By: Desem aka Deffan Septian Muharram aka Kak Ilam

Cuap-cuap

Cerita ini hanya fiktif, luapan dari imaji-imaji kriminilku. Ya beginilah kalau nganggur terlalu lama, membuat otak jadi aktif memikirkan hal-hal yang paling bertentangan dengan keseharian. Hal ini pula yang mendukung salah satu hipotesis bahwa manusia itu akan selalu cenderung untuk sibuk, jika ia tidak sibuk dengan kebaikan maka akan sibuk dengan keburukan.

Untungnya aku punya mekanisme pembelaan ego (Ego Defense Mechanism) yang cukup bisa diandalkan, salah satunya adalah sublimasi, sehingga aku bisa menyublim niat-niat jahatku menjadi sebuah tulisan. Ya, walaupun tentu tulisan ini masih sangat jauh dari kata excellent. (tentang MPE, kalau ada kesempatan akan kita bahas satu-satu)

Well, buat para Haikalizer, sorry banget ya, aku mendahului kalian menculik dia hehehe. Nggak tahan pengen nggigit pipinya yang gembil, apalagi pas dia ngomong dengan EYDnya (baca: Ejaan Yang DiHaikalkan).

Buat-buat bapak-bapak maupun ibu-ibu, serta siapa saja, ingat kata bang napi, kejahatan tidak hanya karena niat, tapi juga karena ada kesempatan.
Be watch!

Menculik Haikal

Kupandangi foto di tanganku. Sesosok bocah kecil berpipi gembil, berambut ikal. Sungguh menggemaskan. Pantaslah jika banyak yang menginginkan bocah ini. Tapi itu bukan urusanku. Urusanku adalah mengambil dan menyerahkan kepada orang yang membayarku. Aku butuh duit.

Sesuai dengan informasi yang kudapatkan, hari ini adalah hari yang tepat untuk mengambilnya. Dan sekarang, bocah menggemaskan itu berada sepuluh meter tepat di depanku. Dia bersama dua orang pemuda. Keduanya memakai kaca mata. Salah satunya pasti kakaknya. Entah yang lain. Yang mana kakaknya, aku tak terlalu peduli. Bukan urusanku. Urusanku hanya pada bocah berpipi gembil itu.

Haikal, lima tahun, begitu informasi yang kudapatkan bersama dengan foto yang kugenggam. Dialah targetku hari ini.

Maaf bocah, tapi kau lah satu-satunya harapanku. Tiga juta kurasa cukup untuk bocah senggemisin kamu, dan tentunya cukup untukku hidup beberapa bulan serta bayar biaya Ujian kompetensi. Sekali lagi maaf bocah, aku terpaksa,aku butuh duit. hmm beginilah kita hidup di jaman sekarang yang serba duit. jangankan ujian kompetensi, undang-undang dan peraturan pun bisa jadi komoditas.

Dengan sabar kuamati mereka bertiga, si bocah berpipi gembil bersama dua orang pengawalnya. Mencari saat yang tepat untuk mengambil bocah itu. (aku lebih suka menggunakan kata mengambil daripada menculik, kalau menculik itu sepertinya terlalu menakutkan, hehehe). Mereka sedang menikmati junk food yang mereka beli.

Sepuluh menit berlalu, dan kesempatan itu belum juga datang. Kuputar otakku (ini hanya kiasan, bisa mati aku kalo memutar otak sungguhan. Lha bergeser sedikit saja bisa fatal, apalagi berputar), aku mulai berfikir untuk menciptakan kesempatan bukan hanya menunggu tanpa kepastian. Seperti yang didengung-dengungkan para motivator itu, bahwa kesempatan itu bisa diciptakan.

Aha… aku ada ide.

“Boleh…?” tanyaku mengusik konsentrasi makan mereka. Ketiganya memandangiku dengan tatapan bertanya-tanya. Mungkin belum paham maksudku. Kutegaskan maksudku dengan menunjuk kursi kosong yang tidak mereka pakai sambil menyuguhkan senyum terbaikku. Barulah mereka tahu bahwa aku ingin duduk bergabung dengan mereka.

“Silahkan…” jawab salah satunya tanpa berfikir panjang. Sementara pemuda satunya meliriknya tajam, tanda ia tidak setuju. Sementara si bocah gembil menatapku dengan matanya yang bundar. Lalu ia tersenyum menggemaskan.

“Thanks. Ramai banget, sampai-sampai nggak ada kursi kosong,” ujarku menjelaskan.

“Cama-cama…” sahut si bocah gembil mendahului kedua pengawalnya. Mulutnya mulai belepotan oleh saus merah yang dicolek-coleknya dengan paha ayam.

“Hmmm, ngomong-ngomong kakak ini…” ucap pemuda yang dari tadi merengut, memandangku dengan curiga. Sekejap aku merasa keder.

“Oh iya, kenalin saya Muharram…” ucapku sok hangat. Moga-moga mereka nggak curiga.

“Oh kebetulan sekali. Nama saya Syawal…” jawab pemuda yang ramah. Dia tersenyum hangat. ”Ini adek saya Haikal…” dia menunjuk si bocah gembil.

“Ikal…” ucap bocah gembil setengah kesal. Tampaknya dia ingin memperkenalkan dirinya sendiri. Bocah yang cerdas, bisa jadi nilai tambah untuk nego nanti.

“Dan dia…” lanjutnya mengambang.

“Ramadhan…” potong pemuda yang tidak ramah. Apa dia curiga padaku ya?

“Muharram, Syawal dan Ramadhan. Hmmm… what a wonderful name,” ucapku sok kagum.

“Mungkin kita berjodoh, makanya nama kita sama-sama bulan dalam kalender Hijriyah” sambungku. Akhirnya aku mensyukuri namaku. Dulu aku sering protes ke orang tuaku karena memberikan nama yang agak asing di telinga. Apalagi nama panggilanku dari teman-temanku yang terasa ganjil: Haram.

“Ikal, Kak Idan, Kak Ibal dan Kak Ilam…” sahut Haikal mengurutkan nama kami dengan EYD-nya, ejaan yang diHaikalkan. Ikal tentu namanya sendiri. Idan mungkin Ramadhan, Ilam mungkin itu aku Muharram. Tapi kalau Ibal? Mungkin Syawal. Mengapa bukan Iwal saja? Entahlah.

“Jadi nama baruku Ilam ya? Hehehe lucu juga,”

“he he he…” si Syawal tertawa renyah lalu tersenyum kembali semakin hangat. Sementara si Ramadhan masih merengut.

“Kakak mahasiswa ya?” tanya Syawal lagi. Hmmm pertanyaan yang sulit. Kalau kujawab iya, pasti lanjutnya jurusan apa semester berapa. Kalau kujawab nggak, ntar nyambung pertanyaan kerjanya apa. Sementara aku tidak kuliah sekaligus tidak kerja. Aku pengangguran. Dan tentu mereka akan lebih mudah menaruh curiga pada pria pengangguran seperti aku. Secara, pengangguran tuh adek tirinya kriminalitas.

“Kak…?” tanya Syawal mengangetkanku. Masih dengan senyum yang hangat. Sementara si Ramadhan terus saja merengut. Apakah dia tidak bisa tersenyum?
Dug…. meja kami terangkat sejenak.

“Auu…” bersamaan dengan itu si Syawal berteriak tertahan. Dia menoleh ke arah Ramadhan dengan pandangan bertanya. Sementara si Ramadhan menatapnya tajam. Sepertinya mereka sedang tidak akur, tapi ah… apa peduliku. Bukan urusanku,urusanku adalah H A I K A L.

“Aku ke toilet dulu…” Ucap Si Ramadhan ketus. Tampaknya dia ngambek dan benar-benar kesal dengan si Syawal. Kayak orang pacaran saja, pakai ngambek-ngambek segala.
Syawal melongo, menatap “pacar”nya yang kabur ke toilet. Mereka benar-benar tampak seperti sedang pacaran. Atau jangan mereka memang benar-benar pacaran? Secara hari gini gitu lho, cowok-cowok pada suka pada sesama. Lebih aman gitu katanya. Tapi sekali lagi, itu bukan urusanku. Urusanku hanya bocah berpipi gembil saja. Kecuali kalau ada yang order brondong. Tapi resikonya terlalu besar, lebih aman menculik bocah.

Tanpa harus mengambil pusing tentang kedua pemuda yang kuduga sepasang kekasih itu, aku segera menjalankan langkah strategi kedua: menjauhkan Haikal dari kedua pengawal setianya. Dan ini adalah saat yang tepat, mumpung pengawalnya tinggal satu orang saja.

“Mau es krim?” tanyaku pada Haikal. Tampaknya pancinganku berhasil. Matanya yang bundar tampak semakin membundar cerah. Dia menoleh ke arah Syawal. Syawal tampak agak keberatan.

“Nggak papa koq, itung-itung rasa terima kasihku dah di tampung hehehe…” segera kujelaskan sebelum dia benar-benar menggelengkan kepala. Dia menatapku lekat-lekat, lalu kembali tersenyum hangat. Jangan-jangan dia naksir aku? Makanya si Ramadhan ngambek.

“Eh eh… Ikal mau rasa apa?” tanyaku mengalihkan perhatian si Syawal. Jadi nggak enak dipandangi kayak gitu terus.

“Eeemm…. “ Haikal melirikan matanya ke atas, melihat atap, berfikir keras. Ah dasar anak-anak, milih rasa es krim aja mikirnya kayak mikirin soal ujian Anatomi . Tapi ekspresinya yang sok berfikir itu membuatnya tambah nggemesin.

“Atau ikal mau milih sendiri ma kak Ilam?” tanyaku. Langkah kedua semakin mendekati keberhasilan. Kalau aku bisa membawa Ikal menjauh dari kedua pengawal setianya, nyaris bisa dipastikan misiku berhasil.

“Boleh ya kak…?” tanya Ikal ke Syawal, tentu dengan nada merengek manja lengkap dengan puppy eyesnya. Hihihi tampaknya hari ini aku sedang beruntung, Tuhan memberkatiku.

Apa? Tuhan memberkati kriminalitas? Nggak salah?

Ah suara super ego yang mengganggu. Nggak usah didengerin.

“Kak Ibal mau lasa apa?” tanyaku menggunakan ejaan yang diHaikalkan. Semoga dengan jurus ini aku berhasil mengelabuinya.

“eh … eh … eh..” mendadak dia jadi gagap. Mukanya memerah. Apa dia beneran naksir aku? Ge er banget aku. Bukan saatnya aku mikirin hal-hal tidak penting itu. Aku harus segera mengambil Ikal sebelum Ramadhan yang ketus itu datang.

“Terserah Ilam saja…” jyaa… dia ikut-ikutan memanggilku Ilam.

“Yuk Ikal…” ajakku. Aku harus segera pergi dari pemuda ini. Dan Ikal pun langsung berdiri menyusulku. Kami segera menuju tempat es krim.

“Ikal mau rasa apa?” tanyaku.

“Mmm… Setlobeli aja kak. Campul coklat ya kak, campul dulian juga” kyaa… anak ini benar-benar cerdas, cerdas dalam membuatku bokek.

“Okey,” jawabku sok tidak keberatan. Padahal keberatan banget.

“Kalo kak Idan dan Kak Ibal, suka rasa apa?” tanyaku menggantung. Apa perlu aku belikan ya? Cukup nggak ya uangku?

“Mmm… “ dia mengangkat pundaknya. “Kak Idan dan Kak Ibal nggak usah kak, meleka jahat, cuka cuekin Ikal,” rajuknya menyelamatkan kantongku. Lagipula aku tidak bermaksud kembali ke meja mereka.

“Stroberi, campur coklat dan durian” pesanku pada mbak-mbak penyaji es krim. Kuawasi tempat duduk kami tadi. Ibal, (eh kenapa aku memanggilnya Ibal) maksudku Syawal masih sendirian. Ramadhan belum datang. Mungkin dia benar-benar kesal dan ngambek. Atau mungkin dia sedang konstipasi?

“Eh gimana kalo kita main petak umpet?” tanyaku pada Haikal yang sudah sibuk dengan es krimnya. Langkah ketiga kujalankan.

“Kak Ibal yang jadi setannya. Kita sembunyi duluan,” rayuku. Tampaknya dia semakin dalam masuk ke perangkapku. Thanks God… (Backsound: penjahat yang sok alim -,-‘)

“Ssttt…” segera kututup mulutnya sebelum dia berteriak karena senang. “Nggak boleh ramai-ramai, entar ketauan Kak Ibal, ayo kita segera sembunyi…” Ikal hanya mengangguk, matanya semakin berpendar cerah.

Dengan mengendap-endap, akhirnya kami berhasil keluar dari restoran cepat saji itu. Tanpa buang-buang waktu, aku segera menuju pintu ke luar mall.

Bruk… dug. Aku jatuh terduduk. Karena teburu-buru, aku menabrak sesosok tubuh gempal. Huft…!

“Haram?”sosok gempal di depanku bertanya.

Koq dia tahu namaku? Sepertinya suaranya nggak asing. Oh my god… A*ji**!

Glegh… aku menelan ludah. Sepertinya keberuntunganku berakhir. Tuhan sudah tidak memberkatiku. Atau Dia sedang menegurku agar tidak meneruskan kejahatanku?

“Lu Haram kan?” tanyanya lagi menegaskan. Bukannya membantuku bangun, malah nanya-nanya terus. Menyebut panggilanku yang ganjil lagi. Arghh….

“Om ciapa?” tanya Haikal polos.

“Anak lu ya?” dia bertanya lagi. Dia benar-benar nggak sopan. Sudah nggak mau bantu aku berdiri, ada anak kecil tanya nggak dijawab.

“Kalo iya kenapa, kalo nggak kenapa? Masalah buat lo?” jawabku sewot. Aku berdiri sendiri tanpa bantuannya. Segera kugandeng Haikal dan bersiap-siap pergi.

“Koq elu nggak ngundang-ngundang gue?” rupanya dia mengikutiku. Aduh… Tuhan, please… jauhkan makhluk-Mu yang satu itu dari hamba-Mu ini. Hamba berjanji akan segera bertobat.

“Sama siapa?” tanyanya mengejarku. Apa dia tidak sadar kalau aku sedang tidak in mood untuk bertemu dengannya, apalagi reunian sebagai mantan partner in crime.

“Ram…!” dia mulai berteriak, tangannya mencengkeram lengan kiriku.
Aduh apa lagi ini. Kalau dia terus berteriak, bisa-bisa satpam-satpam pada mendatangi kami. Dan itu berbahaya buat misiku.

“Apa?” jawabku ketus. Aku berhenti melangkah, terpaksa melayaninya sebentar.

“Lu masih marah ama gue?” tanyanya sok nggak ada masalah apa-apa di antara kami.

“Gue? Marah sama lu? Istimewah banget lu…” ledekku ngeles. Jelas aku masih marah, apa perlu ditanya? Bayangin aja cewekku yang kujaga baik-baik, tidak pernah kusentuh walau sehelai rambut itu, malah diperawani dia. Siapa coba yang nggak marah?

“Lah itu keliatan banget kalo lu masih marah…” dia makin nyolot.

“terus gue mesti bilang WOOOWWW gitu?” jawanku tak mau kalah. Dia tercekat. Mungkin dia sadar kalau aku benar-benar marah padanya.

“Sori deh Ram. Gue beneran nyesel,” ucapnya melunak. “Lu mau kan maapin gue?” tanyanya lagi. Aku masih terdiam. Sejenak kupandangi dia. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, memperkirakan apa yang akan dia lakukan, dan apa yang aku lakukan untuk mengantisipasi, atau untuk merencankan serangan pencegahan. Ya, seperti yang dilakukan oleh Sherlock Holmes pada musuh-musuhnya.

“Kasih maap nggak ya?” jawabku nyolot dengan nada kecentilan. Ups aku salah strategi, nyolot sama Aji nggak ada gunanya. Hanya akan memperpanjang waktuku di mall ini. Padahal aku harus segera keluar dari mall ini.

“Ram…!” dia kembali naik pitam. Tangan kanannya mencengkeram lengan kiriku semakin erat. Aku mulai merasa kesakitan. SementaraHaikal tampak ketakutan. Melihat Haikal yang imut ketakutan membuatku kalap.

“Lepas! Tengok tuh lu nakutin dia!” bentakku. Dia tampak menyesal. Dia melonggarkan cengkeramannya.

“Begini cara lu minta maaf?” tanyaku lagi. Dia benar-benar tampak menyesal. Dia melepaskan geganggannya.

“Sori…”ucapnya pelan.

“Sudah lah Ji, gue dah relain Lu ma Maya,” ujarku. Aku memang sudah merelakan mereka, tapi rasanya belum bisa untuk memaafkan, apalagi melupakan kejadian nista itu.

“thanks bro,” jawabnya. Dia menggenggam kedua tanganku. Aduh … kayak orang pacaran saja. Dua tahun aku pacaran dengan Maya saja nggak pernah genggam-genggaman tangan, apalagi di depan umum kayak sekarang.

“Ya..ya .. ya” aku mengiyakan. Kulepaskan tanganku dari genggamannya. Risih dilihatin banyak orang.

“Lu masih sama Maya?” tanyaku keceplosan. Tidak bisa tidak, aku masih punya rasa pada Maya. Bagaimana pun aku pernan mencintai dengan segenap hatiku. Tiga tahun memang mampu menghapus banyak kenangan, tapi tentu tidak masih ada sisa-sisa di dasar sulcus otakku.

“Ah… gue kualat lu. Dia pergi ninggalin gue…” jawabnya mengambang. Hmm… kasihan. Eh tapi aku nggak ada waktu untuk berbagi kisah dengan dia. Aku harus segera kabur, sebelum Syawal dan Ramadhan menemukanku.

“Lu sendiri gimana?” tanyanya. “Itu anak lu ya?” katanya sambil menjawil pipi Haikal yang gembil. Haikal tampak gusar. Sepertinya dia mulai mengantuk. bosan melihat dua orang dewasa yang sudah lama tidak bertemu kemudian sibuk ngobrol hal yang baginya tidak penting.

“Iya…” jawabku bohong. Kurasa jawaban ini cukup untuk menyumbat mulutnya. Aku harus segera pergi. Please Aji, biarin aku pergi…

“Masak? Gue nggak percaya. Mana ada cewek yang mau sama lu?” Jyaah… makhluk ini benar-benar menyebalkan. Maksudnya apa ngomong kayak gitu?

“Maksud lo?” aku terpancing. Haikal kembali terbangun oleh pekikanku. Celakalah aku.

“Ya tau sama tau lah…” jawabnya mengambang. Dia melirik ke arahku. Lirikan yang membuatku mual. Kemudian ia mengedipkan sebelah matanya, membuatku benar-benar mual.

“Najis banget lu, dasar penjahat kelamin. Hueekkk….” jawabku ketus.

“Kenapa? Lu hamil?” arghh…. dia semakin menjadi-jadi.
Hhh…. aku mendengus keras. Lau Berdiri bersiap-siap meninggalkan penjahat kelamin yang satu itu. Rasanya aku hanya akan menghabiskan waktu saja melayani obrolannya yang nggak mutu. Lebih baik aku segera pergi.

Tapi dasar penjahat kelamin. Dia kembali mencengkeram lenganku. Aku benar-benar menyesal berhenti latihan kempo . Coba aku masih aktif di dojo , tentu dia sudah kulipat-lipat.

“Om… lepasin Kak Ilam!” teriak Haikal menantang. Aku terkejut dengan keberaniannya. Makin menggemaskan saja bocah berpipi gembil ini.

“Tuh kan, dia manggil lu Kak Ilam, mana ada anak manggil ayahnya Kak?” ujarnya merasa di atas angin. Pandanganya jadi lain, dia menatapku tajam. Jangan-jangan dia curiga?

“Terus lu mau apa?” tanyaku agak gugup. Semoa dia tidak merasakan suaraku yang bergetar.

“Masak dia manggil gue Oom, terus manggil elu Kak? Kita kan seumuran,” protesnya, fiuh… kurasa dia tidak curiga.

“Ya iyalah muka lu kan boros, gue kan masih unyu-unyu weekkk….” kuramahkan nadaku. Kucoba untuk mencairkan suasana. Semoga dia tidak curiga bahwa aku sedang membawa lari anak orang.

“Hahaha…. ya lu mang unyu-unyu. Makanya banyak cowok yang naksir lu…” jleb… Sejenak rasanya jantungku tidak berdetak. Omongannya menusuk tepat di SA-nodes ku. Aku terdiam, dan memang sebaiknya aku diam.

“termasuk lu kan?” tanyaku nggak mau kalah.

”Koq tau?” tanyanya balik dengan gaya gombal yang lagi ngetren itu. Arghh…  “Tau mengapa Maya meninggalkanlu dan selingkuh dengan gue?” tanyanya mengungkit masa lalu tanpa rasa berdosa.

“Dia cemburu setiap kali kita berdua,” lanjutnya pelan, nyaris tak tertangkap membrana timpani ku. Dia menundukkan kepalanya. Perlahan dia menggenggam tanganku. Mendadak aku tetraplegi . Aku tak mampu menarik tanganku. Aku lumpuh. Dan anehnya aku seperti mengalami out of body experience . Aku melihat dengan jelas, kami berdua yang sedang duduk berdekatan.

“Aku… “ dia menyebut dirinya aku, bukan gue. Artinya dia sedang serius. Dia menoleh ke arahku, menatap dengan pandangan yang sulit kujelaskan. Perlahan dia menyentuh wajahku. Wajahnya mendekat. Jarak antara kami tinggal beberap sentimeter saja.

HEY… apa-apaan sih ni cowok? Jangan-jangan dia mau nyium aku? Emang aku cowok apaan?

“Om pacalan ama kak Ilam ya?” tanya Haikal menyeret kesadaranku kembali ke tubuhku. Thanks God. Sebaiknya aku segera kabur. Waktuku tak banyak.

“Sori Ji… aku buru-buru” kutarik tanganku dan segera berdiri. Kugandeng tangan Haikal dan segera kabur dari Aji si penjahat kelamin kelas paus. Mumpung dia masih terlena dengan kejadian aneh tadi.

“Ram…” teriaknya. Jyah… apalagi ini?
Aku menoleh sejenak. Dia tersenyum hangat dan memandangku lekat-lekat, mengingatkanku pada cara Syawal memandang dan tersenyum. Huft… sebentar lagi Syawal pasti menemukanku kalau aku tak segera keluar dari mall. Aku harus segera kabur.

“Lu nggak sedang nyulik bocah itu kan?” Jleb … tanyanya menohok SA-nodesku sekali lagi. Tapi aku tidak ada waktu untuk terdiam, apalagi sampai menggubrisnya. Aku pergi sambil menyengirkan senyum kudaku. Nggak mungkin lah dia tahu kejahatan yang ku rencanakan.

“Balikin dia, kasihan keluarganya…” jyah…. jangan-jangan dia beneran tahu. Bukan mustahil dia mengetahuinya kan? Bukankah dia partner in crimeku yang paling sering bekerja sama denganku? Tentunya sebelum dia meniduri Maya.

Ah … nggak ada urusan dengan dia. Aku harus segera kabur. Dengan tergesa-gesa aku menggandeng, sedikit menyeret, Haikal menuju pintu keluar. Tapi sial… koq sekuritinya pada mondar-mandir di pintu keluar. Mereka tampak sibuk memeriksa setiap pengunjung mall yang keluar. Oh my god, jangan-jangan berita penculikan itu sudah menyebar. Matilah aku.

Kami balik arah. Kembali ke dalam mall, mencari pintu keluar yang lebih aman. Tapi mendadak Haikal mogok jalan.

“Kak… Ikal capek” rengeknya.

“Eh… Haikal nggak boleh capek. Entar kita ketangkap Kak Ibal, Kak Ibal kan yang jadi setannya,” ujarku berbohong. Semoga dia percaya. Tapi sepertinya sia-sia. Dia menggeleng. Matanya berkaca-kaca nyaris menangis. Celaka benar nasibku kalau dia sampai menangis. Pasti banyak orang yang akan memperhatikan kami.

“Ya udah deh, Haikal gendong di punggung Kak Ilam,”hmmm ini satu-satunya jalan. Akhirnya dia mengangguk dan segera naik ke punggungku. Ups… ni anak berat banget ya. Ternyata ada untungnya juga anak kecil obes, agar nggak mudah diambil orang. Dengan susah payah kugendong Haikal masuk kembali ke mall mencari pintu keluar yang lebih aman.

“Es Klim kak…” rengeknya. Haduh… apa lagi ini. Mau nggak mau aku harus membelikannya. Kami mampir ke dekat penjual es krim. Ah sekalian istirahat setelah keliling menggendong karung beras nggemesin itu. Kubeli dua batang es krim. Kali ini dia tak kuberi kesempatan untuk memilih, aku sudah benar-benar bokek hiks hiks hiks…

“Kak Ilam pacalan ya ma om tadi?” tanyanya menohok. Dia memandangku dengan pandangan yang polos tak berdosa, sementara mulut dan lidahnya sibuk dengan es krim rasa coklat yang kubelikan.

Siapa sih yang ngajari membuat kesimpulan seperti itu. Jangan-jangan kedua pengawalnya tadi, Si Syawal dan Si Ramadhan. Jangan-jangan mereka berdua memang pacaran.

“Koq Ikal ngomongnya gitu?” tanyaku balik. Kujilat es krimku, pura-pura tidak menghiraukan pertanyaanya yang menonjok.

“Coalnya Kak Ibal dan Kak Idan cuka pegangangn tanga kalo pacalan,” jawabnya polos. Iya kan kedua pemuda tadi yang mengajari anak nggemesin ini. Untung dia segera kubawa pergi (baca: kuculik). Kalau nggak bisa jadi apa ni anak, kecil-kecil sudah diajari pacaran oleh kakaknya.

“Kak Ilam pacalan kan ma om tadi?” desaknya.

Arghh… Haikal mengapa kamu tidak sibuk menjilat es krimnya saja? Mengapa kamu harus menanyakan hal-hal yang … egghhh…tidak sepatutnya ditanyakan anak sekecil kamu.

“Kak Ilam kan cowok baik-baik…” aku ngeles. Mengapa juga aku ngeles? Harusnya aku tinggal menjawab tidak, sudah beres.

Tapi gara-gara Aji si Penjahat Kelamin tadi, aku mulai berfikir bahwa …. Ah… Mengapa aku jadi teringat Aji si Penjahat Kelamin, si perampas kehormatan cewek orang? Benarkah yang dikatakannya tadi, bahwa Maya cemburu saat kami berduaan? Ah… perasaan apa ini? Jangan-jangan aku….NO! it’s not true!

“Kalo gitu Kak Ibal dan Kak Idan bukan cowok baik-baik?” pertanyaan Haikal menyadarkanku dari pikiranku yang mulai absurd. Ah bokek memang ampuh membuat orang berfikiran absurd dan ke mana-mana, pantaslah jika ada yang mengatakan kefakiran itu dekat dengan kekafiran . Lha koq aku jadi sok ustadz.

“Eemang mereka pacaran?” tanyaku balik. Haikal terdiam, matanya kembali melirik ke langit-langit. Tentu pertanyaanku kali ini lebih sulit daripada pertanyaanku tentang pilihan rasa eskrim. Tampak wajahnya kebingungan,ya seperti wajahku saat menghadapi dr. Dwi Putro, Sp. B, K-BD saat ujian osce Ilmu bedah di stasiun bedah digestif.

“Kalau cowok baik-baik nggak pacalan ya kak?” dia kembali bertanya. Pertanyaan klise. Sekarang giliranku yang terlihat mikir-mikir, mengira-ngira jawaban. Ternyata pertanyaan-pertanyaan anak selucu dia bisa lebih sulit dari pertanyaan-pertanyaan dosen paling killer sekalipun. Satu kali aku dibuat nangis oleh dr. Jeffrey, Sp.JP(K), dan itu adalah momen terburuk dalam hidupku.

“Kak Ilam pelnah pacalan nggak?” tanyanya lagi memberondong. Dia benar-benar berbakat jadi dosen killer. Bagaimana dia bisa memberondongku dengan banyak pertanyaan padahal mulutnya sibuk menjilati es krim coklat di tangannya?

“Nggak pernah” aku berbohong. Jelas-jelas aku pernah pacaran dengan Maya. Tapi kan aku tidak pernah melakukan apa-apa dengan dia. Bergandengan tangan saja tidak pernah.

“Kalo gitu kak Ilam cowok baik,” simpulnya polos. Matanya yang bundar masih menatapku, sementara mulutnya masih sibuk dengan es krim coklatnya.

Ah mengapa aku setega ini. Cowok baik-baik tidak menculik anak kecil apapun alasannya.

Aku tertunduk.

Oh betap jahatnya aku. Aku tak akan bisa memaafkan diriku jika sampai bocah selucu dan selugu Haikal menjadi korba traficking, diambil bola matanya, hati, atau ginjalnya. Lalu orang-orang itu akan menyuruhnya untuk mengemis di jalanan. TIDAK…..!!!

“Kak…” panggilan Haikal menyadarkanku. “Kak Ilam koq nangis?”ada sebutir air asin merembes di sudut mataku.

“Eh… enggak koq…cuma kelilipan” aku ngeles. “Kita balik yuk, kak Ilam capek nih. Kak Ibal pasti juga dah capek nyariin kita.”

“Ayuk… Ikal juga dah kangen ma Kak Ibal dan Kak Idan. Pengen njewel telinga meleka cupaya nggak pacalan telus… hehehe” tawanya renyah. Buliran air asin itu tak terbendung lagi, semakin deras merembes dari sudut mataku.

“Kalo meleka masih nakal dan suka pacalan, bial meleka dijewel Allah… hihihi…” lanjutnya. Ah Haikal, kau mengingatkanku pada Asma yang sudah lama ingin kulupakan.

Duh Gusti, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, ampuni hamba yang sudah terlalu jauh dari-Mu. Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengingatku untuk kembali mengingat-Mu melalui lisan malaikat kecil-Mu.

Kuhapus buliran air asin itu. Kami bersegera menuju pusat informasi. Lalu segera menginformasikan keberadaan kami. Selang tak berapa lama, kedua pemuda itu datang. Mereka bergegas. Wajah mereka pucat pasi. Di belakang mereka ada beberapa orang yang lebih tua. Mungkin keluarga Haikal. Tapi … ada satu orang yang aku kenal.

“Dimas Muharram?” tanya lelaki muda yang sepertinya kukenal.

“Kangmas Gala?” tanyaku balik. Apa benar dia kangmasku dr. Galaran Mattu, Sp.OG? Bukannya di lagi tugas di luar pulau?

“Subhanllah, gimana kabarnya? Sibuk apa sekarang? Praktek di mana?” dia memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan yang berturut. Sementara tangannya mengembang menyambutku. Kami berpelukan. Ah benarlah dia Kangmasku, Galaran Matu. Lelaki yang pernah menyelamatkan jiwaku dari jurang kehancuran pasca penyelewngan Maya dan Aji.

“Alhamdulillah, Dimas baik-baik saja. Sekarang lagi nganggur jaya, nunggu UKDI November nanti. Kangmas gimana?” Alhamdulillah, akhirnya aku mengucapkannya lagi, bukan thanks god seperti biasanya.

“Ni liburan ma keluarga besar. Kangmas sekarang dinas di Aceh. Kalo dimas mau, mending dimas ikut kangmas ke Aceh. Sambil nunggu UKDI , dimas bisa jaga klinik Kangmas. UKDInya nanti di Unsyiah saja.”

“Insya Allah…” jawabku pelan.

“Kak Ilam ikut ke Aceh aja…” ajak Ikal matanya yang bundar makin berpendar menggemaskan. Apalagi senyumnya yang renyah. Aku tersenyum.
Terima kasih Ikal, telah mengantarku balik ke jalan-Nya. Terima kasih ya Allah, mungkin ini jawabanmu atas doa-doaku yang bahkan tak pernah kuucap pada-Mu selama ini.

FIN

Ini celita peltama yang kutulis untuk DKN. Telima kasih buat Kak Iblan yang dah ngundang untuk jadi autol. Ditunggu kelitik dan salannya untuk semua seniol di sini.
Telima kasih.

(Haikal Mode On).

eh eh eh ada yang ketinggalan.😀

[1] Anatomi = cabang dari ilmu kedokteran yang mempelajari struktur tubuh makhluk hidup

[2] Super egp:bagian dari topografi jiwa menurut hipotesis sigmund freud, yang merupakan internalisasi nilai-nilai baik yang ditanamkan dari luar sejak kecil. Berfungsi untuk mereduksi dan mengingmbangi dorongan-dorangan naluriah yang cenderung jahat.

[3] Konstipasi = kesulitan bisa BAB

[4] Sulcus = celah. Otak kan kayak bukit dan lembah. Gundukannya disebut gyrus, sedangkan celah antar gundukan disebut sulcus.

[5] Kempo = bela diri jepang

[6] Dojo = tempat latihan

[7] Sinus Atrial Nodes = sumber listrik jantung

[8] Membrana tympani = selaput gendang telinga

[9] Tetraplegi = lumpuh keempat anggota gerak sekaligus.

[10] Out of Body Experience (OBE) = fenomena kejiwaan di mana orang yang mengalaminya, merasa berada di luar tubuhnya, bisa melihat tubuh mereka sendiri secara utuh.

[11] Hadits: Kada al-faqru an-yakuna kufra. (masih nyari2 riwayatnya, tapi belum juga menemukan)

[12] Sp. B = Spesialis Bedah, K-BD = Konsultan Bedah Digestif, Sp.JP (K) = spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (konsultan)

[13] UKDI = Ujian Kompetensi Dokter Indonesia