Sekejap Ucap

hmmm…. cerpen ke-dua. ini sebenarnya cerpen yang aku ikutkan ke lpmba menulis cerpen anak. tapi gagal.🙂 hmm… ternyata membuat cerita anak bukan pekerjaan gampang, apalagi kita sudah lama meninggalkannya.

kalo ada yang bertanya koq nama tokohnya Taqiy? nyaris sama dengan Taqiyosky (Bahasa Tanpa Kata), hehehe ini memang tokoh yang sama. ini kehidupan saat Taqiyosky masih kecil di Surabaya.

well, please enjoy😀

Kembang Api Taqiy

Oleh Desem

Suing …. Dar… dar … duar….

Kembang api meletus bersahut-sahutan memenuhi langit Surabaya malam itu. Membuat pemandangan kota Surabaya yang elok semakin ceria. Apalagi tiga hari lagi hari raya Idul Fitri, tentu indahnya kembang api semakin melengkapi kebahagiaan menyambut hari kemenangan..

Hmmm…. Keren banget! Aku pengen beli kembang api. Entar aku nyalain saat malam takbiran. ” gumam Taqiy pelan.

Semoga besok dapat uang saku banyak” harap Taqiy. Besok Mama menyuruhnya untuk unjung-unjung ke sanak saudara. Sudah menjadi tradisi masyarakat Surabaya dan sekitarnya untuk mendatangi sanak saudara sebelum Hari Raya Idul Fitri. Biasanya yang mendatangi anak-anak sambil membawa oleh-oleh. Setelah itu mereka akan mendapatkan uang saku dari sanak saudara yang didatangi.

# # #

Ma… udah siap belum?” tanya Taqiy tidak sabar.

Ni udah siap” jawab Mama dari dapur.

Taqiy berlari ke dapur menyambut bingkisan yang disiapkan mama. Dia sudah tidak sabar untuk segera unjung-unjung ke rumah sanak saudara.

Ini untuk Ako Firda dan Suk Herman. Kalau yang ini untuk Akong dan Amak” Mama memberikan penjelasan singkat tentang bingkisan yang harus diantar Taqiy.

Siap bos,” sambut Taqiy bersemangat. Setelah mencium tangan Mama, Taqiy segera bergegas ke depan menyusul Koko Ali, kakak laki-laki satu-satunya yang akan mengantarkannya unjung-unjung ke rumah sanak saudara.

Ke mana dulu?” tanya Ko Ali.

Ke rumah Ako Firda dulu Ko…” jawab Taqiy bersemangat. Biasanya Ako Firda dan Susuk Herman akan memberikan uang saku yang cukup besar. Tahun lalu saja dia dapat dua puluh ribu dari Ako Firda, eh tiba-tiba pas Suk Herman datang, Suk Herman menambahkan tiga puluh ribu. Jadi genap lima puluh ribu.

Mereka pun segera meluncur menuju rumah Ako Firda dan Suk Herman yang tidak jauh dari kampus C Universitas Airlangga.

Assalamualaikum Ako… “ sapa Taqiy ceria sambil memberikan bingkisan yang dibawanya ke Ako Firda.

Wa alaikumussalam sayang.” Balas Ako Firda. “ke sini mbek siapa sayang?”

Mbek Ko Ali. Koq sepi ya Ako? Suk Herman ke mana?” ada nada kecewa, Suk Herman nggak ada, bisa-bisa angpao lebarannya kurang untuk beli kembang api.

Ooo …Susukmu lagi ke Ngawi njemput Ce Nisa” jawab Ako Firda.

Ya udah Ako, aku pamit dulu.”

Eh tunggu angpaonya dulu..,” seru Ako Firda. “Yang hijau untuk Taqiy, yang biru untuk Koko Ali. Jangan ketukar ya…” Ako Firda menyerahkan dua amplop bergambar ketupat dan bedug, satu berwarna hijau dan satu berwarna biru.

Iya Ako, Kamsia ya Ako. Assalamualaikum..”

Waalaikumussalam”

# # #

Selepas Shalat isya’ dan Shalat terawih, Taqiy langsung bergegas ke kamarnya. Dengan penuh semangat dia menghitung jerih payahnya unjung-unjung ke rumah sanak keluarga hari ini. Hmmm dapat berapa ya?

hmm… cuma lima puluh lima ribu… padahal kembang apinya tujuh puluh lima ribu” gumam Taqiy kecewa. Ako Firda hanya memberi sepuluh ribu, padahal biasanya dua puluh ribu. Suk Herman juga nggak ada di rumah. Anggota keluarga yang lain juga nggak memberi banyak. Rata-rata sepuluh ribu. Hanya Akong yang ngasih dua puluh ribu rupiah.

Aha…. “ tiba-tiba Taqiy ingat sesuatu. Dirogoh kembali celana panjanganya yang ia pakai tadi siang untuk unjung-unjung.

Hmm….” matanya berbinar-binar melihat amplop biru yang seharusnya dia serahkan ke Ko Ali.

Tapi kan ini buat Ko Ali…” bisik hatinya.

Ah cuma liat doang koq. Cuma mau tau Ko Ali dapat berapa dari Ako Firda.” Bisik hatinya yang lain. Dibukanya amplop biru itu.

wow… noban…” teriak Taqiy tertahan.

Hmmm enak banget ya jadi Ko Ali, cuma ngantar aja dapat dua puluh ribu. Padahal kamu yang berat-berat membawa bingkisannya cuma dapat sepuluh ribu dari Ako Firda.” Bisik hatinya yang jahat.

Iya ya…” Taqiy setuju.

Kayaknya Ko Ali nggak bakal tau kalo dia dapat angpao dari Ako Firda. Ambil aja.” bisik hati yang jahatnya provokatif.

Iya… lagian Ko Ali kan udah besar. Masak dapat angpao terus..” jawabnya mengiyakan.

Hey… tetap aja kan itu punya Ko Ali…” teriak hatinya yang baik.

Nggak usah dengerin dia. Ambil aja!” bisik hatinya yang jahat.

Jangan Taqiy. Itu namanya sama aja dengan korupsi. Percuma aja lho kamu lapar-lapar puasa. Cuma dapat lapar dan haus doang.”

Iya ya… entar nggak dapat pahala dari Allah.” Taqiy mulai ragu.

Udah nggak usah dengerin dia. Toh Ko Ali nggak akan marah kalo kamu ambil. Ko Ali kan sayang banget ma kamu” hatinya yang jahat terus memprovokasi.

Jangan Taqiy! Kamu nggak mau masuk neraka gara-gara jadi koruptor kan? Neraka itu panas lho, dan penuh dengan penjahat. Kamu nggak mau kan jadi penjahat kan?”

Hmm… iya. Ini punya Ko Ali, akan aku berikan ma Ko Ali. Ini bukan hakku. Aku nggak mau puasaku sia-sia dan masuk neraka gara-gara korupsi.”

Kalau kamu kasihkan ke Ko Ali, kamu nggak bisa beli kembang api lho…” pancing hati jahat nggak mau nyerah.

Nggak! Aku nggak mau masuk neraka gara-gara kembang api haram!” tegas Taqiy.

Bagus Taqiy… jangan dengerin dia. Sekarang kamu berikan angpao itu ke Ko Ali” seru hati baik gembira. Taqiy segera berlari keluar kamarnya menuju kamar Ko Ali dan memberikan Amplop biru itu ke Ko Ali.

# # #

Allahu akbar … Allahu akbar Allahu akbar. Laa ilaha Illa Allahu Allahu Akbar. Allahu akbar, wa lillahi Ilham.” takbir memenuhi Surabaya malam itu. Taqiy, Ko Ali, Papa dan Mama serta sanak saudara yang lain kumpul di rumah Engkong.

Tiba-tiba meluncur Panther putih ke halaman rumah Engkong. Ako Firda dan Ce Nisa keluar. Tapi mana Suk Herman? Ooo itu dia Suk Herman. Dia datang membawa bingkisan. Apa ya kira-kira isinya

Nah ini untuk Ko Ali, ini untuk Taqiy” kata Suk Herman sambil memberikan bingkisan dengan bungkus merah ke Taqiy dan Ko Ali. Apa ya kira-kira isinya.

Dengan penuh semangat Taqiy segera membukanya. Dan ternyata isinya adalah Kembang api yang gede banget. Taqiy sangat senang dan segera membawanya ke Koko Ali. Lalu minta bantuan Koko Ali untuk menyalakannya.

Suing….. dar… dar… duar…. Suing….. dar… dar… duar…. Duaaaarrr…..

Akhirnya keinginan Taqiy terkabul, dia mendapatkan kembang api yang ia inginkan tanpa harus korupsi angpao. Taqiy bahagia sekali malam ini.

# # #

Keterangan:

Koko = Kakak Laki-laki.

Ako = saudara perempuan ayah

Mbek = ambek = dengan

Susuk = Oom.

Kamsia = terima kasih.

Noban = dua puluh

Cece = kakak perempuan