya mengucek kedua matanya. Aku tersenyum menyaksikan pemandangan unik di depan biji mataku itu. Niel yang mulai memposisikan kepala Miko di atas pangkuannya dan membelai helaian pirang si bocah, dan Miko yang perlahan mulai mengatupkan sepasang matanya dengan sebelah tangan tak lepas dari lengan sang Papa adalah pemandangan langka. Di sudut hatiku, lagi-lagi sebentuk perasaan iri menyelip tanpa diundang.

Tak lama, Miko telah terlelap dalam tidurnya. Kusarankan pada Niel agar ia membaringkan Miko di ranjangku. Niel menurutinya. Dengan penuh kasih sayang dan ketelatenan, Niel menggendong anak tirinya itu dan merebahkannya di ranjangku. Sebuah kecupan ia hadiahkan ke kening sang anak. Setelah itu, ia kembali menemaniku dan duduk di sofa yang sebelumnya ia tempati.

Aku baru saja akan membuka mulut ketika telepon genggam yang tergeletak di meja belajarku itu berbunyi nyaring. Bergegas aku meraih benda elektronik itu. Kuperhatikan nama yang muncul di layar. Rupanya Kak Rizkie.

“Hallo?”

“Assalamu’alaikum, Nay,” salam pembuka yang jadi ciri khas dari lelaki itu. Lelaki yang paling dekat denganku setahun belakangan ini, tepatnya ketika kami mulai kuliah di kampus yang sama.

“Wa’alaikum salam. Ada apa, Kak?” tanyaku ramah sambil menjawab salamnya.

“Kamu punya acara besok?” aku lagi-lagi mengerutkan kening, sedikit heran dengan pertanyaan Kak Rizkie.

“Hemmm, sepertinya tidak. Kenapa, Kak?”

“Kakak mau mengajakmu melihat pameran lukisan di Grand Mayesty, besok. Pameran tunggal Beny Borneo, pelukis idolamu itu. Kamu mau, kan?” aku terperangah di ujung telepon.

“Beny Borneo, Kak? Tentu saja aku mau. Kakak jemput aku, ya?” sahutku tanpa pikir panjang. Kapan lagi aku mendapat kesempatan menyaksikan pameran tunggal pelukis yang begitu kuidolakan itu?

“Oke, Manis. Ya sudah, sampai ketemu besok. Assalamu’alaikum,” Kak Rizkie mengakhiri pembicaraan. Wajahku memerah tanpa kusadari.

“Wa’alaikum salam, Kak,” kulirik Niel. Pada saat yang sama, ia juga sedang melihat ke arahku.

“Jangan katakan kalau Kak Rizkie yang membuatmu mulai menggeser nama Radith,” ujar Niel. Aku tergelak. Niel tahu sejauh mana kedekatanku dengan Kak Rizkie, kakak kelas kami ketika SMA itu. Aku sungguh tak menyangka jika pada akhirnya kami dipertemukan kembali di kampus yang sama.

“Jangan berpikiran macam-macam,” bantahku sambil tetap menyunggingkan senyuman.

“Hey, hanya karena si Papih memboyongku ke Perancis, tak berarti aku kehilangan pantauan akan dirimu, Nay. Kamu tentunya tak lupa kalau aku memiliki sepupu yang juga sekampus denganmu, kan? Dan apa kamu kira segala kabar angin yang kudengar tentangmu tak sampai di telingaku hanya karena aku bermukim di negeri orang?” sungut Niel. Aku lagi-lagi tertawa.

“Kau ini menggemaskan sekali, Niel. Sayang aja aku kalah cepat dibanding Om Theo,” ledekku yang disambut dengan timpukan bantal oleh Niel.

“Apa sepasang telingamu itu sudah kehilangan fungsinya, Nay? Gak sadar kalau makhluk sekampusmu mengira kamu dan Kak Rizkie pacaran?” tanya Niel tanpa menghiraukan godaanku. Jelas saja Niel tak tertarik padaku, si cute itu lebih suka pada pria dewasa, seperti Om Theo itu. Lebih matang, katanya.

“Itu urusan mereka, Niel. Mereka salah menafsirkan kedekatanku dengan Kak Rizkie. Yang jelas, aku dan Kak Rizkie hanya berteman. Titik.”

“Salah gimana? Kata Biyan, kalian itu udah kayak gayung sama sikat gigi. Kemana-mana berdua. Apa bukan pacaran namanya kalau setiap saat kalian keluar berdua? Ke bioskop, perpus, mall, selalu berdua. Kalian bahkan aktif di organisasi yang sama, Nayaka.” Dalam hati, aku mengutuk Biyan, sepupu Niel yang bermulut ember itu. Tu anak pasti belum pernah merasakan yang namanya disumpal dengan telapak kaki. Tapi mau tak mau aku terbahak juga mendengar pengandaian Niel tentang gayung dan sikat gigi itu.

“Niel, Niel. Aku dekat dengan Kak Rizkie bukan baru setahun. Kamu kan juga tahu itu. Kita sama-sama sempat aktif di OSIS dulu, ingat? Kurasa tak ada yang salah dengan keakraban kami,” lagi-lagi aku membantah asumsi Niel yang menurutku tak berdasar.

“Oke, anggaplah aku salah. Tapi, apa menurutmu Kak Rizkie punya pemikiran yang sama denganmu?”

“Maksudmu?” aku menerka-nerka kelanjutan ucapan Niel. Ia membuatku penasaran ala Rhoma Irama.

“Kak Rizkie itu menaruh hati padamu, Nay. Sejak kita SMA dulu, malah. Duh, kadang aku meragukan ke-gay-anmu kalau hal begitu saja masih bertanya,” sungut Niel. Aku terperangah.

“Ngaco!”

“Nay,” suara Niel berubah serius. Matanya tajam menghujam kedua bola mataku.

“Hmmm?” aku bergumam.

“Pernahkah kamu perhatikan cara Kak Rizkie menatapmu selama ini?” aku menggeleng cepat, melebihi kecepatan cahaya.

“Tidak.”

“Seandainya memang benar Kak Rizkie menyukaimu, apa yang akan kamu lakukan, Nay?” cecar Niel.

“Cukup ah, Niel! Aku gak tahu. Sepertinya kita tak perlu membahas tentang hal ini lagi,” sentakku. Aku berharap Niel salah, meski selama ini Niel selalu benar. Tak mungkin Kak Rizkie menyukaiku. Aku sudah sangat bahagia dengan ikatan persaudaraan yang terjalin antara aku dan Kak Rizkie selama ini. Lelaki tampan itu hanya menganggapku sebagai adik, tak lebih. Sebagai sesama anak tunggal, kami saling mengasihi selayaknya saudara. Dan aku tak pernah sekalipun menangkap gelagat berbeda dari Kak Rizkie. Atau, memang gay radar-ku yang tak berfungsi sebaik yang kukira?

Aku lagi-lagi menggelengkan kepalaku. Menepis segala kemungkinan yang mendadak memenuhi ruang pikirku. Tidak. Kak Rizkie pasti hanya menganggapku sebagai adik. Dia tak pernah memiliki maksud lain di sebalik kebaikannya padaku. Kak Rizkie yang tak pernah mengeluh untuk mengantar jemput-ku dari les biola yang terkadang menjemukan, walau aku tak pernah memintanya. Setiap bulan, Kak Rizkie juga tak pernah absen membelikanku majalah Bobo. Hehehe, walaupun sudah kuliah, aku masih senang membaca majalah anak-anak itu. Dan tak terhitung lagi, berapa kali Kak Rizkie mentraktirku makan bakso, membelikanku cokelat mahal, nonton bioskop (maksudku nonton filemnya, loh, bukan gedung bioskopnya), melihat pameran ini itu. Kak Rizkie memang memanjakanku dan kuanggap semuanya wajar.

Tentu saja wajar menurut kacamata berpikirku. Toh, aku juga tak pernah keberatan menemaninya setiap kali ada kopdar dengan teman-teman penulis cyber-nya, menjadi suporter nomor satu yang berteriak paling kencang ketika ia sedang bertanding basket mewakili kampus. Apa yang salah? Dari sudut mana Niel, Biyan, dan makhluk-makhluk kampus bisa berpikir ada ‘apa-apa’ antara aku dan Kak Rizkie? Kak Rizkie adalah kakakku. Kakak dari seorang Nayaka Al Gibran Santana. Tak lebih.

Betewe, kamu masih mencintai Radith ya, Nay?” Niel nampaknya belum bosan mengulik tuntas isi hatiku. Ini anak berbakat jadi wartawan infotainment.

“Niel, kalau kamu bertanya apakah aku pernah mencintai Radith, maka jawabanku iya. Tapi bila kamu tanya apakah aku masih mencintai dia atau tidak, maka sejujurnya aku tak tahu. Sudahlah, lupakan soal Radith, atau Kak Rizkie. Hanya karena sekali titip salam setelah lama tak bertemu tak akan mengubah keadaan,” jawabku. Niel mengangguk-angguk. Rambutnya yang indah turut bergerak seiring anggukannya.

“Baiklah. Tapi, kamu maukan cerita padaku tentang Radith ini? Aku penasaran,” pintanya. Aku terdiam. Anganku perlahan terbang menerobos lorong-lorong memori, mengajakku singgah ke waktu yang pernah kulewati  bersama Radith ketika kami duduk di kelas dua SMP. Dan segala kisah akhirnya bermula dari sana…

* * *

Flashback

Pengumuman mengenai pembagian ruang kelas telah berakhir beberapa waktu yang lalu. Aku memandang keadaan di sekelilingku. Merayapi wajah-wajah teman sekelasku juga teman-teman dari kelas lain. Selain wajah-wajah yang setahun terakhir begitu akrab di dalam pandanganku, ada juga wajah-wajah baru dengan beragam ekspresi dari murid-murid baru, adik kelasku. Senyumku perlahan mengembang ketika aku menemukan Esron, teman sebangku di kelas satu, berdiri tak jauh dari barisanku. Ternyata, di kelas dua ini kami kembali dipertemukan dalam satu kelas.

Aku dan Esron berangkulan menuju kelas. Jika di kelas satu kami terpilih untuk menghuni kelas 1A, maka di kelas dua ini kami mendapat kehormatan menjadi murid 2D dan menempati gedung baru. Kami sepakat untuk memilih tempat duduk paling depan, di sudut kiri kelas, tepat menghadap meja guru. Mataku yang tak bisa melihat jelas dalam jarak jauh membuatku memilih duduk di depan. Begitu juga Esron. Dari tempat duduk yang kami tempati, kami bisa menikmati suasana perbukitan dengan pepohonan tinggi menjulang yang menjadi latar kelas kami. Kesannya begitu teduh dan menyejukkan pandangan.

Minggu pertama di kelas dua, aku sudah kenal nama seluruh penghuni kelasku. Dari Radithya dan Affandy yang duduk di pojok kanan depan, sampai ke Hameed dan Ratih yang duduk di pojok kanan kiri belakang. Sebagian yang lain telah aku kenal sebelumnya karena kami sekelas di kelas satu. Ada Uthy yang jawaranya pidato, terutama jika sudah menyangkut emansipasi hingga sering dijuluki Kartini 1A, Uchi yang mendapat gelar kehormatan si Ratu Gosip, Yudhistira yang tak pernah kering ide untuk meramaikan suasana kelas, Didit yang pindahan dari Jakarta dan langsung menjadi pilihan utama di Klub Basket, Jenny, si Pendiam, juga Sri, si Kutilang Darat.

Awalnya semua berjalan biasa, layaknya kehidupan anak SMP lainnya yang penuh canda tawa. Tapi kemudian, Dewa Amor mungkin terlalu mengantuk ketika menjalankan tugas, hingga panah asmaranya melenceng, dan jleb, langsung menancap di hatiku. Aku jatuh cinta. Jika perasaan selalu deg-degan dan salah tingkah berujung serba salah ketika melihat seseorang adalah salah satu tanda jatuh cinta, maka benarlah. Aku sedang mengalami syndrome itu. Wajar sebenarnya, mengingat aku masih manusia. Yang membuat tak wajar dan hatiku tak henti diliput tanya, kenapa yang membuat jantungku berdebar-debar bagai memiliki penyakit jantung akut itu adalah Radithya Syah Pahlevi, murid pendiam asal 1D, kelasnya murid-murid pintar yang banyak dipuja murid perempuan di sekolahku itu?

Radithya yang akrab disapa Radith itu tidak jelek. Tidak juga ganteng. Biasa-biasa saja, menurutku. Tapi dia pintar. Kurasa itulah yang membuatku terpesona padanya dan sering mencuri pandang ke arahnya. Aku sering menatapnya kagum ketika ia sedang mengerjakan tugas Fisika, Kimia, atau Matematika di depan kelas. Entah bagaimana, dia begitu santai menurunkan setiap rumus yang ada tiap kali pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka itu berlangsung. Sementara aku, harus bersusah payah memeras otak dan mencari contekan sana-sini ketika berdepan dengan trio mata pelajaran menyusahkan itu.

Kuakui, meski memiliki paras biasa-biasa saja, Radith adalah cowok yang memiliki persyaratan untuk menjadi idola. Ia pintar, dan meski sangat jarang buka suara, ia adalah drummer sebuah band yang ia ikuti sejak kelas enam SD. Ia juga memiliki senyum memikat sukma yang sanggup melemahkan persendian. Namun, tentu saja, aku tak tahu apakah Radith memiliki perasaan yang sama sepertiku. Dalam mimpipun aku tak berani berharap itu adalah sebuah kenyataan.

Sebagai seseorang yang memendam perasaan kepada makhluk dari kaumnya sendiri, aku sangat tahu diri dan berhati-hati. Sebisa mungkin aku menjaga sikap agar tak seorangpun mengetahui tentang perasaanku pada Radith. Hal itu pula yang menyebabkan hanya sedikit informasi yang kuketahui tentangnya. Selain dari Radith cowok berzodiak Scorpio yang berulangtahun setiap tanggal 22 November dan penggemar berat Nirvana, aku tak mengetahui apa-apa tentangnya. Tapi itu saja sudah cukup bagiku.

Dan selama setahun itu, aku tak pernah tahu penilaian Radith tentangku. Mungkinkah ia berpikir, bahwa sungguh aneh, kami sesama murid lelaki, tapi tak pernah bertegur sapa. Atau, mungkinkah ia mereka-reka praduga, mencari-cari dimana salah di antara kami berdua hingga sapa itu tak kunjung bersua? Entahlah. Aku tak berani menerka-nerka, meski sering aku memergoki Radith yang sedang menatapku dari balik kacamata minusnya. Terkadang aku sempat kege-eran, terlebih jika menemukan hal-hal yang ganjil, misalnya buku tugasku yang selalu letaknya bertindihan dengan buku tugas  miliknya, padahal aku selalu terakhir ketika mengumpulkan tugas. Atau ketika ia membagi-bagikan kertas ujian harian kami yang telah dikoreksi, dan entah kebetulan atau sengaja, kertas jawaban kami juga selalu berdekatan. Ah, entahlah.

Aku hanya berani menyimpan rasaku seorang diri. Aku belum siap berdepan dengan resiko apapun jika tetap nekad mengungkapkan perasaanku pada Radith. Syukur kalau Radith menerima, tapi apa yang terjadi jika ia tak seperti yang kukira dan malah memandangku nista? Maka, hanya buku harianlah pelarianku. Kutumpahkan segala perasaanku padanya dalam barisan puisi. Aku berusaha menikmati ketika benih-benih cinta terus memenuhi ruang hatiku tanpa mampu kutebas sedikitpun. Radith menjelma menjadi satu-satunya alasan mengapa aku tak pernah ingin sehari saja tidak masuk sekolah, walaupun dengan alasan sakit. Kepintaran Radith memberi efek positip padaku yang membuatku termotivasi untuk belajar lebih giat, terutama untuk mata pelajaran yang benar-benar kusuka. Jika Radith yang masih makan nasi saja bisa, mengapa aku tidak? Namun, benarlah kata pepatah bahwa tak selalu harap berjabat tangan dengan realita. Dengan terpaksa, aku harus mencabut akar-akar cinta yang merekat kuat di hati. Bukan karena orang ke-tiga, melainkan karena sebuah perasaan malu…

* * *

Hari itu hari Rabu. Entah serupa firasat atau apa, aku tak pernah suka dengan hari Rabu yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran pertama. Sebisa mungkin aku berusaha menekan perasaan tak enak di hati ketika Rini, sang juara kelas tiba-tiba memilih untuk menjadi rekanku dalam kerja kelompok membuat puisi. Sumpah mati, aku sama sekali tak menyangka ketika akhirnya hari itu akan menjadi hari paling memalukan dalam sejarah kehidupanku.

“Tidak apa-apakan, kamu satu kelompok denganku?” Rini yang hitam manis itu menatapku lekat. Aku hanya mengangkat pundak sambil membolak-balik buku cetak yang tergeletak di depanku.

“Kamu tidak bertanya apa alasanku memilihmu sebagai rekanku, Nay?” tak kusangka gadis ini ceriwis juga. Kuhentikan kegiatan membolak-balik lembaran buku, lalu menatap gadis itu.

“Apakah aku berhak menolak anugerah ketika sang juara memilihku menjadi rekan kerjanya?” sindirku. Rini tertawa pelan di balik saputangan berenda-nya. Gadis itu kemudian mengedarkan pandangannya berkeliling, memutari kelas, lalu mendekatkan duduknya padaku.

“Aku memilihmu, karena aku tahu kamu begitu piawai dalam meramu kata menjadi puisi, Nay. Well, jika ungkapan perasaanmu pada Radith bisa dijadikan tolak ukur, maka aku tak salah memilih partner in crime,” jawabnya, tepat di telingaku. Blaaarrr. Wajahku memucat. Aku menatap gadis itu sambil ternganga, seakan tak mempercayai pendengaranku sendiri. Tanganku yang sedang memegang pena bergetar, hingga tak sadar ketika pena itu terlepas dari genggamanku.

“K-kamu…?” aku mendadak diserang gagap. Bagaimana mungkin gadis ini mengetahui perasaanku pada Radith? Apakah aku pernah sekali saja teledor dan membiarkan buku harianku tertinggal di kelas sehingga akhirnya tanpa sengaja dibaca oleh gadis itu?

Rini tersenyum padaku. Manis. Meski dalam pandanganku senyuman gadis itu lebih mirip seringai Iblis. Ia sedikit membungkukkan badan, memungut pena yang terlepas dari tanganku.

“Jangan kuatir, aku akan tutup mulut. Aku tahu jika aku tak berhak menghakimi, terlebih jika menyangkut perasaan. Iya, kan?” lagi-lagi aku terperangah mendengar kata-kata gadis itu. “Hanya saja, aku perlu memberitahumu satu hal, Nay,” gadis itu memegang tanganku. Aku masih gemetar dalam genggamannya.

“Kamu tahu Carol, kan?” aku mengangguk. Sedikit kulirik gadis cantik yang duduk tepat di belakang Radith itu. Si langsing hitam manis yang juga pendiam itu setahuku juga adalah teman sebangku Rini.

“Carol mencintai Radith, Nay. Dan menurut pengamatanku, Radith juga memiliki perasaan yang sama. Pulang sekolah nanti, Carol bermaksud mengutarakan perasaannya pada Radith. Aku tak bermaksud mematahkan semangatmu, tapi kukira kamu harus mundur dari pertarungan yang tak bisa kamu menangkan ini, Nay. Maaf, aku tahu persis apa rasanya ketika perasaan kita tak berbalas, tapi aku menyayangi Carol seperti seorang adik. Aku ingin ia bahagia bersama Radith. Dan, jika demi kebahagiaannya itu aku harus mengorbankan perasaan orang lain, dalam hal ini kamu, maka aku rela melakukannya. Sekali lagi aku minta maaf, Nay,” tegas gadis itu dalam bisiknya. Entah, mana yang lebih memalukan atau menyakitkan, mengetahui ada seseorang yang tahu rahasia besar dalam hidupmu, ataukah ketika mengetahui bahwa kamu harus mengalahkan perasaanmu demi seseorang. Perasaanku campur aduk.

Kulirik Radith yang sedang tekun mengerjakan tugas puisinya bersama Affandy. Kejap berikutnya kulirik Carol yang kali ini kebagian kelompok dengan Resty. Perih mendadak menyergap hatiku. Ucapan Rini seolah berputar kembali di benakku. Carol mencintai Radith, dan Radith kemungkinan juga memiliki perasaan yang serupa. Tuhan, meski jarang aku menyebut namamu, rasanya aku tak sanggup menanggung pedih seperti ini, batinku nelangsa.

Mood-ku berubah mendadak. Sepanjang sisa pelajaran, aku memilih diam, berperang dengan batin. Tak kupedulikan Esron yang kebingungan dengan perubahan sikapku. Aku bahkan tetap membisu ketika jam pulang sekolah, seperti ucapan Rini, Carol mengutarakan perasaannya pada Radith. Di depan kelas. Di satu sisi aku salut dengan gadis pendiam itu, ia rela melawan perasaan malu dengan konsekuensi hanya dua itu demi cowok yang ia cintai. Di sisi lain, aku mengerang pilu ketika Radith menyambut uluran cinta yang diulurkan oleh Carol. Deg! Rasanya seperti palu godam yang menghantam jantungku. Aku sebisa mungkin turut larut dalam tepuk sorak berucap selamat teman-teman sekelas, meski panas tiba-tiba singgah di mataku. Masih kutangkap lirikan Rini yang menganggukkan kepala padaku tanpa kuketahui maknanya. Juga masih sempat kuperhatikan pandangan Radith padaku sebelum ia mengangguk, menyambut cinta gadis bernama  Carol itu.

Siang itu, dalam perjalanan pulang sekolah, kutanamkan tekad dalam hati bahwa mulai saat itu aku tak akan membiarkan perasaanku terlena oleh seorang Radith. Aku bertekad untuk menjadi seorang siswa yang patut diperhitungkan di kelas, agar aku bisa memandang Radith dengan kepala tegak, dan agar dia juga melihatku. Tentunya bukan untuk jatuh cinta padaku. Aku hanya ingin agar ia tahu, bahwa aku, Nayaka Al Gibran Santana itu ada.

Dan sejak kejadian itu, aku mati-matian berusaha agar tak lagi mencoba mencuri pandang ke arah Radith. Aku menjelma menjadi sosok pendiam yang lebih memilih perpustakaan sebagai tempat favorit, ketimbang berkumpul dengan teman-temanku. Rini teguh pada ucapannya, ia tak pernah bicara apa-apa mengenai perasaanku pada Radith pada siapapun. Kuhabiskan waktu istirahatku di antara tumpukan buku-buku yang kubaca. Dengan cara itu  sedikit demi sedikit aku berhasil mengusir perasaan cintaku. Radith dan Carol yang sudah jadian masih menjadi topik hangat di kelas, dan hal itu semakin membuatku mundur teratur dari pertarungan tertutup di antara kami bertiga. Kubuang jauh-jauh rasa sukaku pada Radith dalam hari-hari terakhir di kelas dua. Hal yang tak mudah, mengingat ia adalah sosok pertama yang membuatku jatuh cinta.

Meskipun sekelas, kehadiran Radith seolah antara ada dan tiada bagiku. Itu mungkin cara ekstrem-ku untuk menyakiti perasaan sendiri. Dan sejauh ini caraku cukup berhasil. Begitulah, hingga pada akhirnya saat kenaikan kelas, aku berhasil masuk dalam jajaran lima besar di kelas. Radith sempat menyalami dan memberi ucapan selamat padaku. Itulah satu-satunya komunikasi yang sempat tercipta di antara kami, selama setahun kebersamaan sebagai teman sekelas, sebelum aku dan Radith berpisah. Radith masuk kelas 3A, dan aku terdampar di 3B. Otomatis setelah itu, aku tak pernah lagi menikmati senyum indah Radith. Senyuman yang tanpa seijinku mampir ke dalam mimpi-mimpiku, walau bersusah payah berusaha kuenyahkan. Senyuman manis yang tanpa sadar sering kurindukan…

End Flasback

* * *

“Ciyeee, yang habis ngelihat pameran. Gimana acaranya? Bagus?” tanya Niel, ketika beberapa hari berikutnya ia kembali ke rumahku bersama Miko minus Om Theo, tentunya. Dan seperti kebiasaannya setiap kali datang, Niel akan meraih toples berisi kacang goreng-ku, dan menghabiskan isinya. Sementara Miko, si bocah pirang itu, kali ini asyik dengan buku mewarnainya. Ia tampak begitu terampil mewarnai objek di dalam buku tersebut. Sesekali ia meminta pendapat sang Papa mengenai warna yang ingin ia gunakan. Aku hanya tersenyum menyaksikan ulah mereka sambil sibuk sendiri mencari channel  televisi yang menyajikan siaran bagus.

“Bagus banget. Kak Rizkie membelikanku sebuah lukisan Benny Borneo. Objeknya matahari saat hampir tenggelam. Tuh, kugantung di ruang keluarga,” aku menunjuk dengan dagu.

“Oh, yang itu? Aku tadi sempat melihatnya,” balas Niel sambil memilihkan warna yang tepat untuk objek gambar Miko.

“Lalu? Gimana menurutmu?”

“Bagus, pantas saja kamu begitu mengidolakan pelukisnya,” aku tersenyum. Tapi sejurus kemudian senyumku lenyap ketika teringat kembali kejadian sepulang menghadiri pameran lukisan tersebut. Untunglah Niel tak sempat memperhatikan perubahan air muka-ku.

“Nay…,”

“Hmmm?” aku bergumam sambil menyamankan posisi di sandaran kursi.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, dan aku sangat berharap jika kamu akan jujur menjawabnya,” pinta Niel.

“Tentang apa?”

“Tentang perasaanmu. Apa rasa yang kamu miliki terhadap Radith masih sama seperti tujuh tahun yang lalu?” aku tersentak. Beberapa hari yang lalu Niel sudah menanyakan hal yang sama. Apa dia masih kurang puas dengan jawaban yang kuberikan?

“Ngapain lagi sih kamu tanyakan hal basi kayak gitu, Niel? Semuanya cuma masa lalu dan akan tetap jadi bagian masa lalu. Aku tak ingin lagi terperangkap dalam harapan semu,” elakku.

“Jangan salah paham dulu, Nay. Aku hanya ingin membantu menyatukan kamu dan Radith,” sanggahnya.

“Niel, dengar! Sampai saat ini sepengetahuanku Radith adalah lelaki normal yang tak mungkin memiliki perasaan lebih padaku. Ingat ceritaku tentang Carol? Tak cukupkah itu sebagai bukti bahwa Radith lelaki straight? Aku tak menemukan sedikit saja pertanda bahwa Radith pernah menyukaiku. Oke, aku memang pernah bilang kalau dulu aku sering mergokin dia mencuri pandang padaku, tapi itu mungkin hanya perasaanku saja, Niel. Aku saja yang ge-er,” tukasku lagi.

“Aku yakin dia memiliki perasaan yang tak jauh berbeda denganmu,”

“Atas dasar apa kamu menyimpulkan begitu?”

“Nay, hanya karena kau pintar, maka bagimu segala sesuatu harus memiliki dasar? Aku bilang begitu berdasarkan kesimpulanku atas ceritamu. Kalian itu saling mencintai, tapi terlalu ragu untuk mengungkapkan perasaan sendiri,” papar Niel. Aku terbahak dan membuat Miko sejenak menghentikan kegiatan mewarnai yang sedang ia tekuni. Ia menatapku dan Papa-nya dengan raut penuh tanya. Niel mengusap rambut si bocah pirang itu sambil membisikkan kata-kata dalam bahasa Perancis yang tak kuketahui artinya, namun sukses membuat si bocah melanjutkan aktivitasnya.

“Ayolah, Niel. Jangan membuatku tertawa. Belum genap seminggu kamu kenal Radith, paling banyak juga cuma dua tiga hari. Aku saja yang pernah setahun sekelas dengannya tak pernah tahu isi hatinya. Apalagi kamu. Lupakan ceritaku tentang Radith, ya? Dia bagian ma-sa la-lu-ku, Niel,” aku memberikan penekanan pada kata masa lalu itu.

“Kamu bisa saja lebih lama mengenal Radith disbanding aku, Nay. Tapi aku bisa mengetahui perasaannya dengan cepat karena aku lebih peka darimu. Kamu tahu bagaimana caranya aku mengetahui perasaan Radith padamu?” aku menggeleng. “Radith sendiri yang mengutarakan hal itu ketika menelponku tempo hari, Nay. Ketika ia menerima Carol dulu, ia hanya ingin tahu reaksimu. Ia begitu kecewa karena mengira kamu bersikap biasa-biasa saja saat itu. Kamu sempurna memainkan wajah tanpa ekspresimu ketika itu, sob. Sampai-sampai Radith tak melihat luka di parasmu. Dan kamu tahu apa yang menyebabkanmu tak pernah tahu perasaan Radith sampai saat ini? Karena kalian tak pernah berusaha membangun jembatan komunikasi satu sama lain. Kalian hidup dalam asumsi masing-masing. Kamu cukup puas memujanya dari kejauhan, begitu pula Radith. Kamu bahkan menghukum dirimu sendiri hanya karena perasaan malu-mu demi mengetahui rahasia terbesarmu diketahui orang lain. Aku memang belum pernah patah hati, Nay, tapi aku memahami perasaanmu. Sadarkah kamu sekarang bahwa berpuluh-puluh tahun kebersamaanpun takkan memberi petunjuk apapun jika kamu tak pernah bertanya?” aku terdiam. Aku mengakui kebenaran ucapan Niel dalam kediamanku tanpa sanggup membantah. Memang, hanya secuil info yang kuketahui tentang Radith. Tapi, ah…, untuk apa memikirkannya lagi? Bukankah itu sudah tujuh tahun berusaha kukubur? Waktu selama itu pasti bisa merubah segalanya. Dan Radith, jika benar ia sama sepertiku dalam orientasi seksual, mana mungkin tak ada satupun makhluk Bandung yang mampu membuatnya bertekuk lutut?

“Radith mencintaimu, Nay. Ya, sejak pertama kali ia memandangmu ketika kalian mulai sekelas. Dia menyesal terlambat menyadari perasaannya padamu. Saat itu, dia hanya mampu menerka-nerka perasaanmu padanya. Tiap liburan semester, ternyata dia selalu menyempatkan diri untuk kembali ke kota ini, dan mengunjungi SMP kalian dulu, karena ia berharap akan bertemu denganmu. Tujuh tahun lamanya hingga hari ini, ia belum membuka hatinya untuk yang lain, Nay, karena dia menunggumu. Dia juga cerita kok tentang Carol. Tahu gak, setelah kamu pulang, dia langsung ke toilet, mencuci muka berkali-kali agar peristiwa jadian mereka itu lenyap dari bayangannya. Ia berharap saat itu kamu yang menembaknya, Nay, bukan Carol,” papar Niel yang sukses membuatku mendadak gagu.

“Apa yang harus dilakukan Radith untuk meyakinkanmu akan perasaannya, Nay? Dengarkan aku, jangan biarkan ego-mu menguasai jalan pikirmu hingga membuatmu kehilangan cinta yang kamu nantikan. Jangan lagi memangkas perasaan itu, Nay, karena kamu tak sendirian memilikinya. Radith juga memiliki rasa yang sama,” aku masih terdiam. Kali ini aku berpikir bahwa aku patut memeriksakan pendengaranku karena aku masih kurang mempercayai apa yang baru saja kudengar. Remote televisi yang sejak tadi kupegang terlepas dari tanganku. Kutatap Niel dengan pandangan campur aduk. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa tak ada yang salah dengan pendengaranku. Radithya Syah Pahlevi mencintaiku!

Entah berapa lama aku terpekur dalam diam. Niel yang seolah bisa membaca pikiranku memberi kesempatan padaku untuk berpikir. Aku mencoba mempelajari perasaanku. Jujur, aku bahagia mendengar ucapan Niel tentang perasaan Radith, tapi pada waktu bersamaan, ada perih yang merajam hatiku. Bagaimana dengan Kak Rizkie?

Teringat lelaki itu, aku bergegas meraih telepon genggamku yang tergeletak di atas karpet kotak-kotak di ruang tamu. Tergesa kucari nama Kak Rizkie dan menghubunginya. Aku tak peduli tatapan bingung Niel yang tak mengerti dengan apa yang kulakukan.

Rasanya lama sekali menunggu Kak Rizkie mengangkat panggilanku.

“Assalamu’alaikum, Manis. Ada apa?”

“Wa’alaikum salam. Maaf, Kak, Nay jadi ngeganggu. Hmmm, bisa kita ketemuan malam ini di kantin kampus, Kak? Kakak tunggu aja di sana, nanti aku yang nyamperin,”

“Baiklah. Ada apa, sih? Bikin penasaran aja. Kebetulan Kakak ada kuliah nanti jam delapan. Gimana kalau Kakak sekalian jemput Nay jam tujuh? Jadi kita punya waktu sejam untuk bicara?” tawar Kak Rizkie.

“Boleh, Kak. Ya udah, Nay tunggu ya? Assalamu’alaikum,” aku mengakhiri pembicaraan setelah Kak Rizkie menjawab salamku. Kejap berikutnya, aku menghenyakkan pantat di samping Niel sambil menghembuskan napas panjang. Mengisi rongga dadaku yang mendadak kekurangan udara.

“Kenapa sih, Nay?” Niel bingung.

“Masih ingat ucapanmu tempo hari?” aku balik bertanya.

“Yang mana satu? Seingatku beberapa waktu yang lalu aku sudah bicara banyak, jadi aku tak ingat satu persatu,” kutinju lengan mulus Niel yang terbungkus T-shirt putih ketat itu perlahan karena tahu dia sedang mengolokku.

“Soal kemungkinan Kak Rizkie menaruh hati padaku,” sahutku, pelan. Kini giliran Niel yang terperangah.

“Jadi benar?” aku mengangguk. Tak ada gunanya menyembunyikan hal itu dari Niel. Ia seperti Sherlock yang selalu mengetahui dimana ada kasus yang sedang terjadi.

“Kemarin, sepulang melihat pameran kami mampir di tempat makan favorit kami selama ini. Di sana Kak Rizkie bilang kalau ia menyayangiku lebih dari seorang adik. Dia mencintaiku, Niel. Dia tak memintaku jadi kekasihnya. Belum. Tapi dia menanyakan apakah di hatiku ada ruang untuk ia masuki. Aku tak bisa menjawab apa-apa, Niel, apalagi Kak Rizkie tak meminta jawabanku hari itu juga. Aku jadi bingung sendiri. Aku menyayangi Kak Rizkie. Selama ini dia selalu ada buatku. Seandainya aku bilang aku gak punya perasaan apa-apa padanya, apa dia akan menerimanya? Apa perlakuannya padaku jika kutolak, akan masih tetap sama?”

“Kamu lebih mengenal Kak Rizkie ketimbang aku,” Niel menggeser posisi duduknya sehingga ia bisa menatap wajahku.

“Lantas?”

“Itu artinya kamu sudah mengenal dia dengan baik. Setahuku, Kak Rizkie adalah pria dewasa. Walaupun usianya masih muda, namun cara ia berpikir dan bertindak selama ini menunjukkan kematangan sikap seorang pria dewasa. Katakan saja terus terang padanya kalau memang kamu tak memiliki perasaan lebih dari sekadar saudara. Tak perlu menerimanya hanya karena kamu iba. Kak Rizkie menunjukkan kedewasaannya padamu dengan memberimu waktu untuk berpikir. Yakin aja, kalau dia benar menyayangimu, maka ia akan senang melihatmu bahagia meski bukan bersamanya,” Niel memegang kedua lenganku, seolah memberikan kekuatan untukku memutuskan apa yang terbaik menurutku. Aku menghela napas. Niel benar soal Kak Rizkie. Dalam hati aku memaki diri yang kelewat bodoh telah menyangka Kak Rizkie akan menjauhiku hanya karena aku menolak cintanya.

* * *

 Suasana di kantin kampus yang terletak di atrium timur terlihat sepi. Selain aku dan Kak Rizkie, hanya ada satu pasangan lain yang duduk di meja ke dua paling pojok kiri. Mungkin karena memang tidak banyak mahasiswa yang kuliah di malam ini, selain Kak Rizkie dan teman-teman sekelasnya. Atau mungkin, mahasiswa yang lain lebih senang menghabiskan waktu di kantin kampus yang berada di lantai dua, yang tentunya lebih lengkap. Aku tak peduli. Justru aku menyukai suasana adem di sini. Ketika akhirnya pasangan di pojok itu meninggalkan kantin, otomatis hanya aku, Kak Rizkie dan Mang Asep, sang pemilik kantin yang tinggal.

Aku memesan segelas es teh, sedang Kak Rizkie memesan air mineral dingin. Mungkin menurutnya ini bukan saat yang tepat untuk memesan makanan. Lagipula aku yakin, Kak Rizkie tidak akan memesan makanan apapun di sini.

“Kenapa Nay gak pakai jaket? Cuaca malam ini begitu dingin, ntar sakit loh. Nih, pake jaket Kakak aja ya?” tanpa menunggu jawabanku, Kak Rizkie melepas jaketnya dan memasangkannya di bahuku. Hatiku mendadak pedih. Lelaki yang begitu penuh perhatian ini, hari ini duduk di depanku untuk mendengar sebuah penolakan. Ya Tuhan, apakah aku tega?

Aku memasukkan kedua lenganku di lengan jaket Kak Rizkie yang beraroma parfum kesayangannya. Kuhadiahkan sebuah senyum yang menurutku hambar sebagai ucapan terima kasih.

“Kak…,” ucapku terputus. Aku benar-benar tak kuat untuk meneruskan perkataanku.

“Nay kenapa? Kok jadi ragu begitu?” duh, kembali aku merutuki diri yang tak bisa bersikap senormal biasanya. Padahal Kak Rizkie bersikap biasa saja.

“Nay mau minta maaf, Kak,” akhirnya keluar juga kata-kata itu dari bibirku.

“Maaf untuk apa, Nay? Ih, adik Kak Rizkie ini kok jadi aneh gini, sih? Gak salah makan, kan?” aku hampir menangis ketika Kak Rizkie mengucapkan kata itu. Dia seolah melupakan bahwa malam kemarin ia menanyakan kemungkinan untuknya menempati hatiku. Untung saja aku masih mampu menahan tangis sebab Mang Asep datang mengantarkan pesanan kami. Sepeninggal Mang Asep, Kak Rizkie menggenggam jemariku. Matanya menatap tepat ke bola mataku.

“Dengarkan Kakak, Nay. Apapun yang ingin Nay katakan, maka katakan saja. Kakak sudah siap untuk mendengarkannya, sepahit apapun kemungkinannya. Nay tak perlu minta maaf sama Kakak, toh Nay tak salah apa-apa. Nah, sekarang Nay bilang ya, apa yang mau Nay sampaikan. Jam delapan nanti Kakak harus masuk kelas lho,” sempat-sempatnya Kak Rizkie bercanda, sehingga mau tak mau aku bisa sedikit tersenyum juga.

Dengan menarik napas panjang, aku mulai menceritakan semuanya pada Kak Rizkie.
Dari awal. Tentang perasaanku pada Radith, tentang perasaan Radith padaku, tentang aku yang tidak memiliki perasaan apapun padanya selain perasaan sayang seorang adik, tentang aku yang menolak secara halus dirinya untuk menempati satu sisi di hatiku dan masih banyak lagi. Kak Rizkie mendengarkan setiap patah ucapanku tanpa sedikitpun menyela. Dari dulu ia memang pendengar yang baik. Ketika selesai kuceritakan segalanya, kupandangi wajahnya dalam-dalam, mencoba mencari sedikit saja gurat luka di wajahnya. Mungkin Kak Rizkie terlalu pandai menyembunyikan perasaan sedihnya, sehingga aku tak menemukan apa-apa. Tidak rona sedih, ataupun kecewa. Hanya senyuman yang tersungging di bibirnya dan sinar mata yang tetap biasa di balik bulu mata lebatnya.

“Kenapa tidak dari kemarin kamu ceritakan, Nakal?” Kak Rizkie menjawil hidungku, seperti kebiasaannya kalau aku suka meng-isenginya. Aku ternganga. Ya Tuhan. Dari apakah hati laki-laki di hadapanku ini terbuat? Bagaimana mungkin ia masih bisa bersikap teramat biasa meski nyata aku menyakitinya. Bukankah tak ada yang lebih mengecewakan ketika seseorang yang dicintai menolak cinta yang kita tawarkan?

“Kak, bagaimana bisa Kakak bersikap begini? Yang Kakak dengar tadi bukan soal kekalahan Chicago Bulls dari Miami. Tapi yang Kakak dengar adalah sebuah penolakan. Pe-no-la-kan. Kok bisa ya Kakak masih bersikap sedemikian tenang seolah penolakan Nay bukan hal luar biasa bagi Kakak?” aku sendiri tidak tahu kenapa bisa protes begitu. Bukankah seharusnya aku senang bila Kak Rizkie tidak mempermasalahkannya?

“Lalu Nay ingin Kakak bersikap bagaimana? Marah? Atau tetap ngotot supaya Nay menerima Kakak dan melupakan perasaan Nay pada Radith? Begitu? Tidak, Adikku sayang. Kakak memang mencintai kamu, lebih dari perasaan seorang kakak terhadap adiknya. Tapi Kakak juga tak ingin kamu menerima Kakak dengan perasaan tak enak, takut menyakiti atau apapun alasan lainnya. Cinta itu bagi Kakak adalah bila orang yang Kakak cintai bahagia, walau mungkin bukan Kakak yang memberikan kebahagiaan itu. Coba pikir, untuk apa Kakak malam ini marah padamu hanya karena kamu berkata jujur tentang semua ini? Tak ada gunanya, kan? Toh, jadi atau tidaknya Nay sebagai kekasih Kakak tak merubah apapun. Jika akhirnya Nay memilih Radithpun, Nay tetap masih adik Kak Rizkie, kan? Lantas, apa yang harus Kakak kesalkan?” aku menggeser kursi yang kududuki dan bergerak merangkul Kak Rizkie. Tangisku pecah dalam pelukannya. Aku tak peduli tatapan heran Mang Asep dari bilik dapurnya. Kurasakan Kak Rizkie balas memelukku erat seraya mengusap rambutku. Ya Tuhan, siapapun nantinya yang akan mendampingi kakakku ini, maka pastikan bahwa orang itu adalah manusia berhati malaikat.

Entah berapa lama aku berada dalam posisi seperti itu. Seolah tak ingin melepaskan diri dari pelukan Kak Rizkie. Namun pada akhirnya Kak Rizkie yang berinisiatif melepaskan pelukannya. Dengan punggung tangan, di sekanya airmata yang mengalir deras menuruni pipiku.

“Jangan menangis lagi, ya ? Malu dong, udah tahu pacaran masih aja nangis,” mungkin memang tak banyak orang yang akan membuatku menangis dan tertawa dalam satu waktu. Di antara yang sedikit itu, Kak Rizkie adalah salah satunya. Aku benar-benar tertawa di antara sisa isakku.

”Kakak jahat. Masih aja suka godain aku, ” sungutku.

“Kan belum ada yang ngelarang seorang kakak godain adiknya. Kalau Radith ngelarang, Kakak bilang aja dia nggak boleh jadi adik ipar Kak Rizkie,” di ujung perkataannya, Kak Rizkie terkekeh. Aku kembali merangkul pinggangnya. Menikmati hangat dekapannya. Niel benar. Kak Radith adalah pria dewasa. Ya, lagi-lagi Niel,  sahabatku itu benar.

***

Mendung bergelayut manja di tirai langit ketika langkah perlahanku terhenti di pintu gerbang masuk SMP Negeri 1 Bengkong Polisi ini. Sekolah menengah pertama-ku dahulu. Kuedarkan pandanganku berkeliling, mengamati bentuk sekolahku yang tak terlalu banyak berubah. Pohon-pohon cherry yang menaungi jalanan beraspal tempat kami biasa apel pagi sudah tak ada lagi. Seingatku, sejak aku kelas tiga SMP pun pohonnya sudah di pangkas sebagian.
Kuhirup nafas dalam-dalam. Memberi udara pada rongga dadaku yang mendadak menyempit. Hari ini, aku dan Radith berjanji untuk bertemu. Ya, kemarin malam Radith memang menelponku setelah ia meminta nomor hp-ku dari Niel. Aku masih ingat suasana kikuk dalam nada suara kami masing-masing ketika berbicara di telepon. Untung saja, Radith lebih cepat menguasai perasaannya sehingga kami bisa bicara lancar dan akhirnya memutuskan untuk bertemu di sini.

Kulirik arloji mungil yang melingkari tangan kananku. Sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang ditentukan, namun aku belum melihat ada sosok lain selain aku dan bayanganku sendiri. Kulirik juga pintu pagar yang terkunci. Hemmm, para siswa sedang libur pastinya. Tak mungkin aku nekat memanjat pintu pagar seperti yang pernah kulakukan dulu. Ya, dulu aku memang selalu datang paling awal ke sekolah, sehingga begitu mendapati pintu pagar belum terbuka aku langsung menyusun ancang-ancang dan beraksi ala Spiderman.

Akhirnya kuputuskan untuk duduk meluruskan kaki di samping pintu pagar, berhadapan dengan gedung Indosat yang berdiri megah. Tak kupedulikan pandangan heran beberapa karyawan yang menatapku penuh tanda tanya. Aku juga tak peduli celana panjang yang kukenakan akan dihiasi remah-remah dedaunan kering. Aku duduk bersandar di pagar sambil menimbang-nimbang hp di tangan.

Tak lama, sebuah Grand Vitara putih susu terlihat berhenti tepat di pintu pagar. Aku hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan keasyikanku. Tapi aku sungguh tak menyangka jika sang empunya mobil melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di depanku yang seperti orang kurang kerjaan.

“Nay?” aku mendongak. Jantungku hampir copot mendengar suara itu. Aku kenal dengan baik, bahkan hapal di luar kepala aksen itu. Radith. Sontak aku berdiri dan agak sempoyongan memegang bahu pagar. Kuperhatikan sosok pria di hadapanku itu. Tak ada yang tersisa dari Radith yang kukenal masa SMP dulu. Aku sempat ragu apakah benar ini Radith yang pernah kucintai dulu, dan sekarang tentunya.

“Ka…kamu Radith?” aku lagi-lagi mengutuk diriku sendiri yang jadi salah tingkah begini. Pria itu mengangguk. Kupicingkan mata mengamatinya sebaik mungkin. Kepalaku agak menggeleng, berusaha meyakini penglihatanku sendiri. Pria yang berdiri di hadapanku ini terlihat jangkung, mungkin hampir mencapai 180 centi. Rambutnya lurus dan belah tengah, jauh beda dengan Radith dulu yang tak jelas model rambutnya. Kulitnya putih, dan satu-satunya yang membuatku yakin dia adalah Radith adalah matanya, juga kacamata yang tak pernah lepas darinya.

Entah siapa yang memulai, tanpa kusadari aku sudah berada dalam pelukan Radith. Tinggiku yang hanya seukuran dadanya melekat erat dalam dekapan. Tanpa terasa, ada sesuatu yang bergulir di mataku. Airmata. Ya, aku menangis. Yang pasti tangisan itu bukanlah tangisan kesedihan, melainkan tangis bahagia. Siapa yang menyangka, setelah sekian lama, waktu akhirnya mempertemukan kami, dan menyatukan hati kami?

Radith akhirnya melepaskan pelukannya. Dipeganginya kedua lenganku seraya menatap tajam ke dalam bola mataku. Aku terpaksa mendongak untuk menatap wajahnya.

”Aku mencintai kamu, Nay. Dari dulu perasaan itu tak pernah berubah, malah kian bertambah. Aku minta maaf jika terlambat menyadari perasaanku sendiri. Aku ingin kamu jadi satu-satunya orang yang menempati hatiku. Cuma kamu, Nay,” aku tertawa dalam isakan yang tersisa. Aku tak perlu menjawab apapun, karena bahasa tubuhku telah menjelaskan semuanya. Yang kulakukan hanyalah kembali merapatkan kepalaku di dadanya. Menikmati irama jantungnya yang begitu tenang.

Tanpa aba-aba, titik air seolah tumpah dari langit. Hujan turun dengan ritme yang awalnya perlahan hingga semakin deras dan deras. Radith masih mendekapku erat ketika kami sama mendongak, membiarkan tikaman hujan membasuh wajah kami berdua. Kami tertawa bersama. Radith menudungi kepalaku dengan kedua tangannya, meski aku tahu itu tak akan membuat aku terlindung dari cecaran air langit itu.

”Bagaimana kalau kita tinggalkan mobilmu di sini dan berjalan menyusuri tempat ini di bawah hujan?” tawarku dengan senyum sumringah. Radith menggamit jemariku.

”Kenapa tidak? Itu satu di antara sekian banyak hal yang ingin kulakukan bila kamu bersedia menjadi pacarku, Nay. Jangankan memintaku berjalan, menggendongmu saja aku mau,” sahut Radith. Aku tergelak. Kulepaskan tangannya dan berjalan mundur menjauhinya. Dalam jarak beberapa langkah, kurentangkan tanganku dan memutar tubuhku di bawah serbuan hujan yang makin menggila. Radith menghampiriku, melingkarkan tangannya di pinggangku, dan menundukkan kepalanya hingga kepala kami saling beradu.

”Jadi bagaimana, Nayaka Al Gibran Santana? Bersedia menjadi pacar dari seorang Radithya Syah Pahlevi?” lagi-lagi aku tergelak. Sejak kapan siswa pendiam itu menjadi pria romantis seperti ini. Tapi tanpa sadar aku mengangguk. Tak ingin lagi membohongi perasaanku.

”Baiklah. Dengarkan aku, Radithya Syah Pahlevi. Aku, Nayaka Al Gibran Santana bersedia menjadi pacarmu. Apakah itu cukup ?”

Finish

 

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga aku membuat cerita ini. Hahaha, ini untukmu Nay. Makasih sudah membuatku kalah dalam tantangan, padahal aslinya aku hanya mengalah, loh *ngeles.

Ini memang jauh dari sempurna, dan aku menyadari begitu banyak kekurangannya ketika aku mengetik naskah ini dalam kondisi super ngebut, hehehe. Banyak typo di sana-sini, minim konflik, karena aku cukup gerah juga dengan cerita yang selalu beujung nestapa, maka biarlah sesekali kubuat yang happy ending, plakkk…

Akhir kata, kupersembahkan karya ini untukmu: Nayaka Al Gibran. Maaf jika ada bagian yang tak berkenan, hehehe. Kau bisa ambil Radith-nya, tapi sisakan Niel dan Miko buatku yak?

Oh iya, terimakasih juga buat teman-teman yang sudah membaca dan memberi komentar pada dua biji karya tak seberapa-ku sebelumnya. Salam kenal dan kompak selalu ya? Ada lagi yang mau menantang taruhan, macam Nayaka ini? Hahaha…*digampar…